KERAJAAN TALAGA: MELACAK JEJAK BUJANGGA MANIK (10) KERAJAAN MAJA–DI GUNUNGWANGI[?] DAN PENGGABUNGANNYA DENGAN TALAGA

Tatang M.Amirin, 20 Maret 2014; 21 Maret 2014; 22 Maret 2014; 10 Nopember 2016

© 2014; 2016. Hak cipta pada Tatang M. Amirin. Jika Anda ingin mengkopi tulisan ini, silakan, tapi sebutkan sumber dengan jelas agar tidak dituntut melakukan tindak plagiarisme.

(*) Tatang M. Amirin kelahiran Maja Kaler, Majalengka, sekarang dosen tetap di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

  1. Kerajaan Maja yang Jarang Dikenal

Ketika membicarakan daerah Maja (salah satu kecamatan di Kabupaten Majalengka sekarang) yang akan, atau pernah diketahui, dari lacakan Kerajaan Talaga, hanya ada dua. Pertama: dulu merupakan kadaleman di bawah Kerajaan Talaga yang dipimpin oleh Dalem Lumaju Agung dan para penerusnya. Kadaleman adalah bagian dari “Kerajaan Talaga” (sebenarnya sudah tidak ada) yang dipimpin oleh para putra Raja. Kedua, Maja merupakan cikal bakal Kabupaten Majalengka (5 Januari 1819 Kabupaten Maja berdiri) dan sekaligus “kotanya” menjadi ibu kota Kabupaten (suka salah dianggap ibu kotanya di Sindangkasih—Lihat peta Kabupaten Maja). Tidak pernah ada yang mengira–setidaknya tidak pernah disebut dalam “babad Talaga”–bahwa Maja itu dahulunya merupakan sebuah Kerajaan (di bawah Galuh-Pajajaran) juga, seperti halnya Talaga.

Dalam setidaknya dua “babad” versi Cirebon dan Sumedang/Garut (disebut babad dalam tanda petik apapun yang dituliskan orang berdasarkan babad, bukan dongeng sasakala seperti Sindangkasih-Majalengka), Maja itu disebut-sebut sebagai kerajaan sejaman dengan Talaga (atau di antara berdiri dan berakhirnya Kerajaan Talaga).

Kerajaan Maja itu diduga (karena tidak ada kejelasan siapa pendiri pertama, atau apakah sudah ada sebelumnya) didirikan oleh Prabhu Munding Surya (Sari) Ageung. Dalam blog “Manusia langit Manusia Bumi” di bawah tulisan Eyang Dalem Cikundul Sang Wali Hawariyyun dijumpai silsilahnya dengan beberapa penjelasan sebagai berikut.

43. Prabu Mundingkawati/Prabu Lingga Buana (Sang Mokteng ing Bubat; 1350-1357M);
44. Prabu Silihwangi I (Prabu Wastukancana) Raja Sunda-Galuh; 1371-1475M);
45. Prabu Anggalarang (Prabu Dewa Niskala) Raja Galuh/Kawali; 1475-1482M);
46. Prabu Silihwangi II (Raja Pakuan-Pajajaran; 1482-1521M;  Rd. Pamanah Rasa); nikah ka Nyimas Padmawati :
47. Prabu Munding Surya Ageung/Prabu Mundingwangi/Mundinglaya Dikusumah/Mundingsari Ageung/Mundingsari II;
48. Prabu Munding Surya Leutik/Mundingsari Leutik/Mundingsari III;
49. Prabu Pucuk Umum/Raden Ranggamantri (RAJA MAJA PLUS RAJA TALAGA TERAKHIR) nikah ka  Ratu Dewi Sunyalarang (Ratu Parung taun 1500M)/Ratu Wulansari putri Sunan Parung/Sunan Corenda/Raja Talaga Prabu Sakawayana; 1450M. Raden Ranggamantri diislamkeun ku Raden Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati Cirebon dina taun 1529M.

