KERAJAAN TALAGA: MELACAK JEJAK BUJANGGA MANIK (1) TALAGA, SINDANGKASIH, KABUPATEN MAJA

Tatang M. Amirin; 3 Nopember 2010; 9; 16; 23; 28 Nopember 2010; 5 Desember 2010; 6 Januari 2011; 3 September 2011; 19 Mei 2012; 22 Maret 2014

(c) Hak cipta pada Tatang M. Amirin, 2010. Siapapun boleh mengutip tulisan ini, tetapi dengan menyebut penulisnya dengan jelas dan nama blognya, agar terhindar dari tuntutan tindak plagiarisme.

***Tatang M. Amirin kelahiran Maja Kaler, Majalengka. Sekarang dosen tetap di Universitas Negeri Yogyakarta.

 

Berfoto sejenak bersama ibunya anak-anak di depan Museum Talaga Manggung, Talaga, ketika akan kembali lagi ke Yogyakarta, usai mudik lebaran di kampung kelahiran, “Babakan Jawa” Maja Kaler, 2011.

PENDAHULUAN

Di “page” Bongkok-Ciremay sudah saya tulis, dalam bahasa Sunda, ihwal Kerajaan Talaga dahulu di Kabupaten Majalengka sekarang. Bikin penasaran dan “geregeten (geregeteun).” Yang menuliskan sejarahnya tidak jelas siapa mulai dan dari mana asal-usulnya. Lalu muncul dan dipakai saja dalam blog resmi Pemda Majalengka, sekaligus diambilalih oleh Wikipedia. Jadinya ya rada-rada tidak karuan juntrungnya, tidak jelas jejak-tapaknya, tidak pula runtut alurnya, belum lagi salah redaksinya.

Lucunya pula, hampir seluruh tulisan tentang Kerajaan Talaga itu  selalu menyebutkannya sebagai sejarah Majalengka. Dengan kata lain, jika dibalik, sejarah Majalengka mesti dimulai dari Kerajaan Talaga, akan tetapi dibarengi pula dengan dongeng (legenda) Sindangkasih. Dan, ini yang sungguh-sungguh lebih lucu, tidak disertai dengan sejarah Rajagaluh. Jadi, ini sejarah Majalengka yang mana? Kabupaten apa kota Majalengka? Lebih sangat lucu lagi, tidak pernah ada (dalam blog resmi Pemda) disebutkan bahwa Kabupaten Majalengka itu merupakan perubahan nama dari Kabupaten Maja, dan bahwa Kabupaten Maja (Majalengka) itu pernah membawahi Palimanan, dan di Palimanan itu ada beberapa kerajaan jaman baheula.  Sayang peta Karesidenan Cirebon kuno  tahun 1857, yang  membawahi Kabupaten Galo (Galoeh; Ciamis sekarang) di bawah ini tak begitu jelas.

Peta Karesidenan Cirebon, 1857

Yang menarik, saya temukan 7 Desember 2010, peta jaman Belanda, tidak jelas tahun berapa, tapi tentu masih awal sekali, yang menunjukkan bahwa di Majalengka itu yang “eksis” hanya Talaga. Yakin pasti masih “berbau kerajaan.” Tidak ada Sindangkasih dan Rajagaluh. Sementara di wilayah Cirebon berderet nama-nama “kota,” salah satunya yang dalam kesejarahan Cirebon penting adalah “Moendoe.” Di wilayah Ciamis dan Tasikmalaya pun berderet nama kota-kota penting.

Nah, di mana itu letak persisnya Talaga? Coba tebak, karena posisi Gunung Ciremay tak begitu jelas. Tapi, perhatikan di sisi atas kiri Talaga, di situ ada Karansambon (pasti deh Karangsambung). Berderet pula “kota-kota” di tepian sungai Cimanuk di utaranya Karangsambung, ada (tak jelas) Maggan, Panongan, Tjikaro (Tjikaso?), Passa, Ginteeng (Gintoeng, Gintung?), dan Jati. Sementara “di bawah” Talaga ada Pulambitan, Tjiawi, Radjapola, Pangaragan, Pandjaloe, dan Kawali.

Peta Wilayah Cirebon, hanya Talaga yang ada di Wilayah Majalengka

KABUPATEN MAJA DAN KABUPATEN MAJALENGKA

Nah, ini ada “rekonstruksi” peta Karesidenan Cirebon yang membawahi lima kabupaten, yang diolah dari M. R. Fernando. 1982. Peasant and Plantation Economy: The Social Impact of the European Plantation Economy in Cirebon Residency from the Cultivation System to the End of First Decade of the Twentieth Century. Ph.D. Dissertation. Melbourne: Monash University,  oleh Miftahul Falah sebagai bagian dari buku Sejarah Ciamis yang diterbitkan tahun 2005 oleh Pemkab Ciamis dan LPPM Universitas Galuh, Ciamis.

Sayang peta ini juga tidak memuat lengkap kecamatan-kecamatan di dalamnya. Selain itu, peta ini tidak menunjukkan ada “Kabupaten Bengawan Wetan” (dalam naskah lain disebut “Palimanan”). Jadi, sudah “hilang lagi” nama Kabupaten tersebut. “Palimanan” termasuk Kabupaten Maja (perhatikan peta yang menjorok ke wilayah Kabupaten Cirebon). Sementara itu, Indramayu yang tadinya tidak termasuk Karesidenan Cirebon sudah dimasukkan ke dalamnya.

KABUPATEN MAJA–sebelum berubah menjadi MAJALENGKA–sebagai bagian dari Karesidenan Cirebon (peta hasil rekontruksi)

Sebagai catatan, sambil terus berusaha melacak kembali naskah asli surat keputusan (besluit, staatsblad) pendirian Kabupaten Maja dan perubahannya menjadi Majalengka (sudah tertemukan, tapi “hilang lacak” lagi di internet), berikut dinukilkan penegasan bahwa sebelum ada Kabupaten Majalengka, ada Kabupaten Maja terlebih dahulu.

Deze residentie was door een besluit van de Heeren Commissarissen Generaal van den 5 Januarij 1819 in vijf regentschappen gedeeld te weten Cheribon Madja Galo Bengawan Wettan en Koeningan [Beschouwing der nederlandische bezittingen in Oost-Indie].

Karesidenan (Cirebon–Pen.) ini berdasarkan besluit (Surat Keputusan) Yang Mulia Komisaris Jenderal (VOC–Pen.) tanggal 5 Januari 1819 dibagi menjadi lima regenschaft (“kabupaten”), yaitu Cirebon (Cheribon), Maja (Madja), Galuh (Galo), Bengawan Wetan (Bengawan Wettan), dan Kuningan (Koeningan). Hati-hati, Galo (Galoeh) ini yang dimaksud wilayah Ciamis, saya pernah mengira itu Rajagaluh. Lihat peta Karesidenan Cirebon di atas.

Jadi, wajar jika beberapa ahli sejarah  “meminta Bupati Majalengka” BERANI menyatakan bahwa HARI JADI KABUPATEN MAJALENGKA  itu 5 Januari 1819, bukan 1490 (“Sindang Kasih  Sugih Mukti”). Saya bilang “candrasangkala 1490″  itu “salah kedaden” (salah kejadian), wong Sindangkasih itu sudah “sirna-ilang-langka-blinana” kok bisa malah menjadi sugih mukti. Ini karangan (dongeng) yang “terlalu mengada-ada” (maaf).

STOP PRESS!

