SINDANGKASIH: Mestinya Tidak Dianggap Hanya Ada di Majalengka!

Membicarakan Sindangkasih, entah itu nama daerah, entah nama kerajaan, orang suka berpegang pada satu wawasan: YANG ADA DI WILAYAHNYA. Itu bisa terjadi pada masa lalu, ketika mobilitas masyarakat sangat amat terbatas, sehingga “kisah punya orang lain” pun asal terkait dengan nama yang ada di daerahnya, dianggap seolah-olah itu kisah daerahnya. Saya ingat ketika kecil, Reog Sunda menyanyikan lagu yang syairnya sebagian begini: “Malotekar, ngudag kamajuan/Palalinter niru-niru batur . . .” Saya dulu mengira itu lagu asli Sunda. Eh, begitu ke Jogja, itu jiplakan lagu Ki Nartosabdo: “Gambang suling ngumandang swarane/Tulat tulit kepenak unine/Unine mung nrenyuh ake/Barengan lan kentrung ketipung suling/
Sigrak kendangane…” Maka “wajar” jika orang Malaysia mengangap bahwa “Reog Ponorogo” itu asli Malaysia, karena ia tahu sejak kecil itu dipentaskan di sana. Ia tak tahu itu warisan leluhur warga Malaysia asal Indonesia. Mungkin orang tak banyak tahu bahwa “orang Baduy” bahkan pernah bermigrasi ke Pilipina, dan “balatentara” Pajajaran pernah juga datang ke Filipina dengan “senjata andalan” berupa “kuku maung.”

Nah, ini “kontroversi” Sindangkasih. Dua artikel saja, cukup menarik.

Artikel I:

(Asep Ahmad Hidayat 2008)

BERDASARKAN sumber sejarah lokal (seperti Babad Cireboni) bahwa Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Kian Santang merupakan tiga tokoh utama penyebar Islam di seluruh tanah Pasundan. Ketiganya merupakan keturunan Prabu Sliliwangi (Prabu Jaya Dewata atau Sribaduga Maha Raja) raja terakhir Pajajaran (Gabungan antara Galuh dan Sunda). Hubungan keluarga ketiga tokoh tersebut sangatlah dekat. Cakrabuana dan Kian Santang merupakan adik-kakak. Sedangkan, Syarif Hidayatullah merupakan keponakan dari Cakrabuana dan Kian Santang. Syarif Hidayatullah sendiri merupakan anak Nyai Ratu Mas Lara Santang, sang adik Cakrabuana dan kakak perempuan Kian Santang.

Cakrabuana (atau nama lain Walangsungsang), Lara Santang, dan Kian Santang merupakan anak Prabu Siliwangi dan hasil perkawinannya dengan Nyai Subang Larang, seorang puteri Ki Gede Tapa, penguasa Syah Bandar Karawang [Salah kutip, ya!–Pen]. Peristiwa pernikahannya terjadi ketika Prabu Siliwangi belum menjadi raja Pajajaran; ia masih bergelar Prabu Jaya Dewata atau Manahrasa dan hanya menjadi raja bawahan di wilayah Sindangkasih (Majalengka), yaitu salah satu wilayah kekuasaan kerajaan Galuh Surawisesa (kawali-Ciamis) yang diperintah oleh ayahnya Prabu Dewa Niskala. Sedangkan kerajaan Sunda-Surawisesa (Pakuan/Bogor) masih dipegang oleh kakak ayahnya (ua: Sunda) Prabu Susuk Tunggal.

Artikel II:

Darkum (Skripsi Unnes, Semarang)

Nagari Surantaka

Nagari ini terletak di sebelah utara, sekitar 4 km dari Giri Amparan Jati (makam sunan Gunung Jati ) dan Muara Jati. Penguasanya diberitakan dalam kitab Purwaka Caruban Nagari. Pada masa itu adalah Ki Gedheng Sedhang Kasih [Ki Gedheng Sindang Kasih–Pen.], berkuasa atas pelabuhan Muara Jati, sebagai Syah Bandar. Ki Gedheng Sedhang Kasih ini saudara Prabu Anggalarang dari Galuh ayah dari Prabu Siliwangi menurut Babad Galuh, cerita Waruga Guru, dan babad pajajaran. Menurut Carita Parahiyangan dikaitkan dengan prasasti “ Batu Tulis “ di Bogor, Prabu Anggalarang itu identik dengan Rahyang Dewa Niskala, Tohaan di Galuh, Putra Prabu niskala Wastukencana.

