MAJALENGKA – MAJAeLaNGKA: Salah “matan” atawa salah “sanad? [Telaah kritis historis-dokumenter]

Tatang M. Amirin; Edisi 25 September 2009; 5 Oktober 2009; 12 Oktober 2009; 5 September 2010; 6 Oktober 2010; 17 Oktober 2010; Juli 2012

Penelitian Historis-Dokumenter

Untuk memahami sebagian dari metodologi penelitian historis(penelitian sejarah) berikut dinukilkan tulisan Nina H. Lubis.

Analisis Historis Tentang Sunan Gunung Djati

Posted on Salasa, 4 Maret 2008 by Ki Santri

Oleh NINA H. LUBIS

JEJAK-JEJAK (traces) suatu peristiwa sejarah dapat dilacak melalui sumber-sumber (sources) yang ditinggalkannya. Jadi, jejak-jejak tentang Sunan Gunung Djati, bisa dilacak melalui sumber-sumber yang ditinggalkannya. Dilihat dari asal-usul sumber, sumber sejarah dapat diklasifikasikan menjadi sumber primer dan sumber sekunder, dan sumber tersier (Garraghan, 1946: 107, Alfian, 2000:9).

Yang dimaksud dengan sumber primer (primary sources) adalah bila sumber atau penulis sumber menyaksikan, mendengar sendiri (eye-witness atau ear-witness), atau mengalami sendiri (the actor) peristiwa yang dituliskan dalam sumber tersebut. Jadi, sumber hidup sezaman dengan peristiwanya itu sendiri. Sumber primer dapat dibagi dua pula, yaitu strictly primary sources (sumber primer yang kuat) dan less-strictly primary sources atau contemporary primary sources (sumber primer yang kurang kuat atau sumber primer kontemporer). Yang pertama menunjuk pada sumber yang tergolong saksi mata (eye-witness) atau pelaku (the actor), sedangkan yang kedua menunjuk pada si penulis sumber bukan saksi atau pelaku, hanya hidup sezaman dengan peristiwa.(Garraghan, 1946).

Yang dimaksud dengan sumber sekunder adalah bila sumber atau penulis sumber hanya mendengar peristiwa itu dari orang lain. Dalam hal ini, harus dibedakan antara sumber sekunder dengan sumber kontemporer. Untuk mudahnya, dapat dikatakan bahwa sumber sekunder sumber tidak hidup sezaman. Yang dimaksud dengan sumber tersier adalah semua karya tulis sejarah yang bersifat ilmiah.

Sebuah sumber sejarah mengandung informasi sejarah yang terdiri dari data (keterangan) sejarah. Data belum tentu merupakan fakta sejarah. Untuk mencari fakta, maka harus dilakukan kritik terhadap sumber sejarah. Pertama, harus dilakukan kritik ekstern, yaitu menentukan otentisitas sumber. Untuk itu diteliti:

  1. Kapan sumber itu dibuat
  2. Di mana sumber itu dibuat
  3. Materi (kertas dan tinta) apa yang dipakai.
  4. Jenis huruf, tanda tangan, meterai, tulisan tangan.
  5. Apakah sumber itu asli atau turunan. Ini berlaku terutama untuk naskah-naskah lama.
  6. Apakah sumber itu utuh atau telah diubah-ubah.

Tahap selanjutnya adalah melakukan kritik intern, yaitu untuk menentukan kredibilitas sumber. Apakah suatu sumber dapat dipercaya atau tidak isinya, perlu diteliti dua hal penting:

  1. Kemampuan sumber untuk menyampaikan kebenaran suatu peristiwa. Kemampuan ini ditentukan oleh: pertama, kedekatan pelaku atau saksi dengan peristiwa, baik kedekatan waktu maupun ruang. Jadi, bila suatu sumber ditulis oleh orang yang berada di tempat suatu peristiwa terjadi akan lebih tinggi kredibilitasnya dibandingkan dengan sumber yang ditulis oleh orang yang tidak hadir di tempat itu. Juga, suatu sumber yang ditulis oleh orang yang hidup pada waktu peristiwa itu terjadi atau hidup sezaman dengan peristiwa itu, akan lebih tinggi kredibilitasnya bila dibandingkan dengan sumber yang ditulis oleh orang yang tidak sezaman. Makin jauh dari ruang dan waktu peristiwa itu terjadi, makin rendah kredibilitas suatu sumber; dan, kedua, kompetensi pelaku atau saksi, yang ditentukan oleh tingkatan keahlian (pendidikan), kesehatan fisik dan mental, usia, ingatan, ketrampilan bercerita, dsb.
  2. Kemauan sumber untuk menyampaikan kebenaran. Hal ini dapat ditentukan oleh seberapa jauh kepentingan pelaku atau saksi dalam peristiwa itu.(Garraghan, 1946: 338-346; Gottschalk, 1975: 103-106)

Selanjutnya, harus dilakukan perbandingan antara sumber-sumber, yang bebas satu sama lain atau tidak saling mempengaruhi. Dari hasil perbandingan ini dihasilkan satu dukungan penuh untuk sebuah fakta. Prosedur ini disebut koroborasi. Jelaslah, bahwa fakta dalam hal ini adalah sebuah konstruk (Kartodirdjo, 1992:17).

Artinya, fakta dibangun oleh pikiran sejarawan. Fakta-fakta inilah yang kemudian diinterpretasikan oleh sejarawan, sehingga lahir sebuah sintesis, yang tentu saja tidak bisa lepas sepenuhnya dari unsur subyektif si sejarawan itu  sendiri, meski ia berusaha untuk obyektif. Itulah sebabnya, sebuah kisah sejarah dapat diubah dengan jalan melakukan reinterpretasi. Akan tetapi, reinterpretasi ini, hanya bisa dilakukan apabila:

  1. Ditemukan sumber kontemporer yang sebelumnya tidak ditemukan.
  2. Adanya kekeliruan yang terdapat dalam sumber-sumber terkait.
  3. Adanya interpretasi baru terhadap fenomena sejarah yang telah dikenal (Alfian, 2000:9).

Ketika melakukan interpretasi, maka pendekatan yang bersifat hermeneutika dapat dipergunakan. Secara lebih tepat, metode verstehen yang dikemukakan oleh Wilhelm Dilthey bisa dipergunakan sehingga analisis yang dilakukan benar-benar historical-mindedness.(Haddock, 1980: 152; Ankersmith, 1987: 153-170; Lloyd, 1988: 85-95; Iggers,1997: 39)

Apabila sumber yang ada ternyata ada satu sumber primer, sehingga tidak ada sumber pembanding, atau sumber-sumber yang ada hanya merupakan sumber-sumber sekunder tanpa ditemukan sumber primer sebagai pembanding, sehingga prosedur koroborasi tidak dapat dilakukan, maka berlakulah prinsip argumentum ex silentio. Artinya, pendapat ini untuk sementara bisa diterima asalkan tidak terdapat kontradiksi di dalamnya. Perlu ditegaskan bahwa prinsip ini dalam metode sejarah merupakan cara pengujian yang lemah (Garraghan, 1946: 162-166).