Sebelum lanjut, bagi yang penasaran:

Silakan buka KABUPATEN MAJALENGKA: MELACAK JEJAK HINDIA BELANDA untuk mendapatkan informasi lebih banyak mengenai pembentukan Kabupaten Maja dengan ibu kota Sindangkasih [Maaf, rasanya, menurut analisis terakhir--Januari 2011, salah. Ibu kota Kabupaten Maja itu Maja!] dan perubahannya menjadi Kabupaten Majalengka dengan ibu kota Majalengka [nama semula daerah yang jadi "tempat kedudukan keregenan Majalengka" itu Sindangkasih]. Ada kutipan surat keputusan asli untuk keduanya, yaitu Kabupaten Maja lengkap dengan batas wilayahnya, dan perubahan nama Kabupaten Maja menjadi Kabupaten Majalengka, serta perubahan nama daerah yang sekarang dijadikan ibu kota kabupaten, yaitu Sindangkasih, menjadi Majalengka.

Silakan buka pula MAJA DAN MAJALENGKA JAMAN BAHEULA untuk melihat-lihat foto dan tulisan mengenai “wilayah” Majalengka jaman Belanda.

Dalam tulisan tersebut saya analisis ibu kota Kabupaten Maja itu Maja, ibu kota Kabupaten Majalengka itu Sindangkasih [lama], yang kemudian diubah nama menjadi Majalengka–bukan di desa Sindangkasih sekarang, tapi!

STOP PRESS LAGI!

Alhamdulillah, 5 Januari 2011, akhirnya, walau tidak lengkap, tertemukan peta-peta Nederlandsch Indie tahun 1842. Salah satu peta itu memuat pulau Jawa. Saya potong sebagiannya saja, yang memuat Karesidenan Cirebon, seperti berikut. 19 Mei 2012 saya lacak ulang peta tersebut. Tertemukan dan bisa diunduh dalam “high resolution” sehingga lebih jelas. Peta tersebut dibuat oleh Hinderstein dengan data dihimpun sejak 1825-1850. Data untuk peta ini tentu sebelum Maja berubah jadi Majalengka.

KARESIDENAN CIREBON, HINDERSTEIN, 1842

Di dalam peta Karesidenan Cirebon 1842 itu ada Cheribon, Indramaijoe, Madja, Koeningan, dan Galoe. Bengawan Wettan sudah tidak tampak, sudah ada perubahan.

Peta tersebut saya potong lagi, khusus yang berkaitan dengan Kabupaten Maja. Seperti diketahui, Kabupaten Maja diubah menjadi Kabupaten Majalengka tahun 1840 (11 Februari 1840). Peta ini aslinya dibuat 1841, diterbitkan 1842. Jadi, perubahan nama Maja menjadi Majalengka itu belum lagi “masuk” ke dalam peta. Pembuat peta (mungkin di Belanda) belum tahu. Oleh karenanya masih ada “Madja” di dalam Keresidenan Cheribon.

Peta Kabupaten Maja dalam Karesidenan Cirebon, Hinderstein,1842. Wilayahnya ditandai dengan garis warna hijau.

Kabupaten Maja membawahi distrik Kedondong, Palimanan, Rajagaluh, Sindangkasih, Maja, dan Talaga

Di dalam Kabupaten Madja itu hanya ada dua kota penting (bulatan kecil) dengan nama (tulisan) Madja dan Telaga. Tidak ada yang lain. Tidak ada Sindangkasih, tidak ada Majalengka, tidak ada Kadipaten, tidak ada Jatiwangi, tidak ada Rajagaluh!

Jadi, ibu kota Kabupaten Maja itu pasti Maja, sesuai dengan nama Kabupatennya. Itu artinya bukan juga Talaga. Sebelum Kabupaten Maja ditetapkan, Talaga diakui keberadaannya sebagai “sebuah ketumenggungan bagian dari Kerajaan Galuh-Pakuan-Pajajaran” dan disebut pada saat itu (saat SK dikeluarkan) bahwa Talaga itu [tadinya] merupakan sebuah “regenschaft.” Ini termuat dalam SK pembentukan Keresidenan Cirebon yang memuat Maja sebagai regenschaft. Itu kenapa peta “kota” Talaga tercantum, walau Rajagaluh tidak, tidak tahu kenapa, padahal sama-sama disebut “regenschaft.” Mungkin karena “keturunan Talaga” masih “memerintah” Talaga, sementara “keturunan Rajagaluh” sudah tidak ada sama sekali.

Sekedar catatan, Junghuhn entah salah duga, entah memang benar-benar itu yang terjadi, menuliskan nama ibu kota Kabubaten Majalengka itu Sindanglasi (Sindangkasih) yang ditambahi tulisan Maja Lengka dalam tanda kurung. Tampaknya hendak menyatakan bahwa ibu kota baru (pindahan dari Maja) Kabupaten Majalengka itu Sindangkasih yang kemudian diubah menjadi Majalengka. Harap dicatat: bukan Sindangkasih ganti nama, sebab Sindangkasih masih ada.

Peta “Kota Majalengka = Sindangkasih” Versi Junghuhn. Catatan: Ada nama “aardolie” dekat Gunung Wangi. Itu Cibodas, lokasi pertama pengeboran minyak bumi (aard = bumi, olie =  minyak) di Indonesia

Dengan lebih cermat membaca besluit perubahan nama Kabupaten Maja menjadi Majalengka, dapat disimpulkan bahwa desa (kota) “Majalengka” itu tadinya bernama Sindangkasih. Dengan besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda 11 Februari 1840 desa “tempat kedudukan keregenan Majalengka” yang saat itu (Belandanya “thans”) bernama (“genaamd“) Sindangkasih diubah menjadi Maja Lengka. Jadi, bukan tadinya (sejak dahulunya) bernama Majalengka.

Nah, tambah bingung, kan?! Bingung lagi, kota Telaga bertanda belah ketupat bertitik dan berwarna merah, sementara Majalengka hanya bertitik, tapi tidak berwarna merah. Dapat diduga karena “kota Talaga” (seperti juga Kuningan) merupakan kota bersejarah, kota salah satu “ketumenggungan Pajajaran” yang bernama Talaga. Di kota Talaga (saat itu—setelah dijadikan ibu kota, pindahan dari tempat lain) masih ada “pemerintahan Ketumenggungan Talaga”  [Raffles, 1860-an- menyebutnya Tumung’gung de Telaga]. Karena itu maka “wilayah” itu disebut orang dengan Talaga.

Sementara itu (perhatikan kembali peta Junghuhn–berikut dinukilkan lagi yang lebih lengkap), jalur jalan besar (raya) tergambar dua garis dari Sindanglasi (Madja Lengka) ke Madja itu melalui “Sukahaji” (tampaknya, karena tidak ada tulisan apapun). Dari Majalengka ke Madja dan ke Telaga hanya jalan kecil. Itu artinya apa?

Peta Majalengka dan jalan rayanya versi Junghuhn

(1) Jika Residen “Cheribon” akan melakukan inspeksi ke ibu kota Keregenan Madja,  dan sebaliknya, jika Bupati (Regen) Maja hendak menghadap ke Residen Cirebon, jalur itu merupakan jalur yang terpendek, yaitu dari Cirebon lewat Banjaran (sekarang Parapatan?), Rajagaluh, Sukahadji, baru ke Maja. Lagipula, kenapa harus lewat “Sindanglasi,” karena di samping terlampau jauh,  Sindanglasi bukan apa-apa. Sindanglasi baru menjadi “apa-apa” setelah jadi “Madja Lengka” dan dijadikan “tempat kedudukan keregenan.”

