CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

Tatang M. Amirin; 7 Maret 2010

Istilah “contextual teaching and learning” (“contextual teaching-learning”) yang kerap disingkat menjadi CTL, sudah banyak dikenal guru. Akan tetapi, mengenai apa dan bagaimana CTL itu, kerap kali para guru masih kebingungan, atau belum paham benar. Di bawah ini dipaparkan uraian Susan Jones Sears dari The Ohio State University, yang diunduh-tampilkan di internet 23 Februari 2010. Paparannya berbentuk “power point.”

Sebelum itu, agar lebih mempermudah pemahaman, perlu diperjelas dulu secara kebahasaan apa pengertian kontekstual (yang sesuai dengan konteks) itu. Mari kita berajar ke pelajaran bahasa. Sering kita dengar ucapan semisal, “Agar tidak salah paham, maka kita harus lihat kata-kata yang ia ucapkan itu dalam konteks apa.” Ambil contoh ada orang mengatakan begini, “Gila, ia benar-benar bisa melakukannya!” Tentu kata “gila” di situ tidak untuk menyatakan bahwa orang yang dijadikan pokok tuturan itu orang yang gila. “Konteksnya” kekaguman (ada orang yang benar-benar bisa melakukan sesuatu yang tampak mustahil).

Contoh yang “suka salah” adalah “Fitnah itu lebih keji dari pembunuhan.” Kata fitnah di situ konteksnya kerap dikaitkan dengan “tuduhan berbuat salah” (yang berbau “tanpa bukti yang pasti atau jelas-tegas”). Aslinya (dalam konteks keutuhan ayat atau beberapa ayat Al-qur’an), sebenarnya terkait dengan aktivitas umat Islam di Mekah menjalankan agama. “Fitnah” dalam konteks (hubungan kata-kata dalam) ayat-ayat Al-Qur’an itu aslinya mengandung arti kegiatan atau perilaku (orang-orang Quraisy) menghalang-halangi, menghambat, atau mencegah, orang Islam menjalankan ajaran agamanya. Perbuatan menghalang-halangi umat Islam menjalankan syariat Islam itu dikatakan sebagai “fitnah,” dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan (orang Quraisy kerap membunuhi orang Islam).

Itu maksud kata “konteks” yang berarti hubungan kata-kata dalam kalimat, dan “kontekstual” yang mengandung arti “yang berkenaan dengan hubungan kata-kata dalam kalimat.”

Arti konteks (context) yang lain adalah suasana atau keadaan. Misalnya dalam kalimat “We must consider the context of the situations” (Kita harus mempertimbangkan suasana di sekitar keadaan itu). Contohnya seorang ibu rumah tangga didakwa pidana karena membunuh lelaki tetangganya. Pembelaannya, ia tidak dengan sengaja (merencanakan sejak semula untuk) membunuh, melainkan terpaksa karena membela diri (mau diperkosa, misalnya, ia berontak, terpegang batu, lalu batu itu dipukulkan ke kepala lelaki itu, dan lelaki itu luka parah, lalu mati. Itu “konteks” keadaan saat terjadinya peristiwa pembunuhan.

Nah,  sekarang, mari kita bahas apa CTL itu, dan dalam makna apa “kontekstual” itu dimaksudkan.

Pengertian CTL

Sears merumuskan CTL sebagai berikut.

Contextual Teaching and Learning (CTL) is a conception of teaching and learning that helps teachers relate subject matter content to real world situations and motivates students to make connections between knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and workers.

Contextual Teaching and Learning (CTL) itu, menurut Sears, merupakan suatu konsepsi (buah pikiran) mengenai kegiatan belajar dan mengajar yang membantu para guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia (sekitar kehidupan pelajar) yang nyata, dan mendorong para pelajar itu agar menciptakan jalinan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapan pengetahuan yang dimilikinya itu dengan kehidupan nyata mereka, baik sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat (warga negara), maupun sebagai pekerja.

Uraian Sears tersebut “bergaya bahasa asing” sehingga agak sulit juga untuk ditangkap telinga “gaya bahasa lokal Indonesia.” Mari kita rumuskan dengan bahasa kita sendiri, meminjam intinya saja dari buah pikiran Sears.

[Tunggu! CTL itu kalau dibahasaindonesiakan jadinya apa terjemahannya, ya?! Agak sulit. Ya sudah adopsi saja menjadi  “Proses Belajar-Mengajar Kontekstual” disingkat PBMK].

