METODE PENELITIAN SEKUNDER (ANALISIS DATA SEKUNDER)

Tatang M. Amirin

12 April 2015

PENGERTIAN METODE PENELITIAN (ANALISIS DATA) SEKUNDER

Metode Analisis Data Sekunder (kadang disebut singkat dengan Metode Penelitian Sekunder) merupakan salah satu metode penelitian. Oleh karena namanya yang berbunyi “analisis data sekunder” sering kali disalahpahami sebagai teknik menganalisis data sekunder. Analisis Data Sekunder itu metode penelitian juga. Artinya ada prosedur pengumpulan data dan analisis data. Namun demikian tidak semua definisi tentang Analisis Data Sekunder menunjukkannya sebagai duatu metodem penelitian. Hakim (1982:1; dinukil Johnston, 2014:620), misalnya, merumuskan Analisis Data Sekunder itu sebagai ““any further analysis of an existing dataset which presents interpretations, conclusions or knowledge additional to, or different from, those presented in the first report on the inquiry as a whole and its main results” (analisis lebih lanjut himpunan data yang sudah ada yang memunculkan tafsiran, simpulan atau pengetahuan sebagai tambahan terhadap, atau yang berbeda dari, apa yang telah disajikan dalam keseluruhan dan temuan utama penelitian terdahulu atau semula).

Heaton (2004:16; dinukil Andrews, et.al., 2012:12) merumuskan analisis data sekunder (ASD) itu sebagai “a research strategy which makes use of pre-existing quantitative data or pre-existing qualitative data for the purposes of investigating new questions or verifying previous studies.”  Jadi, analisis data sekunder, menurut Heaton, merupakan suatu strategi penelitian yang memanfaatkan data kuantiatif ataupun kualitatif yang sudah ada untuk menemukan permasalahan baru atau menguji hasil penelitian terdahulu. Sebutan strategi penelitian itu setara dengan sebutan metode penelitian. Johnston (2014:620) menegaskannya dengen menyatakan bahwa “Secondary data analysis remains an under-used research technique in many fields . . . . Given the increasingly availability of previously collected data to researchers, it is important to further define secondary data analysis as a systematic research method.” (Analisis data sekunder itu masih tetap sebagai teknik penelitian yang  jarang digunakandiberbagai bidang . . . . Dengan semakin banyaknya data hasil penelitian yang tersedia untuk dimanfaatkan para peneliti, maka sangat penting untuk kemudian menegaskan analisis data sekunder itu sebagai metode penelitian yang sistematik)

Analisis data sekunder itu dengan demikian dapat dirumuskan sebagai berikut.

Pertama, ASD bukan merupakan metode analisis data, melainkan metode (strategi) penelitian. Oleh karenanya, menurut Andrews dkk (2012), metode analisis data semisal teori grounded (analisis data kualtiatif) dan analisis stastisik (analisis data kuantitatif) dapat dipergunakan oleh metode penelitian analisis data sekunder.

Kedua, ASD mempergunakan atau memanfaatkan data sekunder, yaitu data yang sudah ada. Dalam hal ini peneliti ASD  tidak mengumpukan data sendiri, baik dengan wawancara, penyebaran angket atau daftar isian, melakukan tes, menggunakan skala penilaian atau skala semacam skala likert, ataupun observasi. Data sekunder itu dapat berupa data hasil penelitian, dapt pula berupa data dokumenter administratif kelembagaan.

Ketiga, tujuan ASD, menurut Heaton, bisa berupa menggali dan menemukan permasalahan (pertanyaan) penelitian baru, bisa pula menguji kebenaran hasil penelitian terdahulu.

Tujuan penelitian ASD sebenarnya bisa beragam. Andrews dkk, misalnya, mencatat rumusan tujuan penelitian ASD itu antara lain untuk: (1) menerapkan permasalahan penelitian baru–tegasnya meneliti dengan tujuan penelitian yang baru yang berbeda dari penelitian terdahulu (Heaton, 2004), (2) memanfaatkan data lama untuk memunculkan idea-idea baru (Fielding, 2004), (3) “menguji” hasil penelitian yang sudah dilakukan, baik berujud “verifikasi” (menguji ketidakbenaran dengan bukti yang benar),”refutasi” (menguji kebenaran dengan bukti ketidakbenaran) ataupun “refinemen” (perbaikan), (4) “mengksplor” data dari sudut pandang yang berbeda (Hinds,Vogel & Clarke-Steffen, 1997)–“mengksplor” data dimaksudkan “mengobok-obok” data (dalam arti netral) atau menjelajahi, menyelami, mengayak-menyaring data.

