Tatang M. Amirin, 31 Oktober 2010; 4 Januari 2011
Banyak orang yang bingung jika menggunakan Skala Likert [baca biasa likert, walau ada yang baca laikert--kata Wikipedia], dan bahkan salah larap. Skala Likert digunakan untuk membuat angket, tapi kadang-kadang salah isi yang disasar untuk dihimpun dengan Skala Likert tersebut. Likert itu nama orang, lengkapnya Rensis Likert, pendidik dan ahli psikologi Amerika Serikat. Jadi, skala ini digagas oleh Rensis Likert, sehingga disebut Skala Likert.
Kalau begitu mari kita mulai dengan memperjelas apa dan untuk apa Skala Likert itu.
Pengertian dan Kegunaan Skala Likert
Skala itu sendiri salah satu artinya, sekedar memudahkan, adalah ukuran-ukuran berjenjang. Skala penilaian, misalnya, merupakan skala untuk menilai sesuatu yang pilihannya berjenjang, misalnya 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Skala Likert juga merupakan alat untuk mengukur (mengumpulkan data dengan cara “mengukur-menimbang”) yang “itemnya” (butir-butir pertanyaannya) berisikan (memuat) pilihan yang berjenjang.
Untuk apa sebenarnya Skala Likert itu? Skala Likert itu “aslinya” untuk mengukur kesetujuan dan ketidaksetujuan seseorang terhadap sesuatu objek, yang jenjangnya bisa tersusun atas:
sangat setuju
setuju
netral antara setuju dan tidak
kurang setuju
sama sekali tidak setuju.
Pernyataan yang diajukan mengenai objek penskalaan harus mengandung isi yang akan “dinilai” responden, apakah setuju atau tidak setuju. Contoh di bawah ini pernyataannya berbunyi “Doktrin Bush merupakan kebijakan luar negeri yang efektif.” Objek khasnya adalah efektivitas (kefektivan) kebijakan. Responden diminta memilih satu dari lima pilihan jawaban yang dituliskan dalam angka 1-5, masing-masing menunjukkan sangat tidak setuju (1), tidak setuju (2), netral atau tidak berpendapat (3), setuju (4), sangat setuju (5).
The Bush Doctrine is an effective foreign policy [Doktrin Bush merupakan kebijakan luar negeri yang efektif].
Strongly Disagree—1—2—3—4—5—Strongly Agree
[Sangat tidak setuju --1--2--3--4--5--Sangat setuju]
Based on the item, the respondent will choose a number from 1 to 5 using the criteria below [Dengan memperhatikan butir pernyataan, responden (orang yang ditanyai) harus memilih angka 1 sampai dengan 5 dengan berdasarkan patokan berikut]:
1 – strongly agree [sangat setuju]
2 – somewhat agree [agak setuju]
3 – neutral/no opinion [netral/tak berpendapat]
4 – somewhat disagree [agak tidak setuju]
5 – strongly disagree [sangat tidak setuju]
Apa artinya? Artinya setujukah responden bahwa kebijakan luar negeri Bush itu sebagai kebijakan yang efektif (memecahkan masalah luar negeri AS)? Jadi, responden tinggal milih: setuju atau tidak setuju, atau tak memilih keduanya (netral saja, tidak berpendapat).
Salah Tafsir: Asal ada Setuju–Tidak Setuju
Tidak sedikit mahasiswa dan peneliti lain yang hanya melihat Skala Likert itu sebagai angket pilihan setuju–tidak setuju. Jadi, jika pilihan jawabannya setuju-tidak setuju, maka itu namanya Skala Likert. Lalu, segala macam pernyataan dimintakan kepada responden untuk memilih menjawab setuju atau tidak setuju. Ini contohnya:
Salat itu penting, karena salat itu merupakan tiang agama.
1. Sangat setuju (SS)
2. Setuju (S)
3. Setuju tidak, tidak setuju pun tidak, alias netral (N)
4. Tidak setuju (TS)
5. Sangat tidak setuju (STS)
Jelas isi pernyataan itu bukan sesuatu yang harus disetujui atau tidak disetujui. Itu pengetahuan, pengetahuan agama, yang diajarkan oleh para ustad dan kiyai. Jadinya itu soal “murid” tahu atau tidak tahu bahwa salat itu penting, dan pentingnya itu karena (dengan alasan) merupakan tiang agama (“ash-shalatu imaaduddin“), bukan harus setuju atau tidak setuju.
Kedua, itu tidak bisa dijenjangkan kesetujuan-ketidaksetujuannya, karena tidak logis. Kalau misalnya “setuju” salat itu penting, apa bedanya dengan “sangat setuju.” Jika jawabannya diubah jadi “setuju–agak setuju,” makna dari agak setuju itu apa, tak jelas. Tentu tidak bisa ditafsirkan bahwa jika agak setuju berarti menunjukkan menurut responden salat itu agak penting, dan jika setuju sekali berarti salat itu sangat amat penting, dan sebaliknya.
Ketiga, ada dua isi yang harus disetujui atau tidak disetujui di dalam satu pernyataan itu, yaitu: (1) salat itu penting, dan (2) salat itu tiang agama. Ini tidak boleh terjadi dalam penyusunan angket, sebab akan membingungkan. Salat mungkin bisa dianggap penting (setuju bahwa penting), tapi alasannya sebagai tiang agama tidak setuju, setujunya karena ia rukun Islam kedua. Jadi, jawabannya apa? Setuju, atau tidak setuju, atau netral saja?
Sebentar, biar jelas. Responden setuju bahwa solat itu penting, tapi tidak setuju kalau sebabnya karena ia tiang agama. Lantas yang harus dipilih setuju atau tidak setuju (karena ia punya dua pilihan: setuju penting, tapi tidak setuju sebagai tiang agama).
Lain halnya dengan masalah “hukum potong tangan bagi pencuri,” misalnya (sekedar misal, lho), kan ada orang setuju, ada yang tidak setuju. Jadi, pernyataannya bisa dirumuskan, misalnya, “Orang yang mencuri harus dihukum potong tangan.” Jawabannya (SS – S – N – TS -STS). Pernyataan “pencuri harus dipotong tangan” itu isinya hanya satu, tidak dua: (1) pencuri dan (2) potong tangan. Beda kan dengan contoh di atas (1) solat itu penting, dan (2) solat itu tiang agama–digabung menjadi: Solat itu penting karena solat itu tiang agama.
Nah, karena berkaitan dengan setuju (S) dan tidak setuju (TS), maka bisa jadi ada orang yang netral (N) atau tidak berpendapat. Netral artinya setuju ya tidak, tidak setuju pun tidak juga. Tidak memihak pada kesetujuan ataupun ketidaksetujuan. Ekstrimnya, tidak berpendapat.
Jadi, bisa ada yang agak setuju, tapi tidak setuju banget, ada juga yang agak setuju, tapi tidak setuju banget. Ya cuma seperti itu gambarannya.
Contoh: Anggota DPR disuruh memilih apakah setuju Gubernur DIY itu dipilih. Pilihan jawabannya ekstrim: setuju atau tidak setuju. Jadi, hanya ada tiga pilihan: S – N – TS. Jika S berarti setuju Gubernur DIY dipilih. Jika TS artinya tidak setuju melalui pemilihan. Yang tidak “berani” menyatakan setuju atau tidak setuju, ya pilih N (netral). Jika ada 30% yang menyatakan S, 60% menyatakan TS, dan 10% N, maka hasilnya berupa pernyataan bahwa sebagian besar anggota DPR tidak setuju Gubernur DIY dipilih. Hanya seperti itu. Jangan dicari reratanya, lucu!
Karena berkaitan dengan kesetujuan-ketidaksetujuan, maka yang dipertanyakan haruslah yang “populer,” yang sudah terkonsumsi masyarakat, yang masyarakat (responden) tahu. Kalau tidak tahu bagaimana ia akan menyatakan setuju dan tidak setuju.
Ini contoh (sekedar contoh).
Pemerintahan SBY tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Semua orang Indonesia “terlibat” dalam pemerintahan SBY, terkena pemerintahan SBY, dan tahu (merasakan) seperti apa berada di bawah pemerintahan SBY. Jadi, pasti bisa menjawab.
Pernyataan ” SBY patut mendapatkan Hadiah Nobel” pun bisa untuk dimintakan persetujuan dan “pertidaksetujuan” responden, tetapi respondennya tertentu, yang paham seluk beluk pemberian hadiah Nobel. Mbah Marijan (alm) dan embah-embah lain setara Mbah Marijan mungkin tak tahu.
Coba tanyakan pada orang kebanyakan Indonesia: Setuju atau tidak jika demokrasi Indonesia diubah menjadi demokrasi-teokratis? Mbah Maridjan (kalau masih hidup) lebih baik semedi daripada menjawab.
Nah, itulah sebabnya Skala Likert suka disebut (dan memang tergolong) skala sikap, skala tentang sikap, yaitu sikap setuju dan tidak setuju terhadap sesuatu (yang bisa disetujui dan tidak disetujui).
Skala Likert ada kalanya “menghilangkan” tengah-tengah kutub setuju dan tidak setuju. Responden dipaksa untuk “masuk” ke “blok” setuju atau tidak setuju. Ini contohnya.
Mahasiswa boleh tidak ikut kuliah, asal sungguh-sungguh belajar mandiri.
1. Sangat setuju
2. Setuju
3. Tidak setuju
4. Sangat tidak setuju
Pertanyaan dibuat demikian agar orang berpendapat, tidak bersikap netral atau tidak berpendapat.
“Skala” dalam Skala Likert
Berapa jenjang skala dibuat dalam Skal Likert? Itu amat tergantung pada “kata-kata” yang digunakan di dalam butir (item) Skala Likert. Kalau digunakan model verbal (kata-kata) setuju–tidak setuju, maka paling tidak ada tiga, yaitu setuju–netral–tidak setuju. Perubahan lebih banyak tentu akan mengikuti kutubnya (kutub setuju dan kutub tidak setuju). Jadi, jika ditambah, akan menjadi, misalnya: sangat setuju–setuju–netral–tidak setuju–sangat tidak setuju (ada 5 skala). Tentu bisa jadi tujuh jika ditambahi lagi dengan sangat setuju sekali dan sama sekali tidak setuju. Atau tambahannya berupa “agak setuju” (sebelum setuju) dan “agak tidak setuju” (sebelum tidak setuju). Jika digabungkan, maka jadi sembilan skala (jenjang).
