KABUPATEN MAJALENGKA : MELACAK JEJAK HINDIA BELANDA

Tatang M. Amirin; 22 Desember 2010; 1 Januari 2011; 30 Januari 2011; 15 April 2012; 19 Mei 2012; 19 Januari 2014

Alun-alun Kabupaten Madja (1819-1840); Koleksi Tropenmuseum (ditulis sebagai aloon-aloon te Madjalengka, West-Java)

ALUN-ALUN MAJA KINIAlun-alun Maja sekarang

Rangkuman Peristiwa Utama

Tanggal Peristiwa Legalitas
5 Januari 1819 Pembentukan Karesidenan Cirebon, terdiri atas Keregenan (Kabupaten) Cirebon, Maja, Bengawan Wetan, Kuningan, dan Galuh (Ciamis–Pen.) [PENDIRIAN KABUPATEN MAJA] Besluit (Surat Keputusan) Komisaris Jendral Hindia Belanda No. 23
11 Februari 1840 (1) Perpindahan ibu kota Kabupaten Maja ke “daerah Sindangkasih”         (2) Perubahan nama Kabupaten Maja menjadi Kabupaten Majalengka (sama makna dengan majapahit).
(3) Perubahan nama tempat kedudukan (ibu kota) baru Kabupaten Maja yang yang semula bernama “daerah” Sindangkasih menjadi “kota” MAJALENGKA [PENDIRIAN KOTA MAJALENGKA]
Staatsblad No. 7:  Besluit (Surat Keputusan) Gubernur Jendral Hindia Belanda No. 2

Pendahuluan

Melacak jalan ceritera awal mula berdirinya Kabupaten Majalengka itu ternyata rumit. Apalagi melacak awal mula berdirinya kota Majalengka yang relatif tidak ada secuil pun “prasasti” atau “artefak”-nya. Sampai saat ini tak ada yang berceritera tentangnya. Dongeng (legenda) Kerajaan Sindangkasih pun tidak menyebut-sebut “kota” Sindangkasih atau “kota” Majalengka. Yang terceriterakan hanya bahwa Kerajaan Sindangkasih (keraton, ratu, dan tetutama hutan pohon majanya) menghilang (majae langka–arti harfiah langka itu tidak ada, bukan hilang), berubah menjadi “Kerajaan Majalengka.” Akan tetapi, Kerajaan Majalengka tidak pernah disebut-sebut dalam sejarah manapun, kecuali itu dimaksudkan Kerajaan Majapahit (dalam banyak babad dan tulisan, misalnya dalam Babad Demak Pesisiran).

Tulisan ini diedit ulang terus menerus setelah beberapa hasil lacakan menunjukkan lagi berbagai data sejarah Kabupaten Majalengka dan kota Majalengka, termasuk –yang menarik– ada semacam “regenschaft”  SINDANGKASIH seperti regenschaft Talaga dan Rajagaluh yang disebut-sebut dalam besluit pendirian KABUPATEN (REGENSCHAFT) MAJA pada masa Belanda sebelum ada MAJA dan MAJALENGKA. [Lihat pula tulisan dalam blog ini juga “Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (1) Talaga, Sindangkasih, dan Kabupaten Maja].” Lihat pula tulisan “Misteri Sindangkasih”.

KABUPATEN MAJA

Kabupaten Majalengka secara faktual-historis dimulai dari Kabupaten Maja yang didirikan tanggal 5 Januari 1819, bersamaan dengan “pembentukan Karesidenan Cirebon” yang membawahi lima “regenschaft” (kabupaten), yaitu Cirebon, Bengawan Wetan, Maja, Galuh (bukan Rajagaluh; ini Ciamis), dan Kuningan.

Dasar hukumnya besluit (surat keputusan) Gubernur (yang benar Komisaris) Jenderal Hindia Belanda. Benar begitu? Di bawah akan dinukilkan hasil lacakan “asli” besluitnya.

Berdasarkan besluit itu, maka –suka tidak suka (bagi “pengukuh legenda Sindangkasih)–harus dicatat sebagai sejarah bahwa Kabupaten Maja merupakan cikal bakal Kabupaten Majalengka. Artinya, hari jadi Kabupaten Majalengka itu hari jadi Kabupaten Maja, karena hanya berubah nama.

Tentu saja itu tidak berarti bahwa sejarah Kabupaten Majalengka sebagai suatu wilayah bermula dari saat itu, seperti Indonesia–yang adanya sebagai suatu negara tertanggal 17 Agustus 1945, tapi ada sejak masa prasejarah. Kabupaten Majalengka, sebagai suatu wilayah, sejarahnya bisa sangat panjang sekali, sejak saat zaman prasejarah. Maksudnya, semua kejadian sejarah di wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Majalengka (dan perubahan-perubahannya) termasuk sejarah Kabupaten (tepatnya wilayah)  Majalengka. Tapi, sekali lagi, bukan sejarah hari jadi Kabupaten Majalengka. Hari jadi Majalengka sebagai Kabupaten itu tetap hari jadi Kabupaten Maja, 5 Januari 1819.

Lebih-lebih karena Kabupaten Majalengka (yang dimulai dengan Kabupaten Maja) bukan merupakan perubahan dari sebuah kerajaan tertentu, melainkan dari berbagai “kerajaan” –paling tidak dari Ketumenggungan Talaga dan “kerajaan” (keadipatian) Rajagaluh. Talaga dan Rajagaluh sebenarnya bagian dari Kerajaan Galuh/Pajajaran, jadi bukan merupakan suatu kerajaan, karenanya tidak bisa disebut Kerajaan Talaga, dan Kerajaan Rajagaluh. Namun demikian ada pendapat bahwa Kerajaan Pajajaran dan juga Galuh itu bersifat perserikatan. Jadi ada negara (bagian) dalam negara besarnya, sehingga wajar jika da Kerajaan Talaga dan Rajagaluh.

Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran) dan Galuh (Kawali) pada abad ke-16

Besluit Pembentukan Kabupaten Maja

Ini nukilan  besluit pembentukan Kabupaten Maja. Sengaja dicetaktebal agar mudah membedakan dari terjemahannya. Terjemahan tidak harfiah karena sulit.

Besluit van Commissarissen Generaal over Nederlandsch Indië van den 5 den Januarij 1819, no. 23, houdende bepalingen nopens de verdeeling van de residentie Cheribon en de uitgebreidheid van der-zelver regentschappen [Surat Keputusan Komisaris Jenderal Nederlan India tanggal 5 Januari 1819, Nomor 23, berisikan ketetapan tentang pembagian Karesidenan Cirebon menjadi beberapa regenschaft (kabupaten) dan lingkup wilayah masing-masing regenschaft (kabupaten) tersebut].

Is goedgevonden en verstaan [Disetujui dan ditetapkan]:

Eerstelijk. Om naar aanleiding van enz [Pertama. Untuk ditindaklanjuti dsb]:

1.Te bepalen, dat de residentie Cheribon zal verdeeld worden in vijf regentschappen, te weten [1. Ditentukan, bahwa Karesidenan Cirebon dibagi menjadi lima karegenan (kabupaten), yaitu]:   die van Cheribon, Bengawan wettan, Madja, Galo en Koeningan, welke zullen worden bepaald door de volgende scheidingen,  als [Cirebon, Bengawan Wetan, Maja, Galuh, dan Kuningan, yang ditetapkan dengan batas-batas sebagai berikut]:

Voor het regentschap Cheribon, van den uitloop de rivier van Lossarie opwaarts, tot daar, waar de rivier Tjisande in dezelve vloeit [Untuk Kabupaten Cirebon dari muara sungai Losari lalu ke atas sampai dengan pertemuannya dengan aliran sungai Cisande], alsdan deze rivier tot aan de dessa Soesoekan, alwaar dezelve den naam van Tjilenkrang aanneemt [kemudian dari sungai ini sampai desa Susukan tempat sungai itu disebut sungai Cilengkrang], de Tjilenkrang opwaarts tot aan haren oorsprong, en van daar in eene regte linie west tot op den top van den Goenong Tjermaij [dari Cilengkrang naik ke atas ke sumber mata airnya, lalu mengikuti aliran sungai ini ke barat sampai puncak Gunung Ciremay], alsdan in eene noordelijke rigting de scheiding van het tegenwoordige regentschap Radja Galo tot bij de dessa Lenkong [kemudian di sebelah utaranya pembatasnya adalah keregenan Raja Galuh sekarang sampai desa Lengkong], en van daar de rivier, bij Lenkong, genaamd Tjimangoeng bij Dramblang [Djamblang–Pen.], Tjiepietjong, en bij haren uitloop rivier van Singapoera tot in zee [lalu dari sungai dekat Lengkong yang bernama Cimanggung dekat Jamblang, Cipicung, dan dari sungai kecil dari Singapura sampai laut].

Voor het regentschap Bengawan wettan, de rivier van Singapoera, van haren uitloop in zee opwaarts tot aan den grooten postweg bij de dessa Djamblang [Untuk Kabupaten Bengawan Wetan, mulai dari sungai  Singapura yang mengalir ke laut ke atas sampai jalan raya dekat desa Jamblang]; deze weg West op tot aan de rivier Tjimanok bij de overvaart te Karrangsambong, de rivier Tjimanok vervolgens af tot baren uitloop in zee [lalu dari jalan raya ini ke barat sampai sungai Cimanuk dekat tempat penyeberangan yang bernama Karangsambung, lalu mengikuti aliran sungai Cimanuk sampai bermuara ke laut].

Voor het regentschap Madja, de groote postweg van de overvaart bij Karrangsambong Oost op tot aan de rivier Tjiepietjong bij Djamblang [Untuk Kabupaten Maja, mengikuti jalan raya yang bermula dari dekat tempat penyeberangan yang bernama Karangsambung ke timur sampai sungai Cipicung dekat Jamblang]; deze rivier opwaarts tot bij de dessa Lenkong van daar de scheiding van het tegenwoordige regentschap Radja Galo, tot op den top van den berg Tjermaij [dari sungai ini naik ke atas sampai dekat desa Lengkong yang membatasi keregenan Raja Galuh sekarang, terus ke atas sampai puncak Gunung Ciremay], vervolgens zuidwaarts de scheiding van het tegenwoordige regentschap Talaga, tot  aan de rivier Tjijolang [selanjutnya ke selatan sampai keregenan Talaga sekarang sampai dengan sungai Cijolang], alsdan zuidwest en westwaarts dezelfde scheiding tot aan die van de residentie Cheribon met het regentschap Sumadang en deze scheiding noordwaarts tot aan den grooten postweg bij de overvaart te Karangsambong [di sebelah selatan barat (barat daya)  dan baratnya sama dengan batas Keresidenan Cirebon dan Keregenan Sumedang, dan ini terus ke utara sampai ke jalan raya dekat tempat penyeberangan Karangsambung].

