FILOSOFI dasar penelitian tindakan kelas

Tatang M. Amirin

Edisi 22 Agustus 2009; 25 Agustus 2009; 26 Februari 2010

Pragmatis nonhipotetik; siklus uji coba tindakan non-eksperimen; partisipan penelitian; penelititan tindakan individual, kolaboratif, dan sekolah; diagnosis masalah; pemilihan dan penetapan tindakan; perencanaan skenario kegiatan tindakan dan pengukuran keberhasilan tindakan

Banyak orang merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan tanpa memahami landasan filosofis keilmuan penelitian tindakan itu sendiri. Oleh karenanya suka rancu dengan penelitian konvensional tradisional yang bersifat positivistik (menganut falsafah posoitivisme) dan mengukur-ukur. Misalnya rancu dengan penelitian survai dan korelasional serta penelitian eksperimen. Mari kita bahas.

Penelitian tindakan merupakan penelitian pragmatis

Penelitian tindakan, termasuk penelitian tindakan kelas (PTK), merupakan penelitian pragmatis. Artinya penelitian yang berkenaan dengan pemecahan masalah praktis kehidupan sehari-hari. Yang ingin ditemukan oleh PTK (tujuan PTK) adalah:

(1) Efektivitas pemecahan masalah yang dihadapi. Maksudnya masalah yang dihadapi (di kelas) dapat terselesaikan dengan baik. Contoh: Motivasi dan prestasi belajar  murid meningkat.

(2) Cara melaksanakan tindakan yang paling efektif mengatasi atau memecahkan masalah. Dalam penelitian tindakan cara mengatasi masalah (yang disebut tindakan) itu dianggap bukan barang jadi, melainkan barang yang harus dicoba-terapkan dan dicek (diteliti) efektivitas dan efisiensinya.

Contoh barang jadi: Sepeda motor tidak mau distarter (mogok). Penyebabnya businya kotor. “Tindakan” mengatasinya bisa dengan membersihkan businya, atau businya diganti.

Contoh bukan barang jadi: Belajar berkelompok bisa meningkatkan prestasi belajar, KATA ORANG-ORANG AHLI. Lalu: Cara mengelompokkan murid di “kelas saya” (dengan sifat-sifat murid saya yang seperti itu) baiknya seperti apa? Dicoba buat kelompok dengan cara “ini,” lalu diamati (diteliti) kerja kelompoknya dan juga hasil belajarnya. Tidak begitu bagus. Ada yang tak suka kerja sama dalam kelompok, nilai hasil tes juga rendah. Direnungkan (direfleksi) kenapa tidak bagus. Dicoba cara lain, lalu diamati juga. Masih belum baik juga. Direnungkan lagi, lalu dirancang ulang pembentukan kelompok dengan cara lain. Diamati. Nah, ternyata jauh lebih bagus. Diteruskan melakukan kegiatan belajar dengan kelompok seperti itu. Diamati lagi. Ajeg bagus. Dicoba lagi kerja kelomp0k. Tetap bagus. Nah, ketemu sudah cara pembentukan kelompok yang efektif, efisien, dan humanis “DI KELAS SAYA.”  Jadi, kerja kelompok meningkatkan prestasi belajar itu DALIL UMUM. Operasional pelaksanaannya bukan resep jadi, karena situasi dan kondisi kelas bisa berbeda-beda. Nah, bayangkan jika ada murid dari beberapa dusun yang warganyabermusuhan harus kerja kelompok. Rumit, kan.

Kenapa yang kedua dicari oleh PTK?Karena PTK dimaksudkan untuk kehidupan “praktis” (pragmatis), bukan untuk keperluan teoritis. Bukan teori yang hendak dicari, melainkan teknologi (cara, metode, teknik) untuk mengatasi masalah keseharian, atau untuk menangani sesuatu yang ada dalam kehidupan keseharian.

Contoh dalam beberapa bidang penelitian tindakan (bukan hanya PTK).

Teori: Makanan bergizi membantu pertumbuhkembangan anak.

Praktis: Cara memasak makanan yang sarat dengan gizi adalah dengan begini begitu.

Teori: Remunerasi (pemberian imbalan berdasarkan prestasi kerja) meningkatkan motivasi dan produktivitas kerja.

Praktis: Cara (teknis) pemberian imbalan berdasarkan prestasi kerja yang efektif meningkatkan motivasi dan prestasi kerja adalah dengan begini-begitu. Misal diberikan seketika, mingguan, bulanan, atau tahunan; ataukah per kegiatan produktif  yang melebihi target atau ketentuan umum; ataukah per kegiatan yang inovatif, bukan yang rutin.

Ini yang baru saja dijadikan contoh:

Teori: Belajar berkelompok akan meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.

Praktis: Cara pembentukan kelompok, penugasan kelompok, dan kerja kelompok yang paling efektif, efisien, dan humanis meningkatkan motivasi dan prestasi belajar adalah begini begitu.

