KONTROVERSI

KONTROVERSI itu versi (pandangan, pendapat) yang bertolak belakang (kontras). Versi yang satu mengatakan “begini,” versi yang lain menyatakan “begitu.” Kontroversi (perbedaan pendapat) itu merupakan “rahmat”, karunia Sang Maha Pencipta yang mensejahterakan umat manusia (bisa lahir, bisa batin, bisa keduanya). Itu terjadi antara lain manakala:

Pertama, ditanggapi (direspons) dengan kepala dingin dan hati yang lapang. Kebenaran (khususnya ilmu dan atau pengetahuan), menurut “etika ilmuwan” itu sifatnya relatif. Oleh karena itu ilmuwan dan cendekia dituntut harus lapang dada, bening pikir (“open minded”). Selain itu tentu, dalam bahasa moralistik, harus disikapi dengan “sabar,” betapapun versi yang muncul itu dirasakan rada-rada tendensius subjektif provokatif.

Kedua, perbedaan versi itu diterima sebagai sarana mengembangkan daya nalar.  Otak, pikiran, akal manusia akan menjadi hidup karena ada rangsangan-rangsangan (stimulus) dari adanya versi yang berbeda, bahkan bertentangan itu. “Hidup” karena harus melakukan aktivitas berpikir. Berpikir aktif itu merupakan pertanda seseorang benar-benar manusia, manusia yang benar-benar orang, orang yang hidup sebagai manusia (“human being”). “Cogito ergo sum” (aku ada–benar-benar ada sebagai manusia–karena aku berpikir), kata Descartes.

Ketiga, memacu (memotivasi) pikiran untuk aktif mencari jawaban yang benar. Dengan adanya kontroversi, orang mestinya terpacu untuk ingin tahu dan mencari tahu, yang mana sebenarnya yang benar-benar benar. Karunia kodrati manusia yang menjadikan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya (termasuk yang dimiliki masyarakat) berkembang adalah yang berupa dorongan ingin tahu (“curiousity”).

Keempat, kontroversi dijadikan jembatan menuju pencapaian kebenaran (“hikmah, wisdom, sophia”) yang sesungguhnya, yang dilakukan dengan cara-cara yang bajik (“mau’idzah hasanah”), dan dialog yang santun (“mujadalah al-ahsan”), bukan debat kusir dialog pokrol bambu.

Keempat, sudah barang tentu jangan buat kontroversi jika tak punya dasar yang kuat (“well informed”), dasar yang juga benar-benar benar (“hikmah”). Karena kalau itu dilakukan, maka bencana yang akan menimpa kita semua.

Kaca (“page”) ini akan saya khususkan untuk memuat berbagai kontroversi, versi satu dan yang lainnya, semua versi, agar kita semua “melek.” Tentu dengan secara selektif, diambil yang–walau mungkin subjektif, sejauh yang bisa saya nalar–mengandung dasar-dasar rasional.

Dalam kasus tertentu, mungkin saja saya sendiri yang akan memunculkan “masalah” (“issues”) kontroversial secara sengaja untuk “memancing” respons yang nalar dari publik.

Semoga benar-benar membawa “rahmat” bukan “musibat wa mudarat.”

6 thoughts on “KONTROVERSI

      • punten kang abdi kapoekan nyuhunkeun informasi perkawis nami eyang beureum atanapi R.arya rangga kencana teh saha? mungkin akang uninga… sareng makam uyut alimuddin nu di awilarangan kuningan eta teh putra uyut lukman hakim… terasna kamana eta kang..punten,,haturnuhun

  1. teras pami raden aria rangga kencana uninga teu kang… saurna mah ti pangeran sageri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s