Tulisan berikut merupakan tulisan Penulis (Edisi sebelum 12 Oktober 2009), dengan memperbandingkan analisis historis dengan analisis atau kajian penelaahan (muthalaah) hadis Nabi Muhammad saw yang dikenal dengan sebutan ilmu Musthalahul-Hadis.

Telaah Kritis Internal (“Matan”) dan Eksternal  (“Sanad”) Dokumen Sejarah

Dalam melakukan penelitian sejarah (lazim disebut penelitian historis-dokumenter) peneliti akan berhadapan dengan dua hal pokok, yaitu dokumen (sumber sejarah) dan isi dokumen (tuturan/paparan sumber sejarah). Istilah dokumen sejarah itu dimaknai dalam arti luas, sehingga wujudnya bisa bermacam-macam, bukan hanya dokumen tertulis, melainkan mencakup segala macam sumber sejarah, mencakup orang dan benda-benda peninggalan sejarah.

“Orang-orang sejarah” akan termasuk orang-orang pelaku sejarah dan orang-orang yang diceriterai oleh pelaku sejarah. “Ceritera sejarah” yang diceriterakan itu kemudian bisa menjadi “tutur tinular,” ceritera (tuturan) yang ditularkan, diceriterakan lagi dan diceriterakan lagi dari generasi ke generasi. Jadilah kemudian semacam “sejarah lisan.”

Dokumen-dokumen dan benda-benda peninggalan sejarah lainnya, dapat berupa berupa bangunan, peralatan dan perabotan (alat-alat pertanian, perang dsb), prasasti, dan juga benda-benda arkeologis.

Yang paling populer dijadikan sumber penulisan sejarah jaman dahulu kala di Indonesia adalah prasasti, babad dan ceritera rakyat. Prasasti merupakan benda berisikan data-data tentang peristiwa tertentu (pendirian kerajaan, penobatan raja dan peristiwa penting lainnya). Babad merupakan ceritera kesejarahan tertulis, sementara ceritera rakyat merupakan ceritera kesejarahan lisan.

Pada ketika peneliti ingin menganalisis dokumen sejarah dan isinya, ada dua “metode” telaah kritis yang dilakukan, yaitu “telaah kritis” internal (lazimnya disebut kritik internal), dan “telaah kritis” eksternal (lazimnya disebut kritik eksternal).

Telaah kritis internal menganalisis “kebenaran” isi dokumen. Dalam Ilmu Mustolah Hadis telaah kritis internal ini dikenal dengan telaah terhadap “matan” hadis. Jelasnya, apakah “logis” Nabi Muhammad mengatakan yang seperti itu, atau apakah tidak bertentangan dengan hadis-hadis Nabi lainnya, dan sebagainya.  Jadi, dalam sejarah, dipertanyakan (dikritisi) apakah benar (logis dsb), misalnya, jika ada yang “menulis” dalam babad–sekedar contoh– bahwa Raja Anu adalah keturunan Dewa Anu, dan Dewa Anu merupakan keturunan Nabi Adam dari Nabi Syis.

Contoh lainnya, apakah benar ceritera rakyat yang menyatakan bahwa Semar meninggal dan dikuburkan di Gunung Srandil, Cilacap, Jawa Tengah. Kita tahu bahwa Semar hanyalah wayang rekaan (katanya) para Wali, tidak ada bukti fisiknya berupa seseorang yang bisa meninggal dan dikuburkan.

Telaah kiritis eskternal menelaah “kebenaran” dokumen (termasuk prasasti, babad, benda sejarah, dan ceriterara rakyat). Dalam Ilmu Mustolah Hadis, karena hadis itu diriwayatkan secara berantai dari Nabi Muhammad saw (disebut “sanad”), merupakan telaah kiritis terhadap sanad tersebut. Maksudnya, antara lain, apakah benar orang-orang yang disebut dalam sanad itu saling bertemu (sehingga benar-benar yakin diceriterai). Selain itu, ditelaah pula apakah periwayat (rawi) tersebut termasuk orang atau orang-orang yang bisa “dipercaya” (handal) sebagai periwayat. Jangan-jangan ia pembohong, suka ngarang ceritera, atau ingatannya tidak baik.

“Buku sejarah” (termasuk babad), bisa benar bisa tidak. Sejarah (history) bisa isinya merupakan “his story” (ceriteranya), ceritera karangannya, atau hanya memuat apa-apa yang merupakan “jasa baiknya” semata sebagai pelaku sejarah, atau menurut pemahaman, persepsi, atau penilaiannya, bukan apa adanya secara utuh menyeluruh.  Bahkan, bisa jadi, menurut kepentingan politis tertentu.

Ceritera (tururan lisan) sejarah turun temurun lama kelamaan bisa berubah banyak, karena ingatan orang juga terbatas, dan bisa pula ditambah-dikurangi. Oleh karena itulah maka tuturan lisan akan harus sangat hati-hati untuk dijadikan sebagai sumber sejarah.

Dalam tuturan lisan ada kalanya legenda dimunculkan. Karena keadaan alam tertentu, maka dibuat dongeng tentangnya (misalnya Sang Kuriang Gunung Tangkuban Parahu). Atau, karena ada nama tertentu, dibuatlah dongeng yang sesuai dengan nama tersebut, menurut versi pemaham nama itu sendiri. Jadi, surabaya itu apakah ikan sura dan baya (boyo, buaya), ataukah SURApati jagaBAYA? Hehe, kan boleh juga saya pakai “kirata basa” (mengira-kira bahasa yang agak cook, gitu!).

Huap lingkung (salingsuap antara pengantin pria dan wanita dan saling tarik ayam bakar) dalam tradisi pengantinan Sunda, misalnya, bisa benar berasal dari tradisi salingsuap (pahuap-huap) nasi, di tengah lingkung(an) orang-orang yang berkerumun, bisa juga sebenarnya huap ingkung (huap bakakak), saling suap ayam bakar. Ingkung itu bakakak ayam menurut istilah Jawa Tengah (Mataram). Tradisi tersebut bisa jadi diadopsi orang Sunda dari tradisi Mataram, hanya saja istilah ingkung yang “tak cocok” dengan bahasa Sunda diubah jadi lingkung (supaya “meaningful” di telinga orang Sunda–Nah ini nafsiri lagi!. Hehehe . . .)

Majalengka: Majae-langka Atawa Majapahit?

