KERAJAAN TALAGA: MELACAK JEJAK BUJANGGA MANIK (8) MELACAK SITUS DAN PENINGGALAN

Tatang M. Amirin; 7 Januari 2011; 3 September 2011; 13 September 2011

MELACAK SITUS DAN PENINGGALAN KERAJAAN TALAGA

(Ini bagian yang dipotong dari tulisan panjang “Kerajaan Talaga: Melacak jejak Bujangga Manik”–agar tak terlampau capai membacanya; dimulai dari yang paling akhir, sehingga sementara ditulis nomor 9, sekedar nomor  paling akhir dari 1-9, agar yang lainnya bisa muat pakai nomor urut).

Peninggalan (pusaka) Talaga sekarang sebagian tersimpan di Museum Talaga Manggung, Talaga. Sayang, karena saat lebaran, saya dan istri tak bisa masuk ke dalam meliohat-lihat isinya.

 


Pengantar

Saya termasuk orang yang tidak percaya orang-orang Sunda tidak bisa membuat candi atau keraton dari bahan bebatuan atau batu bata. Sekarang sudah mulai ditemukan berbagai situs candi dan pemukiman di wilayah Jawa Barat, tertimbun tanah. Candi di situs Rajegwesi, Ciamis, misalnya, hanya terlihat sebagai bukit kecil (pasir leutik) yang sudah ditumbuhi belukar dan pepohonan.

Peninggalan candi di situs Rajegwesi, Ciamis, yang sudah seperti bukit (pasir leutik)  biasa

Jadi, di wilayah-wilayah Talaga yang berbukit-bukit itu perlu “dicurigai” ada tinggalan serupa itu. Siapa tahu, ada “tatapakan” karaton yang sudah tertimbun tanah. Gunung Ciremay pernah meletus dan memuntahkan lahar yang relatif besar pada abad XVIII, seperti dicatat Balai Taman Nasional Gunung Ciremay berikut.

Letusan pertama Gunung Ciremai tercatat terjadi pada 3 Februari 1698. Pada waktu itu, digambarkan sebuah gunung besar di Cirebon telah roboh dan menyebabkan permukaan air di sungai-sungai mendadak naik sehingga menyebabkan korban jiwa, tanpa data jumlah korban yang jelas.

Gunung Merapi yang meletus beberapa kali Oktober-Nopember 2010 ini sudah menghancurkan beberapa desa di sekitar Merapi. Rumah tembok saja hancur, apalagi rumah gedek (bilik, bambu) luluh lantak.

Aku hanya bisa merenungi: Betapa dahsyat Merapi, hingga kampungku luluh lantak bagai padang pasir tak bertepi

Karena ketidaktahuan, orang bisa pula menghancurkan lingggayoni dan artefak batu-batuan lainnya. Siapa tahu di “Argalingga” (arga = gunung; lingga = seacam tugu; pucuk gunung lingga) itu ada lingganya yang entah ada di mana.

Lingga dan yoni dari Rawa Lakbok

Karena tidak tahu dan tidak mengira, bisa saja batu seperti di bawah ini tidak dianggap batu bersejarah, padahal itu patung tanpa kepala.

Patung tanpa kepala, dari Ciamis. Saya kira “lingga.”

Situs dan “Poesaka” Tinggalan Kerajaan Talaga

Juru kunci (kunen) Situ Sangiang ada mengatakan kepada seseorang katanya keraton Talaga itu ada di Situ Sangiang. Jika situ sedang agak kering, bebatuan bekas keraton itu tampak. Ah, yang benar?! Kenapa tidak dicek! Apakah itu “bebatuan buatan”?

1. Patung Budha dari Talaga

Di sini diulang lagi, ada tiga patung peninggalan Kerajaan Talaga, menurut informasi Sandy, dari neneknya di Talaga. Tiga-tiganya, mudah-mudahan benar, sudah tertemukan fotonya oleh saya. Ketiganya adalah “Wajrapani”, lalu “Manjuwajra”, dan “Budha.”

Patung Bodisatwa (Bodhisattva) terbuat dari kuningan dari Kerajaan Talaga

(dalam “Blog” lain–13 September 2011– disebut juga sebagai Prabu Siliwangi)

Manjuwajra dari Talaga (yang suka dikira Batara Guru)Patung Budha  “Manjuwajra” terbuat dari kuningan dari Talaga (Lazim pula disebut sebagai batara Guru)

Patung Budha terbuat dari kuningan tinggal Kerajaan Talaga (“ditemukan” orang Belanda 1863-1864)

[13 September 2011–dalam “blog” lain (Kerncollectie Fotografie, Museum Volkenkunde) disebut pula sebagai Simbar Kencana]

Patung-patung (foto) lain yang ditemukan di internet 13 September 2011 dari Kerncollectie Fotografie, Museum Volkenkunde adalah sebagai berikut.