Luas wilayah, serta batas-batasnya di sebelah Utara dan Barat tidak jelas nama negerinya, sedangkan di sebelah Selatan berbatasan dengan nagari Singapura dan Timurnya Laut Jawa. Pusat negerinya terletak di Desa Keraton, Kecamatan Cirebon Utara Kabupaten Cirebon sekarang, sekitar 5 Km dari arah Giri Amparan Jati. Ki Gedheng Sedhang Kasih mempunyai putri bernama Ambet Kasih, yang menikah dengan Raden Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi).

Menurut catatan ada suatu peristiwa unik yang terjadi di Surantaka ini, yaitu menjadi tempat dilaksanakannya sayembara untuk menentukan jodoh bagi Nyi Mas Subang Larang Putri dari Mangku Bumi Singapura yang bernama Ki Gedheng Tapa. Dalam sayembara ini Raden Pamanah Rasa menjadi pemenangnya dan berhasil mempersunting Nyi Mas Subang Larang. Setelah menjadi raja Sunda di Pakuan Pajajaran, dari Nyi Mas Subang Larang inilah Wangsa Cirebon Terlahir.

Sebagai akibat dari perkawinan Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Mas Ambet Kasih, Ki Gedheng Sedhang Kasih ayah Nyi Ambet Kasih–Pen.) memberikan daerah Sindang Kasih kepada Raden Pamanah Rasa sang menantu, yang juga keponakannya, sebagai hadiah perkawinan, yang sekarang termasuk kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, kira-kira 15 Km arah Selatan dari Surantaka (Sunardjo, 1983:8)

Nagari Singapura

Nagari Singapura ini dipimpin oleh Ki Gedheng Surawijaya Sakti ([Singapura itu–sekarang menjadi desa Mertasinga, Kotamadya Cirebon) saudara ki Gedheng [Sedhang/Sindang] Kasih. Jadi juga saudaranya Prabu Anggalarang di Galuh.  Beliau dibantu oleh Mangkubumi bernama Ki Gedheng Tapa, yang mempunyai anak bernama Nyi Mas Subang Larang. Perlu dijelaskan disini bahwa ada beberapa catatan peristiwa yang cukup penting untuk diceritakan pada jaman Nagari Singapura. Peristiwa tersebut merupakan proses awal islamisasi di daerah Jawa Barat umumnya, Cirebon khususnya.

Sebutan Ki Gedheng atau Nyi Gedheng ada kemungkinan dari Ki/Nyi “Gedhe ing (di)” …), sebutan “orang besar yang berasal dari ….” Jadi, pasti bukan nama aslinya. Ini akan sama dengan Siti Armilah yang disebut dengan [Nyi] Gedeng Badori, yang bisa berarti Nyi Gede ing Badori. Badori diperkirakan nama tempat (daerah, wilayah) yang banyak pohon (bunga) badorinya. Badori itu biduri atau widuri, karena ada pertukran pelisanan konsonan “v” (w)  jadi b seperti besi (wesi), baja (waja), batu (watu). Ini gambar bunga badori (widuri).

 

36 thoughts on “SINDANGKASIH: Mestinya Tidak Dianggap Hanya Ada di Majalengka!

  1. sangat..menarik…..infonya…nambah..nilai2 leluhur..!!! Cuman mau tanya……akang..mengetahui tidak silsilah / keturunan dr kerajaan sindang kasih ini…..
    Saya penasaran dengan putri yang bernama NYI IMAS SINDANGKASIH….
    apakah beliau ini adalah salah seorang…dari keturunannya…..!!!
    Walau pun hanya pertemuan singkat lewat mimpi….di tahun 2002 tapi..sampei sekarang…saya masih penasaran dengan….putri tersebut……!!!

    • Nyi Rambut Kasih tidak jelas turunan siapa (diragukan putra Parbu Siliwangi!), dan tidak punya suami (kan maunya sama Pangeran Muhammad yang ganteng, tapi ditolak karena sudah punya isteri Nyi Gedeng Badori alias Siti Armilah), terus marah dan menghilang. Jadi, menurut dongeng pun tak punya keturunan. Keratonnya saja pun menghilang. Pasti tidak ada peninggalan situs apapun, sebab menghilang. Hehehe.
      Nyi Imas Sindangkasih? Ah, eta mah paling-paling kembang impenan, sapedah sok ngarasa Nyi Rambut Kasih teh aya tur geulis kalangit-langit (wanti teh langit, nya?), terus jadi kaimpenkeun panggih jeung nu sarimbag jeung anjeunna. Ah, hoyong atuh Bapa ge pendak sareng nu gareulis. Hehehe….

