FAKTA, data, data kuantitatif, data kualitatif, dan variabel penelitian

Tatang M. Amirin

Edisi 3 Juni 2009; 5 Juni 2009; 22 Juni 2009; 28 Juni 2009

Mau ngutip? Tulis: Amirin, Tatang M. (2009). “Fakta, data, data kuantitatif, data kualitatif, dan variabel penelitian.” tatangmanguny.wordpress.com

  • Pak Tasa seorang petani desa. Ia punya tiga orang anak, dua laki-laki (sulung dan bungsu) dan satu perempuan (tengah-tengah). Dua orang anaknya berasal dari perkawinannya dengan isteri pertamanya yang sudah meninggal dunia tertimpa musibah gempa. Ketika itu gempa sungguh-sungguh amat dahsyat. Rumahnya dan rumah-rumah tetangga di sekitarnya hancur rata dengan tanah, tidak ada lagi bagian bangunan rumah yang masih tegak berdiri. Kini Pak Tasa sedang mulai lagi membangun kehidupan keluarganya, bersama istri barunya, seorang janda tanpa anak yang ditinggal suaminya, seorang pedagang keliling, yang meninggal dunia terseret banjir bandang ketika keliling menjajakan dagangannya. Pak Tasa termasuk orang yang pantang menyerah. Semangatnya tak pernah habis untuk mensejahterakan keluarganya. Mensejahterakan keluarga itu amanah, katanya, dan berusaha untuk itu merupakan ibadah, lanjutnya. Niat ibadah itu pulalah yang membuatnya tak segan-segan, “sepi ing pamrih, rame ing gawe, lil-Lahi Ta’alamembantu tetangga-tetangganya membangun rumah mereka kembali yang ambruk, seperti rumahnya.

Pinguin ngeborApa yang dideskripsikan di atas merupakan fakta, suatu kenyataan keadaan (Tentu saja fiktif, sih). Ada fakta seorang petani desa yang bernama Pak Tasa. Ada fakta Pak Tasa punya tiga orang anak, dua berjenis kelamin laki-laki, dan satu perempuan. Ada pula fakta bahwa ia punya isteri pertama dan isteri kedua, tapi bukan beristeri dua. Ada pula fakta bahwa pernah terjadi gempa teramat dahsyat, dan Pak Tasa sekeluarga beserta tetangganya menjadi korbannya. Karena gempa rumahnya hancur dan isterinya meninggal.

Ada lagi fakta bahwa Pak Tasa termasuk seorang yang punya motivasi hidup dan menghidupi yang sangat tinggi, dan punya perilaku hidup sosial yang baik, mau membantu sesama tanpa pamrih. Fakta lain adalah Pak Tasa duda, istri keduanya janda. Fakta lain lagi ada kasus banjir bandang yang menjadi penyebab suami orang yang kemudian menjadi istri kedua Pak Tasa meninggal.

Dari fakta “ilustratif” tersebut ada beberapa hal yang bisa ditarik bulir-bulir penting berkaitan dengan penelitian.

1. Ada sesuatu (di alam ini) yang bisa dihitung-hitung, sesuatu yang berbilang (gejala berbilang), dalam contoh di atas anak Pak Tasa ada tiga orang, dua laki-laki dan satu perempuan.

2. Ada sesuatu (di alam ini) yang beragam bergolong atau berjenis, yaitu antara lain (dalam contoh) ragam pekerjaan (petani: Pak Tasa, dan pedagang keliling: almarhum suami isteri kedua Pak Tasa). Juga ada ragam jenis kelamin ( anak laki-laki dan anak perempuan Pak Tasa). Tentu saja termasuk Pak Tasa (laki-laki) dan istrinya (perempuan).

3. Ada sesuatu (di alam ini) yang beragam berjenjang urutan, yaitu antara lain (dalam contoh) anak sulung, tengah, dan bungsu Pak Tasa, termasuk juga isteri pertama (dinikahi pertama oleh) Pak Tasa, dan isteri keduanya.

