HISTORY OR “HIS STORY”: KEPADA SIAPA LALU KITA HARUS PERCAYA?

Tatang M. Amirin; 14 Nopember 2010

Obama berhasil “memukau” sekian banyak warga Indonesia, dan membuat mereka tertawa riang dan bertepuk tangan, jauh lebih banyak dari jumlah orang yang mendemo kehadirannya. “Thank you for the nasi goreng….” Gerrr semua tertawa. “..for the bakso …” Gerrr lagi. “… for the krupuk … for the emping …” Orang tambah ger.

En toch ada juga yang komentar, bahwa kita berhasil ditipumuslihati oleh neolib. Obama itu neolib, katanya.

Susilo Bambang Yudoyono seketika membatalkan kunjungannya ke Belanda, karena ada segelintir orang yang mengajukannya ke pengadilan dengan menghujatnya sebagai penjahat hak asasi manusia. SBY adalah penjahat HAM Indonesia, katanya.

Ada apa saya membuka bicara dengan dua contoh itu?

Ada orang berlogika (bersilogisme): Belanda itu, konon, pernah menjajah Indonesia selama tiga setengah abad. Segala tipu muslihat dibuat Belanda untuk tetap menjajah Indonesia. Pada ketika ada ahli-ahli sejarah Belanda menuliskan sejarah Indonesia, harus diyakini bahwa itu sejarah akal-akalan Belanda, bukan benar-benar sejarah. Itu “his story,” bukan history. Sejarah itu dibuat untuk kepentingan penjajahan, bukan kepentingan ilmiah. Itu katanya. “Nggebyah uyah,” menganggap semua sama. Obama itu neolib dan mewakili kepentingan neolib, karena Amerika Serikat itu neolib.  SBY itu pelanggar HAM, karena ada sebagian orang Indonesia melanggar HAM, jadi semua orang Indonesia pelanggar HAM. Orang Belanda itu semua penjajah, dan buah pikirannya penuh dengan nafsu penjajahan, karena Belanda pernah menjajah Indonesia. Oleh karenanya maka sejarah yang disusun oleh orang-orang Belanda pasti palsu, bukan seperti apa aslinya, sudah dipelintir untuk kepentingan penjajahan.

Lalu, kepada siapa kita akan percaya sejarah Indonesia? Tentu harus kepada orang-orang Indonesia sendiri. Katanya. Siapa?

Baik, sebagai contoh ditemukanlah batu bertulis (batutulis). Batu itu memuat tulisan yang menyatakan bahwa pada masa yang lalu ada seorang raja yang bernama dan seterusnya dan seterusnya, dengan gelar dan seterusnya dan seterusnya, dan pernah membuat ini itu dan seterusnya.

Sejarahkah itu? Kenapa kita harus percaya? Bukankah itu bisa jadi sebuah kebohongan orang yang membuat prasasti yang hanya mengagung-agungkan orang tertentu yang sebenarnya tidak demikian adanya? Coba yang membuatnya orang yang tidak suka padanya, pasti prasastinya akan lain. Raja anu jeleknya bukan anu, ratu anu buruknya seperti anu. Anunya raja dan ratu anu,  anu. Hehehe. Ada lho, “wawacan Sunda” dari punggawa Pajajaran yang menceriterakan kejelakan rajanya yang suka bermewa-mewah, lupa ngurus nagara, maka nagara jadi bubrah, jadi lemah, sehingga gampang sekali “terhabisi oleh orang-orang Selam.”

Ada wawacan atau babad sejarah, sebagai sumbnr sejarah. Tentu dibuat orang setelah “sejarahnya” terjadi. Kita mau jadikan sebagai rujukan. Tapi, percayakah kita bahwa itu benar-benar ceritera sejarah? Untuk ini memang orang harus hati-hati, katanya. Tuh, kan, padahal itu dibuat oleh bangsa sendiri juga.