  2. kurang lengkap,ada ga yg punya artikel desa sindangkasih kec beber,cirebon? Tp yg lengkap

  3. punten kang, punya informasi tentang kerajaan Wanagiri dan Losari ga?
    karena saya tertarik dgn sejarah Ciayumajakuning pada masa pra-Islam?

  4. Trma kasih, kesuwun….
    Perkenalkan kang, sya Adwi, orang Cirebon, sedang kuliah di Jogja, di sebelah UNY….
    Saya sebenarnya bukan mahasiswa sejarah. namun saya mempunyai minat pd sejarah….khususnya ya di Ciayumajakuning….

    • Walah, priben sira kabare? Sehat-sehat bae tah!? Kita lagi ngelacak terus sejarah sabuderane gunung Ciremay. Coba tulung atuh kakawin (babad) cirebon diindonesiakenang, kita rada susah nangkepe. Basa cirebon bisa setitik bae (tur sing kasar) wis ilang kabeh, padahal ning babad basane campur aduk karo basa “alus.” Sing kelingan mung “Cung, ano ulo dawo-dawo ning dermago!” Jarene wong Jamblang kuen ya?! Ari sira Cirebone ngendi?

  5. Alhamdulillah pa, isun sehat bae, waras….ari bpak kepriben?
    kula cerbone teng Arumsari Cirebon Girang, Talun caket Sumber….
    baka babad cerbon kuh basae, basa cerbon kuna, isun get setitk-setitik ngerti sih, toli nganggo pupuh kedik, ya dadie katone angel….
    Wah, pa Tatang dados dosen teng UNY tah…teng jurusan punapa pa?
    Kula mhasiswa antropologi teng UGM kih pak…. salam kenal…..
    Upami gadhah email, nyukani uning kula ya pak,
    Email kula adwi_nriyansyah@ymail.com, kangge nyukani informasi sejarah se-Ciayumajakuning…., matur kesuwun…

  6. mohon mnta emailnya ya pak, untuk sharing informasi sejarah Ciayumajakuning…matur kesuwun….

  7. ASAL MUASAL DESA SINDANGKASIH

    Sindangkasih artinya : Sindang adalah “ Singgah” dan Kasih adalah “ Cinta atau Sayang “ di Sindangkasih dulunya merupakan sebuah kerajaan sindangkasih, keratonnya juga terletak di Sindangkasih ( sekarang desa Sindangkasih Kecamatan Beber )
    Kerajaan Sindangkasih didikan oleh ki Ageng Sindangkasih, beliau adalah salah seorang putra keturunan Raja Pajajaran yang mendapa…t kepercayaan sebagai Juru Labuan ( Syahbandar ) pelabuhan Muara Jati daerah Caruban Larang ( Sekarang Cirebon )
    Setelah Ki Ageng Sindangkasih wafat dan tidak ber putra maka kekuasaan Juru Labuan di pelabuhan Muara Jati caruban Larang diserahkan dan digantikan oleh adiknya yaitu ki Ageng Tapa dengan gelar Ki Ageng Jumajan Jati Caruban Larang ( Cirebon Pesisir ) ,sedangkan yang memimpin dan berkuasa di Caruban Girang dipercayakan kepada Ki Ageng Kesmaya Putra Mangkubumi Suradipati yang bertindak mewakili kakaknya Prabu Maharaja Lingga Buana Wisesa yang telah gugur bersama putrinya yang bernama Diah Citraresmi ( Diah pitaloka ) di bubat Majapahit.
    Kemudian yang menjadi Raja di Keraton Sindangkasih digantikan oleh Keponakannya Ki Ageng Sindangkasih yaitu Raden Mamanah Rasa atau lebih dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa putra Rahyang Dewa Niskala.
    Raden Pamanah Rasa beristri Nyi Subang Larang atau dikenal juga dengan nama Nyi Ambet Kasih putri Pamannya sendiri Kyai Ageng Tapa Juru Labuan Jumajan Jati Caruban Larang dari istrinya yang bernama Nyi Mas Ratna Keranjang Putri Ki Ageng Kasmaya.
    Disebelah selatan desa Sindangkasih ada bukit yang tinggi yang bernama bukit Padaleman kalau diartikan dalam bahasa daerah ( sunda ) “ Padaleman “ sama dengan tempat orang-orang terhormat, berarti pula “ Keraton “ atau hanya merupakan sebuah tempat peristirahatan/ Petilasan Raja Raden Pamanah Rasa beserta permaisurinya Nyi Mas Subang Larang Tapa(Nyi Ambet Kasih)
    Disekitar Bukit Padaleman, Raja Raden Pamanah Rasa menacapkan keris pusakanya kedalam tanah, maka keluarkar air yang mengalir terus menerus dan tidak pernah kering sepanjang tahun, sumber air itu dinamakan “ Sumur Ciwasiat” Aliran air ciwasiat sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat melalui sungai Solokan Dalem guna pengairan pertanian juga digunakan untuk air minum Masyarakat Desa Sindangkasih disebut PAM Desa
    Lain dari itu ada juga sebuah makam Rama Tuan yang yang terletak dibukit sebelah tenggara desa Sindangkasih. Kuburan ini merupakan petilasan Kyai Ageng Sindangkasih.