Catatan: Untuk jelasnya batas  Kabupaten Maja itu silakan lihat peta Junghuhn di bawah. Dari Karangsambung ke Batoeroejoe (Baturuyuk), terus ke Tjikro (Cikeruh?), terus ke Bandjaran (Banjaran), terus ke Gempol, lalu  Palimanan, berakhir di Jamblang (tidak tertera) yang ada sebelum sebelum Plumbon. Lalu dari Jamblang ada garis ke bawah (selatan) menuju Lengkong dan naik ke Gunung Ciremay. Dari Gunung Ciremay terus ke selatan sebelah barat Derma (Darma) sampai ada sungai  Tjitjolang (Cijolang) dan Bongkok (?) terus ke barat ke arah Sumedang, kembali ke Karangsambung. [PERHATIKAN GARIS BERTITIK-TITIK HITAM]

Peta Kabupaten Majalengka (Sebelumnya Kabupaten Maja, beribu kota Maja) dengan ibu kota baru yang bernama Sindanglasi (Sindangkasih) yang kemudian berubah nama menjadi Majalengka, dan dengan tambahan derah   sebelah utara jalan raya Karangsambung- Cirebon.

Peta yang masih menunjukkan Kabupaten (Regenschaft) Maja adalah peta yang dibuat Hinderstein (1842) dengan batas Kabupaten berwarna hijau kebiruan pada peta kedua berikut, titik-titik pada peta hitam putih. Ibu kota Kabupaten Maja jelas tetera Maja (tentu bukan Talaga/Telaga–walau ada kota Talaga dalam peta, karena tak lazim). Telaga (Talaga) termasuk daerah khusus eks Ketumenggungan/Kerajaan di bawah Pajajaran–dan kemudian jadi salah satu “regenschaft” selain Rajagaluh dan Sindangkasih sebelum perubahan–maka ada tulisan kewilayahan seperti itu. Peta pertama hitam putih, peta kedua berwarna.

MAJA, KABUPATEN - HINDERSTEIN 1842

Peta Kabupaten Maja dengan ibu kota Maja, buatan Hinderstein, 1842.

Voor het regentschap Galo, de westelijke scheiding de Sourakartasche of Vorslenlanden, met het regentschap Tjiamies [Untuk Kabupaten Galuh, mulai perbatasan sebelah barat wilayah daerah kesunanan  Surakarta dengan keregenan Ciamis], vervolgens de rivier Tjijolang opwaarts tot aan de scheiding van het regentschap Madja [lalu dari sungai Cijulang ke atas sampai dengan batas Keregenan Maja], de scheiding van dat regentschap tot aan den oorsprong de rivier Tjidanton en deze rivier af lot haren uitloop de binnenzee bij Noesna Kambangan [lalu dari perbatasan tersebut sampai ke sumber mata air sungai Cidanten (Citanduy?) dan terus ke selatan sampai teluk Nusa Kambangan].

Voor het regentschap Koeningan, de rivier Tjisande, ter plaatse waar dezelve met de rivier van Lossarie [Untuk Kabupaten Kuningan, mulai dari sungai Cisande (Cisadane?) sampai ke tempat pertemuannya dengan sungai Losari], zamenvloeit opwaarts tot bij de dessa Soesoekan, alwaar dezelve den naam van Tjilenkrang aanneemt [lalu naik sampai desa Susukan sampai sungai yang disebut Cilengkrang], van daar den verderen loop van deze rivier opwaarts langs haren oorsprong tot aan den top van den berg Tjermaij [lalu mengikuti aliran sungai tersebut sampai ke mata airnya di puncak Gunung Ciremay], van den top deze bergs, zuidwaarts de scheiding van dit regentschap tot de rivier Tjijolan [dari puncak gunung ini ke selatan sampai sungai Cijulang], alsdan deze rivier afwaarts tot daar, waar dezelve op de scheiding van de Vorstenlanden vait, en eindelijk deze scheiding noordwaarts tot aan de zamenvloeijing van de rivieren Tjisandé en Lossarie [lalu mengikuti aliran sungai ini sampai batas wilayah Daerah Kesunanan Surakarta, dan ke arah utara sampai pertemuan sungai Cisande (Cisadane) dan Losari].

2. Enz. [2. Dst.]

Accordeert met het register der handelingen en besluiten van Commissarissen Generaal over Nederlandsen Indië [Disetujui daan dibukukan pembuatan dan penerbitannya atas nama Komisaris Jenderal Nederlan India]

Da Secretaris Generaal [Sekretaris Jenderal],

R DOZIJ

Membayangkan Keregenan Galuh (Ciamis) di sebelah timur berbatasan dengan wilayah Surakarta (Kasunanan Solo) tentu tidak terbayangkan untuk yang tak paham sejarah jaman dulu. Jadi, yang harus dipahami adalah bahwa Surakarta itu pecahan Mataram yang pernah menguasai hampir seluruh pulau Jawa. Peta berikut menunjukkan pembagian Mataram menjadi Yogyakarta dan Surakarta. Wilayah Surakarta termasuk yang berbatasan dengan Ciamis (Galuh)–dalam peta berwarna kuning tua.

Wilayah Surakarta dan Yogyakarta tahun 1755, terdapat pula di dekat Ciamis

Kabupaten Bengawan Wetan itu ibu kotanya Palimanan, seperti terlihat dari nukilan berikut mengenai “Silsilah Bustaman” alias silsilah Pak Bustam yang anak dan cucunya sebagian menjadi bupati)–dinukil dari tulisan H. de Graaf “Het Semarangse geslacht Bustam in de 18e en 19e eeuw; afkomst en jeugd van Radèn Salèh.”  [MAAF, BENGAWAN  alias kadang-kadang ditulis Belanda dengan BINGAWAN itu di utara Cirebon — akan tetapi tidak termasuk tanah (wlayah) partikulir Indramayu–lihat peta di bawah– Pen. Mei 2012]. Jadi, agak diragukan kenapa disebut Palimanan.

Van de zonen (anak-anak Pak Bustam) waren dit:
Rd. Tg. Wirya Adi Negara, regent van (bupati) Batang en
Rd. Adipati Yuda Negara, regent van Lasem.
En van de kleinzonen (cucu Pak Bustam):
Rd. Tg. Wirya Adi Negara, regent van Batang, zoon van de eerstgenoemde
zoon.
Rd. Tg. Karta Negara, regent van Demak Kidulan.
Rd. Adipati Karta Negara, regent van Bangawan Wetan,
Palimanan (Cerbon).
Rd. Adipati Aria Karta Dining Rat, regent van Madjalengka,
de schrijver van de ‘Salsilah’ (Penulis buku Salsilah Bustaman)–tentu ketika Kabupaten Maja sudah berubah nama menjadi Kabupaten Majalengka). Perhatikan pula sebutan keningratan dari masing-masing “bupati,” ada yang Tg (tumenggung) dan Adipati.

Sebelum Kabupaten Maja terbentuk (pembentukan lima kabupaten dalam Karesidenan Cirebon) beberapa “yang diduga sebagai regenschaft” (lama–seperti disebut-sebut ada regenschaft Talaga dan Rajagaluh), tampak seperti di bawah ini. Dalam peta ini terdapat “regenschaft” Sindangkasih dan Kedongdong. (Raffles, 1817)

          Peta Cirebon (Raffles, 1817) sebelum pembentukan Kabupaten Maja, Bengawan Wetan, Galuh, Cirebon, dan Kuningan (1819)

Perhatikan dalam peta tersebut ada wilayah Bengawan di utara Cirebon, sekarang wilayah Indramayu. tetapi, dalam peta berikut (pembesaran dari peta di atas) ada dua nama Bengawan, salah satunya di Palimanan (belum ada nama Palimanan) dengan nama (tertulis) Benjawan.

Jauh sebelumnya (Bellin, 1764) keadaan wilayah Cirebon itu tampak seperti dalam peta berikut (Bellin, 1764). Di daerah Majalengka yang ada WATTAS (sekarang Wates), di Kuningan yang ada Gabbang (Gebang).

Peta Cirebon dan sekitarnya (Bellin 1874)

Peta di bawah ini juga dibuat Bellin, tetapi (berdasar rujukan) dibuat tahun 1850.

Peta Cirebon dan sekitarnya (Bellin, 1750)

Pada mulanya menemukan peta asli Kabupaten Maja sulit sekali, akan tetapi–sepertitelah dikutip di atas–pada tanggal 5 Januari 2011, peta buatan Belanda tahun 1841 (terbit 1842) tentang Kabupaten Maja dalam Karesidenan Cirebon, akhirnya bisa tertemukan. Tampaknya, walaupun sejak 1840 Kabupaten Maja sudah berubah jadi Kabupaten Majalengka, informasi itu belum sampai pada pembuat peta. Akan tetapi, sudah ada perubahan, yaitu nama Kabupaten Bengawan Wetan sudah tidak ada, yang ada Indramayu masuk ke dalam Karesidenan Cirebon. Peta ini dibuat dengan data dari tahun 1825-1855;  jadi masih data awal ketika Kabupaten Maja belum berubah jadi Kabupaten Majalengka. Seperti telah disebutkan, peta ini dibuat oleh Hinderstein.

Berikut rentetan peta tersebut sejak “Pulau Jawa.”

PETA PULAU JAWA 1842

PETA KARESIDENAN CIREBON DAN SEKITARNYA, 1842

Peta Wilayah Kabupaten Madja 5-1-1819 s.d. 11-2-1840 (batas Kabupaten berwarna hijau kebiruan — Peta HINDERSTEIN ,1842, dengan dua kota penting di dalamnya: MADJA – ibu kota kabupaten; TELAGA- kota sejarah). Mencakup “Distrik” Kedondong, Palimanan, Rajagaluh, Sindangkasih, Maja, dan Talaga.

Distrik-distrik di Kabupaten Maja

Kabupaten Maja terbagi ke dalam beberapa distrik. Sejauh yang bisa terlacak sampai saat ini, distrik-distrik itu sebagai akan disebutkan berikut. Dari catatan sejarah daftar berikut ini diketahui bahwa Karesidenan Cirebon tidak lagi membawahi Kabupaten Bengawan Wetan, tetapi memasukkan Indramayu sebagai kabupaten baru. Selain itu diberi catatan pula bahwa semenjak 11 Februari 1840, nama Kabupaten Maja diubah menjadi Majalengka.

