MEMILIH “TINDAKAN” PTK

Tatang M. Amirin; 27 Februari 2010; 24 September 2010; 9 Februari 2011

Dari pengalaman mengamati proposal dan laporan penelitian PTKyang diajukan maghasiswa  serta membimbingnya, tampaknya bagian menyusun rencana tindakan PTK (baca rancangan tindakan pengajaran/pembelajaran-atau RTP) merupakan bagian yang sangat sulit dibuat.

Pertama, karena tidak ada atau jarang dijumpai contoh rancangan yang benar-benar menunjukkan hakekat PTK, termasuk menelusurinya di internet sekalipun.

Kedua, karena rancangan tindakan pembelajaran PTK itu secara salah dianggap sama saja dengan rancangan program pengajaran/pembelajaran (RPP) atau persiapan mengajar.

Ketiga, dan ini yang paling penting: Tidak semua calon peneliti PTK itu paham benar mengenai apa makna tindakan dalam PTK.

Apa itu Tindakan?

Nah, karena tidak semua orang paham dengan jelas apa yang dimasudkan tindakan dalam penelitian tindakan (termasuk penelitian tindakan kelas atau PTK), maka rasanya perlu terlebih dahulu diperjelas di sini (sekedar mengulang dari paparan di tulisan yang lain mengenai PTK).

Tindakan (dalam PTK) itu merupakan suatu upaya memperbaiki keadaan yang sekarang ada. Memperbaiki itu bisa berarti mengatasi masalah atau kekurangan kelemahan, bisa pula berarti memperbaiki, menyempurnakan, atau meningkatkan keadaan (kondisi) sekarang.

Contoh [yang pertama mulai dari masalah, yang kedua mulai dari kondisi sekarang):

(1) Sebagian besar siswa, riel, dari pekerjaan hariannya misalnya, bukan berdasarkan nilai rapor yang mungkin sudah dikatrol,  diketahui–dalam bahasa para guru sekarang–belum mencapai standar nilai KKM (kriteria ketuntasan minimal). Kelemahan (masalah) ini perlu ditindak. Berdasarkan faktor penyebabnya (ini harus diteliti benar-benar), diupayakanlah “memperbaiki” (mengatasinya) dengan, misalnya, memperbanyak kegiatan latihan atau praktek. Latihan atau praktek yang sehari-hari suka disebut metode mengajar itu jadilah sebagai tindakan.

Jadi, disebutlah dalam rancangan PTK: Tindakan yang akan dilakukan adalah intensitas latihan (praktek). Maksudya mengintensifkan (meningkatkan frrekuensi) latihan atau praktek.

(2)   Proses belajar mengajar dalam pelajaran Matematika yang sekarang biasa dilakukan guru adalah dengan menggunakan “kertas dan pensil,” yaitu guru menerangkan di papan tulis, selanjutnya murid latihan mengerjakan soal-soal di bukunya masing-masing. Sesekali ada murid yang ditunjuk mengerjakannya di papan tulis.

Praktek pelaksanaan PBM serupa ini akan dicoba diperbaiki, disempurnakan, agar lebih menyenangkan. Tindakan yang akan dilakukan guru adalah dengan menggunakan permainan dan penggunaan alat bantu pengajaran. Jadi, dituliskanlah dalam rancangan PTK: Tindakan yang akan dilakukan adalah menggunakan permainan dan alat bantu pengajaran.

Beda RPP dan RTP

Apa beda RTP dan RPP? RPP merupakan rancangan pengajaran (pembelajaran) biasa, tidak ada nuansa TINDAKAN pemecahan masalah atau perbaikan keadaan di dalamnya. Dalam RPP unsur metode mengajar, alat bantu pengajaran (alat peraga, media dsb.) dituliskan bukan sebagai tindakan pemecahan masalah PBM atau meningkatkan prestasi, melainkan perbuatan yang akan dilakukan guru dalam menyampaikan pelajaran.

Di pihak lain, oleh karena RTP merupakan rancangan tindakan, maka unsur metode dan atau alat bantu pengajaran  umumnya menjadi  suatu TINDAKAN yang dipilih.