Ambet Kasih

Ambet Kasih dari Talaga CirebonAmbet Kasih dari Talaga Cirebon

Dalam “Sejarah Cirebon” Ambet Kasih ini merupakan putri Ki Gedheng (Ki Gedhe ing) Sindangkasih, Beber, Cirebon, yang kemudian menikah dengan Prabu Siliwangi. Kenapa patungnya (dan patung Prabu Siliwiangi) ada di Talaga? Ada hubungan apa antara Sindangkasih (Ambet Kasih) dan Talaga, itu yang belum terlacak.

Baju besi (baju perang)?

Baju besi (baju perang) [?] dari Talaga Cirebon

  Raden Panglurah

Raden Panglurah dari Talaga Cirebon

Siwa

Siwa

Susuhunan Talaga Manggung

Susuhunan Talaga ManggungSusuhunan Talaga Manggung

2. Pintu gebyog dan pintu tunggal (dari Kerajaan Talaga?)

Sedikit demi sedikit tinggalan Kerajaan Talaga itu alhamdulillah mulai saya temukan. Di Museum “Batavia” ada (foto?) “pintu gebyog” (pintu besar dan lebar), yang terbuat (tampaknya) dari kayu jati, muncul di internet. Tidak jelas pasti, memang, apakah itu pintu gedung keraton Talaga. Yang pasti, dalam tulisan di foto itu jelas-jelas ditunjukkan itu berasal dari Talaga (“door from Talaga, Cheribon”).

Pintu gebyog kuno dari Talaga

Yang satu ini pintu ruangan biasa, bukan “pintu utama.” [Maaf, salah tulis di dalam gambar; jika diklik]. Juga dari Talaga. Perhatikan tulisan yang ada di atas dan di bawah gambar. Perhatikan pula ornamen hiasan yang ada pada daun pintu ini. Di bagian atas ada lukisan burung (merpati, tanda kedamaian–?). Di tengahnya ada raksasa membawa gada (Dwarapala–penjaga gerbang–?). Di bagian paling bawah ada gambar kepiting (salah satu dari zodiak Talaga, “Calicata”).

UFFF, MAAF, JIKA DITELITI DI BAWAHNYA TERNYATA BUKAN DARI TALAGA, TAPI DARI CAKRA NEGARA, LOMBOK! SALAH AMBIL KARENA MUNCUL DARI DERETAN TINGGALAN TALAGA DI INTERNET. JADI TULISAN DI ATAS HARAP DIANGGAP TIDAK ADA!

Pintu kuno dari Talaga berukir burung merpati, raksasa penjaga gerbang, dan Calicata (Cancer)

Jadi, simpulannya, keraton Talaga itu tampaknya berupa keraton yang jelas-jelas megah pada (untuk) jamannya. Sayang seperti apa bentuknya dan di mana letaknya, masih tanda tanya. Namun demikian, keturunan Talaga perlu cek pintu itu, punya rumah siapa (saat jaman Belanda), ataukah memang turun-temurun disimpan karena itu “poesaka Talaga.”

Nah, para “pengelola Museum Talaga Manggung” (Tumung ‘gung de Talaga–menurut Raffles–jadi “Katumenggungan Talaga”, bukan “Karajaan Talaga”), tampaknya perlu membuat replikanya untuk dipasang sebagai “pintu utama gedung museum.” Termasuk (jika memang tidak punya) tiga patung Budha poesaka Talaga, yaitu: (1) “Bodhisattva” atau “Vajrapani“, (2) “Manjuvajra” (“Batara Guru”), dan (3) Budha yang sudah saya temukan “fotonya” dari internet.

3. Naskah lambang zodiak Talaga

Terlacak pula dari tulisan Raffles dua “lukisan” dari Talaga yang menggambarkan lambang-lambang zodiac dan “pasaran” (tampaknya mengikuti gaya Mataram: Pon, Wage, Kaliwon, Legi, Pahing). Lukisan zodiac  yang menurut mitologi Yunani, dan dibahasalatinkan menjadi Virgo, Pisces, Scorpio, Leo, Aquarius dsb. itu lukisannya beberapa mirip, kendati penamaannya berbeda (mengikuti bahasa Sansekerta alias India).