    • Saya lebih suka menganggap kata sindang (Sunda) sama dengan kata sendhang (Jawa), artinya kolam mata air, bukan sindang dalam arti mampir bahasa Sunda modern. Ki Gedhe ing Sindangkasih suka ditulis juga Ki Gedhe ing (Ki Gedheng) Sedhangkasih. Kata kasih juga harus dilacak ke Sunda pertengahan, jangan ke Sunda modern. Sunda modern lebih suka menggunakan kata “asih” dibanding “kasih.” Jangan juga dikacukan dengan bahasa Indonesia. Saya belum tahu pasti apa arti kata “kasih” dalam bahasa Sunda (dan Jawa–karena di Jogja ada Sendang Kasih dan juga desa Kasihan sentra industru keramik). Nama Sindangkasih sangat banyak di Jawa Barat (Ciamis, Purwakarta). Bahkan Bupati pertama Parakan Muncang Cianjur itu Ki Umbul Sindangkasih, tampaknya daerah Galunggung.

  8. Sejarah Desa Cilimus
    Awal mula pemerintahan desa Cilimus dan nama Cilimus menurut sejarah yang berkembang di masyarakat dan berdasarkan narasumber para ahli, sejarah desa Cilimus terdapat dua persi :
    1. Persi Kukulu
    2. Persi Tarikolot

    Kedua persi tersebut mempunyai pendapat sejarah tersendiri dalam hal permulaan Pemerintahan Desa Cilimus. Persi pertama menganggap bahwa sebagai pusat Pemerintahan Desa Cilimus pada awalnya adalah di Blok Kukulu yang diawali oleh Pemerintah MARMAGATI, sedangkan Persi Kedua Pusat Pemerintahan diawali di blok Tarikolot yang dipimpin oleh Bapak Buyut SACAWANA. Kedua persi tersebut sulit untuk dipastikan mana kebenarannya awal mula berdirinya Desa Cilimus, daerah Kukulu atau Daerah Tarikolot yang masing-masing mempunyai Pemerintahan yang berdaulat dan mempunyai kesamaan arti yaitu Kepala atau Ketua terdahulu, bahkan dari keadaan penduduknya keduanya merupakan induk bagian dari penduduk di Desa Cilimus, di samping itu ada bagian yang lain sehingga dari itu keduanya tetap dipergunakan sebagai bahan perbandingan.

    Diantara salah satu sumber menyebutkan bahwa Bapak Buyut MARMAGATI selaku penguasa Desa ini sering melakukanpembangkangan terhadap aturan-aturan yang ditetapkan oleh Keraton Kasepuhan Cirebon, selain tidak mau menyetor upeti, beliau juga sering melakukan pembegalan terhadap upeti-upeti yang akan dikirim ke Cirebon untuk dibagi bagikan ke masyarakat.

    Beliau dikejar oleh pasukan Keraton Cirebon sampai akhirnya beliau hijrah ke Gunung Sirah salah satu Desa di Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan selanjutnya menetap dan berda’wah disana sampai akhirnya wafat dan dikebumikan di Puncak Bukit Oncangan Desa Gunung Sirah (sampai sekarang makam beliau masih terawat rapih berdampingan dengan istri dan muridnya).

