CELENGAN “GAJAH MADA”

Suatu ketika di masa yang sudah lama  saya memabca tulisan di Kompas, lupa penulisnya, ada kemungkinan Ayat Rohaedi. Nama Ayat Rohaedi dituliskannya dengan Ayatrohaedi (digabung). Itu dilakukannya karena menghargai kesepakatan para pustakawan Indonesia yang kebingungan menemukan “nama belakang” (marga, klan, dsb) orang Indonesia yang beragam untuk dijadikan “tajuk” penyebutan nama pengarang. Para pustakawan sepakat memutuskan “nama belakang” orang Indonesia apapun dijadikan sebagai “nama keluarga, marga, klan.” Jadi Tatang M. Amirin akan dibalik menjadi Amirin,Tatang M. Padahal nama Amirin itu ya nama saya, bukan nama keluarga saya. Nah, karena Ayat tidak mau nama dirinya dibalik-balik, dituliskanlah dalam gabungan: Ayatrohaedi.

Tulisannya yang saya maksud berkisar sekitar wajah Gajah Mada yang selama ini dipakai dalam buku-buku sejarah. Kata Ayat, maaf kalau salah nama, itu sebenarnya bukan Gajah Mada. Itu celengan (cengcelengan–Sunda). Ia menunjukkan bahwa di bagian kepala ada lekukan memanjang. Lekukan memanjang itu merupakan belahan lubang panjang tempat memasukkan uang ke dalamnya. Nah, mungkin dari foto “patung Gajah Mada” di bawah ini tampak letak “belahan lubang panjang” itu (dalam foto di sebelah kiri; artinya ada di kepala bagian kanan).

Saya sudah lama suka mengutarakan hal tersebut sambil lalu dalam berbagai kesempatan menatar para guru dan kuliah dengan mahasiswa. Kayaknya banyak yang tak percaya. Oleh karena itulah maka saya coba telusur lagi berbagai tulisan mengenainya. Ini beberapa di antaranya.

Tunggu sebentar. Celengan (tabungan) itu dulu memang dibuat berupa “patung” celeng (babi). Orang Inggris menyebutnya dengan “piggy-bank” (bank babi alias bank celeng). Gambar di bawah ini judulnya “Majapahit–Piggy bank” oleh sumbernya. Artinya, celengan (babi) ini memang ditemukan di situs Majapahit.

Tidak tahu ada hubungan atau tidak, konon menurut yang percaya, ada orang yang berusaha menjadi kaya lewat “nyupang” jadi “babi ngepet.” Babi jadi-jadian orang tersebut jika malam hari berkeliaran mencari cacing. Di rumah isterinya menunggui “cempor” alias “sentir” alias lampu minyak tanah. Jika api lampu itu bergoyang-goyang–padahal tidak ada angin–artinya sang suami babi ngepet itu sedang dalam bahaya, mungkin dikejar-kejar orang. isterinya harus segera meniup lampu itu.Jika makan cacing telah dirasa cukup, maka sang babi akan kembali ke rumah. Enggak tahu jalan ceriteranya, mungkin cacing-cacing itu dimuntahkan, dan akan berubah jadi uang. Cring-cring-cring (dulu jaman uang logam).

Nah, bisa jadi celengan itu “menggantikan” mejik-mejik “babi ngepet” itu menjadi lebih rasional. Jika ingin kaya, ya nyelengi, bukan jadi babi ngepet. Atau, terbalik, karena ada “celengan” maka muncullah ceitera babi ngepet itu.

Nah, jika ada celengan babi (celeng), kenapa ada juga celengan “orang tembem”? Itu persoalan juga jadinya. Apakah pada saat itu bentuk celengan sudah bukan cuma berupa celeng? Mungkin sudah tahun-tahun berikut orang mulai berkreasi celengan itu tidak harus celeng. Semasa saya kecil celengan (cengcelengan) itu memang sudah berbagai macam. Ada bentuk ayam jago, ada bentuk semar, ada pula yang (lebih murah harganya karena sangat amat sederhana) berupa bulatan saja dengan benjolan di atasnya, seperti gambar di bawah ini.