Prabu Pucuk Umum apuputra:
50. Sunan Parunggangsa;
51. Sunan Wanaperih/Sunan Cibinong/Raden Arya Kikis;
52. Sunan Ciburang/Raden Arya Saringsingan; Kampung Ciburang, Desa Maniis,  Kec. Cingambul,  Kab.Majalengka
53. Sunan Sagalahaerang/Raden Arya Wangsa Goparana.

Salah satu blog (www.limbangan garut.com–tidak diketahui secara pasti naskah asli atau mengambil dari blog lain), menuliskan ihwal Kerajaan Maja itu sebagai berikut.

IV. Prabu Munding Surya Ageung (Raja Maja)

Menurut Sejarah Panjalu Ciamis, Prabu Munding Surya Ageung adalah ayah dari Rd. Ranggamantri/Parunggangsa (Raja Maja terakhir). Rd. Ranggamantri selanjutnya menikah dengan  Ratu Dewi Sunyalarang (Ratu Parung-1500M) putra Sunan Parung/Batara Sakawayana (Raja Talaga–1450M) dan akhirnya merangkap sebagai Raja Talaga terakhir. Diislamkan oleh Syarif Hidayatullah tahun 1529M. Rd. Ranggamantri/Parunggangsa  diberi  julukan “ Pucuk Umum.“  Rd. Ranggamantri (+ 1530 M) mempunyai 3 orang putra, yaitu:

1. Prabu Haurkuning

dst.

Sebelum lanjut, ada perbedaan “silsilah” dari dua tulisan tersebut. Pada tulisan pertama Raden Parunggangsa tidak sama (bukan orang yang sama) dengan Raden Ragamantri yang nantinya disebut sebagai Prabu Pucuk Umun (umun–bukan umum, bahasa Sunda kuno, menurut salah satu penutur, artinya yang disembah). Raden Parunggangsa anak Raden Ragamantri. Pada tulisan kedua Raden Ranggamantri itu bergelar atau mempunyai julukan Sunan Parunggangsa yang kemudian mendapat julukan Prabu Pucuk Umun ketika dinobatkan menjadi penguasa Talaga (di bawah kekusaan Cirebon).

Di blog “sajarahcirebon.wordpress.com” (ada kesamaan dengan blog lain, yaitu “Cirebon Masa Lalu”, juga “Sejarah Cirebon“–entah siapa mengambil dari siapa) dituliskan mengenai Kerajaan Maja itu (dengan sedikit editan dari Penulis) sebgai berikut.

Dalam pertempuran ini tampak apa kelebihan pasukan Demak. Mereka membawa meriam, dan orang Galuh tidak berdaya terhadap “panah yang berbunyi seperti guntur, mengeluarkan asap hitam sambil memuntahkan logam panas” ini. Pasukan Galuh terdesak lalu mereka mengundurkan diri ke Talaga benteng terakhir Kerajaan Galuh,. Kerajaan tua Galuh yang didirikan oleh Wretikandayun dalam tahun 612 itu runtuh tahun 1528 Masehi dalam pertempuran di Bukit Gundul-Palimanan.

Tentang hal ini patut diberi catatan bahwa dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (1720 M) dan naskah-naskah yang lebih muda disebutkan perang itu antara Cirebon dan Rajagaluh sehingga menimbulkan salah duga karena kebetulan di daerah Majalengka ada tempat yang bernama Rajagaluh yang usianya cukup tua juga. Dalam Pustaka Nusantara III/1 jelas tertulis bahwa yang kalah dalam pertempuran di Palimanan tahun 1450 Saka (1528 Masehi) itu rajya ghaluh. Kata rajya berarti kerajaan.[Jadi, yang dimaksud adalah kerajaan Galuh, bukan Rajagaluh–Pen.]

Penguasa Talaga waktu itu disebut dengan banyak nama, yaitu: Suralaya, Rangga Mantri, Brajamusti, Batara Tina Buana, Sunan Parung Gangsa atau Pucuk Umun Talaga. Ia adalah putera Munding Surya Ageung (salah seorang putera Sri Baduga) dan [yang] menjadi raja di Maja. Karena perkawinannya dengan Wulansari (Ratu Dewi Sunyalarang—Pen. atau Ratu Parung) cucu Ratu Simbarkancana, Sunan Parung Gangsa (Raden Ragamantri–Pen.) menjadi raja Talaga. Dalam hal ini ia mewarisi tahta dari mertuanya yaitu: Batara Sakawayana alias Sunan Parung atau Sunan Corenda (ayah Ratu Dewi Sunyalarang).