Pajajaran (Sunda) sejak lama diyakini sejarahwan penduduknya beragama Hindu atau Budha. Ada juga orang tak percaya. Kenapa? Karena, katanya, kehinduan atau kebudhaan di Jawa Tengah dan Timur ada bukti-bukti candi-candinya, di Jawa Barat (Sunda) tidak ada. Tak mungkin mereka beragama Hindu atau Budha tanpa ada bukti-bukti ada tempat mereka melakukan ritual keagamaan, seperti yag ada di Jawa Tengah dan Timur. Yang ada di “Sunda” itu kabuyutan, makam-makam. Jadi, Kerajaan Sunda dahulu tidak beragama Hindu dan Budha, melainkan beragama Sunda “asli,” yang memusatkan kegiatan  ritualnya pada atau di “kabuyutan.”

Tentu, biar kita adil, lah, dengan suka ke kabuyutan tidak harus serta merta kita katakan orang Sunda penyembah roh karuhun. Sama seperti orang Islam ziarah kubur tidak harus serta merta dikatakan bahwa Islam mengajarkan “meminta-minta” ke roh orang yang sudah mati. Sama dengan orang Hindu atau Budha atau Kristen “menyembah patung” (Dewa atau Budha, atau Bunda Maria atau Yesus disalib), tidak boleh serta merta kita katakan mereka penyembah patung, seperti jika orang Islam salat di Mekah menghadap Kabah disebut sedang menyembah bangunan.

Ada juga orang-orang Sunda yang tidak percaya asal-usulnya dari daratan Asia Tengah atau sejenisnya, entah dari mana, dengan nama migrasi. Kenapa? Karena, katanya, sebelumnya sudah ada tinggalan-tinggalan prasejarah yang menyatakan sudah ada orang-orang “Sunda” yang tinggal “di sini.” Orang Kanekes, misalnya, tidak punya ciri-ciri bahasa “Mongol” dan sebagainya. Mereka jelas bukan “migran” dari Mongol dan sekitarnya. Jadi, orang Kanekes itulah contoh orang Sunda asli, dengan agamanya yang asli pula.

Saya jadi susah percaya bahwa di Sunda pernah ada kerajaan apapun di jaman sebelum Islam. Bagaimana mungkin yakin ada kerajaan, toh tidak ada bukti-bukti apapun. Jika di Jawa Tengah dan di Jawa Timur ada peninggalan kerajaan pra-Islam (Trowulan: Majapahit), di Sunda tidak ada sama sekali peninggalan bekas keraton kasundaan.  Coba cari di Kawali atau di Bogor. Adakah bekas-bekas keraton di situ? Tidak ada! (Maaf, mungkin saja saya belum tahu ada situs dan prasastinya). Di Kawali yang ada “astana gede” alias “jaratan” alias pemakaman, bukan keraton. Konon ada juga perkiraan bekas bangunan. Itu keraton? Jangan percaya, jangan-jangan itu sih bekas pemandian alias kolam alias balong. Begitu?

Di Karawang mulai ditemukan bekas-bekas candi Hindu-Budha. Jadi tentu di situ banyak orang menganut Hindu atau Budha. Ah, itu kan di Karawang, bukan di Bogor (pohon bogor bahan untuk membuat karung bagor; pohon aren juga disebut bogor). Orang Sunda asli kan di Pakuan-Pajajaran, bukan di Karawang. Jadi, tetap saja orang Sunda mah bukan penganut Hindu atau Budha. E, alah…….

Lalu, bagaimana pula akan berani mengatakan bahwa ada agama Sunda asli, asli Sunda yang masih bisa turun temurun sampai sekarang dimiliki orang Sunda, Sunda asli, dan benar-benar asli, sampai sekarang, tanpa perubahan apapun?

Konon ada tulisan-tulisan wasiat “karuhun” untuk berpegang pada agama asli. Yakinkah itu benar-benar tulisan alias wasiat karuhun? Karuhunnya siapa? Jangan-jangan buatan orang tertentu saja yang dengan dan bagi kepentingannya sendiri membuat tulisan seperti itu, bukan “wasiat semua karuhun.” Memang orang Sunda punya karuhun yang sama benar keyakinan dan kepercayaannya? Bagaimana pula kita akan yakin bahwa tulisan itu  “history” bukan “his story”? Bahwa itu maunya seluruh karuhun, bukan maunya yang nulis itu saja? Bisakah wasiat satu orang kita sebut wasiat karuhun? Karuhun siapa? Memang saya turunannya? Memang sampeyyan itu turunannya juga?