1. Sangat setuju sekali
2. Sangat setuju
3. Setuju
4. Agak setuju
5. Netral
6. Agak tidak setuju
7. Tidak setuju
8. Sangat tidak setuju
9. Sama sekali tidak setuju
Bentuk Skala Likert
Skala Likert yang dikenal sebetulnya tidak disusun seperti angket yang pilihannya ke bawah seperti beberapa contoh di atas, melainkan seperti ini.
|
LIKERT SCALES |
| Please circle the number that represents how you feel about the computer software you have been using [Lingkarilah angka yang mencerminkan penilaian Anda mengenai piranti lunak komputer yang telah Anda pergunakan] |
| I am satisfied with it (memuaskan)Strongly disagree —1—2—3—4—5—6—7—Strongly agree
(Sangat tidak setuju) (Sangat setuju) |
| It is simple to use (mudah digunakan)Strongly disagree —1—2—3—4—5—6—7—Strongly agree |
| It does everything I would expect to do (bisa untuk apa saja) Strongly disagree —1—2—3—4—5—6—7—Strongly agree |
| I don’t notice any inconsistencies as I use it (tidak bikin kisruh) Strongly disagree —1—2—3—4—5—6—7—Strongly agree |
| It is very user friendly (dapat membantu siapa saja) Strongly disagree —1—2—3—4—5—6—7—Strongly agree |
Responden ditanya tentang kepuasan mereka terhadap produk komputer. Responden diminta melingkari angka-angka yang berderet yang menunjukkan “sangat setuju” (angka 7) atau “sangat tidak setuju” (angka 1) dengan pernyataan yang tertera sebelumnya . Di antara kutub-kutub itu ada angka pilihan. Masing-masing menunjukkan derajat kestidaksetujuan atau kesetujuan. Semakin dekat ke angka 1 semakin dekat dengan tidak setuju, dan sebaliknya. Ingat angka itu bukan skor!
Item (Butir Pertanyaan/Pernyataan) Serupa dan Tak serupa Skala Likert
Ada “angket” yang semodel dengan Skala Likert, seperti di bawah ini.
Seberapa sering Anda meminjam buku dari perpustakaan?
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang-kadang
4. Sering
5. Sangat sering
Pertanyaan angket ini pun berjenjang, mirip dengan Skala Likert. Tentu itu bukan skala sikap. Itu angket biasa, angket deskriptif yang isinya punya jenjang ( intensitas meminjam buku dari perpustakaan). Perhatikan jenjangnya. Ada tengah-tengahnya seperti netral dalam skala sikap. Oleh sebab itulah angket (butir angket) seperti itu suka disebut juga sebagai “mirip Skala Likert.”
Pertanyaan angket berikut, kendati ada jenjang, bukan Skala Likert dan bukan mirip Skala Likert. Kuncinya terletak pada titik tengah pilihan jawaban ( di sisi yang satu positif, di sisi yang lain negatif; di sisi yang satu tinggi di sisi yang lain rendah). Item tentang usia berikut tidak bersifat seperti itu, hanya perjenjangan biasa, tidak ada kutub ekstrim dan tengah-tengahnya.
Usia Bapak/Ibu saat ini:
a. di atas 80 tahun
b. 61 – 70 tahun
c. 51 – 60 tahun
d. 41 – 50 tahun
e. 31 – 40 tahun
Menganalisis data Skala Likert
1. Analisis Frekuensi (Proporsi)
Nah, yang sering dilakukan kesalahan adalah pada saat menganalisis data dari Skala Likert. Ingat, Skala Likert berkait dengan setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu. Jadi, ada dua kemungkinan. Pertama, datanya data ordinal (berjenjang tanpa skor). Angka-angka hanya urutan saja. Jadi, analisisnya hanya berupa frekuensi (banyaknya) atau proporsinya (persentase). Contoh (pilihan “netral” dalam angket ditiadakan) dengan responden 100 orang:
Yang sangat setuju 30 orang (30%)
Yang setuju 50 orang (50%)
Yang tidak setuju 15 orang (15%)
Yang sangat tidak setuju 5 orang (5%).
Jika digabungkan menurut kutubnya, maka yang setuju (gabungan sangat setuju dan setuju) ada 80 orang (80%), dan yang tidak setuju (gabungan sangat tidak setuju dan tidak setuju) ada 20 orang (20%).
2. Analisis Terbanyak (Mode)
Analisis lain adalah dengan menggunakan “mode,” yaitu yang terbanyak. Dengan contoh data di atas, maka jadinya “Yang terbanyak (50%) menyatakan setuju” (Dari data yang sangat setuju 15%, setuju 50%, netral 20%, tidak setuju 10%, sangat tidak setuju 5%).
Skala Likert Sebagai Skala Penilaian
Skala Likert kerap digunakan sebagai skala penilaian karena memberi nilai terhadap sesuatu. Contohnya skala Likert mengenai produk komputer di atas, komputer yang baik atau tidak. Terhadapnya bisa diberlakukan angka skor. Jadi, yang dianalisis skornya. Dalam contoh di atas angka 7 sebagai skor tertinggi. Datanya bukan ordinal, melainkan interval.
Ingat! Pilihan ordinal setuju–agak setuju–netral–kurang setuju–tidak setuju tak bisa diskor. Misalnya setuju diberi skor 5, agak setuju 4, netral 3, kurang setuju 2, dan tidak setuju 1.
Kenapa?
Pertama, tidak logis, yang netral lebih tinggi skornya dari yang tidak setuju. Padahal yang netral itu sebenarnya tidak berpendapat. Kedua, coba jika ada dua orang yang ditanya, yang satu menjawab setuju (skor 5), yang satu lagi menjawab tidak setuju (skor 1). Berapa reratanya? [5 + 1] : 2 = 3. Skor 3 itu sama dengan netral. Lucu, kan?! Simpulannya kedua orang responden bersikap netral. Padahal realitanya yang satu setuju, yang satu tidak. Nah, ini bisa terjadi juga dengan yang sangat setuju (skor 5) 20 orang, setuju (skor 4) 25 orang, netral (skor 3) 10 orang, tidak setuju (skor 2) 25 orang, dan sangat tidak setuju (skor 1) 20 orang. Berapa rerata skornya? Pasti 3 (netral). Jadi, semua orang (diwakili 100 orang sampel) bersikap netral. Lucu, kan?!!! Padahal yang netral hanya 10 orang (10%)!!!
Skala Penilaian
Di atas dicontohkan Skala Likert untuk penilaian (menilai produk komputer). Sebenarnya tidak perlu menggunakan Skala Likert, cukup skala penilaian (rating scale). Responden diminta menilai produk itu dengan membubuhkan nilai (skor) jika ada kolom kosong untuk menilai, atau memilih skor tertentu yang sudah disediakan. Jadinya skornya bisa bergerak dari 0 sampai dengan 10 sebagai skor tertinggi.
Contohnya mengenai kepuasan konsumen terhadap layanan perpustakaan di bawah ini. Responden cukup diminta melingkari angka skor sesuai dengan penilaiannya.
1. Kemudahan menemukan koleksi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
2. Kenyamanan ruangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
3. Layanan petugas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Analisisnya bisa menggunakan dua macam, proporsi (persentase) dan mode (terbanyak menilai berapa), dan rerata atau means (rerata skornya berapa), dan termasuk pengkateorian puas atau tidak puas.
Jelasnya:
Pertama, dihitung banyaknya responden yang memberi nilai pada skor tertentu secara keseluruhan (seluruh butir pernyataan). Lihat yang terbanyak (mode) dari responden memilih pada skor berapa.
Kedua, hitung skor dari keseluruhan butir (responden yang menjawab dikalikan skor), lalu disusun reratanya. Rerata skor itu (bilangannya tentu akan 0 – 10) termasuk kategori tinggi atau rendah. Sebelumnya tentu sudah disusun kategorisasinya. Jadi, jika rerata skornya misalnya 7,76, angka 7,76 itu termasuk kategori rendah, sedang, ataukah tinggi? Ingat, skor terendah berapa, dan skor tertinggi berapa! Jadi, 7,76 dari rentangan skor 1 – 10 tentu termasuk tinggi (tapi tidak sangat tinggi, kan?!)
Contoh Lain Skala Likert
Ini contoh Skala Likert yang menggali taraf kepercayaan diri (rasa harga diri) karyawan.
Skala “Self-Esteem” Karyawan
Here’s an example of a ten-item Likert Scale that attempts to estimate the level of self esteem a person has on the job. Notice that this instrument has no center or neutral point — the respondent has to declare whether he/she is in agreement or disagreement with the item [Ini contoh Skala Likert yang terdiri atas 10 butir pernyataan yang berusaha mengukur taraf harga-diri seseorang dari pekerjaannya. Perhatikan bahwa instrumen ini dhilangkan titik tengah atau netralnya, sehingga responden mau tidak mau harus memberikan pernyataan tegas apakah ia setuju atau tidak setuju dengan isi butir pernyataan].
INSTRUCTIONS: Please rate how strongly you agree or disagree with each of the following statements by placing a check mark in the appropriate box [Petunjuk: Berikan penilaian seberapa setuju atau tidak setuju Anda dengan isi pernyataan berikut dengan cara membubuhkan tanda centang pada kotak kolom yang sesuai].
| 1. I feel good about my work on the job. (Saya merasa pekerjaan saya dalam menjalankan tugas baik) | Strongly disagreee (Sama sekalI tidak setuju) | Somewhat disagree (agak tidak setuju) | Somewhat agree (agak setuju) | Strongly agree (Sangat setuju) |
| 2. On the whole, I get along well with others at work. (Secara umum, dengan teman-teman sepekerjaan saya merasa baik-baik saja) | Strongly disagreee (Sama sekali tidak setuju | Somewhat disagree (agak tidak setuju) | Somewhat agree (agak setuju) | Strongly agree (Sangat setuju) |
| 3. I am proud of my ability to cope with difficulties at work (Saya merasa bangga dengan kemampuan saya mengatasi berabgai masalah pekerjaan saya). | Strongly disagreee (Sama sekali tidak setuju | Somewhat disagree (agak tidak setuju) | Somewhat agree (agak setuju) | Strongly agree (Sangat setuju) |
| 4. When I feel uncomfortable at work, I know how to handle it (Jika saya merasa tidak nyaman kerja, saya tahu bagaimana mengatasinya). | Strongly disagreee (Sama sekali tidak setuju | Somewhat disagree (agak tidak setuju) | Somewhat agree (agak setuju) | Strongly agree (Sangat setuju) |
| 5. I can tell that other people at work are glad to have me there (Saya bisa tegaskan bahwa teman kerja saya merasa senang mereka bekerja dengan saya). | Strongly disagreee (Sama sekali tidak setuju | Somewhat disagree (agak tidak setuju) | Somewhat agree (agak setuju) | Strongly agree (Sangat setuju) |
| 6. I know I’ll be able to cope with work for as long as I want (Saya tahu saya bisa selesaikan tugas pekerjaan saya asal saya mau) . | Strongly disagreee (Sama sekali tidak setuju | Somewhat disagree (agak tidak setuju) | Somewhat agree (agak setuju) | Strongly agree (Sangat setuju) |
| 7. I am proud of my relationship with my supervisor at work (Saya merasa bangga tentang hubungan saya dengan atasan saya di tempat kerja). | Strongly disagreee (Sama sekali tidak setuju | Somewhat disagree (agak tidak setuju) | Somewhat agree (agak setuju) | Strongly agree (Sangat setuju) |
| 8. I am confident that I can handle my job without constant assistance (Saya yakin saya bias selesaikan tugas pekerjaan saya tanpa selalu mendapat bantuan). | Strongly disagreee (Sama sekali tidak setuju | Somewhat disagree (agak tidak setuju) | Somewhat agree (agak setuju) | Strongly agree (Sangat setuju) |
| 9. I feel like I make a useful contribution at work (Saya merasa saya punya andil baik terehadap tempat kerja saya). | Strongly disagreee (Sama sekali tidak setuju | Somewhat disagree (agak tidak setuju) | Somewhat agree (agak setuju) | Strongly agree (Sangat setuju) |
| 10. I can tell that my coworkers respect me (Saya bisa tegaskan bahwa rekan kerja saya menghargai saya). | Strongly disagreee (Sama sekali tidak setuju | Somewhat disagree (agak tidak setuju) | Somewhat agree (agak setuju) | Strongly agree (Sangat setuju) |
Sumber:
Hall, Shane. 2010. “How to Use the Likert Scale in Statistical Analysis.” Online, diunduh 31 Oktober, 2010.
