SUNDA (dan Indonesia) BAHEULA

Tatang M. Amirin; Start at January 14, 2011; 23.06

Tanpa sengaja ada foto-foto “antik” jaman baheula mengenai berbagai hal tertemukan ketika sedang memirsa internet. Ada yang saya simpan, ada yang saya lewatkan begitu saja. Eh, “pikir punya pikir” (setelah dipikir ditimbang), kok rasanya ada pentingnya juga untuk dimunculkan. Siapa tahu memang ada yang sama sekali tidak tahu bahwa “jaman baheula” (yang mungkin juga sampai sekarang sebenarnya masih) ada yang seperti itu. Nah, ini dia berbagai foto-foto  “jaman baheula.” Agak “chauvinistic” tapi, yang utama di Sunda, tapi yang lain yang antik tetap dimuat.

PEKERJAAN DAN PERALATAN

1. Menggergaji kayu

Nah ini kita mulai dengan orang menggergaji kayu gelondongan. Saya ingat, dulu sekali, ada tukang menggergaji itu tradisional seperti itu. Kerap pula dijadikan “tatarucingan” tebak-tebakan agak “saru” (kata wong Jogja) atau rada “jorang” (kata urang Sunda):  “Yang di atas naik turun, yang di bawah berkedip-kedip (“melek-merem/peureum-beunta”). Hehehe… Iya, kan yang di atas menarik dan mengulur gergaji, sementara yang di bawah kan harus agak sering menutup dan membuka mata, karena tahi gergajian yang berjatuhan bisa masuk ke matanya.

Menggergaji kayu gelondongan tradisional

Biasanya tukang gergaji punya “penggaris” dari benang. Benang tersebut tergulung dalam gulungan yang bisa diputar dalam suatu kotak. Dalam kotak ada jelaga hitam kental, sehingga benang pun berlumuran jelaga tersebut. Benang keluar dari lubang kecil yang dibuat di depan kotak, ujungnya diberi pegangan kecil. Pegangan kecil itu ditarik untuk mengulur benag. Benang basah hitam diulur searah batang kayu yang sudah dikikis tepian bulatannya sehingga menjadi agak berbentuk balok, dipaskan tanda sentian yang sudah dibuat, lalu  dijepretkan ke kayu. Terbentuklah garis hitam. Dibuatlah banyak garis di bagian atas dan di bagian bawah sesuai dengan lebar kayu. Benang pun ditarik kembali menggunakan alat pemutar, masuk dan terendam jelaga hitam lagi. Jelaganya, kalau tidak salah, dibuat dari silinder isi batu baterai.

Penggergaji di atas bertugas menggergaji  sesuai garis, yang di bawah mengendalikan arah gigi gergaji di bagian bawah kayu agar pas dengan garis. Maka kayu pun terbelah rapih, rata, tepat.

Gergaji panjang luar negeri, gigi-giginya agak aneh

2. Membajak Sawah

Besok lusa, entah tahun kapan, membajak sawah sudah akan banyak menggunakan traktor. Baheula mah membajak sawah di tatar Sunda pakai “wuluku” (wong Jogja menyebutnya “luku”). Hanya, bedanya, jika di Sunda yang dipakai penarik bajak itu umumnya kerbau, di Jogja sapi alias lembu. Urang Majalengka mah menyebut membajak sawah teh “nyambut.”

Etah ingat waktu kecil, tukang nyambut teh, kipembajak,  suka mengomando sikebo sambil berlagu khas, “His … kia, kia …. mideur….!” menyuruh sikebo bergerak menarik bajak.

“Kia” itu, katanya, artinya jalan. “Kiyahi” itu artinya orang yang selalu berjalan di jalan yang lempang. Nah, mungkin juga “bakia(k)” itu artinya kayu yang berjalan. Hehehe….

Ini foto tukang nyambut, pembajak,  setelah wanci pecat sawed (saat bajak dilepas dari sikebo). Tukang nyambut pulang ke rumah, setelah selesai memandikan (“ngaguyang”) kerbaunya di sungai.

