COOPERATIVE Learning: STAD (Student Teams-Achievement Divisions)

Tatang M. Amirin

Edisi 19 Agustus 2009; 20 Agustus 2009

Cooperative learning; student teams-achievements divisions (STAD); teacher-centered instruction (pengajaran memusat guru); student-centered instruction (pengajaran memusat murid = pembelajaran); text-book centered instruction (pengajaran memusat buku pelajaran); tut wuri handayani; social-skill dan life skills; learning to live together; tutor sebaya; proses STAD: (1) guru menerangkan, (2) murid belajar bersama dalam tim (3) tes-akhir, (4) penilaian dan penghargaan; quiz latihan dan quiz tes akhir


PBM/KBM teacher-centered vs student-centered

Proses atau kegiatan belajar-mengajar (PBM/KBM) itu ada kemungkinan terwujudkan dalam dua kubu ekstrim, teacher-centered atau TC (memusat-guru) atau student-centered atau SC (memusat-murid). PBM/KBM bersifat TC manakala (dalam kebanyakan pelaksanaannya sehari-hari) yang aktif lebih banyak guru. Guru berceramah, guru menerangkan (ekspositori), guru menjelaskan, guru memberi contoh atau meragakan (demonstrasi), dan sebagainya.

PBM/KBM bersifat SC apabila (dalam kebanyakanpelaksanaan kegiatan keseharian) murid yang aktif melakukan kegiatan belajar, guru hanya mengarahkan, membimbing, memberikan kemudahan (fasilitasi), membantu jika ada kesulitan, dan sebagainya.

Umumnya para pakar pendidikan memandang pendekatan (model) student-centered lebih baik untuk dilaksanakan. Di Indonesia hal itu sejalan dengan asas atau prinsip tut wuri handayani, walaupun tut wuri handayani itu lebih mengandung arti mendidik dengan prinsip mengikuti (tut wuri, following) kodrat siterdidik (pedidik: daya-daya potensial dan bakatnya) untuk mengembangkan daya-daya tersebut (handayani, andayani, empowering, memberdayakan). Jelasnya menyelaraskan pendidikan dengan daya-daya potensial dan bakat kodrati pedidik, dan membantunya mengembangkan daya-daya potensial dan bakatnya itu secara optimal.
Ihwal teacher atau student centered itu, jangan sampai salah memahami, dengan menganggap bahwa guru menerangkan atau berceramah (ekspositori) itu salah atau jelek.  Ada ketika guru harus menerangkan, harus menjelaskan, harus meragakan, harus memberi contoh, dan sebagainya. Tetapi, tidak terus-menerus guru mengajar dengan menerangkan saja, atau guru yang banyak bicara dan murid diam mendengarkan.

PEMBELAJARAN, istilah yang sekarang ini dipopulerkan, pada hakekatnya merupakan PBM/KBM yang student-centered, yang membuat murid aktif belajar mandiri. Jadi, aneh jika ada yang menyebut pembelajaran yang teacher-centered (Yang ada PBM/KBM yang teacher-centered). PEM-BELAJAR-AN secara bahasa mengandung arti usaha atau upaya membuat seseorang (orang lain) belajar, membuat mereka secara aktif mandiri melakukan kegiatan belajar, bukan pasif belajar (mendengarkan guru mengajar/mengajari). Jadi, istilah PENGAJARAN lebih netral daripada pembelajaran. Istilah pembelajaran itu bersifat preskriptif,  mengandung makna sebaiknya, seharusnya, seyogyanya, yaitu pengajaran itu seyogyanya membelajarkan murid. Sementara istilah pengajaran bersifat deskriptif, apa adanya, jadi bisa baik, bisa tidak baik, bisa efektif, bisa tidak efektif, bisa membelajarkan, bisa tidak membelajarkan.

Sebenarnya masih ada tipe ketiga, yaitu textbook-centered, yakni PBM/KBM yang memusat pada buku pelajaran. Tapi ini sebenarnya lebih cenderung ke student-centered, murid aktif mempelajari buku pelajaran–modul, misalnya. Tapi memang ada “kelas” yang muridnya diajari guru yang mengandalkan sepenuhnya pada buku atau LKS. Guru hanya “mendiktekan” isi buku, atau menugasi murid mengerjakan isi LKS.

Pengajaran yang membelajarkan dengan cooperative-learning

Salah satu upaya pembelajaran (pengajaran memusat murid) adalah membuat murid belajar berkelompok, bekerja bersama dan bekerja sama melakukan kegiatan belajar dalam kelompok. Ini yang lazim disebut dengan cooperative-learning, belajar dengan bekerja sama.