Markusic, Mayflor. 2009. “Simplifying the Likert Scale.” Online, diunduh 31 Oktober 2010.
Trochim, William M.K. 2006. “Likert Scaling.” Research Methods Knowledge Based. Diunduh 31 Oktober 2010
Wikipedia. 2010. “Likert Scale.” Online, diunduh 31 Oktober 2010.

Pak Tatang yth, sekali lagi saya kagum dengan kemampuan Bapak membuat penjelasan yang sederhana dan mudah dimengerti. Terima kasih banyak
Ah, itu kan hanya mengatakan apa yang dikatakan orang, cuma “disundakeun,” kitu! Terima kasih kembali. Semoga sukses juga.
aslamualaikum
bapak, ketemu saya lagi, hehehhe
jgn bosen ya pak, saya nanya terus nich,
pak boleh ga saya pake skala likert 1-5
1 =sangat tidak suka
2 = tidak suka
3 = cukup suka
4 = suka
5= sangat suka
terus penentuan banyaknya skala 1-3, 1-5, 1-7 ditentukan oleh apa?
terima kasih banyak bapak tatang
Memang suka apa? Suka itu sama dengan senang (“prefer”), apa suka lawannya benci? Baca lagi deh skala likertnya, supaya jelas: Saya sangat suka nasi timbel, Rezki lebih suka nasi gudeg. Kan, beda dengan: saya tidak suka orang Israel, Rezki sih netral, suka tidak, tak suka juga tidak. Nah suka dalam makna yang mana? Suka-suka, deh! Hehehe…
Angka itu angka simbul, apa angka nilai? Ya pakai logika aja: Bagaimana menerjemahklan arti 6 jika itu soal “kesukaan” (suka nasi gudeg apa tidak). 7 artinya sangat suka, 6 agak sangat suka, 5 suka, 4 … dst. Memang ada “agak sangat suka” dalam pembicaraan sehari-hari? Kan gak ada. Gitu, jadi pakai kebiasaan sehari-hari dalam berbahasa. Baru diangkakan (bisa skor, bisa cuma sekedar simbul saja). Kalau skor, ya yang lazim, jangan gunakan 1-4 (itu skor di PT: A = 4). Skor di masyarakat kan tertinggi 10. Di sekolah-sekolah biasanya begitu, sih!
1-5 rating scale pak,
jadi untuk menunjukkan prefered menggunakan skala 1-5 yang benar seperti apa?
Kutub ekstrimnya paling suka (5) versus paling tidak suka (1). Jangan lupa, rating scale artinya “penilaian,” sehingga angka itu menunjukkan “skor” (rate). Bukan setuju versus tidak setuju (angka = simbul). Anda lebih suka makan apa? (1) gudeg, (2) bebek goreng, (3) uduk, (4) SGPC, (5) tumpang. Angka itu hanya simbul, walaupun preferensi (kelebihsukaan). Tapi, makan nasi gudeg suka atau tidak suka (1 sama sekali tidak suka – 5 sangat suka sekali, 4? Ya, agak suka, lah).
Pak, apa pertimbangan kita menghilangkan pilihan netral?
Misalnya:
1. Sangat Setuju
2. Setuju
3. Tidak Setuju
4. Sangat Tidak Setuju
Kalau netral dihilangkan, bolehkah kita sebut “Skala Likert yang disederhanakan/dimodifikasi oleh peneliti”?
Terima Kasih
Biar orang tidak ragu atau “tak menjawab.” Harus pilih: setuju atau tidak setuju. Pilih makan gudeg atau nasi uduk, kangan gak pilih, wong adanya cuma dua itu. Skala Likert itu juga suka dihilangkan netralnya, coba dibaca lagi contoh-contohnya. Tapi, jangan sembarang dihilangkan kalau memang ada (logis) netral.
Artkelnya buagusss banget pak..
Tanya pak:
dalam menilai sikap pake skala likert.. angka (1-5) kan simbol
trus gimana koding dan skoring (untuk analisis statistik) .. ketika variabel sikap di korelasikan dg suatu variabel lain.
sebelumnya trims pak.. boleh ngga kontak bapak lewat email?
Karena itu cuma koding, jadi dianggap sebagai variabel diskrit/nominal (ada yang setuju, ada yang tak setuju, ada yang netral; seperti ada yang beragama islam, ada yang katolik, ada yang kristen dsb). Gunakan teknik nonparametrik atau yang sesuai.
maaf pak masih pemula..
terus kesimpulan akhirnya nantinya gimana (saran)bapak?
sikap itu apakah dikategori menjadi skap baik, sikap jelek?(or sikap positif sikap negatif) misal 50% responden bersikap benar(sebagaimana seharusnya)..hehe bingung sendiri saya pak..
note.
rencana buat metodologi penelitian “PSP (pengetahuan,Sikap,Perilaku) petugas” kemudian dihubungkan dengan “ketepatan waktu penyampaian laporan”
pak mau tanya,skala likert itu apa mempengaruhi pengujian hipotesis??
skala Likert hanya alat untuk mengumpulkan data, seperti yang lainnya, tak lebih dari itu.
pak, saya mau tanya, bagaimana cara mengolah data mentah kuesioner yang sudah diisi ke dalam tabel untuk diuji? terima kasih
Lha memang mau diuji apaan?
(1) Susun dalam distribusi frekuensi biasa, tertemukan (nantinya) proporsi (persentase). Jadi, misal, mulai dari “men-tallies” kayak nyatet skor pertandingan badminton atau voli atau tenis meja, yang menjawab nomor 1 a ada berapa orang, 1b berapa orang, 1 c berapa orang dst. Begitu juga yang menjawab 2a, 2b, 2c, 2d dst. Nanti jumlahnya masuk dalam tabel distribusi frekuensi itu.
(2) Susun dalam tabel silang (cross tab), tertemukan perbandingan, “hubungan” dsb
(3) Susun dalam tabel-tabel analisis statistik lainnya.
Itu saja, kali.
Aslm.
Pak saya mahasiswa yg sedang menyusun skripsi.
Dalam skripsi saya, saya menggunkaan angket skala likert.
Saya agak bingung dengan cara pengolahan datanya.
Dari dosen saya skala penilaianx hrs ada 2 yaitu penilaian pernyataan positif dan penilaian pernyataan positif. Misal untuk pernyataan positif nilai Sangat Setuju = 4 nah untuk pernytaan negatif seperti apa??
Kemudian cara untuk mendapatkan hasil akhirnya seperti apa??
Soal angket saya ada 21 nomor kemudian respondennya ada 30 org..
nah cara menghitung nya seperti apa pak?
Sehingga bisa di interpretasikan dalam persenan??
Mksh banyak Pak jika bersedia untuk menjelaskan..
Saya sangat membutuhkannya..
Maap kalo panjang pertanyaanx ^^
(1) Kalau diskor (pernyataan positif lawan negatif) kan jadi 5- 4 – 3 – 2 – 1. (Positif) Sangat setuju = 5, (negatif) sangat tidak setuju = 1. Positif setuju = 3, negatif tidak setuju = 2. Karena sksor, maka hitungan (analisisnya) pakai rerata (means), bukan persentase.
(2) Kalau bukan skor, sekedar kode, ya hitung saja dari 30 orang itu yang menjawab kode 5 – 4- 3 – 2 – 1 atau 4 – 3 – 2 – 1 dari 21 butir angket ada berapa orang. Hitung persentasenya = f : (21 x 30). Jadi, kalau satu per satu butir angket, angket 1 ada berapa dari 30 yang menjawab 4, 3, 2, dan 1. Persennya kan tinggal jumlah penjawab per kode (4 atau 3 atau 2 atau 1) per 30 x 100%. Jadi jika yang menjawab angket 1 butir kode 4 ada 15 orang kan berarti 15/30 x 100% = 1/2 x 100% = 50%. Buyinya: yang sangat setuju ada 50%.
pak saya mahasiswa yang menyusun KTI saya mau tanya 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9….12 termasuk skala ap jika untuk mengukur frekuensi melakukan misal 0 x/tahun, 1 x/tahun dst….??
Yah itu sih bukan skala, itu bilangan kekerapan (frekuensi) aja. Maksudnya berapa kali dalam setahun, berapa kali dalam sebulan, berapa kali … dst. Bukan skala penilaian karena tidak menilai, hanya hitungan biasa.
Pak, saya mohon info tentang pernyataan ahli yang membagi skala ke dalam
Sangat Setuju, Agak Setuju, Netral, Agak Tidak Setuju dan Sangat Tidak setuju karena dosen penguji saya menyalahkan saya kenapa pakai kata “agak”. Mohon kalau ada artikelnya saya dikirimi ya Pak, kalau bisa hari ini karena besok mau diajukan lagi ke beliau.. terima kasih banyak pak. danang651@gmail.com
Gak ada. Itu kan dari kebiasaan keseharian kita. Lha, tiap lokal mungkin punya konteksnya sendiri. Jadi sangat tergantung kita menyebut apa tentang “gradasi” kesetujuan: sangat setuju, setuju, netral . . . dst. Atau: sangat setuju sekali, sangat setuju, setuju, netral. Kalau pusing kan pusing sekali dan agak pusing, tidak ada “pusing” saja di antaranya.
dalam penggunaan bahasanya itu tidak baku. (meragukan)
lebih baik… saran saya. kalimat “AGAK” dihilangkan saja.
agar tidak membingungkan responden pengisi instrumen dan penelitipun tidak jadi bingung juga dalam pemberian skor…
Gunakanlah bahasa yang sehari-hari dipahami masayrakat umum.Dalam bahasa Jawa, Sunda dll ada kata “rada” (sama dengan agak), misalnya rada pinter (agak pintar). Itu baku bahasa seari-hari. Bayangkan dengan “cukup baik,” itu dimaksudkan baik atau sedang? Itu meragukan!
Artikelnya mudah dipahami pak. Saya ada pertanyaan nih, kalau skala sangat tidak setuju 1 – 10 sangat setuju diubah menjadi sangat tidak setuju 1 – 5 sangat setuju dengan konversi 1-2 menjadi 1 3-4 menjadi 2 dstnya apa bisa dilakukan? logikanya hanya perbandingan 2 : 1 tanpa mengubah interpretasi sangat tidak setuju – sangat setuju. Terima kasih pak.
Intinya kan SETUJU dan TIDAK SETUJU, ditengah-tengahnya NETRAL. Terserah soal rantai jenjangnya, simbul angka kan hanya sekedar simbul, diganti A B C D juga boleh, kok!
Masalah selanjutnya adalah apakah tingkatan dr likert ini, ordinal atau interval? Karena IMO ini menyangkut tools analisa yg dpt dilakukan. Fyi, Analisis parametrik memiliki asumsi data minimal berskala interval.