Lambang-lambang zodiak kuno dari Talaga

Tulisan dari Raffles berbahasa Perancis di bawah lukisan zodiac Talaga itu berbunyi “Fac Simile des Signes du Zodiac tire d’un ancien Manuscrit apt in Tumung’gung de Telaga a Cheribon.” (Lambang-lambang  zodiak yang terdapat dalam naskah kuno dari Tumung ‘gung Talaga [Katumenggungan Talaga–Pen.], Cirebon).

Nama-nama Zodiac tersebut, menurut Raffles sebagai berikut.

The signs of the Zodiac as represented in the ancient MS (Midlle-centuries Sundanese-?–Pen.) at Telaga in Cheribon compared with the Indian are as follows the figures being very correctly drawn and names with the explanation annexed to each [Lambang-lambang perbintangan atau zodiak yang dilukiskan dengan bahasa Sunda Pertengahan dari naskah di Talaga Cirebon itu jika dibandingkan dengan yang ada di India sebagai berikut, dst.]. Tulisan sudah diedit penulis–dengan melacak pula zodiac Yunani dari Wikipedia–menjadi tabel sebagai berikut.

Istilah India (Sanskerta) Istilah Talaga Zodiak Yunani (Latin) Arti
Mesha Misa Aries Biri-biri
Vrisha (Vṛṣabha) M’risa Taurus Banteng
Mithuna M’ri Kogo (kupu-kupu) Gemini Kembar
Carcata Calicata Cancer Kepiting
Sinha Singha Leo Singa
Cunya Canya Virgo Gadis, kania
Tula Tula Libra Neraca
Vrishchica Privata Scorpion Kalajengking
Danus Wanu Sagitarius Jemparing
Macara Macara Capricornus Kambing-laut
Cumbha Cuba Aquarius Tempayan
Mina Mena Pisces Ikan, mina

Sebagai perbandingan, berikut simbul-simbul zodiac Yunani (dari Wikipedia), baik yang masih dalam bahasa Yunani maupoun yang sudah dilatinkan.

4. Naskah kuno lambang hari pasaran model Talaga

Zodiac digambarkan dalam lukisan, itu biasa. Yang tidak lazim (jarang diketahui) ternyata hari-hari pasaran pun ada gambarnya.

Lambang-lambang kuno hari pasaran dari Talaga

Tulisan yang ada di bawah lukisan itu berbunyi “Fac Simile des signes representant les divisions du jour et les Pasar ou jours de marche … Tire d’un Manuscrit, appartenant a Tumung’gung de Telaga a Cheribon.” (Lambang-lambang hari dan pasaran yang terdapat dalam naskah dari Tumung’gung Talaga [Katumenggungan Talaga–Pen.], Cirebon).

Catatan: Kenapa Raffles selalu menuliskan “Tumung’gung de Telaga” dalam naskahnya? Ada kaitan apa dengan sebutan “Talaga Manggung”? Kenapa pula tulisannya “tumung ‘gung” bukan “tumunggung”? Apakah “tumung ‘gung” itu sebenarnya singkatan dari “tumung agung”? Atau sebutan lain dari Tumenggung, atau Demang Agung? Jangan-jangan Sunan Talaga Manggung itu “kebalikan sebutan” dari Sunan Tumenggung Talaga. Dalam salah satu naskah jaman Belanda tertemukan kebingungan menyebut: Prang Wangsa atau Wangsa Prang, sehingga dua-duanya disebut atau dituliskan Prang Wangsa of (atau) Wangsa Prang. Jadi,  berlaku pula untuk nama Tumunggung Talaga atau Talaga Tumunggung (Sebutan Tumunggung atau Tumenggung kemudian berubah–mungkin karena naskah rusak–menjadi terbaca hanya Manggung).

5. Pintu masjid Talaga

Satu lagi “temuan” saya, ini pintu mesjid Talaga abad ke-19 (1863-1864–tampaknya tahun “dimuseumkannya” atau “ditemukannya”). Tidak tahu mesjid di wilayah “Telaga, Madjalengka” yang mana. Hanya itu yang bisa diketahui dari sumbernya, Tropenmuseum.

Pintu mesjid kuno dari Talaga

Pintu ukir masjid di Talaga 1863-1864Pintu mesjid kuno dari Talaga (1863-1864)

Alhamdulillah, betapapun, “bari jeung leukeun mah,” sedikit demi sedikit sejarah Majalengka yang “kosong melompong” itu akan juga terisi, dengan benar, tentu! Mulai dari Talaga dulu, siapa tahu lainnya terkuak.

Baca juga:

[Klik tulisan di baris atas blog ini yang berbunyi “Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik”, lalu klik pilihan tulisan yang muncul dalam “kotak hitam”]:

1. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (1) Talaga, Sindangkasih, Kabupaten Maja

2. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (3) Sumber Sejarah

3. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (4) Nama, Agama, dan Historis Pendirian

4. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (5) Ibu Kota Walangsuji, di Mana?