Misalnya untuk memperbaiki iklim PBM digunakan “metode demonstrasi dan penggunaan alat peraga.” “Metode mengajar” tersebut (demonstrasi dan penggunaan alat peraga)  jadinya berubah posisi menjadi sesuatu yang merupakan unsur pokok. Jadi, tidak disebut sebagai metode atau alat bantu pengajaran, melainkan disebut sebagai TINDAKAN. Dengan kata lain, ada sebutan tindakan yang akan dilakukan dalam rumusan RTP.

Uraian di atas tidak jelas, tak mudah ditangkap, karena memang sulit mengatakannya. Jelasnya demikian.

Jika seseorang guru membuat RPP, maka dalam RPP itu akan disebutkan metode mengajar yang digunakan dan juga alat bantu pengajaran yang digunakan. Ini bisa berbeda-beda dari pertemuan ke pertemuan. Ada yang menggunakan ceramah, ada yang diskusi, ada yang demonstrasi dll.

Dalam RTP, karena metode atau alat bantu itu merupakan tindakan perbaikan, maka akan disebutkan sama dalam beberapa pertemuan, apapun materi pelajarannya. Pertemuan pertama dengan percobaan, kedua dengan percobaan, ketiga dengan percobaan dst. Dalam RTP, karenanya, tidak disebutkan lagi metode lain atau alat bantu lain. Jika sudah dipilih “tindakannya” berupa penggunaan metode percobaan, maka tidak tertulis: “Metode: Percobaan, ceramah dan tanya jawab.” Lho? Kan hanya percobaan!!!

Contoh: Jika tindakan yang akan diterapkan adalah penggunaan metode demonstrasi, maka tidak lagi disebut ada metode ceramah, tanya jawab dan sebagainya. Jika dalam demonstrasi itu digunakan pula berbagai alat bantu atau media, alat bantu tersebut tidak lagi disebutkan  seperti yang lazim dituliskan dalam RPP. Disebutkannya nanti saat memaparkan rancangan pelaksanaan tindakan, yaitu disebutkan alat-alat yang dipersiapkan untuk mendukung demonstrasi dimaksud. Jadi, cukup disebutkan tindakannya berupa demonstrasi (peragaan) saja, lainnya sebagai pendukung.

Pemilihan Tindakan

Seperti telah disebutkan, ihwal tindakan yang dipilih kerap kali salah ambil. Yang harus diingat benar adalah bahwa PTK bukan penelitian eksperimen. Pada eksperimen metode atau alat tertentu dicobakan (ditreatmenkan), lalu dicek hasilnya. Titik. Yang diteliti hasil (prestasi) belajardengan menggunakan metode atau alat bantu pengajaran itu. Simpulan yang akan dicari jadinya: Apakah dengan menggunakan metode atau alat bantu pengajaran tersebut prestasi belajar meningkat?

Selain itu, dalam eksperimen metode atau alat bantu yang digunakan sudah “baku” (sudah tidak perlu diujicobakan). Karenanya tidak diteliti. Dalam penelitian tindakan “proses” itu yang diteliti DAN TERUS MENERUS DIPERBAIKI (di-REFELKSI lalu di-RANCANG ULANG)–sampai tertemukan yang terbaik.

Sesuai dengan hakekat PTK yang di dalamnya PASTI HARUS ada tindakan (penggunaan metode baru, alat bantu baru dsb) dan PENELITIAN (“OBSERVATION”) TERHADAP TINDAKAN tersebut, maka tindakan yang dipilih haruslah tindakan (metode dan atau alat bantu) yang BUKAN BARANG JADI, BUKAN YANG SEKALI PAKAI SELESAI. Kenapa, karena penerapan atau penggunaannya harus diteliti, atau memang perlu diteliti. Oleh karena itulah maka PTK bersiklus-siklus (coba-evaluasi dan refleksi-revisi — coba lagi, evaluasi dan refleksi lagi, revisi lagi — coba lagi, revisi lagi  dst).