Tujuan-tujuan penelitian ASD di atas lebih banyak terkait dengan data sekunder hasil penelitian. Seperti telah disebutkan, selain data hasil penelitian masih ada data sekunder lain yang dapat disebut sebagai data administratif yang hasilnya lebih banyak berupa laporan administratif. Data administratif tidak selamanya hanya berupa laporan administratif, melainkan bisa pula mengandung “nilai penelitian” walau lebih bersifat administratif, utamanya “penelitian evaluatif administratif.”

Dari pembahasan di atas, maka jika ASD mempergunakan atau memanfaatkan data hasil penelitian terdahulu, maka tujuan ASD berbeda (harus berbeda) dari tujuan penelitian terdahulu. Tegasnya, dengan tujuan lain, peneliti ASD menggunakan data hasil penelitian terdahulu (baik hasil penelitian sendiri ataupun penelitian orang lain) untuk dianalisis guna menjawab fokus penelitian atau permasalahan (pertanyaan) penelitiannya. Ini perlu ditegaskan, karena pada umumnya penelitian ASD yang mempergunakan atau menafaatkan data administratif kelembagaan sudah dapat dipastikan tujuannya berbeda dari maksud atau tujuan data adminitratif dikumpulkan.  Data administratif dikumpulkan lazimnya untuk keperluan administratif, bukan untuk keperluan penelitian.

PENGERTIAN DAN JENIS DATA SEKUNDER

Seperti telah diutarakan di muka, data sekunder itu dimaksudkan data yang sudah ada, tidak dikumpulkan (digali) sendiri oleh peneliti. Jika peneliti melakukan wawancara, atau menyebarkan angket, atau melakukan observasi, atau mengetes, maka data yang dihasilkan (terkumpul) itu disebut data primer, data tangan pertama (tangan peneliti). Data sekunder tidak dikumpulkan sendiri oleh peneliti. Data itu sudah dikumpulkan oleh orang lain, atau sudah didokumentasikan dan atau dipublikasikan oleh orang lain.

Data sekunder itu dapat dibedakan menjadi dua macam. Pertama data hasil penelitian (orang lain), dan kedua, data administratif kelembagaan. Data penelitian merupakan data yang dihasilkan oleh sesuatu penelitian, bisa penelitian orang lain, bisa penelitian sendiri. Data administratif kelembagaan dimaksudkan data yang dikumpulkan oleh sesuatu lembaga, misalnya sekolah atau Dinas Pendidikan, yang berupa data-data administratif semisal daftar calon murid yang mendaftar dan diterima sekolah, data lengkap murid baru, data kelulusan, data nilai hasil ujian, data kepegawaian dan sebagainya.

Data sekunder, seperti juga data primer, bisa bersifat “kuantitatif” (berupa bilangan), misalnya statistik murid, guru dan pegawai, bisa pula “kualitatif” (bukan berupa bilangan), misalnya peraturan, hasil wawancara penelitian, rekaman video, berita surat kabar, artikel majalah, dan sebagainya.

 

PROSEDUR PENELITIAN (ANALISIS DATA) SEKUNDER

Seperti telah disebutkan, data sekunder itu data yang sudah ada (dengan istilah umum disebut berupa “dokumen”). Dengan kata lain peneliti tidak mengumpulkan data itu seperti dalam penelitian primer menggunakan teknik pengumpulan data tertentu (angket, wawancara, observasi, tes dsb). Oleh karena itu maka langkah penelitian analisis data sekunder itu relatif “pendek.” M. Katherine McCaston (2005) menyatakan bawha analisis data sekunder itu mencakup dua proses pokok, yaitu mengumpulkan data dan menganalisisnya. Dalam kaoimat aslinya disebut “collecting and analyzing a vast array of information” (mengumpulkan dan mengalisis sekian banyak informasi). Namun demikian, menurut McCaston, agar tidak menyimpang, yang perlu dilakukan oleh peneliti sebagai langkah awal adalah merumuskan tujuan penelitian dan disain penelitian.

Rumusan tujuan penelitian dimaksudkan McCaston sebagai “a clear understanding of why you are collecting the data and of what kind of data you want to collect, analyze, and better understand” (penegasan mengenai mengapa perlu mengumpulkan data serta penegasan mengenai data macam apa yang ingin dihimpun, dianalisis dan dipahami dengan baik).