34 thoughts on “KERAJAAN TALAGA: MELACAK JEJAK BUJANGGA MANIK (8) MELACAK SITUS DAN PENINGGALAN

  1. Sampurasun.
    Pedaran anu kalintang saena.
    Mung aya sakedik catetan ti sim kuring: koleksi nu aya di Tropenmuseum, eta teh mung mangrupa koleksi foto. Foto-foto ieu didamel ku Isidore van Kinsbengen kira taun 1863-1864 (luyu sareng katerangan nu aya dina foto), nu harita jadi fotografer pikeun Batavia Society of Arts and Sciences. Ngeunaan van Kinsbergen tiasa dipaluruh di wikipedia.
    Foto karya Kinsbergen ngeunaan titinggal purbakala di pulo Jawa kungsi diterbitkeun ku Brumund (1868). Foto-foto nu sarua diterbitkeun deui ku KITLV Press taun 2005 anu judulna Isidore van Kinsbergen.
    Tina buku nu 2005 katangen yen titinggal ti Talaga teh aya 11 macem. Arca aya 7 (sanes mung 3), rompi atawa baju perang, lonceng, tempat lampu (lilin), jeung panto masjid. Tiasa dipastikeun 11 titinggal sajarah ieu nepi ka taun 1863 msh aya di Talaga (in situ). Sedengkeun panto jati nu gbrna aya di Museum Raffles Singapura mah teu aya di buku ieu. Samentara foto nu hiji deui nu mangrupa panto nu aya ukiran manuk japati sigana eta mah asalna ti Lombok luyu jeung katerangan nu aya di handapeun foto (ti Tjakra-negara Lombok).
    Ti 7 arca nu aya di Talaga , numutkeun katerangan foto, 5 arca mangrupa arca budha, 1 arca dewa syiwa, jeung 1 arca dewa wisnu.
    Sigana pangna Bujangga Manik datang ka Talaga teh alatan di tempat ieu aya padepokan (kawikuan/kabuyutan) nu miboga ciri agama budha tatapi oge teu leungit warna hindu-na (buktina aya knh arca syiwa jeung wisnu).
    Manawi kitu,
    Baktosna,
    Hendra urangbogor

    • Hatur nuhun pisan tah katerangan anu bari rinci pisan teh. Atuh nambihan pangaweruh sarerea. Numawi teu acan kangtos ka Meusum Talaga, janten teu terang naon wae koleksina teh. Janten patungna teh di Talaga nya, nu di Tropenmuseum mah fotona wae. Dikinten teh aya patungna teras difoto kanggo dipamerkeun (eksibisi) fotona wae.

  2. Abdi nembe inget pak tatang yen di perbatasan Majalengka – Cirebon di daerah Bobos aya Prasasti Huludayeuh. Saurna mah diwangun ku kerajaan Pajajaran di jaman pamarentahan Prabu Surawisesa.
    Hatur Nuhun

  3. Kondisi prasastina tos resak, janten teu tiasa ka baca sadayana, saurnamah di wangun jaman Prabu Surawisesa, nyaritakeun Kahirupan Prabu Sribaduga Maharaja nu berusaha ngamakmurkeun nagrina. Muhun Huludayeuh teh berarti Ibukota, mung masih janten misteri, huludayeuh teh janten ibukota kerajaan naon? apa Pajajaran atau kerajaan lain.

    • Tah……., apan Padabeunghar teh kasebut ku Bujangga Manik, jadi Huludayeuh teh baheulana ibu kota Padabeunghar. Jadi naon syeuna, desa ta kampung (blok)? Padabeunghar teh ngaran “kota” jaman Bujangga Manik, lain karajaan. Tapi bisa oge karajaan (leutik), jiga Talaga (Rajagaluh mah da teu kasebut). Ngan ari ibu kota Talaga mah apan Walangsuji, atai Padabeunghar kitu wae kasebut ngaranna wungkul. Bisa jadi tadina di Huludayeuh, pindah ka Padabeunghar.

  4. Lo, mamang ngiring bungah kuusaha alo nyingraykeun rahasia sasakala pupuhu urang. Miturut saur pun aki (Rd.Pradjawinata) Pasanggrahan Agung Talaga teh ayana di wetaneun alun alun Talaga (persisna ayeuna janten Rumahsakit Talaga), malahan taun lima puluhan fondasi benteng bata sapertos pager Kasepuhan Cirebon masih nyesa, ari tilas batu lingga / yoni rupina upami teu lepat aya di pakarangan bumi Alm.Rd.Emon Sumarna bin Rd.Kulsum di Talagawetan. Salam ti Wargi Talaga di Tangerang-Banten.

