ILMU PENDIDIKAN 3: ILMU PENDIDIKAN VERSUS ILMU MENDIDIK

Tatang M. Amirin; 11 April 2011; 17 April 2011

Jika orang membicarakan pendidikan, maka pendidikan itu selalu dikonotasikan (hanya) dengan proses mendidik (kegiatan didik-mendidik), sebagai hubungan interaksi pendidik dengan pedidik (orang yang dididik). Oleh karena itu pendidikan lazim didefinisikan (misalnya) sebagai “usaha mengarahkan proses perkembangan pedidik (anak didik, subjek didik, peserta didik) ke arah yang lebih baik.

Sekian puluh tahun yang lalu ada sebuah buku yang diberi judul Ilmu Mendidik, bukan Ilmu Pendidikan. Buku ini membahas mengenai berbagai cara (strategi, metode, teknik) mendidik. Dengan kata lain, buku ini membicarakan tentang proses didik-mendidik.

Apakah didik-mendidik itu berbeda dari pendidikan? Jawabannya tergantung sudut pandang kita mengenai pendidikan. Mari kita lihat dari berbagai fakta penggunaan kata (istilah) pendidikan.

Ada alokasi anggaran 20% dari RAPBN untuk pendidikan. Yakin, pendidikan di situ bukan dalam arti proses didik-mendidik, karena gaji guru dan lain-lain  masuk di dalamnya. Ada juga sebutan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Yakin pula pendidikan di situ bukan dalam arti proses didik-mendidik, melainkan “organisasi pendidikan” (jenjang pendidikan). Ada pula sebutan pendidikan nasional. Yakin ini juga bukan proses didik-mendidik. Walau bisa ada proses didik-mendidik secara nasional (lewat media masa), tetapi pendidikan nasional bukan dalam konotasi proses didik-mendidik. Itu berkenaan dengan sistem pendidikan yang mencakup berbagai aspek yang bukan hanya didik-mendidik. Begitu pula dengan pendidikan profesi guru (PPG), itu bukan hanya proses didik-mendidik, melainkan suatu “sistem pendidikan” yang diselenggarakan untuk memberikan kompetensi sebagai pendidik profesional.

Jadi, pendidikan itu ada dua mcam maknanya. Pertama, dalam arti sempit, yaitu proses didik-mendidik. Kedua, dalam arti luas, yaitu sebagai suatu sistem “kependidikan,” singkatnya sistem pendidikan.

Oleh karenanya maka Ilmu Pendidikan pun akan bisa mengandung dua makna. Pertama sebagai ilmu mendidik, dan kedua sebagai ilmu tentang  pendidikan sebagai suatu sistem. Sebagai suatu sistem pendidikan itu mengandung banyak komponen, mencakup antara lain proses didik-mendidik serta pengaturan, pengorganisasian, pelembagaan, dan pengelolaan sistem pendidikan.

Salah satu gambaran tentang pendidikan sebagai suatu sistem yang luas (macroeducation system) yang di dalamnya ada sistem pendidikan mikro (microeducation system) berupa proses didik-mendidik ditampakkan dalam  skema berikut (Frick, T.W., artikel dalam SIGGS; 1996).

“Sistem pendidikan” (mikro) dalam skema itu digambarkan (Steiner, 1988:107; dalam Frick, 1996) terdiri atas empat komponen, yaitu teacher (pengajar, pendidik), student (pelajar, pedidik), content (kurikulum, materi ajar, materi didikan), dan context (lingkungan, “milieu”). Keempatnya menjadi satu kesatuan yang saling berhubungan secara fungsional (menurut “kalimat” Tatang M. Amirin; Pokok-pokok Teori Sistem, Jakarta: RajaGrafindo Persada.)

Di sekitar “sistem pendidikan mikro” tersebut terdapat “suprasistemnya” yang dalam gambar disebut dengan education negasystem. Ke dalamnya termasuk keluarga, masyarakat setempat, dunia industri, dan pemerintah setempat. Di luar itu ada universe of discourse yang berskala nasional (Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Pendidikan dsb), bahkan yang berskala dunia.

Berkaitan dengan “garis batas” (boundaries) sistem pendidikan dengan negasistem pendidikan itu, Frick (1996) mengomentari bahwa itu tidaklah bersifat fisik, sesuau yang benar-benar “tertutup” oleh batas-batas fisik semisal “bangunan.” Dalam kenyataan unsur negasistem semisal masyarakat (komite sekolah) pada akhirnya menjadi “masuk” juga ke dalam “sistem pendidikan” (sekolah). Bahkan unsur Pemerintah Lokal dan Nasional pun pada akhirnya bisa “masuk” pula menjadi bagian dari “sistem pendidikan” (sekolah) lewat kebijakan, penglokasian dana dsb.

Dengan demikian maka sistem pendidikan “mikro” itu sebenarnya tidak lagi bersifat mikro, melainkan sudah menjadi utuh sebagai sistem pendidikan (untuk mudahnya baca sebagai  sekolah). Sistem pendidikan, karenanya, bukan hanya sistem didik-mendidik (hanya meliputi komponen atau unsur pendidik, pedidik, materi didikan, dan konteks lingkungan) saja, melainkan sudah mencakup unsur manajerial/administratif (masyarakat lewat komite sekolah, pemerintah lewat kebijakan dan alokasi dana serta fasilitas dan sebagainya).

Ini komentar Frick (1996).