Nah ini beberapa tulisan tentang “celengan Gajah Mada” itu.

Pandji Artikel:

Ternyata bentuk muka/wajah dari Gajah Mada yang kita kenal selama ini merupakan rekaan dari bentuk wajah yang diambil dari temuan benda bersejarah dari trowulan yang berupa Celengan. Hal ini di nyatakan oleh Drs. Suparman. Beliau adalah mantan dosen Sejarah Universitas Cenderawasih Papua, dan dosen Universitas Bangun Nusantara Sukohardjo Solo (kini telah pensiun). Beliau mengatakan bahwa hasil rekaan gambar Patih Gajah Mada adalah salah satu bentuk celengan/bumbung tabungan masa lalu masyarakat di sekitar Trowulan. Yang pertama mengungkapkan gambar (gambar patung) tersebut adalah Muhamad Yamin. Muhamad Yamin mereka [mereke-reka–Pen.] wajah Gajah Mada karena pada beberapa dokumen jaman dahulu disebutkan bahwa Gajah Mada adalah sosok yang tangguh, perkasa, kekar dan berotot. Karena dari beberapa bentuk patung dan arca yang selama ini ditemukan hanya patung wajah yang menempel pada celengan yang ditemukan di Trowulanlah satu-satunya gambar [gambaran] sosok orang kuat, maka Muhamad Yamin mengatakan itu adalah gambar Maha Patih Gajah Mada. Dan gambar inilah yang dipakai sebagai sosok yang mewakili gambar Gajah Mada. Hal ini juga diperkuat oleh Dwi Hartanto SS, seorang pamong budaya di Kecamatan Pring Apus dan Kecamatan Bergas. Lulusan Fakultas Sejarah UNDIP ini membenarkan bahwa sosok wajah yang dinyatakan Gajah Mada selama ini adalah merrupakan gambar dari Patung Celengan yang ditemukan di Trowulan!

Memang sejarah sering diputarbalikkan fakta [?–fakta sejarah sering diputarbalikkan] dan sering direkayasa. Jadi sosok gambaran yang benar tentang Maha Patih Gajah Mada sampai sekarang belum diketahui, karena belum ada dokumen atau temuan arca dari jaman Majapahit yang menggambarkan sosok patih perkasa ini.***

Catatan: Ada yang “sinis” dengan Muhammad Yamin. Katanya itu akal-akalan Yamin untuk menunjukkan dirinya “sehebat” Gajah Mada. Tengoklah wajah Yamin kan sama dengan “wajah Gajah Mada”-nya itu.

Ah, yang bener aja. Coba kita lihat, dan bandingkan.

Hihihi. Ada-ada saja!

Susiyanto’s site

MUSEUM TROWULAN

Banyak informasi yang bisa diakses melalui museum ini terkait keberadaan Majapahit. Akan tetapi sebenarnya cukup sedikit untuk dapat digunakan dalam merekonstruksi sejarah majapahit apalagi krolonogi kebesarannya. Museum ini banyak menyimpan barang-barang seperti gerabah, terakota, pecahan celengan, jaladwara, lingga-yoni, prasasti, patung, dan sebagainya. Patung Airlangga yang digambarakan sebagai perwujudan Wisnu (avatar) yang mengendarai garuda juga dapat ditemui di sini.