    • Muhun eta aya nu nyarios kitu, cenah karaton Talaga teh nya di Talaga. Tangtos kadieunakeun, sanes jaman Prabhu Tumenggung Talaga (Talaga ‘Manggung). Duka ngawitan saha. Upami ningal lacaknya, nalika Raden Wanaperih mah masih di Walangsuji (desa Kagok ayeuna–“kagok” = anu aneh, anu aheng; rupina margi aya nu benten sareng nu sanesna).Tah mangga deuih eta lingga/yoni upami masih aya ka museumkeun, atuh! Alaykum salam kanggo sadaya wargi!

  5. Lo hapunten ari Wanaperih teh sanes nami jalmi tapi nami leuweung nu perenahna didesa Kebonwana/Banjaran.nami mantena Pangeran Ariya Kikis,bin Batara Sokawayan/Sunan Parung rayina Pangeran Ariya Cucuk/Maja.Ari karaton Walangsuji atos dikantunkeun ku Ratu Simbarkancana awit akrama sareng Raden Kusumahlaya/Ajar Kutamanggu anjeuna bumen bumen di Kaputren Buni Asih desa Cimeong.Ari praktisna Istana Raja aya di desa Campaga nalika Sunan Parung naek tahta masebanan aya didayeuh Talaga.kanggo ngahindarkeun serbuan wadiya bala Islam Demak lan Cirebon.
    Ari istilah “Kagok” = hese disabana,sapertos museum Talaga ayeuna disebatna Taneuh Kagok, Desa Kagok ayeuna kapungkurna tilas gudang peralatan perang kanggo olah krida Banjaran tamtomo padepokan Walangsuji sateuacana dijantenkeun Istana Kapatihan anu saterasna jadi Istana Ratu Simbarkancana sarengsena huruhara rajapati ka Raja Talaga anu linggih di.puri Kahiyangan Agung / ayeuna Desa Sangiyang.
    Jadi Walangsuji teh janten Istanana mung kinten kinten salami genep taunan. Linngga/Yoni anu kumamang dicarioskeun wallohu a’lam ayana,margi tos 65 taun anu kalangkung mamang ningali teh.
    Cag heula, diskusina gampil teraskeun kapayun.
    Wasallam.

    • Sumuhun nu mawi disebat Sunan Wanaperih (wana= leuweung, perih–prih, preh/Jawa = sejenis caringin) teh “jujuluk” ku margi “linggihna” di Wanaperih (leuweung caringin), sapertos Sunan Gunung Jati, margi kalinggihanana di Gunung Jati/Muara jati (?). Dupi Parung di mana? Sunan Parung teh rupina oge jujuluk, pan nami aslina Batara Sokawayan. Hatur nuhun tambihan sajarah teh. Tah eta pas Dalem Cucuk teu acan aya raratan. Hatur nuhun deuih atuh. Geuning rakana Ariya Kikis. Dupi istilah “kagok” teh na basa Kawi mah anu aheng (nya sami manawi maksadna, anu kitu wae rad singhur). Upami kebonwana, ditebak aslina “keben wana” leuweung tangkal keben. Tangkal keben teh tatangkalan pager (taman) payun karaton saentosna caringin di Karaton Jogja mah. Dupi Walangsuji (nu seueur tangkal hohonjean nu namina walang sareng tangkal pandan suji), eta mah kantun nyocogkeun taun Simbarkancana sareng taun Bujangga Manik ngalongok ka dinya, da eta bukti sejarah pangdipercantenna, harita teh Bujangga Manik mampir ka “Walangsuji na alas Talaga”. Talaga ge kitu kasebatna karajaan teh, sanes Talaga Manggung nu sok lalepat nyebat.

