TEORI MOTIVASI MASLOW: Versi Baru

Tatang M. Amirin, 15 Februari 2010; 20 Februari 2010

Salah satu teori tentang motivasi yang sangat populer adalah teori jenjang kebutuhan (the hierarchy of needs) yang dirumuskan Maslow. Jadi, sebenarnya Maslow tidak berbicara (mengkaji) motivasi, melainkan kebutuhan dasar insani. Dengan kata lain,  sebenarnya teori Maslow adalah mengenai kebutuhan dasar insani (the basic human needs), bukan mengenai motivasi. Akan tetapi, kemudian dikenal sebagai teori motivasi Maslow. Mengapa demikian? Adakah hubungan logis kebutuhan (needs) dengan motivasi, sehingga walaupun yang dibicarakan Maslow mengenai needs, tetapi disebut juga dengan motivation?

Mengenai kenapa teori kebutuhan dasar insani (basic human needs) itu menjadi disebut juga sebagai teori motivasi, dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pada diri manusia ada sejumlah kebutuhan dasar, kebutuhan yang asasi, yang mau tidak mau harus dipenuhi. Kebutuhan itu bersifat intuitif, ada dengan sendirinya, seperti juga ada pada hewan, walau tentu tidak sama kandungannya.  Oleh karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi tersebut, maka manusia terdorong (termotivasi) untuk mencari jalan (upaya) memenuhi kebutuhan tersebut. Jika kebutuhannya itu terpenuhi, maka manusia akan merasa “puas” (satisfied), dan sebaliknya, menjadi unsatisfied. Jadi, kebutuhan mendorong mucnulnay motivasi. Itulah sebabnya teori kebutuhan Maslow itu disebut juga dengan teori motivasi. Dengan kata lain, teori motivasi Maslow berdasarkan kebutuhan dasar insani.

Samakah kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants), dan motivasi? Kebutuhan (needs) manusia itu membuat seseorang menjadi berkeinginan (wants). Keinginan itu lalu membuat orang termotivasi (mempunyai motivasi) untuk melakukan sesuatu kegiatan atau perbuatan (upaya = efforts) untuk memenuhi kebutuhannya itu, atau untuk mencapai apa yang diinginkannya itu. Jadi, jika digambarkan, tampak seperti dalam ilustrasi berikut.

NEEDS —–> WANTS —–> MOTIVATION —> EFFORTS

Nah, mari kita beri contoh. Perut kita keroncongan (berbunyi). Itu terjadi karena usus yang biasanya berisi makanan, sekarang dalam keadaan kosong. Perut MEMBUTUHKAN makanan. Orang merasakan adanya KEBUTUHAN (NEEDS) akan makanan yang berupa RASA LAPAR. Rasa lapar (butuh makanan) itu menjadikan orang INGIN makan. Keinginan untuk makan itu MEMOTIVASI orang untuk berusaha mencari makanan.

Kerongkongan kita terasa kering, kita BUTUH minum. Kebutuhan akan minum itu mendorong (memotivasi) kita untuk mencari minuman. Kita gerah kepanasan oleh udara yang panas. Kita MEMBUTUHKAN udara yang segar. Kebutuhan akan udara yang segar itu memotivasi kita “keluar” dari situasi gerah mencari udara segar. Kita ngantuk (tubuh kita membutuhkan istirahat). Kebutuhan akan istirahat (tidur) itu mendorong (memotivasi) kita untuk tidur.

Bagaimana kaitannya dengan KEINGINAN (WANTS)? Perut yang membutuhkan makanan (rasa lapar) itu dapat menimbulkan KEINGINAN (WANTS) untuk makan (ingin makan). Keinginan untuk makan itu MENDORONG (MEMOTIVASI) orang tersebut untuk mencari makanan. Ingat: rasa lapar (butuh makan) dan ingin makan itu tidak selalu memotivasi untuk mencari makanan dan makan (pada orang yang sedang puasa, misalnya).