Contoh:

Untuk meningkatkan prestasi belajar IPA guru memilih menggunakan alat peraga berupa bejana berhubungan (benda sebenarnya, bukan gambarnya seperti selama ini digunakan). Sudah bisa dibayangkan bahwa nantinya guru akan menggunakan bejana berhubungan itu untuk meragakan bahwa permukaan air akan sama tinggi di dalam beberapa bejana yang terhubung. TINDAKAN tersebut bisa dipastikan hanya akan berlaku (dilaksanakan) sekali selesai. Tidak ada proses atau kegiatan apapun yang bisa diteliti atau dicermati, untuk nantinya diperbaiki.

Untuk meningkatkan prestasi belajar, guru yang lain menggunakan gambar berseri (kartun–gambar tidak ada narasinya) sebagai TINDAKAN untuk meningkatkan kemampuan murid mengarang. Gambar (kartun) tersebut dijiplak mentah-mentah dari buku-buku (bukan buatan guru). Bisa dibayangkan pula bahwa gambar (kartun) tersebut, kendati misalnya akan berkali-kali digunakan (gambar berseri atau kartunnya tentu berganti-ganti), tidak ada PENELITIAN apapun terhadap gambar atau kartun sebagai tindakan.

Bejana berhubungan dan gambar berseri (kartun) itu bukan tindakan (kegiatan atau proses). Tindakan dalam PTK harus berupa tindakan (proses, kegiatan). Bejana berhubungan atau gambar berseri hanya alat bantu dalam proses (tindakan) tersebut. Ingat kata-kata MENGGUNAKAN.

Lalu, apa yang diubah?

Bejana berhubungan itu merupakan alat peraga untuk mendemonstrasikan (menunjukkan) salah satu materi pelajaran IPA. Gambar berseri (kartun) itu merupakan salah satu alat bantu untuk meningkatkan kemampuan murid mengarang (dalam pelajaran bahasa Indonesia, Jawa, Inggris dsb).

Oleh karena bejana berhubungan itu merupakan alat peraga (alat demonstrasi), maka jadinya yang merupakan tindakan sebenarnya adalah DEMONSTRASI atau PERAGAAN (MENGGUNAKAN ALAT PERAGA). Yang diteliti adalah proses demonstrasi atau peragaan (PENGGUNAAN ALAT PERAGA) itu. Apa yang diteliti?

Berkait demonstrasi (menggunakan berbagai alat peraga), mungkin apakah alat cukup besar sehingga tampak oleh semua murid. Mungkin apakah yang ditunjukkan (diragakan) sudah tampak jelas bagi murid. Mungkin cara melakukan demonstrasi itu sendiri seperti apa (murid yang melakukan atau guru yang melakukan; berapa kali dilakukan–sehingga dapat dikatakan efektif). Bahkan masih ada kemungkinan yang harus dirancang dalam demonstrasi, yaitu membandingkan bejana yang tidak berhubungan dan bejana yang berhubungan. Misal,  bejana atau tabungnya ada yang sama besar dan ada yang tidak sama besar. Kenapa tidak sama besar? Tabung tak berhubungan yang sama besar diisi air satu gelas tinggi permukaan airnya akan sama. Tabung yang tidak sama besar jika diisi air sama-sama satu gelas, tidak akan sama tingginya. Tabung  berhubungan, sama besar atau tidak sama besar pun, akan sama tinggi permukaan airnya.

Gambar berseri (kartun) merupakan alat untuk memudahkan murid mempunyai ide untuk mengarang. Sesuai dengan asas belajar dari mudah ke sulit, dari sederhana ke rumit, maka MESTINYA guru sudah menyiapkan gambar yang sederhana, agak rumit, dan rumit. Ini disediakan agar murid belajar dari yang mudah dulu, tidak langsung yang rumit, bisa frustrasi dan trauma jika gagal.

Gambar sederhana itu isinya (gambarnya) tunggal, tidak ada gambar lain yang terlukis. Misalnya gambar pertama gambar anak yang sambil berjalan mengupas pisang. Gambar berikut menunjukkan kulit pisang dibuang anak tersebut ke tanah (jalanan). Gambar berikut ada orang yang berjalan memikul balok kayu mendekati kulit pisang. Gambar berikut orang tersebut menginjak kulit pisang dan balok kayunya terlempar ke depan mengenai tubuh si anak.