Kenapa cooperative-learning ini dianggap perlu dan penting dalam pendidikan? Pertama-tama dan terutama, karena tidak setiap orang bisa dan mampu bekerja sama. Tidak ada seorang pun yang sejak lahir mempunyai kemampuan untuk bekerja sama dengan baik. Kemampuan itu harus dipelajari. Ini termasuk yang disebut dengan social-skill atau kecakapan hidup bermasyarakat (salah satu dari life-skills atau kecakapan hidup). Dalam slogan Unesco disebut dengan learning to live together (belajar untuk mampu hidup bermasyarakat).

Kedua, lewat belajar bekerja sama akan muncul berbagai sikap sosial yang positif, di antaranya saling menghargai dan menghormati, toleransi, tenggang rasa, kemampuan mengendalikan emosi, kesediaan untuk saling berbagi (take and give), simpati, dan empati (kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, memikir apa yang dipikirkan orang lain, berkehendak seperti yang dikehendaki orang lain).

Apa makna bekerja sama (cooperation) dari cooperative learning itu? Maknanya para murid secara bersama-sama berusaha agar semua murid, tanpa kecuali, bisa memahami atau menguasai materi pelajaran. Berusaha bersama-sama pintar, sama pintar dalam perbedaan yang tidak mencolok.

Cooperative-learning dengan sistem STAD

Bagaimana cara mengajari (mendidik) murid mampu bekerja sama dan bekerja bersama dalam kegiatan belajar itu? Salah satu teknik (sistem) yang dikembangkan Slavin (1977) adalah student teams-achievement divisions, disingkat STAD. Agak sulit menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Secara hakiki kira-kira akan bermakna bekerja sebagai tim, prestasi berbagi sebagai tim. “Teams-achievement” (dalam STAD disambungkan dengan garis sambung) yang bermakna prestasi tim, bukan prestasi individual murid, merupakan sesuatu yang ditekankan atau menjadi perhatian, dan sekaligus sebagai strategi guru mendidik sikap sosial.

Bagaimana jelasnya? Murid-murid (sekelas) dibagi ke dalam kelompok-kelompok atau tim (terdiri atas 4, 5 atau 6 orang). Murid-murid itu bekerja sama dalam tim mempelajari sesuatu materi pelajaran. Satu sama lain salingbantu untuk menguasai pelajaran. Keberhasilan (prestasi) belajar murid diukur dari prestasi tim, bukan prestasi orang per orang murid. Oleh karena itu, maka semakin tinggi rerata skor tim, semakin dianggap berhasil tim itu (dan anggota-anggotanyanya) belajar.

Contoh:

Dari lima anggota Tim A dua orang mendapat nilai 4, dua orang 7, dan satu orang lagi 9 (4-4-7-7-9). Nilai reratanya atau nilai tim jadinya 31:5 = 6,2.

Nilai tersebut jelas lebih jelek dibandingkan nilai anggota Tim B yang mendapat nilai 6-6-7-7-8 (rerata 34:5 = 6,8).  Dalam kelompok ini nilai yang diperoleh anggota relatif merata, tidak ada yang menonjol baik dan jelek. (Pada Kelompok A ada yang 4 walau ada yang 9).

Tim A jelek karena yang bodoh tetap (dibiarkan) bodoh (ada dua orang “bodoh” yang mendapat nilai 4), sementara Tim B bagus karena yang “bodoh” pun bisa ikut pintar (dipintarkan teman yang pintar; yang “bodoh” saja bisa dapat nilai 6).

Apa yang dikehendaki? Dalam tim (kelompok) diharapkan yang “pintar” dapat menarik atau “memapah” yang “bodoh.” Dengan kata lain, dalam tim atau kelompok itu diharapkan ada kegiatan tutor sebaya. Dengan “trick” menjadikan seseorang murid menjadi tutor sebaya itu, sekaligus pula akan dididikkan sikap sosial (dan kepribadian) kepada “orang-orang pintar” untuk tidak egois, sekaligus mengembangkan kemampuan “mengajar” kepada sesama pelajar, dan juga kepemimpinan yang humanis.

Di sisi lain, dikembangkan pula sikap (perilaku) menghargai dan menghormati orang lain (yang lebih pintar), serta kemampuan untuk mengukur diri sendiri dan mengakui kelemahan diri (“self-concept” positif bahwa realita diri memang “bodoh,” tetapi jika tidak malu dan mau belajar, walau kepada teman sendiri, tentu akan “pintar” juga).