Dari paparan para ahli, hasil analisis data skala Likert bukan skor pengukuran, tapi distribusi frekuensi. Ordinal, interval, rasio itu hasil pengukuran.
selamat siank mas.. nama saya wandy.. langsung saja ya mas… disini saya sedang mengerjakan skripsi untuk memperoleh gelar sarjana di salah satu universitas swasta di kota Medan,, pada saat penyusunan skripsi ini saya mengalami kendala, seperti saya bingung untuk membuat skala apa yang cocok untuk pertanyaan saya… skripsi saya berjudul “HUBUNGAN AUDIT OPERASIONA DAN PENGELOLAAN PERSEDIAAN BARANG DAGANGAN UNTUK MENINGKATKAN LABA PERUSAHAAN”, selain kendala saya dalam menentukan skala,,, saya juga masih bingung untuk menentukan analisis statistik apa yang cocok untuk judul seperti ini… terus mas, kira2 data apa2 saja yang harus saya kumpulkan ketika mas membaca judul skripsi yang saya buat…. mohon bantuannya ya mas.. karena tanggal 17-09-2011 ini saya akan menjalankan sidang… tetapi skripsi saya belum siap.. klo gk sekarang mungkin saya akan terhempas ke gelombang kedua…
terima kasih sebesar2nya ya atas bantuan mas….
wandy aishiteru
Waduh, variabel yang dikorelasikannya rada-rada kurang pas. Variabel (yang mau dianggap sebagai variabel) X-nya ada dua: (1) audit operasional, dan (2) pengelolaan persediaan barang dagangan; Yang mau dianggap variabel Y-nya laba perusahaan. MUNGKIN harusnya : hubungan (korelasi) audit operasional dan pengelolaan pbd dengan peningkatan laba perusahaan. Audit operasional harus disakalakan tinggi-rendah (entah ukuran baik-tidak baiknya apa, mungkin rutin-tak rutin, cemrat tak cermat–saya tak tahu persis), pengelolaan juga diskalakan tinggi-rendah (efektif tak efektif), laba juga tinggi rendah (banyak sedikit, meningkat banyak meningkat sedikit atau menurun). Jadi, diskor. Gitu. Ya udah kalau pakai skor ya gunakan analisis regresi ganda.
aslm w w,.
Aslm.
Pak saya mahasiswa yg sedang menyusun skripsi.
tentang evaluasi keberhasilan terapi
Dalam skripsi saya, saya menggunkaan angket skala likert.
Saya agak bingung dengan cara pengolahan datanya.
data di peroleh dari kuesioner dan kemudian di beri skala. dengan skor tertinggi 45 dan terendah 1.
dan kriteria penaian evaluasi adalah 3 yaitu berhasil, cukup berhasil dan tidak berhasil.
jadi bagaimana cara penggolahan dengan uji likert ?
Kemudian cara untuk mendapatkan hasil akhirnya seperti apa??
Soal angket saya ada 18 nomor kemudian respondennya ada 80 org..
nah cara menghitung nya seperti apa pak?
Sehingga bisa di interpretasikan dalam persenan??
Mksh banyak Pak jika bersedia untuk menjelaskan..
Saya sangat membutuhkannya..
Maap kalo panjang pertanyaanx ^^
aslm w w,.
Aslm.
Pak saya mahasiswa yg sedang menyusun skripsi.
tentang evaluasi keberhasilan terapi
Dalam skripsi saya, saya menggunkaan angket skala likert.
Saya agak bingung dengan cara pengolahan datanya.
data di peroleh dari kuesioner dan kemudian di beri skala. dengan skor tertinggi 45 dan terendah 1.
dan kriteria penaian evaluasi adalah 3 yaitu berhasil, cukup berhasil dan tidak berhasil.
jadi bagaimana cara penggolahan dengan uji likert ?
Kemudian cara untuk mendapatkan hasil akhirnya seperti apa??
Soal angket saya ada 18 nomor kemudian respondennya ada 80 org..
nah cara menghitung nya seperti apa pak?
Sehingga bisa di interpretasikan dalam persenan??
Mksh banyak Pak jika bersedia untuk menjelaskan..
Saya sangat membutuhkannya..
Maap kalo panjang pertanyaanx ^^
Weh, lah, ini jdi membingungkan. Skala likert tapi pakai skor, kan kata ahlinya salah! Evaluasinya tiga kategori B – CB -TB. Ini kan untuk diskor (skala penilaian, bukan skala likert), dengan skor (misal) 2 – 1 – 0. Angketnya 18, tapi kok skor tertinggi (total penjumlahan) jadi 45 dan terendah 1? (apa skornya 3 – 2 -1 (3 x 18 = 45?). Cek lagi aja konsep pengukuran (pengumpulan) datanya, ya!
salahya pak,
penelitian saya dengan cara membandingkan antara sebelum dan sesudah terapi pak.
dan saya beri skor supaya perbedaan antara 2 penelitian tersebut lebih kelihatan.
dan skor 45 adalah nilai dari tertinggi dari objek penelitian saya
kemudian nanti di olah dengan rumus
Rs = (m – n) : b
rs adalah rentang skala
m adalah skor tertinggi
n adalah skor terendah
b adalah jumlah kategori
menurut pendapat bapak, analisa apa yang cocok untuk penelitian saya. dan literatur dan buku apa yang bisa jadikan sebagai rujukan.
terima kasih ya pak.
Lho, la yang dimunculkan itu analisis apa [Rs = (m - n) : b]? Kan itu analisis yang ananda mucnulkan (cuma menurut rumus siapa?). Coba konsultasi lagi lebih cermat dengan pembimbing, karena pembimbing lebih tahu proposal ananda dibanding saya. Terus terang saya tak bisa memahami seluruh proposal (rancangan) penelitian ananda.
wah,lumayan nih,cukup jelas dgn cntoh2nya.tp bagaimana sikap kita thd pihak lain yg membenci analisis statistik dlm penelitian?serta adakah smcam kritikan trhadap statistik?
Sebenarnya tidak membenci, cuma statistik itu kan cuma alat analisis, semuanya tergantung pada yang dianalisis, pada penelitiannya. Kebermaknaan hasil penelitian lebih tinggi derajatnya dari alat analisisnya, apapun alat analisisnya. Ilmu sejarah tentu tidak selalu cocok menggunakan analisis statistik untuk mengembangkan ilmunya. Ya, kan? Apalagi ilmu filsafat!!!! Dan sebaliknya, ada penelitian yang mau tidak mau harus menggunakan alat analisis statistik. Tren konsumen produk dunia usaha, misalnya, kan cocoknya menggunakan data kuantiatif dan analisis statistik.
1. bila kita menggunakan skala mirip skala likert dalam penelitian pada umumnya disebut apa pak..? apa dituliskan menggunakan skala mirip likert..?
2. bila variabelnya banyak mis. x1…x4 apakah diperbolehkan menggunakan skala yang berbeda2…?
(1) Ya, memang harus disebut skala mirip likert (aslinya skala sikap — ada setuju ada netral ada tidak setuju–> diganti jadi, misal: sedikit sekali —- sangat banyak).
(2) Memang mau pakai skala apa saja? Ya tergantung data dan tujuan analisisnya!
assalamualaikum
pak mw tny nih kmrin pas saya sminar ada yg blg klo skala likert itu tdk hny mnggunakan setuju ato tdk setuju tetapi lbh kpd dr yg negatif ke positif, mohon pnjelasannya pak krn utk judul saya mmg tdk memungkinkan utk menggunakan skala likert dlm kuesionernya. saya malah menggunakan pernah dan tdk pnh tp pnjelasan d’atas mngatakan klo itu ‘mirip skala likert’ pdhl di metpen saya mnggunakan skala likert.makasie
wassalam
Skala Likert aslinya untuk sikap: pro kontra –> pro Israel apa anti Israel (pro – netral – anti; balik: anti – netral – pro); pro “black” apa anti “black” (anti – neutral – pro); setuju orang Israel diberi kebebasan membuka usaha di Indonesia (sama sekali tidak setuju — tidak setuju — kurang setuju — netral — agak setuju — – setuju — sangat setuju). Lalu orang membuat skala seperti skalanya Likert itu, pakai kata setuju terhadap PENDAPAT : “Orang bijak itu bisa memahami perasaan oprang lain” (STS – TS – KS – AS – S -SS). Karena iut berupa RENTANGAN ya boleh diganti dengan apapun: “Orang miskin di Indonesia” (sangat sedikit sekali — sangat sedikit – agak banyak — banyak sekali — sangat banyak sekali). “Kesopansantunan orang Indonesia” (sangat rendah sekali — sangat rendah — rendah — sedang — tinggi — tinggi sekali — sangat tinggi sekali)
Pa Tatang, mohon pencerahannya. Gini saya melakukan penelitian dan pengembangan untuk membuat Module Speaking buat siswa. Nah, modul itu divalidasi oleh 2 orang ahli dengan melingkari checklist yang saya berikan.
Contohnya seperti ini
Critical Thinking Skill
The material promotes students to think critically rather than just memorizing.
Score
0 1 2 3 4
Dengan artian:
0=not applicable
1=poor
2=adequate
3=good
4=excellent
nah, sekarang saya bingung analisis dari data tersebut gimana? Jumlah item yang harus diberi skor adalah 18. Dan pemberi skor ada 2 orang. Ditunggu balasannya.
“Baca” per aspek, arah kedua judge ke mana, apakah menilai ur module not applicable or excellence, good or just adequate. Revise jika berada pada simbul angka-angka rendah, karena pada aspek itu artinya module lemah.
Thanks Pak Tatang….Klo mo mampir ke warung gado-gado saya, Monggo…hee
Waaaah, mau, mau, mau! Di mana tuh warungnya?
Gak ada jawaban ya, Pak…..:(
assalamualaikum pak, saya mau bertanya tentang penentuan jenjang dalam skala likert.
itu kan ada pilihan untuk menggunakan jenjang 3, 5, 7.
nah kebetulan saya menggunakan jenjang 7.
kemudian ditanya oleh dosen saya, kenapa kok menggunakan 7?
kenapa gak pake 3?
alasannya apa?
mohon bantuannya pak.
terimakasih sebelumnya
Memang jenjang apa? Skor itu umumnya dari 0 – 10, atau disederhanakan 0 – 5. Jenjang “setuju” aslinya kan bisa: (1) sama sekali tidak setuju, (2) tidak setuju, (3) agak tidak setuju, (4) antara setuju/tidak setuju, (5) agak setuju, (6) setuju, (7) sangat setuju. Sederhananya (1) tidak setuju, (2) netral, (3) setuju,
ini pak “Masri Singarimbun dan Effendi (1995:110), menyatakan bahwa biasanya seorang peneliti menginginkan range yang cukup besar, sehingga informasi yang dikumpulkan lengkap. Ada peneliti yang menggunakan jenjang 3 (1,2,3), jenjang 5 (1,2,3,4,5), jenjang 7 (1,2,3,4,5,6,7). Semakin besar jawaban semakin besar kemungkinan terjadi kekosongan pada titik ujung.”
nah kemudian saya pilih jenjang 5, karena saya melihat contoh punya teman saya, saya tidak tau pasti knapa alasan memilih jenjang 5 itu.
kemudian dosen saya bertanya, knp kok pilih 5?
knp gak pilih 3 atau 7?
nah itu yg mau saya tanyakan.