Salah satu contoh penerapan telaah kritis internal dan eksternal dokumen sejarah kita coba dengan contoh “kota” (Kabupaten?) Majalengka di Jawa Barat. Konon, menurut yang “mengarang sejarah” populer di masyarakat, sebutan majalengka itu berasal dari bahasa Cirebon “majae-langka” (pohon/hutan majanya tidak ada). Itu, konon, diteriakkan oleh orang-orang (prajurit Cirebon; ada yang bilang juga orang-orang Sindangkasih) yang akan menyerbu kerajaan Sindangkasih (tiga kilometer selatan kota Majalengka sekarang), yang ternyata Ratu, keraton, dan seluruh pohon maja yang ada di situ “moksha” alias hilang tanpa bekas.

Kritisi pertama, eksternal (“sanad”): dokumen yang digunakan dokumen tuturan lisan, bukan tertulis. Jadi, kelemahannya sangat amat banyak sekali.

Kedua, kritisi internal (matan): Yang akan diserbu prajurit Cirebon itu kerajaan (kraton) Sindangkasih beserta ratunya Nyi Rambut (Ambet) Kasih, bukan hutan apalagi pohon maja. Orang Belanda “menyerbu” Indonesia, pertama-tama dan terutama,  akan “menjarah” rempah-rempah (itu contoh pembandingnya). Menguasai kerajaan apapun dilakukan dalam rangka menguasai rempah-rempah dan jalur perdagangannya. Karena itu yang didirikan Belanda itu VOC (perusahaan dagang), bukan “kerajaan Belanda-Indonesia.”

Maka, tidak nalar tidak logis, jika yang akan diserbu keraton Sindangkasih dan ratu Nyi Rambut Kasih, saat semuanya menghilang, yang diteriakkan justru ‘MAJAE  LANGKA” (pohon majanya tidak ada), atau, katakanlah “alas majae langka” (hutan majanya tidak ada). Kenapa tidak diteriakkan keraton Sindangkasih langka? Atau Ratu Nyi Rambut Kasih langka? Hutan dan pohon maja di sebelah mana yang “langka” alias hilang? Apakah pohon atau hutan maja itu hanya ada di sekitar keraton Sindangkasih saja (yang hilang)?

Selain itu, kenapa teriakannya menjadi majae langka, bukan majae ilang (pohon atau hutan majanya hilang)? Langka (bahasa Jawa cirebonan) itu artinya tidak ada, bukan hilang. Padahal para prajurit itu kaget dan heran, sebab hutan majanya hilang (semula ada). Pasti, nalarnya, mereka (harusnya) akan meneriakkan “majae ilang!” (ilang bahasa Jawa cirebonan, dan jogjaan juga, artinya hilang).

Sebutan majaelAngka juga tidak nalar bisa berubah menjadi majalEngka; jika mau nalar ya jadi MajElangka (dua vokal berjejer “ae” kagok disebut, jadi salah satu yang disebut, seperti “cai” menjadi ci–Cilutung, Cideres, Cikiruh–terpengaruh Jawa Cirebon jadi Cikeruh–tidak jadi “Cakeruh, Calutung, Caderes”!), dan kai (kayu, pohon) menjadi ki (kibeusi, kibunut–tidak jadi “kabeusi, kabunut”).

Mendongengkan Majalengka seolah-olah dari kata majae langka jelas hanya sekedar kirata basa (mengira-kira bahasa atau kata). Kebetulan bahasa (kata) yang paling dekat dikenal masyarakat setempat adalah langka (bahasa Cirebon yang berarti tidak ada). Para “pendongeng” kirata basa itu tidak kenal istilah “lengka” (bahasa Jawa Kuna atau Kawi?–Pen) yang berarti pahit. Majalengka itu sebutan lain dari Majapahit (tertulis dalam babad-badad). Lengka (leng dalam lengkap) artinya pahit, bahasa halusnya lengkit (itu kata teman saya “orang Jogja” ahli antropologi dan bahasa Jawa).

Ini kutipan sebutan Majalengka untuk Majapahit dalam babad Demak.

BABAD DEMAK PESISIRAN

Mei 11, 2009

PUPUH 01
Asmaradana

Bismillahirrohmanirrohim

۩۩۩ 01 ۩۩۩

Ingsun amimiti amuji, anebt nama Yang Suksma, kang murah hing dunya mangke, ingkang (……..) ing akherat (1), kang pinuji datan pegat, angganjar kawelas ayun, angapura wong kang dosa.

[Saya mulai dengan memanjatkan puji, menyebut asma Yang Maha Lembut (“al-Latif”)–Pen.), yang Maha Pemurah (Ar-Rahman–Pen.) di dunia, dan (Yang Maha Pengasih/Ar-Rahim–Pen.) di akherat, yang Maha Terpuji tanpa batas, yang mengaruniakan asih (rahmat–Pen.), yang mengampuni semua orang yang berdosa.]

۩۩۩ 47 ۩۩۩

Nurunaken raja Kumpeni, ing tanah Englan lan Peresman, lawan tanah Sopahnyole, kocapa Ciyung Menara, sesirnane ingkang rama, punika jemeng prabu, ing negara Pajajaran.

[Menurunkan raja-raja Kumpeni, di tanah England (Inggris) dan Perancis, dan juga di tanah Spanyol, sementara terkisahkan Ciung Wanara, setelah wafatnya ayahanda, lalu menjadi raja, di negara Pajajaran].

۩۩۩ 48 ۩۩۩

Raden Suruh jumeneng aji, ing negara Majalengka, Berawijaya jejuluke, apeputera Berakumara, gumati ing Majalengka, Beraku /15/ mara asesunu, ingkang nama Araden Wijaya.

[Raden Suruh menjadi raja, di negara Majalengka, sebutannya Brawijaya, berputrakan Brakumara, berkedudukan di Majalengka, (berketurunankan (?))…, yang bernama Raden Wijaya].

۩۩۩ 49 ۩۩۩

Araden Wijaya sesiwi, kang nama Kartawijaya, Kartawijaya puterane, kang nama Anggawijaya, punika ingkang wekasan, ngadeg perabu Majalangu, tunggal nama Berawijaya.

[Raden Wijaya berputra, yang bernama Kartawijaya, putra Kartawijaya, yang bernama Anggawijaya, itu yang terakhir, menjadi raja Majalangu, berjulukkan juga Brawijaya].

Ada dua nama kerajaan yang disebut, yaitu Majalengka dan Majalangu. Dua nama itu menyebut kerajaan yang sama, sama-sama Majapahit.

J.A. Scheltema, M.A. dalam bukunya yang berjudul Monumental Java, McMillan, London, 1912 (online dari Cornell University Library), antara lain menuliskan begini (tulis tebal dari Penulis).