Bagaimana tutor sebaya itu bisa muncul? Dari mana datangnya tutor? Kegiatan pertama kali STAD adalah guru memberikan penjelasan mengenai materi baru. Penjelasan guru tersebut paling tidak, diharapkan, dapat dipahami oleh anak-anak yang tergolong pintar. Anak yang relatif bodoh mungkin masih perlu waktu dan penjelasan lebih lanjut agar bisa paham benar. Nah, tugas anak yang sudah paham itulah membantu teman satu timnya yang belum paham mempelajari materi pelajaran agar sama-sama paham atau menguasai pelajaran.

Skenario pengajaran (PBM/KBM) dengan teknik (sistem) STAD

Sejalan dengan filosofi seperti diutarakan di atas, maka skenario pengajaran (PBM/KBM) cooperative learning dengan teknik (sistem) STAD itu ditata sebagai berikut.

1. Guru memberikan penjelasan. Jelasnya guru menerangkan (ekspositori) materi baru, memberi contoh cara mengerjakan soal baru, meragakan keterampilan baru dsb. Misalnya pelajaran baru Matematika mengenai cara menghitung luas segi tiga.

cooperative learning

2. Murid belajar dalam tim atau kelompok. Dalam tim atau kelompok itu murid-murid secara bersama memperdalam atau memperluas materi pelajaran, atau “menderes” (mengulang menghapalkan) materi pelajaran), atau berlatih bersama-sama (bekerja sama) mengerjakan soal-soal (“quiz latihan,” LKS, dsb.). Jadi, untuk tahap kedua STAD itu (kerja tim)  guru harus menyediakan tugas yang harus dikerjakan oleh semua kelompok. Misalnya murid bersama-sama berlatih menghitung luas segi tiga dengan ukuran yang berbeda-beda yang sudah disediakan guru

3. Tes akhir sesi. Pada akhir “sesi,” bisa akhir satu pertemuan, dua pertemuan, atau tiga pertemuan, tergantung pada isi pokok bahasan atau materi pelajaran, dan perkiraan siswa dapat menangkap atau menguasai pelajaran, diadakanlah tes individual, dengan “quiz tes,” misalnya. Dalam tes ini tentu tidak ada lagi kerja sama. Misalnya guru menyajikan beberapa gambar segi tiga dengan ukuran tertentu, dan murid diminta menghitungnya.

4. Penilaian dan pemberian penghargaan. Tes akhir sesi dikoreksi (dinilai) guru untuk nantinya diberitahukan kepada seluruh siswa. Ada pemberian bonus atau penghargaan (tidak harus selalu berupa materi) kepada tim terbaik (Lihat pula uraian di bawah nanti).

Merancang pelaksanaan STAD

Mengingat dalam tim itu harus ada kerja sama antara yang “pintar” dan “yang bodoh,” maka pembentukan tim harus memperhatikan kemampuan dasar anak. Jelasnya yang pintar-pintar dibagi merata atau setara ke dalam tim-tim atau kelompok-kelompok dimaksud.

Mengingat kegiatan belajar bersama dalam tim itu dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi baru, maka mata pelajaran apa yang akan di-STAD-kan  itu tentu harus dicermati benar. Jangan sampai tim tidak punya pekerjaan atau kegiatan karena yang harus dipelajari bersama sebenarnya tidak ada, karena sudah dengan amat sangat mudah dipahami semua murid.

Kedua, harus pula diperhatikan bahwa yang dipelajari itu ada efek individualnya, ada kemampuan individual orang per orang murid yang “tampak” ke permukaan, misalnya bisa hapal seratus nama tokoh sejarah, bisa mengerjakan soal matematika, bisa menyebutkan minimal 50 tanaman yang dikenal siswa termasuk kelompok dikotil apa monokotil, dan sebagainya.

Apakah pelajaran menggambar (kertakes) bisa dan perlu menggunakan STAD? Apakah pelajaran menyanyi bisa dan perlu menggunakan STAD? Apakah materi tertentu pelajaran PKn bisa dan perlu menggunakan STAD? Apakah materi tertentu pelajaran bahasa Indonesia perlu dan bisa menggunakan STAD? Perlu atau tidak perlu, bisa atau tidak bisa menggunakan STAD itu harus menjadi bahan pertimbangan pertama kali sebelum menggunakan STAD.