4. Ada sesuatu (sifat-sifat keadaan di alam ini) yang menunjukkan kualitas (mengandung unsur taraf) misal (dalam contoh) gempa amat dahsyat (tentu ada gempa kecil), banjir bandang (tentu ada banjir kecil), dan semangat pantang menyerah (tentu ada semangat yang rendah sekali).

5. Ada sesuatu (di alam ini) yang terjadi berurut dahulu – belakangan, sebagai sebab – akibat, misalnya (dalam contoh): rumah hancur digoyang gempa, istri meninggal karena gempa, suami meninggal terseret banjir, dan “niat ibadah” Pak Tanesa membuat semangat kerja dan menolongnya tinggi.

6. Ada sesuatu (di alam ini) yang terjadi berurutan sebagai mata rantai, setelah sesuatu disusul oleh sesuatu berikutnya, misalnya (dalam contoh) ada gempa, lalu rumah Pak Tasa hancur dan isterinya meninggal, lalu Pak Tasa menikah lagi.

Dari “analisis” fakta “ilustratif” itu (tentu akan benar-benar ada fakta nyata), dapat diringkaskan bahwa di alam ini ada beragam gejala yang bisa dikategorikan menjadi:

1. Gejala berbilang vs gejala tak berbilang

Berbilang artinya bisa dihitung-hitung (dihitung dalam bahasa Sunda “dibilang”, menghitung = milang; membilang dalam bahasa Indonesia juga berarti menghitung). Bilangan (bahasa Indonesia) merupakan angka-angka perhitungan (beda dengan angka nomor: nomor rumah, nomor hape dsb yang tidak bisa dihitung-hitung dijumlah-dikurangkan). Banyaknya anak yang dimiliki Pak Tasa termasuk gejala yang berbilang (bisa dihitung-hitung dijumlah-dikurangkan). “Keberbilangan” itu bisa ditunjukkan dengan “sebutan satuan bilangan” (satu, dua, tiga, empat, seratus dsb.); dengan “proporsi” (50%, 25%, 100%); bisa pula dengan: banyak, sedikit, agak banyak, sedikit sekali.

Gejala yang berbilang itu mencakup gejala yang terukur, yaitu yang bisa diukur atau ditimbang. Jadi, tinggi tubuh (diukur), panjang jalan (diukur), lebar ruangan (diukur), berat badan (ditimbang), volume air dalam ember (ditimbang dengan timbangan/diukur dengan literan), prestasi belajar (juga “diukur”–dengan tes), kekuatan barang (diukur-dites), daya tahan tubuh atau stamina (diukur dites) dan sebagainya, semuanya termasuk gejala berbilang.

2. Gejala beragam vs tidak beragam

Gejala (benda, peristiwa) beragam maksudnya di dalam dirinya terkandung keberagaman (variasi) sifat keadaan. Gejala yang beragam ini dapat dibedakan lagi menjadi gejala beragam bergolong dan gejala beragam berjenjang (berjenjang urutan dan berjenjang bertaraf).

2a. Gejala beragam bergolong

Pekerjaan merupakan contoh gejala beragam bergolong (dalam ilustrasi di muka: petani — pedagang keliling). Begitu pula jenis kelamin (laki-laki — perempuan), status (posisi) dalam hubungan keluarga: suami — istri — anak.

2b. Gejala beragam berjenjang-urutan

Gejala beragam berjenjang-urutan adalah gejala yang menunjukkan urutan posisi, dalam contoh misalnya posisi urutan anak: pertama – kedua– bungsu dsb.; begitu pula status isteri (isteri pertama, isteri kedua, isteri ketiga dst), baik sama-sama hidup (“diwayuh” atau poligami) ataupun “pergantian” karena meninggal dunia, cerai dsb.

2c. Gejala berjenjang-bertaraf

Gejala berjenjang-bertaraf menunjukkan jenjang taraf kualitas dan sejenisnya, misalnya kekuatan gempa: amat dahsyat — sedang — kecil; semangat hidup (kerja dsb): tinggi (“pantang menyerah”) — sedang — rendah; motivasi kerja atau menolong: ikhlas tanpa pamrih — sedikit punya pamrih –punya pamrih besar; kualitas “akibat gempa” (rumah: retak-retak — sebagian besar rusak –hancur rata dengan tanah; orang: luka-luka — cacat — meninggal).