The foundation of Mojopahit has been attributed to scions of several royal families, among them to Raden Tanduran, a prince of Pajajaran in West Java which, it will be remembered, owed its origin to princes of Tumapel. The most widely accepted reading is, however, that a certain Raden Wijaya,  commander of the army of King Kertanegara, great-grandson of Ken Angrok, profiting from his master’s quarrel with Jaya Katong, ruler of Daha in those days, carved out a kingdom for himself, reclaiming, always with that end in view, a large area of wild land, Mojo Lengko or Mojo Lengu, near Tarik in Wirosobo, the present Mojokerto.

[Pendirian Mojopahit umumnya dikaitkan kepada beberapa keturunan raja-raja, antara lain kepada Raden Tanduran, pangeran dari Pajajaran di Jawa barat, yang akan dikenang selalu, sebagai keturunan pangeran-pangeran Tumapel. Akan tetapi, sumber bacaan yang paling layak diterima adalah yang menyatakan bahwa Raden Wijaya, panglima balatentara Prabu Kertanegara, cicit laki-laki Ken Angrok, mengambil keuntungan dari pertikaian rajanya dengan Jaya Katong, penguasa Kerajaan Daha pada saat itu, berusaha, dengan tujuan mendirikan kerajaan itu, mengolah lahan luas tak bertuan, yang bernama (dinamai) Mojo Lengko atau Mojo Lengu, di dekat desa Tarik di wilayah Wirosobo, Mojokerto sekarang.

Lengka dalam kamus Jawa Kawi Indonesia karangan Maharsi, diartikan sebagai noda, kotoran, sampah, tapi juga nama kerajaan (pasti yang dimaksud Majalengka atau Majapahit). Lengu (langu) diartikan berbau langu, tidak sedap, memuakkan, memualkan, menjijikkan. Jadi, mungkin disebut demikian karena daerah itu banyak pohon majanya dan bau tanahnya langu (busuk) karena banyak lengka (sampah, kotoran).

Jadi, majalengka itu daerah yang banyak pohon (hutan) majanya yang bersampah dedaunan yang membusuk banyak sekali sehingga baunya langu, atau daerah yang banyak majapahitnya (bukan mojolegi-maja manis)-nya.

Kendati “Serat Darmogandul” banyak yang menyatakan bukan sebagai sejarah, malinkan karya sastera berlatarbelakangkan sejarah, dan dianggap “melecehkan” Islam, tulisan mengenai Majapahit sebagai “dulunya” bernama Majalengka yang ada padanya tetap bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan untuk “memapankan” asal-usul kota dan Kabupaten Majalengka, agar tidak hanya berdasarkan “legenda” yang dibuat (dikarang) karena ada nama itu.

Darmogandul antara lain menyebutkan demikian (Froum KG-Cozy Place):

Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka, dene
ênggone jênêng Majapahit iku, mung kanggo pasêmon, nanging kang
durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku wis jênêng sakawit. (1)
Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu
Brawijaya.

(Pada zaman kuno, Kerajaan Majapahit itu namanya Kerajaan Majalengka,
sedangkan nama Majapathit itu, hanya sebagai perumpamaan, tetapi bagi
yang belum tahu ceritanya, Majapahit itu telah merupakan namanya
semenjak awal. (1) Di Kerajaan Majapahit yang berkuasa sebagai Raja
adalah Prabu Brawijaya.)

Dengan demikian, kapan mula ada sebutan majalengka, itu yang harus ditelusuri. Awal mula [maaf dari data “terbaru”–5 Oktober 2010–yang Penulis jumpai, bukan pertama kali] Belanda membentuk lima kabupaten dalam “karesidenan” Cirebon nama kabupaten Majalengka itu Kabupaten Maja.

Jangan-jangan nama Majalengka muncul sebagai nama Kabupaten hanya karena kurang cocok saja nama “desa” dijadikan nama kabupaten (Nah, kan perlu ditelusur kenapa nama Kabupaten Maja diubah jadi Kabupaten Majalengka, dan sejak kapan?). Atau, biar terkesan “besar” sebesar “kerajaan,” maka nama daerah (kabupaten) Maja itu diubah menjadi Majalengka. Atau, karena nama “Kabupaten Maja” itu terkesan menyampingkan keberadaan historis “kerajaan Talaga” dan “Kerajaan Rajagaluh” (yang membentuk “kabupaten Maja”) yang bisa membawa akibat psikologis tertentu, maka dicarilah sebutan lain yang bukan Maja, bukan Talaga, dan bukan pula Rajagaluh. Salah satu pilihan yang akhirnya muncul (entah atas proposal atau usulan) siapa, jatuh pada “mengambil alih” nama yang tetap ada “maja”-nya, tetapi tidak sama dengan Majakerta (Mojokerto) dan “maja-maja” lainnya (Maja, Banten), yang akhirnya terpilih “nama kuna” Majaphit, yaitu Majalengka.

Kota Majalengka sekarang, kemungkinan alasan yang paling logis,  hanyalah merupakan akibat logis dari perpindahan ibukota kabupaten Maja dari desa Sindangkasih ke area baru di utaranya yang mengakibatkan perkembangan tempat itu menjadi suatu kota.Tempat yang dijadikan pusat pemerintahan itu, kemudian disebutlah dengan Majalengka. Jadi, kota Majalengka berdiri sejak Kabupaten Maja diubah menjadi Kabupaten Majalengka, dan ibu kotanya dipindahkan dari Sindangkasih ke “kota baru” yang [kemudian] disebut Majalengka.

Dengan “logika” ini maka tidak ada salah pembuatan legenda bahwa “dayeuh” Sindangkasih berubah nama menjadi Majalengka, dan perubahan nama “dayeuh Sindangkasih” yang menghilang menjadi Majalengka itu membawa konsekuensi Kerajaan Sindangkasih berubah menjadi Kerajaan Majalengka. Padahal tidak pernah ada nama kerajaaan Majalengka!. Tidak pernah babad manapun menyebut-sebut Kerajaan Majalengka. Padahal, kata legenda, ada sejak tahun 1490 M. = 1412 Saka. Itu berarti Sumedang Larang saja belum ada, yang ada baru Tembong Agung.

AWALNYA, yang pertama mendirikan kerajaan di daerah Sumedang yaitu Dewa Guru Haji Putih, sekitar 1479 Masehi. Ia merupakan saudara dari Prabu Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi I, keturunan raja-raja Galuh. Dengan nama Kerajaan Tembong Agung yang berpusat pemerintahan di Leuwihideung, Darmaraja, Prabu Dewa Guru Haji Putih memiliki putra bernama Prabu Tajimalela yang kemudian meneruskan ayahnya bertahta di Kerajaan Tembong Agung, tahun 1479-1492. Kerajaan Tembong Agung ini lah, sebagai cikal bakal berdirinya kerajaan Sumedanglarang.