Jadi, kegiatan pertama adalah guru menerangkan atau menjelaskan materi baru. Materi ini harus dipelajari lebih jauh oleh murid agar benar-benar “dikuasai,” misalnya dengan MEMPRAKTEKKAN: praktek mengerjakan soal matematika, praktek membaca Qur’an dengan  tajwid yang benar, praktek wudu yang benar, praktek “menghapal” surat pendek atau doa, praktek menyusun kalimat yang baik dan benar, praktek menyanyi yang benar, dan praktek atau percobaan biologi atau fisika. Atau materi itu harus dihapalkan: menghapalkan nama-nama gunung, kota, dan sungai di Jawa Tengah dan letaknya (menggunakan peta buta, atau main tebak letak); menghapalkan nama dan peristiwa sejarah; menghapalkan dan memahami kosa kata baru bahasa Indonesia; dll.

Untuk kegiatan kerja tim itu guru dapat (bahkan harus) menyiapkan berbagai sarana belajar (atlas, peta buta, LKS, soal-soal matematika, “kamus” daftar kata-kata baru bahasa Indonesia, contoh huruf Jawa dan sebagainya, dan tugas-tugas yang harus dipraktekkan atau dicoba murid). Kelak dari soal atau tugas latihan dalam dan dengan tim (kelompok) itu guru akan membuat soal tes akhir sesi. Dalam kegiatan ini tutor sebaya memainkan perannya.

Bagaimana langkah 3 dan 4 STAD dilakukan? Langkah 3 adalah tes akhir, walaupun bukan tes sumatif, tapi tes formatif. Disebut tes akhir, maksudnya tes penguasaan materi pelajaran yang sudah dipelajari tersebut (pada pokok bahasan tertentu), bukan tes latihan lagi. Tes ini, seperti telah disebutkan, bersifat individual. Jadi dinilai orang per orang (dan tentu saja dikerjakan individual, tidak boleh ada kerja sama lagi).

Pengelolaan Hasil “Tes Akhir Sesi”

Apa yang dilakukan dengan hasil tes akhir (sesi)? Berikut dipaparkan salah satu kemungkinan (hasil rekaan penulis dari konsep Slavin ditambah dari peneliti lain, disesuaikan pula/lagi dengan perkiraan “tangkapan kepala guru-guru Indonesia.”

Model I, skor (nilai) hasil tes yang dipakai sebagai acuan keberhasilan adalah rerata nilai tim. Nilai anggota tim bukan nilainya sendiri, melainkan nilai rerata kelompok tadi. Jadi (dari contoh di muka), karena rerata nilai tim 6,2 saja, maka anak yang mendapat nilai 9 pun nilainya menjadi 6,2, bukan 9. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai 4 jadi mendapat nilai 6,2.  Cara ini akan “memberi pelajaran” (“hukuman”) kepada anak yang pintar yang tidak bisa memintarkan teman-temannya (tidak bisa menjadi tutor sebaya), karena skor (nilainya) menjadi turun (harusnya 9, tetapi diberi 6,2).

Model Penilaian I tersebut mengandung kelemahan (hipotetis), yaitu anak yang bodoh bisa tidak berusaha belajar maksimal, karena akan “terbantu” oleh nilai murid yang pintar [Dalam contoh di atas, dapat nilai 4 pun akan menjadi 6,2]. Akan tetapi, karena akan “memacu” anak pintar harus mau membantu temannya, maka Model I itu tetap baik untuk dilakukan, walaupun mungkin hanya akan dijadikan dasar cara memberi nilai berikutnya, tidak terus menerus digunakan.

Model Penilaian I ini dapat diikuti dengan langkah 4, yaitu memberikan penghargaan kepada tim yang terbaik. Tim terbaik dapat diberi penghargaan berupa, misalnya, mendapatkan tambahan poin 1. Jadi, jika tim yang terbaik mendapatkan skor (nilai) rerata 6,8, maka nilai seluruh anggotanya (karena plus 1) akan menjadi 7,8. Dan tentu saja mendapat predikat “Tim Terbaik Minggu (atau Bulan) Ini.”

Pada kegiatan selanjutnya dengan materi atau pokok bahasan (subpokok bahasan) baru (dari mata pelajaran yang sama) dapat digunakan Model Penilaian II. Yang diperhatikan adalah besaran nilai kemajuan (perubahan nilai semula menjadi nilai sekarang atau “gain”) tiap-tiap anggota tim berbanding rerata skor pertama tim tersebut. Perubahan nilai (gain) itu, maksudnya jika  misalnya semula punya nilai 6 dan sekarang 7, berarti naik atau plus 1 (7 – 6 = 1). Sebaliknya, jika semula 6 dan sekarang mendapat 5, maka perolehan nilainya turun atau minus 1 (5 – 6 = -1).