PBMK adalah pendekatan proses belajar-mengajar yang mengaitkan (menghubungkan)  isi materi pelajaran dengan keadaan kehidupan nyata pelajar, dan mengaitkan pula penerapan hasil belajar itu dengan kehidupan nyata para pelajar, baik kehidupan di lingkungan rumah, masyarakat, maupun dunia kerja.

Dengan demikian, lanjut Sears, CTL itu memerlukan (harus didukung) oleh isi materi pelajaran yang tepat. Dalam hal ini para pelajar memerlukan keseimbangan antara materi akademis untuk melanjutkan ke perguruan tinggi (pendidikan lebih lanjut) dan materi praktis untuk karir kehidupan sebagai pekerja (pencari nafkah).

Tunggu! Ini agak kacau sedikit. Secara lugas itu bisa mengandung arti bahwa materi pelajaran yang disajikan untuk dipelajari para pelajar itu harus memuat materi yang akademis (baca: dalam bahasa awam “yang teoritis”) dan juga yang bisa diterapkan dalam kehidupan (baca: dalam bahasa awam “yang praktis”).

CTL (PBMK) itu tidak begitu inti hakikinya. Inti PBMK, baik yang bersifat teoritis maupun yang bersifat praktis harus terkait atau “sinambung” dengan kehidupan nyata para pelajar di lingkungan terdekatnya dan lingkungan jauhnya. Lingkungan dekat, maksudnya yang benar-benar ada di sekitar murid, dan di masa sekarang. Lingkungan jauh, maksudnya yang bersifat “masa depan” yang terkait dengan kehidupan pelajar di masa datang, sesuai dengan perkembangan zaman dan pergerakan (mobilitas) keberadaan pelajar nantinya (bisa jadi ada yang nantinya menjadi TKI handal di luar negeri).

Paparan Sears berikut akan lebih menegaskan makna hakiki CTL (PBMK).

Dengan CTL, lanjut Sears, maka para pelajar diberi peluang untuk mempelajari pengetahuan dan kecakapan (skills) yang memiliki makna (manfaat langsung) secara kontekstual (dalam keterkaitan dengan kehidupan nyata), misalnya dengan kehidupan di rumah, di masyarakat, dan di dunia kerja.

Maksudnya, jika dalam PBM digunakan pendekatan CTL (PBMK), maka dalam menyajikan isi materi pelajaran (apapun, apakah itu ilmu, pengetahuan, kecakapan-keterampilan, nilai-nilai atau norma) guru akan (harus) memilih yang gayut (relevan), atau menyusun-merancangnya agar gayut, dengan kehidupan pelajar.

Paparan Sears berikut lebih menukik lagi memperjelasnya.

CTL, papar Sears lebih lanjut, dibangun di atas pengetahuan yang sudah dimiliki para pelajar, dan menggunakan pengalaman hidup dan lingkungan kehidupan sekitar (konteks) mereka sebagai kerangka dasar (platform) untuk membantu para pelajar itu beranjak dari apa yang sudah mereka ketahui ke apa yang mereka belum ketahui.

Nah, paparan Sears ini agak tidak membuat paham semua orang. Maksudnya, guru yang menggunakan pendekatan PBMK (CTL) itu pada saat mengajarkan pengetahuan baru, ia kaitkan (sambungkan, hubungkan) pengetahuan baru itu dengan pengetahuan yang sudah dimiliki pelajar (lazim disebut sebagai bahan apersepsi), dan lingkungan kehidupan nyata pelajar sehari-hari.

Bahan apersepsi pelajar itu bisa apapun pengetahuan (yang telah diketahui), baik yang bersumber dari pelajaran terdahulu di kelas, dari nonton TV, dari internet, dari membaca koran, bahkan dari pengalaman kehidupan sehari-hari. Lingkungan kehidupan nyata pelajar sehari-hari itu, ya lingkungan hidup pelajar, apakah ia hidup di desa pertanian, apakah ia hidup di kampung nelayan, apakah ia hidup diperkotaan, apakah keluarganya itu pegawai, buruh tani, tukang becak, guru, dosen, pegawai bank, tentara, polisi dsb.

Penerapan CTL (PBMK)

Apa contoh PBM kontekstual itu jika menggunakan prinsip-prinsip Sears sampai paparan di atas?

Sebelumnya, mari kita pertegas ciri-ciri PBM yang menggunakan pendekatan CTL (PBMK) itu. Ini murni pendapat penulis pribadi, bukan menurut Sears, walau mengikuti sebagian inti pandangan Sears.

1. Jika bisa dipilih, isi materi pelajaran (kurikulum) yang akan disajikan (dipelajari murid) itu yang sesuai (cocok, selaras, gayut) dengan keadaan lingkungan tempat murid berada dan kemungkinan masa depan mereka berada.

