ILMU PENDIDIKAN 4: MENGAJAR YANG MENDIDIK ITU SEPERTI APA?

Tatang M. Amirin; 18 April 2011

Undang-undang tentang profesi guru dan dosen di dalamnya antara lain menyebutkan bahwa salah satu kompetensi (kemampuan-keahlian) guru dan dosen itu adalah kompetensi pedagogik yang isinya antara lain berupa kemampuan mengajar yang mendidik. Lepas dari apa yang tertera dalam penjelasan undang-undang itu, pada page ini akan dicoba mencari berbagai makna tentang mengajar yang mendidik itu.

Pertama-tama harus dikemukakan dulu bahwa pada umumnya orang berpendapat bahwa mengajar dan mendidik itu dua hal yang berbeda. Itulah sebabnya ada “keharusan” guru (pendidik) itu selain mengajar harus pula mendidik. Artinya dalam mengajar itu hendaknya guru pun mendidik. Jadilah sebagai kegiatan mengajar (pengajaran) yang mendidik.

Dewasa ini dosen dan guru lazim dianggap hanya sekedar melakukan kegiatan mengajar, belum mendidik. Dengan kata lain, sebagai pendidik dosen dan guru belum seluruhnya mampu menjalankan tugasnya sebagai PENDIDIK.

Catatan: Dalam undang-undang tersebut guru disebut pendidik, dan personil tertentu lainnya yang berkecimpung dalam dunia pendidikan (a.l. laboran, pustakawan, pengembang media, administrator) disebut tenaga kependidikan, yaitu orang-orang yang berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan, tidak langsung terjun melakukan kegiatan pelaksanaan pendidikan (KBM atau PBM; dalam istilah saya KDM, kegiatan  didik-mendidik,  atau PDM, proses didik-mendidik).

Lalu, apa perbedaan mengajar dan mendidik?

Pandangan pertama, lazim mengartikan pengajaran sebagai penyampaian materi pelajaran (pengetahuan) yang berkaitan dengan intelektual semata. Unsur afeksi (nilai, moral) tidak tersentuh. Pandangan ini jadinya menganggap mengajar yang mendidik itu jika dalam mengajar itu dimasukkan unsur-unsur nilai (norma dsb) ke dalamnya.

Dalam konteks ini maka seorang guru hanya sedang mengajar jika ia hanya mengajarkan materi Biologi, misalnya. Disebut mendidik jika materi Biologi itu dikaitkan dengan religiusitas (ayat Qur’an, hadis dsb) atau dikaitkan dengan moralitas (pelestarian lingkungan).

Pandangan ini mempunyai kelemahan, yaitu terjatuh juga pada penyampaian materi semata, mirip dengan pandangan kedua berikut.

Pandangan kedua, mirip dengan pandangan pertama, menganggap mengajar itu hanya pengembangan aspek kognitif semata (tahu, paham dsb), tidak menyentuh aspek kepribadian (moralitas dsb). Jadi, walaupun yang diajarkan materi yang bersifat moral (agama, budi pekerti dsb), jika menyampaikannya hanya sebagai pengetahuan semata (hapalan, kepahaman dsb), belumlah lagi mendidik, baru mengajar. Disebut mendidik jika materi moralitas itu sampai menjadi pengembangan kepribadian (karakter) pedidik (murid, mahasiswa, kursisten, petatar dsb).

Dengan demikian penyampaian ayat-ayat Qur’an yang terkait dengan fisika, biologi dsb jika menyampaikannya sekedar menyentuh aspek kognitif (tahu, paham), juga tidak termasuk kategori mendidik, masih mengajar.

Dalam konteks yang kedua itu maka jika seorang guru mengajar Matematika dengan semata-mata mengajarkan materi Matematika itu saja, ia sedang mengajar, tidak mendidik. Ia disebut mendidik manakala dalam mengajar Matematika itu ia perhatikan pula perilaku peserta didiknya. Misalnya, apakah murid menulis dengan rapi, bukunya bersih, alat peralatan belajarnya terawat baik, buk tidak diboros-boroskan (menulisinya dengan membiarkan bagian-bagian tertentu kosong, tidak dipakai–”dienjah-ejnoh”–Jawa), dan juga kerja sama dengan baik dan benar (bukan dalam ulangan atau ujian) dengan teman belajar.

Mungkin nukilan di bawah ini (dari Malaysia) termasuk ke dalam pandangan tersebut.

Monday, March 7, 2011

PERBEZAAN MENGAJAR DAN MENDIDIK

Masalah para guru pada hari ini; mengajar tetapi tidak mendidik. Banyak perbezaannya diantara mengajar dan mendidik. Mengajar akan menjadikan pelajar kita PANDAI tetapi jika kita mendidik, pelajar akan menjadi BIJAK. Mendidik memerlukan ketabahan.
Ketabahan dan ketulusan yang datang dari dalam diri guru yang ikhlas. Pelajar boleh merasakan ketulusan guru sewaktu pengajaran. Mereka boleh membezakan guru mana yang mengajar dan guru mana yang mendidik.
Pelajar yang memiliki guru yang mendidik selalunya akan mempunyai pekerti yang mulia dan tahu menghormati pengorbanan dan ketulusan guru mereka.

Posted by AFA at 5:09 PM

Pandangan ketiga, mendidik itu artinya mengembangkan segala potensi kodrati yang dimiliki pedidik (peserta didik) dengan cara-cara yang normatif baik (dari segi keilmuan dan moral) dan dengan hasil yang normatif (ilmiah dan moralitas) juga baik.

Cag (nanti dilanjutkan)

About these ads

2 thoughts on “ILMU PENDIDIKAN 4: MENGAJAR YANG MENDIDIK ITU SEPERTI APA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s