ILMU PENDIDIKAN 5: PENDIDIKAN DAN FILOSOFI ANDONG

Tatang M. Amirin; 20 April 2011; 26 April 2011; 1 Mei 2011

Lembaga pendidikan berhakekat andong

Andong itu dokar (delman,  kahar, dokar) khas Jogja. Ada andong (kereta kuda) dan kudanya, ada sais sang “sopir”, dan tentu akan ada penumpangnya. Andong itu ada andong bebas jalur, ke mana saja bisa, dan ada pula andong berjalur (trayek), misalnya dari Pasar Beringharjo Jogjakarta ke Kota Gede pergi pulang (p.p.). Andong bebas trayek bergerak ke mana-mana sesuai dengan permintaan penumpang, sementara andong trayek ya bergerak sesuai dengan trayeknya.

Andong itu dapatlah dijadikan simbul analogi pendidikan, alias pendidikan dapat difilosofiskan dari andong.  Andong itu ibarat “lembaga pendidikan,” terutama unsur khasnya yang berupa kurikulum (baca: segala macam materi dan kegiatan pendidikan, yaitu apa yang diajarkan guru dan yang dipelajari murid). Kusir andong itu ibarat guru atau pendidik (dan tentu staf lembaga pendidikan lainnya). Penumpang andong itu sama dengan murid (pelajar, pedidik).

Guru dan staf sekolah lainnya (terutama kepala sekolah) mestinya melakukan tugas kegiatan seperti kusir andong. Ke mana andong akan (harus) bergerak itu menyesuaikan diri dengan permintaan penumpang. Kuda dan andongnya dikendalikan oleh kusir, tidak akan bergerak sendiri. Dalam kendali kusir itulah kuda membawa andong bergerak, yaitu ke arah tujuan penumpang. Begitulah guru dan kurikulum. Guru mengarahkan (mengembangkan dan mengoperasionalkan) kurikulum sesuai dengan “permintaan” (kebutuhan, needs) murid. Tidak ada kusir andong yang membawa penumpangnya menurut kemauan dan kehendak dirinya sendiri.  Jika menurut selera kusir, maka akan terjadi kebutuhan (needs) penumpang (murid) “ke utara,” sementara kusir andong (guru) “ke selatan,” atau paling tidak “ke barat” atau “ke timur.”

Tentu ini akan berbeda dengan andong trayek. Penumpang sudah sejak awal memilih andong itu karena trayeknya sesuai dengan tujuannya. Kalau ia tidak sampai ke tujuan yang dikehendaki, itu artinya ia salah naik andong. Andong trayek ini adalah  sekolah-sekolah kejuruan. Sekolah ini sudah punya “trayek” sendiri. Ada yang ke pertukangan, permesinan, niaga, perkantoran, kerumahtanggaan, pertanian, perkebunan, musik dan sebagainya.

Namun demikian, dalam hal menjalankan andong itu, tetap juga kusir andong harus mempunyai gaya dan langgam mengikuti “selera” penumpang dan “jalan yang dilalui.” Ada penumpang yang terburu-buru ingin sampai karena ada keperluan. Ada penumpang yang inginnya santai saja, sebab kalau cepat-cepat tidak enak di perutnya. Ada pula yang “mungkin” harus mampir dulu “istirahat” karena perlu buang air atau buang hajat. Itu “selera” penumpang andong. Ada bermacam-macam juga. Dan ini berlaku pula bagi “andong non-proyek.”

Semua andong harus pula memperhatikan jalan yang dilalui. Ada kalanya haru membelok menghindari bebatuan atau lubang. Ada kalanya harus pelan karena jalan yang dilalui tidak mulus. Ada kalanya harus membelok dari jalur utama karena ada gangguan. Itu namanya ‘kontekstual,” sesuai dengan keadaan. Itu “context” dalam skema sistem pendidikan yang penulis nukilkan pada uraian yang lain [komponen utama sistem pendidikan mikro adalah teacher (pendidik) – student (pedidik) – content (materi ajar) – context (lingkungan atau milieu)].

Tujuan penumpang andong versus  tujuan peserta didik

Bayangkan diri kita sebagai pelancong (turis, wisatawan). Ke mana kita akan melancong? Yang suka belanja tentu akan senang jika keluar masuk mall atau pasar tradisional dan pusat-pusat penjualan (atau produksi) suvenir. Yang senang dengan keindahan alam tentu akan lebih senang memilih perbukitan, pegunungan dan air terjun serta danau-danaunya. Yang senang dengan pantai tentu akan memilih wisata pantai atau wisata bahari (menyelam, selancar, memancing di laut lepas dsb). Orang yang “jago makan,” tentu lain lagi, ia lebih suka jika melakukan wisata kuliner.