“Pulang” selesai membajak sawah pakai bajak ditarik kerbau

Membajak sawah dengan kerbau itu ternyata bukan hanya tradisi buhun di Jawa Barat, di Jawa Timur juga ada, misalnya di Malang.

Membajak Sawah, Malang, 1935

Di Gayo, ceriteranya lain lagi. Membajak sawah bukan pakai kerbau atau sapi, tapi pakai kuda.

Membajak Sawah dengan Kuda, Gayo, 1948

PERDAGANGAN

Sampai saat ini masih ada, tapi sangat amat jarang sekali, di desa-desa pun, orang berjualan air nira kelapa (lahang, cikalahang). Ini sih penjualnya rada “gaya.” Pembelinya, anak-anak, “lucu” ya dalam pakaian “kuno” tahun 1922-1923-an. Diambil dari Come to Java 1922-1923.

Penjaja air nira kelapa (lahang)

Sore-sore, bunga kelapa (malai) dipotong tangkainya, lalu dimasukkan ke dalam bumbung bambu panjang yang sudah “dilubangi” tinggal “buku” bagian bawah sebagai penutup nbumbung. Esok paginya bumbung diambil, lalu disumbat pakai sumbatan dari daun pepaya kering (kararas, klaras). Dicangkleng dibawa turun. Air nira itu dijerang dijadikan gula jawa. Ada juga yang menjaulnya “mentah”  sebagai minuman segar. Wah, siang-siang lagi puasa, minum “lahang” pasti nikmat. Batal puasanya, atuh! Hehehe. Kan, lagi enggak puasa. Hehehe.

Juga penjual air nira (“lahang”). Enggak tahu orang mana.

Lukisan penjaja air nira dan serdadu Belanda, 1854

Deretan pedagang “angkringan” jaman Belanda

Penjaja barang anyaman 1880-1920

Penjaja sarung 1860-1880

Penjaja makanan dan minuman 1890-1900

Penjual ayam 1860-1880. Foto di studio.

Pasar makanan dan minuman di kerindangan pohon, 1910-1940 (Hehehe, jangan terlampau lama perhatikan sikecil, lho!)

Sayur…., sayur……… 1890

Penjual es puter, jaman Belanda

Penjual gula aren, 1900-an

Penjual buah, 1860-1880

Penjual buah di depan toko batik, 1880-1900

Te…. satte….. 1870-1920

Penjual limun (limonade;  sekarang sirup dan softdrink)

Simbah tukang patri “in action”

Peralatan tukang patri

Matri

SAWAH DAN PANEN

Padi sekarang batangnya pendek-pendek. Begitu selesai dipanen lalu dirontokkan, dengan digilas-gilas kaki atau pakai mesin perontok padi. Dulu, tanaman padi tinggi-tinggi. Orang menuainya dengan ani-ani. Bulir-bulir padi itu lalu diikat kecil-kecil (di-”pocong”). “Pocongan” padi ini lalu diikat lagi, pakai tali dari bambu, menjadi ikatan besar yang disebut “geugeusan.” “Geugeusan” padi ini yang dijemur, lalu disimpan di “leuit” lumbung padi (bagi yang punya). Nah, lihat tumpukan “geugeusan” padi dalam foto di bawah ini.

Panen padi: Padi diikat dalam “pocongan” (ikatan kecil)

Panen padi “gegeusan”

Menumbuk padi pakai lesung batu, 1890-1920

Padi: Ada yang ditumbuk, ada yang digiling. Buahbatu, Bandung, 1955

Tradisi kepercayaan Sunda (Jawa) berkaitan dengan padi itu adalah sedekahan kepada Dewi Sri, Dewi Padi.

Upacara sedekahan kepada Dewi Sri, 1947

Upacara sedekahan kepada Dewi Sri di dusun Karangtengah dipimpin seorang dukun wanita

Juga upacara untuk Dewi Sri

Upacara Dewi Sri lagi, di Karangtengah

5. Mengambil Air

Dulu, orang umumnya tidak punya sumur. Untuk air minum mengambilnya di sungai, yang airnya jernih, tentu. Mandi, mencuci juga di sungai. Jika pulang membawa air pakai “buyung” tempayan terbuat dari tembaga.