Distrik-distrik itu sebagai berikut (R. J. L KussendragerNatuur-en aardrijskundige beschrijving va het eiland Java, 1841).

1. Kabupaten Cirebon: Cirebon, Plumbon, Mandirancan (sekarang masuk Kuningan), Beber, Gebang, Suranenggala (belum terlacak sekarang apa namanya), dan Gegesik.

2. Kabupaten Maja: Maja, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga, Palimanan (sekarang masuk Cirebon), dan Kedongdong (sekarang apa namanya, tampaknya masuk Indramayu).

3. Kabupaten Kuningan: Kuningan, Kadugede, Malabar, Luragung.

4. Kabupaten Galuh: Ciamis,  Cihaurbeuti, Kawali, dan Kepel (?–belum terlacak sekarang menjadi apa).

5. Kabupaten Indramayu: Indramayu dan Kandanghaur.

Ibu Kota Kabupaten Maja

Perhatikan peta Kabupaten Maja di atas. Kota yang ada di Kabupaten ini hanya ada dua (tanda bundaran kecil), yaitu Madja dan Telaga. Di bagian selatan Kabupaten Madja ada tulisan khusus “Telaga.” Tidak jelas maksudnya, mungkin itu tadinya “wilayah Katumenggungan (suka disebut “kerajaan”) Talaga, yang dalam bahasa besluit pembentukan Keresidenan Cirebon disebut-sebut “regenschaft Telaga.” Istilah ketumenggungan digunakan Raffles (Tumung’gung de Telaga).

Menjadi pertanyaan, dari peta tersebut, yaitu bahwa selama ini umumnya orang menyebut ibu kota Kabupaten Maja itu Sindangkasih, tetapi “kota” Sindangkasih justru tidak ada.–padahal sebelumnya ada seperti tertera dalam peta yang menunjuk ada wilayah “regenschaft” Sindangkasih sebelum ada Kabupaten Maja. Simpulannya, ibu kota Kabupaten Maja itu hanya ada dua kemungkinan pilihan, yaitu Maja atau Talaga.

Berikut ditunjukkan peta Junghuhn yang memuat Majalengka, Maja, dan Talaga.

KOTA MAJALENGKA (SINDANGKASIH)Peta Junghuhn (1860-an) tentang Majalengka, Maja, dan Talaga

Seperti telah disebut-sebut di muka, Kabupaten Maja berubah nama menjadi Kabupaten Majalengka 11 Februari 1840. Ibu kota Kabupaten Majalengka (tepatnya tempat atau daerah yang dijadikan kota ibu kota kabupaten) itu tadinya bernama Sindangkasih, kemudian diubah nama menjadi Majalengka. Peta Junghuhn menunjukkannya dengan tanda belah ketupat bertuliskan Sindanglasi (Madja Lengka).

Selain Sindanglasi (Madja Lengka), ada dua kota dalam peta, yaitu Madja dan Telaga. Terkait kota-kota tersebut ada jalur jalan raya (dua garis) dan jalur jalan biasa (satu garis). Jalur dua garis (jalan raya) juga tampak terdapat dari sebelah barat (kiri)  Madja Lengka (dari Karangsambung) ke arah timur ke Cirebon lewat Rajagaluh dan Banjaran (dekat Parapatan sekarang) dan Palimanan. Di dalam jalur jalan raya (dua garis) itu ada simpang tiga ke arah bawah (ke selatan), yaitu ke Madja dan berhenti di Madja.

Sementara itu ada jalur jalan raya utama (garis merah) dari Karangsamboeng ke Tjirebon, melalui beberapa daerah di Kabupaten Madjalengka yang sebagian tidak dikenal (bukan kota besar)  lagi sekarang, yaitu Batoe Roejoe (Baturuyuk–sekarang desa di Kecamatan Dawuan), Tjikro (Cikeruh?–belum terlacak termasuk kecamatan mana sekarang), dan Bandjaran (sekarang desa di Kecamatan Sumberjaya).

Dari Madja Lengka ke Madja ada jalan biasa (satu garis), dilanjutkan dari Madja ke Telaga juga jalur jalan biasa (satu garis). Kota Telaga ditandai dengan belah ketupat berwarna merah.

Apa arti semua itu?

(1) Pada ketika Sindanglasi (Madja Lengka) belum ada (peta pertama Kabupaten Maja yang hanya menunjukkan adanya kota Madja dan Telaga), alias ketika masih bernama Kabupaten Madja, tidak ada jalur jalan raya (dua garis) dari Cirebon via Palimanan, Bandjaran, dan Radja Galoe ke Sindanglasi (Madja Lengka) karena “kota” Sindangkasih belum sangat penting.  Jadi, jalur jalan raya yang ada dari Cirebon melalui Palimanan dan Rajagaluh  (Radjagaloe) itu langsung ke Maja (tampaknya “naik” dari Sukahaji sekarang–dalam peta tidak ada nama itu). Jalur jalan lain–jalan biasa–dari Karangsambung ke Sindangkasih terus ke “Sukahaji” lalu ke atas ke Talaga memang sudah ada sebelum ada kota Maja. Perhatikan lagi peta berikut.

(2) Residen Cirebon jika melakukan inspeksi ke Kabupaten Maja itu berarti datang ke ibu kota Kabupaten Maja. Jalur jalan ke ibu kota Kabupaten Maja itu harus merupakan jalur jalan penting (jalan raya). Jalur jalan raya (dua garis) dimaksud berhenti di Madja, tidak terus ke Telaga. Itu berarti bahwa ibu kota Kabupaten Madja itu Madja, bukan Telaga. Sekali lagi, “kota” Sindanglasi (Madja lengka) belum ada.

Telaga diberi warna merah, seperti juga di sebelahnya, Koeningan (tidak tampak pada peta itu, harus dilihat pada peta Karesidenan Cirebon), untuk menunjukkan itu “kota historis,” kota bersejarah yang pernah menjadi “kerajaan” (Ketumenggungan Galuh-Pajajaran), dan saat itu masih ada “peninggalannya.” Itulah kenapa (hipotetis, perkiraan) Telaga dimunculkan sebagai kota penting, walaupun bukan ibu kota, sementara Radja Galoe tidak diberi warna merah, walau dipetakan.

Peta Madja Lengka Versi Junghuhn 1860-an (Perhatikan tulisan huruf E pada MADJA LENGKA: e pada emas, bukan e pada enak; jadi dibaca seperti orang Jawa membacanya–leng pada lengkap, bukan majalengka–leng pada      lengser ejaan Sunda sekarang)

(3) Jadi, hari jadi kota Maja sebagai ibu kota Kabupaten itu tanggal 5 Januari 1819. Maja sebagai desa sudah ada sejak sebelumnya, masih dalam “Kerajaan (Ketumenggungan) Talaga.” Mungkin nama aslinya Lohmaja atau Lomaja (tanah yang tanaman maja banyak terdapat di situ), dan salah satu pemimpinnya disebut Dalem Lohmaja (Lomaja) Agung (Ageng) yang kemudian karena perubahan penulisan dan pelisanan berubah menjadi Dalem Lumaju Agung. Tapi kemudian hanya nama Maja yang populer, tidak Lomaja. [Sekali lagi, ini hanya dugaan, karena nama dalem saat itu biasanya mengikuti nama kedalemannya, semisal Dalem Jero Kaso yang memimpin wilayah Jero Kaso, Maja, kecuali, mulai semasa Dalem Lumaju Agung nama-nama dalem tidak mengikuti wilayah kekuasannya, misalnya nanti ada Dalem Rancucuk (Dalem Cucuk), dan Dalem Kulanata, semuanya di Maja].

(4) Jadi, pembicaraan selama ini yang suka menyebut ibu kota Kabupaten Maja itu Sindangkasih tidak tepat. Sindangkasih itu ibu kota baru Kabupaten Maja. Ketika nama Kabupaten diubah,  mulai saat itu pula nama ibu kota kabupaten tersebut diubah namanya, menjadi Majalengka (11 Februari 1840). Nanti dibahas lagi di bawah.

Sebagai tambahan, ada dua nama penting lainnya yang disebut-sebut dalam peta Junghuhn, yaitu (1) aardolie (minyak bumi), dan Argalingga. Junghuhn tampaknya lebih menekankan petanya pada peta historis (kesejarahan) dan geologis. Oleh karena itu maka nama Madja Lengka dituliskan Sindanglasi atau (dalam tanda kurung) Madja Lengka. Namanya (asli)  Sindanglasi, sekarang menjadi Madja Lengka.

Aardolie itu merupakan tempat ditemukannya rembesan minyak bumi yang kemudian menjadi tempat pertama kali pengeboran minyak bumi dilakukan di Indonesia (tahun 1871 oleh Jan Reerink–Lihat tulisan lain di blog ini “Maja Tempat Pengeboran Minyak Pertama Kali di Indonesia”).

Argalingga patut dipertanyakan kenapa dicantumkan Junghuhn. Pasti ada sesuatu nilai historis atau geologis kenapa dicantumkan. Apa itu? Belum terlacak. Belakangan diketahui bhwa Argalingga menjadi salah satu lokasi perkebunan dan  pabrik teh di Cirebon. [Lihat Maja dan Majalengka Jaman Baheula].

Yang juga masih belum terlacak nama sekarang adalah sungai Cimanglet yang mengapit daerah “aardolie” tersebut. Sungai Cibodas menunjuk daerah Cibodas, daerah pengeboran aardolie atau minyak bumi. Dalam salah satu literatur Belanda disebutkan: “aardoliebronnen to exploiteeren in de dessa Madja, district Madja, afdeeling Madjalengka der residentie Cheribon.”

Tempat Regen (Bupati) Maja

Di mana regent (Bupati) Maja berkantor? Di sebelah selatan alun-alun Maja terdapat sebuah bangunan “antik” yang pada masa awal-awal kemerdekaan suka disebut “pasanggrahan,” sehingga kadang kala, jika orang membicarakannya, suka terkelirukan dengan desa Pasanggrahan.

Bangunan tersebut berpilar-pilar bundar, persis seperti bangunan istana (model Belanda). Sekarang sudah diperluas, sehingga bangunan aslinya tidak tampak dari luar. Bangunan inilah yang diduga semula merupakan kantor sekaligus tempat kediaman Bupati Maja. Setelah tidak difungsikan lagi, kemudian hanya dijadikan semacam “pesanggrahan” jika para amtenar Belanda istirahat di Maja yang relatif lebih dingin daripada Majalengka.