Kasus yang “lebih tinggi” misalnya orang yang terbiasa salat malam. Kebiasaan salat malam itu menjadikannya semacam kebutuhan intuistik, alami, intrinsik. Dalam ketidaksadaran (tertidur) pun, secara naluriah “otak” (bawah sadarnya) memimpi-mimpikannya salat malam, bahkan dapat membangunkannya untuk salat malam.

Apa saja yang merupakan kebutuhan dasar insani yang dapat memotivasi orang untuk melakukan kegiatan atau perbuatan tertentu itu? Maslow merumuskannya sebagai berikut (1943-an).[http://www.timlebon.com/maslow.html; 2006]

Sumber: Wikipedia

Lima kebutuhan dasar insani seperti digambarkan dalam dua diagram di atas merupakan asal mula Teori Kebutuhan Dasar Insani (Baic Human Needs Theory) rumusan Maslow. Kebutuhan dasar insansi itu dipandang Maslow sebagai suatu piramida perjenjangan (hirarki). Yang paling dasar adalah kebutuhan biologis-jasmaniah, diikuti kemudian oleh kebutuhan akan rasa aman (keamanan), kemudian keterterimaan (diakui sebagai bagian dari kelompok manusia) dan kasih sayang, kemudian harga diri, dan terakhir perwujudan (aktualisasi) diri. Kebutuhan yang lebih atas, menurut Maslow,  tidak akan muncul pada manusia sebelum secara minimal kebutuhan yang berada di bawahnya sudah tercukupi.

Selanjutnya hirarki kebutuhan dasar insani Maslow itu direvisi orang (Maslow sudah meninggal) menjadi sebagai berikut (1970).

1. Biological and Physiological needs – air, food, drink, shelter, warmth, sex, sleep, etc.

2. Safety needs – protection from elements, security, order, law, limits, stability, etc.

3. Belongingness and Love needs – work group, family, affection, relationships, etc.

4. Esteem needs – self-esteem, achievement, mastery, independence, status, dominance, prestige, managerial responsibility, etc.

5. Cognitive needs – knowledge, meaning, etc.

6. Aesthetic needs – appreciation and search for beauty, balance, form, etc.

7. Self-Actualization needs – realising personal potential, self-fulfillment, seeking personal growth and peak experiences.

Kemudian pada tahun 1990-an hirarki tersebut direvisi lagi menjadi sebagai berikut ( Huitt, W. ; 2007. “Maslow’s hierarchy of needs.” Educational Psychology Interactive. Valdosta, GA: Valdosta State University. Retrieved [date] from, http://www.edpsycinteractive.org/topics/regsys/maslow.html)

Jadi, ada perubahan jumlah dan hirarki menjadi sebagai berikut:

(1) Kebutuhan biologis-jasmaniah;

(2) Kebutuhan akan rasa aman;

(3) Kebutuhan akan keterterimaan dalam/oleh kelompok dan kasih sayang;

(4) Kebutuhan akan harga diri dan penghargaan;

(5) Kebutuhan akan tahu dan paham;

(6) Kebutuhan estetika (keindahan);

(7) Kebutuhan akan perwujudan diri;

(8) Kebutuhan akan transendensi (membantu orang lain mewujudkan dirinya).

Rincian garis besar isi tiap kebutuhan tersebut sebagai berikut.

1. Biological and Physiological needs – air, food, drink, shelter, warmth, sex, sleep, etc.

2. Safety needs – protection from elements, security, order, law, limits, stability, etc.

3. Belongingness and Love needs – work group, family, affection, relationships, etc.

4. Esteem needs – self-esteem, achievement, mastery, independence, status, dominance, prestige, managerial responsibility, etc.

5. Cognitive needs – knowledge, meaning, etc.

6. Aesthetic needs – appreciation and search for beauty, balance, form, etc.

7. Self-Actualization needs – realising personal potential, self-fulfillment, seeking personal growth and peak experiences.

