SKALA LIKERT: PENGGUNAAN DAN ANALISIS DATANYA

Tatang M. Amirin, 31 Oktober 2010; 4 Januari 2011

Banyak orang yang bingung jika menggunakan Skala Likert [baca biasa likert, walau ada yang baca laikert–kata Wikipedia], dan bahkan salah larap. Skala Likert digunakan untuk membuat angket, tapi kadang-kadang salah isi yang disasar untuk dihimpun dengan Skala Likert tersebut. Likert itu nama orang, lengkapnya Rensis Likert, pendidik dan ahli psikologi Amerika Serikat. Jadi, skala ini digagas oleh Rensis Likert, sehingga disebut Skala Likert.

Kalau begitu mari kita mulai dengan memperjelas apa dan untuk apa Skala Likert itu. Mau baca lebih lanjut, klik di sini!

Advertisements

ANGKET mengukur dan angket mengungkap

Tatang M. Amirin; 9 Maret 2010; 17 Maret 2010; 18 Maret 2010; 6 April 2010; 3 Februari 2011

Angket terbuka/tertutup; angket mengukur/mengungkap; kuantifikasi/kualifikasi data; validitas angket; definisi operasional konsep/konstruk; deskriptor/indikator konsep; construct validity

Mengumpulkan data

Mengumpulkan data penelitian itu bisa dengan berbagai cara, yaitu dengan bertanya, mengamati, atau menguji.

1. Bertanya

Dengan bertanya, peneliti ingin mendapatkan jawaban. Jawaban itu tentu berupa informasi (dalam penelitian disebut data). Bertanya untuk mencari data itu bisa dilakukan dengan tiga macam (paling tidak). Pertama, bertanya secara lisan (ini yang lazim disebut dengan wawancara). Kedua, bertanya secara tertulis (ini yang lazim disebut dengan angket, tepatnya menggunakan angket). Ketiga, dengan “mengetes” atau “menguji.”

Mengenai yang ketiga perlu ada penjelasan. Mengetes atau menguji itu pada dasarnya bertanya juga, yaitu bertanyakan mengenai “hal yang diujikan.” Jadi, tergantung apa yang diujikan, tes atau ujian itu bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai cara: lisan, tertulis, atau perbuatan. Apakah ada penelitian yang bersifat menguji? Ada. Jika peneliti ingin mengetahui prestasi belajar murid, maka yang terbaik adalah dengan menguji atau mengetesnya.

2. Mengamati

Mengumpulkan data itu bisa pula dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap subjek penelitian untuk mengetahui objek penelitian yang ada pada subjek penelitian itu. Apakah murid-murid belajar dengan senang dan gembira, itu akan lebih cocok dilakukan dengan mengamati perilaku murid. Yang diteliti (objek penelitian) adalah kesenangan dan kegembiraan murid (subjek penelitian) melakukan aktivitas belajar.

Apakah cara kerja karyawan efisien atau tidak, akan cocok juga jika dilakukan dengan pengamatan: mengamati gerakan tubuh, mengamati gerakan anggota badan, mengamati kecocokan peralatan dengan postur tubuh karyuawan, dan sebagainya.

Mengamati itu bisa dilakukan dengan berbagai cara dan alat. Mengamati (meneliti, mengumpulkan data) pencemaran lingkungan, misalnya, bisa dengan mata (benda-benda yang mencemari lingkungan), bisa dengan hidung (bau limbah), dan indera lainnya (sejauh diperlukan).

Salah satu yang tergolong mengamati juga adalah melihat dokumen-dokumen, arsip, dan bukti-bukti peristiwa. Ini lazimnya (di Indonesia) disebut dengan dokumentasi (sebenarnya dokumenter alias berkaitan dengan dokumen), walaupun tidak tepat benar.

Peneliti ingin tahu berapa banyak kambing dimiliki petani di sebuah desa. Ia bisa bertanya (mengajukan pertanyaan secara lisan), tetapi ia juga bisa melihat sendiri kambing milik si petani dan menghitungnya. Ini susah dikategorikan yang mana. Disebut mengamati bukan untuk melihat kambing itu, melainkan menghitungya. Disebut dokumenter bukan pula melihat dokumen, melainkan riel kambing.

Jadi, sekedar untuk memudahkan, dimasukkanlah ke dalam kategori mengamati, karena pertama-tama yang dilakukan adalah melihatnya. Ke dalam kategori ini juga “melihat dokumen” atau arsip itu bisa dimasukkan, karena pertama-tama dilakukan dengan melihatnya.

2. Teknik Mengumpulkan data

Di muka telah disinggung bahwa mengumpulkan data itu bisa menggunakan berbagai teknik. Teknik-teknik itu disebut berdasarkan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.