Bentuk, wujud, yang “praktis” itulah yang dicari lewat penelitian tindakan. Jadi, penelitian tindakan bukan hanya akan melakukan tindakan untuk mengatasi masalah yang lalu setelah itu selesai, melainkan juga akan menemukan cara terbaik (paling efketif, efisien, dan humanis) dalam mengatasi masalah tersebut (lewat unsur kegiatan/TAHAPAN yang disebut dengan PENELITIAN/OBSERVATION dari penelitian tindakan tersebut). Cara tersebut itu yang kemudian dikomunikasikan kepada publik dengan anggapan siapa tahu bisa bermanfaat bagi banyak orang (untuk dicobaterapkan di kelasnya sendiri).

Penelitian tindakan bersiklus-siklus

a. Makna hakiki siklus penelitian tindakan

Penelitian tindakan itu bersiklus-siklus. Artinya bukan sekali langkah selesai. Selalu ada perbaikan langkah atau proses tindakan. Sebagai perbandingan:

(1) Survai: Sebarkan angket, lalu olah dan analisis datanya, kemudian simpulkan. Penelitian selesai (satu kali langkah atau proses).

(2) Korelasional: Sebarkan instrumen pengukuran mengenai dua variabel atau lebih, lalu olah dan analisis datanya, kemudian tetapkan ada tidaknya hubungan atau korelasi antar variabel dan seberapa tinggi taraf “meyakinkan” keberadaan hubungan tersebut.  Penelitian selesai (satu kali langkah atau proses).

(3) Studi kasus: Adakan observasi dan wawancara, lalu olah dan analisis data, kemudian buat simpulan. Penelitian selesai (satu kali langkah atau proses).

(4) Eksperimen: Lakukan “treatmen” (cara baru), lalu olah dan analisis data dari kelompok coba (yang diberi treatmen) dan kelompok kontrol (pembanding, dengan cara tradisonal atau konvensional), kemudian simpulkan adakah treatmen lebih efektif dibandingkan cara tradisional atau konvensional. Penelitian selesai (satu kali langkah atau proses).

(5) PTK : Adakan perencanaan tindakan, kemudian lakukan tindakan seraya diteliti, kemudian pelajari atau refleksi keberhasilannya, lalu rancang ulang tindakan, lalu lakukan tindakan (yang sudah diberbaiki) sambil diteliti juga, kemudian pelajari dan refleksikan, kemudian rancang ulang lagi (penyempurnaan tindakan), lakukan  tindakan, dan seterusnya. Penelitian selesai setelah beberapa kali melakukan tindakan dan tertemukan tindakan yang “diyakini” (setelah beberapa kali dicoba tetap ajeg atau “reliabel”) efektif mengatasi masalah.

Sekali lagi, tindakan yang dilakukan dan hasil tindakan harus benar-benar meyakinkan bahwa sudah efektif. Hanya dengan sekali langkah atau proses (sekali memberikan tindakan), masih harus diragukan apakah itu sudah benar-benar “ainul-yakin” tepat, ataukah hanya secara kebetulan.

Misal, jika kebetulan materi pelajaran yang diajarkan ketika itu termasuk mudah untuk dipahami murid, maka tindakan yang dilakukan harus dianggap belum tentu tepat (efektif) jika keadaan lain. Bisa jadi, karena materinya mudah, tanpa tindakan pun murid akan berhasil mempelajarinya dengan baik.

Misal lain, kebetulan materi yang diajarkan menarik, anak-anak suka dengannya. Karena menarik, maka murid-murid jadi menaruh perhatian tinggi terhadapnya yang kemudian membuat mereka serius mempelajarinya dan memudahkan mereka memahaminya. Tindakan menjadi tampak efektif jadinya karena secara kebetulan terdukung oleh kemenarikan materi pelajaran, bukan karena tindakan itu sendiri.

Jika tindakan berkali-kali dilakukan, terhadap materi yang beragam (tentu dalam mata pelajaran yang sama), yang kondisinya beragam pula (ada yang mudah, ada yang sulit, ada yang menarik, ada yang kurang menarik minat dan perhatian murid), maka tindakan (cara atau bentuk tertentu) itu akan diyakini “reliabel” karena dengan kondisi dan dalam situasi yang bermacam-macam tetap efektif.

Jadi, itulah makna siklus yang sebenarnya. Oleh karena itu, walau andaikata dengan satu kali memberikan tindakan sudah terkesan masalah sudah terselesaikan, tetap harus diulangi lagi tindakan itu beberapa kali untuk memberikan keyakinan bahwa tindakan itu benar-benar efektif, hasilnya pun bukan karena kebetulan. Sekali lagi, ini berkait dengan unsur penelitian dari tindakan tersebut, bukan sekedar tindakan.

