EKSPLORASI JATI DI PEGUNUNGAN MAJALENGKA JAMAN BELANDA (1868)

Tatang M. Amirin, 10 Februari 2015

Kompeni Belanda membangun Batavia. Untuk keperluan pembangunan kapal dan bangunan di Batavia itu diperlukan banyak kayu, terutama kayu jati. Oleh karenanya hutan dikelola menjadi dua macam, hutan rimba dengan berjenis kayu, dan hutan khusus hutan jati. Kayu-kayu jati itu ditebang di hutan-hutan dipegunungan menggunakan buruh tebang, ditarik oleh kerbau ke pinggiran sungai, kemudian diikat menjadi rakit kayu jati, dan dihilirkan ke muara sungai. Sungai menjadi jalur tranportasi kayu jati dan kayu-kayu serta hasil hutan dan perkebunan lainnya yang paling efisien dan murah, karena jalan raya darat belum lagi dibangun, belum ada. Di Jawa Barat ada tiga sungai yang dijadikan jalur transportasi hasil hutan dan perkebunan itu, yaitu Citarum, Ciliwung, dan Cimanuk. Pelabuhan besar di daerah Cirebon untuk menyimpan kayu jati itu adalah Indramayu di muara sungai Cimanuk.

Sebelum dihilirkan, kayu jati itu juga perlu diolah terlebih dahulu. Untuk keperluan itu dibuatlah pabrik penggergajian kayu bertenaga air. Salah satu pabriuk pengolahan kayu jati bertenaga air itu dibangun Belanda di tepian sungai di daerah Sikaro (VOC, 1487:323v). Sikaro yang disebut dalam tulisan ini di tempat lain, termasuk dalam peta, sering ditulis dengan Tjikro (ada kalanya ditulis dengan Tjikeroeh). Jadi, dapat diduga daerah Sikaro itu berada di sekitar sungai Cikeruh, dalam wilayah Kabupten Majalengka sekarang.

Dalam salah satu peta Belanda, Tjikro (Tjikaro) itu berada di arah selatan jalan, di kaki gunung Ciremay (De Berg Sirmeij ofte Chirboa). Di timur utaranya, utara jalan raya, diterakan Cundanglassi (Sindangkasih). Hutan-hutan jati (jatij bossen) terletak di sebelah timur Tjikro, timur sungai Cikeruh (Tjikaro)–dalam peta perkebunan jati di bawah wilayah itu adalah wilayah TEJA. Tentu wilayah Cikeruh dan pabrik penggergajian kayu jati di Cikeruh itu sebelum ada jalan raya pos yang dibangun oleh paksaan Daendels (tahun 1811-an), ini masih tahun 1487-an, walaupun peta dibuat kemungkinan setelah ada jalan raya pos.

peta sindangkasih

Setelah jalan raya pos dibangun, Sikaro (Tjikro, Tjikaro, Tjikeroeh) itu dilukiskan berada di jalan raya yang dilalui kereta pos, setelah Batoe rojoe, sebelum Bandjaran (daerah Parapatan), utara Radja Galoe. [Silakan buka pula “page”  Dari Bandung ke Cirebon melewati Jalan Raya Pos” dalam blog ini. Peta ini dibuat sekitar tahun 1842, setelah nama Kabupsten Maja (1811-1840) diubah menjadi Kabupaten Majalengka (1840), dan ibu kota Kabupaten dipindah dari Maja ke Sindangkasih (yang kemudian diganti nama menjadi Majalengka, menyesuaikan dengan nama kabupatennya–Majalengka—lengka–leng dalam lengkap–bahasa Jawa Kawi, artinya pahit). Dalam peta dua nama itu dituliskan sekaligus untuk menjelaskan perubahan nama dimaksud: Sindanglasi (Majalengka): Tadinya Sindangkasih, sekarang Majalengka. Sindangkasih pada masa Raffles (1811-1816) merupakan salah satu regency (kabupaten) di wilayah Cirebon. Yang lainnya Talaga, Rajagaluh. Kadongdong, Kuningan, Gebang………..

 

Junghuhns Madja Lengka 2

Pengembangan hutan jati, seperti terlihat dalam peta, berada di lereng gunung Ciremay di wilayah Sindang–di selatan Cundanlassi (Sindangkasih) di hjulku sungai Cikeruh (Sikaro)  terus ke wilayah Kuningan, selatan Kalitandjoeng (Kali Tanjang), termasuk daerah Tjileboe (Tsilaboe). Peta berikut lebih menjelaskan letak Cundanlassi (Sindangkasih) yang berada di jalur jalan antrara Karangsambung dan Kali Tanjung serta Cirebon.

CIREBON 1724-1726

Berdasarkan data tahun 1868 di wilayah Sumedang dan kesultanan Cirebon itu ada empat pusat industri kayu jati (tidak selalu harus perhutanannya), yaitu: (1) Sumedang, mandornya bernama Anthony Janszoon van Stockholm (tentara), dengan jumlah pekerja 180 orang, (2) Sindang Kasih (wilayah Sultan Anom), mandornya bernama Thomas Laurenszoon (tukang), dengan jumlah pekerja 180 orang, (3) Karesambo (Karangsambung–wilayah Sultan Sepuh), mandornya bernama Hendrik Hohorst (kopral), dengan pekerja sebanyak 150 orang, dan (4) Sikaro (Tjikaro, Tjikro, Cikeruh–wilayah Sultasn Sepuh dan Sultan Anom), mandornya bernama Evert Marinisse dan Jan Hendrix Craal, dengan pekerja sebanyak 200 orang. (Memorie Johannes de Hartog, 24 Oktober 1868/VOC:1455). Jadi, bisa dibayangkan betapa sangat penting “kota” Cikeruh  pada masa itu, baik sebagai daerah perhutanan jati maupun industri penggergajian kayu jati. Pertanyaan historis sekarang: Di mana itu Cikeruh atau Tjikro (pasti di sekitar Sindangwasa).

Oleh karena sedemikian penting transportasi sungai pada masa itu, termasuk Cikeruh dan Cimanuk (kayu jati dihilirkan lewat Cikeruh, masuk ke Cimanuk, gabung dengan yang dari Sindangkasih (ingat ini ada di dekat sungai Cikeruh, utara jalan, utara Cikro), dari Sumedang dan juga dari Karangsambung bertemu di muara Cikeruh-Cimanuk, maka Belanda merancang “benteng perlindungan” (de bescherming) di muara Cikeruh itu. Muara Cikeruh tergambar pada sisi kanan atas, di muara itu dibangun tempat perlindungan (benteng pemukiman) yang tataruangnya diterakan di bagian kanan bawah. Alitan sungai Cikeruh sebagai gambaran dilukiskan di sebelah kiri. Di bawah (arah ke hulu) ada tulisan Nagarij Depokpassir (bisa dipastikan itu sekarang adalah kampung/desa Pasir dan Depok.). Pemda Majalengka ada gagasan “menyodet” muara Cikeruh itu sekarang untuk membuat “taman wisata air” di calon “benteng Belanda” baheula itu?

BELANDA BESCHERMING MUARA CIKERUH

 

TEJA HUTAN JATI BELANDA 1891Wilayah Teja (sekarang termasuk Kecamatan Rajagaluh) sebagai perkebunan (hutan) jati jaman Belanda

Bahan bacaan utama: “Princess, Nederlanders, and Bovenlanders Socio-economic Activity and Changes in West-Java: Forest production and agriculture in Cirebon-Priangan, 1681-1722.” Xiamen University, Research School for Southeast ASian Studies.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s