Disain (rancangan) penelitian dimaksudkan McCaston sebagai “a step-by-step plan that guides data collection and analysis. In the case of secondary data reviews it might simply be an outline of what you want the final report to look like, a list of the types of data that you need to collect, and a preliminary list of data sources” (langkah demi langkah rencana yang mengarahkan pengumpulan dan analisis data; dalam penelitian analisis data sekunder sederhananya merupakan kerangka kerja garis besar mengenai  hasil akhir seperti apa yang di=ingin dilaporkan, daftar data yang dirasa perlu dikumpulkan, dan daftar sementara sumber data).

Wallace Foundation (Workbook B; Secondary Data Analysis–www.wallacefoundation.org, diunduh Januari 2015) merumuskan langkah-l;angkah penelitian analisis data sekunde itu sebagai berikut.

ANALISIS DATA SEKUNDER--TAHAP-TAHAP

Jadi, dalam penelitian sekunder (analisis data sekunder) langkah penelitiannya sebagai berikut:

1. Menetapkan (mencari-temukan) sumber data/informasi (sekolah, universitas, Dinas Pendidikan, dsb);

2. Mengumpulkan data yang sudah tersedia (dalam “dokumen”);

3. Menormalisasikan data jika diperlukan dan memungkinkan (membuat data dari berbagai sumber sesetara mungkin “menjadi satu bentuk yang sama”);

4. Menganalisis data (misalnya menghitung, mentabulasi, memetakan data-data kuantiatif, atau membandingkan berbagai peraturan dan menelaahnya).

PENDEKATAN PENELITIAN (ANALISIS DATA) SEKUNDER

Melakukan penelitian analisis data sekunder dapat dilakukan dengan dua pendekatan (Sarah Boslaugh, 2007:6-8). Pertama, dimulai dengan pertanyaan penelitian (rumusan masalah) kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan data sekunder yang relevan. Misalnya, dari kalangan latar belakang ekonomi apakah peserta didik yang diterima di sekolah-sekolah favorit di Kota Yogyakarta. Data kemudian dihimpun dicari dari sekolah-sekolah favorit atau dari Dinas Pendidikan untuk selanjutnya dianalisis menggunakan analisis matematik (tidak harus disebut analisis statistik karena pada dasarnya hanya menghitung-menjumlah). Jika ada hasil penelitian yang mengkorelasikan nilai ujian nasional (NUN) saat masuk SMA (NUN SMP) dengan nilai ujian nasional (NUN) SMA-nya, hasil penelitian tersebut dapat “dipertanyakan” lebih lanjut, misalnya “lebih banyak yang prestasi UN SMA-nya naik atau turun berbanding NUN SMP-nya” dan “apakah ada perbedaan keberhasilan belajar murid sekolah favorit dan tidak favorit.” Data NUN yang dikumpulkan peneliti tersebut itu kemudian dianalisis untuk menjawab “pertanyaan penelitian” tadi.

Pendekatan yang kedua, dimulai dengan mengumpulkan data sekunder, lalu menelaahnya untuk mencermati variabel-variabel (aspek-aspek) apa saja yang ada dalam data tersebut untuk kemudian dimunculkan pertanyaan penelitian (rumusan masalahnya) dengan menghubung-hubungkan berbagai aspek (variabel) tersebut. Lebih “ekstrimnya” lagi, peneliti cukup memunculkan pertanyaan (masalah) yang relatif umum, misalnya seperti apa gambaran (potret) murid baru yang diterima di sekolah-sekolah favorit di Kota Yogyakarta. Selanjutnya peneliti mengumpulkan data sekunder (dokumenter) sebanyak-banyaknya dan menganalisis berbagai variabel (aspek) yang ada dalam data tersebut. Jika kemudian muncul “pertanyaan” (kepenasaranan, keingintahuan) lebih lanjut, data yang diperlukan dicari lagi. Dengan pendekatan kedua ini pada dasarnya pertanyaan penelitian pun bisa bersifat sementara (tentantif) dan terus-menerus bisa dikembangkan lebih lanjut yang diikuti dengan mencari data sekunder yang diperlukan. Pendekatan ini “relatif sama” dengan pendekatan penelitian kualitatif grounded, atau penelitian eksploratif, yang “mencari masalah” di lapangan, bukan dimulai dengan pertanyaan penelitian sebelum terjun ke lapangan.