Ulangi, ya: ASLINYA mau apa, apa yang dijenjangkan, gitu. Apa arti 1, apa pula arti 5? Pakai itu sebagai dasar, baru tetapkan jenjang (disimbulkan dengan angka—ingat, angka cuma simbul menggantikan verbal jenjang).
jenjang “sesuai” pak (1) sangat sesuai, (2) cukup sesuai, (3) sesuai, (4) tidak sesuai, (5) sangat tidak sesuai.
nah jd untuk jawaban kuesioner saya menggunakan (a) sangat sesuai, (b) cukup sesuai, (c) sesuai, (d) tidak sesuai, (e) sangat tidak sesuai.
itu apa perbedaannya dengan yang menggunakan 3 (1) sesuai, (2) cukup sesuai, (3) tidak sesuai,
atau dengan yg menggunakan 7 (1) sama sekali tidak sesuai, (2) tidak sesuai, (3) agak tidak sesuai, (4) antara sesuai/tidak sesuai, (5) agak sesuai (6) sesuai, (7) sangat sesuai
Coba dicermati lagi penamaan jenjang”cukup sesuai” rasanya gak cocok dalam bahasa Indonesia. “Cukup” itu tidak jelas. Kontrasnya “sesuai – tidak-sesuai”, di tengah-tengahnya “antara sesuai dan tidak sesuai” (gak ada sebenarnya istilah itu, kan?), mungkin di situ malah “cukupan” –> sesuai – cukupan – tidaksesuai –> tarik ulur = sangat sesuai – sesuai – cukupan – tidak sesuai – sangat tidak sesuai (5 jenjang). Jika 7, apa sebutannya?! JADI, MULAI DARI TIGA, ADA TITIK TENGAH DI ANTARA DUA KUTUB KIRI-KANAN, KIRI KAKAN HARUS SESUAI SEBUTANNYA!!!
ass .. pak, saya bikin kuesioner dengan kombinasi skala likert, setiap variable saya menanyakan dengan 3 pertanyaan,
Misal variabel (kedekatan dengan kawasan industri) ; pertanyaanya ;
1.jarak antara kawasan pemukiman dengan kawasan industri diwilayah xx, menurut anda ? a.sangat dekat b.dekat c.biasa saja d.jauh e jauh sekali.
2. posisi kawasan industri di wil xx ,secara geografis apkaah telah sesuai keberadaannya dengan kawasan pemukiman ? a.sangat sesuai b.sesuai c.biasa saja d.tidak sesuai e.sangat tidak sesuai
3.Kawasan industri mendorong pertumbuhan perumahan diwilayah xx.. a.sangat setuju b.setuju c.ragu d.tidaks etuju e sangat tidak setuju.
Pertayaannya ? apakah kuesioner dg pertanyaan tersebut dibenarkan, bagaiman cara menghitung hasilnya ..? mohon penjelasan nya bapak ..?
Kenapa harus tanya orang? Ukur sendiri saja jauh apa dekat (berpa km) itu lebih konkrit. Kenapa harus tanya orang menumbuhkan perumahan/tidak, observasi saja, itu lebih nyata! Kalau cari pendapat, carilah pendapat (penilaian), bukan yang konkrit bisa diukur atau diamati sendiri. Sorry, jadi mementahkan ya! Tapi itu lebih akurat!
ulasan bapak hanya untuk mengukur sikap, yg pernah sy bc, likert juga bs mengukur persepsi, 1=sangat tidak tepat…5= sangat tepat. tapi saya bingung tentang penjelasan bacaan tersebut. bagaimana contoh pertanyaan persepsi nya dan analisa datanya. tlg dijelaskan beserta contoh.
Kan sudah dibilang, bisa untuk opini (pendapat, persepsi) juga, tapi nama skalanya “skala mirip likert”, karena bukan skala likert asli yang aslinya untuk mengukur sikap (setuju-netral-tak setuju). Bisa juga isi pilihannya: sedikit – cukupan – banyak; rendah- sedang – tinggi, dan sebagainya.
bapak, saya mahasiswa sedang mengerjakan laporan PKL.
saya bikin kuesioner dengan kombinasi skala liker, ini salah satu contoh pertanyaan saya pak
Apakah anda nyaman dengan pelayanan PT. X ?
a. Sangat Nyaman
b. Nyaman
c. Kurang Nyaman
d. Tidak Nyaman
Pertayaannya ? apakah kuesioner dg pertanyaan tersebut dibenarkan ?
apakah boleh jika saya langsung memberi nilai untuk sangat nyaman=4 , nyaman=3 , kurang nyaman=2 dan tidak nyaman=1 ?
mohon penjelasannya bapak, terima kasih ^^
Yang kurang yang di tengah-tengah tidak ada. Nilainya bisa 1 – 5. jadinya. Tengah hilang tak apa, tapi nilai tetap 5 – 4 — 2 – 1 (nilai tengah = cukup nyaman tak ada).
Yth bapak Tatang.
Yg ingin saya tanyakan disini berkaitan dengan jawaban bapak untuk saudara Galuh. Pada pilihan jawaban kuisioner saudara Galuh tidak menggunakan netral. Sebenarnya apa kelebihan dan kelemahan penggunaan dari pilihan netral itu sendiri? Karena yang saya lihat banyak penggunaan skala likert dengan pilihan netral. Sementara menurut saya dan teman2 adanya pilihan netral bisa menyebabkan koresponden untuk cenderung lebih memilih netral (istilahnya: cari aman). Sehingga akan sulit untuk menyimpulkan jawaban jika banyak yg menjawab netral.
Netral itu tidak berpihak, tidak ke kiri, tidak ke kanan. Itu jika likert digunakan persis sebagai skala (mengukur) sikap (pro kontra terhadap sesuatu secara “emosional” bukan pendapat). Misalnya apakah Anda setuju jika semua PT tidak diberi subsidi apapun dari Pemerintah? (Karena Anda termasuk mhs sesuatu PT Anda secara emosional terlibat!–Tentu ini tidak berlaku–menyeret sisi emosional–pelajar yang tidak punya famili mhs PT). Skala MIRIP likert yang lazim dibuat peneliti, tidak untuk mengukur (mendata) sikap, melainkan menilai (jadilah skala penilaian atau rating scale), atau mendata pendapat: “PSSI kalah 10 dari Bahrain itu memalukan bangsa” (SS -S – Antara S dan TS – TS – STS). Coba dibaca lagi dengan cermat!
Assalamu’alaikum Pak Tatang, apa kabar? Masih ingat saya? Saya Rahmani Timorita Yulianti Dosen FIAI UII. Artikel Bapak tentang Sakal Likert bagus banget, sangat informatif. Kalau berkenan, tolong saya dikasih info tentang buku metode penelitian yg khusus membahas analisis data dg skala likert, terimakasih banget ya pak… wassalamu’alaikum
Alykum salam. Tentu tak kan lupa, walau sudah tak pernah lagi ada arisan yang biasa saya dan ibu ikut. Saya dapatkannya dari internet. Coba saja. kalau buku, ya asal “reserach methodology” (quantitative) biasanya ada.
Assalamu’alaikum Pak Tatang, apa kabar? Masih ingat saya? Saya Rahmani Timorita Yulianti Dosen FIAI UII. Artikel Bapak tentang Sakal Likert bagus banget, sangat informatif. Kalau berkenan, tolong saya dikasih info tentang buku metode penelitian yg khusus membahas analisis data dg skala likert, terimakasih banget ya pak… wassalamu’alaikum
NB: tolong balas di facebook saya, syukron…
Pak Tatang Yth:
saya mahasiswa yang sedang menyelesaikan KTI, sya mau menanyakan beberapa hal.
1). Untuk mengukur sikap dengan skala likert, bgmana menentukan alat ukurnya pak?
2). Dan devinisi untuk cara ukurnya bagaimana?
terimakasih.
Walah, pertanyaannya kok membingungkan saya, tho!? Skala likert itu ya alat ukur, untuk mengukur sikap. Lha, yang mau diukur apa? Ukur saja dengan skala likert!
Yth. Pa tatang
ass. saya mau tanya ne pa
apakah pengukuran skala likert bisa dianalisis dengan regresi ?
terima kasih
Memang mau diregresikan (dicari balik ke belakang faktor penyebabnya) dengan apa? Harus ada dua variabel. Ingat: skala sikap likert aslinya bukan skor, melainkan persen (proporsi): proporsi (persentase) yang setuju, yang netral, yang tidak setuju! Lain halnya jika “skala mirip likert” (misal “rating scale”–metinya tak disebut skala likert)!
permisi pak,
tulisan yang menarik sekali
…
pak boleh saya minta bantuan? kira-kira dimana saya bisa dapat buku-buku yang bapak gunakan sebagai referensi tulisan ini?
terima kasih
salam,
Go blog! (maaf, bukan goblog, hehehe). Di intenet banyak juga kok berbagai blog yang bisa ditelusuri! Kalau buku, saya belum sempat menemukan (bukan belum menemukan, sejauh dari yang sudah dibaca, terbatas, belum menemukan) yang membahas seperti itu.
Artikelnya bagus pak, mudah dimengerti dan dipahami, izin ngutip ya pak,. Oh iya mengenai sumber :
Hall, Shane. 2010. “How to Use the Likert Scale in Statistical Analysis.” Online, diunduh 31 Oktober, 2010.
Markusic, Mayflor. 2009. “Simplifying the Likert Scale.” Online, diunduh 31 Oktober 2010.
Trochim, William M.K. 2006. “Likert Scaling.” Research Methods Knowledge Based. Diunduh 31 Oktober 2010
kalau bapak masih ada file mentahnya tolong kirim ke afdholtea@upi.edu
Makasih ya Pak … Tetap Semangat Ngeblognya,.
ambil sendiri aja di internet
Pak Tatang yang baik …
Salam kenal,
Saya mau tanya terkait penelitian saya tentang efektivitas pendidikan lingkungan hidup dilihat dari tingkat pengetahuan, sikap, partisipasi aktif siswa. Saya memberi tes pengetahuan kepada siswa tentang lingkungan, dan memberi kuesioner dengan skala Likert ( STS, TS, RR, S, SS) untuk mengetahui sikap siswa terhadap permasalahan lingkungan (dengan 30 pernyataan), dan saya juga memberikan kuesioner dengan skala mirip Likert (dengan 20 pernyataan)untuk menyatakan frekuensi partisipasi aktif (TP, JS, KK, SR, SL).
Yang ingin saya tanyakan:
Untuk menganalisis tentang sikap, dapatkah saya menjumlah total skor yang dimiliki per responden (jumlah reponden 500), jika saya menganggap STS bernilai 1 berarti sangat tidak peduli, TS =2 / tidak peduli, dst, selanjutnya akan saya hitung persentase yang memikliki total skor antara 30 s/d 54, 55s/d 78, 80 s/d 102, 103 s/d 126, 127 s/d 150 untuk mendapatkan kesimpulan efektivitas PLH dari sisi sikap? demikian juga mengenai partisipasi aktif, dapatkah dianalisis demikian?