Jadi, tampaknya dari berbagai tulisan itu dapat disimpulkan bahwa Prabhu Munding Surya (Sari) Ageung, salah satu putra Sri Baduga Maharaja (Prabhu Siliwangi), diberi kedudukan memangku wilayah Kerajaan Pajajaran di Maja (menjadi raja di Kerajaan Maja yang menjadi vasal atau daerah bawahan Pajajaran). Dalam blog lain disebutkan  ia melarikan diri dari Pajajaran, karena Pajajaran akan runtuh, menuju ke wilayah sebelah barat Gunung Ciremay (tampaknya dilihat dari masanya kisah melarikan diri ini tidak cocok—Islam dan Cirebon belum lagi “berkuku bertaring” untuk meruntuhkan Pajajaran atau Galuh).

Prabhu Munding Surya (Sari) Ageung, menurut blog lain menikah dengan Dewi Mayang Karuna anak Bagawan Garasiang. Garasiang hanya beberapa kilometer di atas Maja.  Dengan kata lain bisa pula dikatakan bahwa Prabhu Munding Surya (Sari) Ageung  menikah dengan Dewi Mayang Karuna “Garasiang” dan kemudian diberi kekuasaan mengelola wilayah  yang kemudian disebut Kerajaan Maja, mencakup Garasiang (ini terletak di utara Talaga). Jadi, dapat dikatakan bahwa Prabhu Munding Surya (Sari) Ageung dapat diduga merupakan raja pertama Kerajaan Maja (tahunnya belum bisa dipastikan).

Dari perkawinannya dengan Dewi Mayangkaruna itu itu Prabhu Munding Surya (Sari) Ageung memperoleh putra, mungkin salah satunya bernama Raden Rangga Mantri. Raden Ranggamantri  kemudian diberi wilayah untuk dipimpin dengan gelar atau julukan Raden Parung Gangsa. Parung gangsa dapat diartikan sebagai lembah perunggu bahan pembuat gamelan. Daerah di sekitar Maja yang bernuansa “parung gangsa” itu diduga Anggrawati (anggara = Selasa, “sesajinya” perunggu atau kuningan, wati atau vati = tempat).

Raden Rangga Mantri kemudian menikah dengan Dewi Wulansari atau Dewi Sunyalarang yang kemudian menjadi raja dengan gelar atau Ratu Parung, Ratu Kerajaan Talaga yang meneruskan tahta ayahnya Prabhu (Sunan) Parung. Oleh karena perkawinan tersebut, maka Kerajaan Maja digabungkan dengan Kerajaan Talaga. Pada masa pemerrintahan Raden Ranggamantri (Prabhu/Sunan Parung Gangsa) tersebut terjadi peperangan di Palimanan antara Kerajaan Galuh dan Kesultanan Cirebon. Kerajaan Talaga menjadi benteng pertahanan terakhir.

Dengan tidak jelas, apakah kemudian Talaga diserang Cirebon ataukah tunduk dengan cara damai (walau dalam babad lain disebutkan bahwa pasukan Islam itu “datang ka Rajagaluh, eleh Rajagaluh, datang ka Talaga, eleh Talaga”), Kerajaan Talaga dikuasai Cirebon (umumnya disebut tahun 1530M., ada pula yang menyabut tahun 1529M). Sejak saat itu otomatis Kerajaan Talaga sudah tidak ada. Oleh krena itu dalam berbagai tulisan di atas disebutkan bahwa Raden Rangga Mantri menjadi Raja Maja dan Talaga terakhir. Prabhu Rangga Mantri dan Ratu Dewi Sunyalarang (Ratu Parung) pun akhirnya masuk Islam. Raden Rangga Mantri diberi kekuasaan mengelola wilayah Talaga dengan julukan (gelar) Prabhu Pucuk Umun. (Makmun menyebut tadinya Pucuk Umun–bahasa Sunda kuno, diganti jadi Pucuk Umum, karena umum artinya seluruh umat Islam. Ini salah etimologi, karena ummat (bahasa Arab, tunggal) jamaknya (plural) bukan umum tapi umam.