Majalengka: maja-alengka (pulau maja), madya-alengka (pulau di tengah sungai/daratan)?

Jangan-jangan yang lain (pakai “kirata basa” juga) majalengka itu berasal dari kata “maja-alengka” (seperti dalam kisah Alengkadiraja). Kata lanka Sansekerta, yang berubah jadi alengka (halengka) mengandung arti pulau. Jadi, majalengka berarti pulau maja, pulau yang banyak pohon majanya. Tapi apa memang majalengka sekarang tadinya berupa pulau?

Kemungkinan lainnya dari madya-alengka. Madya artinya tengah, alengka (lanka) artinya pulau. Majalengka dapat berarti, “pulo-tengah” (Sunda/Jawa cirebonan), pulau yang ada di tengah-tengah–karena berada di tengah-tengah dilihat dari Cirebon ke arah lautan selatan atau Galuh-Kawali (Ciamis). Tapi tetap saja harus dibuktikan bahwa majalengka memang berupa pulau (di tengah segara).

Jika tidak di tengah segara (hehe, ada juga desa Sagara di Kecamatan Argapura, selatan Maja, jauh dari Majalengka), bisa saja berupa pulau (seperti pulau) yang ada di hamparan air (seperti segara). Itu artinya Majalengka harus berada paling tidak sebagai delta di pertemuan dua sungai. Tidak ada juga sungai besar yang mengapit Majalengka. Entah dahulunya. Mungkin sungai Cideres dan Cijurey dulunya sangat besar (lebar) sekali, masih belum dalam (karena Majalengka berada di dataran rendah) lalu di sebelah barat Majalengka Kulon, sebelum Jalan Haji Abdul Halim berubah jadi Jalan Siliwangi) kedua sungai itu menyatu. Dengan demikian maka  kawasan Majalengka Wetan dan Kulon sekarang itu dulunya seperti membentuk sebuah pulau (delta) di “muara” kedua sungai tersebut, atau seperti ada di tengah situ (hamparan air) atau danau (situ besar). Maka disebutlah sebagai pulau (alengka) yang ada di tengah (ing madya) daratan (bukan di laut).

Atau, jika tidak begitu, mungkin wilayah Majalengka sebagai pulau (baheula) memang ada ketika sungai Cideres dan Cijurey bermuara ke sungai Cilutung di wilayah Marongge (tapi itu terlampau jauh, sudah memasuki Sumedanglarang). Majalengka (madya-alengka) jadinya delta, yang disebut saja dalam istilah baheula pulau (alengka) yang ada di tengah aliran sungai Cideres dan Cijurey.

Kalau Majalaya masih bisa ditelusur maknanya. Pertama dari campuran bahasa asli dan Sansekerta (maja-Sunda; dan alaya-Sansekerta yag berarti rumah atau tempat; himalaya–hima = salju dan laya = tempat). Atau Bahasa Sunda semua: maja + ngalayah yang artinya maja banyak sekali berterbaran atau berserakan.

Kedua, Kabupaten Majalengka bukan kerajaan Sindangkasih. Masih ada kerajaan Talaga dan Rajagaluh. Kabupaten Majalengka tidak lahir sejak adanya kerajaan Sindangkasih, karena tidak terceriterakan kerajaan Sindangkasih membawahi Talaga dan Rajagaluh, bahkan Sindangkasih dibawahi Talaga (walau simpang siur). Konon bahkan bagian dari Sumedanglarang yang diberikan ke Kasultanan Cirebon. Kerajaan Sindangkasih tidak meliputi wilayah Kabupaten Majalengka sekarang. Jadi, HUT Kabupaten Majalengka memang harus kembali ke SK Gubernur Jenderal Belanda [Mulai dari sebagai Kabupaten Maja–kecuali ada naskah/besluit baru yang menyatakan jauh sebelumnya ada “cikal bakal” Kabupaten Majalengka]. Kenapa mulai dari Kabupaten Maja, bukan “sejak bernama Majalengka”? Itu soal nama, bukan soal “kabupaten.” Perubahan nama (dan penyempitan/perluasan wilayah) hal biasa.

Entah dengan “kota Majalengka.” Akan tetapi kapan ibukota kerajaan Sindangkasih pindah ke kota Majalengka sekarang? Kan sudah “moksha” alias lenyap ketika masih di desa Sindangkasih sekarang? Jadi, daerah “majae- langka” teh adanya di desa Sindangkasih, bukan di kota Majalengka.

Prajurit Cirebon dapat diduga datang dari  sebelah timur kota Majalengka (melalui Rajagaluh), atau dari selatan (Talaga, Maja), bukan dari arah Kadipaten (utara Majalengka), kecuali Cirebon mendirikan keadipatian di Kadipaten sekarang. Tapi, kalaupun datang dari arah Kadipaten, maka kota Majalengka sekarang sudah terlewati oleh para prajurit itu ketika mencapai keraton Sindangkasih.

Jadi, kenapa kota Majalengka dinamakan Majalengka? Balik lagi kemungkinannya ke madya-alengka (delta di tengah apitan sungai Cideres-Cijurey–pulau yang ada di tengah daratan). Atau, ya tetap, majalengka teh pinjam istilah majalengka-majapahit. Kan munculnya juga setelah jaman Majapahit, atau saat Majapahit masih belum runtuh benar. [Ingat: Ini bukan soal “kabupaten,” melainkan soal “kota Majalengka”].

Kemungkinan lainnya adalah mengubah nama Maja menjadi Majalengka sebagai kabupaten, dan memindahkan ibu kota dari Sindangkasih ke sebuah wilayah baru, lalu wilayah baru itu dinamakan sesuai dengan nama kabupatennya: Majalengka.

Cuma, tetap saja candrasangkala “berdiri” Majalengka dengan sakakala (1490M – 78 = 1412 Saka)  “Sindang = 2, Kasih= 1,  Sugih= 4, Mukti = 1”  jelas  salah, karena saat itu justru Sindang Kasih (kerajaan, wilayah besar) tidak ada. Tidak mungkin sugih mukti setelah Sindang Kasih “meninggal dunia dengan tenang,” dan berganti nama, menjadi Majalengka. (Hihihi, kata orang Jogja, “wong mati ora obah, nek obah medeni bocah“).

Candrasangkala itu dibuat (?) oleh orang sekarang yang ingin “memuja” keberadaaan kerajaan Sindangkasih yang sebenarnya “lebih kecil” daripada Talaga (sebagian wilayah kecamatan Majalengka sekarang, Kawunggirang, Tajur, di bagian selatan, bahkan masuk kerajaan Talaga).