Jadi jika murid berada di lingkungan pedesaan-pertanian, maka materi itu yang selaras dengan kehidupan pedesaan-pertanian, bukan materi yang berkaitan dengan kehidupan nelayan. Pelajaran kenelayanan tidak  bermakna (mempunyai manfaat) bagi murid anak petani.

2. Jika tidak bisa dipilih (kurikulum sudah digariskan “dari sana”), maka isi materi pelajaran yang disajikan disesuaikan (diselaraskan) dengan lingkungan tempat murid berada dan kemungkinan berada di masa datang.

Jadi jika di lingkungan pertanian, matematika pun disajikan terkait dengan pertanian, misalnya jual beli benih tanaman, pupuk, obat anti hama dan sebagainya, bukan jual beli ikan laut, minyak solar untuk perahu, jaring dan sebagainya.

3. Isi materi pelajaran (kurikulum) disusun dikaitkan (dihubungkan) dengan, atau berlandaskan, pengetahuan dan pengalaman murid (asas pedagogik atau PBM berbasis bahan apersepsi).

Pertama, murid “dibentuk” oleh budaya masyarakatnya, berkenaan dengan bahasa, adat-istiadat atau kebiasaan, kepercayaan, mata pencaharian, kebiasaan hidup sehari-hari, dan sebagainya.

Ini contoh yang tidak “kontekstual” (dan ini sungguh-sungguh terjadi). Salah satu isi pelajaran PKn adalah berbakti kepada orang tua. Isi materi konkritnya anak harus membantu orang tuanya. Ada guru yang “tekstual” (apa adanya menurut bunyi kalimat dalam buku PKn) “mengharuskan” murid membantu orang tuanya. Jadi, anak-anak ditanyai “apakah semua anak-anak suka membantu orang tuanya.” Ada anak yang mengatakan tidak. Guru “marah” karena anak tidak “Pancasilais.” Namun demikian, guru itu guru yang baik juga, jadi ia tanya-gali (“melakukan “probing”) alasan kenapa anak itu tidak membantu orang tuanya. Anak itu menjawab, karena orang tuanya dosen, jadi ia tak bisa membantu orang tuanya menjadi dosen. Lucu juga, ya?!! kalau tidak kontekstual, ya kewajiban membantu orang tua itu jadi kacau. Membantu apa? Harus jelas, jadinya.

Ini juga contoh kontekstual yang sering kali saya jadikan “omongan sinting dan edan” (karena saya DOSEN alias Doyan Omong Sinting Edan, tapi Nalar — “sinting edan” itu maksudnya “nyeleneh” kata orang Jogja, aneh-aneh, beda dari yang lain). Penjumlahan berulang mana yang benar dari 2 x 3, apakah 2 + 2 + 2, ataukah 3 + 3. Ada yang punya resep seperti resep dokter 3 x 1; jadi 1 + 1 + 1. Jadi 2 x 3 = 3 + 3 (dua kali, tiga — tiganya dua kali). Saya minta orang Jawa asli mengatakan hitungan itu dalam bahasa jawa. Bunyinya loro ping telu. Ulangi: loro …  ping telu. Jadi dua (loro) ping telu (tiga kali), alias 2 + 2 + 2. Orang Inggeris akan bilang “two times, three” (dua kali, tiga — tiga, dua kali). Urang Sunda juga akan bilang “dua kali, tilu” (dua kali, tiga — tiga, dua kali). Itulah kontekstual bahasa. Sekali lagi, ingat, bahwa ada “bahan apersepsi” murid berkait bahasa, yang jika pelajaran tidak kontekstual, murid bisa salah paham.

Itulah sebabnya anak Sunda tidak mudah belajar membaca tulisan bahasa Indonesia (yang konon berbasis teori “Gestalt” — satu kesatuan yang bulat yang bermakna atau mengandung arti) “ini ibu budi”, karena orang Sunda di pedesaan tak paham kata “ini”, ataupun “ibu”, juga “budi” (jadi, kata-kata itu tak punya makna, bukan Gestalt, bagi anak Sunda). Yang mereka tahu “ieu emana ujang.” Orang Jogja pedesaan juga tahunya “iki emboke budi.” (Nama Budi lazim di Jawa, tetapi tidak lazim di Sunda).

Jadi, jangan sampai isi materi pelajaran berbeda atau bertentangan dengan pengetahuan pengalaman murid. Misal, mengatakan bahwa hewan pemakan daging (hewan lain) itu cirinya bertaring (yang tidak bertaring, tidak termasuk pemakan daging alias carnivora). Ada murid punya burung hantu, makanannya daging (jengkerik, cecak, tikus dsb). Burung itu tidak bertaring. Nah, murid bisa bingung.