Seorang ibu membawa buyung untuk mengambil air

Mengambil air pakai tempayan “buyung” tembaga, 1951. Seledang kecil dipakai untuk mengikat buyung, lalu diikatkan ke pundak.

Jadi ingat waktu kecil. Mengisi gentong di rumah dengan mengambil air di sungai. Berangkat pulagn bersama-sama anak-anak lain. Ketika akan ambil air, tempayan “buyung” dibalik, dipukul-pukul berirama. Jadilah main musik buyung. Dung, dung, deng . . . dung, dung, dung … dung, dung, deng.  Deng, dung, deng, dung . . .  dung, dung, deng  . . .

Sebelum banyak kuningan (perunggu), orang mengambil air menggunakan tempurung (batok) buah berenuk (buah majaphit).

Batok berenuk (tempurung buah majapahit/majalengka)

Buyung dan seeng (dandang)

6. “Ngabuwu” Ikan

Menangkap ikan, sampai sekarang, tidak selalu pakai jaring (“kecrik”), tapi sering juga hanya pakai bubu (buwu) saja, seperti keluarga penangkap ikan ini. Ada beberapa buah bubu tergeletak di depan mereka.

Jadi ingat waktu kecil. Disuruh masang “buwu” di sungai teh, salah masang. Bagian yang lebar berlubang diarahkan ke hulu, yang kecil ke hilir. Atuh, tak ada ikan yang masuk. Ikan itu suka menghulu, “kagirangkeun.” Jadi, dipasangi bubu sambil kiri-kananya dibumpeti. Pasti akan harus lewat masuk bubu, lalu tak bisa keluar lagi. Sebelah atas bubu ditutupi, disumbat. Kembali ke “bawah” tidak bisa, sebab ada “katup” penghalang. Bisa dimasuki, melentur, tapi tak bisa diterobos balik. Itu namanya teknologi sederhana jebakan alias perangkap. Pintar juga ya orang tua kita dahulu.

Keluarga penangkap ikan pakai bubu, 1930-1940Keluarga penangkap ikan, 1930-1940

Bubu (buwu) penangkap ikan

7. Mencangkul

Mencangkul itu umumnya pakai cangkul bergagang pendek. Yang suka bergagang panjang itu, yang pernah saya lihat gambarnya, di Cina atau Vietnam. Eh, ternyata di Indonesia juga digunakan cangkul tangkai panjang itu. Jadi, jika pakai cangkul pendek harus sambil membungku, pakai cangkul panjang dengan berdiri tegak. Lebih enak, kayanya, tak mudah sakit pinggang.

Mencangkul dengan cangkul panjang di Bah Birung Ulu

Rame-rame mencangkul pakai cangkul panjang di Bangka

8. Membuat Jalan

Baheula, membuat jalan itu dengan cara dan alat sederhana. Belum ada model mengaspal dengan “hotmix.” Mengeraskan jalan (meratakan pecahan bebatuan) menggunakan mesin gilas atau “setum” (dari bahasa Belanda stoomploeg).

Mesin gilas stoomploeg di Deli, 1935

Mengaspal Jalan Batavia-Bandoeng, 1947

Mengaspal jalan Batavia-Bandoeng, 1947, dalam pengawasan mandor dan tentara Belanda. Aspal diciduk dan diguyurkan pakai kaleng bertangkai panjang.

RUMAH

1. Leuit lumbung padi

Ini contoh rumah kampung atau perkampungan jaman baheula (1870-1900) di Indihiang. Ada rumah, dan, tampaknya, ada “leuit” (lumbung padi?) yang bentuknya beda dari rumah. Diambil dari Come to Java 1922-1923.

Situasi kampung Indihiang 1870-1900

2. Rumah Sunda pakampungan

Rumah Sunda baheula, di kapung, macam-macam bentuknya. Salahs atunya seperti di bawah ini. Ini bentuk rumah kuno berteras di Priangan (1890-1900). Diambil dari Come to Java 1922-1923.