Bangunan ini pernah dijadikan Markas Tentara Batalion 476 ketika harus menghadapi gerombolan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo. Bangunan ini kemudian dipergunakan untuk Sekolah Pertanian MenengahPertama/ Atas) Kabupaten Majalengka. Sekrang digunakan sebagai Kantor Kecamatan Maja.

LOKASI KANTOR BUPATI MAJA

Misteri Parakan Muncang (Pra Kabupaten Maja)

Sebelumnya (1730), “wilayah” (“provinsi”) Cirebon itu tampak dalam peta berikut. Nama kabupaten-kabupaten belum ada, tetapi ada nama-nama penting, termasuk Parakan Muncang. Kalau tidak di Majalengka mungkin dimaksudkan Parakan Muncang Kerajaan Sumedang Larang yang dipimpin oleh Ki Somahita Umbul Sindangkasih yang bergelar Tumenggung Tanubaya. Akan tetapi ini menjadi diragukan, karena nama Parakan Muncang adanya di antara Bandung dan Cicalengka. Dalam beberapa tulisan, wilayah bagian timur Sumedang itu bernama Sekace (konon orang Cirebon mengenalnya dengan sebutan Sindangkasih). Sindangkasih—karena berbagai dongeng–suka disebut-sebut sebagai Majalengka sekarang (Jadi, Sindangkasih atau Majalengka termasuk wilayah Kerajaan Sumedang Larang). Akan tetapi, tetap menjadi pertanyaan: Keumbulan dari Kerajaan Sumedang Larang yang dipimpin Ki Somahita yang bernama Umbul  Sindangkasih itu di mana?

Sekali lagi, peta ini (1730) menunjukkan dengan jelas ketiadaan Sindangkasih atau Majalengka (sebagai pengganti kerajaan Sindangkasih) di wilayah Majalengka. Bahkan Talaga dan Rajagaluh pun tidak ada. Jika Parakan Muncang itu Parakan Muncang Majalengka sekarang, patut ditelusuri ahli sejarah Majalengka, apa dan siapa Parakan Muncang sehingga sampai masuk ke dalam daerah penting untuk dipetakan. Sampai saat ini, dengan berbagai kata pemancing Belanda dan Inggris, belum terlacak ada apa dengan Parakan Muncang ini.

Peta Wilayah Cirebon Tahun 1730-an (Dalam Wilayah Jawa Barat). Belum ada “Karesidenan Cirebon” dengan kabupaten-kabupatennya.

Peta berikut menunjukkan di mana letak Parakan Muncang Sumedang (berada di sebelah barat Sumedang, tertulis Paroeka Moetjang). Bandingkan dengan Parakan Muncang Cirebon dalam peta di atas yang ada di “selatan timur” Sumedang.

Peta Cirebon dan sekitarnya (Bellin, 1764)

Akan tetapi, peta Belanda berikut menunjukkan Parakan Muncang (tertulis Parakka Moetjang) ada di timur Sumedang, dekat dengan Sindangkasih. Sindangkasih (Cirebon, bukan Sumedang) jelas-jelas ada, tapi hanya bernama SINDANG, bukan SINDANGKASIH. Di selatannya ada TELAGA. Sindangkasih ataukah SINDANG (sekarang masuk kecamatan Panjalin)? Sayang hanya menunjukkan wilayah, bukan kota.

A. Sobana Hardjasaputra. “Bandung Dari Pusat Tatar Ukur Menjadi Kabupaten (Abad ke-15 Hingga Abad ke-18),” 2003, menyebut dengan tegas bahwa yang dimaksud Parakan Muncang itu adalah wilayah sekitar Cicalengka (peta yang menunjuk berada di sebelah barat Sumedang). Hardjasaputra menulis sebagai berikut.

Jadi, Parakan Muncang yang berada di sebelah timur Sumedang masih tetap menjadi misteri. Apakah itu Parakan Muncang Majalengka? Tetapi kenapa berada di sebelah barat wilayah Sindang Kasih?! Sementara Ki Somahita Umbul Sindangkasih lebih diduga sebagai Umbul Sindang Kasih di wilayah yang semula bernama Galunggung, dan kemudian bergeser ke Prakan Muncang Cicalengka. Parakanmuncang timur Sumedang barat Majalengka pasti ada di wilayang Sumedang sekarang, mungkin tinggal hanya nama desa atau kampung kecil.

PERUBAHAN KABUPATEN MAJA MENJADI MAJALENGKA

Seperti telah disebut-sebut, Kabupaten Maja kemudian berubah nama menjadi Kabupaten Majalengka. Ini besluit dimaksud.

Maknanya sebagai berikut.

Staatsblad nummer 7 [Statsblad/Lembaran Negara Nomor 7]

Verandering van den naam van het regentschap Madja (residentie Cheribon), alsmede van den zetel van hetzelve, thans genaamd Sindang-Kassie, in dien van Madja-Lengka [Perubahan nama keregenan (kabupaten) Maja (karesidenan Cirebon) beserta tempat kedudukan (ibukota)-nya, yang sekarang bernama Sindangkasih, menjadi Majalengka].

Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie, van den 11 den February 1840 no. 2 [Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 11 Februari 1840, nomor 2].

Gelezen enz. [Membaca, dst.]

De Raad van Nederlandsch Indië gehoord [Pemerintahan Hindia Belanda, setelah mendengar]:

Is goedgevonden en verstaan [Memperhatikan dan mendengarkan]:

Eerstelijkt, Enz. [Pertama, dst.]

Ten derde: Te bepalen, dat het Regentschap Madja (Residentie Cheribon) alsmede de zetel van dit Regentschap, thans genaamd Sindang-Kassie, voortaan den naam zullen voeren van Madja-Lengka. [Ketiga: Menetapkan bahwa Keregenan (Kabupaten) Maja (di Karesidenan Cirebon), sekaligus tempat kedudukan pemerintahan Karegenan tersebut, yang saat sekarang bernama Sindangkasih, untuk selanjutnya  disebut Majalengka].

Afschrift enz. [Mengutip dst].

Accordeert met het register der besluiten van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie. [Menyetujui mencatat surat ketetapan Gubernur Jenderal Hindia Belanda]

De Algemeene Secretaris,

CORNETS DE GROOT

Jadi, berdasarkan besluit tersebut:

(1) Pertama-tama nama Kabupaten Majalengka di Karesidenan Cirebon itu awalnya bernama Kabupaten Maja (seperti diketahui terhitung mulai 5 Januari 1819).

(2) Kedua, terhitung 11 Februari 1840, nama kabupaten Maja itu, dan juga  ibu kota kabupatennya, diubah.

(3) Ketiga, nama kabupaten yang bernama Maja, selanjutnya disebut dengan nama Majalengka (“voortaan den naam zullen voeren van Madja-Lengka”)

(4) Keempat, demikian pula halnya dengan tempat kedudukan keregenan ini (“alsmede de zetel van dit Regentschap”–dimaksud setelah perubahan), yang sekarang ini bernama Sindangkasih (“thans genaamd Sindang-Kassie”) diubah pula menjadi Majalengka (“voortaan den naam zullen voeren van Madja-Lengka”)

Latar Belakang Perubahan Maja Menjadi Majalengka

Setelah berlangsung selama 29 tahun (1811-1840) keberadaan dan pemerintahan Keregenan (Kabupaten) Maja, Pemerintah Belanda mengubahnya menjadi Keregenen (Kabupaten) Majalengka. Apa yang melatarbelakanginya? Tidak jelas, tidak ada catatan pasti.

Hipotetis: Ada kemungkinan Pemerintah Belanada ingin memindahkan ibu kota (tempat kedudukan pemerintahan) Kabupaten yang semula berada di Maja itu ke tempat lain yang dianggap lebih strategis. Tempat yang dianggap strategis itu ada di wilayah “distrik” Sindangkasih, di daerah yang lebih datar, dan yang akses keluar masuk ke arah timur (Cirebon), maupun barat (Sumedang) lebih mudah (satu jalur, tidak membelok).

Oleh karena ibu kota kabupaten Maja dipindahkan ke Sindangkasih, maka nama kabupaten yang sekarang bernama Maja itu menjadi tidak cocok dengan nama ibu kota kabupatennya. Supaya cocok, maka harusnya diganti dengan Sindangkasih juga. [Kabupaten Galuh kelak kemudian juga berubah menjadi Kabupaten Ciamis, mengikuti nama ibu kotanya–ada wacana mengembalikan namanya menjadi Galuh kembali].

Akan tetapi, nama Sindangkasih itu sangat amat terlampau banyak. Di Cirebon (Beber) ada Sindangkasih. Di Ciamis (Galuh) ada Sindangkasih. Di Karawang ada Sindangkasih.

Ini cuplikan keberadaan Sindangkasih di Karesidenan Karawang

ASSISTENT-RESIDENTIE KRAWANG [1855] :  (1) Tjabang Boengin, (2) Krawang, (3) Sumadangan, (4) Tagalwaroe, (5) Kandang Sampie, (6) Tjiampel, (7) Adiarsa, (8) Sindangkassie, (9) Wanajassa, (10) Tjassem, (11) Pamanoekan, (12) Malang, (13) Pegadeng, (14) Kalidjatti, (15) Soebang, (16) Segala Herang, (17) Batoesirap.

RESIDENTIE CHERIBON [1856]:  Afdeeling Cheribon: (1) Kota Cheribon, (2) Loewar Kota, (3) Ploembon, (4) Beber, (5) Mandi Rantja, (6) Sindang Laoet, (7) Losari, (8) Gegesik. Afdeeling Madjalengka: (9) Madjalengka, (10) Radja Galoe, (11) Djatiwangi, (12) Palimanan, (13) Madja, (14) Telaga. Afdeeling Koeningan: (15) Koeningan, (16) Kadoe Gede, (17) Lebakwangi, (18) Tjiawigebang, (19) Loerahagoeng. Afdeeling Galoe: (20) Tjiamies, (21) Kawali, (22) Pandjaloe, (23) Rantja. Afdeeling Indramajoe: (24) Indramajoe, (25) Karamgampel, (26) Sleman. Particulier Land Indramajoe : (27) Passekan, (28) Lobener, (29) Oedjoeng, (30) Djati Toejoe. Particulier Land Kandang Hawor: (31) Lelea, (32) Losarang, (33) Kandang Hawor, (34) Loewoeng Malang.

