SUMBER BELAJAR, KONSEP (IDE) YANG SELALU MEMBINGUNGKAN

Tatang M. Amirin; 20 Oktober 2010

Tatang M. Amirin (2010), “Sumber belajar, konsep (ide) yang selalu membingunkan,” tatangmanguny.wordpress.com

Hampir di berbagai tulisan tentang sumber belajar  penulisnya kerap kali bingung sendiri, apalagi yang membacanya. Ini kemungkinan karena beda “ide, bayangan, kesan, paham” mengenai istilah “sumber” dalam kepala orang Indonesia dan “resources” dalam kepala orang-orang “Inggris.”

Apa yang terbayang dalam kepala orang Indonesia jika mendengar kata sumber belajar? Pasti di kepalanya akan terbayang sesuatu yang menjadi sumber (tempat berada, tempat memperoleh, tempat mengambil) pelajaran atau bahan ajaran.

Nah, apa kata “orang-orang Inggris” tentang sumber belajar itu? Ini kutipannya (walau saya sengaja ambil yang sudah diterjemahkan oleh Singgih Prihadi, UNS).

Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi, sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.

Yang terpisah (in isolation) aau yang secara terkombinasi (in combination) itu sumber belajarnya, karena sumber belajar itu “meliputi, pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan latar (AECT 1994),” nukil Prihadi. Artinya, pelajar (peserta didik) bisa menggunakan hanya satu sumebr belajar, misalnya pesan, bisa gabungan beberapa sumber belajar, misalnya pesan, orang dan alat.

Sudahkah Anda bisa memahami paparan di atas? Murid menggunakan pesan sebagai sumber belajar? Murid menggunakan pesan, orang dan alat sebagai sumber belajar? Nantilah kita bahas lebih lanjut. Kita lihat dulu rumusan lain mengenainya. Ini kutipan Prihadi juga.

Menurut Dirjen Dikti (1983: 12), sumber belajar adalah segala sesuatu dan dengan mana seseorang mempelajari sesuatu. Nah, mulai ada rumusan yang “berputar.”  Entahlah, itu rumusan apa! Tidak jelas apa itu “sdegala sesuatu,” apalagi “dengan mana.” Pasti ini terjemahan juga kata orang-orang Inggris yang gaya bahasanya beda dengan kita. “Segala sesuatu” itu pasti “everything” dan “dengan mana” itu “with wich” yang sebenarnya lebih enak kalau diterjemahkan menjadi “segala sesuatu dan dengan sesuatu itu seseorang mempelajari sesuatu.”

Rumusan itu membingungkan dalam hal: (1) Apakah sesuatu itu yang dipelajari? Ataukah (2) Dengan bantuan sesuatu itu seseorang mempelajari ssesuatu yang lain?

Degeng (1990: 83) , kutip Prihadi, menyebutkan sumber belajar mencakup semua sumber yang mungkin dapat dipergunakan oleh si-belajar agar terjadi prilaku belajar. Dalam proses belajar komponen sumber belajar itu mungkin dimanfaatkan secara tunggal atau secara kombinasi, baik sumber belajar yang direncanakan maupun sumber belajar yang dimanfaatkan.

Rumusan Degeng ini pun “berputar-putar” saja. Kata Degeng, “sumber belajar” itu adalah segala macam “sumber” yang dapat dipergunakan si-belajar (pelajar, gitu, lho!). Pertanyaannya, sumber itu apa? Itu kan ibarat orang Jawa mengatakan “sumber” itu adalah “sumber” tempat kita mengambil air. Orang Jawa tahu yang dimaksud sumber itu apa. Akan tetapi, orang Sunda mungkin akan mengira sumber itu kolam atau sungai. Padahal “sumber” Jawa itu sumur. Coba saja saya sebutkan (bagi yang belum tahu benar benda apa itu) rumusan bahwa “comro” itu adalah “oncom di jero” (oncom di dalam). Anda lalu tahu denganrumusan itu apa itu comro? Tentu tidak! Oncom itu apa, mungkin tidak tahu. Oncom yang di dalam itu di dalam apa, pasti Anda tidak tahu juga.