Rumah kampung kuno (“een woning”), 1890-1900, di Priangan

3. “Saung ranggon” (gubuk panggung) di kebun

Para petani di sawah, sampai sekarang, suka membuat gubu-gubukan untuk tempat istiratahat dan menjaga sawah atau kebun. Jika sekarang umumnya tidak pakai pilar-pilar bambu atau kayu (bentuk panggung), dahulu orang suka membuatnya pakai pilar, jadi gubuk panggung. Urang Sunda menyebutnya saung ranggon. Ini salah satu gambarnya. Diambil dari Come to Java 1922-1923.

Saung ranggon di kebon

4. Mesjid dan “tajug” (surau)

Urang Sunda umumhya beragama Islam, samapi ke pelosok-pelosok. Di mana-mana akan dijumpai banyak tajug (langgar, musola), dan mesjid. Ini salah satu bentuk mesjid lama (1922-1923) yang sudah  modern. Modern untuk ukuran 1922-1923. Tidak jelas sebenarnya di mana, yang memotret “oerang Garoet.” Diambil dari Come to Java 1922-1923.

Mesjid lawas (1922-1923)

5. Rumah Amtenar

Rumah yang satu ini kantor gubernuran (Gubernur Jenderal). Letaknya di Sindanglaya, Cianjur. Mewah sekali.

Kantor Dinas Gubernur Jenderal Belanda di Sindanglaya (1921-1922-an)

Rumah Menak, 1907-1930

Rumah Bupati Sumedang Raden Aria Suriaatmaja, 1915-1922

6. Rumah “Kasundaan”?

Bentuk rumah Sunda ini agak aneh. Di TMII ada profil rumah Sunda yang mirip dengan rumah Jawa. Ini rumahdi tatar Sunda, sangat beda. Coba perhatikan ujung atapnya: tangan menyilang atau tanduk kerbau. Nah bentuk ini apa namanya? Tanduk bekicot. Hehehe.

Rumah di Garut, 1925. Atap Tangan Menyilang. Kampung berpagar bambu.

Foto di atas aslinya menunjukkan pagar perkampungan terbuat dari bambu. Saya ingat jaman baheula ketika kecil masuk ke kampung Gunung Wangi akan naik ke Gunung Bongkok, di Maja, Majalengka. Tepi kampung ada pagar tinggi model foto di atas. Kalau malam pagar ditutup, dan dijaga di pos ronda di dekatnya. Sekeliling kampung juga dipagar bambu.

Ini juga rumah model demikian. Berada di jalan menuju Talaga Bodas.

Jalan ke Talaga Bodas. Ada rumah Sunda di tepinya.

Berikut juga model rumah yang sama. Ujung atap berupa tangan menyilang.

Kampung Wiranjana, 1920-1922. Rumah beratap tangan menyilang

Yang berikut model “rumah Jawa.” Model rumah umum, bukan tradisional.

Rumah Jawa Umum, Bukan Tradisional

7. Dapur dan alat dapur

Rumah baheula tungku masak (“hawu”–Sunda) biasa dibuat dari tumpukan batu, atau tatanan bata merah yang dilapisi adonan tanah campur dedak.

“Hawu” tungku dapur

Hawu di atas berlubang tiga, masing-masing mempunyai lubang untuk memasukkan kayu bakar. Ada yang berlubang tiga tetapi dengan satu lubang untuk memasukkan kayu di bagian tengah saja. Ada juga yang hanya berlubang dua, lubang kayu bakarnya satu saja.

Untuk menghidupkan kembali api kayu bakar yang mati, hawu biasa ditiup pakai “songsong” terbuat dari buluh bambu berlubang ujung dan pangkal. Puuuhhh…puuuhhhhh….. dan abu beterbangan ke mana-mana.

Menghidupkan api yang mati pakai songsong

Dengan perkembangan elektronika, alat-alat masak (memanak nasi, membuat sayur, dsb) sekarang banyak menggunakan peralatan listrik. Dulu orang banyak menggunakan peralatan dari kuningan.

Dapur dan peralatannya. “Acting” di studio foto, 1880.

Seeng alias dandang untuk mengukus nasi

Seeng (dandang) dan aseupan (kukusan). Dandang pendek ini umum digunakan di mana, ya?