Mungkin pula oleh keinginan untuk meneruskan nama Maja dalam (sebagai) nama Kabupaten yang baru (perubahan) itu, dicarilah nama-nama yang menggunakan kata “maja.” Ada kemungkinan beberapa ahli sejarah lalu mengusulkan menggunakan nama MAJALENGKA yang sering digunakan dalam babad-babad untuk menyebut MAJAPAHIT, karena LENGKA (leng  dalam lengkap, bukan dalam lenggang; bahasa halusnya lengkit) itu kata lainnya adalah PAHIT (bahasa Sansekertanya “VILVATIKTA” dibaca WILWATIKTA (vilva, bilva, wilwa = buah maja; tikta = pahit). Kadangkala, Majapahit disebut pula MAJALANGU. Dalam tuturan-tuturan tentang Majapahit, nama Majalengka itu jarang digunakan. Oleh karena itulah maka nama itu dianggap cocok digunakan untuk mengganti nama Kabupaten Maja.

Berikut penggunaan nama Majalengka untuk Majapahit berkali-kali dalam Babad Demak Pesisiran.

۩۩۩ 48 ۩۩۩

Raden Suruh jumeneng aji, ing negara Majalengka, Berawijaya jejuluke, apeputera Berakumara, gumati ing Majalengka, Beraku /15/ mara asesunu, ingkang nama Araden Wijaya.

(Raden Suruh lalu naik tahta, di negara Majalengka, bergelar Brawijaya, berputrakan Brahmakumara, menjadi raja di Majalengka, dan mendapatkan cucu, Raden Wijaya namanya).

۩۩۩ 49 ۩۩۩

Araden Wijaya sesiwi, kang nama Kartawijaya, Kartawijaya puterane, kang nama Anggawijaya, punika ingkang wekasan, ngadeg perabu Majalangu, tunggal nama Berawijaya.

(Raden Wijaya berputra, yang bernama Kartawijaya, putra Kartawijaya, yang bernama Anggawijaya, putra bungsunya, dinobatkan menjadi raja Majalangu, juga bergelar Brawijaya)

Ibu Kota Kabupaten Majalengka

Ibu kota Kabupaten Majalengka itu Majalengka. Nama Majalengka ini merupakan perubahan dari nama Sindangkasih. Dengan “teori” bahwa ibu kota Kabupaten Maja itu Maja, bukan Sindangkasih, seperti telah dianalisis di muka, maka desa (kota) Majalengka itu dahulunya bernama Sindangkasih (peta Junghuhn).

Bagaimana hubungannya dengan desa Sindangkasih yang ada sekarang yang suka disebut-sebut sebagai tempat Kerajaan Sindangkasih?

Kemungkinan yang terjadi adalah desa (kota) Majalengka sekarang ini dahulunya merupakan bagian dari desa (wilayah) Sindangkasih yang juga mencakup desa Sindangkasih sekarang. Daerah Sindangkasih yang dijadikan tempat kedudukan (pusat pemerintahan) Kabupaten Majalengka itu kemudian dipisahkan (per 11 Februari 1840 dengan besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tersebut di atas) dari desa Sindangkasih. Tegasnya, desa Sindangkasih dimekarkan menjadi desa Sindangkasih dan desa Majalengka. [Kelak, desa atau kota Majalengka pun dimekarkan lagi menjadi desa Majalengka Kulon dan Majalengka Wetan].

Dalam hal ini bisa ada perkecualian, yaitu “kota” distrik Sindangkasih dijadikan ibu kota Kabupaten Majalengka, sedangkan ibu kota distrik Sindangkasih lama dipindahkan ke “desa” Sindangkasih sekarang. Tapi, yang kedua ini tampaknya agak tidak logis dari sudut tatakota. Akan lebih baik (efektif dan edisien) membuka (“ngababakan”) kota baru di daerah yang kosong.

Dengan demikian, maka kota Majalengka itu didirikan pada tanggal 11 Februari 1840 dengan besluit Gubjen Hinbel Nomor 2 (Tahun 1840). Jadi, kota Majalengka tidak atau belum ada sebelum besluit Nomor 2 itu terbit. Tidak pernah ada kota bahkan nama Majalengka sebelum tanggal 11 Februari 1840. Kota Majalengka bukan perubahan dari “kota” Sindangkasih, melainkan pemisahan dari desa Sindangkasih. Jadi, Majalengka bukan terusannya Sindangkasih, karena Sindangkasih lama masih ada.

Majalengka Versus Kerajaan Sindangkasih

Berkait dengan perubahan wilayah desa Sindangkasih menjadi wilayah Majalengka itu karenanya menjadi “masalah” dengan dongeng (legenda) dan “sejarah” Majalengka (Sindangkasih).

Karena menduga kerajaan Sindangkasih itu ada di desa Sindangkasih sekarang, maka selalu dikatakan bahwa dahulu kala tiga kilometer di arah selatan kota Majalengka sekarang ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Sindangkasih. Itu menunjuk desa Sindangkasih sekarang.

Di desa Sindangkasih sekarang itu dipercaya ada peninggalan-peninggalan kerajaan (bekas keraton atau pemandian Nyi Rambut Kasih Sang Ratu Kerajaan Sindangkasih). Selain itu dipercaya pula ada makam Pangeran Muhammad sang penakluk Sindangkasih sekaligus pengganti Nyi Rambut Kasih menjadi “raja” Kerajaan Majalengka. Karena Kerajaan Majalengka (pasca hilangnya Sindangkasih) merupakan sebuah kabupaten bagian dari Kerajaan Cirebon, Pangeran Muhammad suka pula disebut Bupati Pangeran Muhammad.

Sementara itu dipercaya pula bahwa di gedung Kabupaten Majalengka sekarang ada ruangan khusus bekas tempat Nyi Rambut Kasih dulu sering berada, dan ada bekas-bekas peninggalan lainnya.

Logika: Jadi aneh. Keraton Sindangkasih itu memang di mana? Tiga kilometer selatan Majalengka (desa Sindangkasih), atau di pusat kota Majalengka sekarang? Tak mungkin keratonnya ada dua!

Berdasarkan data sejarah seperti dikemukakan di atas, maka harus diyakini bahwa nama Majalengka itu baru ada 11 Februari 1840, yaitu ketika nama kabupaten Maja diubah menjadi Majalengka, dan ketika ibu kota Kabupaten Maja dari Maja dipindahkan ke Sindangkasih yang kemudian diubah pula namanya menjadi Majalengka.

Tidak pernah ada Kerajaan Majalengka di Majalengka dalam berbagai catatan sejarah manapun. Kerajaan Majalengka hanya ada di Mojokerto, yaitu Kerajaan Majapahit atau Wilwatikta.

Ini nukilan sejarah Pati dari blog resmi Pemda Kabupaten Pati, sebagai penguat kutipan dari Babad Demak Pesisiran di muka (du=inukil apa adanya, walau ada kalimat atau bagian kalimat yang “agak ganjil.”

Bahwa Adipati Raden Tambranegara (Adipati Pati–Pen.)  juga hadir dalam Pisuanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K. M. Sosrosumarto dan S. Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada: 12 yang lengkapnya berbunyi: ……………………………… Tambranegara Pati “Sumewo” maring Majalengka Brawijaya kedua, Majalengka adalah Majapahit…………………………..
“……… Kratonnya ing satanah jawi angalih Majapahit, ingkang jumeneng Ratu Brawijaya ingkang kaping kalih, Ya Jaka pekik nama, Raden Tambranegara Sumewa maring, Kraton Majalengka ……….”
Bardasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa Raden Tambranegara Adipati Pati turut serta hadir dalam Pisowanan agung di Majapahit.

Dari keseluruhan analisis (kajian) tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa legenda Sindangkasih (Nyi Rambut Kasih) itu kemungkinan dibuat sekitar tahun 1900-an ketika orang-orang tidak tahu lagi asal-usul sejarah “kota” Majalengka yang berubah nama dari Sindangkasih menjadi Majalengka. Kata Majalengka yang sebenarnya sama dengan Majapahit dan Majalangu itu tidak dikenal dalam bahasa Sunda. Oleh karenanya di-“kiratabasa”-kan sebagai berasal dari bahasa cirebonan “maja langka,” buah maja hilang, tetapi salah makna. Berikut bedanya.

Ada orang Cirebon mencari-cari buah maja, tak tertemukan, maka ia pun bilang, “Majae langka.” Kata urang Majalengka, itu artinya “majana teh euweuh.”

Ada orang Cirebon menemukan buah maja yang jatuh dari pohon. Buah maja yang sudah dipegang itu terjatuh dan menggelinding ke jurang, tak tertemukan lagi. Ia bersungut-sungut, “Wah, majae ilang, Cung!” Kata urang Majalengka, itu artinya “Wah, buah majana leungit.”

Ada prajurit  Cirebon “mengepung” keraton Sindangkasih yang dikelilingi pohon maja. Tiba-tiba keraton dan pohon maja serta Sang Ratu Nyi Rambut kasih  itu raib dari depan mata mereka. Mereka teriak, “Majae langka, majae langka.” Warga Sindangkasih juga ikut teriak-teriak, “Majana euweuh, majana euweuh!”

Ini dongeng bener-bener gila! Masak wong Grage (Cirebon) dan urang Sindangkasih, pada tidak punya otak semua. Jelas-jelas yang raib itu keraton dan Ratu Sindangkasih serta hutan maja, yang diteriakkan hilang kok jadi hanya buah maja saja! Buah maja jadi lebih peniting dan utama dari Sang Ratunya. Konyol lagi, sudah jelas-jelas menghilang, dibilang tidak ada (langka, euweuh), bukan hilang (ilang, leungit) tidak tertemukan (beli ketemu, teu katimu). “Maja leungit” mah atuh basa cirebonane “majae ilang, Cung, dudu “majae langka!”

Lebih konyol lagi, Sindangkasih itu hilang sirna musnah ngahiyang, dibilang orang bahwa “para ahi sejarah” ketika itu mencatat kemenghiyangan kerajaan Sindangkasih itu pada masa “Sindang (2) Kasih (2) Sugih (4) Mukti (1),”  alias (dibalik membacanya seperti aksara Arab, bukan angka Arab) jadi tahun 1422 Saka atau, plus 78, tahun 1490 Masehi. Masak sudah hilang dibilangin sugih mukti?!! Ini logika sejarawan (penulis babad, kalau ada, atau prasasti, juga kalau ada) yang benar-benar perlu diperiksakan ke psikiater. Maaf, kalau “vulgar”!

Sebagai analogi perbandingan kias, ketika Majapahit “pudar” maka candrasengkala yang dibuat itu berbunyi “sirna (0) ilang (0) krtaning (4) bhumi (1),” alias hilang sirna kesejahtaraan bumi–bumi Majapahit, maksudnya– yang sama dengan tahun 1400 Saka atau 1478 M.). Hilang, sirna itu karena Majapahit sudah hilang pamornya (kerajaannya masih tetap ada). Sindangkasih justru sudah hilang kerajaannya, malah dibilangin tambah sugih dan mukti. Sejarawan Majalengka (baheula) jadinya harus belajar banyak pada sejarawan (baheula) Majapahit. Salah, ya salah, tapi jangan kebangetan dah!

