MAJA, MAJALENGKA LOKASI EKSPLORASI MINYAK PERTAMA DI INDONESIA

Tatang M. Amirin; 21 Nopember 2010; 20 April 2012

Semasa sekolah, saya “diperbanggakan” oleh guru dan Kepala Sekolah saya, Bapak Soetisna Sastradiredja (alm.), bahwa di Maja, tempat saya lahir dan diremajakan, pernah ada pengeboran minyak. Saya cuma tersenyum, karena tidak pernah dengar, dan masa itu sudah sangat jauh dari masa kecil saya sekalipun. Saya jadi terperangah, ketika dalam seminggu ini tak sengaja terbukalah tulisan di internet tentang itu. Bukan main. Hari ini, ketika kedua kali terbuka, saya seriusi tulisan itu. Nah, ini, maaf BUKAN DONGENG, ini benar-benar SEJARAH. Tapi, biarlah saya masukkan saja ke dalam “page” DONGENG SUNDA biar tak terlampau banyak “pages” di blog saya ini. Selamat membaca dan, bagi orang-orang tertentu, mungkin  apa yang ditulis dalam BLOGNYA AHLI GEOLOGI INDONESIA ini dapat menjadi inspirasi, termasuk buat keponakanku dan keluargaku yang bergerak di perminyakan. — Nama page-nya diubah lagi jadi Sejarah Majalengka, karena ini memang sejarah.

Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa

10 Maret 2009

Awang Harun dari BPMIGAS lagi-lagi bercerita tentang eksplorasi migas di Indonesia. Ternyata sumur tertua yang dibor di Indonesia adalah sumur bernama Waja-1 [Maja-1—Pngtp], yang dibor pada tahun 1871 oleh Jan Reerink. Berikut ulasan Pak Awang:

Jan Reerink adalah seorang anak laki-laki saudagar penggilingan beras pada zaman Belanda di Indonesia pada paruh kedua abad ke-19. Reerink ditugaskan ayahnya menjaga sebuah toko kelontong di Cirebon. Tetapi, Reerink selalu melamunkan penemuan minyak seperti yang dilakukan Kolonel Drake di Pennsylvania  pada tahun 1857. Akhirnya, sebuah berita ia terima bahwa ada rembesan minyak keluar dari lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa Cibodas, [Maja], Majalengka. Reerink berketetapan hati akan membor rembesan minyak itu.

Sebagai seorang dari keluarga pedagang, Jan Reerink tak menemui kesulitan dalam melobi Nederlandsche Handel Maatschappij (perusahaan dagang Belanda) untuk menyokong usahanya mencari minyak. Setelah sokongan diperoleh, Reerink pergi ke Amerika Serikat dan Kanada mengumpulkan peralatan bor dan tenaga kerjanya.

Reerink kemudian kembali ke Cirebon dan segera pergi ke lereng barat Ciremai di mana rembesan minyak dilaporkan. Di sana, menggunakan menara bor  bergaya Pennsylvania, seperti yang digunakan Kolonel Drake mengebor sumur minyak pertamanya di dunia di Titusville, Reerink mengebor sebuah sumur mencari minyak. Saat itu bulan Desember 1871 dan tercatat dalam sejarah perminyakan Indonesia sebagai tahun sumur eksplorasi minyak pertama dibor di Indonesia.

Sumur pertama itu dinamai Maja-1 atau Cibodas Tangat-1. Tali, bukan pipa, digunakan untuk menggerakkan mata bor. Tidak ada pipa selubung atau casing. Kedalaman sumur pertama itu hanya 125 kaki. Tenaga penggerak berasal dari generator yang dihela beberapa ekor kerbau. Sumur pertama ini menemukan minyak walaupun sedikit. Reerink kemudian membor tiga sumur lagi di Cibodas dan dua di antaranya menemukan sedikit minyak.

Merasa penasaran belum menemukan minyak dalam jumlah besar, Reerink berpikir bahwa peralatan bornya kurang tenaga, sumur-sumur harus dibor lebih dalam. Maka Reerink pun kembali ke Amerika. Di sana ia membeli peralatan bertenaga uap, sebagai pengganti tenaga kerbau. Tahun 1874, Reerink memulai periode kedua kegiatan pemborannya.  Dengan dua mesin bertenaga uap, Reerink mengebor beberapa sumur di Panais (Paniis—Pngtp], Maja, dan Cipinang, semuanya berlokasi di lereng barat Gunung Ciremai. Sayang semuanya gagal.