SUMBER DATA SEKUNDER

McCaston (2005; menukil Shell, 1997) menyebutkan sumber data sekunder itu antara lain sebagai tertera dalam skema berikut.

Secondary Data Sources
Government Documents
Official Statistics
Technical Reports
Scholarly Journals
Trade Journals
Review Articles
Reference Books
Research Institutions
Universities
Libraries, Library Search Engines
Computerized Databases
The World Wide Web

PENGUMPULAN DATA

Seperti telah disebutkan, penelitian Analisis Data Sekunder itu bisa dimulai dari pertanyaan penelitian, bisa dimulai dari menelaah data serempak dengan terus-menerus membuat pertanyaan penelitian. Wallace Foundation memberikan tips dalam mengumpulkan data itu agar tidak terjebak dengan fenomena yang menarik tapi tidak relevan agar setiap “jeda” mengumpulkan data mempertanyakan hal-hal berikut.

1. What are my research goals? What questions am I hoping to answer? (Apa sih tujuan penelitian saya? Permasalahan penelitian apa yang ingin saya temukan jawabannya dari lapangan?)
2. Which research questions have I answered with the data I have collected? (Permasalahan penelitian yang mana yang sudah terjawab dengan data yang sudah saya himpun sampai saat ini?)
3. Which research questions are still outstanding? (Permasalahan penelitian yang mana yang masih belum terjawab?)
4. What new questions have been raised by the data I have found? (Permasalahan penelitian apa lagi yang muncul dari data yang sudah saya himpun sampai saat ini?)
5. How will I be using this information once it is collected? Should I look for data in another form or format for my purposes? (Data yang sudah saya himpun ini mau saya apakan?)
6. How accurate is the information I have collected? Can I find an answer to this question from a more credible source? (Seberapa akurat data yang sudah saya hjimpun ini? Dapatkah saya menemukan jawaban terhadap permasalahan penelitian saya dari sumber data yang lebih bisa dipercaya?)
7. How up-to-date is the information I have collected? Can I find more current information from another source? (Seberapa “up-to-date” data yang sudah saya himpun ini? Dapatkah saya peroleh data yang lebih mutaakhir dari sumber data lain?)

 

Sumber:

Andrews, Lorraine, et.al. (2012). Classic Grounded Theory to Analyze Secondary Data: Reality and Reflections. The Grounded Theory Review. Volume 11, Issue 1.

Boslaugh, Sarah. (2007). Secondary Data  Sources for Health: A Practical Guide. Cambridge:  Cambridge University Press. [Excerpt published online: “I An Introduction to Secondary Data Analysis”]

Johnston, Melissa P. (2014). Secondary Data Analysis: A Method that which a Time Has Come. Quantitative and Qualitative Methods in Library (QQML) 3.

McCaston, M. Katherine. (2005). Tips for Collecting, Reviewing, and Analyzing Secondary Data. www.pqdl.care.org. Diunduh September 2014.

Wallace Foundation. Workbook B: Conductiong Secondary Research. [Other information restricted]. Retrieved June, 2014 online from http://www.wallacefoundation.org/

Advertisements

EXPLORATORY (EXPLORATIVE) RESEARCH

Tatang M. Amirin; 24 Desember 2009

Ihwal penelitian eksploratori (eksploratif) banyak yang masih bingung. Lebih-lebih karena pendefinisiannya bisa beragam. Untuk itu berikut dinukilkan salah satu penjelasan mengenainya, tetapi dalam bahasa aslinya.

Exploratory Research

(WEB NOTES; MTK 450)

The Purpose of Exploratory Research: Good Research Questions

Years ago, before the advent of CAT scanners and other noninvasive medical diagnostic procedures, doctors who were stumped about a patient’s symptoms might recommend “exploratory surgery.” With little to go on but vague descriptions of symptoms, physicians would “open up” a patient to look around and see what needed fixing.

In market research, exploratory research plays a similar role. Marketers have no machines to peer inside a decision problem, so they may use certain research techniques to “open up” the problem and look around. Researchers use these techniques, which they refer to collectively as exploratory research, with a single broad purpose: clarify the research questions that guide the entire research project.