Raden Rangga Mantri (Prabu Pucuk Umun) dan Dewi Sunyalarang (Ratu Parung), menurut satu versi menurunkan keturunan sebanyak lima orang, yaitu: (1) Prabu Haurkuning, (2) Raden Arya kikis (kelak dikenal sebagai Sunan Wanaperih–bermukim di “hutan prih/beringin), (3) Dalem Lumaju Agung (Maja), (4) Dalem Panuntun (Panungtung) Girilawungan, dan (5) Dalem Panaekan.

Kelak wilayah Maja itu diberikan kekuasaan pengelolaannya kepada putra  Prabu Pucuk Umum, yaitu Dalem Lumaju Agung, sementara wilayah Talaga diserahkan kepada Arya Kikis yang kelak dikenal dengan julukan Sunan Wanaperih (Wanaprih–prih/preh-Jawa = beringin).

Pada masa-masa berikutnya agama Islam disebarkan selain oleh Dalem Lumaju Agung sendiri juga oleh beberapa tokoh yang diduga berasal dari Cirebon dan berpusat di Gunung Wangi. Di Gunung Wangi ini diketahui ada beberapa “makam kabuyutan,” yaitu Jaya Kusumah, Nyi Masri’ah, Kyai Suryadiningrat, Raden Tumenggung (diduga ini Tumenggung Dendranegara bupati Kabupaten Maja pertama), Embah H. Muslim, dan Embah Nabi Hideung. Sebagian warga wilayah Maja dan sekitarnya, menurut ceritera dari mulut ke mulut, merupakan keturunan para tokoh tersebut, selain dari Dalem Lumaju Agung, Dalem Jero Kaso, Dalem Kulanata, Dalem Cucuk, dan juga Raden Barzah gelar Mangkubumi. Bagaimana silsilah keturunan mereka, tidak diketahui secara pasti.

Di sisi lain, Ali Sastramidjaya (Data Kala Kerajaan-Kerajaan di Jawa Barat—dikutip dari “Arthasangkala”) juga mengukuhkan keberadaan Kerajaan Maja itu dengan merujuk “sejarah Kuningan” (silsilah kerajaan Kuningan) sebagai berikut.(Tulisan Ali Sastramidjaya hanya berupa tabel “data kala”, tidak berbentuk uraian atau narasi).

Prabu Cakrawati di  Kuningan/Galunggung bagian Galuh  (1033-1074Caka), berputra Prabhu Langlangbuwana. Prabhu Langlang Buwana berputra: (1) Ratu Mayang Kuning,  (2) Dalem Dungkut, dan (3) Ratu Mayangsari. Ratu Mayang Kuning menjadi Ratu di Kerajaan Maja karena diperistri oleh Raden Suryalaya atau Raden Ranggamantri (Raja Kerajaan Maja—Ali Sastramidjaya menyebutnya “derah Maja”). Dalem Dungkut menjadi raja di wilayah Kawali. Ratu Mayangsari diperistri oleh Sunan Parung (Raja Talaga).

Raden Suryalaya (Raden Ranggamantri) dan Ratu Mayang Kuning (di Kerajaan Maja ?) mempunyai anak tiga orang, yaitu: (1) Raden Jayareksa yang kemudian dikenal sebagai Ki Gedeng Luragung, (2) Ratu Selawati, istri Syekh Arifin (Sindangkasih/Sindangwasa/Sambeng –? Tidak sama, Syekh Arifin putra Syekh Maulana Akbar penyebar Islam di Kuningan) yang menurunkan Ratu Kencanawati atau Nyi Ageng Kuningan, dan (3) Raden Bratawiguna yang kemudian dikenal sebagai  Pangeran Arya Kemuning. Ratu Mayangsari yang dinikahi Sunan Parung (Talaga) mempunyai anak bernama Ratu Wulansari (kemudian dikenal sebagi Ratu Parung). Ratu Wulansari (Ratu Parung) ini kemudian dinikahi oleh  Raden Parunggangsa (Raden Ranggamantri) raja di Kerajaan Maja.