Contoh konkritnya: Jika Tim A  rerata skor timnya 6,2, dan skor per individu (lima orang) yang diperoleh sekarang 4-6-7-7-8, maka “perubahan nilai” tiap-tiap murid sebagai berikut.

(1) Murid A = 4 – 6,2 = -2,2

(2) Murid B =  6 – 6,2 = -0,2

(3) Murid C =  7 – 6,2 = +0,8

(4) Murid D = 7 – 6,2 = +0,8

(5) Murid  E = 8 – 6,2 = +1,8

Selanjutnya nilai akhir tiap murid dihitung dengan cara menjumlahkan   skor pertama hasil dari Model I (rerata nilai tim, yaitu 6,2) ditambah nilai “gain”-nya sekarang (6,2 + “gain” = . . . ). Jadi, hasilnya (nilai akhir sesi ini) akan sebagai berikut. Agar tidak membingungkan semua “gain” dituliskan dalam kurung.

(1) Murid A = 6,2 + (-2,2) = 4,0

(2) Murid B = 6,2  + (-0,2) = 6,0

(3) Murid C = 6,2 + (+0,8) = 7,0

(4) Murid D = 6,2 + (+0,8) = 7,0

(5) Murid E = 6,2 + (+1,8) = 8,0.

Rerata skor tim jadinya 4,0 + 6,0 + 7,0 + 7,0 + 8,0 = 32,0 :  5 = 6,4. Jadi, sebagai tim hasil belajarnya hanya naik 0,2 poin saja (skor semula 6,2 sekarang 6,4).

Dengan Model II ini “murid yang bodoh” yang dikuatirkan dengan menggunakan penilaian Model I, yakni nilainya berupa nilai rerata kelompok atau tim (6,2) akan membuatnya malas belajar, hanya mengandalkan nilai teman-temannya yang pintar, akan kembali kelihatan “bodohnya”. Nilainya akhirnya rendah juga (nilainya 4).  Maka diharapkan (hipotetis) ia akan memacunya untuk mau berusaha belajar sungguh-sungguh, karena tidak bisa lagi mengandalkan mendapatkan keuntungan dari nilai teman yang pintar.

Tim mana yang menjadi TIM TERBAIK MINGGU INI? Tetap menggunakan perbandingan rerata nilai tim. Tim terbaik mendapat hadiah bonus nilai 1. Atau juga akan diberi hadiah pinsil per anggota tim?

Diharapkan (hipotetis) kebanggaan tim sebagai yang terbaik akan memacu semangat tim (esprit de corps) untuk bekerja sama, dan bersama-sama, meraih hasil belajar yang terbaik.

Namun demikian, rasa-rasanya di Indonesia penciptaan iklim kompetitif dimaksud tidak atau belum menjadi motivator siswa, tidak menggerakkan siswa, alias susah sekali diciptakan. Orang Indonesia suka “cuek” dengan prestasi. Tak perduli orang lain berprestasi, orang tersebut “etel” (rileks, santai) saja kata orang Jawa. Akan tapi, bagaimanapun, tetap harus dicoba. Mari berpikir positif, optimistik, tidak pesimistik. Iklim itu harus diciptakan dan dikembangkan.

Tapi, jangan lupa, iklim kompetitif itu hanya sarana untuk meningkatkan motivasi berprestasi, bukan tujuan. Mengapa harus berkompetisi? Kenapa tidak “mari bersama-sama menjadi orang yang berprestasi.” Mengapa tidak semua murid (tanpa kompetitif) mendapat nilai 10?!

Catatan akhir

KITA DAPAT MENGEMBANGKAN (BERINOVASI, MENEMUKAN) MODEL PENILAIAN LAIN yang akan memotivasi murid mau belajar bersama-sama, dan mau belajar untuk diri sendiri, lebih baik.

Selamat mencoba, karena sebagian yang penulis tulis itu masih bersifat HIPOTETIF (belum teruji lapangan dengan reliabel atau meyakinkan). Mengapa untuk itu tidak kita lakukan penelitian tindakan kelas (PTK) banyak-banyak dan salingbagi informasi hasilnya? Jadi, kita nanti punya model STAD ala Indonesia (Indonesian Model–STAD-IM).