Terima kasih
Ubah skala sikap menjadi skala “kepedulian terhadap lingkungan” (SP, P, AP, KP, TP –> P = peduli). Tinggi rendah kepedulian bisa diskor. Lainnya (partisipasi = tinggi rendah; pengetahuan = tinggi rendah) tentu bisa diskor. Selanjutnya gunakan analisis statisik yang sesuai! Jika skor ya skor, jangan jadi persentase!
terima kasih pak atas infonya,
Sama-sama
ass
kemaren saya disuruh ganti jenjangnya dari 5 ke 3
dimana yang 5 kemaren skalanya seperti ini : sangat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setujuh dan sangat tidak setuju. kalau di gantikan jenjang 3 bagaimana pak caranya ??
terima kasih
Setuju — antara setuju dan tidak setuju — tidak setuju. Kalau sikap: setuju — netral — tidak setuju.
terima kasih pak.
assalamualaikum pak..
dalam skripsi saya menggunakan skala likert dari, sangat tidak setuju (1) tidak setuju (2) ragu-ragu (3) setuju (4) sangat setuju (5) apakah ragu2/netral itu mempengaruhi kualitas dari uji validitas dan reabilitas ya pak ? soalnya ada beberapa informasi yang menyatakan begitu
apakah ragu2/netralnya saya hilangkan pak ? klo tidak usah dihilangkan apa alasannya pak ? skripsi saya ttg kecerdasan2 dan perilaku belajar trhdp tingkat pemahaman akuntansi , maaf banyak tanya pak
mohon bantuannya pak.
saya mau tanya, kbutulan saya sedang skripsi
terimakasih sebelumnya
skala likert yang ada netral itu untuk SIKAP. Variabel penelitian Ananda tidak ada sikap.
assalamualaikum pak, saya sedang menggarap skripsi. saya ingin bertanya, menurut bapak melihat judul skripsi saya “Persepsi Nelayan Desa Besuki terhadap Pemasangan Rumpon Milik Pribadi di Perairan Besuki” bisakah saya menggunakan skala likert? saya juga minta masukan dari bapak tentang judul saya ini. terima kasih.
assalamualaikum pak, judul TA saya kan pengaruh promosi dalam meningkatkan penjualan….. Kepentingan dan yg dirasakan ( sangat puas,puas,kurang puas,tidak puas) itu termasuk skala likert bukan pak???
terima kasih
Skala semacam likert, tapi untuk pendapat. Untuk menilai sebut saja skala penilaian (rating scale). Stop!! Kok, jadi puas tak puas? Kan promosi. Bisa intensitas promosi, bisa “komunikatif” (menarik, menjadi tahu dan paham dsb).
Assalamualaikum pak, saya mau nanya, untuk skala likert apabila untuk penyataan tentang frekuensi kebiasaan sehari-hari dalam satu minggu saya gunakan : Sangat sering, Sering, Kadang-kadang, jarang dan tidak pernah. nah untuk menentukan frekuensi kebiasaan tersebut dalam satu minggu untuk kriteria sangat sering, sering, kadang-kadang, jarang, tdk pernah bagaimana ya pak?
Itu bukan skala likert, hanya pilihan jawaban saja. Frekuensi dilihat dari umum dalam seminggu. Kalau makan kan 3x sehari itu dah pol. Tapi makan sate kambing mungkin hanya seminggu sekali atau sebulan sekali. Lha yang seminggu sekian kali itu dijadikan patokan. Jadi jangan gunakan sering tak sering, tapi jumlah (dalam angka). Misal ganti baju (mahasiswa biasanya seminggu tiga kali, hehehe…. kalau mahasiswi seminggu tujuh kali). Ganti celdal mungkin ada yang seminggu 14 kali, ada yang 7 kali, bisa juga ada yang 3 kali. hehehe
Permisi pak.
Perkenalkan saya Kifni, saya mahasiswa UNY juga dari FT.
Saya mau bertanya perihal kasus saya..
Rencana penelitian saya menggunakan kuesioner (kuesioner buatan orang skala 1 – 7 : Strongly Agree – Strongly Disagree), kemudian saya ubah skalanya menjadi 1 – 5 : Sangat setuju – Sangat tidak setuju). Apakah itu boleh menurut kaidah penelitian?
Kemudian berdasarkan jumlah responden dan juga jumlah item dalam kuesioner, saya buat interval nilai kuesioner, yang akan menentukan nilai kualitatif (sangat baik, baik, cukup, buruk, sangat buruk).
Perhitungan interfal sesuai dengan kaidah penyusunan interfal kelas (hanya saja jumlah kelas saya bulatkan supaya sama dengan jumlah pilihan jawaban pada kuesioner = 5).
Apakah hal itu diperbolehkan menurut kaidah penelitian?
Kuesioner yang digunakan adalah untuk menentukan kualitas sebuah produk. Dimana jawaban yang bersifat paling positif digambarkan dengan jawaban “sangat setuju” pada kuesioner.
Terimakasih sebelumnya.
Kalau kualitas produk, kenapa harus disetujui (larena ada netral) seperti sikap?! gunakan saja skala penilaian (rating scale). Produk dinilai jelek dan baik (1, 2, 3, 4, 5). Misalnya (motor) warna-warna cat yang digunakan (sangat jelek 1, sangat baik 5, sedang 3). Kelembuatan suara mesin (1 – 5). Keiiritan BBM (1 – 5). Lebih enak, kan?! Dengan begitu maka analaisisnya pakai rerata (means atau Xbar/X palang atas). Jika rerata berkisar 3,4 kan sedang, jika dekat 5 kan sangat baik.
mau tanya bapak,, kalo saya hendak menghitung tentang tingkat intensitas dengan skala likert 7,, bagaimana interpretasi per tingkatan skalanya ?? 1 apa, 2 apa, 3 dst apa ??
makasii
Lho, kok dibalik! Ya susun tingkatannya dulu, baru simbuli pakai angka skala. Coba tebak nilai hasil belajar 3,75 itu tinggi apa rendah? Kalau di SD ya rendah, sebab yang tinggi itu 10, kalau di PT ya tinggi, sebab yang tertinggi IP itu 4.00.
masalahnya gini pak,, (wah jadi curhat ini..) saya kan skripsi S1 ini pak.. pake jurnal acuan (atau lebih tepatnya replikasi) terbitan scientdirect yang kebetulan dsitu juga ada contoh kuisionernya pak.. dan dia pake skala likert 7 dan tidak ada definisi skala 1 sampe 7 nya itu apa… cuma ada keterangan (1=tidak pernah, dan 7=sangat sering) gt aja..
naah, karena itu sudah jurnal internasional,, yaudah saya langsung replikasi aja dg variable tambahan yang saya usulkan,,, g pikir panjang maslah skala likert…
setelah baca teori skala likert.. la kok ternyata harus ada definisi verbal nya pada masing-masing skala… nah saya kan bingung ini pak… kuisioner ud saya sebar dan ud komplit .. kbetulan juga saya ini melihat business to business relationship.. jadi susah bgt nyari responden nya pak. g mungkin juga saya ulangi nyari responden..
mohon pencerahannya bapak…
maturnuwun sanget..
Ya buat saja tiga ukuran pokok dulu : tidak pernah – kadang-kadang – sering = 1 – 2 – 3. Buat rentangan di antaranya dengan geser angkanya, tetap harus ada angka tengah-tengah yang disebut kadang-kadang. Jadi 1 – 2 – 3 – 4 – 5 (3 = kadang-kadang). 1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7 –> 4 = kadang-kadang. Nah, silakan lanjutkan! Angka 1 pasti tidak pernah, karena tidak pernah sama sekali pun tetap saja sama: tidak pernah. Tapi, mestinya tidak pernah itu angka 0. Jadi, angka 1 mestinya berbunyi sangat amat jarang sekali. Hehehehe. Dianggap tidak ada yang tidak pernah. Tidak ada orang yang tidak pernah marah, pasti pernah, gitu….
1=tidak pernah
2=pernah
3=jarang
4=kadang-kadang
5=sering
6=cukup sering
7=sangat sering
bagaimana seperti ini pak ??? apa menurut bapak sudah benar ???
Sering dan kadang-kadang itu PERNAH juga kan, ngapain ada pernah pada pomor 2?! Cukup sering dengan sering lebih sering mana? Hehehe… Kepana tidak menggunakan kata AGAK –> agak murah, agak malu, agak mendung ….
Pingback: Paradigma Penelitian Sosial « dianascyber
jika ingin mengidentifikasi dukungan keluarga terhadap pemberian asi dan dalam kuesioner berisi pernyataan-pernyataan yang harus dijawab ibu dengan skala mirip likert, yang kemudian hasilnya akan dibagi dalam 2 kategori yaitu mendukung dan tidak mendukung, nah di kuesioner sebaiknya menggunakan tidak pernah, kadang-kadang, selalu atau tidak pernah, kadang-kadang, sering, selalu.. misalnya pernyataannya “keluarga menjadwalkan ibu untuk menyusui”
Kenapa pengkategoriannya mendukung dan tidak mendukung, sementara pilihan jawabannya pernah tidak pernah? Itu namanya tidak valid.
asslamualaikum, mohon ilmunya pak, saya mahasiswa yg sdg meneliti ttg pgaruh motivasi trhadap prestasi belajar mahasiswa dalam bentuk nilai. motivasi diukur dgn skla likert sdgkan prestasinya diukur dengan interval, pertnyaannya bisa gk ya kita korelasikan kedua variabel tersebut? dan metode analisis datanya kayak mana pak?
makasih.
(1) Wah, harus benar dulu tuh istilah DIUKUR dengan skala likert dan DIUKUR dengan interval, maksudnya apa itu?!
(2) Coba dipelajari lagi, skala likert (sejenis, semacam, serupa skala likert) itu akan dinilai interval ataukah tidak.
(3) Kalau interval, ya korelasinya antara dua variabel interval (motivasi interval, prestasi juga internval). Jadi, cari teknik korealsi antara variabel interval!
ass pak..
penelitian saya menggunakan skala likert, variabel saya tentang pelayanan,.
pilihan jawaban dari kuisioner saya adlh , puas, cukup puas dan tidak puas.
dan saya memberi skor untuk masing2 jawaban tsb sbb:
1=puas
2=cukup puas
3=tidak puas
jadi yang mau saya tanyakan apa boleh saya membuat pilihan jawaban hanya 3 saja? dan bagaimana pengolahan datanya??
terima kasih pak, mhon maaf jika merepotkan
Itu bukan skala likert, melainkan skala penilaian. Analisisnya bisa persentase, bisa skor (kan nilai). Kalau pilihan cuma tiga, apa iya orang menilai hanya dengan tiga tingkatan?! Nilai di SD saja sampai 10!
Pak kalo kita pake skala likert SS,S,R,TS,STS untuk mengukur perilaku bisa gak?