Termasuk di dalam koleksi museum ini adalah sebentuk pecahan keramik wajah manusia yang selama ini dikenal dalam buku-buku sejarah kita diindikasi sebagai wajah Gajah Mada. Jelas, sebenarnya sulit dipastikan  bahwa wajah gemuk dan terkesan teguh tegap tersebut sukar dipastikan sebagai wajah sang mahapatih terkenal Majapahit. Museum Trowulan juga tidak memberikan keterangan apa pun terkait pecahan gerabah tersebut. Padahal sejumlah gerabah yang lain selalu diiringi dengan catatan tertulis yang mencukupi. Beberapa ilmuwan bahkan mengungkapkan bahwa wajah dalam gerabah tersebut merupakan pecahan dari celengan (tabungan berbentuk hewan atau manusia) yang banyak ditemukan dalam penggalian di Trowulan. Jadi bukan wajah Gajah Mada sebagaimana sering diklaim dalam buku Sejarah di Indonesia. Sedangkan keberadaan tokoh Gajah Mada sendiri, sebenarnya kurang menyakinkan sebab hanya didasarkan kepada beberapa cerita babad yang oleh sejarawan sering ditolak sebagai sumber sejarah.***

Saya coba lacak tulisan “Ayatrohaedi” itu di internet, belum tertemukan. Ada yang punya?

Berikut sebuah reportase dari sebuah diskusi dengan pakar sejarah. Menarik juga untuk dibaca secara keseluruhan. Bagian yang berkaitan dengan “celengan gajah mada” sengaja saya tuliskan dengan cetak tebal.

Kabar Anyar: a sartono

MENGINTIP MAJAPAHIT DARI PENINGGALAN BUDAYANYA, SEBUAH CATATAN SINGKAT

Rabu, 12 Agsutus 2006, jam 15.15-17.20 WIB Karta Pustaka Yogyakarta menyelenggarakan diskusi atau sarasehan dengan topik Mengintip Majapahit dari Tinggalan Budayanya. Penyelenggarahan sarasehan dilakukan di pendapa dengan menghadirkan pembicara Prof. Dr. Inajati Adrisijanti dari FIB UGM dan dimoderatori oleh Anggi Minarni. Sarasehan ini dihadiri oleh berbagai pihak utamanya para pencinta peninggalan budaya, pemerhati, dan guru-guru MGMPS (Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sejarah).

Sengaja dihadirkan topic tentang peninggalan budaya Majapahit karena nama Majapahit telah mengindonesia. Tidak bisa dipungkiri Majapahit telah melahirkan spirit keindonesiaan. Bahkan banyak orang merasa bahwa dirinya adalah keturunan dari dinasti Majapahit. Cerita semcam ini bahkan kerap didapatkan di pelosok-pelosok desa. Hal ini menunjukkan bahwa Majapahit merupakan sesuatu yang sangat bernilai tidak saja bagi salah satu keragaman budaya serta kesinambungan kesejarahan Indonesia, namun juga bagi kebanggaan identitas sekian banyak orang.

Dalam paparannya Prof. Dr. Inajati Adrisijanti yang akrap disapa Bu Poppy ini menampilkan beberapa gambar (slide) situs Trowulan. Dari paparan ini diketahui bahwa sebaran situs permukaan Trowulan mencapai luasan 9 km x 11 km. Jadi meliputi keluasan 99 km persegi. Dari paparannya pula diketahui bahwa masyarakat di negara Majapahit waktu itu telah heterogen. Setidaknya bisa ditengarai dari berita-berita Cina yang ditulis para utusan Cina yang pernah datang ke Majapahit. Dalam negara Majapahit setidaknya ditemukan 3 kelompok masyarakat, yakni masyarakat Cina, Jawa, dan Timur Tengah. Mungkin juga ada kelompok masyarakat lain yang jumlahnya tidak begitu besar.

Sarasehan ini juga menunjukkan bahwa keberlangsungan pemerintahan Majapahit adalah mulai 1293-1522. Jadi pendapat umum yang menyatakan bahwa Majapahit runtuh dan hilang dari sejarah pada tahun 1400 (sirna ilang kertaning bumi) mendapatkan sanggahannya. Dari Majapahit pula kita sebagai bangsa mendapatkan inspirasi tentang nilai pentingnya sebuah bangsa dan negara (NKRI), tentang bhineka tunggal ika, tentang bendera merah putih, dan tentang dewan pertimbangan agung.

