SIGNIFIKANSI HASIL PENELITIAN

Tatang M. Amirin, 20 Maret 2010; 10 Mei 2010; 4 Januari 2011

Ada yang bertanya, apakah jika penelitian dilakukan terhadap populasi (seluruh “anggota populasi” diteliti, bukan studi sampling, penelitian terhadap sebagian anggota populasi) harus ada uji signifikansi? Pertanyaan itu muncul karena umumnya dalam buku-buku statistika dan metodologi penelitian uji signifikansi itu berkaitan dengan generalisasi (pemberlakukan secara umum) hasil penelitian dari sampel ke populasinya. Dalam kalimat lain disebut dari “statistik” (hasil penelitian terhadap sampel) ke “paramater” (keadaan populasinya).

STOP! Harus diulang dulu apa itu populasi dan sampel. Jika yang akan diteliti 100 orang murid, maka keseluruhan 100 orang murid itu disebut populasi. Tiap-tiap murid merupakan subjek penelitian dan disebut pula sebagai anggota populasi. Jadi, populasi murid itu beranggotakan 100 orang.  Jika keseratus orang itu semuanya diteliti (jika diangketi, ya semuanya dikirimi angket), maka disebutlah penelitiannya sebagai studi populasi. Jika yang akan diteliti (diangketi) hanya sebagian saja dari 100 orang itu, maka yang diteliti atau disebari angket itu disebut sampel. Penelitiannya disebut studi sampling.

Hasil penelitian terhadap sampel (misalnya dari 100 orang siswa yang diteliti 25 orang saja sebagai sampel) disebut sebagai “statistik.” Keadaan sebenarnya populasinya disebut sebagai “paramater.” “Statistik” (“data” dari sampel) itu kemudian digeneralisasikan (diberlaku-umumkan) kepada populasinya. Jadi, jika misalnya data dari 25 orang murid menunjukkan semuanya rajin, maka semua murid (100 orang itu) dianggap rajin semua. Ingat ceritera mencicipi sayur sepanci. Sayur sepanci itu dicicipi sesendok makan tak penuh. Sayur sesendok makan itu ternyata kurang asin. Lalu, disimpulkan bahwa seluruh sayur sepanci itu kurang asin. Itu namanya generalisasi. Sampel (25 orang murid, sayur sesendok makan) diteliti, datanya (“statistik”) dari sampel (cicipan) tadi dipakai untuk “menaksir” keadaan (parameter) populasinya. Contohnya: ditaksir 100 murid rajin semua, ditaksir sayur sepanci kurang asin semua. Continue reading

ANALISIS DATA: Kuantitatif ataukah Kualitatif?

Tatang M. Amirin; 8 Maret 2010

Tulisan ini sebenarnya sekedar mengulang secara khusus apa yang sudah dipaparkan dalam tulisan lain. Kenapa? Karena masih tidak sedikit yang bingung manakala sudah akan memikirkan analisis data, menggunakan teknik-teknik analisis kuantitatif, ataukah kualitatif.

Kita ulang dulu sebentar. Data-data yang akan dianalisis jika berupa data bilangan atau yang dijadikan bilangan, maka analisisnya disebut analisis kuantitatif (quantity itu artinya banyaknya atau jumlahnya). Ingat, bilangan tidak sama dengan angka, walaupun bilangan itu angka. Tidak semua angka merupakan bilangan (nomor HP itu angka, tapi bukan bilangan, tak bisa dibilang atau dihitung). Bilangan itu angka-angka yang bisa dibilang (dihitung, dijumlah, dikalikan, dibagi dsb). Angka-angkayang berupa bilangan itu diperoleh dari hasil menghitung dan atau mengukur.

Menghitung, misalnya banyaknya karyawan yang harus disupervisi, banyaknya guru yang diikutsertakan dalam kegiatan pelatihan, dan banyaknya uang yang diperoleh dari pekerjaan.

Mengukur, misalnya tinggi badan, berat badan, luas tanah yang dimiliki, kekuatan tangan mengangkat barang (dalam hitungan kilogram, bukan banyaknya barang yang bisa diangkat), dan juga “penguasaan materi pelajaran” (juga motivasi, minat, intensitas belajar, kedisiplinan kerja).

Yang suka membingungkan adalah contoh di bawah ini. Mau baca lanjut, klik di sini!

UNIT analisis (unit of analysis) dan unit amatan (unit of observation) dalam penelitian

Tatang M. Amirin

Edisi 27 Mei 2009; 28 Mei 2009

Istilah (konsep) unit analisis (unit of analysis), yang kemudian biasa diperjelas dengan memperlihatkan kesamaan dan perbedaannya dengan unit amatan (unit of observation) jarang muncul dalam pembahasan penelitian, padahal, khususnya mengenai unit analisis, merupakan sosok (hal, entitas) amat penting ketika melakukan analisis data penelitian.

Sebelum membicarakannya lebih lanjut, perlu dipertegas dan diperjelas terlebih dahulu apa makna “unit” dalam kedua istilah (sebutan) tersebut (unit analisis dan unit amatan). Mau baca lebih lanjut klik di sini