Perilaku apa? Apa ada perilaku yang disetujui? Ada sih: sangat suka makan gule kambing atau sama sekali tidak suka (jika sangat suka, jawab SS).
selamat siang pa tatang.
saya chika, sedang mengerjakan skripsi mengenai perilaku konsumen. saya ingin menanyakan pa, kan saya menggunakan skala likert 1-5. lalu dosen saya menyuruh saya untuk melakukan analisa deskriptif pada jawaban responden. saya melakukannya dengan menjumlahkan seluruh jawaban per konstruk lalu dibagi 5. yang ingin saya tanyakan, bagaimana saya mengkategorikan hasil tersebut sebagai kecenderungan tinggi atau rendah? misal untuk variabel mengenai store image, rata2nya 3.57, apakah itu kecenderungan tinggi atau rendah? bagaimana cara kita mengambil titk tengah untuk menentukan pola kecenderungan?apakah bapak ada sumbernya? karena dospem saya amat sangat sumber oriented, hehe. terima kasih pa
Angka 1-5 itu skor apa simbul? Kalau skor, intinya kan 1 = rendah, 3 = sedang, 5 = tinggi–di antaranya “agak” (agak rendah, agak tinggi–atau ubah rendah = sangat rendah, tinggi = sangat tinggi; yang di antara = rendah/tinggi). Jadi, kalau bawah dibuat 0,5 – 1,5 dan atas dibuat 4,5 – 5,5 (bawah ditambah 0,5 ke bawah, atas ditambah 0,5 ke atas)–ketemulah tengah-tengahnya 2,5 – 3,5. Jadi, 3,75 termasuk kategori 3,5 – 4,5. Artinya?! Kalau simbul, gunakan persen. Persentase terbanyak memilih simbul angka berapa (masing-masing angka dipilih oleh berapa persen orang). Coba dibaca cara analisis data di blog. Untuk kategorisasi lebih tepat, coba dibuka buku statistik deskriptif, hal tendensi sentral.
Pak mw tanya,
1. bagaimana kalo respondennya ternyata tidak memberikan pendapat? Misalnya: dari 30 pernyataan yang diisi cuma 25 pernyataan, bagaimana perhitungannya?
2. Jika terdapat kasus 20% STS, 20% TS, 20% N, 20% S, 20% SS. Bagaimana menarik kesimpulannya?
terimakasih.
Tergantung, jika itu menghilangkan inti variabel, ya harus diulang. Persen ya sebutkan persen!
kang bisa gak kasih contoh konkritnya, (pake data gitu maksudnya), penjelasan tulisan kang Tatang yang ini ”
Pertama, dihitung banyaknya responden yang memberi nilai pada skor tertentu secara keseluruhan (seluruh butir pernyataan). Lihat yang terbanyak (mode) dari responden memilih pada skor berapa.
Kedua, hitung skor dari keseluruhan butir (responden yang menjawab dikalikan skor), lalu disusun reratanya. Rerata skor itu (bilangannya tentu akan 0 – 10) termasuk kategori tinggi atau rendah. Sebelumnya tentu sudah disusun kategorisasinya. Jadi, jika rerata skornya misalnya 7,76, angka 7,76 itu termasuk kategori rendah, sedang, ataukah tinggi? Ingat, skor terendah berapa, dan skor tertinggi berapa! Jadi, 7,76 dari rentangan skor 1 – 10 tentu termasuk tinggi (tapi tidak sangat tinggi, kan?!)
Terus terang saya agak mumet menterjemahkan tulisannya, Kalo ndak keberatan mohon di email saya (safudinbdl@gmail.com) kang Tatang.
Terima kasih sebelumnya
Ya dibuka buku statistik paling sederhana, atuh! Pada bagian tendensi sentral (mean, mode, median). Pasti deh banyak contohnya!
Terima kasih Pak Tatang, penjelasannya clear, sangat membantu untuk memahami penggunaan skala Likert. Salam kenal.
Kembali.
Ass, bapak perkenalkan saya Habib,
Saya ingin bertanya apakah skala likert dapat digunakan untuk kuesioner semi terbuka?
Skala likert ingin saya gunakan dalam analisis variabel pemahaman masyarakat terhadap bencana, hanya saja pertanyaan dalam kuesioner itu semi terbuka.
Mohon penjelasannya…
Terima kasih
Skala likert untuk sikap, bukan untuk pendapat apalagi menggali data terbuka. Mirip skala likert adalah skala penilaian (menilai sesuatu baik tidak, memuaskan tidak, dsb.)
Ada masukan tidak bapak untuk analisis variabel saya tersebut dengan kuesioner semi terbuka?
Skala likert itu kan opsi pilihan jawabannya sudah pasti (sangat setuju — sama sekali tidak setuju). Apanya yang akan semi terbuka? Kedua, kok jadi analisis variabel dengan kuesioner? Gak salah tuh?!!! Hehehe…. analisis mah atuh pakai statistik apa kualitatif!
wah, ini teknik yang bagus sekali pak. Peneliti-peneliti yang diselimuti kebingungan bisa bertanya langsung. Termasuk saya, =D.
Pak, dalam kasus penelitian saya. Saya mengembangkan produk pembelajaran. Yang saya ukur adalah sikap siswa terhadap model yang saya kembangkan dengan 4 skala (1-2-3-4). Tadi pada komentar sebelumnya saya membaca bahwa dalam pengembangan dinilai berdasarkan aspek. Jika sudah, bagaimana dengan pengolahan datanya. Kan ada 4 skala, apakah bisa digabung atau terpisah. Misal, jumlahkah semua skor yang diperoleh per item kemudian dibagi dengan skor maksimal. (Skor maksimal itu dari mana?)
Seperti diskusi sebellumnya jika direratakan antar pendapat yang setuju dan tidak setujua artinya bisa netral. Berarti dilakukan secara terpisah? Mksdunya per skala, yang mengatakan setuju berapa persen, sangat setuju berapa, tidak setuju berapa dan kurang setuju berapa persen. Mohon diluruskan pak.
Pertanyaan kunci adalah: kenapa produk pembelajaran harus disikapi? Yang disikapi apanya? Bahkan: kok bisa produk pembelajaran dikembangkan? Produk apa model? Kenapa model harus disikapi setuju atau tidak setuju, kenapa tidak dinilai baik atau jelek?
selamat malam pak,
saya sedang sedikit kebingungan dengan penelitian saya.
saya meneliti mengenai motivasi apa yg dimilik petani dalam berusahatani.
apakah skala likert dapat menjawab pertanyaan motivasi apa saja atau hanya menjawab tingkat motivasinya ya pak?
(1) Yang terpenting konsep motivasi dalam makna yang mana yang akan diteliti.
(2) Motivasi jenjangnya tinggi-rendah (variabel kontinum: interval)
(4) Tetapkan indikator motivasi tinggi-rendah
(3) Gunakan angket biasa berskor tinggi-rendah untuk mengungkap
(4) Jika motivasi merupakan jenis (motivasi, alasan apa), gunakan angket pilihan ganda–analisis persentase (banyaknya petani bermotivasi tertentu)
permisi pak…
saya mau menanyakan sesuatu..
di dalam skala likert kan ada pernyataan NETRAL, bila saya tidak menggunakannya di dalam kuesioner, argumen apa yang kuat untuk tidak menggunakan pernyataan NETRAL itu??
1. Kalau pendapat (opini) jangan pakai skala likert. “Anak muda jaman sekarang tak tahu sopan-santun” (SS – S – S/TS – TS – STS). S/TS bukan netral!
2. Kalau sikap (pro kontra, antipati simpati) ya pakai skala likert, karena itu ada yang NETRAL tak memihak (pro tidak, kontra pun tidak). “Anda setuju PSSI dibubarkan saja?” (SS-S-N-TS-STS) Anda boleh jawab N (netral) kalau Anda merasa dibubarkan silakan, gak dibubarkan pun mana gue pikirin!
3. Biar bersikap ekstrim S atau TS, maka N dihilangkan (disembunyikan, tidak ditanyakan, tidak diberi pilihan itu). “Anda setuju jika kawin siri dilegalkan saja saja?” Hayo, jangan “netral”!
Asalam kang,, perkenalkan nama saya okferdian, saya mahasiswa pertanian Unand yang lg menulis skripsi,, saya sudah mencari pengertian skala likert menurut para ahli tetapi susah banget ketemunya, mohon bantuannya.!! wasalam
Lha, ya dibaca buku-buku mengenai penelitian sikap, atuh!
assalaikum alaikum pak,,sy ira yang sedang menyusun skripsi.
saya mau tanya pak tentang skala penilaian, kan saya peneltianku pakai metode benchmarking, dan instrumen sy berupa checklist untuk menentukan jumlah (persentase) tiap variabel yang saya akan teliti.
variabel yang sy teliti di antaranya adalah SUPERVISI, jawaban dri tiap2 subvariabel SUPERVISI tsb ada 3 yaitu: 1=tidak ada, 2= ada, tidak sesuai dokumen, 3=ada, sesuai dokumen. nah, yg sy mau tnyakan adalah cara untuk menentukan persentase dari variabel SUPERVISI itu sperti apa? dan untuk pengkategoriannya sperti apa? (untuk skrg sy pake pengkategorianny ada 2 yaitu baik dan buruk).
saya sangt berharap atas bantuan pak tatang membagi informasinya.
dan sy berterima kasih atas jawaban dari pak tatang
(1) Yang ditanyakan ada dan tidak ada. Yang mau dicari jawaban baik dan buruk. Lho?!!
(2) Jika tidak ada itu jelak, dan ada tapi tak sesuai dokumen itu agak jelek, serta ada dan sesuai dokumen itu baik, jadi “nilainya” bagaimana? Kan yang jelek 1, yang agak jelek 2, yang baik 3! Kenapa jadi 2?
(3) Jika dinilai, kenapa dipersentase? Pakai “mean” (rerata).
(4) Nah, yang saya tidak tahu, supervisi versi Ananda yang mana? Memandori? Apa kaitannya dengan ada dan tidak ada/seusai dan tidak sesuai dokumen? Ah, yang ini bagian Ananda karena itu bidang Ananda, dan teorinya sudah Ananda kuasai.
aslmkm, wah pak saya merasa tertolong sekali ada blog ini, mohon bantuannya pak…
saya buat skripsi dengan judul “gambaran performa tutor dalam metode pembelajaran tutorial”
intinya mau melihat peran tutor yang telah dilaksanakan dengan baik dan yang belum dilaksanakan dengan baik, ada 7 peran, setiap peran memiliki beberapa item, saya menggunakan skala likert :
contoh satu pernyataannya : tutor mendengarkan seluruh pendapat mahasiswa dengan aktif.
1. apakah pilihan jawaban yang sebaiknya digunakan pak “setuju-sangat tidak setuju atau sangat baik-sangat kurang (menyatakan kualitas)?”
2. bisa gak pak nanti hasil penelitian nya itu bukan hanya persentase tiap item yg setuju dll, tapi juga nentuin secara keseluruhan peran tutor di tempat ini sudah baik atau belum baik atau
cukup dll? kalau bisa, bagaimana ya pak cara perhitungannya? Misalnya kalau 100% dikatakan baik, 20% buruk,
terima kasih banyak pak
Ganti aja skala-miriplikert (Likert-type scla), alias skala penilaian (rating scale). Jawabannya sangat baik – sangat jelek. Stem (pernyataannya): mendengarkan pendapat mahasiswa, menjelaskan materi, memberi contoh atau ilustrsi, dan seterunsya, dalam bentuk perbuatan. Atau pakai “cara”: cara tutor menjelaskan materi, cara tutor mendengarkan pendapat amahasiswa, cara tutor menanggapi pendapat mahasiswa. Karena rating scale, ya otomatis diskor. Gampang toh!
terima kasih pak ^_^, maap nanya lagi pak, saya sudah baca tentang rating scale, dari rating scale bisa mendapatkan skor akhir (performa tutornya baik atau buruk).. tapi pesentase per item pernyataan seperti skala likert tidak tergambarkan pak,
apakah bisa pak dalam penelitian menggunakan dua cara, skala likert dan rating scale??
sehingga nanti hasilnya tidak hanya menggambarkan performa tutor nya baik atau tidak, tapi juga menggambarkan persentase per item pernyataan, sehingga tahu peran mana yang masih harus ditingkatkan, terima kasih pak
(1) Lucu, dua skala digunakan untuk dua hal beda, padahal satu itu yang untuk semua itu tadi.