Sampai tahun 1876, Reerink terus berusaha mengebor di wilayah ini.  Nederlandsche Handel Maatschappij (terakhir kemudian menjadi Royal Dutch Shell) telah mengeluarkan 225.000 gulden dan Reerink sendiri mempertaruhkan uang pribadinya sebanyak 100.000 gulden. Sebenarnya Reerink masih ingin berusaha setelah sebanyak 19 sumur eksplorasi dibornya di lereng Ciremai, tetapi perusahaan dagang Belanda itu tak mau lagi menyokong dananya.

Pada akhir Juli 1876, Reerink kembali ke tokonya dan mengubur mimpinya menemukan dan menjadi saudagar minyak. Meskipun demikian, Jan Reerink patut dikenang sebagai eksplorasionis pertama di Indonesia yang serius mencari minyak. Reerink hidup sampai tahun 1923.

Tahun 1939, penemuan komersial pertama ditemukan di wilayah ini, lebih ke utara dari wilayah di mana Reerink mengebor sumur-sumur eksplorasinya. BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) menemukan minyak komersial pertama di Jawa Barat di Lapangan Randegan. Berturut-turut kemudian penemuan lapangan-lapangan penting terjadi di wilayah ke utara dan barat dari Randegan, bukan ke selatan menuju Ciremai.
Meskipun demikian, minyak-minyak dari sumur-sumur Reerink masih mengalir dan sampai sekarang dimanfaatkan penduduk setempat. Apakah Ciremai, Kuningan, Majenang, dan Banyumas tak perlu dilihat lagi kemungkinannya sebagai wilayah minyak? Salah. Justru wilayah tinggian struktur dari Majalengka-Banyumas ini merupakan salah satu wilayah terkaya akan rembesan minyak di Pulau Jawa. Dan rembesan minyak selalu lebih positif daripada negatif dalam membimbing eksplorasi.

Sebuah keunikan geologi, tektonik,volkanisme, dan petroleum system terjadi di wilayah dari Majalengka-Banyumas. Jan Reerink tidak salah mempertaruhkan uang pribadinya di lereng Ciremai. Ia belum beruntung saja. Keuntungan barangkali akan berpihak kepada para eksplorasionis masa mendatang yang berani keluar dari wilayah-wilayah klasik perminyakan. Sains dan keberanian diperlukan dalam hal ini.

Perburuan telah dimulai dengan meneliti kembali minyak sumur-sumur Jan Reerink, diteliti karakteristik geokimianya. Ini titik ikat sebelah baratlaut (Majalengka). Hal yang sama dilakukan atas rembesan-rembesan minyak di Banyumas, ini adalah titik ikat selatan (Banyumas). Setelah kedua titik ikat ditentukan, mulailah para eksplorasionis berkutat dengan data dan sains, dst., dst.

Jawa masih menyimpan banyak misteri. Minyak tak hanya ada di cekungan-cekungan produktif saat ini.

Catatan lain:

Eroïca: The Quest for Oil in Indonesia (1850-1898) (Kindle Edition)

A tribute to the pioneers of oil exploration in Indonesia (1850–1898).

Using authentic reports, diaries, relevant texts, personal notes and pictures, Poley brings to life the heroic efforts of Reerink (Cheribon, W. Java), Zijlker and Kessler (Deli, NE Sumatra), Stoop (Surabaya and Rembang, E Java), Menten (Kutei, E Kalimantan), Kessler and I.J. Zerman (Palembang, SE Sumatra), and their crews. They faced almost insurmountable odds in many locations: an impenetrable, cruel jungle, an inclement climate, tropical diseases, technical mishaps, financial restrictions, and, last but not least, government and legal constraints. There was no geological science to guide them, and drilling technology was still in its infancy. Yet it was their vision and perseverance which finally put Indonesia on the world map of oil-producing nations, and which contributed materially to the development of today’s life of luxury. Much of the present text and several of the pictures are here presented for the first time to the general public.

Pak Rovicky,

Sumber tulisan saya, sebagaimana biasanya, banyak dan campur2. Tentang Jan Reerink ini salah satunya saya ambil dari website CCOP bab Indonesia tentang sejarah eksplorasi di Indonesia, dikonfirmasi oleh beberapa buku seperti van Bemmelen (1949) vol. IB dan beberapa buku serta laporan lain. Sumber seperti yang disebutkan Pak Koesoema (Poley, 2000) saya pikir akan sangat baik; kapan-kapan barangkali saya boleh fotokopi bukunya bila diizinkan.