Candrasangkala/candrasakakala (penyebutan tahun Saka yang berdasarkan peredaran bulan/candra) lazimnya dibuat untuk menandai (simbolisasi)  atau untuk “mencandrakan”–memaparkan, atau mendeskripsikan–“kala dalam tahun Saka” waktu pendirian sesuatu negara,  penobatan raja (baru), atau peristiwa penting. Contoh “menurunnya kesejahteraan rakyat/kerajaan Majapahit” ditandai dengan sakakala “sirna ilang krtaning bhumi” (sirna = 0, ilang = 0, krta =4, bumi = 1 –> 1400 Saka, plus 78 = 1478 Masehi).  Sementara itu kerajaan Majalengka, sebagai pengganti Sindangkasih, tidak ada, tidak pernah ada.Kalau toh ada, alangkah salahnya mengganti nama Sindangkasih menjadi Majalengka, tetapi semboyannya (sakakalanya) tetap menggunakan Sindang Kasih (dan sugih mukti lagi—bukan Sindang Kasih Mubus Bumi).

Jadi, jika Majalengka (sebagai kerajaan?) mulai berdiri tahun 1490M, sebagai ganti kerajaan Sindangkasih, kenapa ulang tahunnya sejak Majalengka ada, bukan sejak Sindangkasih berdiri? Kan mesti jauh lebih tua. Sindang Kasih Sugih Mukti, teuing di mana eta prasasti, anu jadi bukti jeung saksi, Sindang Kasih ku Majalengka kaganti. Wallahu a’lam bissowab!

Jadi, kalau mau buat candrasangkala ya harus menggunakan kata Majalengka, sebagai sesuatu yang baru berdiri. Tapi, angkanya bisa jadi “rusak,” sebab “langka” yang akan menjadi angka nol, sementara “maja” karena “benda bulat”  akan jadi 1. Jadi Maja Langka = 01==>jadi 10. Nah, dua angka tahun “terakhir” sudah tidak cocok dengan tahun Saka 1412 (1490M).

Ini kutipan “pengangkaan” nama-nama benda.

  • Angka 1 : benda yang jumlahnya hanya satu, benda yang berbentuk bulat, manusia.
  • Angka 2 : benda yang jumlahnya ada dua, misalnya tangan, mata, telinga.
  • Angka 3 : api atau benda berapi.
  • Angka 4 : air dan kata-kata yang artinya “membuat”.
  • Angka 5 : angin, raksasa, panah.
  • Angka 6 : rasa, serangga, kata-kata yang artinya “bergerak”.
  • Angka 7 : pendeta, gunung, kuda.
  • Angka 8 : gajah, binatang melata, brahmana.
  • Angka 9 : dewa, benda yang berlubang.
  • Angka 0 : hilang, tinggi, langit, kata-kata yang artinya “tidak ada”.

Jadi, ya slogan saja, lah! “Majalengka maja-(madya) (di)na (nga)lengkah,” (Majalengka samadya na lengkah) contohna begitu. Majalengka dalam gerak langkah selalu mendahulukan keseimbangan keselarasan, tidak lamban tidak pula “gurunggusuh” (“grusa-grusu”–kata wong Jogja), senantiasa dalam segala urusan dan perkara “samadya” (kata babasan Jawa, “auwsaatuhaa” kata al-hikmah al-‘Arabiyyah–“khayrul umuuri auwsaatuhaa”), penuh dengan perhitungan dan perencanaan.

Hehehe . . . pek tah keun, sina lalieureun urang Sindangkasih-Majaelangka. Mendingan disebut saja MajalAngka–cirebonan, bukan MajalEngka–mojopahitan, nya?! Ketah, keun jadi madya-alengka (pas ada dua vokal yang disatukan “madyalengka”). Hihi, jadi iconnya bukan pohon dan buah maja! Pohon dan buah maja mah di Maja saja!

 

Sebagai bahan renungan, ini kutipan tulisan ahli kita Dr. A. Sobana Hardjasaputra, S.S., M.A. (Pikiran Rakyat, 16 Juni 2007)

Bagaimana halnya dengan Kabupaten Majalengka? Seperti diberitakan dalam koran ini tanggal 7 Juni 2007, bahwa sampai dengan tanggal tersebut, Kabupaten Majalengka telah berusia 517 tahun. Berarti tanggal berdirinya kabupaten itu adalah tanggal 7 Juni 1490.

Anggapan bahwa tanggal 7 Juni 1490 adalah tanggal berdirinya Kabupaten Majalengka, bukan lagi diragukan, tetapi jelas salah. Pemilihan tanggal 7 Juni 1490 dikatakan salah, karena tidak sesuai dengan fakta berdirinya Kabupaten Majalengka. Sumber-sumber sejarah Jawa Barat menunjukkan pada tahun itu Jawa Barat masih merupakan wilayah Kerajaan Sunda (Pajajaran). Waktu itu di daerah-daerah Jawa Barat belum ada pemerintahan dalam bentuk kabupaten. Akhir abad ke-15, di daerah yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Majalengka masih terdapat kerajaan kecil di Talaga dan Rajagaluh, keduanya bawahan Kerajaan Sunda.

Di antara sumber-sumber tersebut juga menyatakan, bahwa Kabupaten Majalengka merupakan kelanjutan dari Kabupaten Maja. Sumber akurat menunjukkan, bahwa Maja menjadi kabupaten sehubungan dengan penetapan wilayah Keresidenan Cirebon yang mencakup lima kabupaten, yaitu Cirebon, Bengawan Wetan, Maja, Kuningan dan Galuh. [Cetak tebal dari pengutip–Tatang]Pembagian wilayah itu ditetapkan oleh pemerintah kolonial tanggal 5 Januari 1819 (Staatsblad 1819 No. 9 dan 23). Bupati pertama yang memerintah Kabupaten Maja adalah Denda Negara (1819-1849), berkedudukan di Sindangkasih.

Sejalan dengan perkembangan pemerintahan dan kehidupan masyarakat daerah setempat, tahun 1840 nama kabupaten dan ibukotanya, Sindangkasih, diubah menjadi Majalengka [Maksudnya: nama Kabupaten diubah menjadi Majalengka, lalu ibukotanya dipindahkan dari Sindangkasih ke Majalengka? Atau “kota Sindangkasih” –yang mana, kan sampai sekarang ada desa Sindangkasih?–diubah menjadi Majalengka –Tatang]. Secara yuridis formal, perubahan nama itu ditetapkan dalam surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 11 Februari 1840 (Staatsblad 1840 No. 7). Wilayah Kabupaten Majalengka mencakup dua kontrol-afdeling, yaitu Majalengka (daerah pusat kabupaten) dan Rajagaluh.