Lalu, apakah isi wasiat itu pun disepakati oleh semua bahwa sama benar pemahaman satu orang dengan lainnya? Belum tentu, kan?! “Hana huni hana mangke, tan hana huni tan hana mangke” ya ialah, jika ada hari ini, ya ada hari esok dan pula hari kemarin, di manapun di dunia orang tahu. Terusannya? Nah, itu yang masalah. Itu kan kata yang nulis! Siapa setuju dengan yang nulis?!

Siapa pula sebenarnya orang Sunda asli itu? Bagaimana kita akan yakin bahwa itu orang Sunda asli? Setelah beribu berjuta tahun ada banyak orang dan keturunannya di Sunda? Percaya bahwa itu bukan “orang Jawa” yang lari ke Sunda seperti konon orang Panjalu itu pelarian orang-orang Majapahit? Seperti konon orang Kampung Naga itu laskar Mataram yang sembunyi setelah kalah dari Belanda dan tidak berani pulang kampung, tidak seberani Obama “pulang kampung” walau tahu akan ada demonstrasi dan mungkin diintai teroris? “Pulang kampung nih ye……”, kata Obama. Gerrr.

Apakah orang Sumedang itu Sunda asli? Lha, Pangeran Santri (Ki Gedeng Sumedang) itu memangnya orang mana? Padahal orang Sumedang suka ngaku-aku keturunan raja-raja Sumedang. Hehehe. Jangan tersinggung. “Saya suka ngaku-aku” keturunan raja-raja Cirebon, wong ada darah Cirebon, bukan Sunda asli. Kata embah-embah saya garis keturunan keempat belas. Hihihi… Raja-raja Cirebon itu keturunan Cina dan Hadramaut, Arab. Jadi ada garis keturunan pula ke Nabi Muhammad saw. Masyaallah…… Hehehe.

Saya sebenarnya lebih curiga orang Sunda baheula memang tidak punya kecanggihan arsitektur (“undagi,” seni bangunan), sehingga tidak bisa membuat keraton dari bahan batu dan atau bata. Padahal membuat peralatan dari logam, sejak jaman prasejarah bisa. Aneh, kan?! Mereka hanya mampu membuatnya dari kayu dan bambu yang lalu lapuk dimakan usia. Bagaimana akan mampu membuat candi atau pura yang bisa ditinggalkan awet sampai sekian abad kemudian, membuat keraton saja tak bisa. Lalu apakah dengan begitu mereka tidak melakukan upacara ritual keagamaannya, kalau toh benar mereka itu beragama Hindu atau Budha, hanya karena tidak ada candi batu atau pura batu (yang masih tersisa sampai kini)?

Kalau karena tidak ada peninggalan fisik dari karuhun lalu kita berani mengatakan bahwa karuhun tidak pernah beragama ini  itu, dari mana pula kita bisa mengatakan bahwa karuhun itu beragama yang ini, padahal tidak ada tempat peribadatan semacam bangunan pura dan candi juga, apapun namanya. Tidak adil, kan?! Atau, memang “agama yang ini” itu tidak pernah ada bangunan peribadatan kepercayaan keyakinan keagamaannya? Lalu di mana mereka beribadat melakukan acara ritual keagamaan? Apakah agama Hindu atau Budha juga tidak bisa berhal yang sama, yaitu beribadat tanpa  harus berpura atau bercandi? Kalau orang Islam kan biasa salat Idul Fitri dan Idul Adha di lapangan, tidak di masjid. Apalagi kalau cuma solat fardu, sendirian di rumah juga bisa. Lha, lapangan itu situs sejarahnya bagaimana? Bagaimana melacak bekas-bekas dahi yang bersujud?

Saya juga tidak melihat tinggalan mesjid atau musola di Kerajaan Talaga setelah menganut agama Islam. Jangan-jangan ya mampunya hanya membuat tajug dari kayu dan bambu, seperti di “lembur kuring baheula” yang sekarang menjadi tidak ada lagi bekasnya. Tapi yakin, saya dulu pernah solat di situ, dan mandi di kolamnya yang segar, jika habis dari sawah ayah saya di Bojong.  Namanya Tajug Bapa Uja, di Kampung Haurduni (Haurbuni), pinggir jalan raya Maja-Majalengka. Betul-betul terbuat dari bambu (awi) dan anyaman bambu (bilik). Hanya lupa, dan kurang perhatian, apakah belakangan sudah dibuat berdinding batu oleh pewaris berikut, sebab saya tidak tinggal di sekitar situ lagi.

