CLASSROOM action research (penelitian tindakan kelas): Langkah awal

Tatang M. Amirin; Edisi 13 Mei 2009; 28 Mei 2009; 8 Juni 2009; 11 Juli 2009

Mau ngutip? Tulis: Amirin, Tatang M. (2009). “Classroom action research (penelitian tindakan kelas): Langkah awal.” tatangmanguny.wordpress.com

A. Siklus PTK : Harus lebih dari Satu?

Ketika seseorang akan melakukan penelitian tindakan (PT), termasuk penelitian tindakan kelas (PTK–aslinya classroom action research disingkat CAR), maka yang lazim dirujuk sebagai patokan kerja adalah “siklus penelitian tindakan” yang dirumuskan Kemmis dan McTaggart. Siklus (proses) penelitian tindakan menurut Kemmis dan McTaggart itu terdiri atas: (1) planning – perencanaan melakukan tindakan, (2) action – pelaksanaan tindakan, (3) observation – penelitian keberhasilan pelaksanaan tindakan, dan (4) reflection – perenungan evaluasi terhadap keberhasilan (efektivitas) tindakan.

PLANNING->ACTION->OBSERVATION->REFLECTION->(RE)PLANNING

KemmisARHasil refleksi (perenungan evaluasi keberhasilan pelaksanaan tindakan) itu dijadikan sebagai dasar untuk merancang ulang (re-planning) penyelenggaraan tindakan, sehingga nantinya akan ada tindakan (action) kedua, penelitian (observation) kedua, dan perenungan (reflection) kedua. Bahkan, ada kemungkinan akan ada perencanaan ketiga, tindakan ketiga dan seterusnya.

Setiap satuan empat langkah atau proses penelitian tindakan tersebut [planning-action-observation-reflection] disebut sebagai siklus (putaran). Disebut siklus atau putaran sebenarnya karena dari “reflection” itu proses atau langkah penelitian memutar kembali ke planning, sehingga (dapat terjadi, nantinya) siklus pertama (planning I, action I, observation I, dan refelection I) dilanjutkan oleh siklus kedua (planning II, action II, observation II, reflection II), dan dilanjutkan lagi oleh siklus III (planning III, action III dst. . . .) . . . dst.

Yang sering menjadi salah tafsir adalah:

1. Bahwa penelitian tindakan HARUS BERSIKLUS-SIKLUS, terdiri atas beberapa siklus. Yang benar adalah penelitian tindakan BISA bersiklus-siklus, tetapi TIDAK HARUS bersiklus-siklus. Jika dengan satu siklus tindakan (besar) telah dianggap (lewat observation atau penelitian — dan refleksi) sudah memenuhi keinginan atau mencapai tujuan, maka tindakan dianggap sudah SELESAI, tidak perlu ada siklus lanjutan.

2. Karena terpengaruh oleh bahwa penelitian tindakan itu bersiklus, maka sejak penyusunan proposal sering kali pembuat proposal dituntut sudah mencantumkan AKAN DALAM BERAPA SIKLUS penelitian tindakannya dilaksanakan. Bahkan ada penulis yang — mungkin karena salah menangkap makna gambar siklus penelitian tindakan Kemmis dan McTaggart yang terlukiskan dalam dua siklus–menegaskan bahwa dalam roposal PTK penulis proposal wajib minimal menyebutkan dua siklus. Sudah barang tentu ini sungguh-sungguh dan benar-benar SALAH. Logikanya sangat amat salah besar. Siklus kedua, ketiga, dan seterusnya — seperti telah diutarakan di muka —HARUS BERDASARKAN REFLEKSI SIKLUS SEBELUMNYA. Refleksi merupakan evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan. Jika belum berhasil (jadi, jika masih ada masalah, ada kelemahan atau kekurangan) maka PERANCANGAN ULANG (RE-PLANNING) dilakukan dalam rangka mengatasi kelemahan kekurangan tersebut. Tentu yang diperbaiki hanya yang lemah atau kurang saja. Oleh karena itu, ketika masih berupa proposal, merupakan sesuatu yang mustahil bisa merancang siklus kedua dan seterusnya, apalagi menetapkan akan berapa siklus, sebab masalah (kelemahan, kekurangan) yang dihadapi dari hasil refleksi tindakan pertama saja pun belum diketahui (penelitiannya saja belum dilakukan, bagaimana akan tahu hasil “observasi” dan refleksi untuk merancang siklus kedua atau lanjutan?!!!).