Coba juga buat soal menghitung dalam setahun berapa uang didapat peternak ayam kampung jika punya ayam betina 30 ekor dan jantan 3 ekor. Yang harus diperhatikan guru adalah berapa banyak telur dihasilkan ayam betina “dalam sebulan” (Tahu tidak, apakah setiap bulan ayam betina pasti bertelur? Ada waktu mengerami tidak, berapa hari atau bulan? Bisakah lalu dikalikan 12 bulan?). Jangan buat anak bingung karena materi “salah” (tidak sesuai dengan pengetahuan yang mereka punya!

4. Sedapat-dapat isi materi pelajaran sinambung dengan keperluan kehidupan sehari-hari dan masa depan. Pelajaran “perkembangbiakan tanaman,” misalnya, kaitkan konkrit dengan “bercocok tanam” kentang jika murid-murid banyak yang anak petani kentang. Kenapa tidak gunakan “sumber belajar” petani kentang (sebagai narasumber)? Anak diajak ke pertanian kentang, mengobrol dengan petani kentang. Pasti benar, dan bermanfaat. Lalu anak-anak diajak bercocok tanam kentang di kebun sekolah. Setelah panen, Guru yang “profesional” (banyak baca buku dan bertanya-tanya) mengajak pula anak-anak itu mengolah kentang menjadi berbagai makanan (keripik kentang, sup kentang, perkedel kentang, pizza kentang, burger kentang, hotdog kentang, cake kentang, bolu kukus kentang, comro kentang, misro kentang, cireng kentang, “tela-tela kentang” alias “tato-tato” — sebut saja macam-macam makanan yang aneh-aneh, siapa tahu memang bisa dibuat).

Mari kita perjelas dengan contoh lain.

Guru akan mengajarkan materi cahaya. Isi materinya bahwa cahaya itu bisa dipantulkan oleh benda-benda tertentu. Yang belajar murid SD berbahasa ibu Jawa. Di SD itu diajarkan juga bahasa Inggris, karena sebagai daerah wisata sering dikunjungi turis-turis asing. Kosa kata “baru” bahasa Indonesia bagi mereka adalah “pantul-memantul-dipantulkan-terpantulkan-pantulan-pemantul.” Bahasa Inggerisnya “to reflect-reflection-reflector-reflected.”

Guru menyiapkan skenario pengajaran bukan saja berbagai benda yang akan diamati oleh murid apakah memantulkan (menjadi pemantul = reflector) cahaya, melainkan mencoba juga “menemukan” akibat-akibat atau kosekuensi yang terjadi jika ada pantulan cahaya,yang bermanfaat atau bisa dimanfaatkan, dan juga yang membahayakan atau menyusahkan orang.  Ini yang terkait dengan kehidupan praktis sehari-hari. Misalnya guru membuat “kamar gelap” di mana murid harus duduk di dalamnya dan menyalin tulisan yang ada di buku. Tahap pertama, tanpa penerangan sama sekali. Tahap kedua diberikan penerangan cahaya lampu senter kecil mendatar di atas kepala si murid. Murid harus memantulkannya ke arah buku dan buku tulis dengan menggunakan cermin. Andaikata di sekitar sekolah ada bukit bergua dalam yang gelap, anak bisa diajak “mencari gelang yang hilang” di dalam gua gelap tersebut, dengan bantuan pantulan sinar matahari.

Sebelumnya anak-anak diajak pula “mengingat” pengalaman sehari-hari dalam situasi seperti apa saja cahaya matahari memantul (misalnya pernah disilaukan oleh pantulan cahaya matahari yang mengenai mata) dan melalui benda apa saja cahaya matahari itu memantul. Ini “bahan apersepsi.” Dan anaka-naka bisa “merefleksi” apa akibat yang terjadi terkena pantulan sinar matahari yang menyilaukan mata itu, serta membayangkan jika terpantuli sinar matahari itu ketika naik sepeda. Boleh juga anak diminta bermain badminton dan memukul kok  yang datang ke arahnya sementara matanya dipantuli sinar matahari. Apa yang terjadi?

Nah, sampai di sini dulu.

Advertisements

4 thoughts on “CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

  1. Hatur nuhun Pa Tatang, seratanana teu kinten mundelna kalayan tangtos ageung pisan mangpaatna dina enggoning ngaronjatkeun ajen pendidikan. Salam ti Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s