Nilai penting yang diwariskan oleh Majapahit bukan hanya itu, namun juga dalam kedudukannya sebagai negara yang berdaulat dengan hukum yang kuat, negara pertama di nusantara yang telah mempunyai mata uang sendiri dan dibuat sendiri yang dinamakan gobog, masyarakatnya telah kompleks, dan telah memiliki sistem tata kota yang sangat baik.

Situs Trowulan (Majapahit) setidaknya memiliki beberapa peninggalan yang sampai sekarang masih dapat disaksikan, di antaranya adalah: Candi Brahu, Situs Sentonorejo, Makam Putri Cempa, Segaran, Gapura Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Gentong, Makam Troloyo, dan lain-lain. Dari peninggalan-peninggalannya kemudian juga diketahui bahwa Majapahit memiliki logo atau lambang kerajaan yang dinamakan prajacihna. Dari peninggalannya juga diketahui adanya badhong (penutup kemaluan wanita) yang terbuat dari emas.

Selain itu ditemukan banyak pecahan gerabah dan celengan, keramik, fragmen arca, pengeras lantai tanah yang dalam kacamata sekarang dikenal sebagai paving (konblok) yang terbuat dari gerabah berbentuk segi enam. Dari peninggalan yang ditemukan juga diketahui bahwa di Trowulan banyak terdapat kanal yang cukup besar dan dalam sehingga dapat dilewati perahu. Kanal-kanal ini membagi blok-blok pemukiman.

Selain itu, dari peninggalan-peninggalan Majapahit juga diketahui bahwa visualisasi Gadjah Mada seperti yang kita kenal sekarang sesungguhnya adalah visualisasi yang mendasarkan diri pada inspirasi atas penemuan fragmen arca gerabah yang kemungkinan besar adalah bagian dari celengan.

Dengan melihat pada peninggalan-peninggalan Majapahit juga diketahui adanya 4 kelompok agama yakni Budha, Hindu, Kepercayaan, dan Islam. Di Troloyo juga banyak ditemukan makam Islam. Sayangnya semua peninggalan yang demikian besar, kompleks, dan belum semuanya tergali dan terbaca tersebut menghadapi berbagai ancaman, seperti perubahan tata guna lahan (misalnya penambangan batu), pasar gelap barang antik, vandalisme, pendirian bangunan, dan lain-lain.

Ada banyak sekali peninggalan sejarah di bumi nusantara. Belum semuanya tergali, lebih-lebih terbaca. Yang sudah tergali dan terbaca pun sudah sering mengalami perusakan, perubahan bentuk dan fungsi baik disengaja maupun tidak. Jika yang sudah tergali dan terbaca pun kurang terperhatikan, bagaimana nasib peninggalan yang belum tersentuh sama sekali?***

16 thoughts on “CELENGAN “GAJAH MADA”

  1. pak Tatang celengan dengan wajah patih Gajah Mada ini ada di museum Trowulan sendiri namun kondisi barang tersebut sangatlah tidak utuh, sementara saya banyak melihat di toko2 penjual Barang Antiq kondisi barang2 tersebut sangatlah utuh dan saya jamin itu asli, ini menunjukkan betapa kurangnya penjagaan akan situs-situs penting yang ada. mungkin orang akan menganggap saya membual tetapi saya berani untuk menunjukkannya.

  2. satu hal yang menarik akan patung gerabah/terakota trowulan ini yg saya dapatkan di toko barang antiq tersebut adalah adalah bentuk2 arca lainnya salah-satunya adanya perwujudan dewa-dewa cina, seperti arca jaeluhut cuma saya bukan orang arkeologi walau saya sdikit peduli akan itu. Dari jenis2 arca tersebut saya pastikan misteri akan terkuat ???? untuk foto2 nya mungkin akan saya susulkan mengingat barang2 masih ada di toko barang antiq, oleh sebab itu saya akan coba untuk mengfotonya dengan diam-diam.