Itulah anak-anak manusia yang disebut pelajar. Pada dirinya ada kebutuhan (“needs”) yang merupakan dorongan alamiah untuk meminati objek-objek tertentu. Ada pelajar yang punya bakat besar hitung-menghitung (numerik). Tentu ia akan suka jika mendapatkan pelajaran hitung-menghitung, dan bisa kurang suka dengan membuat puisi atau melukis. Ada pelajar yang naluriah terdorong oleh bakat kodratinya suka berolah raga. Tentu ia akan sangat senang jika belajar olah raga. Ada juga yang justru senang bercas-ces-cos menggunakan bahasa yang mendakik-dakik. Tentu ia akan lebih senang jika diberi pelajaran kebahasaan. Orang-orang sekarang menyebut bawaan dasar yang memunculkan minat kesukaan itu dengan “multiple intelligence” atau “multiple talentas”. Setiap orang mempunyai beragam “bawaan” (talentas) dengan kadar tinggi rendahnya antar orang bisa berbeda, seperti dicontohkan di atas, yaitu ada yang “berbakat” (mempunyai inteligensi atau talenta atau “smart”  kemusikan, hitung-menghitung, olah raga dsb.) Itulah tujuan hakiki “naik andong” bagi para pelajar itu. Ia meminta “kusir andong” membawanya ke tempat yang “di situ” minat kehendak kebutuhannya (bakat kodratinya) bisa “ditemukan” (optimal terkembangkan).

Ada perbedaan “permintaan” penumpang andong dengan peserta didik. Penumpang andong dapat (dan biasanya) menuturkan permintaannya itu kepada sang kusir. Pelajar, lazimnya, tidak  menyatakan “permintaan” itu kepada guru. Guru yang harus “cerdik” (intelligent) menemukan “permintaan” muridnya, yaitu kebutuhan kodrati murid yang berupa bakat dan minatnya.

Filsafat andong itu pada hakekatnya sama dengan falsafah “subjek didik” ataupun “pesrta didik” dan juga “pembelajaran” yang nuansanya “student oriented,” kegiatan belajar mengajar yang mengarah, menyesuaikan diri dengan kebutuhan murid. Atau juga yang “student centered,” yang kegiatan-keiatan atau proses belajar-mengajarnya berpusat, terutama berada, “di tangan murid.” Aktivitas belajar (termasuk perencanaan belajar) ada pada murid, bukan pada guru. Bukan guru yang dominan “menggurui” murid.

Murid itu “subjek didik,” bukan “objek didik,” menjadi  orang yang tidak pasif menerima begitu saja apa-apa yang diajarkan guru, melainkan melakukan kegiatan belajarnya sendiri juga.  Murid mengolah pelajaran itu dengan “pola olah”-nya sendiri. Bisa jadi, apa yang dikatakan A oleh guru, terolah oleh murid sehingga akhirnya menjadi “tertangkap” sebagai V, sesuatu yang jauh menyimpang, atau H, sedikit berubah bentuk, tidak sepenuhnya A. Murid punya “bahan apersepsi” di dalam dirinya sebelum mengikuti sesuatu pelajaran. Bahan apersepsi itu (diperluas maknanya) adalah segala sesuatu yang telah menjadi “pengetahuan” diri murid (baik dari hasil belajar, ataupun dari pengalaman keseharian).

Murid itu “peserta didik,” orang yang terlibat aktif, berperan (mengambil peran tertentu yang bersifat aktif) dalam seluruh proses belajar mengajar (PBM). Murid menjadi partisipan (yang berpartisipasi), yang “taking part” (melakukan peran tertentu) dalam kegiatan belajar-mengajar, bukan sekedar orang yang “terlibat” (involve) dalam PBM itu. Terlibat (involvement) itu hanya pasif, partisipasi (participation) itu aktif. Dalam “shooting” sinetron, TB, Bapak TB, dan Bang Ali melakukan peran tertentu sesuai skenario. Juru kamera terlibat dalam shooting itu, tapi ia tidak melakukan peran sinetron itu. Murid sebagai peserta didik itu mengambil (memainkan) peran dalam KBM dengan cara ia (mereka) aktif melakukan kegiatan belajar (observasi, eksperimen, demonstrasi, role-play dan sebagainya).

PBM (atau kegiatan belajar-mengajar; KBM) yang memperlakukan murid sebagai subjek didik itu bersifat “student oriented.”  Kurikulum dan PBM di kelas diorientasikan, diarahkan (berkiblat) pada, atau disesuaikan dengan,  “needs” (bakat minat dan bahan apersepsi)  murid-murid. PBM yang memperlakukan murid sebagai peserta didik bersifat “student centered,” yaitu murid dibuat aktif melakukan PBM (KBM), sehingga sentral kegiatan ada pada murid-murid, bukan pada guru. Murid melakukan observasi, eksperimen, penelitian sederhana dan sebagainya.