Kembali ke bahwa sumber belajar itu ada enam macam, yaitu: (1) message (pesan), (2) people (orang), (3) materials (bahan), (4) devices (alat-alat), (5) techniques (teknik, cara, metode), dan (6) settings (latar).

Yang dimaksud pesan itu adalah bahan (materi) pelajaran atau sesuatu yang diajarkan. Orang dimaksudkan orang yang menyimpan dan mengirimkan pesan itu. Bahan dimaksudkan “software” (misalnya media) yang juga menyimpan pesaan (misalnya rekaman video, rekaman CD, buku pelajaran, transparasni). Alat-alat misalnya “hardware” yang digunakan untuk mengirimkan pesan (misalnya video, tape recorder, OHP, laptop).  Teknik dimaksudkan cara-cara untuk menyampaikan pesan. Latar dimaksudkan lingkungan sekitar.

Nah, mari kita lihat kekisruhan pemahaman mengenai sumber belajar itu. Ini dinukil dari Prihadi (cetak tebal dari penulis).

1. Zaman Praguru

Pada zaman praguru (yang disebut guru belum ada–Pen), sumber belajar utamanya adalah orang dalam lingkungan keluarga atau kelompok karena sumber belajar lainnya dianggap belum ada atau masih sangat langka (Sadiman, 1989: 143). Bentuk benda yang digunakan sebagai sumber belajar antara lain adalah : batu-batu, debu, daun-daunan, kulit pohon, kulit binatang dan kulit karang. Isi pesan itu sendiri ada yang disajikan dengan isyarat verbal dan ada yang menggunakan tulisan.

Nah, jadi, sumber belajar itu apa? Pertama, katanya, orang-orang (yang bukan guru). Tetapi kemudian disebutkan, kedua, bebatuan, dedaunan, kulit pohon, dsb. Orang-orang itu sebagai apa, batu dan daun sebagai apa, untuk apa? Batu itu sumber belajar?

Berikutnya.

2. Lahirnya Guru sebagai Sumber Belajar Utama

Pendidikan pada zaman praguru tahap demi tahap berubah. Akibat perubahan itu terjadi pula perubahan pada sistem pendidikan dan pada kondisi sumber belajar komponen lainnya dari sistem tersebut. Dengan demikian terjadi perubahan pada cara pengelolaan, isi ajaran, peranan orang, teknik yang digunakan, [dan] desain pemilihan bahan, namun demikian sumber belajar masih sangat terbatas, sehingga kedudukan orang [baca: guru–Pen] merupakan [sumber] belajar utama. Proses belajar tidak lagi ditangani oleh anggota keluarga, tetapi sudah diserahkan kepada orang tertentu. Orang yang menangani secara khusus tentang pendidikan disebut Guru dibantu dengan sumber belajar penunjang yang berbentuk masih sederhana dan jumlahnya terbatas sekali.

Lalu, apa bedanya anggota keluarga (komponen sumber belajar yang disebut ORANG) dengan guru (ORANG) sebagai sumber belajar? Tidak ada. Sumber belajar utama “anak-anak” tetap ORANG. Lalu “PESAN” di mana? Yang “diajarkan” orang tua dan guru itu apa? PESAN! Lalu “ngapain” (berbuat apa) pesan sebagai sumber belajar?

Mungkin baru akan lebih jelas penggunaan istilah “SUMBER BELAJAR” itu jika menyimak ini (Endah Silistiowati).

Sumber belajar dalam website bced didefinisikan sebagai berikut: Learning resources are defined as information, represented and stored in a variety of media and formats, that assists student learning as defined by provincial or local curricula. This includes but is not limited to materials in print,video, and software formats, as well as combinations of these formats intended for use by teachers and students.http: //www. bced.gov.bc.ca/irp/appskill/asleares.htm. January 28, 1999. (Sumber belajar ditetapkan [dirumuskan] sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media [dalam berbagai macam media dan format], yang […dapat…] membantu siswa dalam. . . ” belajar sebagai perwujudan dari kurikulum” [mempelajari segala sesuatu seperti yang diatur dalam kurikulum Provinsi atau Kabupaten–Pen.]. Bentuknya tidak terbatas. . . [Sumber belajar dimaksud mencakup, tetapi bukan hanya berupa bahan-bahan pelajaran yang dimuat–Pen.] dalam bentuk cetakan, video, [dan tau] format perangkat lunak, maupun kombinasi dari berbagai format [tersebut] yang [seara sengaja dibuat untuk–Pen.] dapat digunakan oleh siswa ataupun guru.)