Nowadays the negasystem would include the local community — e.g., parents and other people, business, industry, local government. The universe of discourse could be extended to include state and national levels, or for that matter world-wide. If so, these would be part of the negasystem. Notice that the boundary between an education system and its negasystem does not have to be a physical boundary, in the sense of geographic space. For example, the local school board is normally part of a community’s education system. The board members are seldom physically present on school grounds. Nowadays, State Departments of Education are part of local education systems in that they affect policies, practices, and financing. Those State Departments are physically remote but can be considered part of a local community’s education system. On the other hand, churches are not considered part of our public education systems, and would be considered part of the negasystem as would business and industry.

Kegiatan didik-mendidik itu dapatlah disebut dengan PELAKSANAAN PENDIDIKAN, yaitu kegiatan atau proses pelaksanaan interaksi didik-mendidik antara pendidik dan pedidik dijembatani oleh “content” berbasiskan “context.”

Kegiatan lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan itu, yaitu mengatur, menata, mengorganisasikan, melembagakan pelaksanaan pendidikan, dapat disebut dengan kegiatan PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN. Jelasnya, kegiatan atau proses menata (mengatur) bagaimana pelaksanaan pendidikan itu bisa berlangsung dengan baik, efektif, efisien dan manusiawi. Kegiatan ini lazim disebut dengan ADMINISTRASI PENDIDIKAN atau MANAJEMEN PENDIDIKAN.

Jadi, apa simpulan tentang pendidikan dan ilmu pendidikan itu? Pertama, pendidikan terdiri atas dua substansi, yaitu pelaksanaan pendidikan (kegiatan didik-mendidik, interaksi didik-mendidik antara pendidik dan pedidik), dan penyelenggaraan kegiatan pelaksanaan pendidikan atau didik-mendidik tersebut.  Kegiatan pelaksanaan pendidikan itu lazim disebut dengan kegiatan belajar-mengajar (KBM) atau proses belajar-mengajar (PBM)–harap tidak diubah dengan “kegiatan pembelajaran.” akan tetapi, KBM atau PBM itu sifatnya sangat teknis, kegiatan teknis mendidik yang berupa mengajar, sehingga saya lebih suka menyebutnya proses didik-mendidik (PDM) atau kegiatan didik-mendidik (KDM).

Dengan “didik-mendidik” itu mengandung arti kedua belah pihak  (bahkan pihak lain) dapat berubah fungsi menjadi pendidik dan pedidik. Pada ketika tertentu “guru” (siapapun yang dengan sengaja “mengajari orang lain” menjadi pendidik dan murid jadi pedidik, tapi pada ketika lain dapat terjadi murid yang menjadi pendidik, dan guru menjadi pedidik. Bahkan pedidik yang satu dapat menjadi pendidik bagi pedidik lainnya (lazim dikenal sebagai kegiatan tutorial).

Ini ilustrasi Frick (1996; dalam SIGGS) mengenai hubungan timbal balik dan pergeseran fungsi antara orang-orang sebagai pendidik dan pedidik.

A teacher is one who guides the learning of another. This defines a kind of affect relation between two persons. Person A may guide the learning of Person B, and Person B may guide the learning of Person A. For example my wife of Irish descent has taught me to cook Chinese style dinners. I have given her guidance in using our computer at home. Furthermore, guidance of learning is not restricted to direct instruction (e.g., lecture, demonstrate, answer questions, ask questions). Learning may be guided indirectly as it is frequently in Montessori classrooms in which it occurs through interaction with the curriculum materials. Furthermore, the older students may guide younger students in Montessori classrooms in which mixed-age groups exist. These older peers act in the role of teacher (i.e., one who guides the learning of another). If teaching is viewed as an affect relation, then it unbinds us from thinking of teacher as a component in education. Teaching is a relationship between two persons, one of whom guides the other who follows.

Kedua, kajian terhadap pendidikan pun akan mencakup dua substansi, yaitu kajian (ilmu) tentang proses didik-mendidik (Ilmu Mendidik), dan kajian tentang penyelenggaraan pendidikan (Ilmu Manajemen atau Administrasi Pendidikan). Keduanya tercakup dalam Ilmu Pendidikan. Ke dalam Ilmu Mendidik itu ada teknologi (ilmu praktis) yang lazim disebut dengan “pengajaran” (bahasa yang lagi populer sekarang pembelajaran), atau di beberapa belahan dunia disebut dengan pedagogi (harap tidak dipertentangkan dengan andragogi). Jadi, Pedagogi itu ilmu tentang proses didik-mendidik, sementara Ilmu Pendidikan (Edukologi) mencakup Pedagogi dan Administrasi/Manajemen Pendidikan.

Ilmu-ilmu “bantu dan payung” Ilmu Pendidikan lain, semisal Filsafat Pendidikan, Sosiologi Pendidikan, Psikologi Pendidikan yang kesannya sebagai bagian dari ilmu lain yang terkait dengan pendidikan, nomen klatur (istilah, sebutannya) bisa tetap, akan tetapi isinya yang selama ini hanya tentang proses didik-mendidik (pedagogi) bisa dikembangluaskan menjadi mencakup pendidikan sepenuhnya (edukologi).

Filsafat Pendidikan sebagai kajian mengenai “teori” pendidikan dapat diperluas tidak hanya tentang didik-mendidik, melainkan ditambah dengan filsafat administrasi/manajemen pendidikan. Psikologi pendidikan yang selama ini isinya hanya berkenaan dengan didik-mendidik, diperluas menjadi mencakup psikologi administrasi/manajemen pendidikan.

Cag (to be continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s