ILMU PENDIDIKAN 6: FAKTOR-FAKTOR PENDIDIKAN VERSUS KOMPONEN SISTEM PENDIDIKAN

Tatang M. Amirin; 4 Mei 2011

Komponen: faktor dan unsur  sistem

Dalam teori sistem sistem itu dikenal sebagai suatu kesatuan kebulatan keseluruhan yang terdiri atas berbagai komponen yang satu sama lain saling berhubungan secara fungsional (Tatang M. Amirin, Pokok-pokok Teori Sistem).

Komponen suatu sistem itu dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu faktor dan unsur. Faktor adalah komponen sistem yang menentukan keberadaaan (eksistensi) sistem tersebut. Manusia, misal, secara sederhana, dikatakan sebagai manusia jika ada faktor jiwa dan raga. “Manusia” yang tinggal raganya saja, tanpa jiwa (roh) tidak lagi disebut manusia, melainkan mayat. Roh manusia, tanpa jasad, bukan lagi manusia, melainkan (jika sudah mati) hantu (bagi yang percaya akan adanya hantu).

Unsur merupakan komponen sistem yang keberadaannya tidak menentukan keberadaan sistem itu. Pakaian manusia bukan faktor manusia, sebab tanpa pakaian pun manusia tetap manusia. Akan tetapi unsur pakaian itu penting bagi manusia, baik untuk keindahan dan penutup aurat, maupun untuk melindungi dari cuaca. Tangan, bagian dari jasad, juga hanya unsur jasad, bukan faktor jasad. Manusia yang tanpa tangan (tanpa daksa, tuna daksa, alias tidak lengkap anggota tubuhnya) masih tetap disebut manusia.

Faktor Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu sistem. Sebagai suatu sistem pendidikan pun mempunyai berbagai komponen, di antaranya ada yang termasuk faktor dan ada yang tergolong unsur. Sejak lama (1960-an) dalam berbagai literatur ilmu pendidikan (Sutari Imam Barnadib, Ilmu Pendidikan Sistematis, misalnya) di Indonesia dikenal ada sebutan lima faktor pendidikan yang bersumber dari Langeveld, seorang ahli ilmu pendidikan Belanda.

Langeveld menyebut faktor pendidikan itu ada empat, yaitu: (1) tujuan pendidikan, (2) pendidik, (3) anak didik–dalam konteks pendidikan itu merupakan pendidikan bagi anak-anak (pedagogi; konsep lama), dan (4) alat pendidikan. Abdullah Sigit (Noeng Muhadjir, Teori Pendidikan), menambahkan satu faktor lagi ke dalam faktor-faktor pendidikan itu, yaitu “milieu” (lingkungan). Dengan demikian faktor-faktor pendidikan itu jadinya dikenal sampai sekarang sebagai terdiri atas: (1) tujuan pendidikan, (2) pendidik, (3) pedidik atau peserta didik, (4) alat pendidikan, dan (5) milieu atau lingkungan.

Konsep faktor-faktor pendidikan Langeveld-Sigit ini, dikemukakan pula oleh Frick (dalam SIGG 1996; walau mungkin Langeveld-Sigit dan Frick tidak salingkenal, )–seperti telah dipaparkan dalam uraian nomor lain, sebagai berikut.

Frick menyebutkan ada empat faktor (komponen sistem; subsystems) dari sistem pendidikan, yaitu: (1) teacher, (2) student, (3) content, dan (4) context. Dua faktor pertama sama dengan yang disebut Langeveld-Sigit, yaitu pendidik dan pedidik. Faktor yang lain disebtu Frick dengan “content” (materi didikan, kurikulum) yang oleh Langeveld-Sigit disebut dengan alat pendidikan. Faktor lainnya adalah “context” yang sama dengan “milieu” menurut Abdullah Sigit.

Satu faktor yang tidak disebutkan oleh Frick adalah tujuan pendidikan. Ini mungkin dianggap Frick bukan sebagai suatu “sistem” atau subsistem dari sistem pendidikan, tegasnya tidak setara sebangun dengan faktor (subsistem) lainnya, bukan karena tidak ada.

Cag (nanti dilanjutkan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s