Apa itu siklus? Lazimnya PTK dilakukan dengan tahapan: (1a) identifikasi (temukan) masalah, (2a) rancang tindakan mengatasi masalah, (3a) lakukan tindakan dan teliti/observasi sekaligus sambil jalan, (4a) cermati proses dan hasil tindakan–alias lakukan refleksi–sudah “baik” atau belum. (1b) Dari refleksi tadi identifikasi lagi masalah (yang terjadi dalam pelaksanaan tindakan pertama tadi, (2b) rancang perbaikan tindakan yang tadi sudah dilakukan, (3b) lakukan/laksanakan rancangan tindakan yang sudah diperbaiki ini dan teliti/observasi sekaligus proses dan hasilnya, (4b) lakukan refleksi terhadap proses dan hasil tindakan. (1c) Dari refleksi tersebut identifikasi masalah . . . dan seterusnya.

Langkah 1a, 2a, 3a, dan 4a yang kemudian dilanjutkan ke 1b, 2b dan sterusnya itu disebut siklus (putaran) karena berputar kembali ke langkah 1 (identifikasi masalah). Jika berhenti sampai 4a, maka tidak ada siklus, karena tidak memutar (tidak kembali ke 1).

Jika sesuatu PTK sudah melakukan 1, 2, 3 dan 4,  itu berarti sudah melakukan satu siklus, kapanpun itu terjadi.

Contoh: Pelajaran yang akan di-PTK-kan IPA dengan pokok bahasan INI. Pokok bahasan INI mengandung sub pokok bahasan INIA, INIU, INIE. Masing-masing aslinya selesai diajarkan dalam dua kali pertemuan. Ketiganya digabungkan. Jadi, akan selesai juga dalam enam kali pertemuan. Aslinya.

Tindakan yang akan dilakukan adalah MENGGUNAKAN KERJA KELOMPOK, dengan subkegiatan observasi lapangan, pembuatan laporan amatan, dan laporan di kelas. Pertemuan pertama melakukan observasi dan penyusunan laporan kelompok. Pertemuan kedua laporan kelompok di kelas, dan tes.

Jadi, guru membuat kelompok (membagi murid sekelsa menjadi beberapa kelompok). Tiap kelompok melakukan observasi lapangan (mengamati flora dan fauna di sekitar sekolah), tentu dengan araha tugas yang jelas dari guru. Lalu dalam kelompok membuat laporan. Ketika murid melakukan observasi dan membuat laporan, guru melakukan amatan (observasi, penelitian).

Pada pertemuan kedua, kelompok menyajikan laporan hasil amatan masing-masing. Guru juga mengamati kegiatan tersebut. Selesai itu jeda sebentar, kemudian dilakukan tes.

Hasil amatan dan tes dipelajari, dicermati guru. Guru melakukan refleksi. Bdeberapa kelemahan diidentifikasi, kemudian dipikirkan perbaikan-perbaikan yang akan dilakukan pada kegiatan ketiga. Itu satu siklus.

Pada kegiatan ketiga, dilakukan kegiatan seperti kegiatan pertama, yaitu murid melakukan observasi lapangan (mungkin kelompoknya sudah disusun ulang, cara membuat laporan diperbaiki, cara melapor di kelas pun–pertemuan keempat– nantinya diperbaiki).

b. Mengapa bersiklus-siklus

Penelitian tindakan (littin) itu merupakan pemecahan masalah. Itu benar. Akan tetapi bukan pemecahan masalah biasa, melainkan pemecahan masalah yang diteliti. Littin itu tindakan memecahkan masalah yang berhati-hati dan cermat, tidak gegabah. Kecermatan dan ketidakgegabahannya terletak pada selalu ada perbuatan mengevaluasi dan memperbaiki. Memecahkan masalah yang “besar” itu tidak boleh sembarangan, asal-asalan. Dalam proses pemecahan itu ada evaluasi (evaluasi formatif). Dari evaluasi formatif itu dilakukan perbaikan-perbaikan.

Evaluasi itulah yang pada hakekatnya merupakan PENELITIAN. Penelitian dari (terhadap) tindakan yang dilakukan. Tujuan penelitiannya untuk melakukan perbaikan seketika, bukan sesuatu yang bersifat “jauh di sana,” apalagi yang “kapan-kapan” jika sempat. Perbaikan itu bukan SARAN seperti dalam penelitian konvensional, melainkan RANCANGAN TINDAKAN “BARU”yang benar-benar akan (harus) dilakukan segera.

Penelitian tindakan bersifat nonhipotetik

Penelitian konvensional tradisional lazim dilakukan dari dua pendekatan, yaitu penelitian uji-hipotesis dan penelitian penggalian-hipotesis. Penelitian uji hipotesis bermula dari masalah, kemudian dicari jawaban teoritiknya dengan melakukan kajian teori. Jawaban dari teori itu disebut dengan hipotesis, dan hipotesis itu diuji lewat penelitian empirik. Jadi, dalam hal ini, hipotesis merupakan jawaban teoritik (menurut atau berdasarkan teori) terhadap masalah (permasalahan) penelitian.