(2) Ketika ibu kota Kabupaten Maja dipindahkan ke Sindanglasi (yang kemudian baik ibu kota maupun nama kabupatennya diubah menjadi Majalengka), maka jalur jalan dari Sukahaji ke Sindangkasih (Majalengka) pun dibuat menjadi jalan raya (tergambar pada peta Junghuhn yang dibuat di atas tahun 1840 setelah perubahan kabupaten terjadi). Selanjutnya disambungkan (menjadi jalan raya) ke “Kadipaten” (sekarang, tidak tahu ketika itu namanya apa), lalu ke Karangsambung, untuk jalur hubungan ke Sumedang. Karangsambung menjadi kota penting tempat penyeberangan (menyebrangi sungai Cimanuk) dari Sumedang ke Cirebon. Jalur jalan rayanya tentu tidak seperti yang sekarang (Tomo-Kadipaten).

(3) Jalan dari Madja ke Talaga tetap dibiarkan jalan kecil. Maka, simpulannya, dari dua kota yang ada seperti tergambar dalam peta Kabupaten Maja itu, bukan Talaga yang menjadi ibu kota Kabupaten Madja, melainkan Madja. Jika ibu kota Kabupaten Madja itu di Telaga, pasti jalan dari Cheribon ke Telaga akan dibuat menjadi jalan raya, tidak berhenti sampai Maja saja.

Harap pembaca tidak melihatnya dari sudut jalan raya yang ada sekarang, sebab jalur Majalengka-Cigasong-Maja sekarang lebih ramai dibandingkan jalur Sukahaji-Maja. Junghuhn (1860-an) melukiskan keramaian dan kepentingan jalur jalan itu pada masanya, masa “ketika dan setelah Kabupaten Maja.”

Jadi, berdasarkan dua peta di atas, dapat ditarik simpulan lain, yaitu bahwa ibu kota Kabupaten Maja yang tadinya di Maja, ketika perlu dipindah dari Maja, maka nama ibu kota “tempat kedudukan keregenan” dan kabupatennya harus diubah, bukan Maja lagi. Akan tetapi, tampaknya, ketika kemudian terpilih “desa” Sindangkasih, tidak disepakati namanya jadi Kabupaten Sindangkasih. Terlampau banyak daerah yang bernama Sindangkasih (di Karawang kemudian merupakan regensi; masih ada pula di Beber Cirebon, dan Ciamis). Yang disepakati kemudian adalah masih menggunakan kata “maja,” tetapi harus ditambahi, agar tidak tetap Maja, karena ibu kotanya sudah tidak  di Maja lagi.

Dari berbagai pilihan nama “maja—” (misal: majaasri, majaloka, majapura, majalegi, majalaya dsb.), akhirnya dipilih kata Majalengka, mengambil-alih nama lain dari Kerajaan Majapahit  yang sudah jarang dipakai lagi oleh Majapahit, dan tidak ada satu pun daerah lainnya yang menggunakan nama itu. Majapahit itu nama lainnnya Majalengka, selain suka disebut pula dalam bahasa Sansekerta dengan Wilwatikta (wilwa atau vilva itu sama dengan bhilva, alias maja; tikta itu artinya pahit).

Begitulah, ketika ibu kota Kabupaten Maja dipindahkan dari Maja ke Sindangkasih, maka nama “tempat kedudukan pemerintahan” (menurut bahasa besluit Gubjen Hindia Belanda) dari kabupaten yang bernama baru menjadi  Majalengka itu, pun diubah pula dari tadinya (saat perpindahan itu) bernama Sindangkasih menjadi Majalengka, biar sesuai dengan nama kabupaten atau keregenannya.

Kenapa masih ada nama desa Sindangkasih di Majalengka?

Sindangkasih dan Majalengka Jaman Belanda [Jalur jalan raya dari Cijati ke Majalengka Ke Sindangkasih ke Kulur; belum ada ke Cigasong--kanan Sindangkasih tertera Tjiga-]

Kemungkinannya kota Majalengka itu semula bernama Sindangkasih (berada di, atau merupakan bagian dari, desa atau wilayah Sindangkasih), seperti dipetakan Junghuhn. Nama daerah “desa/kota” Sindangkasih yang dijadikan tempat kedudukan pemerintahan Kabupaten Majalengka itu diubah jadi Majalengka (11 Februari 1840). “Desa/kota” Majalengka itu merupakan pemisahan dari desa (wilayah)  Sindangkasih semula.  Sindangkasih (desa) yang bukan “desa/kota” Majalengka itu menjadi satu desa juga, tetap bernama Sindangkasih, dan menjadi  bagian dari “Kecamatan Majalengka.”

Mari kita perjelas.

(1) Pada saat Pemerintah Belanda menghendaki ibu kota Kabupaten Maja dipindahkan dari Maja, dicarilah tempat yang dianggap ideal. Tempat ideal yang terpilih itu adalah bagian sebelah utara-barat dari desa Sindangkasih ketika itu. Wilayah ini kemudian ditetapkan dipisahkan dari desa Sindangkasih dengan penamaan baru, yaitu akan mengikuti nama kabupatennya.

(2) Oleh karena ibu kota Kabupaten Maja dipindahkan, maka perlu dicari nama lain pengganti nama Maja sebagai nama kabupaten. Pilihannya tetap menggunakan nama “maja” tetapi dengan tambahan lain. Dari berbagai tambahan nama itu terpilih nama “pahit” (maja pahit), tetapi tidak boleh sama dengan nama kerajaan Majapahit, karena akan membuat kisruh. Lalu diambil nama lain maja pahit yaitu maja lengka (lengka artinya pahit), dan nama itu digunakan pula untuk menyebut Kerajaan Majapahit, tetapi sudah jarang disebut-sebut lagi.

(3) Oleh karena nama kabupatennya Majalengka, maka wilayah (daerah) yang tadinya merupakan bagian dari desa Sindangkasih itu, sekarang diubah nama menjadi “desa” (kota) Majalengka yang dijadikan ibu kota Kabupaten Majalengka (11 Februari 1840).

(4) Desa Sindangkasih yang wilayahnya sudah dikurangi oleh “desa Majalengka” tetap bernama Sindangkasih. Selain itu ditetapkan pula (kemudian) desa Sindangkasih itu menjadi bagian dari Kecamatan Majalengka (tahun berapa, masih perlu dilacak).

Selanjutnya, seperti diketahui,  “desa/kota” Majalengka pun dimekarkan pula menjadi Majalengka Kulon dan Majalengka Wetan. Kecamatan Majalengka pun, sekarang, sudah  dimekarkan pula menjadi Kecamatan Majalengka dan Kecamatan Cigasong.

Itu jalan logika analogi pemekaran desa Sindangkasih menjadi Sindangkasih dan Majalengka. Desa Sindangkasih (satu desa) dimekarkan (11 Februari 1840) menjadi dua desa, yaitu desa Sindangkasih dan desa Majalengka. Yang dijadikan tempat kedudukan keregenan Majalengka–yang tadinya merupakan bagian wilayah “desa” Sindangkasih–diberi nama baru “desa” Majalengka. Itulah kenapa dalam peta Junghuhn nama desa Sindanglasi (Sindangkasih) itu diberi tanda kurung Maja Lengka. STOP: Jadi, yang benar nama desa itu Sindangkasih atau Sindanglasi (seperti dituliskan Junghuhn)? Tapi, kata “lasi” tidak jelas artinya. Namun demikian, kata “kasih” pun dalam bahasa Sunda (lama) tidak tahu pula apakah ada, yang ada “asih,” bukan kasih.