Nah, akhirnya lebih tampak jelas bahwa “learning resources” itu sebenarya istilah lain saja dari “media pengajaran.” Oleh karena itulah maka “learning resources” itu akan terdiri atas komponen: (1) pesan–materi pelajaran, (2) orang–yang mengatur penyimpanan dan penyampaian pesan itu, (3) bahan–software piranti lunak  penyimpan/perekam pesan materi pelajaran, (4) alat-alat–hardware piranti keras tempat software diletakkan atau “ditayangkan”, (5) teknik–cara-cara mengoperasikan penyimpanan dan penyampaian pesan pelajaran itu, dan (6) latar–tempat, lingkungan, di mana orang yang belajar bisa memanfaatkan “sumber belajar” itu.

Ada pula orang yang menjadi kacau dengan istilah sumber belajar. Sumber belajar itu dimaknai sebagai segala macam apapaun yang bisa “membantu” murid (seseorang) memperoleh materi pelajaran atau pengetahuan. Sawah itu sumber belajar, karena di dan dari sawah orang bisa mendpatkan pengetahuanj (tentang sawah). Wah, ini kan jadi kacau balau. Sawah itu kan jadinya (dalam konteks ini) menjadi “objek” (sasaran) yang dipelajari, bukan sumber belajar. Lain halnya jika murid-murid diajak ke pembuat wayang kulit (“tatah sungging”). Kepada penatah sungging itu anak belajar bagaimana menatah wayang kulit. Yang dipelajari anak adalah “skills menatah wayang. Sumber (nara sumber) belajarnya pembuat wayang kulit. Pakai “software”? Tidak, jika itu semacam video., karena langsung tatap muka dan praktek.

Nah, adakah sebutan lain sumber belajar yang tidak membuat kacau “kepala” para pendidik? Beberapa rumusan sumber belajar di atas ternyata  mengacu pada pengertian segala macam benda (orang maupun barang)–seperti yang dirumuskan dalam salah satu definisi yang dinukil di muka (definisi pertama) yang menyebut  sebagai “data, orang, dan wujud tertentu” (aslinya “data, people and things”) yang dapat membantu seseorang belajar (memperoleh pengetahuan dll.). Jika ini, maka kita dapat menyebutnya sebagai “nara sumber dan sarana-prasarana kegiatan belajar-mengajar” atau “nara sumber dan sarana-prasarana pendidikan”. Yang berupa benda-benda kita sebut dengan sarana dan prasarana pendidikan. Lebih enak untuk dicerna kepala Indonesia yang punya “bahan apersepsi” berbeda dengan “orang-orang Inggris.” Jika “fokus” pada “media,” sebut saja media pendidikan atau media pengajaran. Selesai. Jauh lebih mudah.

Terus terang saya bingung, bagaimana seseorang (pelajar) mempelajari sesuatu mata pelajaran dengan bantuan “alat” (devices) piranti keras yang berupa OHP tanpa “sarana” (piranti lunak atau materials) yang berupa transparansi, dan materials itu tidak ditulisi message atau pesan bahan pelajarannya. Kan, katanya “sumber belajar” yang enam itu bisa digunakan pelajar satu saja atau gabungan daripadanya.

Lho, bisa! Pelajar itu mempelajari OHP! OHP itu bukannya bahan pelajaran atau materi pelajaran? (Salah! OHP-nya merupakan benda “objek pelajaran” yang dipelajari).

Perbaikan menyusul. Publish dulu.

3 thoughts on “SUMBER BELAJAR, KONSEP (IDE) YANG SELALU MEMBINGUNGKAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s