Penelitian penggalian teori atau hipotesis mulai dari topik atau tema tertentu,  kemudian dilakukan penghimpunan data, lalu data-data itu diolah dianalisis, dari analisis mungkin muncul permasalahan (pertanyaan) penelitian yang kemudian sekaligus memunculkan dugaaan-dugaan (disebut hipotesis), kemudian dilakukan lagi penggalian data lebih lanjut untuk membuat simpulan yang meyakinkan, yang bukan hipotesis lagi. Jadi, dalam kasus ini, hipotesis adalah dugaan mengenai sesuatu fenomena yang muncul dari penelitian empiri.

Pene;litian tidak dua-duanya. Penelitian tindakan bukan penelitian uji-hipotesis, bukan pula penelitian penggalian-hipotesis, walaupun penelitian tindakan “memerlukan” kajian teori.”

Dalam penelitian tindakan (littin), melakukan kajian teori itu untuk memantapkan pemamahaman (persepsi) mengenai tema (topik: masalah) yang diteliti, sekaligus mencari beragam alternatif tindakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi tersebut. Littin tidak menjadikan teori sebagai simpulan sementara jawaban atas permasalahan yang dihadapi (yang disebut hipotesis), melainkan memperkuat kepahaman akan situasi yang dihadapi dan mengembangkan ide-ide pemecahan masalah.

Kalu toh ada hipotesis, sebenarnya bukan hipotesis penelitian seperti yang lazim dimaknai berkait dengan penelitian konvensional, melainmkan ketika mencari-cari, dari kajian teori dan sumber lain, tindakan apa yang akan diterapkan untuk mengatasi masalah, pada ketika itu ada dugaan dalam hati bahwa tindakan itu akan efektif, karena itu dipilih. Dugaan tersebut bisa disebut “hipotesis” (dalama tanda petik, yaitu kalau hipotesis dipandang atau dimaknai sebagai dugaan; tegasnya sembarang dugaan disebut hipotesis).

Ketika tindakan dilaksanakan, kemudian setelah itu dilakukan refleksi dan dilakukan perencanaan ulang (penyempurnaan) tindakan, pada ketika itu muncul lagi dugaan (hipotesis) bahwa tindakan yang sudah disempurnakan itu akan lebih efektif. Pada “siklus”  berikutya (dengan tindakan yang sudah diperbaiki lagi), ada dugaan (hipotesis) baru lagi, yaitu bahwa tindakan yang sudah diperbaiki itu akan lebih efektif.

Tampak bahwa dalam penelitian tindakan itu tidak ada hipotesis tunggal seperti pada penelitian korelasi dan eksperimen. Pada ketika peneliti PTK memilih, misalnya belajar berkelompok sistem STAD, untuk mengatasi masalah di kelasnya, tidak ada dalam benak peneliti itu sedikitpun keinginan (tujuan) untuk menguji hipotesis (jadi menguji teori) bahwa STAD efektif meningkatkan prestasi belajar. Yang ada di kepalanya hanyalah keinginan mencoba, siapa tahu, STAD, seperti dipaparkan dalam berbagai literatur, akan efektif untuk mengatasi masalah di kelas yang dihadapinya.

Jadi, sederhananya, di kepala peneliti ada pernyataan, “Kata orang-orang (dalam literatur) STAD dapat mengatasi masalah kelasnya.” Lalu terpikirkan olehnya, “Mengapa kata orang-orang itu tidak saya coba di kelas saya? Siapa tahu benar-benar berhasil!.” Titik. Itu saja: “Siapa tahu.” Jadi, muncullah dalam dirinya pertanyaan, “Jika saya gunakan STAD, akankah masalah di kelas saya terselesaikan atau teratasi?” Itulah PERTANYAAN PENELITIAN dia. Ia tidak berhipotesis, ia cuma bertanya-tanya. Ia tidak akan menguji hipotesis (“teori”), ia hanya ingin mencobakan “teori.” Itu pun skenario pelaksanaannya belum tentu sudah ada berupa resep, melainkan sesuatu yang harus dirancang sendiri.

Itulah makna pernyataan beberapa pakar penelitian tindakan kelas yang menyatakan bahwa para peneliti tindakan lebih menyukai merumuskan pertanyaan penelitian dibandingkan merumuskan hipotesis. Dengan kata lain, yang ada dalam penelitian tindakan adalah pertanyaan penelitian, bukan hipotesis. Pertanyaan penelitian itu setara dengan rumusan masalah dalam penelitian survai atau korrelasional.

Subjek penelitian tindakan adalah partisipan penelitian

Penelitian tindakan tidak mengenal subjek penelitian, seseorang yang diteliti, seseorang yang akan dijadikan responden penelitian. Penelitian tindakan merupakan suatu proses kegiatan, kegiatan melaksanakan tindakan. Semua orang yang terlibat di dalamnya (dalam PTK: murid-murid), ikut ambil bagian dalam melaksanakan tindakan itu. Oleh karena terlibat itulah maka disebut partisipan (orang yang terlibat berpartisipasi). Jadi, dipertegas lagi: Mereka (murid-murid) bukan subjek penelitian, melainkan partisipan penelitian, orang yang ikut terlibat berpartisipasi dalam melaksanakan tindakan.