NAH, “ENGKAU KETAHUAN,” NAMA MAJALENGKA ITU BUKAN KARENA ” MAJAE  LANGKA,” TAPI KARENA BESLUIT BELANDA! Dongeng Nyi Rambut Kasih itu dibuat setelah sekian tahun dari 1840, mungkin lima puluh atau tujuh puluh tahun kemudian (1900-an), ketika orang tidak tahu arti kata “maja lengka”—karena kerajaan Majapahit tidak pernah disebut-sebut lagi bernama lain Majalengka–dan tidak tahu lagi jalan ceritera perubahan nama Sindangkasih menjadi Majalengka, tapi masih tahu ada ceritera tadinya bernama Sindangkasih. Dan, tentu juga, karena “orang Majalengka” merasa perlu punya “sejarah kerajaan.” Padahal tidak pernah ada yang bernama “Kerajaan Majalengka” selain Majapahit.

JADI, JUGA, BERDIRINYA KOTA MAJALENGKA ITU 11 FEBRUARI 1840!

LANJUT….

Nah, akhirnya, Sabtu 28 Nopember 2010, kebetulan saja saya sadari bahwa “peta” Karesidenan Cirebon 1857 itu ternyata bisa “diutak-atik.” Akhirnya dapat saya potong-potong, dan ini hanya “Kaboepaten Madja Lengka” saja yang disajikan.

Kaboepaten Madja Lengka itu terdiri dari enam bagian “kawedanan(?),” yaitu (lihat angka romawi dalam peta): (1) Madja Lengka, (2) Leuwimoending, (3) Djatiwangi, (4) Palimanan, (5) Madja, (6) Telaga. [Beda dengan kawedanan berikutnya, ya! Yang saya ingat, dulu Kawedanan Majalengka mencakup Kecamatan Kadipaten, Majalengka, dan Maja]. Warna “kuning-coklat” tebal dalam peta itu menunjukkan batas wilayah kabupaten. Ini keadaan sekitar tahun 1857, setelah nama kabupaten dari Madja berubah menjadi Madja Lengka.

Peta Kaboepaten Madja Lengka tahun 1857-an

Selain itu, hampir tidak pernah tercatat sejarah-sejarah daerah Majalengka lain di sebelah utara: Kadipaten, Jatiwangi, Jatitujuh, Ligung–dan juga Leuwimunding. Padahal ada salah satu desa yang tercatat sebagai “kota” persinggahan “jalan raya kuno” dari Pakuan (Bogor) menuju Kawali lewat jalur utara, yaitu desa Karangsambung, Kadipaten. Tapi, jika Palimanan masuk ke Kaboepaten Madjalengka, Djati Toejoe malah masuk Indramajoe.

Palimanan versus Djati Toedjoe dalam Kaboepaten Madjalengka

Nah, biar sementara “sejarah Kabupaten Majalengka” numpang dulu di tulisan ini, ini peta lain Kabupaten Majalengka, sudah diedit (potong) dari peta Jawa Barat.

Kabupaten Majalengka (Karesidenan Cirebon) Tahun 1850(?)-an, dibuat Robert Cribb, 2009.

Distrik yang ada di Kabupaten Majalengka itu, nomor dalam peta,  adalah: (9) Majalengka, (10) Rajagaluh, (11) Jatiwangi, (12) Palimanan, (13) Maja, (14) Talaga.

Jauh sebelumnya (1730-an) wilayah Cirebon itu seperti dalam peta berikut. Peta ini juga hasil memotong (kroping) dari peta Jawa Barat. Yang mengherankan, nama Talaga tidak ada, yang ada justru Parakan Muncang. Entah ada apa pada tahun itu. Parakan Muncang itu ada di sebelah barat kota Majalengka sekarang, kalau bukan Parakan Muncang Sumedang–sedang dilacak terus. Nama kota Majalengka belum ada.

Peta Karesidenan Cirebon Tahun 1730-an

Peta berikut menunjukkan Kabupaten Majalengka dalam Karesidenan Cirebon pada tahun 1931-an. Kabupaten Galuh sudah menjadi Ciamis dan tidak masuk lagi ke Karesidenan Cirebon. Kawedanan dalam Kabupaten Majalengka ada empat, yaitu (urut nomor dalam peta): (17) Majalengka, (18) Talaga, (19) Rajagaluh, dan (20) Jatiwangi.

Peta Kabupaten Majalengka (Karesidenan Cirebon) Tahun 1931-an

Kembali ke tahun 1857. Dalam peta “potongan” dari peta karesidenan Cirebon 1857  di bawah ini, Tomo disebut sebagai “fort” alias pelabuhan (port–Inggris). Tentu pelabuhan sungai, yaitu pelabuhan sungai Cimanuk. Jika peta tersebut diperbesar, maka akan tampak jalur jalan dari Tomo atau Karangsambung ke Majalengka,  Rajagaluh dan ke Maja serta Talaga. Ternyata tidak mengikuti jalur jalan seperti sekarang.

Jalur lalu lintas dari Fort Tomo Karangsambung ke Madjalengka dan Sindangkasih

Jalan raya Kadipaten Talaga itu (lihat peta di atas dan di bawah ini) melalui Tjidjati, Madjalengka, Sindangkasih, Koeloer (Kulur), Tjiri (Cieurih), Pasanggrahan, Angrawati, Lentak (Lentuk atau sekarang Karangsari), terus ke Tegaltjawat (Tegalcawet), Tjilintjing (Calingcing) baru ke Wanahajoe (Wanahayu) dan ke Telaga (Talaga).

Jalur jalan dari Sindangkasih ke Madja dan Telaga

Jalur lainnya dari Sindangkasih ke Koeloer, lalu ke Kerta Kasoeki (Kertabasuki), Sindang Kerta, Madja (Maja), Soekasari (Sukasari), Segara (Sagara), lalu ke Wanahajoe (Wanahayu) terus ke Telaga. Atau, dari Madja (Maja) ke Lentak (Lentuk atau Karangsari), ke Tegaltjawat (Tegalcawet), ke Tjilintjing (Calingcing), terus ke Wanahajoe (Wanahayu), baru ke Talaga. Tapi, dari Wanahayu itu harus lewat jalur Soeka Menak (Sukamenak) dan Hawor Gelis (Haurgeulis), baru sampai ke Telaga (Talaga).

Jalur lainnya (“setapak”) lewat Tjiri (Cieurih) ke Pasanggrahan, Angrawati, Noenoek (Nunuk), lalu ke Soeka Menak (Sukamenak). Jalur ini dapat ditempuh pula dari Panjaran (Banjaran) ke Angrawati, terus ke Noenoek juga.

Jalur jalan di sekitar Maja. Ada desa “aneh” bernama Kedar di dekat desa Sagara, dan Liniki (?) dekat Cicalung.