Mau mengutip? Tulis: Amirin, Tatang M. (2009). Cooperative learning: STAD (Student Teams-Achievement Divisions). tatangmanguny.wordpress.com

20 thoughts on “COOPERATIVE Learning: STAD (Student Teams-Achievement Divisions)

  1. STAD dalam beberapa hal memang memberikan beberapa dampak tak terlihat seperti yang bapak terangkan tadi. melatih life skill anak, terutama sosial skill. dan salah satu kelemahan yang sudah menjadi karakter khas anak2 kita adalah enggan berkompetisi. tapi untuk kasus2 anak di kota2 besar, nampaknya budaya kompetitif sudah agak terbentuk karena didikan lingkungan. Jadi stad juga cukup efektif memicu dan memacu semangat berprestasi, seperti yang dikehendaki oleh STAD tadi, tim siswa berprestasi.
    satu hal lagi, STAD itu menghasilkan outputnya memerlukan waktu yang lama, namun hasilnya hebat. Nampaknya jarang sekali guru2 di kita yang bisa mengikuti karakter STAD ini, inginnya cepat saji, ada hasilnya.
    bravo pendidikan Indonesia

  2. Sebagian guru dan dosen kita sudah mulai dan akan mulai mencobakan STAD ini. Membentuk watak dan kepribadian serta perilaku sosial normatif memang tidak mudah, memerlukan waktu banyak. Siapa tahu, dari berkali-kali melakukan PTK dengan STAD ada temuan guru dan dosen kita bahwa social skill yang kita harapkan itu bisa dikembangkan dengan model, cara, teknik tertentu. Semoga. Amin.
    Nah, kalau begitu, pesan penting bagi peneliti PTK menggunakan STAD: Jangan lupa lho, bukan hanya prestasi belajar mata pelajaran yang harus kita tingkatkan, melainkan social skillsnya juga (learning to live together), dan tentu pula pengembangan kepribadiannya (learning to be).

  3. Bagi guru khususnya di daerah pedesaan sebenarnya model ini dapat dicobakan, akan tetapi masalahnya mungkin para guru belum terbiasa, apalagi harus membentuk kelompok yang terdiri dari anak-anak yang berbeda kecerdasannya. Di daerah pedesaan yang kebanyakan dikenal memiliki nilai-nilai budaya yang masih kental, ternyata sudah mulai perlahan-lahan luntur. Sikap gotong royong yang seharusnya menjadi pedoman dalam setiap pekerjaan sudah jarang terlihat. Penggunaan model STAD ini belum banyak memberikan perubahan yang berarti bagi sikap pada anak, yang pandai akan semakin pandai dan yang bodoh tetap dengan kebodohannya.
    Yang perlu dibenahi adalah upaya untuk meningkatkan kepedulian anak untuk menjadi tutor sebaya bagi temannya, agar kerja sama dalam kelompok ini lebih berhasil.
    Di samping itu, kepribadian perlu pula dikembangkan. Dengan kerjasama yang baik (sosial skill) didukung dengan kepribadian yang baik pula, dapat membentuk peserta didik seperti yang diharapkan, karena memang anak seharusnya dipersiapkan untuk menghadapi tantangan hidup di masa depan.

    • Nah, kalau begitu, bagaimana jika Ibu mencoba kreatif (kata A dalam PAKEM), mencoba model seperti STAD, tidak harus STAD dengan cara desa. Artinya mencoba dengan berbagai cara, tanpa harus terikat dengan penelitian tindakan kelas, menjadikan anak-anak pintar mau menjadi tutor sebaya. Apa yang Ibu cobakan, dokumentasikan (catat sebagai catatan harian atau “diary”– dalam bahasa PTK disebut “jurnal PTK”), lalu hasilnya (ceritera cara-cara tersebut lengkap dengan perubahan-perubahannya) Ibu kirimkan ke blog saya, nanti saya editkan untuk bisa dibaca banyak orang lewat “post” saya. Intinya: Ibu mencoba menjadikan anak pintar mau dan mampu menjadi tutor sebaya. Oh, ya, coba dulu Ibu berikan perhatian khusus pada anak yang “bodoh” itu, ajari secara tersendiri untuk bisa memahami yang belum dipahaminya, pelan-pelan samapi paham. Anak-anak pintar diminta menyaksikan Ibu membantu yang “bodoh-bodoh” tadi. Nanti anak pintar itu akan “meniru” cara Ibu membimbing anak yang bodoh. Nah, boleh kita sebut model itu jadi “tutorial sebaya model Aryati.” Anak pintar diberi contoh menutori, lalu praktek menutori dalam bimbingan, baru menutori mandiri. Nah, ini nanti, kalau sudah tertemukan cara atau “resepnya” kita sebut “tutorial sebaya model Aryati.” Why not?