  3. untuk celengan babi maka ditoko barang antiq lebih unik yaitu celengan tikus bentuk dan ukuran celengan tersebut tidak besar 5-10 cm ,

  4. Mohammad Yamin adalah pribadi yang unik, demikian dari sumber-sumber terpercaya tentang sifat beliau. Mohammad Yamin juga yang bilang Sumpah Pemuda pesertanya dari seluruh Indonesia. Padahal, kalau mau jujur, pesertanya para mahasiswa dan siswa di Jakarta, yang memang asalnya dari berbagai pulau, yang hadir siswa Taman Siswa, termasuk Ki Hadjar Dewantara juga berpidati di hari pertama. M. Yamin adalah sekretaris dalam pertemuan Sumpah Pemuda dan perumus kalimat-kalimat dalam Sumpah Pemuda itu, walaupun sebelumnya ia ingin “Bahasa Melayu” menjadi “Bahasa Persatuan”, tapi beliau mau berdamai lantas beliau memberi nama bahwa bahasa Melayu itu menjadi Bahasa Indonesia. Munculah “istilah generik” untuk Bahasa Melayu. Jadi semenjak peristiwa itu ada istilah baru yaitu Bahasa Indonesia yang dibuat oleh M. Yamin. Taufik Abdulah bilang bahwa M. Yamin adalah sejarahwan besar “yang mementingkan efek dibandingkan kenyataan”. Saya membaca pemikiran M Yamin dengan atusias karena beliau tertarik sejarah dan satra, tapi ahlinya kandas masuk ke bidang hukum dstnya. Beliau juga penulis buku tentang susunan pemerintahan Majapahit yang merupakan kajian mendalam beluam tentang Majapahit. Karya di bidang kajian hukum tak banyak, tapi beliau “kreator” dari “wajah Gajah Mada”, istilah “Bahasa Indonesia”, dan juga penulis ikrar Sumpah Muda itu.

  5. yang pasti patih gajah mada adalah pendatang ( bukan oarang jawa),cukup nama yang aneh kata gajah di gunakan sebagai patih di pulau jawa…tapi tidak aneh dalam bahasa melayu (sumatra), lagian gajah hewan yang tidak pernah mendiami pulau jawa dari dulu sampai sekarang…namun mendiami pulau sumatra dari dulu sampai sekartang…gajah mada berasal dari sumatra, karakter wajah yang bulat dan tembem bukan kartekter wajah jawa, tapi wajah sumatra.

  6. Majapahit, secara teritorial dan administratif tidak sebesar yang disangkakan selama ini. Kerajaan Sunda yg sangat dekat pun ternyata tidak takluk di bawah Majapahit, alih alih kerjaan Melayu ataupun Maluku.

    Secara pengaruh politik, militer dan budaya, ya memang Majapahit mempengaruhi kerajaan2 tetangganya. Nusantara artinya adalah tempat2 lainnya alias negara tetangga atau negara sahabat.

    Almarhum M.Yamin ketika itu tentu menyadari bahwa Republik yang sangat muda ini membutuhkan tokoh simbolik dan konsep pemersatu segala keberagaman yang ada. Hal tersebutlah yang mendasari catatan sejarah Majapahit dan patung “wajah Gajah Mada”, hingga Sumpah Palapa pun bergeser maknanya dari pidato persiapan pensiun (hendak beristirahat) menjadi sumpah penaklukan. Ironisnya kemudian dijadikan nama satelit pula

  7. yang perlu di cari tahu, dari mana asalnya gajah mada itu.
    ada salah satu daerah di NTT, mulai dari fisik (wajah, postur tubuh) hingga pakaian adat yang di pakai gajah mada sama persis dengan pakaian adat masyarakat di sana. dan nama orang2 di sana juga ada yang nama gaja, serta rumah adat juga ada. daerah itu namanya Kabupaten Sabu Raijua. ini perlu di buktikansecara history.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s