“Lawan” gejala beragam tentu gejala yang tidak beragam. Perkawinan (perkawinan Pak Tasa dengan isteri pertama ataupun kedua, misalnya, bukan gejala beragam — tidak ada jenis/tipe atau “kualitasnya”), kecuali ditambahi dengan “embel-embel” sifat tertentu, misalnya perkawinan siri dan perkawinan legal (ada aspek hukum–termasuk kawin lari, kawin kontrak, kawin di bawah umur, kawin gantung dsb.).

3. Gejala berpola vs tidak berpola

Apa yang terjadi (peristiwa) dan keadaan alam itu bisa berpola (ajeg selalu seperti itu atau mengikuti bentuk-bentuk tertentu), ada pula yang tidak berpola (tidak mengikuti pola yang sama, atau tidak punya pola yang sama).

3a. Gejala (benda) yang punya kesamaan pola (bentuk)

Gejala atau benda yang punya kesamaan pola maksudnya beberapa gejala atau benda memiliki kesamaan bentuk. Ada orang-orang yang kalau berjualan selalu dengan cara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain (disebutlah sebagai pedagang keliling). Ada orang-orang yang mencari nafkah dari bercocok tanam (disebutlah sebagai petani). Tentu ada tanaman yang mempunyai bentuk yang sama (maka ada palawija, ada rumput-rumputan, ada palem-paleman, ada kacang-kacangan, ada umbi-umbian dsb.).

3b. Gejala yang berpola-urutan

Gejala atau peristiwa yang berpola-urutan maksudnya gejala atau peristiwa yang selalu terjadi, atau dengan mengikuti, urutan tertentu, yaitu setelah sesuatu lalu sesuatu berikutnya. Pak Tasa menikah lalu punya anak, itu termasuk gejala tau peristiwa berpola-urutan. Hujan turun dengan deras, lalu terjadi banjir bandang, itu juga pola yang berurutan. Karena merupakan urutan, maka tidak akan terjadi sebaliknya. Tidak ada anak tanpa adanya “perkawinan” (dalam arti khusus, secara moral tentu dalam arti sakral). Bertani tentu melakukan kegiatan berurutan mengolah tanah, menebar benih, merabuk, memanen dan sebagainya (tentu ada kegiatan yang serempak terjadi atau dilakukan).

3c. Gejala berpola berurutan sebab-akibat

Di antara gejala atau peristiwa berurutan itu ada yang merupakan sebab akibat, sesuatu gejala atau peristiwa menyebabkan atau mengakibatkan terjadi sesuatu yang lain. Gempa besar mengakibatkan bangunan rusak dan bahkan roboh. Setiap ada gempa besar terjadi, akan seperti itu. Gempa kecil biasanya tidak sampai membuat rumah-rumah ambruk. Banjir bandang pasti terjadi karena ada hujan deras di hulu, tidak akan terjadi banjir jika tidak ada hujan (kecuali–walau bersifat kasus– ada situ bobol, seperti Situ Gintung).

Seseorang yang melakukan penelitian berarti menghimpun “informasi” tentang sesuatu fakta (sesuatu ujud realita; informasi ini merupakan “informasi kefaktaan”). “Informasi kefaktaan” tentang fakta yang “diteliti” itu disebutlah sebagai data. Jika nantinya data dianalisis, hasil analisis tersebut menjadi informasi pula (dalam hal ini sebagai “informasi hasil penelitian”).