Importantly, the entire notion of “exploratory” research suggests that it precedes a larger, more formal research project. This is usually the case. The techniques we classify as “exploratory” generally provide information and insight to researchers as they prepare for larger research efforts such as surveys and experiments. Continue reading

PENELITIAN KUALITATIF penggalian-hipotesis versus penelitian kuantitatif pengujian-hipotesis (Kasus “fatherhood”)

Tatang M. Amirin; Edisi 4 Juli 2009; 11 Agustus 2009

Penelitian kuantitatif; penelitian kualitatif; uji-hipotesis; gali hipotesis; metode “grounded theory”

Tulisan ini aslinya berjudul “Introducing Qualitative Hypothesis-Generating Research” (memperkenalkan Penelitian Kualitatif Penggalian-Hipotesis) yang diinternetkan oleh The Yeshiva University Fatherhood Project (kita singkat YUFaP)–didownload Mei 2009; sumber lupa dinukilkan; dalam teks tidak ada. Mau baca lebih lanjut, klik di sini

LANGKAH-LANGKAH penelitian, masalah, permasalahan, dan jenis penelitian

Tatang M. Amirin; Edisi 18 Juni 2009; 22 Juni 2009

Mau ngutip? Tulis: Amirin, Tatang M. (2009). “Langkah-langkah penelitian, masalah, permasalahan, dan jenis penelitian.” tatangmanguny.wordpress.com

Masalah penelitian (“the felt need”); masalah yang problematik; permasalahan penelitian (“the problem”); “langkah penelitian”: menemukan (identifikasi) masalah, merumuskan permasalahan, [penulisan judul], merumuskan tujuan penelitian, menelaah literatur, mengumpulkan dan menganalisis data (metode/prosedur penelitian: penetapan/penegasan objek penelitian, penetapan/pemilihan sumber data, penetapan/penerapan teknik mengumpulkan data, penetapan/penerapan teknik analisis data); konsistensi identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah

Ketika seseorang akan melakukan penelitian, permasalahan pertama-tama yang dihadapi adalah mengenai masalah apa yang akan diteliti. Lebih sulit lagi jika dituntut agar yang dijadikan masalah penelitiannya adalah masalah yang bermasalah. Bingung ya dengan kata-kata bersayap (banyak menggunakan kata masalah) ini. Kita ubah: yang dituntut adalah masalah yang problematik. Masih bingung. Kita ubah lagi: masalah (sebenarnya objek penelitian) yang “menggigit.” Apa itu? Mau baca lebih lanjut klik di sini

FAKTA, data, data kuantitatif, data kualitatif, dan variabel penelitian

Tatang M. Amirin

Edisi 3 Juni 2009; 5 Juni 2009; 22 Juni 2009; 28 Juni 2009

Mau ngutip? Tulis: Amirin, Tatang M. (2009). “Fakta, data, data kuantitatif, data kualitatif, dan variabel penelitian.” tatangmanguny.wordpress.com

  • Pak Tasa seorang petani desa. Ia punya tiga orang anak, dua laki-laki (sulung dan bungsu) dan satu perempuan (tengah-tengah). Dua orang anaknya berasal dari perkawinannya dengan isteri pertamanya yang sudah meninggal dunia tertimpa musibah gempa. Ketika itu gempa sungguh-sungguh amat dahsyat. Rumahnya dan rumah-rumah tetangga di sekitarnya hancur rata dengan tanah, tidak ada lagi bagian bangunan rumah yang masih tegak berdiri. Kini Pak Tasa sedang mulai lagi membangun kehidupan keluarganya, bersama istri barunya, seorang janda tanpa anak yang ditinggal suaminya, seorang pedagang keliling, yang meninggal dunia terseret banjir bandang ketika keliling menjajakan dagangannya. Pak Tasa termasuk orang yang pantang menyerah. Semangatnya tak pernah habis untuk mensejahterakan keluarganya. Mensejahterakan keluarga itu amanah, katanya, dan berusaha untuk itu merupakan ibadah, lanjutnya. Niat ibadah itu pulalah yang membuatnya tak segan-segan, “sepi ing pamrih, rame ing gawe, lil-Lahi Ta’alamembantu tetangga-tetangganya membangun rumah mereka kembali yang ambruk, seperti rumahnya.