8. Transcendence needs – helping others to achieve self actualization.

Maslow dan rekannya, tentu saja tidak memunculkan kebutuhan religius (seperti dalam contoh salat malam itu) ke dalam hirarkinya (karena pahamnya bisa berbeda). Atau, yang seperti itu dianggapnya bukan bersifat alamiah dan intuistik, melainkan sesuatu yang dipelajari, yang diperoleh dari kehidupan berpengalaman? Tidak tahu pasti jawabannya.

Teori Maslow sebenarnya bukan hasil penelitian ilmiah, melainkan hasil renungan-penalaran-amatan. Itu kata para ahli. Akan tetapi teorinya dipakai dan diakui sebagai sesuatu layaknya kebenaran ilmiah, dianggap sesuatu yang valid (sahih).

Nah, yang selama ini agak kurang banyak diketahui orang adalah bahwa Teori Kebutuhan Dasar Insani (Teori Motivasi) Maslow ini dikenal pula sebagai Teori Z, seperti dikatakan Wikipedia berikut.

Theory Z is a name applied to two distinctly different psychological theories. One was developed by Abraham H. Maslow in his paper Theory Z and the other is Dr. William Ouchi’s so-called “Japanese Management” style popularized during the Asian economic boom of the 1980s.

Abraham Maslow, a psychologist and the first theorist to develop a theory of motivation based upon human needs produced a theory that had three assumptions. First, human needs are never completely satisfied. Second, human behavior is purposeful and is motivated by need satisfaction. Third, these needs can be classified according to a hierarchical structure of importance from the lowest to highest (Maslow, 1970): 1. Physiological needs 2. Safety needs 3. Belongingness and love needs 4. The esteem needs – self-confidence 5. The need for self-actualization – the need to reach your full potential

Maslow’s hierarchy of needs theory helps the manager to understand what motivates an employee. By understanding what needs must be met in order for an employee to achieve the highest-level of motivation, managers are then able to get the most out of production.

Advertisements

41 thoughts on “TEORI MOTIVASI MASLOW: Versi Baru

    • Wah, maaf, tidak punya. Mau menggali apa, sih? Hati-hati, teori motivasi Maslow berkaitan dengan “need” yang bisa tidak sama (tak sejalan) dengan motivasi belajar. Orang bekerja mencari nafkah itu sebagian keperluannya untuk apa? Mungkin itu cocok pakai teori Maslow.

  1. Pingback: 2010 in review | tatangmanguny's blog

  2. maaf pak, mau tanya..apakah teori motivasi maslow cocok dengan motivasi pasien yang datang puskesmas?terimakasih..

    • Tidak, teori maslow lebih ke sifat umum, kebutuhan dasar manusia, bukan khusus. Yang ke puskesmas (bukan ke dokter pribadi atau rumah sakit) tentu ada “motif” lain.

  3. maaf pak tatang tnya lg..kira-kira motif apa yaa pak yg pas?setau saya motivasi cm belajar dan kerja..

    • Lha yang mau diteliti tentang motivasi apa? Ke puskesmas kan yang motivasinya mau sembuh, kan? Apa ada yang ke puskesmas mau bisnis? Bisa juga ya, tapi bukan pasien.

  4. ass…
    saya mau nanya pak, ada ga ahli psikologi yang menjadikan the hierarchy of needs dari maslow sebagai faktor yang mempengaruhi motivasi… soalnya saya lagi meneliti tentang motivasi berkompetisi pada pedagang, tapi saya sedikit kesulitan cari teorinya..
    satu lagi klo saya pakai motivasi kerja tuk variabel motivasi kerja, cocok ga pak..
    makasih.. ass

    • ass…
      saya mau nanya pak, ada ga ahli psikologi yang menjadikan the hierarchy of needs dari maslow sebagai faktor yang mempengaruhi motivasi… soalnya saya lagi meneliti tentang motivasi berkompetisi pada pedagang, tapi saya sedikit kesulitan cari teorinya..
      satu lagi klo saya pakai motivasi kerja tuk variabel motivasi berkompetisi, cocok ga pak..
      makasih.. ass

      • Jadi, motivasi berkompetisi itu ya dicari sajalah dari lapangan, ada enggak sih kemauan mereka untuk berkompetisi, dan dalam sisi (aspek) apa mereka berkompetisi?!