3. Istilah “observation” sering dimaknai sebagai observasi (pengamatan dengan menggunakan panca indera) yang merupakan salah satu teknik pengumpulan data (di samping “survai” penyebaran angket, wawancara, telaah dokumen, tes dsb). Observation yang disebut Kemmis dan McTaggart — dan dalam berbagai literatur metodologi penelitian, tentu yang berbahasa Inggris — sebenarnya merupakan sebutan lain dari research atau penelitian; bisa pula mengandung arti pengumpulan data. Jangan lupa bahwa pengumpulan dan analisis data merupakan inti kegiatan riset. Jadi, “mengobservasi tindakan” yang dilakukan itu bukan berarti mengamati (mengobservasi) dengan pancaindera kegiatan penerapan tindakan yang dilakukan, melainkan meneliti mencermatinya, yang bisa dilakukan dengan cara atau teknik mengadakan wawancara kepada para partisipan (“subjek penelitian”), mengetes pengetahuan, afeksi, dan psikomotor partisipan, atau “mengamati” perilaku partisipan. Dalam literatur lain istilah yang digunakan antara lain monitoring, bukan observation.

4. Karena terpengaruh oleh model tradisional konvensional penelitian survai, penyusun proposal penelitian tindakan “memaksa diri” menentukan dan menyebut subjek penelitian (dan populasi penelitian). Dalam penelitian tindakan tidak ada subjek penelitian, karena sebenarnya yang sedang diteliti merupakan suatu proses (tindakan), bukan berupa “sesuatu dari/mengenai seseorang seperti pada survai (pada tulisan lain akan dibahas tersendiri survai sebagai “pengumpulan data” yang kental terkait dengan subjek penelitian atau responden penelitian). Dalam penelitian tindakan semua yang “dilibatkan” dan terlibat disebut sebagai partisipan. Jadi, murid-murid yang “ditindak” oleh/dalam PTK semuanya merupakan partisipan penelitian tindakan.

B. Latar Belakang dan Identifikasi Masalah PTK

Salah satu aspek yang TIDAK TAMPAK dalam langkah penelitian tindakan Kemmis dan McTaggart adalah “latar belakang melakukan penelitian tindakan.” Boleh jadi karena “latar belakang” itu dianggap bukan bagian dari proses melakukan penelitian-tindakan, melainkan titik awalnya saja, atau pendorong adanya penelitian tindakan. Penelitian tindakannya sendiri dimulai dari perencanaan (perancangan) tindakan (untuk mengatasi masalah yang memicu adanya penelitian tindakan itu). Oleh karena latar belakang perancangan penelitian tindakan itu tidak banyak disebut dalam bahan bacaan mengenai penelitian tindakan, maka sering kali para penyusun proposal penelitian tindakan (termasuk PTK) terjebak menyusunnya dengan pola penelitian survai dan sejenisnya:

(1) ada uraian latar belakang,

(2) ada identifikasi masalah,

(3) ada pembatasan masalah (memilih satu atau beberapa masalah dari yang sudah diidentifikasi untuk diteliti),
 
(4) ada rumusan masalah (membuat pertanyaan, mempertanyakan “sebab, atau akibat, atau kejelasan ketegasan masalah).

Berkaitan dengan ini apa yang dirumuskan Sagor (2000) sebagai “disciplined process of inquiry” for conducting action research (“proses penjelajahan ilmiah” untuk/dalam rangka melakukan penelitian tindakan) dapat dijadikan patokan sebagai LANGKAH AWAL SEBELUM MEMULAI PENELITIAN TINDAKAN. Ketujuh langkah awal untuk merencanakan penelitian tindakan (bedakan dari “merancang tindakan-nya” atau “planning” sendiri), dengan penjelasan “menurut pemahaman penulis” sebagai berikut.

1. Select a Topic, Focus, or Problem. Jelasnya temukanlah topik, “isu”, atau masalah yang akan dijadikan sebagai sasaran penelitian tindakan. Dalam PTK individual “topik, fokus, atau problem” itu berupa masalah (isu) yang dihadapi guru di kelasnya sendiri (yang bisa berupa tingkat daya serap murid yang rendah, keseriusan murid mengikuti pelajaran yang lemah, dsb), atau topik (keinginan untuk) “mem-PAKEM-kan proses pendidikan di kelas.