Data yang dihimpun peneliti bisa mengenai gejala yang berbilang. Data gejala berbilang itu lazim disebut data kuantitatif, data yang tampilannya berbilang (dalam ujud bilangan). Data kuantitatif (berbilang) tidak harus berupa angka (1 anak, 3 anak, 50% siswa,dsb), bisa juga berupa tulisan atau huruf/verbal (tiga anak, sebagian besar, banyak sekali, separuh dsb.). Umumnya orang merumuskan data kuantitatif sebagai data yang berupa bilangan angka; yang tidak berujud angka bilangan tidak disebut data kuantitatif. Jadi: banyak, sedikit, sebagian besar, separuh, sepertiga dsb. tidak dianggap data kuantitatif. Itu dianggap data kualitatif. Padahal “banyak — sedikit” itu jelas-jelas “bilangan” (hasil menghitung, hanya tidak “diangkakan”). Coba cermati:

“Berapa banyak anak Pak Tasa?”

(Setelah dihitung atau dibilang) “Tiga.”

“Berapa banyak rumah yang hancur terkena gempa?”

(Setelah dihitung atau dibilang) “Banyak sekali. Lebih dari seratus”

Agar tidak berdebat panjang, maka kita sebut sajalah data seperti itu data berbilang, karena bisa dihitung atau merupakan hasil hitung menghitung. Sebutan (kata) “banyak,” apalagi “sangat amat banyak sekali,” itu merupakan “hasil menghitung”, walaupun bisa saja menghitungnya tidak diteruskan karena tak mampu, tak mungkin, atau tak bisa menghitungnya. Hitunglah berapa banyak bintang di langit! Apa bintang bisa dihitung? Bisa: Hitung berapa banyak bintang kejora! Hitung ada berapa banyak bintang yang tampak mata dari kelompok bintang pari, atau yang berbentuk kalajengking! Menghitung seluruh bintang? Ya susah, lah!

Di sisi lain ada gejala tidak berbilang, sehingga datanya yang dihimpun darinya pun akan merupakan data tidak berbilang. Data tersebut memang sama sekali tidak bisa dibilang dihitung. Di bawah ini contoh data (informasi) hasil penelitian yang tidak bisa, atau tidak perlu, dihitung-hitung.

Santri itu dapat dibedakan menjadi santri mondok, yang belajar agama dan menginap di pesantren, dan santri kalong, yang datang ke pesantren sore/malam hari saja untuk mengaji, setelah itu pulang ke rumah masing-masing, tidak mondok di pesantren.

Ada dua kelompok santri, yaitu santri mondok dan santri kalong, itu data kualitatif, bukan data bilangan (berbilang). Tidak bisa dihitung-hitung dibilang. Istilah kualitatif yang berkait dengan “qualityitu bukan tentang mutu, melainkan sifat-keadaan (quality = sifat keadaan). Data kualitatif berarti data tentang sifat keadaan, bukan tentang bilangan. Lain jika: “Santri yang mondok ada 756orang, santri kalong ada sekitar tiga ribuan.” Itu data berbilang, data kuantitatif (yang mengenai banyak/jumlah), yaitu banyaknya santri mondok dan santri kalong. Tetapi, itu bukan data tentang macam santri, melainkan tentang banyaknya santri. Macam santri hanya bisa diberi sebutan atau nama, tidak dihitung-hitung dibilang. Karena hanya bisa diberi nama, maka disebutlah sebagai gejala nominal (nom/Perancis = name/Inggris = nama/Indonesia = nami/Sunda & Jawa), gejala yang hanya bisa diberi nama saja, tidak bisa dihitung-hitung dibilang.

Gejala-gejala yang mengandung keragaman itu disebutlah dengan variabel (Lihat pula penjelasan tentangnya pada tulisan saya yang lain dalam blog ini).

Ada gejala (variabel) yang variasinya bersifat diskrit (“discrete“– Inggris; pilah–Jawa) yaitu yang ragam atau variasinya satu sama lain pisah benar-benar, tidak ada “yang agak,” “yang setengah-setengah” dsb. Variabel diskrit ini disebut pula sebagai variabel kategorik karena hanya bisa dikelompok-kelompokkan atau digolong-golongkan ke dalam kategori-kategori, tidak bisa dijenjangkan tinggi –rendah atau sejenisnya; dan disebut pula gejala nominal, karena kepadanya hanya bisa diberikan nama atau sebutan, tidak bisa diberikan skor nilai, seperti telah disebutkan di muka.