Dalam versi Ali Sastramidjaya ini nama Raden Ranggamantri dari Kerajaan Maja disebut dua kali, tetapi dengan nama alias berbeda, yang satu Raden Suryalaya, yang satu lagi Raden Parunggangsa. Jika mengikuti paparan “sejarah Cirebon” dan yang salingkutip dengannya, nama Raden Ranggamantri itu memang ada beberapa, termasuk Suralaya (Suryalaya) dan Parung Gangsa. Jadi, bisa berarti Raden Ranggamantri yang sudah bersisterikan Ratu Mayang Kuning kemudian menikahi keponakan istrinya (dari Ratu Mayangsari dan Sunan Parung).

Agar saling melengkapi, dari blog “Sejarah Kuningan” (mohon maaf, tidak jelas apakah asli rekaan sendiri ataukah salingkutip dengan blog lain), diketahui ada silsilah sebagai berikut.

SILSILAH KUNINGAN

Dari blog ini diketahui bahwa:

(1) Prabu Lalanglangbuana “hanya” berputrakan dua orang perempuan, yaitu Mayang Kuning dan Mayangsari. Mayang Kuning menikah dengan Suralaya, tetapi ini tidak sama dengan Raden Ranggamantri, melainkan Guru Gantangan (Prabu Surawisesa), anak Prabu Siliwangi. Jadi Ranggamantri anak Prabu Munding Surya (Mundingwangi) tidak menikahi Mayang Kuning seperti dalam versi Ali Sastramidjaia.

(2) Mayangsari menikah dengan Sunan Corenda (Sunan Parung) Raja Talaga, sama seperti menurut Ali Sastramidjaja. Dari keduanya lahir Ratu Wulansari (diberi julukan Ratu Sunyalarang dan kemudian Ratu Parung), yang menggantikan Sunan Parung menjadi raja (ratu) Talaga. Ratu Parung Sunyalarang inilah yang kemudian dinikahi Raden Ranggamantri Sunan Parung Gangsa (Raja Kerajaaan Maja). Diduga karena Sunan Corenda kemudian “pindah” ke Sumedang, maka Raden Ranggamanteri ini yang kemudian mengantikannya menjadi Raja Talaga dan menggabungkan Kerajaan Maja ke Kerajaan Talaga.

(3) Sunan Corenda menikah pula dengan Sintawati (Sumedang) dan menurunkan Setyasih yang kemudian menjadi Pucuk Umun Sumedang dan menikah dengan Pangeran Santri.

Catatan lain:

Bujangga Manik (Prabu Jaya Pakuan) menyebut Walang Suji sebagai ibu kota (dayeuh) Kerajaan Talaga. Perjalanan Bujangga Manik keliling “Jawa,” dan melakukan kunjungan ke Walang Suji juga, diperkirakan antara taun  1475-1525-an. Ratu Sunyalarang (Ratu Parung) dinikahi Raden Ranggamantri tahun 1500-an. Sunan Parung/Batara Sakawayana (ayah Ratu Sunyalarang Parung) memerintah sekitar 1450-an. Sejak 1500-an itu Kerajaan Maja gabung dengan Kerajaan Talaga menjadi Kerajaan Talaga yang beribu kota  Walang Suji. Masa Raden Ranggamantri dan Ratu Parung inilah diperkirakan Bujangga Manik datang ke Walang Suji. Oleh karenanya tidak menyebut nama Maja, karena Maja dan Talaga sudah jadi Talaga. Bujangga Manik ada menyebut nama Majapura dan alas Maja, tapi tidak cocok dengan Maja Ciremay.

Eta na bukit Patuha, ta(ng)geran na Majapura. Itu bukit Pam(e)rehan, ta(ng)geran na Pasir Batang.”