KBM atau PBM atau pengajaran yang student oriented, lebih-lebih yang student centered itulah yang disebut dengan proses pembelajaran, proses belajar-mengajar yang membuat, menjadikan murid menjadi peserta aktif, menjadi subjek, dalam pendidikan. Jadi, tidak semua PBM (pengajaran) itu merupakan suatu pembelajaran.

Dengan falsafah andong, tidak akan terjadi  proses pendidikan yang teacher oriented, yang menurut kemauan dan kemampuan guru, dan juga tidak yang “teacher centered,” yang banyak aktif itu gurunya, bukan muridnya. Ini ibaratnya penumpang andong mengikut, mengekor saja ke mana dibawa oleh kusir andong. Dalam kasus seperti ini maka murid tidak menjadi subjek didik, tidak menjadi peserta didik, dan tidak ada proses pembelajaran.

Lebih tidak akan terjadi lagi pada PBM (KBM) yang “textbook oriented,” yang berkiblat atau memusat pada buku pelajaran, yang sangat tergantung pada buku pelajaran, mengikut sepenuhnya apa yang ada dalam buku pelajaran. Apa yang dipelajari murid sepenuhnya apa yang ada di buku pelajaran. Apa yang diajarkan guru sepenuhnya yang ada di buku pelajaran. Kelas hidup menurut buku pelajaran.

Tidak pula akan terjadi yang bersifat “curriculum oriented,” yang sepenuhnya didikte oleh pokok-pokok bahasan yang harus diberikan atau diajarkan kepada murid (“science content” atau materi pelajaran). Yang terakhir ini sama dengan penumpang mengikut kemauan kuda.

TEACHER  ORIENTEDTEACHER CENTERED TEXTBOOK ORIENTED
CURRICULUM ORIENTED STUDENT ORIENTEDSTUDENT CENTERED

Apakah pelaksanaan pendidikan di Indonesia sudah menggunakan falsafa h andong ini? Atukah berbagai istilah seperti subjek didik, atau peserta didik, bahkan pembelajaran, pun tak lebih tak kurang dari sekedar kata-kata tanpa makna? Sekedar pengganti sebutan yang tetap juga tidak mengubah hakekat maknawinya?

Mari kita tengok Amerika Serikat yang konon pendidikannya lebih maju. Ini komentar warganya, kendati tahunnya sudah sangat amat lama sekali.

TEACHING VERSUS EDUCATION FOR CHILDREN?
EDUCATION PLEASE!

by Willie Christopher Tucker

The public schools in the United Stares are institutions that focus on traditional forms of learning. Children are being taught in the same fashion that their parents were taught in previous years, using the drill and rote method.

There have been significant technological gains, specifically in the implementation of computer-assisted instruction. This method has given teachers considerable latitude in their modes of teaching in today’s classroom settings.

According to Piaget, children pass through a series of distinct stages in intellectual development. This would explain the 1-12 year grade system of student placement throughout America. By year’s end, if the student has mastered skills representative of a child of his or her age group, then the child is promoted (advanced) to the next grade level. This method of gauging intellectual development, I think, retards the human growth potential. Students who are capable of moving far beyond perceived optimum intelligence for their age aren’t afforded this opportunity under current teaching methods. In contrast, those who aren’t capable of keeping pace with average students aren’t being given the specialized attention they need due to an established curriculum that doesn’t allow for the substitution of the material that is taught.

This leaves us with the relevant question: Are our current educational systems putting our children at a disadvantage? I feel that they are.

Our current educational systems do not focus on individualized instruction, which is the core of Piaget’s Theory of Cognitive Development. According to Piaget, educators should abandon traditional methods of teaching and modify the established curriculum and become familiar with each student. They should observe the child’s behavior, learn his or her special talents or interests and use this information to determine what stage of cognitive development the child has accomplished. I agree wholeheartedly that his approach will work, though it is costly.

Nevertheless, our system of teaching has worked in the past because of the “socially implied standard of achievement” that each student must master in order to be considered acceptable among the elite. Thus, we are creating an atmosphere of competitiveness in which each student has an interest in winning and securing an esteemed place in the labor market.

America is losing her edge of competition in the “world’s global economy”, and the ranking of our schools among other developed countries is taking a downward spiral, especially in recent years. In my opinion, there is a distinct correlation between these two statements: an output of unequipped, obsolete students and a decline in business, technologies, and productivity ratings among the industrialized nations. To solve this economic condition we must improve the ways in which our children are being taught. Education must replace teaching for continued personal growth through learning and development. (Alabama’s Lifers Project; Vol 003 Issue 01;  March 2001).

Cag (nanti dilanjutkan)

Advertisements

2 thoughts on “ILMU PENDIDIKAN 5: PENDIDIKAN DAN FILOSOFI ANDONG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s