Akan halnya Telaga Tunggal, tokoh yang terkenal adalah Jan Zijlker (nama Jan adalah nama “pasaran” orang Belanda). Tahun 1880, ia ditugaskan atasannya mengunjungi sebuah perkebunan tembakau di Sumatra Utara. Jan Zijlker adalah manager of the East Sumatra Tobacco Company. Di sana, ia melihat penduduk setempat (Langkat) menggunakan obor dengan suatu zat untuk membuatnya tahan lama menyala. Zijlker mengenal zat itu sebagai minyak tanah. Selidik punya selidik, ia mengetahui bahwa minyak yang digunakan penduduk berasal dari sebuah rembesan minyak yang keluar dari kebun tembakau. Tak berpikir lama lagi, instink bisnisnya berjalan, ia segera mendapatkan konsesi sebuah wilayah bernama Telaga Said di wilayah Langkat di mana rembesan minyak itu berada. Konsesi itu ia dapatkan dari Sultan Langkat. Dengan eksplorasi sederhana dimulailah pekerjaan berburu minyak. Usahanya ini mendapatkan dukungan Pemerintah Belanda.

September 1884 (perhatikan bukan 1885 – tahun 1885 adalah tahun yang selama ini digunakan sebagai angka tahun mulainya sejarah perminyakan di Indonesia) sebuah sumur pertama di Sumatra bernama Telaga Tunggal-1 di Sumatra Timurlaut sukses menemukan minyak. Sesuai aturan pemerintah saat itu, konsesi Telaga Said beralih ke Royal Dutch (sebuah perusahaan milik Kerajaan Belanda untuk mengeksploitasi minyak di Indonesia) pada September 1890. Tiga bulan kemudian, Zijlker meninggal dunia (Desember 1890). Apakah ia meninggal karena kecewa melihat sukses beralih dari tangannya, bisa diselidiki lebih jauh. Maka jelas, bahwa Maja-1 (Cibodas Tangat-1) lebih dulu dibor (1871) daripada Telaga Tunggal-1 (1884).

Seorang sahabat pena saya, generasi ke-3 dari orang-orang Amerika dan Belanda yang mengembangkan Telaga Said pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, baru-baru ini mengirimkan foto-foto lama tentang suasana Telaga Said saat itu, foto-foto itu warisan dari kakek buyutnya yang dulu bekerja di Telaga Said. Foto2 ini tak pernah dipublikasikan sebelumnya tentu.

Sejarah perminyakan di Indonesia dimulai oleh para independen yang berani seperti Jan Reerink (1871) dan Jan Zijlker (1880). Mungkin kita perlu melihat lagi bahwa sejarah perminyakan Indonesia dimulai bukan dari 1885, tetapi lebih awal lagi.

Margono M. Amir (komentar)

Menurut Poleydalam bukunya “Eroïca: the quest for oil in Indonesia (1850-1898)” ayah Jan Reerink memiliki grocery store di Haarlem, Belanda, di mana Jan Reerink sempat magang. Jadi bukan saudagar penggilingan beras. Toko di Cirebon adalah toko milik Jan Reerink sendiri. Pada awalnya Reerink menggunakan bor tumbuk (percussion drilling) yang berhasil memproduksi minyak sampai 160 liter/hari. Setelah dia menggunakan Canadian type drilling system yang mampu membor sumur yang lebih dalam dia malah gagal, karena tanahnya terlalu lunak. Semoga info saya ini bermanfaat.

Laporan Belanda

Nah, ini “laporan” orang Belanda tentang eksplorasi minyak tanah (minyak bumi) atau “aardoliebronnen” di “dessa” Maja, “district” (Kecamatan) Maja, “afdeeling” (Kabupaten) Majalengka, dalam bahasa Belanda. Semoga ada yang bisa memahami.