    • Teori motivasi Maslow itu teori kebutuhan dasar manusia (needs theory), bukan motivasi yang itu, tidak selalu cocok. Nah, kalau motivasi berkompetisi belum tahu teori siapa, ya? Soalnya yang populer itu teori nAch (needs for achievement) alias kebutuhan berprestasi (jadi bisa juga berkompetisi), selain nAff (needs for affiliation) kebutuhan untuk bergabung dalam kelompok manusia.

    • Orang butuh (need) apa, lalu menjadi termotivasi apa, dan akhirnya berusaha (wirausaha) apa; itu saja, kan? Kalau orang butuhnya hanya sehari-sehari (bukan sehari-hari) bisa makan, ya usahanya hanya cari makan sehari, nanti cari lagi untuk sehari, dan seterusnya. Tapi jika punya kebutuhan “selamat ” di hari-hari berikut yang panjang (savety), ya kan berusaha mencari dan menabung (saving) dan meningkatkan “tabungan” (production). Itu sederhananya.

  5. assalamu’alaikum..mksh pak artikelnya membantu saya membuat outline..
    motivasi anak-anak untuk menonton suatu program bisa memakai teori maslow kan pak??
    terima kasih pak..
    wassalamu’alaikum..

  6. pak saya mau tanya apakah bisa dalam meneliti kasus perebutan wilayah khasmir antara india dan pakistan bisa menggunakan teori basic human need pak? soalnya saya lagi kebingungan dalam menggunakan teori ini dalam analisi saya pak, mohon bantuannya.
    trimakasih pak

  7. maap banget ne pak.. sumber yg menyatakn perubahan teori itu sumbernya dari buku apa ya pak? lalu yg merevisi (upgrade) teori tersebut dari maslow siapa ya pak? saya perlu sumber nya ne… hehehe… terimakasih,,

  8. kata Bapak “teori motivasi Maslow berkaitan dengan “need” yang bisa tidak sama (tak sejalan) dengan motivasi belajar.”. Teori motivasi yang sejalan dengan motivasi belajar apa saja Pak? mohon bantuannya.
    Terimakasi

    • Orang belajar kan tidak karena motivasi jasmaniah, rasa aman, kasih sayang dsb. Coba buka buku teman Bapak, Pak Sardiman, mantan dekan 2 kali FIS(E) UNY. Cari di perpus! Orang belajar itu motivasinya intrinsik karena dorongan ingin tahu, suka ilmu, seneng ilmunya dan sebagainya. Tapi ada juga yang “belajar” untuk dapat ijazah terus kerja dengan gaji gede! Hehehehe…. Itu mah bukan belajar beneran!

    • Ada yang bilang bisa. Tapi menurut saya gak cocok. Itu teori kebutuhan dasar kehidupan. Untuk teori motivasi belajar, mungkin teori ekspekstasi malah agak cocok, walaupun itu motivasi kerja. Coba kaitkan teori-teori belajar (tapi ini mungkin hanya bisa dilakukan bagi yang sangat cerdas, atau S2 dan S3). Cari buku Pak Sardiman, terbitan RajaGrafindo Persada!

  9. salam kenal, Pak Tatang.
    saya izin share ke facebook karena saya sedang teratrik untuk berdiskusi dengan teman se-profesi (psikologi) mengenai Revisi Teori Motivasi Maslow.
    terimakasih sebelumnya. 🙂

  10. Assalamualaikum pak.. maaf mau bertanya, kalau teori motivasi yg cocok utk penelitian motivasi berobat kira2 yg mana ya pak? trimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s