  6. Lo, ku ditanjeurkeunana eusi Babadamian Ciburang (1555) antawis Sunda Galuh/Talaga sareng Cirebon/Demak, “linggihna” Ariya Kikis di Wanaperih teh dina rarangka ngajalankeun hukuman anu di tibakeun ku Kanjeng Sinuhun Gn.Jati margi anjeuna “ngumandangkeun Perang Sabil ” ka sesa Wadiya Balad Demak anu ngaranjah ka Talaga.Anjeuna dicopot tina kadudukan salaku dipati Talaga teras kedah tatapa (dibuang ?) di leuweung Wanaperih.(1565)padahal anjeuna nembe lima taun jadi narpatina.(Atuh pasti peurihna hate dina nampina hukuman).
    Nyambung kana patarosan alo ngeunaan Parung dimana? Eta leres pisan Pa-Rung teh ngarupikeun sesebatan kanggo hiji tempat di suku gunung Picung palih wetan (tungtung lembur/desa Campaga) nepikeun sisi walungan Cilutung anu disebut Leuwi Kacapi. Disebat parung ku Rd.Ranggamantri (Pa-Linggih) margi nalika anjeuna nyobian ngabudidayakeun huma “Pa” (Ketan Darat?) didinya hasilna Garung (gagal) henteu sapertos huma handapeunana anu disebat Huma Tegal (Tilas Talaga saat kiduleun Talaga dugi ka Cikijing parat ka gunung Bitung anu kiwari disebat “Pasawahan Tegal” ). Saleresna wewengkon ieu teh tempat dikurebkeunana para Luluhur Talaga awit ti Gunung Picung, Gunung Barang dugikeun ka Desa Cikeusal.anu antawisna Kuburan Batara Gunung Picung, Kuburan Pangeran Apun Surawijaya(Sunan Lemah Abang), Kuburan Batara Sokawayana(Sunan Parung), Kuburan Ratu Sunyalarang(Ratu Parung), Kuburan Pangeran Ariya Kusumah Yuda (Sunan Caruy). Kuburan anu sanesna ti awit Pangeran Ariya Surawijaya ayana di Pasir Ciburuy (Talaga Wetan), kacuali Pangeran Ariya Wiranata anu dikurebkeun di Nunuk. Kuburan Batara Sokawayana(Sunan Parung) dialihkeun ka sisi situ Sanghiyang palih kulon (anu disebat Sanghiyang Jarian) dina taun 1922 (Realisasi hasil babadamian para Ulama Talaga anu dipimpin ku Kiyai Terbuka dina taun 1920). Kuburan Ratu Sunyalarang(Ratu Parung) dialihkeun ka Kuburan Keluargi Raden Natakusumah di Cikiray ku alpukahna H.Hasanudin/ R.Acap Kartadilaga/Kuwu Talaga Kulon dina taun 1948(Dina rarangka ngadamel sarsilah Simbarkancana ka II. tapi ide ieu teh teu diluyuan ku Wargi Talaga).

    • Wah hebat tah cairosan teh.Hatur nuhun. Ke disalin ka blog bagian 9. Upami nami-nami daerah, abdi mah langkung seneng nganggo toponomi (asal-usul nganggo tutuwuhan atanapi kaayan alam), sanes nganggo kiratabasa. Teu sawios-wios, pan teu kedah sami padegan teh, sanes?!! Sakali deui hatur nuhun.

  7. Mungkin ini aya kaitana sareng karajaan talaga nyaeta :

    1. Situs Batu Lingga di Blok Sukamanah Desa Banjaran Kecamatan Banjaran. Ayana di tengah-tangah makan nu kasebatna Dalem Pananjung nu aya di pasawahan nu wargi dinya nyebatna Tanjungsari. Lokasi ieu caket Desa Kagok mung ka wates ku leuwi/lembah sungai

    2. Kabuyutan Gunung Ageung Atau Situs Gunung Ageung di Desa Cipasung Lemahsugih, di lereng timur Gunung Cakrabuana. Didieu aya sababaraha Kabuyutan (megalitik) nyaeta
    a. Sanghyang Pamangkatan
    b. Sanghyang Prabu Siliwangi
    c. Sanghyang Ujung Kulon
    d. Sanghyang Peti
    e. Sanghyang Bedil

    Ngobrol sareng kuncena yen di Sanghyang Peti kapungkurna aya Prasasti mung di candak ku Orang kepurbakalaan ti Bandung, duka ayeuna dimana eta prasasti teh. Sadaya patilsan ieu teh nu mang rupa batu tapi lumaya kasusun rapih malah aya nu ngadeg (berdiri) oge seueurna tos parotong. Ieu kalebet situs purbakala BP3 Serang. Foto-fotona aya di blog infomajalengka.wordpress.com. Kumari abdi nu kroscek langsung ka Gunung Ageung sareng Situs Batu Lingga Sukamanah.

    Sami di blog eta oge aya foto-foto lebetna museum talaga manggung, sareng foto patung nu kasebat simbarkenca sareng raden panglurah tea..