Stop! Saya sudah “temukan” foto koleksi museum yang menunjukkan pintu masjid dari Talaga. Sama sekali tidak ada ukiran kaligrafinya. Tapi tidak tahu pasti apakah itu tinggalan kerajaan Talaga. Apa kita juga harus percaya pada ini? Yang ngomong Belanda, lho! Yakin, dengan bahasa Belanda, kok!

Atau, itulah “kearifan lokal.” Tidak cocok membuat bangunan batu atau bata di Sunda. Banyak gempa dan tanah longsor. Lebih kokoh bangunan dari bambu dan kayu. Atau, itu lebih nyaman dan segar, tidak panas. Atau, bangunan panggung dari kayu dan bambu lebih cocok, lebih aman dari binatang buas. Jadi, habis masa, habis pulalah wajahnya.

Nah, jangan terlampu naif lah dengan “history,” jangan semua dianggap sebagai “his story.” Tidak semua orang Belanda itu jiwanya jiwa penjajah, etika keilmuannya etika penjajah. Ilmuwan kadang kala tetap saja ilmuwan.

Orang Indonesia saja pun tidak semua harus dipercaya. Ternyata “teori wajah Gajah Mada” Mohammad Yamin tidak dipercaya banyak orang. Itu “teori celengan,” bantah orang-orang. Teori orang Kanekes itu orang Sunda asli, itu hipotetis. Memang yang lain bukan Sunda asli? Kepercayaan orang Kanekes itu kepercayaan (agama) Sunda asli, pun hipotetis. Kalau yang di Kanekes agama yang Sunda Asli, agama yang lain yang mengaku Sunda Asli juga apa bohong? Memang semua yang disebut Sunda Asli itu samakah? Jangan-jangan sama juga dengan Hindu, Budha, Islam, Katolik, Kristen, bahkan Kong Hu Cu, hanya beda sebutan saja. Apa lalu semua agama itu sama? Atau yang satu menjiplak yang lain?

Sekali lagi, jangan naif lah! Itulah, kan namanya juga “ilmu,” kata bahasa Arab. Kata urang Sunda mah, “kanyaho.” Iya, “sakanyaho kuring,” setahu saya. Setahumu, mana aku tahu! “Aku juga tahu bahwa aku tidak tahu” kata Socrates. “Ojo sok rumongso biso, ning sing biso rumongso,” jangan suka merasa bisa, tapi bisalah merasa, kata wong Jogja. Paham maksud orang Jogja? Tidak? Ya tanya sama orang Jogja, jangan “sakanyaho aing” wae! “Puguh-puguh jarene wong Jogja,” lha kok jadinya “cekeng”! Apaan, tuh!

Cag!

7 thoughts on “HISTORY OR “HIS STORY”: KEPADA SIAPA LALU KITA HARUS PERCAYA?

  1. nyi rambut kasih gimana nyi rambut kasih ?? Maja e langka gmana maja e langka? Kerajaan n ratu rajanya ilang ko yg di ributin pohon majanya? Itu history apa his story, g ada data sjarahnya, litelaturnya. Jgn krena daerah ttangga kiri kanan kaya dngan sjarah…pngen ikut2n pnya sjarah tp ngaco

    • Tapi Sindang atau Sindangkasih itu pernah jadi daerah besar setara dengan Talaga dan Rajagaluh juga tuh! Sebelum ada kota Majalengka dan Kabupaten Majalengka. Dalam Kabupaten Maja (sebelum berubah jadi Majalengka) Sindangkasih itu salah satu distriknya, di samping distrik Maja sendiri, Talaga, Rajagaluh, dan juga Palimaman. Jadi, mungkin juga ada “kerajaan Sindangkasih” tapi tidak lalu “ilang” berganti kerajaan Majalengka.