  4. menurut q ni STAD emang ok banget, nah ni q gi ngajukan judul thesis ttg STAD juga dalam pembelajaran b.inggris. bisa ndak nti kalau di terima minta referensinya. terimakasih sebelumnya.

  5. No problemo. If you need the original articles, just open the internet, please. At least there are two articles about STAD best to read, the original one written by Slavin, and the developmental application by another writer (researcher). My writing is a compilation of them.

  6. STAD tergolong model pembelajaran yang PAIKEM, dapat menumbuhkan sikap sosial dan kekreatifan anak juga sikap untuk berkompetitif. Akan tetapi dalam aplikasinya pada tindakan 1 penilitian yang saya lakukan, STAD tidak dapat berjalan mulus seperti halnya pada teori di langkah-langkah pembelajaran STAD. Ketika ada beberapa anak tidak masuk kelas dapat mengurangi skor dalam kelompok dan ketika si pintar tidak cocok dengan teman dalam kelompoknya timbul emosi dan pertengkaran kemudian tugas kelompok tidak selesai dan nilai kelompok, nilai tes individu dan skor kelompok jadi tidak maksimal.
    Terimakasih atas bimbingan skripsinya selama ini demi kebaikan dan kesempurnaan penelitian saya. Smg cepat selesai dan cepat ujian. Mohon doa dan bimbingannya ya Pak! Dan jangan bosan2 untuk selalu membimbingku dalam penyusunan skripsi.

    • Ya itulah, maka penelitian tindakan kelas (PTK) disebut BUKAN PENELITIAN UJI HIPOTESIS, menganggap sejak semula bahwa STAD “pasti” (hipotetis) mampu meningkatkan prestasi belajar. PTK sambil treatmen (tindakan) dilakukan sambil terus diperbaiki. Pembentukan kelompok yang gagal (kurang baik) pada langkah pertama, diperbaiki pada langkah berikutnya. Dalam konteks pembentukan kelompok ada kalanya perlu memperhatikan “sosiometri” (siapa suka siapa, siapa tidak suka siapa, siapa dengan siapa saja suka dsb). Konsep ini yang dalam tulisan saya lupa dikemukakan.

  7. Kenyataan di lapangan pendidikan pedesaan, kebanyakan murid belum paham dg makna kerja tim. Dalam kegiatan kelompok siswa masih juga bekerja sendiri. Kedua, meeka naif dg makna ‘prestasi’ bagi mereka sekolah adalah bermain dan berkumpul dengan teman. Kedua masalah ini yang pada hakekatnya menjadi kendala terutama bagi saya pribadi yang terjadi dilapangan. Bagaimanakan penerapan sistem STAD yang baik atau perlu modifikasi yang bagaimana sehingga dapat mengatasi masalah yang saya hadapi.

    • Dulu waktu saya sekolah SD saya juga tidak peduli dan tidak mengerti dengan prestasi. Pokoknya sekolah, aja. Guru yang mikir tentang prestasi. Ada banyak jalan ke Roma, ada banyak jalur ke Mekah, ada banyak rute ke Amerika. Sekali-sekali lakukan kegiatan lomba kelompok lewat kegiatan Pramuka, tapi yang harus dikerjakan memang hanya bisa efektif jika dikerjakan berkelompok (Itu kalau ingin mengajari dan menyadarkan tentang arti penting bekerja kelompok sebagai suatu tim, benar-benar teamwork). Ngangkat “bandoso” untuk membawa jenazah ke kuburan, misalnya, kan hanya bisa oleh kelompok. Lari estafet, kan team. Jika mata pelajaran (materi pelajaran) yang harus dikerjakan, materi pelajaran apa ya yang memang hanya bisa efektif, tuntas, jika dikerjakan berkelompok?
      Tunggu! Begini: Jika anak-anak itu akan kita ajak studitur, kira-kira akan diajak naik apa, ya? Bis, mikrobis, truk, atau mobil kecil tapi banyak? Semua itu alternatif pilihan. STAD pun, itu kan hanya salah satu kendaraan yang bisa digunakan mengangkut siswa menuju prestasi. Banyak cara atau model lain. Kalau STAD itu pesawat terbang, apa anak-anak itu akan kita bawa naik pesawat terbang untuk studitur? Enggak, kan? Mungkin kita pilih bis saja, karena pesawat terbang tak cocok untuk di desa. Jadi, cari model lain, tak harus STAD, sesuai dengan kondisi anak-anak kita yang, katanya, bersekolah itu lebih mengandung makna sebagai berkumpul bersama teman dan bermain. Cari bentuk perkumpulan permainan, kalau begitu! Berkumpul dan bermain dengan teman, tapi tetap belajar (learning by playing in group/team–jadi “learning by team-playing”). Be creative, please! Katanya PAKEM or PAIKEM!