Dalam penelitian tindakan, karenanya, tidak perlu ada pernyataan tentang objek penelitian dan subjek penelitian, termasuk definisi operasional konsep (objek) penelitian. Namun demikian tetap harus ada ketegasan yang akan ditargetkan dalam penelitian tindakan itu apa dan seperti apa. Misalnya prestasi belajar harus jelas bentuknya berupa apa dan bagaimana mengukurnya. Begitu pula dengan motivasi belajar, ujudnya berupa apa dan bagaimana mengukurnya (bahwa tinggi, bahwa meningkat, dan sebagainya).

Contoh: Tema “meningkatkan kepahaman murid.” kenapa? Karena ada beberapa murid yang lambat paham. Apa tegasnya lambat paham itu? Maksundya (mungkin) teman lainnya sudah bisa memahami, murid-murid tersebut masih belum paham juga. Perlu waktu dan penjelasan lebih lama untuk bisa paham. Bagaimana disebut meningkat? Waktu yang diperlukan untuk paham lebih sedikit dari biasanya. Bagaimana mengukurnya? Biasanya, misalnya, 15 menit baru paham.  Tahap tindakan pertama diharapkan lebih sedikit dari itu. Tahap kedua tindakan diharapkan lebih sedikit lagi dari tindakan pertama, sampai kurang lebih sama dengan teman-teman lainnya. Ukurannya? Waktu yang digunakan (pakai catatan waktu dari tindakan ke tindakan).

Penelitian tindakan bersifat uji coba, bukan percobaan (eksperimen)

Penelitian tindakan tidak sama dengan penelitian eksperimen. Dalam penelitian eksperimen yang dieksperimenkan (“treatment”) itu sesuatu yang sudah “jadi,” sudah “baku.”  Dalam penelitian tindakan, intervensi (“action”) itu bukan sesuatu yang sudah jadi.

Jika seseorang ingin mengetahui apakah metode demonstrasi akan efektif untuk meningkatkan prestasi belajar, maka demonstrasi yang akan diekperimenkan itu merupakan sesuatu yang sudah baku. Misal: Di kelas A guru menggunakan demonstrasi riel benda tenggelam, melayang, dan terapung (benda-benda dimasukkan ke dalam gela berisi air). Di Kelas B sebagai pembandingnya digunakan gambar benda tenggelam, melayang, dan terapung. Yang akan dibandingkan: metode demonstrasi dan peragaan dengan gambar.

Metode demonstrasi ditreatmentkan pada kelompok treatmen (kelompok eksperimen), metode peragaan gambar (gambarnya sudah baku, berupa gambar benda-benda yang sama dengan yang didemonstrasikan) diragakan pada kelompok kontrol (pembanding). Kemudian diukur prestasi belajar (pemahaman kedua kelompok akan materi pelajaran tersebut) dan dibandingkan, tinggi mana. Mengukurnya? Dengan tes. Ditunjukkan nama-nama berbagai benda untuk disebutkan akan tenggelam, melayang, ataukah terapung. Murid Kelas mana yang lebih ingat untuk menjawab benar (yang melihat riel, ataukah yang melihat gambar) ?

Metode demonstrasi sudah baku, sudah terbentuk, begitu pula metode peragaan gambar. Tidak ada uji coba metode. Itulah eksperimen. Begitu halnya dengan metode diskusi dan ceramah. Dua-duanya sudah baku (ceramah itu seperti itu: guru menerangkan secara lisan), diskusi itu seperti itu (murid-murid mendiskusikan materi pelajaran yang sama dengan yang diceramahkan guru).

Dalam penelitian tindakan, tindakan (cara, teknik, metode, prosedur dan sebagainya) itu belum baku, walau sudah disebut dengan metode, teknik, sistem dan sebagainya. Itu sebabnya ada siklus-siklus, yang di dalamnya ada perubahan perbaikan penyempurnaan tindakan. Yang diubah diperbaiki itu tindakan tersebut. Dalam eksperimen tidak ada perubahan perbaikan penyempurnaan treatment. Treatmen dilakukan sekali proses (walaupun bisa beberapa lama, tetapi dengan pola yang sama).

Model, sistem, teknik STAD (student teams-achievement divisions) sebagai salah satu model cooperative learning, misalnya, jika dipilih sebagai tindakan, dalam pelaksanaannya senantiasa bisa (dan harus) diubah-ubah diperbaiki disempurnakan. Mungkin cara pembentukan kelompoknya, mungkin cara memberikan tugas pada kelompok, mungkin cara kerja kelompoknya, mungkin cara  pemberian nilai (skor) hasil belajarnya, mungkin cara pemberian hadiah atau penghargaannya, sampai tertemukan dan diyakini (reliabel) cara pelaksaan STAD yang paling efektif mengatasi masalah kelas.