In 1873 word aan den heer J. Reerink, gezamenlijk met de factory der Nederlandsche Handelmaatschappij te Batavia~ veer den tijd van 20 jaren en op den voetder verdere bepalingen van her Indisch Staatsblad 1867 no 54a en 1868 no 58, vergunning verleend om aardoliebronnen to exploiteeren in de dessa Madja, district Madja, afdeeling Madjalengka der residentie Cheribon. Als ontginningsterrein werden aangewezen 19 stukken grond, gesameu] ijk ter grootte van ongeveer 207 bouws. Nadat uit Amerika werktuigen en technisch personeel waren aangebraeht, warden twee boringen uitgevoerd~ die de diepte van 111 en 213 M. bereikten; in de boorgaten werd op 38 en _9 79 M. aardolie aangetroen, die evenwel slechts tot 4,5 M. beneden den beganen grond opwelde. Uit de te Tjibodas gemaakte boorgaten verkreeg men ongeveer 144 liter per etmaal, doeh nagenoeg al de op andere plaatsen begonnen boringen mislukten, hetzij omdat in her geheel geen aardolie werd aangetrot~en, hetzij omdat de verkregen olie te dik was. In Mei 1876 werd her bekend, dat de ondernemers besloten hadden de exploitatie te staken. Daar de voorwaarden der eoncessie niet waren nagekomen, de ontginning voorts gebleken was geene resultaten van eenige beteekenis te kunnen opleveren en her in her belang der bevolking moest geacht worden, haar vrij te laten gebruik maken van war de natuurlijke bronuen opleveren, werd de coneessie later ingetrokken. (DE CONCESSIEN TOT MIJNONTGINNING IN  NEDERLANDSCHINDIE NA HET KON. BESLUIT VAN ‘) SEPTEMBER 1873 (INDISCH STAATSBLAD No 217a).]

Saya masih penasaran dengan nama desa Cibodas. Ada desa Cibodas yang masuk Kecamatan Majalengka. Tulisan di atas tega-tegas menyebut lokasi eksplorasi minyak itu di desa Maja, bukan desa Cibodas. Jadi, pasti ada kampung di Maja yang dulu pernah disebut Cibodas, tetapi sekarang tidak lagi. Konon, yang suka ada rembesan minyak sampai sekarang itu di Sukamurni, sekarang masuk Maja Kidul.  Apakah dulunya bernama Cibodas? Saya ingat dulu ayah saya suka menyuruh paman saya mengambil “taneuh bodas” (abu-abu sih sebenarnya) untuk digunakan “ngalabur” (mengapur) rumah yang dindingnya gedeg bambu (“bilik”). Ambilnya itu ya di Cibodas, dipikul. Jelas tak mungkin ngambilnya di Cibodas Majalengka, bisa kelenger di perjalanan. Jadi, bisa jadi mungkin Cibodas itu Sukamurni sekarang (murni atau “bening” itu kan sama dengan bodas alias putih!).

Ah, tapi itu ternyata salah. Cibodas itu ya Cibodas, bukan Sukamurni. Cibodas itu “di atas” Jerokaso. Nah, ternyata Junghuhn melukiskan Cibodas itu sebagai sebuah sungai, sungai “T.Bodas” (Tjibodas) bersebelahan yang bersumber dekat Argalingga, utara kota TELAGA yang berwarna pink. Di sebelah situ Junghuhn menandainya dengan tulisan “AARDOLIE” alias MINYAK BUMI. Di situlah letak Cibodas-Tangat 1 itu.

AARDOLIE TJIBODAS DEKAT MADJA DAN TELAGA

Peta letak Cibodas (Aardolie, minyak bumi) dekat sungai Cibodas

Ini diambil dari buku asli Eroika (online), lukisan Reerink sendiri mengenai lokasi pengeboran minyak di Cibodas itu. Di sisi kiri ada persawahan di sekitar Maja, dan jauh di kiri ada Majalengka dan Kadipaten.

26 thoughts on “MAJA, MAJALENGKA LOKASI EKSPLORASI MINYAK PERTAMA DI INDONESIA

  1. Raos pisan janten penjajah teh nya pak..naon anu tiasa digaruk nya diangkut,nyuhunkeun izin da gampil atuh ari nyuhunkeunna ka rencangna mah. Punten ari warisan penjajah anu saena teh mangrupi naon wae nya pak..salian ti karusakan di tatar indonesia teh,,

    Htrnhn,

  2. Sepetahuan saya pertamina sudah melirik wilayah maja untuk explorasi selanjutnya terutama daerah kehutanan cihaur .Pas saya pulang awal januari lagi ada penelitian berupa pengambilan sampel tanah dari pertamina

    • Ya, Raflles kalau tidak Junghuhn memang sejak dulu menyebut-sebut wilayah itu masih prospektif untuk dieksplorasi menggunakan tenaga mesin. Baheula menggunakan tenaga hewan. Sayang dilacak terus pun belum tertemukan foto saat penggalian pertama itu.