  8. wuah…iktan nimbrung ni!!
    nama saya rizla…kebetulan saya sedang melakukan peneltian pendidikan tentang tutorial teman sebaya secara estafet untuk ank smk prodi audio video dijakarta…yg saya teliti seputar interaksi sosial peserta didik saya…jd saya men-create interaksi sosial mereka supaya jadi lbh baik dgn menggunakan metode tutorial teman sebaya gitu pa’e…kemudian saya neliti hubungan interaksi tsbt dgn mtivasi & hasil belajar mereka.
    sebelumnya saya gambarkan terlebih dulu ya pa’e konsep saya..
    dalam satu kelas berisi kurang lebih berisi 35 siswa, kemudian saya bagi menjadi 12 kelompok, dimana 1 kelompok terdiri dari 3 siswa saja, kemudian siswa yang mempunyai nilai akademis di atas rata2 saya kumpulkan dan saya sebar pada setiap kelompok yang selanjutnya mereka akan menjadi tutor 1 (pemberi materi), kemudian siswa kedua akan menjadi tutor2 (penerus materi) dan siswa ketiga akan menajdi tutor3( tutor penentu meteri )materi sampai atau tidak. berestafet gitu pa’e, nah itu alasan saya membuat 1 kelompok hanya berisi sedikit siswa saja. saya di sana sebagai pengawas dan tempat bertanya tutor1 dengan terlebih dahulu masing2 tutor1 dari beberapa kelompok berkumpul setelah itu di jelaskan materi yang akan di ajarkan.. nah jadi setiap siswa akan menjadi tutor untuk temannya yang lain,kecual tutor penentu..yang diharapkan dari metode tersebut terjadi interaksi yang aktif, dimana interaksi tersebut berupa kerjasama dalam kelompok untuk bertanggung jawab thdp kemajuan antar temannya dalam 1 kelompok…serta persaingan antar kelmpok untuk menjadi lebih baik yang selanjutnya diharapkan menjadi motivasi mereka untuk mjadi lebih baik dengan adanya peningkatan hasil belajar para siswa, terutama pada mata pelajaran elektronika digital & komputer yang merupakan mata pelajaran dasar untuk ke depannya.
    nah menurut itu sedikit ringkasan konsep pnelitian saya, tp setelah saya pkir2 kembali,lbh baik apa saya ambil untuk PTK saja ya pa’e…kemudian stlah baca konsep stad dr pa’e…lumayan menjurus euy!!
    jadi mohon bantuan bapa’e ni!!
    pendapat pa’e ttg skripsi saya ini gmn gt…trs masukan2 apa j yg hrs sy tngkatin…
    sebelumnya…makasi y pa’e

    • Kayaknya sih enakan di-PTK-kan aja. Tindakannya STAD model RIZLA, gitu. Tapi bukan juga. Ya TUTORIAL BERANTAI MOEL RIZLA, KALI. Coba saja. iNGAT, PTK bukan eksperimen. Tindakan dalam PTK BELUM MERUPAKAN RESEP JADI. Maka, diujicoba, dievaluasi, direvisi, diujicoba, dievaluasi, direvisi … sampai tertemukan yang mapan (established).

  9. Ass. Pak mau tanya bagaimana penyajian materi untuk kegiatan belajar membaca dengan metode STAD/ kebetulan saya ambil metode ini untuk penyusunan skripsi saya dengan skill reading yang diambil, tapi saya bingung penyajian materi/mengajar nya gimana ya? Tolong jawab ke e-mail saya esuryati68@yahoo.co.id. Thanks.

    • Wah, ya dibaca dulu STAD itu teknis pelaksanaannya harus bagaimana dan kenapa serta untuk apa. Pertanyaannya: apakah reading skill itu memerlukan “kerja kelompok”? Apa yang ditutorkan oleh yang “pintar” ke yang “bodoh”? Apa yang sama-sama salingtularkan dalam kelompok? Apakah jika tidak dengan kerja kelompok (cooperative learning) tidak atau kurang efektif? Mengapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s