LIFE SKILLS: Makna dan Implementasi

Tatang M. Amirin; 10 April 2010

[Amirin, Tatang M. 2010. “Life skills: Makna dan impelementasi.” tatangmanguny.wordpress.com]

Beberapa tahun yang lalu di mana-mana di seluruh Indonesia muncul “gerakan” life skill sebagai aspek penting dalam pendidikan, seiring dengan munculnya pendekatan “life skill-based education” (pendidikan berbasis kecakapan hidup).

Sayangnya, life skill itu lalu menjadi “terjerumus” hanya ke dalam satu sisi saja, yaitu seolah-olah untuk hidup itu harus bisa bekerja, bekerja itu adalah hidup. Sekolah-sekolah gencar memamerkan diri sudah melaksanakan pendidikan life skill manakala murid-muridnya sudah diajari cara membuat sesuatu, cara mengerjakan sesuatu, yang semuanya bisa menjadi sarana mendapatkan pendapatan untuk hidup. Ada pula orang tua murid yang mengacaukan pendidikan life skill itu dengan pendidikan ekstrakurikuler, apapun, termasuk olah raga.

Jadi, ya begitulah, kerap apa yang disosialisasikan orang-orang Depdikbud (Depdiknas, Kemendiknas) tidak selalu sampai ke bawah secara utuh dan benar.

Apa sebenarnya konsep life skill-based education itu? Mari kita runut.

Wikipedia merumuskan life skills itu sebagai “a set of human skills acquired via teaching or direct experience that are used to handle problems and questions commonly encountered in daily human life” (kecakapan hidup itu merupakan sejumlah kecakapan yang diperoleh manusia melalui pendidikan atau pengalaman yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah dan permasalahan yang lazim dihadapi dalam kehidupan manusia sehari-hari).

WHO (menurut Wikipedia) merumuskan life skills itu sebagai “abilities for adaptive and positive behaviour that enable individuals to deal effectively with the demands and challenges of everyday life” (kemampuan-kemampuan untuk melakukan perbuatan yang positif dan sesuai keadaan yang memungkinkan setiap orang secara efektif mengatasi berbagai tuntutan dan tantangan kehidupan sehari-hari).

UNESCO dan UNICEF  secara konkrit merumuskan apa saja kecakapan-kecakapan hidup itu. Sebelumnya, UNESCO (dalam Wikipedia) memberikan pendahuluan sebagai berikut.

Depending on the topic, socio-cultural context, age group etc, the specific life skills needed for an individual at a certain moment and context enormously, and it is therefore not possible to drew up a definitive list of essential life skills. There are, however, some cognitive, personal and interpersonal life skills that are generally considered particularly important.

Dengan mengingat masalah yang dihadapi, keadaan sosiobudaya, usia dsb., maka, menurut UNESCO, kecakapan hidup tertentu yang diperlukan oleh orang per orang pada saat dan keadaan tertentu sudah barang tentu akan sangat berbeda-beda, sehingga tidak mungkin menyebutkan apa saja yang menjadi kecakapan hidup yang paling pokok. Namun demikian, lanjut UNESCO, ada beberapa kecakapan hidup yang berkaitan dengan aspek pemikiran (kecakapan kognitif), pribadi (kecakapan personal), dan hubungan sosial (kecakapan interpersonal) yang dapat dianggap penting.

Apa saja kecakapan-kecakapan hidup menurut rumusan UNESCO? Dalam hal ini UNESCO mengaitkannya dengan pendidikan (belajar), sehingga rumusannya menjadi seperti berikut.

1. LEARNING TO KNOW – Cognitive abilities (BELAJAR UNTUK TAHU – Kemampuan-kemampuan kognitif)

a. Decision making/problem solving skills (Kecakapan membuat keputusan/mengatasi masalah)

(1) Information gathering skills (kecakapan memperoleh informasi)

(2) Evaluating future consequences of present actions for self and others (kecakapan memperhitungkan akibat yang akan timbul dari perbuatan yang dilakukan/akan dilakukan sekarang bagi diri sendiri dan orang lain)

(3) Determining alternative solutions to problems (kecakapan menetapkan pilihan cara mengatasi masalah)

(4) Analysis skills regarding the influence of values and attitudes of self and others on motivation (kecakapan menganalisis/mengkaji pengaruh nilai/norma/keyakinan-kepercayaan dan sikap diri sendiri dan orang lain terhadap motivasi)

b. Critical thinking skills (kecakapan berpikir kritikal)

(1) Analyzing peer and media influence (kecakapan mengkaji pengaruh teman-teman dan media)

(2) Analyzing attitudes, values, social norms and beliefs and factors affecting these (kecakapan mengkaji berbagai sikap, nilai, norma dan keyakinan masyarakat, serta berbagai faktor yang mempengaruhinya)

(3) Identifying relevant information and information sources (kecakapan mencaritemukan informasi yang relevan/diperlukan dan sumbernya).