Jangan lupa, masalah yang diatasi STAD aslinya (pola Slavin) belum tentu  sama persis dengan yang dihadapi kelas guru yang akan melakukan penelitian. Selain itu, faktor budaya dan kepribadian Amerika Serikat belum tentu sama dengan budaya dan kepribadian anak-anak Indonesia (apalagi anak desa Indonesia).  Oleh karena itulah maka yang selalu ada di kepala peneliti: coba-refleksi-perbaiki; coba-refleksi-perbaiki; coba-refleksi-perbaiki. Jadi: uji coba, uji coba, uji coba. Bukan: lakukan dan bandingkan efektif mana. Oleh karena itulah, maka, tidak ada kelas pembanding, dan tidak ada tindakan pembanding dalam penelitian tindakan, karena aslinya memang bukan eksperimen, betapapun ada yang mencoba menggunakan model eksperimen dalam penelitian tindakan. Jangan-jangan salah paham tentang penelitian tindakan. Kembali ke aslinya penelitian tindakan yang dipelopori oleh Lewin, tidak ada maksud dan pelaksanaan “eksperimen” di dalamnya, melainkan lakukan dan sempurnakan.

lewin_action_research

Langkah 1: Tetapkan gagasan atau “ide” (keinginan untuk memperbaiki keadaan).

Langkah 2: Himpun data, kaji gagasan tersebut (pertegas, perjelas).

Langkah 3: Susun rencana (pelaksanaan tindakan).

Langkah 4: Lakukan tindakan pertama.

Langkah 5: Lakukan evaluasi terhadap tindakan tersebut.

Langkah 6: Susun rencana baru (perbaikan atau penyempurnaan tindakan).

Langkah 7: Lakukan tindakan kedua. Dan seterusnya . . .

Dengan kata lain, jika ingin mengujicobakan sesuatu model baru, metode baru, teknik baru, prosedur baru, atau “ide baru” (dalam pendidikan), gunakanlah penelitian tindakan kelas. Jangan lupa, “ide” yang dimunculkan adalah “tindakan” untuk mengatasi masalah atau memperbaiki keadaan.

Penelitian tindakan tidak harus kolaboratif, bisa individual

Ada beragam macam penelitian tindakan. Ada penelitian tindakan individual guru (individual teacher classroom action research). Ada penelitian kolaborasi (collaborative action research), dan ada penelitian tindakan sekolah/wilayah (schoolwide action research).

Seseorang guru dapat melakukan penelitian tindakan di kelasnya sendiri dan sendirian, tidak berkolaborasi (bekerja sama sebagai tim penelitian) dengan siapapun. Akan tetapi, sebaliknya, dosen PT yang akan melakukan penelitian tindakan kelas, karena tidak punya kelas, harus (mau tidak mau) melakukan penelitian kolaborasi dengan guru kelas. Dalam kolaborasi kedua pihak sama kedudukan sebagai peneliti, hanya beda posisi (sebagai pengajar dan bukan pengajar), walaupun bisa mengajar dalam tim (jika dosen mampu, dalam arti menguasai materi dan kelas–bisa jadi karena terbiasa berhadapan dengan mahasiswa, tidak punya keterampilan khas menghadapi anak sekolah).

Penelitian kolaborasi dilakukan, misalnya, oleh dua orang guru yang mengajar bidang studi yang sama, di sesuatu kelas, atau di kelas masing-masing (yang memiliki masalah yang relatif sama) dengan tindakan yang sama dan “materi pelajaran yang sama” pula. Jika seseorang guru meminta bantuan guru lain untuk mengamati bagaimana ia mengajar (melakukan tindakan), itu bukan kolaborasi (tapi berbantuan– tapi, enggak ada tuh dalam kamusnya!).

Latar belakang dan kajian teori penelitian tindakan

Ketika menyusun proposal penelitian tindakan, banyak orang kisruh dan dikisruhkan dengan pola penelitian survai dan penelitian kuantitatif lainnya. Penelitian tindakan (mengulangi lagi), terdiri atas: (1) diagnosis masalah, (2)  perancangan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan dan penelitian atau penghimpunan data (observasi), serta (4) evaluasi dan refleksi.

Yang menjadi latar belakang penelitian tindakan (dalam survai dan penelitian korelasi disebut latar belakang penelitian) isinya masalah, masalah yang ada di kelas seseorang guru (dalam PTK). Jadi, kegiatannya berupa diagnosis masalah. Diagnosis masalah artinya menelaah (dan mencari data-data pendukung) masalah yang ada di lapangan (dalam PTK individual: di kelas guru yang bersangkutan). Ini sama dengan identifikasi masalah.