2. Clarify Theories, Values, and Beliefs Related to the Topic. Jelasnya carilah penegas-penjelas hal-hal yang berkaitan dengan masalah atau topik tersebut, antara lain dengan melakukan kajian teori (literatur dsb), dan atau menelusur apa yang sudah menjadi “pengetahuan umum” (values, beliefs) yang dianggap “manjur” untuk dilakukan mengatasi masalah. Kaji, dari bahan pustaka, misalnya, apa pengertian “daya serap” seluas-luasnya tetapi setegas-tegasnya beserta hal-hal lain yang terkait dengannya (faktor yang mempengaruhi dll). Misal lain, kaji pertegas apa yang dimaksud dengan PAKEM secara luas dan mendalam beserta bagaimana operasionalisasi pelaksanaannya.

3. Identify Research Questions. Jelasnya tegaskan (rumuskan) pertanyaan (permasalahan) penelitian (berkait dengan topik, fokus, problem tadi). Misalnya: (1a) Seperti apa kondisi ketidakmampuan siswa menyerap bahan pelajaran? (1b) Apa yang menyebabkan daya serap murid rendah? Dan (1c) Upaya/cara/teknik/metode/strategi apa yang bisa atau biasa digunakan/dilakukan untuk meningkatkan daya serap tersebut? Misal lain (penambah ide) : (2a) Bagaimana secara umum “teknis” untuk menyelenggarakan PBM di kelas dengan menggunakan prinsip/semboyan PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan)? (2b) Bagaimana teknis menerapkan prinsip PAKEM dalam bidang studi tertentu (yang diampu atau akan “ditingkatkan” guru)?

4. Collect Data. Himpun data. Ini belum data tentang tindakan, melainkan data-data yang berkaitan dengan pertanyaan penelitian tersebut di atas. Jadi tanya sana-sini-situ, gali sana-sini-situ, kaji-telaah sana-sini-situ (dokumen-dokumen terkait) data-data rinci dari kelas yang berkaitan dengan pertanyaan penelitian tadi (hasil atau prestasi belajar murid dari tahun ke tahun, portofolio karya pekerjaan kelas dan rumah murid selama ini dsb). Gali dan kaji pula dari laporan PTK yang sudah dibuat orang yang terkait, bagaimana cara orang mengatasi masalah serupa (untuk mencari ide lain, atau mencoba juga meniru menerapkan).

5. Analyze Data. Analisis segala data yang sudah dihimpun, dikoleksi, dibaca tersebut, sampai menemukan simpulan “kebulatan” arah untuk melakukan tindakan.

6. Report Results. Sajikan hasil analisis tersebut di atas menjadi “laporan” (deksripsi) yang runtut, jelas, tegas (menjadi semacam “latar belakang masalah dalam penelitian-penelitian “konvensional”). Misal, seberapa “parah” kelemahan murid, pada aspek apa sebenarnya yang parah, seberapa banyak masalah yang benar-benar dihadapi, dan akar masalah apa yang dianggap paling urgen, paling penting untuk diatasi.

7. Take an Informed Action. Lakukan tindakan yang “membumi” (yang benar-benar sesuai dengan keadaan nyata di kancah): rancang tindakan yang akan dilakukan, lakukan (laksanakan) tindakan — sekaligus serempak dilakukan “observasi’ atau penelitian terhadapnya, lalu refleksikan. Langkah ini benar-benar mulai dengan PTK.

Langkah terakhir (ketujuh) itu yang membedakan penelitian tindakan dari penelitian lainnya. Di dalamnya terkandung nuansa perancangan dan pelaksanaan tindakan yang tidak asal-asalan, melainkan sudah melalui penelitian, yaitu penelitian pendahuluan (The last step in the process differentiates action research from most other methodologies; there is an expectation that some action will occur as a result of the research.)

Dengan kata lain, setelah melalui enam tahap atau langkah tersebut di atas, proses perancangan tindakan (planning) mulai dilakukan yang mengandung: (1) tindakan apa yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi di kelas; atau untuk meningkatkan keadaan kelas sekarang; (2) secara rinci tindakan itu akan dilakukan seperti apa (bagaimana tindakan itu akan dilaksanakan–tahap atau langkah demi langkah — sebut kegiatan 1, kegiatan 2, kegiatan 3 dst) disertai dengan teknik atau metode yang akan digunakan untuk “mengobservasi” (mengumpulkan data) yang berkaitan dengan “ukuran” keberhasilan tindakan (proses dan hasil). Inilah “proposal penelitian tindakan” yang benar.