Gambar agak rumit mengandung beberapa unsur gambar yang murid bisa berceritera agak banyak tentangnya, tergantung kejelian murid untuk menangkapnya. Misalnya gambar pertama gambar orang membawa jerami yang tampak kelelahan dan berkeringat sedang berteduh di bawah pohon dilewati orang mendorong gerobak dorong yang kosong. Gambar kedua menunjukkan ada dua pedati berjalan beriringan, pedati pertama melewati orang tersebut sementara kusirnya pura-pura tidak melihat (melengoskan muka). Pada gambar ketiga tampak orang tersebut menaikkan jeraminya ke pedati kedua dibantu  oleh kusir pedati. Pada gambar keempat tampak pedati sudah berhenti dekat pasar, kusir pedati dan pemikul jerami juga sudah turun, bahkan pemikul jerami sedang memberi sedikit jerami pada sapi pedati.

Gambar yang lebih rumit lagi misalnya sekumpulan orang sedang berada di dekat sumur, ada yang sedang menimba, ada yang sedang mencuci, ada yang berdiri dekat ember. Dan seterusnya.

Apa yang diteliti? Gambar itu diteliti, apakah mudah atau sulit ditangkap anak (untuk dibuat karangan). Diteliti juga apakah kurang sederhana, atau terlampau sederhana? Ingat: Yang akan dicapai lewat “latihan” itu apakah anak bisa membuat satu kalimat, dua kalimat, atau tiga kalimat (satu paragraf) dari setiap gambar? Itu yang diperhatikan. Berdasar target itulah proses tindakan diteliti. Tentu harus dicermati benar apakah murid bisa membuat kalimat yang baik dan benar.

Sayangnya, pasti tidak semua guru bisa membuat gambar-gambar dimaksud. Ya, harus kreatif mencari-cari bahan dari berbagai majalah, koran dll.

Untuk mampu mengarang (membuat kalimat) dalam buku pelajaran bahasa yang baik biasanya ada latihan menyusun (merangkai) kalimat dari potongan kata-kata. Itu yang paling sederhana. Lebih rumit sedikit berupa merangkai kalimat menjadi paragraf. Lebih rumit lagi menyusun paragraf-paragraf menjadi kesatuan paparan yang runtut. Pola itu diubah. Bukan merangkai, tapi membuat, dengan disajikan satu kata kunci. Misal: pasar, sayuran, boneka, uang. Masing-masing dibuat satu kalimat (sederhana). Kemudian kalimat-kalimat itu dijadikan kalimat yang berantai menjadi satu untaian “ceritera” (agak rumit).

Jadi, yang paling utama untuk dipikirkan oleh calon peneliti PTK adalah bisakah menemukan “alat tindakan” yang paling tepat untuk memecahkan masalah di kelasnya? Atasilah masalah tanpa masalah! Jangan membunuh nyamuk dengan meriam, tapi jangan juga menggunakan tiupan mulut. Temukan yang dipandang akan efektif dan efisien, UNTUK DIUJICOBAKAN DAN DITELITI guna mendapatkan yang paling efektif dan efisien.

Itulah kenapa PERTANYAAN PENELITIAN (RUMUSAN MASALAH) dalam penelitian tindakan (kelas) itu lazim dirumuskan dengan “How can …. improve ….” (Bagaimana bisa … meningkatkan ….). Alias “bagaimana ceriteranya …. (misal metode demonstrasi) bisa meningkatkan … (misalnya rasa senang anak mempelajari materi pelajaran IPA).

Di Indonesia rumusan masalah (pertanyaan penelitian) PTK itu lazimnya dirumuskan dengan “Apakah … bisa meningkatkan ….” Itu akan terjawab (nantinya) dengan bisa atau tidak bisa. Berbeda dengan “bagaimana bisa …” yang akan dijawab “begini begitu, maka jadinya bisa ….”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s