Data “terakhir” diperoleh dari internet “Kabupaten Galuh” itu Kabupaten Ciamis. Jadi, Kabupaten Ciamis semula (pernah) masuk ke dalam Karesidenan Cirebon.

Ini peta (“kaart”) Cirebon (Cheribon) tahun1857. Ada lima Kabupten Di Karesidenan Cirebon: Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Galuh.

Dan ini nama-nama “kota kecamatan” yang ada di Karesidenan Cirebon (1856).

RESIDENTIE CHERIBON [1856]
Afdeeling Cheribon: 1 Kota Cheribon, 2 Loewar Kota, 3 Ploembon,
4 Beber, 5 Mandi Rantja, 6 Sindang Laoet, 7 Losari, 8 Gegesik.

Afdeeling Madjalengka: 9 Madjalengka, 10 Radja Galoe, 11 Djatiwangi,12 Palimanan, 13 Madja, 14 Telaga.

Afdeeling Koeningan: 15 Koeningan, 16 Kadoe Gede, 17 Lebak wangi, 18 Tjiawigebang, 19 Loerahagoeng

Afdeeling Galoe: 20 Tjiamies, 21 Kawali, 22 Pandjaloe, 23 Rantja

Afdeeling Indramajoe: 24 Indramajoe, 25 Karamgampel, 26 Sleman
Particulier Land Indramajoe: 27 Passekan, 28 Lobener, 29 Oedjoeng, 30 Djati Toejoe
Particulier Land Kandang Hawor: 31 Lelea, 32 Losarang, 33 Kandang Hawor, 34 Loewoeng Malang

Menurut tradisi lisan yang berkembang di Majalengka, perubahan nama Sindangkasih menjadi Majalengka terjadi setelah Nyi Rambut (Ambet) Kasih – tokoh mitos yang dianggap sebagai penguasa pertama di Sindangkasih – ngahiang (menghilang). Diduga hal itu terjadi pada pertengahan abad ke-16 [Bukan 1490?–Tatang. Kalau abad ke-16, ya Nyi Ambet/Rambut Kasih tidak sedang “men-sugih muktikan Sindang Kasih”–men-1490-kan!]

Uraian tersebut – meskipun secara garis besar – mengandung arti, bahwa secara metodologis, pemilihan tanggal 7 Juni 1490 sebagai hari jadi Kabupaten Majalengka, jelas salah. Walaupun tanggal 7 Juni (1490) dianggap sebagai hari jadi Majalengka, tanpa embel-embel kabupaten, tanggal itu tetap salah. Letak kesalahannya, tanggal itu   tidak mengacu pada fakta/momentum yang seharusnya menjadi dasar acuan,   baik fakta pembentukan Kabupaten Maja, maupun momentum perubahan  nama Sindangkasih menjadi Majalengka.

Biar tambah parusingeun urang Majalengka, tah ini nukilan internet tentang Nyi Rambut Kasih yang lain (Versi Sumedang Larang)

 

Konon, menurut legenda, Prabu Tajimalela yang bergelar Batara Tuntang Buana atau Resi Cakrabuana, saat itu memiliki tiga orang putra, masing-masing Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Ulun (Catatan: Sunan Ulun Bukan Prabu Geusan Ulun/Raden Angka Wijaya Raja Sumedang Larang Terakhir ). Berdasarkan naskah “Layang Darmaraja” (layang = surat; dokumen), untuk menyerahkan tahta kerajaan kepada salah seorang putranya, Prabu Tajimalela mengadakan sebuah ujian untuk Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung, tapi ketiga (kedua?–Tatang) putranya itu ternyata tidak berkehendak menjadi raja. Sedangkan Sunan Ulun memilih menjadi Resi/Sunan/Ulama dan hijrah ke Talaga, Majalengka untuk menyebarkan ketauhidan dibantu oleh ibunya/istri Prabu Tajimalela (Ratu Endang Kasih/Ratu Rambut Kasih) yang berasal dari keturunan Sanghyang Talaga Majalengka. [Nah, jadi wajar kalau ada orang Talaga yang mengatakan bahwa menurut tradisi lisan, Ratu Rambut Kasih teh ngahiang (lenyap) di Sangiang, Talaga–Tatang].

Supaya tambah bingung, ini ceritera lain nu aya di internet (Maaf, bahasanya diedit lagi sebagian!).

Sekitar tahun 1480 (pertengahan abad XV) Masehi di Desa Sindangkasih, tiga kilometer arah selatan dari kota Majalengka, bersemayam seorang ratu yang bernama Nyi Rambut Kasih keturunan Prabu Siliwangi, yang masih teguh memeluk Agama Hindu.

Ratu masih bersaudara dengan Rarasantang, Kiansantang dan Walangsungsang, yang kesemuanya telah masuk agama Islam. Keberadaan Nyi Rambut Kasih di daerah Majalengka adalah bermula untuk menemui saudaranya di daerah Talaga yang bernama Raden Munding Sariageng, suami dari Ratu Mayang Karuna yang waktu itu memerintah di Talaga. Di perbatasan Majalengka – Talaga, Ratu mendengar bahwa daerah Talaga (kerajaan Talaga, mencakup Maja dan bagian selatan Majalengka–Pen) sudah masuk Islam. Oleh karena itu Ratu mengurungkan maksudnya ke Talaga, dan menetaplah Ratu tersebut di Sindangkasih (mendirikan kerajaan????–memang punya siapa?–Pen.), dengan daerahnya meliputi Sindangkasih, Kulur, Kawunghilir, Cieurih, Cicenang, Cigasong, Babakanjawa, Munjul dan Cijati. (Tuh, jadi Kawunggirang masuk Talaga).

Kira-kira tahun 1485 putera Raden Rangga Mantri ( Raja Kerajaan Talaga–Pen.) yang bernama Dalem Panuntun diperintahkan menjadi Dalem di Majalengka (Nah, lho, bukannya Sindangkasih menjadi bawahan Kerajaan Talaga, kalau begitu???–Pen.), yang membawa akibat pemerintahan Nyi Rambut Kasih terjepit oleh pengaruh Agama Islam. (Sahibul hikayat yang lain menyebut tahun 1529 orang tua Dalem Panuntun (Panungtung?), yaitu Ratu Sunyalarang dan Raden Ragamantri masuk Islam. Lucu, ya?! Jadi, kan setelah Sindangkasih “langka” (1490) baru pada masuk Islam, dan mengirim Dalem Panuntun ke Sindangkasih (setelah hilang?!).

[Nah, tambah “pabaliut” lagi dengan ceritera ini: Akir abad XV Masehi, Majalengka telah berpenduduk Islam. Beliau sebelum wafat telah menunjuk putra-putranya untuk memerintah di daerah-daerah kekuasannya seperti halnya: Sunan Wanaperih untuk memegang tampuk di Walangsuji, Dalem Lumaju Agung di kawasan Maja, Dalem Panuntun di Majalengka, sedangkan putra pertamanya ialah Prabu Haurkuning di Talaga yang selang kemudian di Ciamis.]