Jalur Jalan Raya Jaman Pajajaran di Wilayah Majalengka

Seperti telah disebutkan, Karangsambung disebut-sebut sebagai “kota persinggahan” dari Pajajaran ke Kawali lewat jalur utara. Dari Pakuan (Bogor sekarang)  lewat Karangsambung ini orang Pajajaran biasa ke Galuh (Kawali) lewat sisi utara Gunung Ciremay. Jika mengikuti ceritera Bujangga Manik–nanti dipaparkan di bawah, walau Bujangga Manik tak menyebut Karangsambung–kota-kota atau daerah yang dilewati itu adalah Hujung Barang, Pada Beunghar, Pakuan, Timbang, Kuningan, Darma lalu sampai ke Kawali (lewat Cikijing sekarang–dulu tidak ada disebut nama “desa persimpangan ini”). Mungkin mampir ke Lurah Agung jika mau. Maaf tidak saya sebut Rajagaluh dan Sindangkasih karena dalam catatan Bujangga Manik tidak ada.

Melalui jalur barat Gunung Ciremay dari Karangsambung naik ke Walang Suji (Talaga) terus ke Kawali. Bisa juga–dengan menyebut daerah-daerah Kerajaan Talaga yang tidak disebut Bujangga Manik–dari Karangsambung terus ke Nunuk (istirahat “ngangin” di bawah kerindangan pohon nunuk alias beringin) terus ke  Cihaur dan Walang Suji, terus ke Kawali. Maaf, saya tidak menyebut Sindangkasih yang biasa disebut-sebut dalam “jalur jalan raya kuno Pajajaran” (dalam arti menurut keadaan yang ada sekarang), karena dalam catatan Bujangga Manik tidak ada. Paling-paling lewat “desa-desa kecil Kerajaan Talaga” (menurut dongeng Talaga), yaitu Kulur (di sini bisa makan buah kulur alias kelewih atau timbul atau sukun, dan istirahat pula di “kebun raya Kerajaan Talaga” alias Tajur), lalu ke Maja, Jerokaso, Cihaur, lalu Walang Suji.

SINDANGKASIH DAN MAJALENGKA

Dongeng Sindangkasih itu terjadi sebagai “legenda,” dongeng tentang suatu tempat, kata orang Sunda “sasakala”–bukan “sakakala” (walau dalam tulisan lain dianggap sama). “Sasakala berasal dari bahasa Sunda yang berarti riwayat atau sejarah , tapi hanya dongeng semata. Misalnya Sasakala Tangkuban Parahu, Sasakala Situ Bagendit, dan sebagainya.

Kenapa ada sasakala (legenda) Kerajaan Sindangkasih? Karena “kebetulan” dalam babad Cirebon sering disebut-sebut “wong Sindangkasih,” dan di Majalengka ada nama desa Sindangkasih. Jadilah seolah-olah daerah yang disebut-sebut dalam babad Cirebon itu Sindangkasih Majalengka. Babad Cirebon diceriterakan di mana-mana, dibacakan di mana-mana, sampai pada telinga orang Majalengka, lalu diceriterakan lagi ke anak cucu, dan berubah “isi” Sindangkasih Beber Cirebon menjadi Sindangkasih Majalengka.

Kebetulan–mungkin, tidak pasti bersumber dari ini–ada pula ceritera nama putri Ki Gedheng (Ki Gedhe ing–) Sindangkasih (di Kerajaan Surantaka–tapi “rajanya” punya embel-embel nama Sindangkasih) yang bernama Nyi Ambet Kasih. Terbuatlah ceritera bahwa di Kerajaan Sindangkasih Majalengka itu ratunya bernama Nyi Ambet Kasih. Tertukar pula dengan “dongeng lain” tentang Nyi Runday Kasih isteri Sunan Talaga Manggung raja kerajaan Talaga. Namanya jadi berubah pula atau disinonimkan, yang “ngarunday” (memayang-mengurai) itu rambut, jadilah Nyi Ambet Kasih disebut pula sebagai Nyi Rambut Kasih, putri cantik yang “rambutna ngarunday.” Klop kacaunya (Maaf, itu bukan mustahil; namanya juga legenda, bukan sejarah).

Ini cuplikan yang berkaitan dengan Sindangkasih (Sidangkasih) dalam Babad Cirebon. Ada yang sengaja ditebalkan karena penting.

Dandanggula

Gedeng Tegal gubung sira
matur alon hing Jeng Suhunan Jati
karsanira wau ngideppenna
Sindangkasi masimogu
munggiya Jeng Sinuhun
amaringi idin Jeng Gusti
Sunan Jati patarossan
hing Pati Kerring wau
sapira baya ta sira
hing rempuge iku Dalem Sindangkasih
matur kang dinukking sabda.

Inggih rempag yaktos Sidangkasih
dereng idep wau gama Islam
mengga balane sakabeh
Jeng Sunan mala sampun
wus maringi idin sireki
amangkat Ki Gedeng Tegal
Gubug mintar sampun
samaptaning wong ayuda
wus angrasuk sakaprabonningajurit
sinigeg hing lampahira.

Pangkur

Kocap Gedeng Susukan
sadjanipun purwane andingini
lakune wong Tegal guso ya
enggon lumakuhing prang
seja nira Sindangkasih kan jinujug
Dalem Digja wus uningnga
den arah hing idep Muslim.

Mangka Dalem Digja sira
sinewaka sagongging para Mantri
dalame digja mangke maewus
lah sira den prayetna
hing tekane musuh mosset aja cenguk
sedenge babarana banteng ulu Sindangkasih.

Gedeng Susukan tan bisa
amiyak balabar waring
lir kuta wesi ika
pan ategu keker hing waring
wing Sindangkasih kalangkung
gumentur swaranira
yen Susukan amimpes hin jayanipun
wong Susukan mere saja
monongton alaju hari.

Munggu Purba wicaksanan
melehaken ingkang sanggup angidepi
kocappa salajuhipun
Gedeng Tegalgubug sira
moiwa ingkang saka wula bala nipun
kang waring sampun winiyak
larutte wong Sindangkasih.

Lumajeng Sang Dalem Digja
pan kalangkung wau giris hing gali
sidakep emutte ulun
bedahe kang wasiyat
nulya muja hing Dewa nuhun pitulung
kumpuling garwa santana
arah ambles maring bumi.

Muwa kang subawa putra
sigra musuh kang subawa prapti
Sangyang Dalem sirandulu
hing musuh ora bisa ya
pedekkan wara Dalem samya tumut
Putri loro kang kacandak
nama Raros lawan Riris.

Kacandak sakalihora
wau dateng Tegalgubug sami
ana guru swaranipun
aja tambu besuk ana
bumi jebug ya hing Sidangkasih iku
apesse kang watek jaya
duriyat ting wong lino ewih.

Dumadi salin paparab
nganggo ambek bidakwalaka nuli
tan paji nganak putu
darmane kang kelingan
mung samono iku hing wawangsis ipun
wong Tegalgubug miharsa
agung gegetunning ngati.

Sigra mangkat wangsulliran
Tegalgubug hing sabalaniki
wong Susukan ngiring sampun
lampanya duduluran
wong Sindangkasih sakabih tan nana kantun
den kerid arsa ngaturena
maing Kanjeng Susuhunan Jati.