Contoh gejala diskrit (kategorik, nominal) yang variasinya hanya dua adalah jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), yang tiga (sebenarnya banyak, tipe kepemimpinan: otoriter, demokratis, laissez faire), yang empat (golongan darah: A, B, AB, O), yang banyak (pekerjaan: petani, pedagang, kuli bangunan, tukang becak, PNS, ABRI, nelayan dll).

Perhatikan ilustrsi ini: Walau tidak banyak, ada juga dipeliharanya ikan gurami. Yang paling banyak dipelihara ikan nila dan bawal. Ikan mas ada juga, tidak terlampau banyak, tetapi lebih banyak dari ikan gurami. Yang hanya sedikit sekali dipeliharanya ikan patin.

Tidak banyak, paling banyak, tidak terlampau banyak, lebih banyak, dan sedikit sekali merupakan gejala yang menunjukkan adanya “gradasi,” tingkatan, atau jenjang. Jika diurutkan (berdasarkan kebiasaan sehari-hari orang menyatakan) akan menjadi: sedikit sekali — sedikit — agak banyak — banyak — sangat banyak. Gejala tersebut bukan sebagai sesuatu yang “pilah” (dua kutub), yaitu sedikit lawan banyak, melainkan ada “gejala-gejala antara” yang “berantai”.

Gejala diskrit disebut diskrit karena tidak berjenjang, ber-“gradasi”. Bagai “dua kutub” yang berlawanan. Tidak ada: perempuan — agak perempuan — setengah laki-laki — agak laki-laki — sangat laki-laki. Bandingkan dengan gejala yang berjenjang atau bertingkat seperti dicontohkan di atas, atau contoh berikut: jelek sekali — jelek — agak jelek — sedang/cukupan — agak baik — baik sekali. Contoh gejala diskrit yang paling mudah dipahami adalah gejala kehadiran mengikuti kuliah. Yang ada cuma hadir atau tidak hadir. Tidak ada setengah hadir, sedikit hadir, agak hadir, dan sejenisnya.

Penjenisan, pengelompokkan, penggolongan (taksonomi) merupakan perlakuan terhadap gejala diskrit. Oleh karena itu pada sebagian gejala diskrit atau kategorik itu pada “namanya” sudah mengandung kata-kata jenis (jenis kelamin), tipe (tipe kepemimpinan), dan golongan (golongan darah), seperti pada contoh di atas. Akan tetapi, hati-hati, ada penyebutan gejala dengan menggunakan kata-kata tersebut, tetapi sebenarnya merupakan gejala berjenjang, misalnya kelompok atas, kelompok menengah, kelompok bawah (Lebih tepat sebenarnya: kelas atau lapisan atas, kelas/lapisan menengah, kelas/lapisan bawah). Sebutan “lapisan” dan “kelas” (dalam contoh tersebut) sudah menunjukkan jenjang, tingkatan atau “gradasi.” Bagaimana dengan : kelas I SMP, Kelas II SMP, dan Kelas IA, Kelas IB, Kelas IC? Atau kelas IPA XIA, Kelas IPS XIIC? Gejala diskrit atau berjenjang?

Seperti telah disinggung di muka, selain gejala (variabel) diskrit atau bergolong, ada gejala yang “sinambung” atau kontinum (“continuum”–Inggris), yaitu yang mengandung sifat “kualitas” tinggi — rendah, banyak — sedikit, kuat –lemah dsb. Tinggi dan rendah bukan gejala pilah, pisah, bergolong (bandingkan dengan hadir dan tidak hadir seperti disebutkan di atas). “Ketinggian” (ukuran tubuh) ada yang sangat pendek, pendek, sedang, agak tinggi, tinggi, bahkan sangat tinggi.