Kemudian lagi pada tahun 1489 utusan Cirebon, Pangeran Muhammad dan isterinya Siti Armilah atau Gedeng Badori diperintahkan untuk mendatangi Nyi Rambut Kasih dengan maksud agar Ratu maupun Kerajaan Sindangkasih masuk Islam dan Kerajaan Sindangkasih masuk kawasan kesultanan Cirebon. Nyi Rambut Kasih menolak, timbul pertempuran antara pasukan Sindangkasih dengan pasukan Kesultanan Cirebon. Kerajaan Sindangkasih menyerah (cetak tebal dari pengutip–Tatang) dan masuk Islam, sedangkan Nyi Rambut kasih tetap memeluk agama Hindu. Mulai saat inilah (cetak tebal dari Pengutip) ada Candra Sangkala “Sindang Kasih Sugih Mukti” tahun 1490.

Weuh pabaliut teuing atuh sajarah majae-langka teh?

Ditulis awal di Maja, bada boboran siyam, memeh ka Jogja deui. Diedit dilengkapan di Jogja, terus diedit deui, diedit deui. (Sing gak ngerti boso Sundo, sinauo, hehehe. . . )

SEJARAH MAJALENGKA YANG BENAR (ILMIAH DISERTAI FAKTA HISTORIS) SILAKAN BACA PADA “PAGE” SEJARAH MAJALENGKA: MELACAK JEJAK HINDIA BELANDA, ATAU KERAJAAN TALAGA: MELACAK JEJAK BUJANGGA MANIK DALAM BLOG INI JUGA

 

 

 

4 thoughts on “MAJALENGKA – MAJAeLaNGKA: Salah “matan” atawa salah “sanad? [Telaah kritis historis-dokumenter]

    • Talaga yang mana? Talaga kerajaan di Majalengka? Buka saja blog dengan kata kunci “talaga manggung.” Ada lah sejarah Kerajaan Talaga. Atau buka “sejarah Majalengka.” Talaga itu artinya danau kawah (tapi yang mati, tentu) yang besar sekali. Genangan air di area yang besar, yang bukan kawah, namanya situ. Itu kalau ingin nulis asal-usul kajadian (jadina aya) talaga, lain kota atawa wewengkon nu disebut Talaga. Pan aya oge ngaran Talaga Remis. Remis teh kerang cihambar, lain kerang laut. Di solokan jeung balong nu loba keusikan biasana balatak. Sok loba teh dina talang awi paragi ngocorkeun cai ti walungan ka balong. Remis teh warnana hideung, laleutik, baruleud. Nu lalonjong ngaranna kijing–kade pahili jeung kijing urang Jogja. Enya eta paesan. Ih dijawab aya sundaan, pan nu naya ku sabab aya tugas basa Sunda.

  1. Kemudian buah Maja itu di obatkan kepada istri Bupati (Siti Armilah) rupanya sudah menjadi kekuasaan-Nya begitu buah Maja di obatkan, Siti Armilah mendadak sembuh dari sakitnya yang sudah beberapa bulan dideritanya, betapa gembiranya Pangeran Muhamad (Bupati) melihat istrinya sudah sembuh, kemudian Pangeran Muhamad mengucapkan janji, bahwa di akhir peperangan Rd. Anggana Suta akan di ubah namanya dengan sebutan Ki Bagus Manuk, dan wilayah Wanayasa yang beberapa lama telah dikuasainya akan diserahkan kembali kepadanya.
    Buah Maja yang telah dipakai obat, kemudian diserahkan kepada salah seorang senopati yakni Panembahan Wirabama, namun ketika hendak diterima tiba-tiba buah Maja itu jatuh ke tanah lalu menghilang seketika, melihat kejadian itu Panembahan Wirabama merasa heran dan malu, akhirnya Panembahan Wirabama pun ikut menghilang.
    Melihat kejadian yang semakin mengherankan, Ki Ageng Badori mempunyai firasat, bahwa besek atau lusa setelah hilangnya masa kerajaan, nama Sindangkasih kelak akan dirubah dengan sebutan Majalengka.
    Perubahan ini diambil dari suatu kejadian Buah Maja yang hilang, yaitu kata: “MAJA” diambil dari nama buah “Maja”, sedangkan “LENGKA” karena hilangnya tidak ditemukan (langka) maka sampai sekarang daerah tersebut dinamakan:
    ———————- MAJALENGKA ———————————
    Eta seratan teh aya di BOOK (buku sejarah Desa jatiwangi anu dikaramatkeun) Kuwu pertamana taun 1512

    • Ada ceritera yang suka disebut dengan “legenda”. Legenda itu ceritera (dongeng) yang dikaitkan dengan fenomena alam tertentu. Misalnya karena ada gunung yang seperti perahu tertelungkup (nangkub-Sunda), maka dibuatlah oleh para juru dongeng jaman baheula legenda Sang Kuriang (Sang Guriang) tentang Gunung Tangkuban Perahu (Perahu Tertelungkup). Dongeng ini, konon, kata sebuah tulisan, dulu sekali di majalah Sunda, sama dengan ceritera yang ada di daerah Candi di Jawa Timur. Ceritera ini mirip dengan legenda Candi Sewu (Prambanan) dengan tokoh Bandung Bondowoso.
      “Legenda” Majalengka juga dibuat banyak versi, jadinya, karena sebutan majalengka sangat asing di telinga Sunda. Legenda jelas bukan fakta atau tulisan sejarah. Itulah maka ceritera tentang mencari buah maja itu menjadi tidak karuan alurnya. Versi Jatiwangi buah maja “di tangan” hilang (langka). Ceritera Sindangkasih menyebut buah (hutan) maja hilang. Yang aneh, “langka” itu basa Cirebon yang artinya tidak ada, bukan hilang. Basa Cirebon hilang itu “ilang.” Begitulah kalau semua akan dicoba dijadikan “ngahiang,” sehingga kata “langka” saja disamakan dengan “ilang.”
      Silakan baca babad Majalengka dan tulisan dalam bahasa Inggris tentang Mojo Lengko dan Mojo Lengu (yang kemudian diyakini sama dengan Mojo Pahit) kerajaannya Raden Wijaya, revisi tulisan tentang “Majalengka Salah Matan…”. Bbad itui Babad Demak Pesisiran. Cirebon dalam pengaruh Demak. Jadi wajar jika daerah (kabupaten) Maja diubah jadi Majalengka, mungkin atas pengaruh “wong Cirebon-Demak.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s