Mungkin banyak masalah yang ada di kelas guru tersebut. Ada prestasi belajar murid yang rendah (didukung data angka-angka hasil ulangan), ada motivasi belajar murid yang rendah (didukung data sebagian atau hampir seluruh murid enggan belajar), ada perhatian murid pada pelajaran yang rendah (didukung data murid-murid suka berbicara sendiri membicarakan hal-hal di luar pelajaran, atau melakukan kegiatan yang bukan kegiatan belajar), mungkin pula ada masalah alat peraga kurang memdai, dan lain-lain.

Semua masalah tersebut “didiagnosis” kira-kira (didukung data) penyebabnya apa. Ini penting, sebab yang akan diatasi bukan gejala masalahnya, melainkan penyebab masalah. Bisa jadi, setelah dikaji, prestasi belajar murid yang rendah itu karena motivasi rendah, perhatian rendah, minat kesukaan pada pelajaran rendah, dan alat peraga juga kurang. Jangan-jangan, setelah dikaji cermat, semua itu terjadi karena guru kurang menggunakan alat peraga. Jadi tertemukanlah bahwa yang menjadi pokok pangkalnya dalah cara guru mengajar yang kurang menggunakan peragaan. Selesai, itulah masalah yang sebenarnya. Perlu ada batasan masalah? Tentu tidak, karena masalahnya sudah hanya tinggal satu itu saja. Dibatasi itu jika masalahnya banyak dan tidak salingkait seperti contoh. Misal, ada masalah lain, yaitu murid suka tertidur (karena kelelahan malamnya ikut berjualan, cari uang, bersama orang tuanya di pasar malam). Jadi, ada dua masalah.Yang mana yang paling penting dan perlu (urgen) diatasi? Boleh pilih salah satu. Atau, sekaligus diatasi jika ada cara sama bisa mengatasi keduanya sekaligus.

Dengan kata lain, sebenarnya dalam proposal penelitian tindakan (PTK) tidak perlu ada sebutan latar belakang masalah, cukup dengan sebutan diagnosis masalah (penelitian tindakan model Susman). Dalam diagnosis masalah ini sekaligus dimunculkan pembatasan masalah, yaitu memilih dan menetapkan salah satu atau beberapa masalah yang akan diatasi (ditindak) dan diteliti, dari sekian masalah yang sudah diidentifikasi dan didiagnosis sebab musababnya (Jika ada lebih dari satu masalah). Bisa saja judulnya latar belakang, isinya diagnosis masalah.

Tahap kedua PTK (menurut Kemmis dan McTaggart merupakan tahap pertama) adalah “plan” (Kemmis) atau “action plan” ( Susman). Di dalam tahap ini terkandung kegiatan atau proses kajian literatur. Kajian literatur ini mengandung dua hal, yaitu (1) mengidentifikasi (mencaritemukan) dan memilih alternatif tindakan yang akan diterapkan, dan (2) menelaah kejelasan  atau deskripsi (paparan) konsep-konsep terkait dengan masalah penelitian (prestasi belajar, atau motivasi belajar, atau perhatian) dan tindakannya (alat peraga, STAD/kerja kelompok, pendekatan PAKEM dsb.).

Jadi, dalam proposal PTK sebenarnya cukup disebutkan Perencanaan Tindakan, bukan kajian teori, walau tidak salah diberi judul kajian teori, isinya identifikasi tindakan. Ulang unsurnya: (1) Diagnosis Masalah, (2) Perencanaan Tindakan.

Selanjutnya pada tahap perencanaan tindakan ini direncanakanlah skenario tindakan berupa kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan pokok bahasan mata pelajaran yang akan dilakukan tindakan terhadapnya.

Direncanakan (dirancang) pula alat (instrumen) untuk menghimpun data sesuai dengan target sasaran penelitian. Misalnya jika ingin meningkatkan motivasi belajar, maka (berdasarkan kajian teori) ditegaskan tanda-tanda anak menunjukkan motivasi belajar dan target yang ingin dicapai dalam tindakan (kegiatan tindakan) itu. Contoh target: 75% anak menunjukkan motivasi yang tinggi (tetapkan pula ukuran tinggi itu ditunjukkan dengan perilaku seperti apa: misalnya sepanjang waktu terus menerus aktif mengerjakan tugas kelompok dsb).

Proposal selesai, sebab langkah berikutnya sudah berupa pelaksanaan tindakan. Jika menggunakan nomorisasi huruf, maka isi proposal itu akan terdiri atas:

A.  Diagnosis Masalah

1. Identifikasi masalah

2. Pembatasan masalah (jika ada)

B. Perencanaan Tindakan

1. Identifikasi Alternatif Tindakan

2. Penetapan Alternatif  Tindakan

3. Pertanyaan Penelitian

4. Skenario Tindakan

5. Rancangan Pengumpulan Data (Observasi)

Pilihan lain agar “agak sesuai dengan kelaziman tradional konvensional” sebagai berikut.