Sindangkasih menurut babad itu belum Islam. Dalem Sindangkasih belum Islam. Sindangkasih yang mana, tak jelas. Ini bukan Sindangkasih “miliknya” Ki Gedheng Sindang (Sedang) Kasih, yaitu Sindangkasih Beber karena masa Ki Gedeng itu sudah tidak ada pada masa Sunan Gunung Jati.  Ini Dalem Digja. Putri-putrinya Raras dan Riris. Bisa jadi Sindangkasih Beber juga, masa kemudian setelah Ki Gedeng Sindangkasih. Yang jelas bukan Sindangkasih Majalengka (kalau dongeng legenda benar), karena penguasanya seorang Dalem (Dalem Sindangkasih alias Dalem Digja–sebutan ini pun bisa salah, karena tak jelas makna “dalem digja” yang ditulis di atas), bukan ratu (Ratu Nyi Rambut Kasih). Tetapi bisa jadi juga ini memang Sindangkasih Majalengka (peta Belanda menuliskannya Cundanglassi) yang berkedudkan di Sindangwasa, Palasah, sekarang, bukan di Sindangkasih “Babakan Jawa.” Penguasanya (saat itu) bukan seorang ratu, melainkan seorang dalem, Sang Dalem Digja. Sindangwasa artinya sindang (sendang, sedhang–Jawa = kolam mata air) yang mengandung minyak (wasa–bahasa Sunda kuno atau Kawi = minyak atau berminyak).

Legenda Sindakasih-Majalengeka dibuat karena ada nama Majalengka yang aneh di telinga orang Sunda. Dikait-kaitkanlah Sindangkasih Babad Cirebon itu dengan Majalengka, “maja” yang “langka” dengan kesalahan menganggap “langka” bahasa Cirebon itu sama dengan “leungit” (hilang), padahal “langka” artinya “beli nana” alias “teu aya” (tidak ada), “leungit mah basa Cerbone ilang, Cung.” Padahal Majalengka (Mojolengko)  itu nama lain dari Majapahit (Mojopahit). Lawannya majalengka itu majalegi (mojolegi), majamanis. Nama desa Mojolegi banyak terdapat di “Jawa,” antara lain di Imogiri Bantul, Paree Kediri, Boyolali, dan Mojokerto. (Kata “lengka” berarti pahit dapat dilacak di Kamus Jawa Kawi – Indonesia krangan Maharsi — baca juga Babad Kabupaten Pati).

STOP! Maja lengka alias maja pahit itu tampaknya berenuk, yang tak bisa dimakan karena pahit, sementara buah maja yang bisa dimakan namanya maja legi (legi = manis), yang seperti markisa.

Kembali ke sejarah Majalengka. Logisnya, mestinya ya runtutlah mulai dari adanya Kerajaan Talaga (karena abadnya lebih awal), lalu ditambah dengan Rajagaluh (karena nyatanya dalam beberapa ceritera memang ada), baru (kalau yakin ada) dengan Sindangkasih, sampai dengan Kabupaten Maja yang konon beribukota Sindangkasih (sekali lagi,  itu salah, ibu kotanya di Maja!), dan Kabupaten Majalengka.

Nah, saya ingin coba buat lacakan sejarah Majalengka. Ada “page” khusus untuknya berjudul “Sejarah Majalengka.” Di dalamnya akan termuat banyak ragam (bunga rampai) tulisan mengenai “sejarah” Majalengka. Satu “page” lagi diperuntukkan untuk tulisan tentang Kerajaan Talaga ini.

Tulisan tentang Kerajaan Talaga ini, tadinya sangat panjang sekali dengan satu judul Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik. Karena terlampau panjang, maka saya potong-potong menjadi beberapa bagian, dinomori (sementara) 1 – 9. Per bagian dapat dibaca sendiri-sendiri, jadinya. Itulah keuntungannya.

Catatan Akhir:

Kabupaten Majalengka itu ternyata pernah menjadi bagian dari Karesidenan Indramayu; alias, Karesidenan Indramayu terdiri atas Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Majalengka. Sementara itu Karesidenan Cirebon hanya terdiri atas Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan. Sayang peta yang memuat pembagian seperti itu belum bisa “dicuri” (Hehehe…). Peta pada aslinya di blog yang memuat bisa diperbesar, tetapi ketika dikutip tidak bisa, jadi kecil sekali. Sedang diusahakan bisa dikutip.

Tambahan 19 Mei 2012: Berikut peta-peta terkait Majalengka, Sindangkasih, Talaga dan lain-lain.

Di peta tersebut ada nama “Cundang Lassi.” Diduga itu dimaksudkan Sindangkasih. Tapi letaknya di timur sungai, di utara arah jalan raya (postweg) Karangsambung – Cirebon. Jadi, sekarang menjadi apa? Dugaan kuat itu sekarang jadi Sindangwasa. Nama yang mirip, tapi Belanda tak mungkin salah tulis karena “wassa” tidak sebunyi dengan “lassie.” Lagipula dalam beberapa tulisan sejarah (dokumen Belanda) tulisannya selalu Cundanl;assie, Sindanglassie, Sindangkassie, Sindangkasi, atau Sindangkasih.

Di peta tersebut ada Sindangkasih, tapi terletak di utara Majalengka. Tidak tertera kota lainnya: Maja, Talaga, Jatiwangi, Rajagaluh, Leuwimunding dll. Sindangkasih masa lalu kotanya bukan di Majalengka sekarang! Majalengka dahulunya termasuk  wilayah Sindangkasih, tetapi Sindangkasih Sindangwasa. Ketika Kabupaten Majalengka (perubahan dari Kabupaten Maja) berdiri, Sindangkasih (Sindangwasa) masih digambarkan ada.

Di peta Mollin 1858 ini yang ada malah hanya Talaga. Terkait Rafles, karena di Ketumenggungan Talaga (Tumung gung de Telaga) Rafles banyak temukan peninggalan sejarah. Mungkin begitu. Ini peta historis.

Pada peta Crawfurd, 1820, ini pun yang tertera hanya Talaga. Ada Karangsambung sebagai kota penyebrangan dari Sumedang ke Cirebon.

Peta di atas dibuat (terbit) tahun 1930. Sengaja diambil sepotong dari lengkap peta Pulau Jawa. Ini juga peta historis. yang dituliskan Kawali (jadi pusat kerajaan sekitar 1350) dan Talaga.

Baca juga:

[Klik tulisan di baris atas blog ini yang berbunyi "Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik", lalu klik pilihan  tulisan yang muncul dalam "kotak hitam"]:

1. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (3) Sumber Sejarah

2. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (4) Nama, Agama, dan Historis Pendirian

3. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (5) Ibu Kota Walangsuji, di Mana?

4. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (9) Melacak Situs dan Peninggalan

5. Kerajaan Talaga: Melacak jejak Bujangga manik (10) Kerajaan Maja dan Penggabungannya dengan Talaga (tulisan dibuat 2014)

59 thoughts on “KERAJAAN TALAGA: MELACAK JEJAK BUJANGGA MANIK (1) TALAGA, SINDANGKASIH, KABUPATEN MAJA

  1. Terus telusur, supaya babad kerajaan Talaga dsk, dapat terkuak….
    mau tanya kalau Gunung Bitung letaknya dimana ? Hatur nuhun.

    • Katanya di perbatasan antara Kawali dan Cikijing, Majalengka, tepatnya di sekitar desa Wangkelang (Wana kalwang, hutan kalong). Yang belum terlacak teh Gunung Picung. Soalnya Batara Gunung Bitung suka ditulis juga batara Gunung Picung. Kalau Cipicung tahu, di Kecamatan Maja, tapi tak ada Gunung Picung.

    • Hatur nuhun, sami-sami. Punten atuh deuih, upami mendakan bahan sok kintunkeun atuh! Patukeur-tukeur atuh!
      Teu acan kalacak teh eta patung Simbarkancana sareng Sunan Parung nu baruk kungsi aya di Talaga. Dilacak online ka Rijkmuseum teu acan katalungtik. Da ku basa Walanda mah hiji dua nu kahartina teh. Kungsi kursus ge da teu tamat. Dipaparah wae tina basa Inggris, da mirip. Eh, tetep can kacekel keneh bae.