Selain itu, dari berabgai data sejarah umummnya dikenal bahwa Rajagaluh dan Talaga baru “ditaklukkan” Cirebon sekitar tahun 1530-an. Salah satu tulisan menyebutkan bahwa “Pendapat R.A. Kern diperkuat oleh F. de Haan (1912:33-41) bahwa Cirebon telah berhasil melebarkan wilayah kekuasaannya dan sekaligus dapat mengislamkan daerah-daerah pedalaman Sunda seperti Rajagaluh (1528) dan Talaga (1530).” Sangat amat lucu jika Sindangkasih “ditaklukkan Cirebon” tahun 1490, hampir setengah abad sebelum Rajagaluh dan Talaga.

Pada tulisan lain disebutkan bahwa “Pada tahun 1479, Syarif Hidayatullah dinobatkan menjadi tumenggung oleh pamannya Pangeran Cakrabuana (Haji Abdullah Iman) dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah. Para wali di tanah Jawa memberikan dukungan dan memberikan gelar Panetep Panatagama Rasul di Tanah Sunda. Pada tanggal 12 Puasa 1404 Saka atau 1482 M, Syarif Hidayatullah sebagai Tumenggung Cirebon menyatakan berdirinya Kesultanan Cirebon. Mulai saat ini, Cirebon resmi memisahkan diri dari Kerajaan Sunda Pakuan Padjadjaran.” Apakah sangat yakin delapan tahun  kemudian dari tahun 1482 saat Kesultanan Cirebon berdiri, lalu Sindangkasih “ditaklukkan”? Padahal pasti harus melalui Rajagaluh (yang baru takluk tahun 1528)!

Namun demikian, karena ada “regenschaft” Sindangkasih, seperti juga ada regenschaft Talaga dan Rajagaluh sebelum terbentuk Kabupaten Maja (dan menjadi salah satu distrik dalam Kabupaten Maja), maka Sindangkasih pasti merupakan daerah yang penting juga. Sebagai apa, itu yang masih harus dicari lacaknya, tapi dengan cara yang ilmiah.

Akan tetapi, harus dipahami, sejarah Sindangkasih bukan sejarah Majalengka. Sejarah Majalengka harus memuat Talaga, Rajagaluh, Kedondong, Sindangkasih, dan Palimanan. Bahkan jangan lupa juga Bujangga Manik (Prabu Pakuan Pajajaran) yang perjalanan geografisnya diakui sejarawan dunia) menyebut pula ada  Hujung Barang alias Ujung Berung Rajagaluh, yang justru tidak menyebut Sindangkasih dan Rajagaluh. Hanya Hujung barang dan Talaga (yang beribu kota Walangsuji — desa Kagok sekarang).

Peta sekitar “Ketumenggungan” Talaga, 1857

MAJALENGKA LEBIH LANJUT

Peta-peta Belanda berikutnya (1857 = 17 tahun kemudian setelah 1840) menunjukkan ada “kota” Majalengka dan ada “kota” Sindangkasih. Jalur jalan raya dari Karangsambung ke Talaga, melalui Majalengka — Sindangkasih–Kulur–Cieurih–Angrawati–Lentuk–Tegalcawet– Cikebo–Wanahayu–Talaga, atau Cieurih–Maja–Lentuk atau lansgung Tegalcawet–Cikebo–Wanahayu–Talaga, atau  Maja–Sukasari–Calingcing–Wanahayu–Talaga. Itu artinya bisa jadi Junghuhn salah, kota Majalengka itu bukan kota Sindangkasih, tetapi kota baru di wilayah Sindangkasih yang diberi nama Majalengka. (Peta Junghuhn tahun 1860, 20 tahun kemudian dari 1840– tiga tahun kemudian dari 1857).

Ini salah satu peta yang menunjukkan ada Majalengka dan ada pula Sindangkasih. Yang disebutkan di atas dapat dilihat dalam peta-peta di bawah nanti.

Pada peta di atas Sindangkasih ada di utara timur Majalengka. Dalam peta lebih kuno dituliskan Cundang Lassi. “Kota” itu ada di utara jalan raya (postweg) Karangsambung-Cirebon, timur sungai Cikeruh. Kemungkinan pertama, dulunya yang disebut kota Sindangkasih itu memang adanya di wilayah Sindangwasa. Sindangkasih (Sindanglassi) itu Sindangwasa sekarang. Kota Sindangkasih lalu dipindahkan ke wilayah lebih barat selatan, Sindangkasih sekarang, membawahi wilayah yang kemudian jadi “kota” Majalengka. Jadi, Sindangkasih sekarang itu merupakan Sindangkasih baru. Kemungkinan kedua, Sindangkasih sekarang itu bukan Sindangkasih Belanda (yang sekarang jadi Sindangwasa), melainkan Sindangkasih lain (ada dua Sindangkasih). Majalengka itu berada di bawah Sindangkasih Sindangawasa. Sindangaksih sekarang dari dahulu sampai sekarang tetap saja sebuah perkampungan, yang kemudian dipetakan karena dilewati jalur jalan ke Talaga melalui Kulur, Cieurih, Anggrawati, Lentuk, Tegalcawet, Cihaur.

Sebagai perbandingan, tahun 1850-an, setelah Kabupaten (Regenschaft) Maja berubah menjadi Majalengka, peta wilayah Karesidenan Cirebon seperti ini.

Peta Karesidenan Cirebon (Dalam Wilayah Jawa Barat) Tahun 1850-an. Kabupaten Maja sudah berubah nama jadi Majalengka.

Jika dikhususkan, Kabupaten Majalengka tahun 1850-an dalam Karesidenan Cirebon itu tampak dalam peta berikut.

Kabupaten Majalengka tahun 1850-an dalam Karesidenan Cirebon, terdiri atas “distrik” Majalengka, Rajagaluh, Jatiwangi, Palimanan, Maja, dan Talaga.

Kabupaten Majelengka sekarang tampak seperti iniPeta Kabupaten Majalengka Sekarang (2010)

Peta lain tentang Majalengka seperti tertera berikut. Peta asli (Jawa Barat) dicoba dikrop (dipotong), sehingga tampak peta itu untuk Kabupaten Majalengka dan Karesidenan Cirebon (mencakup Galuh/Ciamis) seperti di bawah ini.

Peta Kabupaten Majalengka dalam Karesidenan Cirebon (Termasuk Kabupaten Galuh/Ciamis) versi Junghuhn

Coba perbesar (klik) peta di bawah  ini. Agak sedikit aneh, dalam peta 1860 ini di wilayah Majalengka yang ada cuma TALAGA. Padahal, Kabupaten Maja sudah ada pada tahun 1819 yang selanjutnya disebut Kabupaten Majalengka (1840). Peta 1857 saja menyebutkan Kabupaten Majalengka. Jangan-jangan tahunnya salah (tahun terbitnya, bukan tahun keadaannya). MAAF, BARU DISADARI KEMUDIAN BAHWA INI PETA GEOGRAFIS, BUKAN PETA ADMINISTRASI PEMERINTAHAN, JADI YA BISA SEPERTI ITU!

Peta Pulau Jawa 1860 Versi Junghuhn

Nah, ini, peta itu dikrop hanya Karesidenan Cirebon saja, agar tampak Kabupaten Majalengkanya.

Peta Wilayah Cirebon Tahun 1860 (Versi Junghuhn). Di wilayah Majalengka yang ada hanya Talaga (Telaga), tidak  ada Sindangkasih apalagi Majalengka

Berikut peta-peta mengenai Majalengka juga, hasil kroping dari peta Karesidenan Cheribon 1857.

Sekali lagi, tidak ada peta apapun yang menunjukkan kota (kerajaan) Majalengka ada sejaman (bersamaan) dengan Talaga (Telaga). Kota kerajaan Talaga ada, mana mungkin kota kerajaan Majalengka tidak ada (jaman Belanda awal), kalau memang ada. Rajagaluh saja tidak ada, karena Rajagaluh “musnah” setelah ditaklukkan Cirebon. Yang ada justru Parakan Muncang (ini pun kalau peta akurat, bukan menunjuk Parakan Muncang Sumedang).

Ini dari “Parahyangan” Wikipedia:

Akibat pemberontakan Dipati Ukur, dalam Piagam Sultan Agung bertanggal 9 Muharam tahun Alip (menurut F. de Haan, tahun Alip sama dengan tahun 1641 Masehi, tetapi ada beberapa keterangan lain yang menyebutkan bahwa tahun Alip identik dengan tahun 1633), daerah Priangan di luar Galuh dibagi lagi menjadi empat kabupaten:

  • Sumedang (Rangga Gempol II, sekaligus Wedana Bupati Priangan),
  • Sukapura (Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, bergelar Tumenggung Wiradadaha),
  • Bandung (Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, bergelar Tumenggung Wiraangun-angun),
  • Parakan Muncang (Ki Somahita Umbul Sindangkasih, bergelar Tumenggung Tanubaya).

Wilayah Priangan kemudian dimekarkan dengan diubahnya Karawang menjadi kabupaten mandiri, sedangkan wilayah Galuh (Priangan Timur) dibagi empat kabupaten: Utama, Bojonglopang (Kertabumi), Imbanagara, dan Kawasen.

Talaga, menurut beberapa catatan (tidak tahu pasti sumber aslinya) “tunduk” pada Cirebon tahun 1529 atau 1530. Sindangkasih (yang dianggap ada di Majalengka) konon kata legenda “musnah” tahun 1490 (candrasangkala “Sindang Kasih Sugih Mukti”) menjadi “Majae-langka.” Jadi, tahun 1490 (kalau ini dianggap candrasengkala tahun Saka, ditambah 78 jadi 1568M.) kerajaan Sindangkasih hilang dan berganti menjadi kerajaan Majalengka yang–konon pula lagi–dipimpin oleh “Bupati” Pangeran Muhammad. Terus, ke mana riwayat kerajaan Majalengka? Kenapa tiba-tiba menjadi Sindangkasih (lagi) yang menjadi wilayah Kerajaan Sumedanglarang yang dipasrahkan ke Cirebon sebagai pengganti “penculikan perempuan” (putri Cirebon–Ratu Harisbaya)? Padahal sudah wilayah Cirebon di bawah Pangeran Muhammad? Aneh bin ajaib!!!!