A. Latar Belakang

1. Identifikasi masalah

2. Diagnosis masalah (analisis faktor penyebab)

3. Pembatasan masalah (jika ada)

B. Kajian Literatur

1. Konsep-konsep terkait masalah (pengertian prestasi belajar dsb)

2. Faktor-faktor terkait masalah (faktor yang mempengaruhi prestasi belajar).

3. Cara-cara (tindakan) mengatasi masalah (Cara meningkatkan prestasi belajar) dan cara tindakan yang dipilih

4. Konsep-konsep terkait cara mengatasi masalah atau tindakan yang dipilih

C. Pertanyaan Penelitian

Isinya:

1. Apakah tindakan itu bisa efektif mengatasi masalah (meningkatkan prestasi belajar)?

2. Bagaimana cara (proses operasional) melaksanakan tindakan itu yang paling efektif mengatasi masalah (meningkatan prestasi belajar)?

D. Perencanaan Tindakan

1. Skenario kegiatan pelaksanaan tindakan (sesuai dengan pokok bahasan)–dalam pelaksanaannya nanti bisa luwes untuk diubah disempurnakan setelah tindakan I dilaksanakan (ada hasil refleksi).

2. Teknik mengukur keberhasilan tindakan.

3. Instrumen pengukuran keberhasilan tindakan.

Mau mengutip? Tulis: Amirin, Tatang M. (2009). “Filosofi dasar penelitian tindakan kelas.” tatangmanguny.wordpress.com.

Advertisements

9 thoughts on “FILOSOFI dasar penelitian tindakan kelas

  1. pak saya mau tanya mengenai OBSERVER pada PTK,,banyak saya melihat pihak observer dari teman sejawat atau dari pihak dalam sekolah tersebut…apkah PTK tersebut bisa dikatakan valid,dan kebanyakan solusi untk pemecahan masalah tersebut adalah metode/tehnik baru dalam pembelajaran…
    mohon petununjuknya…maaf saya banyak tanya pak…maklum dalam proses belajar…hehehehehe

    • (1) PTK sangat dianjurkan dilakukan guru dibandingkan survai dsb. agar guru tidak meninggalkan kelas yang dapat menjadikan pelajaran di kelasnya terbengkalai karena harus mengumpulkan data di berbagai tempat dan untuk beberapa hari. Jika ada guru lain diminta mengobservasi guru yang ber-PTK, itu berarti guru lain tsb harus meninggalkan kelasnya. Ini menyalahi “manfaat” melakukan PTK bukan jenis penelitian lainnya.
      (2) Dalam filosofi dasar PTK yang melakukan “observation” (baca = mengumpulkan data = meneliti) itu ya si guru yang ber-PTK itu sendiri. Data dikumpulkan lewat observasi (dalam arti mengamati dengan pancaindera) dan mungkin ditambah wawancara, serta tes untuk prestasi belajarnya.
      (3) Meminta guru lain menjadi observer bukan PTK kolaboratif. PTK kolaboratif dilakukan bersama-sama sejak awal, sejak analisis situasi (identifikasi masalah) sampai refleksi dan penyusunan laporan. Yang berkolaborasi biasanya salah satunya pasti yang lebih ahli dari si guru dalam hal tertentu. Misalnya dosen yang ahli metode pengajaran (pedagogi), atau ahli PTK.
      (4) PTK memang lazim menggunakan pedagogi (metode pengajaran) yang baru, dalam arti menggunakan cara yang lain dari yang biasa dilakukan guru (biasanya ceramah/ekspositori/telling misalnya, diganti dengan amatan lingkungan sekitar). Bisa juga memang ada pedagogi yang benar-benar baru yang perlu dan penting untuk dicoba diimplemenatasikan lewat PTK.

    • Sepakat banget dengan tulisan Kang Tatang, namun ada beberapa catatan Kang , pertama saya setuju Litin bukan menguji hipotesis karena Litin tidak sepakat dengan aliran kuantitatif yang positivisitik, namun mementingkan proses. Meskipun menemukan teknik atau metode sambil memecahkan masalah bukan tidak mungkin menjadi teori. Paradigma practice into theory sekarang menjadi biasa, bukan theory into practice seperti pada umumnya metode mengajar yang sudah-sudah. Yang kedua yang penting memang menguji/membukatikan suatu metode bisa memecahkan permasalahan, tetapi prosedur pemecahan masalah dengan metode tersebut itu seperti apa setelah melalui siklus-siklus itu. jadi prosedur ini justru penting dan akan menjadi teori temuan peneliti (guru) yang harus ditonjolkan. Jado guru yg sudah berpengalaman tentu bisa berteori berdasarkan temuan teknis praktisnya. Wassalam

      • JIka litin berkali-kali dilakukan dengan benar dan mendapatkan hasil yang reliabel, ya tentu bisa jadi teori (itu dasar pikir induktif!). Jika hanya sekali, tak bisa digeneralisasikan, lebih-lebih diteorikan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s