Jadi, ada teknik angket karena menggunakan angket. Ada teknik wawancara karena menggunakan wawancara. Ada pula teknik observasi atau pengamatan karena dengan mengamati (melihat dsb). Ada pula yang agak khusus, yaitu teknik tes karena menggunakan tes.

Pembicaraan mengenai teknik-teknik itu akan menjadi paparan tersendiri dalam “post” khusus. Dalam “post” ini hanya akan dibicarakan teknik angket.

Angket

Angket, yang berasal dari bahasa Perancis enquete, salah satu artinya dalam bahasa Inggeris  adalah investigation (Indonesianya penyelidikan). Angket itu dalam bahasa Inggeris dikenal pula dengan istilah questionnaire. Istilah ini diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi kuesioner, artinya daftar pertanyaan. Jadi, baik angket maupun kuesioner, sama-sama mengandung makna sebagai “daftar pertanyaan,” yaitu daftar (sejumlah) pertanyaan untuk menggali, menyelidiki, atau meneliti (menginvestagasi). Tegasnya daftar pertanyaan  untuk mengumpulkan data penelitian.

Teknik mengumpulkan data  yang menggunakan “instrumen” berupa angket atau kuesioner disebut dengan teknik angket atau teknik kuesioner. Penggunaan istilah “teknik” angket dipandang para pakar lebih tepat dibandingkan istilah “metode” angket.

Selain dengan menggunakan teknik angket (kuesioner), seperti telah disebutkan di muka, pengumpulan data penelitian itu dapat pula menggunakan teknik-teknik lain, yaitu (sekedar menurut kelaziman disebut orang): (1) wawancara atau interviu (karena dilakukan dengan wawancara, yaitu mengajukan pertanyaan secara lisan), (2) observasi (karena menggunakan observasi atau pengamatan dengan pancaindera), (3) tes (karena menggunakan tes untuk “mengukur” sesuatu yang diteliti), dan (4) dokumenter (“berkait dengan dokumen,” karena menjadikan dokumen sebagai sumber data).

Istilah teknik “dokumenter” lebih tepat diguakan dibandingkan istilah dokumentasi. Dokumenter artinya berkait dengan dokumen, sedangkan dokumentasi artinya pendokumentasian (menjadikan sebagai dokumen).

Teknik dokumenter dalam berbagai literatur metodologi penelitian sangat amat jarang disebut-sebut. Dengan kata lain sebenarnya tidak ada teknik pengumpulan data yang disebut teknik dokumenter. Kenapa? Karena dokumen itu sumber data, bukan alat mengumpulkan data, seperti orang (jika ditanyai) merupakan sumber data, bukan teknik mengumpulkan data.

Setiap teknik ada “ketepatannya” masing-masing dalam atau untuk mengumpulkan data. Teknik mana yang patut (pas, tepat, cocok) digunakan untuk mengumpulkan data penelitian, tergantung pada: (1)  jenis (macam, bentuk, wujud) data yang akan dikumpulkan, (2) sifat data (terstruktur ataukah tidak terstruktur), dan (3) dari sumber apa data itu dikumpulkan. Mau baca lanjut, klik di sini!

TEKNIK pengumpulan data (Bagian I: Data kuantitatif & kualitatif, pengukuran & observasi, dan definisi operasional)

Tatang M. Amirin; Edisi 9 Juli 2009; 20 Juli 2009; 15 Agustus 2009

Salah tanya, salah jawab; data, tujuan, masalah, dan permasalahan penelitian; fungsi ilmu/penelitian; sifat pendekatan penelitian; mengukur atau mengamati; definisi opersional; data kualitatif dan kuantitatif

1. Salah bertanya, salah jawabnya

nyaringumpulinKeberhasilan suatu penelitian sebagian besar tergantung pada ketepatan pengumpulan data penelitian. Ketepatan pengumpulan data penelitian sebagain besar tergantung pada ketepatan “cara bertanya.” Banyak kasus penelitian yang sangat amat lemah isi “instrumen” penelitiannya, sehingga hasilnya menjadi bukan saja tidak karu-karuan, melainkan sungguh-sungguh menyimpang dari makna hakiki “konsep” (variabel) yang menjadi objek penelitian yang sebenarnya.

Ini contoh (sekedar ilustrasi atau rekaan) yang ada dalam buku “Asking Questions” mengenai “lain cara tanya, lain jawab yang didapat.” Karena ilustrasi tersebut dalam konteks bahasa dan budaya “Inggris,” maka saya coba menerjemahkannya ke dalam bahasa dan konteks budaya Indonesia. Tentu saja jalan ceriteranya saya karang sendiri, hanya inti persoalannya yang sama. Begini kisahnya. Mau lanjut baca, klik di sini