Pinguin ngeborApa yang dideskripsikan di atas merupakan fakta, suatu kenyataan keadaan (Tentu saja fiktif, sih). Ada fakta seorang petani desa yang bernama Pak Tasa. Ada fakta Pak Tasa punya tiga orang anak, dua berjenis kelamin laki-laki, dan satu perempuan. Ada pula fakta bahwa ia punya isteri pertama dan isteri kedua, tapi bukan beristeri dua. Ada pula fakta bahwa pernah terjadi gempa teramat dahsyat, dan Pak Tasa sekeluarga beserta tetangganya menjadi korbannya. Karena gempa rumahnya hancur dan isterinya meninggal. Mau baca lebih lanjut klik di sini

VARIABEL dan objek penelitian

Tatang M. Amirin

Edisi 31 Mei 2009

Dalam beberapa literatur metodologi penelitian sesuatu yang akan (sedang) diteliti kerap kali disebut sebagai variabel penelitian. Dengan kata lain, variabel penelitian dianggap sama dengan objek penelitian. Benarkah? Tentu tidak. Variabel penelitian merupakan objek penelitian, benar; tetapi objek penelitian tidak sama dengan variabel penelitian. Apa sebenarnya yang disebut variabel (dalam) penelitian itu?

Jika seseorang peneliti akan meneliti “hubungan motivasi kerja dengan prestasi kerja”, misalnya, yang menjadi objek penelitiannya adalah hubungan motivasi kerja dengan prestasi kerja, bukan motivasi kerja atau prestasi kerja. Motivasi kerja dan prestasi kerja merupakan variabel yang ada dalam penelitian tersebut. Jadi, dalam penelitian tersebut ada dua variabel, yaitu motivasi kerja dan prestasi kerja. Kenapa disebut variabel? Mau baca lebih lanjut klik di sini

KONSEP, konstruk, definisi operasional, dan definisi konseptual dalam penelitian

Tatang M. Amirin; Edisi 30 Mei 2009; 6 Juli 2009; 13 September 2009; 4 Juni 2010

[Amirin, Tatang M. 2010. “Konsep, konstruk, definisi operasional, dan definisi konseptual dalam penelitian.” tatangmanguny.wordpress.com.]

Katakanlah Anda akan meneliti tentang profesionalisme guru. Pertama-tama yang harus terpikirkan oleh Anda adalah apa yang dimaksudkan dengan profesionalisme itu, sebab bisa jadi yang Anda maui (pahami) dengan menyebut istilah itu, tidak sama dengan yang dipahami orang lain. Perbedaan itu akan membuat kesulitan komunikasi dalam penelitian, termasuk mengkomunikasikan hasil penelitian Anda, nantinya. Beda pemahaman tentang sesuatu, akan menyebabkan salah pengertian (bahasa kerennya misunderstanding) dan gagal komunikasi, seperti dalam anekdot sangat populer berikut.

***

“Budak Sunda” ketemu “Bocah Jowo.” Kebetulan bersaudara sih, anak kakak-adik, tetapi yang satu tinggal di Jogja, yang lainnya tinggal di Majalengka, sebelah barat Gunung Ciremay, bukan Cicalengka, Bandung,  gitu. [Maja lengka itu artinya maja pahit; lengka (leng dalam lengkap) bahasa Jawa kuno, halusnya lengkit. Kerajaan Majapahit dalam babad suka disebut juga Majalengka].

“Bocah Jogma” (wong Jogja asli Majalengka) itu mudik, ceriteranya, dan ketemulah mereka di Majalengka, di desanya yang di gunung sih, bukan di Majalengka yang dataran rendah. Eh, lupa, Cah Jogja itu “teu bisaeun” (gak bisa) basa Sunda. Bahasa Indonesia saja gak lancar, wong sehari-hari pakai boso Jowo, je, tur masih SD kelas I. Kerabatnya, barudak Sunda, gak juga padabisa bahasa Indonesia, masih SD dan TK, apalagi boso Jowo. Blas.
Bocah Jogja tuh rada gede dibanding “barudak” Majalengka. Cah Jogja pingin menikmati suasana desa, jadi ngajak duduluran Sundanya jalan-jalan ke sawah, ke sawah Embah (Aki) mereka. Di Jogja gak punya sawah, sih. Mereka berjalan melewati pematang dan parit-parit, selokan irigasi.

Saat melewati selokan itu ada sesuatu yang berkecipak masuk ke dalam lubang yang rimbun terhalangi rerumputan. Cah Jogja melihat ada ikan, ikan lele, masuk ke lubang itu.

Lele, lele! Kae lho ono lele mlebu leng,” kata si Bocah Jogja, sambil menunjuk-tunjuk ke arah lubang tempat ikan lele masuk. Continue reading