Karena gejala (variabel) sinambung (kontinum) ini berjenjang bertingkat, maka dalam penelitian kepada gejala atau variabel ini dapat disandangkan nilai atau skor. Misalnya (dengan contoh keindahan gambar): yang sangat indah skor 10, yang agak indah 8, yang sedang 6, yang agak jelek 4, yang jelek 2. Kesukaan terhadap sesuatu, contoh lain, dapat diberi skor: sangat suka 10, suka 8, antara suka dan tidak suka 6, kurang suka 4, tidak suka 2. Kesukaan merupakan gejala (variabel) kontinum yang tidak bisa diberi skor 0 kendati rendah sekali pun, sebab “masih ada rasa suka” walau “terlampau sangat amat sedikit sekali rasa sukanya.”

Di antara gejala yang kontinum ini memang ada yang taraf paling rendahnya itu memang benar-benar nol (nihil), sehingga jika diskor juga skornya 0. Misalnya pemilikan buku pelajaran: tidak punya sama seklai = nol atau nihil pemilikan. Contoh lain pemilikan ternak: tidak punya sama sekali = skor 0; punya 2 ekor = 2, punya 7 ekor = 7, punya 9 ekor = 9, punya sepuluh lebih = 10. Keikutsertaan dalam kegiatan pelatihan atau seminar pun bisa benar-benar nihil, nol, tidak pernah sama sekali. Jadi, kalau diskor menjadi (misalnya): tidak pernah ikut = 0, ikut sekali = 2, ikut dua kali = 4, ikut tiga kali = 6, ikut empat kali = 8, ikut lima kali atau lebih = 10. Diberi skor seperti itu karena diperkirakan tidak banyak yang ikut pelatihan di atas atau lebih dari 10 kali dalam lima tahun terakhir (Skor ditetapkan dalam rentangan 0 – 10).

Salah satu bentuk lain dari gejala variabel adalah keseringan (intensitas, kekerapan, frekuensi) melakukan kegiatan tertentu, misalnya menulis artikel di penerbitan, meluangkan waktu rekreasi bersama keluarga, melakukan solat malam, dsb. Keseringan sebenarnya termasuk ke dalam gejala berbilang, karena sering itu merupakan penyebutan dari sekian kali (hitungan frekuensi) melakukan sesuatu kegiatan.

Jenis lain dari gejala (variabel) kontinum adalah gejala (variabel) urutan-jenjang (ordinal). Contohnya: Juara I, Juara II, Juara III. Contoh lain: Lapisan atas, lapisan menengah, lapisan bawah, atau kelas elite, kelas atas, kelas menengah, kelas bawah. Juga: PT, SMTA, SMTP, SD (jenjang pendidikan formal). Juga: Kelas VI, Kelas V, Kelas IV, Kelas III, Kelas II, dan Kelas I SD.

Hati-hati: Istri pertama, isteri kedua, isteri ketiga, dan isteri keempat bukan urutan jenjang. Gejala ini termasuk gejala diskrit. Kenapa? Karena tidak mengandung “nilai” (bisa diskor) berbeda, hanya sekedar urutan, urutan menjadi isteri, seperti halnya dengan Sri Sultan I, Sri Sultan II, Sri Sultan IX, Sri Sultan X. Pembantu Rektor/Dekan I, Pembantu Rektor/Dekan II, Pembantu Rektor/Dekan III bahkan bukan sebagai urutan, melainkan penyingkatan dari Pembantu Rektor/Dekan yang mengurusi bidang I, bidang II, bidang III (Jadi, tidak dibaca Pembantu Rektor/Dekan Pertama, Kedua, Ketiga!–Boleh saja, kalau disepakati, diganti jadi PR/PD A, PR/PD B, PR/PD C).

Jadi, sebagai rangkuman, gejala alam yang mengandung variasi sifat disebut variabel. Gejala variabel ada dua macam: gejala diskrit (pilah, atau bergolong) dan gejala kontinum (sinambung atau berjenjang). Gejala variabel sinambung (berjenjang) ada dua macam: gejala berjenjang urutan (ordinal, urutan jenjang), dan gejala berjenjang “interval”. Gejala “interval” (dlam tanda petik) itu ada dua macam juga: yang jenjang terbawahnya tidak nihil — disebut gejala interval, dan yang nihil–disebut gejala rasio (ratio–Inggris).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s