  2. di semesta ini semua ada alasanya, triliunan kemungkin, jutaan dimensi, dari yang micro sampai ke macro….jadi, bukan berarti gara gara ada peninggalan bersejarah itu bisa di interprestasikan dalam satu keilmuan saja, harus di lihat dari sisi lain….setelah membaca tulisan di atas,kalo boleh saya berkomentar, itu juga salah satu pemikiran dari satu sisi saja, pemikiran yg berpijak pada nilai nilai rasional, mencoba meng inteprestasikan sejarah suatu suku, dengan keilmuan yang besifat nalar, apalagi harus ada ( benda peninggalan sejarah) huh,,itukan basic berpikir orang orang seperti obama dan aristoteles. mereka yang Meng TUhankan Nalar, padahal menurut saya nalar itu ada batasnya…..dan kenapa kita harus percaya pada obama dan aristoteles, apakah aristoles itu ada? seperti apa orangnya? bahasa apa yng di gunakan? jangan jangan aristoteles itu juga ngak ada…siapa yg bisa membuktikan aristoteles ada? heheehehe. nah ketika keilmuan rasional menjadi basic berpikir kita maka menurut hemat saya apapun yang ada di dunia ini tidak bisa di buktikan kebenarannya….saya mau tanya? apakah muhamad itu ada? isa itu ada? seperti apa kalo ada? apakah eyang sayyied habbib sendang itu juga ada? dan apakah dia memiliki cucu? harus di buktikan dengan cara apa biar orang percaya? jangan naif lah,…semesta itu besar tidak cukup di lihat dari satu keilmuan saja, apalagi nalar….

    • Apa yang Anda komentarkan itu adalah hasil penalaran Anda. Seberapa percaya Anda akan penalaran Anda sendiri? Anda peragu atas penalaran, ragukanlah penalaran Anda semuanya itu dulu!

  3. Pnjajah2 datang tdk hnya mmbawa tntara2nya tapi juga mmbawa brmcm2 ilmuwan2 dalam bidang apa saja yg ada,org2 pilihan,didanai,’dibekali’,didokrin’ n disumpah setia mngabdi kpd krajaan/pmrintah pnjajah.Planggaran atas itu smua bresiko pasti dihukum pnjara atau mati. Gk ada ilmuwan pnjajah yg ju2r,dsb mmbela,dsb brkhianat pd krajaan pnjajah demi kpntingan bangsa yg di jajah n ‘dijajah’ krn mrk tau ‘resiko hukumanya’. Pnjajahan fisik n atau non fisik(pnjajahn ideologi,politik,ekonomi,sosial,budaya,prtahanan,keamanan,dsb trhadap bangsa lain,pa lg trhadap bangsa nusantara indonesia yg kaya sumbr alam,dll.

  4. Pnjajah2 tujuan utamany adalah ttap bisa mngndalikn,mngawasi,dsb bangsa yg dijajah n ‘dijajah’. Tntu saja tdk srta mrta sndirian tapi dibantu oleh ‘org2 yg brmntal budak pngkhianat’ trhadap saudara2 sebangsa setanah air sndiri. Istana2 nusantara ‘yg hilang’,yg dihncurkn n yg dibiarkn utuh krn dianggap ‘jinak’ pd pnjajah. Stlah tu pnjajah mnggantinya n atau mmbangun istana2 mrk yg pninggalan2 istana mrk dgn brmcm2 alasan pmbnaran diri justru dibangga2kn,diprtahnkn n dijadikan istana2nya utk bangsa yg ‘dijajah’. Istana2 pninggalan pnjajah bukn ‘lambang sepele’,itu lambang ‘markas besar’ utk melakukn braneka mcm pnindasan,dsb trhadap bangsa yg dijajah.

  5. Istana2 negara asia tnggara brgaya arsitktur lokal nusantara mskipun prnah dijajah. 1.pninggalan2 nusantara brupa apapun yg dpt dirampas,dibawa n dijaga ketat ke dan di negara pnjajah, dipastikn asli. 2. Pninggalan2 brupa apa ja yg tdk n atau dpt dibawa,diketahui, tapi sngaja ditinggalkn oleh pnjajah, dipastikn sudah dipalsukn(ada yg ditambah,dikurangi,dihpus,diganti). 3. Pninggalan brupa apapun yg tdk n atau dpt dibawa tpi tdk ada campur tangan pnjajah, dipastikn asli. Trmksh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s