  2. hatur nuhun pak, sudah saya download gambarnya. semoga saja patung tersebut betul yang selama ini dicari-cari oleh keluarga besar saya. saya akan coba menunjukan gambar ini kepada nenek saya, mungkin beliau tahu bahwa ini benar patung yang satu lagi.

    • Sami-sami. Salam kanggo Enina Sandy. Kalau sudah yakin itu patung Budha yang suaka-suka disebut Batara Guru, wartosan, nya. Biar saya yakin menyebutnya sebagai “warisan pusaka Kerajaan Talaga.” Kan penting keur balarea.

    • Iya, pelan-pelan, lagi dengan Talaga saja udah repot nyari di internet, bahasa Belanda sama Inggris, belum terlacak semua. Palimanan nanti lihat blog tetangga aja, tapi tetap sedapat-dapat dicari rujukan yang mapan, bukan sekedar dongeng. Nah, nanti semua dimuat di page Sejarah Majalengka.

  3. Ass..
    Sejarah teh geuning tos hampir kasisihkeun nya,kumaha carana supaya barudak anyar tiasa mikacinta kana babadna sorangan.
    Bade naros ka Pak Tatang kapungkur abdi kungsi jalan2 ngurilingan gunung ciremai,kaki pertam teh abdi naek ti ciinjuk teras sampe ka kaki gunung nepi ka komplek pemakaman kuno dupina teh,anu bade ditaroskeun teh nyaeta aya atanapi teu ceritrana eta komplek pemakaman teh,numutkeun ti taun 2004 sampe ayeuna abdi panasaran pisan,browsing tos teu mendak.
    hatur nuhun pisan
    Agus

    • Numawi teu acan aya raratanana sabangsa makam-makam teh. Supados barudak ayeuna resep kana sajarah, pan di Inggris mah nu disebat pelajaran sajarah di kelas awal SD teh barudakna sina ngadogneng asal-usul ibu ramana, saha namina, saha embahna, ti mana kawitna. Kitu. Jadi sajarah kulawarga. Teras, mun aya, sajarah kampung atanapi desana, teras diperluas deui ka sajarah kacamatan, kabupaten sareng saterasna. Aya oge barudak SD teh nganggo “pendekatan proyek,” nyaeta ngilarian sumber sajarah ti mana wae ngeunaan tema tertentu (upamina ngeunaan Pangeran Charles, Ratu Diana, Ratu Elizabeth, Raja Arthur). Di perpustakaanana seueur bahan nu karitu teh. Tah da di urang mah langka, atuh da nginternet ayeuna mah tos palinter, piwarang mukaan internet, bari diaping ku sepuh atanapi guruna, bilih kabuka ku barudak nu sanes-sanes, apan. Sok atuh lalakon ngurilingan Ciremay teh serat, komo nu aya nami-nami sareng naon wae nu kapendak nu dicurigai mengandung nilai-nilai sejarah mah, kintun ka tatangma@uny.ac.id. Ke dimuat lah na “dongeng sunda.” Keur bacaeun sarerea.

      • di sabudeureun gunung ciremai seueur tempat petilasan nu ngandung sajarah adi luhung namung teu di palire ku pemda setempat na sapertos di desa sagarahiang kuningan aya lingga yoni warisan ti karajaan Saung Galah kuningan. aya deui makam dalem cageur di darma loka seueur kang upami di sebatan mah. tp data lengkapna aya di museum Talaga Manggung

  4. Pak Tatang,
    Ari ngaluruskeun sajarah teh geuning sesah kacida nya,urang butuh referensi ti ditu ti dieu,(sigana ti bangsa penjajah nu seueur info teh nya pak numutkeun barang antik ti Indonesia teh seueur nu mantun ka luar negri) memang teu,nyocokeun info ti sababaraha fersi.
    Muhunlah ke mah upami amengan ngasruk teh bade dituangkeun dina buku,minimal sajarah abdi nyalira we atuh nya pak..kanggo bacaeun anak incu khususna..

    dupi maksad bapak Umar – Genteng teh anu ngawulang di SMA Talaga kitu?

    • Tos pangsiun manawi. Duka ngawulang di mana. Aan Haniah upami teu lepat kantos ngawulang di PGA (MA) PUI manawi. Oyo Haryo teh kantos jadi kuwu Talaga Kulon, kitu? Kumisna baplang keur anom ge.
      Nya eta, dugi ka ngasruk na internet ku tilu basa, Belanda, Inggris, sareng Perancis (sakedik pisan pedah) ieu ge. Nya alhamdulillah pan aya nu tiasa kapuluk. Sesah ngilarian sajarah Talaga kadieunakeun teh, na seratan urang Walanda ge teu jol teu jol kapendak.

  5. ASS.WR.WB, SALAM KENAL, TULISAN BAPAK SANGAT MENARIK, JIKALAU BOLEH USUL, DISERTAKAN PULA TENTANG GAMBAR/FOTO-LOKASI-CERITA TENTANG SITUS2 KUNO YG TERKAIT DGN TALAGA-KAWALI-GALUH-MADJA DLL.TERIMA KASIH.

  6. Ass.
    Kang, pribados pituin urang majalengka tepatna kampung cimuncang desa anggrawati, upami kapungkur jalan ti kadipaten ka talaga ngalangkungan kulur, cieurih, anggrawati, tegalsari, teras ka talaga meureun aya pangaruhna dina widang ekonomi, kunaon atuh upami ditingali ayeuna wewengkon-wewengkon eta secara ekonomi geuning teu aya onjoyna

    Hatur nuhun.

    • Apan jalanna ge tos dipindah. Nya nu caket ka jalan eta nu janten maju, da seueur nu lalar liwat. Coba di Cimuncang atanapi Anggrawati aya objek wisata, pan nu ka darinya meureun seueur. Naon atuh nu aneh di Cimuncang? Sugan Gunung Windu diolah jadi objek wisata punclak gunung. Ulah ukur dipelakan jambu keletuk wae nu baheula sok dipalingan ku kuring. Hehehe. Jeung eurih, nya di mana-mana! Kawas kumaha ayeuna Gunung Windu teh? Di Malaysia aya Genting Higland. Tadina ki umbara urang Cina ngadegkeun wihara, terus jadi tempat karamean (nya harita mah sok dipake tempat judi). Ayeuna jadi pangjugjugan jalma rea da aya pintonan sareng barang dagangan nu kacida ceuyahna. Tah usul ka Ki Kuwu kitu. Salam ka dedengkot PUI sareng PPUI (GPI) nu sarepuh, sugan araya keneh di Cimuncang nu masih kenaleun.

  7. Assalamualaikum,,.
    abdi urang Talaga asli ayna nuju pendidikan di jakarta,,.
    Sedih tur campur bingah abdi maca jalan cerita asal usul sejarahna Talaga,.
    sedihna abdi janten hoyong uih emut ka sepuh sareng kulawargi di talaga Bingahna abdi bangga pisan janten urang Talaga anu leluhurna kasohor harebatna,,. sok kang lah lengkapan deui sejarah anu teu acan ka ungkapna,,. mangga.
    Hatur nuhun..