    Hatur nuhun…

  8. Naon bae wanda, wangun jeung sajabana sadayana titinggalan pninggalan2 nu geus ‘dijamah’ pnjajah2 pasti seeur nu diaspalkeun(asli tapi palsu) tuluy dihaja ditinggalkeun,loba nu lianna nu aslina dibawa ka nagara maranehna. Kumatak oge bangsa indonesia ngaraba-raba dijieun lolong sajarahna ku maranehna. Panjajah2 mah leuwih uninga sajarah bangsa indonesia atuh da aranjeuna bangsa2 jaradah angkara murka loba ngajarah, maehan rakyat jeung pejuang2 bari ngalolongkeun sajarahna. Ngadumasarkeun sajarah ka cariosan ‘sumber rujukn’ pnjajah matak nambih di lolongkeun. Mun ‘ningali’ galur silsilah ti adam, eta pnjajah2 teh teureuhna qobil jalma dengki jahil telenges maehan habil. Kata2 bijak: ahli2 indonesia hrus mandiri,tliti dsb sndiri,mmbuat sumbr rujukn sndiri kusabab sajarah bangsa sorangan ulah dangukeun bangsa ‘jurig ngalawuri setan mindah rupa deungeun eropa tea jeung ‘bangsa anak emasna’ jeung ‘antek budak2na’ di alam dunya.

  9. mani geuleuh tur pikageuleuheun nempo beungeut ‘raray sae’ pamingpin2 nu ngaleuwih2keun ngahormatan bangsa2 eropa nu istana2 pninggalana maranehna nu di bungah2keun,’di piara di openan’. Istana2 karajaan nu aya sultan2,pangeran2na ngalawan prang ka panjajah2, di hncurkeun, aya deui istana2 karajaan nu ‘leugit’, kabeh rekayasa pnjajah2.

  10. Smntara mraba2 juga itu usaha ‘mnggali’ sejarah. Pakuan pajajaran,mungkin kiasan dr ‘paku’=’pasak’ bumi=gunung, imbuhn ‘an’=tmpat, pakuan=tmpat di gunung. Pa+jajar+an=tmpat2 brja2r, brderet diantara gunung2. Jajaran gunung2 tinggi(diatas 2000 m) : Gg.ciremai(trtinggi)>gn.galunggung>gn.guntur>gn.papandayan>gn.patuha>gn.tangkuban parahu. Contoh2nya mulai dr pantai : prasasti huludayeuh(di daerah kec.mandiran) diantara Cirebon n gn.ciremai,Talaga n pageur ageung adanya diantara gn.ciremai n gn.galunggung, banyuresmi n wanaraja diantara gn.galunggung n gn.guntur, samarang diantara gn.guntur n gn.papandayan, cukul diantara gn.pa2ndayan gn.patuha, batujajar diantara gn.patuha n tangkuban parahu. Tmpat2 itu dkt mata2 air atau danau, pun juga tmpat2 lainya di skitar gunung2 itu. Ja2ran gunung2 itu sambung mnyambung lmbah2 n bukit2nya/rangkaian. Gn.2 tinggi/rndah lainya tdk mmbntuk jajaran atau deretan atau rangkaian. Entah tmpat2 diantara gunung2 itu apakah tmpt2 pninggalan kbuyutan saja atau kawasan istana2 n bangunan2 rakyat jaman dulu,atau tmpat2 apa. N tmpat2 lainy yg tdk dlm jajaran gn.2 mungkin tmpat2 istana2 bkas tarumanagara n salakanagara yg ditmpati yg diluar wilayah ‘pakuan pajajaran’ tapi trmasuk wilayah kkuasaanya juga dahulu sblum dihncurkn n atau ‘hilang’?. Kata ‘pakuan pajajaran’ prtama x ada di prasasti kawali’. Tdk ada prpindahn ‘ibukota’ yg ada mnempati wilayah istana2+pndu2kny msg2 n saling brintraksi, ‘istana2’ sri bima punta narayana madura suradipati. Pihak krajaan2 sudah pasti trprinci mmiliki naskah2 kuno n salinanya(diprbanyak dgn cara ditulis ulang pd masa pndirian krajaan2(blm ada mesin potokopi)) yg lngkap mngenai kbradaanya,nama ‘agama’,bntuk2 bangunan,alat pralatan baju prang,mahkota,kehdupan sosial rakyatnya,dsb. Naskah2 tu trmasuk mngnai ‘talaga’ sbagian blm dtmukan,sbagian ada yg mnyimpan(blm saatny diungkpkn), n sbagian lg dijarah dibawa n dijaga ketat ke dan di negara2 pnjajah n blum ada pmimpin2 yg sangat brani mngambil kmbali smua bntuk pninggalan2 yg ada di negara2 pnjajah slama ratusan tahun !.