Itu ta bukit Caremay, tanggeran na Pada Beunghar, ti kidul alas Kuningan, ti barat na Walang Suji, inya na lurah Talaga.”

Eta ta na Gunung Kembang, geusan tiagi sagala, ti kidulna alas Maja, eta na alas Rumbia.Ti baratna wates Mener, ta(ng)geranna Bojong Wangi.”

Nah, sementara (tentatif, sampai ada bukti sejarah lain) silsilah Kerajaan Maja itu seperti tertera dalam bagan berikut.

SILSILAH MAJA

2. Kerajaan Maja di Gunung Wangi ?

Seperti telah disebutkan di muka, di Gunung Wangi (dulu termasuk Kecamatan Maja, setelah pemekaran sekarang termasuk Kecamatan Argapura), banyak makam keramat, di antaranya makam Embah Wijaya Kusuma, Kiyai Adipati Suradiningrat, dan Raden Tumenggung. Raden Tumenggung diduga Raden Tumenggung Denda Negara (bupati pertama Kabupaten Maja/Majalengka) yang kemudian berganti nama mengikuti trah (clan) leluhurnya menjadi Raden Suradiningrat (Suryadiningrat). Kiyai Adipati Suradiningrat (Suryadiningrat) diketahui merupakan mantan bupati Cirebon (pasti sedarah seketurunan dengan Denda Negara). Lalu, siapa Embah Wijayakusuma?

Embah Wijayakusuma dikenal masyarakat sekitar sebagai pangeran dari Pajajaran. Makam (yang diduga makam) Embah Wijayakusuma itu–menurut orang setempat–bukan makam, tidak ada siapapun yang dikuburkan di situ. Jadi, lebih cocok jika disebut sebagai “petilasan.”

Embah Wijayakusuma dapat (patut) diduga (hipotesis) sebenarnya adalah Prabu Munding Sari Ageung (Munding Surya Ageung atau Munding Wangi)–seperti telah disebutkan di muka–yakni raja Kerajaan Maja–nama Munding Wangi jangan dikisruhkan dengan nama serupa di daerah lain. Munding Wangi ini menikah dengan putri Bagawan Garasiang Dewi Mayang Karuna.

Jika ditelusur dari “arah pergerakan” kerajaan Talaga, pergerakan penambahan “dayeuh” wilayah itu selalu berada di lereng atas Gunung Ciremay dan sekitarnya, yaitu dari Gunung Bitung ke (diduga) Darmalarang (saat rajanya bergelar Darmasuci), lalu ke sekitar talaga (situ) yang ada di atas di puncak bukit (di “manggung”) yang disakralkan atau dijadikan kabuyutan (“sangiang”) dan kemudian ke Walangsuji, lalu bertambah ke Garasiang dan kemudian ke Gunung Wangi. Pergerakan di atas itu diduga karena lebih mudah menyebrangi sungai-sungai dibanding di bawah yang sungainya sudah lebar dan dalam. Di atas itu sungai-sungai masih berupa hulu sungai. Gunung Wangi, misalnya, merupakan hulu sungai Ci Buni (dijawakan jadi Ci Rungkut–populer disebut Ci Rumput).

Nama Gunung Wangi karenanya diduga berasal dari sebutan gunung yang didiami oleh Prabu Munding Wangi, lepas dari ceritera suka ada bau wangi keluar dari bumi di sekitar makam Embah Wijaya Kusumah. Sebutan Embah Wijayakusumah bisa jadi karena di sekitar “makam” ada bunga wijayakusumah yang harum (wangi) manakala sedang mekar di malam hari. “Petilasan” Embah Wijayakusumah itu bisa jadi dahulunya merupakan keraton Prabu Munding Wangi (Munding Surya Ageung).