  8. ass.slm knal kang tatang,abdi asli ti genteng kec.banjaran.pmi tiasa mah kuak perkawis sejarah desa genteng margi abdi bingung kunaon desa genteng beut kec. banjaran padahal lokasi namah ckt srng talaga.kesimpulanna desa genteng di kuriling ku lembur-lembur mu kecamatan na talaga.nhn

    • Hehehe…. atuh itu sih soal administrasi pemerintahan. Harus begitu. Saya saja tinggal jauh dari ibu kota Kabupaten Sleman, lebih dekat ke kota Jogja. Administratif masuk Sleman, tapi agak ke selatan sudah Bantul (Kabupaten).
      Yah siapa tahu ada kisah tentang Genteng. Coba dulu sebutkan nama-nama kampung di Genteng, siapa tahu ada kaitand dengan Raden Panglurah (lurah teh jurang deet).

  9. Ass.. Bapak Tatang.
    Abdi asli ti Talaga, sanaos ayeuna abdi tebih ti Talaga (24 Tahun di sulawsi tenggara) tapi moal bade hilaf kanu sejarah Talaga, di tambih deui maos sejarah” talaga nu di paparkeun ku Bapak , Hatur nuhun Pisan atos nambihan wawasan sejarah khususna sejarah Talaga.

  10. Hatur nuhun Pangersa Pa Tatang anu parantos masihan rupaning perelean perkawis kasajarahan Sunda, sim kuring janten terang rumaos suda ku pangabisa tur werit ku pangarti dina leresan ieu sanaos sim kuring urang Sunda, horeng seueur peperenian Sunda teh.

  11. jasmerah (jangan sekali-kali melupakan sejarah)
    nuhun uwa atas infona tenntnag kabupaten majalengka.
    lamun eta sejarah majalengka ku naon teu diluruskeun ku urnag sadayana.

  12. Punten ngiring diskusi mang tatang, aya salah sahiji budayawan Majalengka, nu nyebatkeun asal mula nami “MAJALENGKA” teh nyaeta aya hiji pabrik duka karet atau kina nu namina “Maja n L Co,” saurna mah aya di wilayah Majalengka Kota ayeuna (aya nu nyebatkeun di caket walungan cideres aya nu nyebat di kawasan Gedung juang ayeuna). Ari urang walanda mah nyebatna leres Maja n L Co. (Co. singkatan Company), Ari urang pribumi teu tiasa nyebat nu leres jadi nyebatna teh Majalenko, misana aya nu naros, “bade kamana euy? | ka Majalenko. . Mirip kisahna sareng Asala mula nami GARUT, kumari dari dasar Kakarut, tapi urang walanda malah nyebatna Gagarut (kebalikan kasus Majalengka). Tapi duka da teu acan aya penelitian lebih lanjut.

    Oh muhun aya situs budaya di Desa Banjaran Blok Sukamanah Kec. Banjaran, nu namina Sangiang Lingga atau Lingga Dalem Pananjung. Situs ieu teh aya batu lingga nu bentukna mirip (punten) alat kelamin laki-laki, Situs ieu ternyata masuk ka situs BP3 Serang. Letak situs ieu caket ka Desa Kagok (Blok Walangsuji sareng Kebonwana nu saurna bekas ibukota karajaan talaga).

    • Dongeng pabrik teu aya jujutanana, urang Walanda ge moal nyebat Maja en L. Co. jadi majalengko, da tibalik, arek ge majaenelko, araneh pan! Balikkeun wae ka sajarah besluit ngadegna kota Majalengka babarengan gantina aran Kabupaten Maja jadi Majalengka. Garut tina kakarut ge dongeng deui wae, sanes toponomi (asal usul nama tempat secara ilmiah). Jadi eces tah ari aya lingga di Walangsuji mah, memang did inya dayeuh Karajaan Talaga teh.

    • Karang sambung teh jigana “karang” (tanah, wilayah, area) tempat “nyambungkeun” dua wilayah, kuloneun Cimanuk jeung wetaneun Cimanuk. Mun can aya sasak, atuh ku parahu atawa rakit. Kadieunakeun diwangun sasak ku Walanda. Leuwih kadieunakeun sasak teh digeser ka kiduleunana, nya sasak Cimanuk ayeuna nu nyambungkeun Tomo jeung Kadipaten. Tomo harita jadi “fort” (basa Walanda) nu hartina palabuan (palabuan cai atawa walungan), tempat balabuhna parahu-parahu nu balayar di Cimanuk. Eta wae heula, nu sanesna can kapendak.

    • Bujangga Manik tak mengatakan, yang dikatakan malah Hujung Barang (Ujung Berung utara Rajagaluh). Coba lacak ceritera Ujung Berung, siapa tahu ada patilasan aneh, paling tidak sebagai padepokan Hindu/Budha (ada ceritera tokoh setempat?)

  13. Kang Tatang nguping wartos janten salahsawios pemateri di acara saresehan Talaga Manggung, dinten minggu

  14. Abadi tos maos buku 3 pesona Sunda Kuna karya Noordyn, aya nu jadi bahan pertanyaan pak tatang tentang hipotesis Hujung Barang. Diperjalanan Bujangga Manik Nu kadua, Bujangga manik dicatatana yaitu

    “Meuntas Aing di Cimanuk, ngalalar ka Pada Beunghar. Meuntas di Cijeruk-Manis, ngalalar aing ka Conam, Caremay anggeus katukang Timbang dangeun Hujung Barang”

    Dalam tulisan Bujangga Manik tersebut, Hujung Barang ditulis setelah Timbang. Apakah Hujung Barang ini adalah Ujung Berung Sindangwangi atau bukan? Kalo Ujung Berung Sindangwangi harusnya Bujangga Manik menulis dulu Hujung Barang baru Padang Beunghar (melihat alur perjalanan dari barat ketimur), tetapi ia menulis setelah menyebrang sungai Cijeruk Manis (Kini Sungai Cijeruk menjadi batas Kab. Majalengka dengan Kab. Cirebon), Conam dan Timbang. Conam belum diketahui dimana lokasinya, sedangkan Timbang berada di dekat Cilimus Kuningan. yang dahulunya dikenal dengan nama ‘Tjikaso’. Nama yang mirip Hujung Barang di daerah Kuningan adalah Desa Sindang Barang, terletak di Selatan Cilimus tepatnya Kecamatan Jalaksana. Nah setelah menyebut Hujung Barang Bujangga Manik menulis Kuningan, cocok, alurnya seperti ini Conam>Timbang (Wilayah Cilimus sekarang/Desa Cikaso) > Hujung Barang (Sindang Barang Jalaksana) > Kuningan > Darma), perjalanan bujangga manik dari Utara ke Selatan melewati lereng timur Ciremai. Jadi menurut saya Hujung Barang berada di wilayah Kuningan bukan Ujung Berung Sindangwangi, jika melihat alur penulisan nama tempat oleh Bujangga Manik.

    Nampaknya Bujangga Manik menulis tempat-tempat dalam perjalananya merupakan tempat tempat penting, seperti sekitar Pada Beunghar terdapat Prasasti Hulu Dayeuh, kemudian Hujung Barang (Dugaan saya) Sindang Barang Jalaksana Kuningan terdapat patilasan semacam Menhir atau Dolmen.

    Nuhun di antos diskusina pak tatang.

  15. salam baktos rengrengan urang sadaya kuring pituin sunda aseli karangsambung , hayu urang sadaya khususna warga kabupaten majalengka urang sasarengan ngamumule kabudayaan buhun urang sunda urang sarerea hayu SILIHWANGIKEUN . Salam Jagjag Waringkas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s