Ada kemungkinan sebenarnya yang dimaksud penyerahan wilayah Sindangkasih itu adalah wilayah “kaumbulan” Sindangkasih Sumedang, yaitu wilayahnya Ki Somahita Umbul Sindangkasih, alias Parakan Muncang Sumedang, atau Sindangkasih Galunggung, bukan Sindangkasih Majalengka. Sayang juga dalam sejarah Sumedang “kaumbulan Sindangkasih” itu tidak disebut-sebut di mana letaknya, yang disebut hanya “Ki Umbul”-nya.

Nah, biarlah dulu, itu bagian dari analisis sejarawan. Saya bukan sejarawan, hanya suka iseng saja, karena penasaran dengan “makhluk-makhluk” aneh yang ada di seputar Kerajaan Majalengka. Hehehe.

Cik atuh, euy, ari hayang boga sajarah teh sing bener, ulah salawengweng, ulah sok hayang sarua jeung batur, nu ti jaman prasejarah geus boga sajarah, tuluy ngarang sajarah. Atuh jadi “his story” lain “history”!  Pamali. Karunya barudak, incu seuweu siwi urang engke, dibobodo ambeh teu cengeng keneh-keneh wae. Klasik eta teh! Barudak ayeuna mah da teu carengeng, geus malekar otak kiri, otak kanan, otak tengahna ge.

Cag. Hancaeun.

43 thoughts on “KABUPATEN MAJALENGKA : MELACAK JEJAK HINDIA BELANDA

  1. Kang punteun tanya..?

    Ada rencana saya ke “radja galoe” itu sebenarnaya dimana sekarang ? ,ada khabar dari belanda putri dari van Michiels yang pernah jaya di Citeureup dikuburkan di Radja Galoe dng nama AGRAPHINA AUGUSTINA MICHIELS
    1792-1875 , saya tinggal di Citeureup Hp 081932020808
    dari Bogor enaknya gimana jalurnya..?
    salam
    Ade Gunawan

    • Ambil jalur Bogor-Cirebon. Selewat Sumedang, setelah turunan perbukitan akan ketemu dataran Tomo, lalu Kadipaten (perempatan). Belok ke kanan (ke selatan). Ketemu kota Majalengka. Lanjut ke arah depan (ke timur). Ketemu “tugu buah Maja” di Cigasong. Dari tugu lurus terus (jika belok kanan ke Maja, Talaga, Cikijing). Akan ketemu Sukahaji. Sehabis Sukahaji akan ketemu jembatan panjang mulus lebar, lalu akan ketemu Rajagaluh. Silakan bertanya di situ.
      Jika mau dari Kadipaten lanjut saja terus sampai ketemu Parapatan, lali belok kanan, akan ketemu Leuwimunding, setelah itu ketemu Rajagaluh. Mungkin mencari Parapatan akan lebih sulit dibanding dari Kadipaten mencari Majalengka.
      Rasanya baik jika ceritera Michiels dimunculkan di blog ini. Silakan. Saya masukkan ke page Majalengka Baheula.
      Trims. Semoga berhasil.

    • Kaleresan kamari nembe aya acara peringatan hari jadi majalengka nu ka 522 (saurna mah). Mun maca tina artikel ieu berarti majalengka teh teu sakolot nu ayeuna di rayakeun, mun ngarujuk tina pembentukan Kabupaten Maja berarti hari jadi majalengka teh tanggal 5 Januari 1819 (193 taun), mun ngarujuk ka penggantian nama Kabupaten Maja jadi Kabupaten majalengka & pemindahan ibukota, berarti hari jadi majalengka teh tanggal 11 Pebruari 1840 (172 taun). Nu jadi pertanyaan ayeuna, ti mana asalna hari jadi majalengka nu ayeuna dirayakeun (7 Juni 1490) teh?? Mungkin perlu ada pelurusan fakta sejarah majalengka.

  2. Dengan Hormat ,

    Terima kasih atas infonya..Insya Allah , akan saya khabari perkembangannya
    mengenai artikel akan saya coba Upload..semoga bermanfaat..

    Salam
    Ade Gunawan

  3. Augustijn Michiels 1769-1833
    ( Tuan tanah di Citeureup Tempo Doeloe )

    Pertengahan abad ke 18 Pangeran Aria Suta Ita dari Banten menghibahkan tanah perkebunan kawasan Citrap (Citeureup) kepada anggota aristokrasi Kolonial. Tetapi kawasan tersebut masih jauh dari sebutan layak huni bagi orang besar Batavia. Istilahnya “tempat jin buang anak.” Jadi sekalipun sudah dihibahkan, masih pada “segen” bermain di kampung nun jauh disano. Baru menjelang akhir abad 18, di bangun villa yang arsitekturnya sesuai dengan alam tropis.

    Villa Citrap ini terletak disebuah taman yang elok ditemani patung Mitos Yunani seperti Apollo, Pan, Flora dan, Ceres dan sejauh mata memandang melihat gunung Gede dan Pangrango.

    Awal abad ke 19, Langoed Citrap ini dimiliki seorang wanita Angelina Valentijn yang aselinya adalah budak. Perempuan ini sudah 3 kali mengantar ia poenya soeamie ke pemakaman. Maksudnya, ia menikah sampai 3 kali dan suaminya masuk “trash bin” satu persatu. Kaum sihir mengatakan “Itoe prempoean dengan bahoe laweyan.” Suami yang terakhir adalah Toewan Maarschalk seorang pengusaha Protestan aliran Kalvin yang etat.
    Tahun 1871 Wisma Citrap dibeli oleh seorang Mantan Major Kompeni bernama Augustijn Michiels seharga 91.000 gulden. Mantan Mayor ini memang kaya raya sebab tanah perkebunannya ada di Cileungsi, Klapanunggal, Cibarusa dan masih banyak lagi. Ia juga membeli tanah perkebunan di Cibinong milik Toewan van Riemsdijk. Meneer van
    Riemsdijk adalah Gubernur Jendral Militer yang telah banyak berlaga di medan Pengusaha/Dagang.

    Toewan Michiels atau lebih terkenal dengan panggilan akrab Majoor Jantje aselinya adalah golongan Mardijker (Mardika=Merdeka). Orang ini aselinya dari Srilangka sebagai budak karena dibawa ke Batavia sebagai tahanan. Banyak diantara mereka menggunakan nama berbau Portugis sekalipun mereka berdarah Tamil-Melayu.

    Mayoor Tamil yang bernama kebelandaan ini suka melakukan perjalanan ke Tjitrap (Citeureup). Tidak jelas apakah melakukan Studi Banding atau ingin bertemu dengan pejabat di tempat lain. Setiap bepergian, ia selalu dikawal sepasukan pengawal yang berbaju obar-abir.

    Lewat Cibinong, melewati kali Cikeas ia sudah dijemput oleh pejabat dan muspida yang berpakaian semi militer ala Eropa dengan menunggang kuda (kecil). Rakyat amat sukacita menyambut kedatangannya lantaran dari tangannya tiada henti-hentinya menabur uang logam kepada khalayak yang berbaris sepanjang jalan.

    Tahun 1833 Majoor Jantje meninggal dunia, bahkan mayor yang temperamental dan urakan ini dikabarkan mati tanpa sanak saudara. Ketika pemakamannya para tiba, prosesi layat diikuti oleh rombongan pemusik profesional yang membawakan lagu-lagu barat.

    Mereka membawa alat seperti trombon, klarinet. Selesai pemakaman mereka membentuk group yang bisa dipanggil pesta-pesta kampung. Dari sinilah asal muasalnya groups Tanjidor. Kata “tanjidor” sendiri berasal dari kata “tiende uur” artinya setelah 10 lagu (tien), peralatan musti dibersihkan pakai air bunga. Ada yang bilang kalau sepuluh lagu, ludah pemusiknya memenuhi trombon sehingga instrumen musik perlu dibersihkan sambil diberi wewangian.

    Tahun 1834, satu tahun setelah kematiannya bencana alam mengamuk dan sempat merusakkan Wisma Tjitrap. Sejak itu kejayaannya Tjitrap memang berlalu dan tidak banyak dibicarakan orang kecuali oleh pelukis kenamaan Raden Saleh yang pernah mengabadikan Wisma Legendaris tersebut.

    Salah satu peninggalannya adalah memadukan seni musik unsur Portugis bercampur Arab dan India, akhirnya jadilah musik berbau musik keroncong.
    Dari berbagai sumber
    fkpciteureup.blogspot.com

  4. saya sangat tertarik dengan sejarah majalengka, dan dengan membaca blog ini menjadi menambah wawasan saya tentang sejarah majalengka yang sesuai dengan kenyataan karena tertulis dalam berbagai sumber dan bukan hanya sekedar cerita mulut ke mulut yang terkesan menjadi dongeng belaka. Saya tertarik dengan pembahasan daerah Parakan Muncang, dulu pernah ada pembahasan tentang sejarah ini dalam artikel di koran PR. disitu disebutkan Kab. Parakan Muncang beribukota di Anawadak (Tanjungsari Sumedang, Sekarang), ibukota ini merupakan ibukota baru karena diperintahkan untuk pindah mendekati jalan raya pos, sama halnya dengan perpindahan ibukota kab. Bandung dari karapyak di dayeuhkolot ke pinggir sungai cikapundung (alun-alun Kota Bandung, sekarang). itu yang saya ketahui tentang daerah Parakan Muncanng. Ditunggu untuk pembahasan sejarah majalengka lainnya, Terimakasih.

    • Panjang teuing artikelna, jadi rada harese ngajugjug nu diilari. Seueur nu kieu nu tos dibukaan teh, ngajugjug tea wae, milihan. Nganggo terjemahan mang google teh sok pabaliut, sok mukaan kamus wae (gaduh aya manawi tilu kamus leutik jeung gede), kapeung di nu gede teua aya, di nu leutik malah aya. Ari basa walanda mah rada arapap eureupeup, dan kuliah ukur sasemester (da jurusannna bahasa inggris, basa walanda mah tambahan), kursus ukur tepi ka jilid hiji. Hehehe

  5. Alhamdulillah parantos kenging pencerahan ti Ki Tatang anu dipihormat, mugia aya berkahna kanggo wargi sadaya sinareng generasi anom anu bakalan neruskeun ukiran sejarah daerah sareng bangsa urang, khususna Majalengka umumna Indonesia. Karena sudah sering disebut orang bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengahargai pahlawan dan mengetahui sejarahnya. Hatur nuhun Ki sobat.