Seeng (dandang) dan ketel (ceret, cerek)

TRANSPORTASI

Orang-orang dulu umumnya bepergian jalan kaki. Paling -paling, yang kaya, pakai kuda. Tapi, banyak alat transportasi lain. Para putri raja biasanya ditandu.

1. Tandu

Nah, ini contoh “putri Walanda” ditandu. Tandunya dari bambu juga, ya. Lainnya naik kuda.

Gadis Belanda naik tanduNaik kuda atau tandu, 1890-an

Tandu terbuat dari bambu, 1890-an

2. Kereta Api

Kereta api dulu lokomotifnya masih berbentuk silinder, hitam legam. Sekarang (2010-an) sudah berbentuk “kotak”. Lokomotif hitam ini masih ada dan dipakai juga, tapi terbatas. Kereta penumpang umumnya sudah tidak lagi.

Lokomotif Silinder Hitam

Lokomotif KA 1936Lokomotif, 1936

Jika ada sepeda gunung, ada pula kereta api gunung. Kereta api gunung itu kereta api yang naik turun gunung tanpa harus takut melorot lagi ke bawah. Ini dimungkinkan karena di bagian tengahnya ada rel dan gigi khusus. Kereta ini adanya di Ambarawa, Jawa Tengah. Nah seperti ini wujudnya.

Lokomotif kereta api gunung di Ambarawa

Nah di tengah rel ada rel ketiga bergerigi, seperti gambar di bawah ini.

Rel bergigi dan roda bergigi kereta api gunung, Ambarawa

Gigi-gigi yang ada pada rel berfungsi menahan gigi roda agar kereta tidak melorot ke bawah dia tanjakan pegunungan. Oleh karena itulah maka gigi rel miring ke arah belakang. Jika kereta akan mundur (melorot), maka gigi rodanya tertahan gigi rel. Tetapi ektika maju, gigi roda itu tidak tertahan gigi rel.

Rel kereta api gunung, Ambarawa. Rel bergigi df bagian tengah. Jaman Belanda

Stasiun Willem I, stasiun kereta api gunung Ambarawa, masa Belanda. Lebih bagus dari stasiun kereta api Indonesiadesa-desa lainnya.

2. Dokar, Kahar, Andong, Sado, Delman, Kereta Kuda

Alat transportasi lainnya kereta ditarik kuda. Ada beragam macam, dan sampai sekarang masih banyak digunakan. Yang tidak digunakan lagi “kereta pos Majalengka-Kadipaten” di bawah ini.

Kereta Pos Majalengka-Kadipaten Jaman Belanda

Nah, ini beragam kereta: kereta kuda, kereta sapi.Andong, 1890-1920

Andong Belanda, 1800-1900

Pedati tertutup, 1880-1910

Delman, 1860-1880

Kereta Kuda, 1900-1940

Kereta Kuda, 1918

Kereta Kuda Tertutup, 1920-an

Pedati Kuda di Jalan Bandung-Solo

Pedati Kuda, Bandung 1949

Sado Medan, 1920

Kalau yang ini namanya lori. Di Kadipaten (dari Kadipaten ke daerah-daerah di utaranya, misalnya ke Karangsambung) dulu ada lori ditarik kuda. Para pedagang biasanya naik itu. Sayang fotonya belum tertemukan.

Bos naik lori didorong para “bedende”

Lori angkutan tebu ditarik sapi

3. Memikul, menggendong

Di ketika orang sudah pakai alat transporatsi, para pemikul tetap jalan seperti biasa. Ini foto di Bogor 1904. Perhatikan bentuk “keranjang” pikulannya  yang khas.

Sang pemikul, Bogor 1904

Lebih kontradiksi lagi, di pinggiran rel kereta api, jaman baheula, seorang anak kecil dan ibu serta kakaknya menggendong gerabah.

Perjuangan hidup “anak gerabah” (pottenbakster), Solo, 1900-1940

Lihatlah betapa pahitnya hidup ini. Anak yang seharusnya bersekolah, tidak bisa bersekolah, karena memang tidak ada sekolah untuknya, dan hidup mengharuskannya berjuang tak kenal lelah dan payah. Salut untukmu anakku, kau pejuang sejati kehidupan.