  3. Muhun Pa, cibodas teh palih wetaneun Sukamurni, saurna teh kapungkur tahun 50-an tanahna miley (miring) janten pendudukna ngalih ka Sukamurni, anu kapungkurna tanah “bengkok” Maja, kajadiana sareng ngalihna urang Paniis girang ka kampung/blok Sukamulya di desa paniis, dupi paniis girang mah ayeuna janten kebon deui, ku urang Sukamulya ayeuna mah disebatna Tonggoh,dupi tilas Cibodas mah panginten janten sawah atanapi kebon deui

    • Aya kasebut, sanajan salah huruf, Paniis ge kungsi diubek-ubek diteangan minyakna. Tah parindah teh lain ku sabab taneuhna miley wae, jigana, tapi ku sabab dijieun proyek penambangan minyak.

  4. Sae pisan pa informasina, menarik kangge dipaluruh deui. Kantos ngobrol sareng salah sawios tabloid FKDPM nu ngabahas daerah-daerah penghasil migas, maranehna tertarik oge kana lokasi (utamina titik bor) Maja-1 atawa Tjibodas Tangat-1 teh sabab dianggapna masih misteri. Upami kapaluruh teh eta tiasa janten bukti sejarah anu penting sareng tiasa ngangkat nama Majalengka di tingkat Nasional.

    • orang pertamina sudah tahu, alo sareng bapana kerja di pertamina pusat, ceitera juga yakin pengeboran pertama teh di daerah Pak De (Uwa) katanya. Mun tiasa mangfotokeun daerahna, sukur upami aya foto “mesin ngebior” baheula, sae pisan.

  5. Ingsun Wong Cerbon dadi bli pati lancara basa sundae.
    Semoga wong majalengka ngerti setitik2 bahasa cerbon.

    Isun bli mbela Belanda. Tetapi hebate Belanda drpd bangsa eropa sejene iku wong2 belanda parek karo suku bangsa pribumi. Bisa dadi Jan Reerink fasih ngomong nganggo bahasa Sunda. Pada kaya Junghuns, walaupun Junghuns aslie wong jerman.

    Tahun semono 1870an iku zaman Liberal ning Hindia-Belanda (indonesia durung ana) dadi wajar individu bs eksplorasi minyak atas nama dewek. Lan akhir abad 19 iku zaman ning Hindia-Belanda wis setitik2 manjing zaman Normal, pemerintah Hindia-Belanda (HB) mbangun infrastruktur ning wilayah2 HB. Rel Sepur dibangun, Wis ana Sekolahan. Kang beda karo sekien kuh cuman pemerintahane bae, bengen mah wong bule.

    • Gemantung sapa sing ngomongenang, tur Landa kang ngendi, kayane sih, ya?! Ari VOC mah pareke karo pribumi mung arep ngentek-ngentekenang. Taun semono wis dudu VOC, wis Landa, wis mulai jamane balas budi. Landa kalah bari Inggris. Contone Malaysia. Beda pisan bari Indonesia tinggalane penjajah!

  6. Leres kang saur sepuh cibodas teh nyaeta pilemburan jaman kapungkur ,nu pernah na tempat ngala taneuh porang tanapi taneuh liat hideung jeung sabudeureuna.nya didinya ayna ge rembesan rembesan cai th hinyay campur minyak..kumargi taneuh na labil longsoran wae taneuh miley ceuk urang sukamurni mah nya lembur cibodas teh di pindah kn ka deuket maja nya nu ayeuna jadi lembur sukamurni teras tilas lembur cibodas na di parolah janten pasawahan sareng kebon..

  7. Apanan sukamurni mah caket huluwotan cai herang nu ayna di anggo sumber air bersih desa maja kidul sareng maja kaler .ticibodas anu cai na bodas teu herang ayna ayna caina herang ngagenclang .eta jigana cai herang murni alami janten resep .jadi weh sukamurni hehehe

  8. kang Tatang,,kamari dinten ahad ping14 september simkuring amengan ka lokasi tilas pengeboran di cibodas,sukamurni maja,,,meni tos gersang kacida,

  9. Nepangkeun sim kuring urang Bongas (Wetan), perkawis daerah Randegan, dugi ayeuna masih keneh ekplorasi. Daerah Bongas (Kulon & wetan) memang seueur paninggalan/tilas pangeboran, pengekeren rompok oge kasebatna daerah ‘Bor 33′ dumeh aya tunggul sisa pangeboran nganggo ‘kode 33′, Bor 35 sareng stasium Pengumpul Gas kasebat na teh ‘Geblag’ pedah we aya tower seuneu nu 24 jam ngageblag hurung, tuluy ka kaler nepikeun Randegan.
    Sok emut cariosan buyut rehna Bongas teh asal ti keBon Gas, aya deui nu cacarita asalna ti kalimah “keBone keberanGas”.
    Pa Tatang neda idin share, hatur nuhun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s