2. LEARNING TO BE – Personal abilities (BELAJAR UNTUK MENJADI – Kemampuan-kemampuan pribadi)

a. Skills for increasing internal locus of control (kecakapan-kecakapan untuk meningkatkan kendali diri)

(1) Self esteem/confidence bulding skills (kecakapan untuk membina kepercayaan diri/harga diri)

(2) Self awareness skills including awareness of rights, influences, values, attitudes, strengths and weaknesses (kecakapan sadar diri–menyadari keadaan diri sendiri–mencakup kesadaran akan hak-hak diri, daya pengaruh, nilai,  sikap, serta kekuatan dan kelemahan diri)

(3) Goal setting skills (kecakapan menetapkan tujuan)

(4) Self evaluation/self assessment/self monitoring skills (kecakapan mengevaluasi, menakar, memantau diri sendiri)

b. Skills for managing feelings (kecakapan mengendalikan perasaan)

(1) Anger management (kecakapan mengendalikan amarah)

(2) Dealing with grief and anxiety (kecakapan untuk mengatasi rasa duka dan cemas)

(3) Coping skills for dealing with loss, abuse, trauma (kecakapan untuk mengatasi dampak dari kehilangan seseorang, derita nestapa, dan trauma)

c. Skills for managing stress (kecakapan mengatasi tekanan batin)

(1) Time management (kecakapan mengatur waktu)

(2) Positive thinking (kemampuan berpikir positif)

(3) Relaxation techniques (penguasan teknik bersantai).

3. LEARNING TO LIVE TOGETHER – Inter-personal abilites (Belajar  berkehidupan kemasyarakatan – kemampuan melakukan hubungan sosial)

a. Interpersonal communication skills (kecakapan komunikasi sosial)

(1) Verbal/nonverbal communication (kecakapan berkomunikasi lisan dan lainnya)

(2) Active listening (kecakapan mendengarkan dengan penuh perhatian)

(3) Expressing feelings; giving feedback (without blaming) and receiving feedback (kecakapan mengutarakan perasaan dengan santun; memberikan umpan balik tanpa “menyalahkan” dan menerima balikan–tanpa kemarahan).

b. Negotiation/refusal skills (kecakapan tawar-mengawar/kecakapan menolak tawaran)

(1) Negotiation and conflict management (kecakapan tawar-menawar dan mengendalikan pertikaian)

(2) Assertiveness skills (kecakapan berkata/berbuat tegas)

(3) Refusal skills (kecakapan menolak tawaran/permintaan–dengan santun)

c. Empathy

(1) Ability to listen and understand another’s needs and circumstances and express that understanding (kemampuan mendengarkan dan memahami kebutuhan dan keadaan orang lain, serta mewujudkan kepahaman tersebut)

d.  Cooperation and teamwork (kerja sama dan kerja tim)

(1) Expressing respect for others’ contributions and different styles (kecakapan menunjukkan penghargaan terhadap andil orang lain dan menghargai perbedaan gaya antar orang)

(2) Assessing one’s own abilities and contributing to the group (kecakapan menakar kemampuan diri untuk memberikan andil pada kelompok)

e. Advocacy skills (kecakapan menganjurkan)

(1) Influencing skills and persuasion (kecakapan mempengaruhi dan membujuk)

(2) Networking and motivation skills (kecakapan merentang jalinan kerja dan memberikan dorongan/motivasi).

Pada ketika life skills-based education digencarkan di Indonesia, ada rumusan life skills (tidak jelas sumbernya, masih akan dilacak) yang terdiri atas:

1. Self-awareness skills (kecakapan sadar diri)

2. Thinking skills (kecakapan berpikir)]

3. Academic skills (kecakapan melakukan penelitian ilmiah)

4. Social skills (kecakapan melakukan hubungan kemasyarakatan)

5. Vocational skills (kecakapan kerja).

Sementara itu, belajar itu untuk apa, ada pula rumusan UNESCO yang populer (juga sumbernya masih akan dilacak) yang terdiri atas:

1. Learning to know

2. Learning to do

3. Learning to be

4. Learning to live together.

Sampai sini dulu.

Advertisements

4 thoughts on “LIFE SKILLS: Makna dan Implementasi

    • Ih ini sih soal bahasa Inggeris jadinya. “Ability” itu sebutan benda secara umum mengenai kemampuan. “Skill(s)” sebutan pada kemampuan juga, akan tetapi yang lebih teknis-operational. Yang suka salah (walau benar juga) itu menerjemahkan semua “skills” menjadi keterampilan. Keterampilan kesannya hanya berkaitan dengan fisik, tangan dan kaki. Menyupiri kendaraan, ngebor, ngelas, mengetik, membuat kerajinana tangan, misalnya, itu yang suka disebut dengan skill (keterampilan).
      Oleh karena itulah maka “life-skills” jadi diturunkan derajatnya pada keterampilan “kaki dan tangan” (kerja) untuk bisa “hidup” (punya penghasilan). “Thinking-skills” itu kecakapan berpikir logis, memikir cepat mengatasi masalah dsb. yang tidak ada kaitannya dengan kaki dan tangan. “Social-skills” itu kecakapan untuk bergaul atau melakukan hubungan kemasyarakatan, sehingga bisa ditgerima dan menerima adanya aorang lain. Jika SPG maka dengan skills itu ia bisa mendapatkan konsumen yang banyak sekali dalam waktu cepat. Itu juga tak ada kaitan dengan kaki dan tangan.
      Nah, gitu saja, Mas Imam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s