INDUSTRI

Ada banyak kegiatan industri tradisional jaman baheula. Ini salah satu “tobong gamping” (tungku pembakaran batu kapur) di Gempol, Palimanan.

Tungku pembakaran batu kapur, Gempol, Palimanan, Cirebon, 1927

Perajin pahat batu alam, Firma Buning, Palimanan, 1920-1933

Jika tahun 2010-2011 ini menjamur “industri” layanan jasa cuci seterika pakaian (“laundry”), jaman dahulu ternyata ada juga industri serupa. Ini contohnya di Sumber Porong, Jawa Timur.

Industri cuci (“washery, laundry”) di Sumber Porong, 1902-1922

Orang “bumiputra” itu kreatif juga. Ini contohnya, membuat pabrik penggilingan tebu sendiri.

Industri tradisional gula tebu, Kediri

nah, kalau yang berikut ini tradisional sudah sejak lama dilakukan bangsa kita. Membuat gula aren atau gula kelapa.

“Pabrik” gula jawa

“Pabrik” gula merah di Tanah karo, 1915-an

PERALATAN RUMAH TANGGA

1. Seterika

Sekarang ini, tahun 2000-an, di kota-kota orang menyeterika baju sudah menggunakan seterika listrik. Dulu, dan mungin sampai sekarang di desa-desa yang tidak ada listrik, orang menyeterika menggunakan seterika “jago.” Seterikaan itu diisi arang, lalu dibakar. Kemudian “handel” yang berbentuk ayam jago, dipasang. Tutup seterika terpasang, arang tidak berhamburan ke mana-mana. Karena seterika tersebut panas, diletakkanlah seterikaan itu pada landasan berkaki.

Seterika arang dan landasannya

“Kunci” jago seterikaan arang

Jika seterikaan akan diisi arang, maka “ayam jago” itu didorong ke depan. Jika ditutup dan agar terkunci, maka ayam jago itu didorong ke belakang. Pentolan yang ada di bawahnya akan mengait pada tepi depan  seterikaan yang dibuat ada jorokannya ke dalam.

Banyak macam seterikaan arang. Tidak semuanya berpengunci bentuk ayam jago. Ada yang bentuk bola, ada pula yang berbentuk lubang yang dikunci dengan “palang.”

Seterika arang berlubang 5, dua-dua di samping, satu di belakang.

Seterika arang bukan jago berlubang banyak

Seterika arang berlubang pagar

BANGUNAN BELANDA

Banyak bangunan tinggalan Belanda di Indonesia yang sampai sekarang masih ada. Beberapa diantaranya, tentu pada masa lalu alias jaman baheula, saya coba kumpulkan dan tayangkan.

1. Villa Isola (Rektorat UPI) 1938

Di bawah ini gedung Villa Isola pada tahun 1938. Sekarang gedung ini menjadi kantor pusat (Rektorat) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Villa Isola Bandung, 1938

Alangkah jauh berbeda dengan keadaan sekarang (2011). Sekeliling villa sudah dipenuhi oleh gedung-gedung kampus UPI. Sudah tidak ada lagi sawah-sawah dan kerimbunan taman seperti tampak dalam foto.

PENDIDIKAN

Mencari gambar-gambar lama tentang sekolah ternyata tidak mudah. Kebetulan saja tertemukan buku-buku pelajaran (bacaan) lama. Yakin di Museum Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta juga belum ada. Ini pun hanya foto sampulnya saja. Atau sebagian ilustrasi di dalamnya. Tapi lumayan, daripada tidak tahu sama sekali.

Buku bacaan bahasa Belanda. Ilustrasi dalam.