    Namun, sejarah mencatat bahwa yang mendekati kebenaran dalam urutan Kepala Desa adalah persi Tarikolot yaitu SACAWANA. Dengan demikian maka persi Tarikolot dijadikan acuan atau patokan awal mula berdirinya Pemerintah Desa Cilimus.
    Pemerintah Desa Cilimus bermula pada saat kepemimpinan Bapak SACAWANA dimana daerah sekitar Cirebon merupakan Daerah Kedaulatan keraton termasuk daerah Cilimus. Untuk daerah kekuasaan Cilimus diutuslah seorang Aparat Keraton sebagai pengelola atau sebagai pemimpin yang bernama Bapak SACAWANA.
    Alkisah dalam melaksanakan tugasnya Bapak SACAWANA suka menyamun upeti yang akan disampaikan ke Keraton Cirebon oleh utusan dari daerah selatan seperti Ciamis, Tasikmalaya dan lain-lain. Barang hasil rampasan di bawa ke suatu tempat dan diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu hingga kini tempat tersebut di kenal dengan nama CILOKLOK.
    Akhirnya perbuatan dan sepak terjang beliau diketahui oleh Keraton Kasepuhan dan diberikan peringatan, namun tetap saja tidak berubah, sehingga pihak Keraton memutuskan untuk membunuh, tetapi cara itupun selalu gagal dikarenakan kesaktian bapak SACAWANA. Selanjutnya ada yang memberitahu bahwa bapak SACAWANA dapat dibunuh dengan cara bagian tubuhnya dipisah-pisahkan (mutilasi). Akhirnya bapak SACAWANA tertangkap dan dibunuh dengan cara :

    – Bagian kepala dikuburkan di Desa Panauan
    – Bagian dada dan perut dikuburkan di Desa Cilimus
    – Bagian kaki dikuburkan di Desa Sindangkasih Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon.

    Bapak buyut SACAWANA wafat pada tahun 1880 masehi

    Daerah kekuasaan Buyut SACAWANA dikenal dengan nama Cilimus, karena pada masa itu daerah tersebut banyak tumbuh pohon Embacang (yang dalam bahasa Sunda disebut Limus) di pinggir sungai. Sehingga sungai tersebut diberi nama Cibacang yang mengalir ke pusat Pemerintahan Desa Cilimus yakni Tarikolot.
    Adapun orang yang pernah menjabat / memangku jabatan Kepala Desa Cilimus adalah :
    1. Bapak Sacawana (………. s/d Tahun 1880)
    2. Bapak Rumsewi (1880 s/d 1887)
    3. Bapak Abdul Gopar (1887 s/d 1923)
    4. Bapak Karnadisastra (1923 s/d 1928)
    5. Bapak Wangsaatmaja (1928 s/d 1947)
    6. Bapak E.Suarja (1947 s/d 1950)
    7. Bapak Jaya Sentana (1950 s/d 1956)
    8. Bapak Muhammad Hasyim (1956 s/d 1969)
    9. Bapak A. Pathoni Saleh (1969 s/d 1979)
    10. Bapak Ending Rosyidin (1980 s/d 1981)
    11. Bapak Masuri (1990 s/d 1998)
    12. Bapak Masuri 2 (1999 s/d 2001)
    13. Bapak Apip (2002 s/d 2006)
    14. Bapak Nasihin Arjadisastra (2007 s/d sekarang)

    Demikian sejarah singkat Desa Cilimus, semoga bisa dijadikan pengetahuan bagi putra-putri daerah, kami mengakui masih banyak kekurangsempurnaan sejarah ini dan mohon maaf kepada sesepuh Desa Cilimus apabila kurang tepat serta kurang jelas dalam menyampaikan sejarah ini.

  9. kang… saya ingin tau kisah detil nya nyi rambut kasih.. seumpama akang punya.. hatur nuhun sebelunmnya..

  10. RALAR SEDIKIT, KANG…. Nyai Subang Larang, seorang puteri Ki Gede Tapa, penguasa Syah Bandar Muara Jati Cirebon, bukan Karawang.. yg di karawang adalah Guru Nyi Mas Subang Larang yakni Syekh Quro/ Hasanudin Karawang….

  11. dalam sejarah yang di tulis itu hanya turunan dari daerah panjalu,dan turun menurun sampai datanglah ki gede danu sela dan ki gede danu warsih ,yang turun gunung menuju wilaya amparan jati ,di perjalanan beliu banyak hikma dan alam yang tak terduga sampai ke daerah wilaya cirebon timur dan ketemu dengan seykh datuk Khafi ,,,,,,sindangkasih itu nama wilaya daerah yang di hadiahkan tuk menantu raden pamanahan rasa tuk mengembangkan wilaya kekuasaan cirebon sampai wilaya perbatasan kuningan ,,,,,

  12. mohon info siapa yg bisa dihubungi utk didesa sindang kasihnya kang? karena ingin menelusuri keturunan dr pangeran jayasuta/(kiwelang) yg menurut info berasal dr sindangkasih..mksh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s