    • Sareng anu peryogi pisan mah, wani eleh ka nu bener, wani bener ka nu salah, “sing salah, seleh” (ceuk urang Jawa teh, hartina nu salah nya “turun panggung” atuh!) Ulah mikukuh payung butut, ngeumbing samping ngingkiriwing, ngagandulan akar getas. Dipapayung payung butut, kahujanan, asup angin ke geura, terus jantungeun, angin duduk! Oot tah! Hehehe.

  6. pencerhan pisan pa. haturnuhun atos posting sejarah majalengka, sareng bade nyuhunkeun idin kangge share deui ieu postingan

  7. Alhamdulillah,aya anu berbudi jeung rereka tur panjang elingan kersa ngaguar sejarah karuhun reugreug hate teh, abi nuju ngararampa amanat sepuh anu saurna kapungkur karuhun teh Bupati Parakan Muncang ka hiji, manawi aya anu bade ngabantos, kang nuhuuun

    • Haduh, eta, kedah disalusur heula atuh. Ke upami tos aya waktos, insyaAllah. Samentawis mah atuh cepeng wae tah Ki Ageng Somahita Umbul Sindangkasih sabage luluhur, pan Bupati Parakan Muncang nu munggaran.

  8. Sir,
    Sangat menarik artikel. Adalah kuburan Radjagaloeng belum? Bahkan makam kuno, dari tahun 1901? Apakah ada gambar di internet?
    Terima kasih.

  9. bilih aya wakos ka Rajagaluh mun teu lepat aya kuburan Walanda ? sareng kuburan Cina…. dugi ka orang cina di usir ti rajagaluh. DI majalengka jatiwangi kadipaten mah Cina masih aya keneh. teras aya bekas perkebunan di lereng ciremai mun eu lepat ayeuna mah daerah sadarehe desa Payung kec Rajagaluh…. eta kapungkur na kagungan menir walanda saur n teh.

    • Aya mu ngilarian eta kuburan teh, turunanana, tos didugikeun ancer-ancer ka Rajagaluhna mah. Hehe, ke ah mun rek nyusun sajarah, Ieu mah da ukur tamba nganggur. Hehehe…

  10. assalamualaikum, kang tatang, punten tumaros ari nami Dawuan – kadipaten, eta kumaha jujutanana, ari jatituju mah aya na peta, sabab bejana saur sepuh: daerah karanganyar waktos jaman jepang paranti ngala keusik, kanggo pangkalan sukani,kumaha tah pamadegan kang tatang ?
    wassalam

    • Duka atuh. Hehehe….Ari dawuan mah nya dawuan wae, sisituan walungan. Jati tujuh mah mun tina jihat toponomi ku sabab aya tangkal jati tujuh ngajajar atawa ngagonyok.

  11. Sampurasun..

    1. Dalam satu peta buatan inggri pada tahun 1817 yang 2 tahun sebelum pembentukan Karesidenan Cirebon dan pembentukan 5 wilayah didalamnya, dipeta ini menunjukan adanya daerah Sindangkasih dan sebuah titik bernamakan Sindang Kasi. Saya yakin Sindangkasih disini adalah Sindangkasih Majalengka, mengapa bukan Sindangkasih Beber Cirebon seperti dugaan pak tatang, karena letaknya di peta tsb berada di wilayah Majalengka sekarang (sebelah barat gunung ciremai dan timur sungai cilutung sebagai batas wilayah Cirebon pada peta tsb). Sementara letak Beber sendiri cenderung dekat atau berada di wilayah penguasa Cirebon atau Linggarjati atau Koeningan. ( beber berada di antara kuninga-cirebon an di peta tidak tertulis adanya beber bahkan sindangkasih di sana hanya ada Lingga Jati). Dan bila ada penguasa wilayah Sindangkasih maupun Rajagaluh ( dalam surat Raffles bergelar Tumenggung) tentu kemungkinan daerah tsb ada sebuah pemerintahan pada era sebelumnya. Tidak seperti Talaga yang literatur sejarahnya cukup banyak di Internet, Sindangkasih dan Rajagaluh cukup sulit dan mungkin sebenarnya ada namun butuh penelusuran yang cukup mendalam.

    Berikut Link Peta tahun 1818: http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced?q_searchfield=map&f_entiteit_titel%5B0%5D=Maps&f_facet_beginjaar%5B0%5D=%5B1800+TO+1870%5D

    2. Peta kedua adalah buatan tahun 1818, setahun sebelum peta diatas dan setahun sebelum berdirinya kabupaten Maja dan karesidenan Cirebon, terdapat nama Sindang diantara Karangsambung (tempat penyebrangan) dan Talaga. Letak Sindang berada di barat Ciremai, dan saya kira ini sebenarnya adalah Sindang Kasi, karena beberapa wilayah di peta ini namanya menjadi cukup aneh seperti Koejinang yang mungkin Koeningan. Dan dipeta ini juga menjawab adanya wilayah Parakan Muncang, dan letak parakan Muncang di barat Sindang dan Timur Sumedang.

    Berikut Link Peta Tahun 1818: http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/622?q_searchfield=cheribon

    Saya yakin sindangkasih (Majalengka) sejak dahulu memang ada walau mungkin namanya tak setenar Talaga, mengapa demikian karena Sindangkasih disebutkan sebagai wilayah pernah menjadi wilayah Sumedanglarang yang berada di timur Cilutung, yang akhirnya menjadi wilayah kekuasan Cirebon setelah Insiden Panembahan Ratu dan Geusan Ulun mengenai Ratu Harisbaya.

    • Memang siapa bilang Sindangkasih tak ada. Ada. Tetapi jika menjadi wilayah Sumedang kemudian diserahkan ke Cirebon, kenapa harus “ditaklukkan” Cirebon dalam dongeng Sindangkasih Sugih Mukti? Kan aneh?! Dalam babad Cirebon ada disebut Sindangkasih, tetapi haruskah itu berarti Sindangkasih di barat Cikeruh yang didemangi laki-laki, bukan ratu putri? Bisa jadi itu Sindangkasih Beber, bisa jadi memang tidak ada Ratu Ambet Kasih Majalengka yang mau diislamkan!

  12. Sindangkasih sejarahnya sebelum penggabungan wilayah menjadi Kabupaten Maja masih gelap, Kalo memang berada di Barat Cikeruh bisa saja masuk kedalam wilayah Karegenan Sindangkasih, tinggal harus mencari tahu batas-batas wilayah antara karegenan Radja Galo, Talaga, dan Sindangkasih sebelum bersatu menjadi Kabupaten Maja. (apakah batas wilayah antara regentschap Radja Galo dan Sindangkasih adalah sungai Cikeruh?, sehingga wilayah sidangkasih disebut berada di barat Cikeruh?)

    Sasakala Sindang kasih Sugih Mukti duka ieu sumber awal mulanya dr mana? sekedar dongeng atau bukan, tapi sayang sekali jika penentuan Kab. Majalengka didasarkan pada dongeng semata.

    Nuhun Pak Tatang, diskusina, dan blog ini sangat membuka wawasan tentang sejarah Majalengka, terutama berdasar sumber yang otentik dan tertulis

    • Ya itu, keregenan Sindangkasih, Rajagaluh, dan Talaga sebelum terbentuk Kabupaten Maja belum tertemukan, termasuk asal-usul (latar belakang) pembentukan Kabupaten Maja. Kenapa Maja? Dan, bisa jadi, “urang Majalengka” ada yang “sirik” tidak mau mengakui keberadaaan kabupaten Maja, maunya Sindangkasih saja. Hahahaha………

  13. Assalamu Alaikum…
    Sampurasun Pa Tatang…
    Sejatinya ini merupakan historiografi yang menarik untuk penulisan sejarah Majalengka. memang tidak mudah mengumpulkan bukti otentik zaman baheula yang harus dikritisi menjadi fakta dan kemudian di interpretasi menjadi tulisan sejarah.
    Satu hal yang pasti bahwa memang harus dibedakan mana folklore, mantifact dengan bukti sejarah, sehingga masyarakat dapat cerdas dalam memperoleh ilmu pengetahuan .
    Majalengka tidak harus mengikuti Sumedang larang maupun Cirebon dalam sejarah, tidak perlu malu karena memang faktanya demikian bahwa Kabupaten Majalengka dibentuk oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

    Wassalam.

  14. pa tatang mugi kagungan gambar/ poto atanapi catetan sajarah atanapi silsilahna karuhun  kuring H. Umar janten kuwu maja tahun 1886-1910 …. :)
    haturnuhun sateuacana Wa ..

  15. tah eta manawi wa, pareumeun obor
    manawi kadang wargi sadaya aya nu uninga . . diantos info na
    nuhun Wa

  16. ass. manawi uninga silsilah eyang dalem somahita, karuhunna sareng par putrana. diantos waleranna. hatur nuhun wa.

  17. Di daerah Sadarehe Desa Payung Kecamatan Rajagaluh, ada bekas gedung Belanda bahkan pondasi dan Tiangnya masih asli berdiri, bahkan ada sekarang direnovasi ulang menjadi gedung utuh kembali oleh salah satu pengusaha di Majalengka, Tempat pemakaman belanda di rajagaluh, mungkin ada di daerah makam china, tempatnya dari terminal rajagaluh ke utara sekitar 500m, di belakang polsek Rajagaluh ke arah barat sekitar 100 meter, kondisisinya banyak yg rusak bahkan hanya tinggal dalam hitungan jari, karena beralih jd lahan pertanian, t

  18. Di daerah Sadarehe Desa Payung Kecamatan Rajagaluh, ada bekas gedung Belanda bahkan pondasi dan Tiangnya masih asli berdiri, bahkan ada sekarang direnovasi ulang menjadi gedung utuh kembali oleh salah satu pengusaha di Majalengka, Tempat pemakaman belanda di rajagaluh, mungkin ada di daerah makam china, tempatnya dari terminal rajagaluh ke utara sekitar 500m, di belakang polsek Rajagaluh ke arah barat sekitar 100 meter, kondisisinya banyak yg rusak bahkan hanya tinggal dalam hitungan jari, karena beralih jd lahan pertanian.

  19. Assalamu ‘alaikum, Pa Tatang
    Wilujeng tepang…
    Artikel yang sangat bagus, setidaknya menjelaskan sejarah Majalengka dari persepsi yang jauh berbeda dengan cerita-cerita yang sudah lama beredar di masyarakat Majalengka, termasuk saya sendiri. Agak sedikit bingung dengan data di atas, namun sangat membantu saya untuk membuka wawasan mengenai rasa penasaran terhadap sejarah Majalengka. Dapat dikatakan, sebagai putra daerah, saya SANGAT PENASARAN dengan misteri yang menyelimuti sejarah Majalengka yang masih samar.
    Saya mohon ijin untuk share artikelnya, Pak.
    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s