Panyungsi Basa, buku pelajaran bahasa Sunda untuk Sekolah Rendah Kelas V, Jilid IV, 1936

Maca Titi, Basa Lan Carita, buku pelajaran bahasa Jawa dengan aksara Jawa, 1939

“In en om de desa” (Di dalam dan di luar desa), buku pelajaran bahasa Belanda, 1923

Buku pelajaran bahasa Melayu (Indonesia), terjemahan dari In en om de desa), 1928-1933

“Umar dan Min di Desa,” buku pelajaran bahasa Belanda, 1924

“Ot dan Sien”, buku pelajaran bahasa Belanda, 1915

“Jauh dari Rumah,” buku pelajaran bahasa Belanda, 1918

“Kembang Setaman,” buku pelajaran bahasa Jawa

“La Mappa,” buku pelajaran bahasa Bugis, 1946

Buku pelajaran bahasa Melayu untuk Sekolah Madura, 1929

Jalan ke Barat (“Weg tot het Western”), pelajaran bahasa Melayu, 1923

“Rumah dan Halaman,” buku pelajaran bahasa Melayu (Indonesia), 1950, asli buatan orang Indonesia

Buku pelajaran bahasa Melayu (Indonesia) ,1923-1924

“Pelita,” buku pelajaran bahasa Melayu huruf Arab, 1924

Panglipur Galih” (Pelipur Hasti),  Buku pelajaran (bacaan) bahasa Sunda, 1923

“Di Pedesaan,” buku pelajaran bahasa Sunda, 1926

Isi buku pelajaran bahasa Belanda

Murid dan guru berfoto di depan sekolah

Murid dan guru berfoto bersama


69 thoughts on “SUNDA (dan Indonesia) BAHEULA

    • Hehe. Sok atuh geura ngimpi ngalalana ka jaman baheula keur can aya kapal terbang, ngadaplak ka Sangiang ge, Hahehoh. Ari inget sok bari malingan jambu kulutuk. Hapunten tah ka urang Sadasari nu jambuna dipalingan. Hatur nuhun ka urang Cimeong nu tos dianjrekan da kawengian. Hapunten ka Pa Guru sareng Bapa Kapala Uci nu kantos didamel sesah manah ku barudak nu laleungit. Abong budak tea. Mugia nu tos pupus ditampi iman islamna ku Gusti Allah. Amin.

  1. sok kabayang upami bade ngirim surat nganggo Kereta Pos Majalengka-Kadipaten Jaman Belanda, atuh tiasa kana mangminggu2 nyampe serat teh upami ngirimna ka talaga mah nya pak heheh..

    • Teu kuateun karetana ge, dan nanjak teuing. Make jelema wae, ditanggung atawa dipanggul, meureun. Mun ti Talaga ka Maja, meureun make dreum, digorolongkeun tah surat-surat teh. Hehehe

  2. mugi bapak selalu aya dina kabagjaan,kasehatan tur tentrem ati heheh

    ieu mah mung saukur ide pak,asa hoyong maca sajarah Madrais anu di Cigugur Kuningan tea pak, anu sajentre jentrena..

    hatur nuhun,
    Agoes Djoekoet

  3. Terima kasih atas gambar-gambar yang dipajang. Kenangan masa lalu tidak semuanya pahit, manisnya juga banyak. Gambar-gambar/foto2 terpampang menjadi buktinya. Sekali lagi terima kasih, telah diajak mengelana ke masa lalu.

  4. Sampurasun Sekalipun mas Tatang nih orang Jawa, tetapi mengenai Sunda Tempo dulu sangat paham sekali, saya bangga. Terimakasih atas informasi yang telah dibuat dan sangat bermanfaat. Ini merupakan warisan yang tak terhingga untuk kembali diceritakan pada anak cucu kita bagaimana orangtua2 dulu dalam kehidupanan dan keafifan yang telah diwariskannya untuk kita. Cag Rampes

  5. Aduh, sae pisan uy blogna…
    meni merinding (teu terang basa sunda-na merinding) macana, sok emut ka aki nini…nganggo keneh setrikaan areng nepi ka pak harto lengser….
    salut kang!

      • Sanes ‘murinding’, saur pa Tahyat (Alm. guru basa sunda kuring waktos di SMP Singaparna), tapi ‘muringkak bulu punduk’ mun teu lepat mah. Ma’lum abdi lahir di Batawi, tapi kantos 3 taun di SMP Negeri1 Singaparna dugi ka lulus taun 1969 (harita teu acan disebat SMP Negeri 1, da mung hiji2na). Salut ka pemrakarsa blog, upami diwidian mah hoyong nyuplik foto kanggo visualisasi ka anak incu, ngiring mulasara titinggal karuhun.