Langkah penelitian tindakan berikutnya pada dasarnya dapat mengikuti langkah penelitian tindakan yang lazim dikenal di Indonesia dari Kemmis dan MacTaggart.

kemmis & mctaggart AR cycles

Sekedar agar tahu, aslinya,  penelitian tindakan bersumber dari Lewis yang langkahnya seperti dalam gambar di bawah ini.

lewin_action_research


12 thoughts on “CLASSROOM action research (penelitian tindakan kelas): Langkah awal

    • Sebutan PENELITIAN dalam PTK itu karena TINDAKAN (di KELAS = dalam PBM) yang dilakukan itu DITELITI (dalam langkah-langkah PTK Kemmis dan McTaggart disebut OBSERVATION–observation artinya mengumpulkan data, dengan teknik apapun, bukan hanya dengan teknik observasi menggunakan indra mata dan lainnya). Kalau proses (kegiatan melakukan ) tindakan itu tidak diteliti, bukan PTK, melainkan PBM atau pembelajaran.

  1. Pak saya mau tanya, pada tahap planning, bagaimana cara kita meng-interrelasikan penusunan scenario dengan hasil identifikasi masalah yang dihadapi kelas?
    Tolong bantuannya pak…

    • (1) Tetapkan tindakan (action) yang akan kita lakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi kelas;
      (2) Rancang pelaksanaan tindakan tersebut–sesuaikan/selaraskan (tidak harus sama persis) dengan pelajaran yang akan diberikan. Ini namanya skenario tindakan. What – apa yang tujuan pengajaran dan apa materi pelajaran; when–hari, tanggal, jam, sesi; where — di kelas, di luar kelas; how–tindakan yang akan dilakukan bagaimana atau seperti apa, “observasinya” (proses–kegiatan murid belajar, dan hasil–hasil belajari murid) akan dilakukan bagaimana atau denan cara apa.

  2. assalamu’alaikum pak Tatang. .
    saya sangat tertarik dengan isi blog bapak, , karena tulisan bapak betul-betul berbobot tapi tetap mudah diikuti, ,
    oya, menurut bapak apakh PTK hanya untuk guru-guru yang sudah mempunyai kelas? lalu bagaimana dengan peneliti yang belum mempunyai kelas, bolehkah melakukan PTK?
    maturnuwun . .

    • Bisa, bekerja sama dengan guru yang memegang kelas. Namanya PTK kolaboratif. Punyai wawasan umum PBM. Diskusi bareng dengan guru menganalisis situasi kelas si guru, untuk mengetahui kondisi saat ini atau menemukan masalah (kelemahan, kekurangan). Lalu diskusikan cara meningkatkan keadaan sekarang atau cara mengatasi masalah yang dihadapi saat ini. Rancang PTK bersama-sama, lalu laksanakan dan observasi tindakan. Terus perbaiki bersama-sama tindakan tersebut. Karenanya, lalukan PBM bersama-sama dengan guru dalam satu teamwork. Jangan Anda hanya diam termangu sebagai observer. Kolaboratif bukan seperti itu, karena si guru juga pengajar sekaligus peneliti, bukan subjek yang diobservasi. Yang diobservasi itu terutama murid-murid dan situasi kelas secara keseluruhan sebagai “dampak” adanya tindakan.

  3. Assalamualaikum Pak, salam kenal.
    Mohon bantuannya Pak.. Sistematika penulisan laporan PTK yang bener gimana ya, terutama Bab IV nya ? Apa disusun urut berdasarkan submasalah ? Mohon penjelasannya Pak

    • Bab IV PTK itu laporan proses pelaksanaan tindakan, dari kegiatan melaksanakan tindakan I sampai terakhir ketika ditemukan pola, model, bentuk, prosedur tindakan yang dianggap paling efektif dan efisien. Simpulannya berupa prosedur melaksanakan tindakan yang efektif dan efisien (tentu disertai bukti hasil akhir yang “ditingkatkan” itu sendiri).

  4. Terimakasih atas penjelasannya pak

    Benar pak, saya juga pas membaca buku penelitian tindakan dari berbagai sumber, baik dalam maupun luar negeri, bingung kok nggak ada sample, populasi dsb dan ada perbandingan antara sesudah dan sebelum siklus, padahal kalau di universitas saya tidak ada yang seperti itu.

    Sekarang saya sudah yakin. Terimakasih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s