Prabu Munding Surya Ageung–ada juga yang menyebutnya dengan Raden Maja Wira Mantri–patut diduga selain menurunkan Raden Suryalaya (Parunggangsa atau Raden Rangga Mantri) menurunkan keturunan yang lain [dan mestinya dimulai dari Prabu atau Pangeran Munding Surya Alit] yang menurunkan keturunan dengan nama “Surya” juga di dalamnya (seperti Raden Suryalaya gelar Raden Rangga Mantri–Panglima Perang). Dari sisi lain muncul nama-nama yang kemudian dipakai sebagai nama-nama bupati Maja, Majalengka, dan juga Cirebon, yaitu Raden Surya Adi Ningrat (dipendekkan jadi Suryadiningrat–sering ditulis juga Suradiningrat).

Nama kerajaan Maja sendiri, seperti legenda Majapahit (Majalengka, Wilwatikta), bersumber dari banyaknya pohon maja di sekitar Gunung Wangi sampai ke lembah-lembah di bawahnya. Kerajaan Talaga, disebut demikian, karena berada di sekitar talaga (situ alam, bukan situ buatan). Kelak, pusat keramaian “dayeuh” Kerajaan Maja itu turun dari Gunung Wangi ke bawah ke kota Maja sekarang yang nantinya menjadi kadaleman Maja (Lohmaja–?) dipimpin oleh Dalem Lumaju (Lohmaja) dan kemudian pada 5 Januari 1819 menjadi ibu kota Kabupaten Maja dengan bupatinya salah satu keturunan Prabu Munding Wangi (Munding Surya Ageung) Raden Denda Nagara (Raden Tumenggung Surya Adhi Ningrat). Itulah sebabnnya mereka dimakamkan di Gunung Wangi, di tempat tanah kelahiran leluhurnya.

Nyanggakeun, masih hipotesis keneh. Punten.

4 thoughts on “KERAJAAN TALAGA: MELACAK JEJAK BUJANGGA MANIK (10) KERAJAAN MAJA–DI GUNUNGWANGI[?] DAN PENGGABUNGANNYA DENGAN TALAGA

  1. bray bray bray… sakedik sakedik narembongan… hatur nuhun nuhun pangersa “sinuhun dalem lohmaja agung”.. eces kalawan jentre, narawang mangsa katukan kacingcirihi dina bukti……najan katutup ku sislib sindir, kakubur ku waktu ka laasan ku zaman ,beh namah bisa di hartikeun ku nalar sareng logika.. pikeun obor kanu poekeun.. cag…

  2. assalamualaikum, Pa Tatang abdi kantos nyerat sajarah sagalaherang dikintung ka milis kisunda, kusnet (urang sunda) taun 2001-an di arsip di http://partisan-siliwangi.blogspot.com/2009/08/sajarah-sagalaherang.html, tos lami milari seratan/sejarah Prabu Munding Sari Ageung nembe mendakan di seratan Bapa, abdi bade naros : 1. Prabu Munding Sari Ageung putrana Prabu Siliwangi + Nyimas Padmawati (Ratu Rajamantri ti sumedang ?), sumber-na ti mana?, 2. Pami dina nami Mundingsari/Mundinglaya ieu naha tokoh nu folkor sunda, padahal salami ieu identik ceuk ahli sejarah Prabu Surawisesa ?,3. Abdi aya rencana nyerat sajarah Prabu Mundingsari base on seratan Bapa, nyukeun widi, 4. Pami aya waktos pangkintunkeun no HP Bapa ka email abdi GunawanYusuf68@gmail.com, hatur nuhun

  3. Maaf Pak Tatang, saya mau bertanya mengenai silsilah Mundingsari dan keterkaitannya dengan Syeikh Dalem Abdulmanaf (Kampung Mahmud). Apakah Syeikh Abdulmanaf itu itrah Jayadewata lewat Mundingsari?

    Silsilah:
    1. Jayadewata (x Ratu Istri Rajamantri)
    2. Mundingsari Ageung
    3. Ranggamantri
    4. Sunan Umbuluar
    5. Pandaan Ukur
    6. Dipati Ukur Ageung
    7. Dipati Ukur Anom
    8. Dalem Suryadinata
    9. Dalem Nayadireja
    10. Dalem Abdulmanaf

    Mohon pencerahannya, Pak.
    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s