      • Hehehe………. leres eta, muringkak, da murinding mah tina basa Indonesia merinding. Foto-foto, mangga, da eta ge kening mulungan, kanggo saha bae bebas.

  6. kalau ada poto kuno pabrik gula beserta kegiatanya tolong di tambahkan, saya sedang berburu koleksi poto kuno pabrik gula, sekarang baru dapat sedikit, terima kasih

  7. hahaha seneng banget liat blog panjenengan pakdhe…sangat bermanfaat. eh saya mau nanya, kalo angkringan jaman dulu (penjaja makanan yg dipikul) itu bener ga to kalo sebutan e “seninjong”?
    yaksip pokoknya kueren tenan pakdhe tatang…
    salam kenal-baskoro jogja

    • We lha, ya aku gak ngerti bangsa seninjong mah atuh. Hehehe… kan ingsun mah urang Sunda. Mungkin nang Yojo ngono ya kui jenenge, Gus. Di Sunda mah pikulan teh jenenge tanggungan.

  8. Foto Jadul-na top markotop lah pak ….
    Upami aya mah majalah Mangle
    Sok lah mangga di ‘eksplor’ teruus tah adat sareng budaya sunda jaman baheula dugi ka jaman kiwari

  9. Euleuh-euleuh mani kumplit, postinga anu sae pisan, kataji ku hawu, setrikaan areng, sareng buku pelajaran basa Sunda, kapaksa nyuhunkeun widi di-copy. Hatur nuhun. Wassalam

  10. Sae Pisan,, dupi aya foto foto tentang kampung kampung atanapi imah sunda ni sanes jaman baheula.. ijin share kang poto na sarae…. jempoll

    • ka mana wae atuh, kungsi ka batam nginep di hotel naon tah hilap deui, payunna aya masjid, jalan-jalan ka galang, balanja (ah ukur tas wae) sareng geulang (sanes emas) di mall naon deuih namina teh. hehehe. masih di batam?

  11. akang, meni wa’as abdi ningali gambarna..sae pisan postingan si akang mah.
    punten abdi nga copy artikelna kanggo barudak maeh ulah hilap ka sajarahna..
    hatur nuhun

  12. Pingback: suchthangs

  13. Alhamdulillaah… Jadi inget keur ngora nyaaa.. hehehe.. (kawas nu tos kolot we…)

    Eta nuju zaman SD, abdi pernah ngalaman ningalikeun Bapa sareng Uwa motong kayu jati ku Ragaji nu panjang kawas dina Gambar anu pang luhurna. Asa bernostalgia..

    Di roromok simkuring mah wios tos disebut jaman modern oge, da masih ngagunakeun Hawu, seeng, aseupan, wios ari tatanggi mah sigana teh tos teu aya nu ngagunakeun hawu teh… hehehe. ntos pada ngagunakeun kompor Gas. Jadi pasti mun enjing sareng sonten teh di tingal di kenteng mah NGEBUL…

    Salam duduluran ti Urang Rajagaluh, Majalengka…

    <'@II< maH-Taj ^_^ !!

  14. Hatur nuhun. Sae pisan artikelna.sebagai generasi anu pernah ngalaman sabagian sajarah anu dina poto janten wa’as pisan ningalna

  15. Terima Kasih atas Bimbingan melalui media internet
    sebagai bahan renungan untuk mengingat KEAGUNGAN LELUHUR
    TATAR SUNDA

  16. Duh, mani wararas ningal sadaya poto postingan Akang teh. Hatur nuhun kana informasina, nambihan yeuh, pangaweruh teh.

  17. assalamu’alaikum wr wb
    Punten Kang, simkuring bade ngiring share artikel kalih foto-foto na.
    hatur nuhun sateuacana.
    wasalam.
    Badri’s

  18. Jiiiih… ieu teh naon atuh nya? Maksudnya postingan saya mengambil sumber dari sini, tapi malahan jadi begini. Maaf Pak Tatang, kedah dikumahakeun nya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s