  11. banyak brmcm2 bntuk pninggalan asli diramas dibawa pnjajah+pakr2nya slama kurun wkt mereka brcokol di nusantara. Pakr2 pnjajah org2 pilihn,crdas,dr brbagai disiplin ilmu,didanai bsar,’didoktrin’,disumpah setia mngabdi kpd n utk kpntingan pmrintahan,krajaan pnjajah, apakh utk mngungkpkn smua sjujurnya bukti n sjarah bangsa yg dijajah??. Klo pun mereka jujur itu sdikit sj dibalik itu pancingan agar bangsa yg dijajah prcaya sbagian bsar kbohongan mereka. ‘eling lan waspada’ bukn su’udzon. Ilmiah tu susah krn sumbr aslinya mereka curi bawa,namun tdk brarti anak bangsa ini tdk brusaha mandiri ‘kreatifitas’ brpndapat. Slalu ada sj mrujuk apa kata catatan2 pnjajah brarti itulah prcaya his story,his=dia,their story=cerita dia,mereka/pnjajah. Bnyak indikasi mereka mngalih kburkn, mngganti tukrkn, mnghpus tutupi bukti2 sjarah, slh 1 mereka banyak mrubah nama2 asli (pd jaman sblum mereka brcokol di bumi nusantara) tmpat2,gunung2,sungai2,dll dgn nama2 bhs pnjajah,juga dgn nama2 bhs suku ‘sunda’ agar mmutuskn ‘mata rantai’ ktrkaitan bukti n sjarahnya antara tmpat yg satu dgn tmpt2 lain ,dikacaukn agar anak2 bangsa susah merekonstruksi sjarah dgn baik n bnr apa adanya. Jgnlah anak2 bangsa ‘trlalu pintar’ prcaya n tdk mau tahu brmcm2 strategi pnjajah+pakr2nya dlm ‘mngglapkn’ sjarah.

  12. Krn ‘kcrdasan’ pnjajah+pakr2 slh dgn braneka mcm cara ‘glapkn sjarah, salah1 nya yg trjadi yaitu bukn hnya beda2 pndapat namun lbh parah saling mnghina antar agama,suku,ktrunan dll diantara banyak ssama anak bangsa(slh 1 pncapaian target pnjajah yg tdk kapok2 mnjajah n ‘mnjajah’ di smua segi khdupan bangsa nusantara,indonesia. ‘Lihat’ banyak pjuang2 pahlawan ‘diakali’,dicurangi,dsb ditewak oleh pnjajah. ‘trlalu brprasangka baik’ pd apa kata pnjajah bisa ‘tamiang meulit ka beutis’ ,bangsa ini slalu tlah,sedang n akn slalu dirugikn,dsb. Kmandiran utk meniliti,dsb mmbuat rujukn sjarah sndiri(buat para pakr indo), yg bukn pakar, brpndapatlah ‘yg kreatif’ n patut dihrgai,diprtimbangkn n ditindak lanjuti oleh para pakr indonesia. Dgn bgtu mugia tiasa pelan2 bisa ‘mrekonstruksi sjarah bangsa ini dgn baik n bnr’ , masih ada salahnya? itu bagian blajar mluruskn sjarah,ada yg bnr itu adalah our history/sjarah kami bangsa ini=this nation history, bukn apa kata catatan laporan pnjajah=his story.

    • Ah, sajarah talaga mah teu aya nu nyerat urang Barat, aya ge urang barateun ciremay, alias carita lisan , bari sok katambahan ku dongen (rek percaya, pedah tulisan urang pituin?). Ahli sejarah pakai “ilmu”, aya kritik intern dan kritik eksternnya juga (mu ceuk muthalahulhadits, aya bhtsul matan wa bahtsus-sana)

  13. kang di cipeundeuy aya nami tegal cau muhun eta teh putra raja talaga anu lumpat ka cipeundeuy

  14. hapunten bade tomaros, , abdi sababaraha waktu kalangkung tos ngimpen kependak sareng sepuh nganggo acuk hideung pangsi diliglagkeun kancingna, di iket, kumisna bodas panjang,Raray Bersih, anjeuna miarang jiarah ka Raden Simbar Kancana. tapi abdi tcan terang patilasana, mung abdi sok sering ngalalana ka tempat2 karuhun, Ti daerah karuhun Sumedang nembe kenging keterangan poto copian sislsilah Raden Simbar Kancana teh horeng… Pangeran Kerajaan Talaga, nu bade ditaroskeun. na abdi teh kedah kasaha naroskeun di Talaga ? padahal abdi kacida seringna ngalangkung ka talaga. tapi da teu terang, parantos silaturahmi ka Musium Talaga Manggung, tapi da henteu aya mumasihan terang kana silsilah sapertos nu ti Sumedang. kitu wae oge hapunten bilih aya kasauran nu kirang merenah. Wasalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s