(2) Ya analisis aja per item, wong memang itu item-scale. Jadi akan ketahuan cara ngajarnya (saja) baik atau tidak, penguasaan materi (saja) baik atau tidak.
(3) Skalanya pakai angka skor enggak? Bisa enggak dihitung yang menjawab angka 1, 2, 3 , 4 , 5? Coba ubah f (cacah orang yang menjawab) jadi persen! Selesai, kan?!Lha, tapi persen itu untuk apa? kalau antara tiem kan bisa dengan rerata skor?!
Pagi pak tatang, saya anita. Ada 2 hal:
1. tentang skala interval dan ordinal. setuju-tidak setuju menurut saya bisa diintervalkan, dengan menghilangkan netral tentunya, atau menganggap netral sebagai “null”.
2. dengan rentang pilihan 1-10, apa maknanya kira2 jika seseorang menjawab “5″ untuk semua item? apakah hanya 2 kemungkinan: (1) tidak punya sikap; dan (2) menjawab sembarangan? atau saya salah?
terima kasih sebelumnya pak tatang. mohon pencerahan.
anita
(1) Pahami dulu apa ordinal apa interval, bukan persoalan setuju atau tidak setuju. Interval itu hasil penskoran atau hasil mengukur yang tidak punya nol mutlak (nihil), misalnya prestasi belajar. Yang punya nol mutlak (nihil, kosong), misalnya tidak punya isteri, punya satu, punya dua, punya tiga dst. atau tinggi tubuh dan berat badan serta panjang jalan (dari titik nol kilometer, misalnya, atau dari satu titik tertentu). Jadi tergantung yang diukur apa. Jenjang sekolah (SD, SMTP, SMTA, PT) itu gejala ordinal tak bisa diskor.
(2) Mulailah dari gejala, jangan dari angka atau bilangan. Angka 5 tak punya arti apa-apa kalau tidak jelas mewakili apa. Netral (pro tidak, kontra tidak) tidak sama dengan tidak tahu, tak bisa menjawab, apalagi menjawab sembarangan. Sikap netral (tidak memihak) bisa disimbulkan 0, tapi yang positif di atasnya (pro) disimbuli dengan +1, +2 dst, sementara yang di bawahnya (anti, kontra) disimbuli dengan -1, -2 dst.
(3) Jadi, hati-hati menggunakan skala likert, dalam makna yang mana! jangan dianggap jika setuju tidak setuju itu sama dengan skala likert!
(1) “Interval itu hasil penskoran atau hasil mengukur yang tidak punya nol mutlak (nihil), misalnya prestasi belajar. Yang punya nol mutlak (nihil, kosong), misalnya tidak punya isteri, punya satu, punya dua, punya tiga dst. atau tinggi tubuh dan berat badan serta panjang jalan (dari titik nol kilometer, misalnya, atau dari satu titik tertentu). (…………….) Jadi tergantung yang diukur apa. Jenjang sekolah (SD, SMTP, SMTA, PT) itu gejala ordinal tak bisa diskor.”
yang saya kasih tanda (…………….) kalimatnya belum selesai pak. mohon diselesaikan.
skala interval tidak punya nol mutlak, makanya saya usulkan setuju-tidak setuju bisa juga diintervalkan. misal sangat tidak setuju 1, sangat setuju 10.
oya saya pikir2 lagi, netral tidak bisa diberi angka. jadi jika diletakkan di tengah lalu diharafiahkan penghitungannya, diberi angka 3 dari 5 dst, itu salah menurut saya. netral adalah tidak menjawab.
(2) saya ga bilang angka 5 itu sama dengan netral pak. saya cuma bilang “5″.
(3) saya selalu berhati2 pak menggunakan skala likert. terima kasih remindernya.
Pak jika saya menggunakan skala likert dengan kategori:
Selalu
Sering
Kadang-kadang
Hampir tidak pernah
Tidak pernah
Dengan alasan kesesuaian pertanyaan angket berdasar data yang dicari adalah pengukuran fakta keefektifan. Skala likert dengan kategori tersebut bisa digunakan tidak Pak?
Mohon berbagi Ilmunya kembali Pak. Terimakasi.
Itu bukan skala-Likert, itu item-Likert. Jangan sebut skala Liket, skala pengukuran saja, skala untuk mengukur tingkat keefektivan. Pertanyaan pokok: apakah indikator (tanda) efektif itu selalu dan tidak pernah? Apa itu efektif? Nah, Ananda harus bisa jawab!
assalamualaikum pak
dalam penelitian saya, saya adopsi kuesioner peneliti lain dengan skala likert ya, tidak, ragu-ragu
boleh gak yaa kalo saya adopsi dengan tetap mencantumkan hasil uji validitas dan reliabilitas namun saya modifikasi dengan merubah skala likertnya menjadi sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju.
mohon pencerahan
Tergantung yang diteliti apa, sama apa beda, jika sama, kenapa harus dimodifikasi? Skala asli cuma tiga: ya – ragu-ragu – tidak, itu tidak sama dengan sangat setuju – setuju dan seterusnya. Lagian, apa sih yang disetujui dan tidak disetujui? Sama tidak dengan ya dan tidak?
Assalammualaikum pak tatang. nama saya khusnul.
saya mau tanyak pak. penelitian saya tentang aktivitas komunikasi yang terbagi atas komunikasi tatap muka dan komunikasi bermedia. saya menggunakan instrumen berupa kuesioner.
jadi jawaban dari masing-masing pertanyaannya berupa frekuensi seperti 1 kali, 2 kali,,,,,,, dst. saya ingin mengukurnya dngn sekala likert, penilaianya Tinggi, Sedang dan Rendah.
masalahnya di masing2 jawaban pertanyaan pasti ada yang tidak menjawab (0). jadi bagaimana cara menghitungnya pak?
mohon bantuannya pak tatang..
terimakasi..
Ngapain malah gunakan skala mirip likert yang tak cocok untuk itu? Ingat 1x, 2x, 3x, itu lebih ril daripada sering, jarang, kadang-kadang. Lalu, kenapa jadi tinggi, sedang, rendah? Yang tinggi itu apa, yang rendah itu apa? Tidak menjawab tidak sama dengan tidak pernah (nol, nihil). Tidak menjawab ya tidak menjawab. Hehehe…. Hati-hati juga mengukur tatap muka atau lewat media, 1x, 2x dst itu dalam kurun waktu berapa lama (berapa hari, bulan, tahun terakhir)?
yang menjadi tolak ukurnya dalam penelitian ini pak tinggi, rendah dan sedang. artinya tingkat aktivitas dari pada masyarakat itu tinggi, rendah atau sedang. gitu pak.
untuk kesemua aktifitas komunikasi tatap muka dan media itu di ukur dalam waktu selama 1 bulan pak.
nah, saya sedikit bingung ini pak, soalnya pertanyaan di kuesioner itu untuk masing2 poin dalam aktifitas komunikasi menggunakan frekuensi (1x, 2x, 3x,….. dst). dan klw misalnya saya memakai jawaban “sering, jarang, kadang-kadang”. itu bagaimana cara menghitung skornya pak. masalahnya pasti ada yang dijawab oleh masyarakat “tidak pernah” diantara beberapa poin pertanyaan mengenai aktivitas komunikasi ini pak. mohon di bantu pak,
apakah saya harus menggunakan frekuensi (1x,2x…) atau menggunakan jawaban sering, kadang2 dan jarang.
Makanya, jangan pakai skala-likert, skala aja. skalanya 0, 1 ,2 ,3 ,4, 5 kali. atau 0, 1-2, 3-4, 5-6, 7-8,9-10. Uji coba dulu, tertinggi berapa kali, baru buat intervalnya. angka itu sudah menunjuk bilangan skor, nanti tinggakl ubah ke tidak pernah sampai sering kali, atau aktivitas sangat rendah sampai sangat tinggi. Ulang, jangan gunakan skala likert, jangan sebut skala likert, skala saja! Skala itu ya seperti yang disebutkan itu contohnya.
Pak tatang, saya mau bertanya tentang skrpsi saya
Saya membahas perilaku pencegahan dengan kategori dalam kuisioner sering, kadang, tidak pernah
Kemudian untuk analisisnya perilaku pencegahan itu disebut baik, sedang, buruk, total pertanyaan ada 20, skala trtinggi 20, trendah 0, bagaimana saya menentukakn batasan baik,sedang dan buruk dengan skala likert??
Mohon bantuannya, saya bingung
Terima kasih pak
Kenapa pertanyaan/jawaban sering, kadang, tak pernah, diubah jadi baik tidak baik? Ya dipakai logika itu, kenapa?
aslkm,,,, apa kbr bpk yg slalu tdk pernh lelah membalas pertanyaan dr klien,,,,,
sya ad pertanyaan,,, sbelumnya pnelitian sya menggunakn 5 skla likert, kmudian stlh naik sminar yg netralnya di hilangkan saran dr dosen, dan mjd 4 skala likert,, yg ingin sya tnyakn adakah referensi dr para ahli untuk skala 4 , krna yg sering saya bca kebanyakn 5,,,,,,,, mhon jwbn dr bpk ,,,,trims-
Banyak, itu hanya agar responden mau menjawab esktrim, suka atau tidak suka, simpati atau antipati. Buka internet, pasti ketemu!
assalamualaikum…
yth. bapak Tatang, saya ingin meminta pendapat bapak mengenai skripsi saya…
Saya mengukur salah satu variabel penelitian saya dengan salah satu kuesioner dari Iran yang saya dapat dari salah satu jurnal internasional yang digunakan untuk mencari lima perbedaan perilaku. Penskorannya menggunakan 0-4 dari tidak pernah sampai sering sekali. Isi dalam jurnal tersebut sudah tertera validitas, reliabilitas, internal konsistesi, serta eigenvalue dari hasil faktor analisis (lengkap pokoknya pak.. hehe). Setelah saya bimbingan dengan kedua dosen pembimbing saya, dosen pembimbing 2 saya mengijinkan saya untuk langsung terjun lapangan, sedangkan dosen pembimbing 1 saya meminta saya untuk try out dahulu….
nah, saya jadi agak bingung pak…
mohon pendapatnya ya bapak Tatang. Apakah saya harus try out dahulu kuesioner tersebut atau langsung terjun lapangan? oh iya, dalam jurnal tersebut tidak tertera jenis item favorable/unfavorable untuk mencari skor tiap item… jadi untuk penskorannya apakah saya hanya harus menggunakan angka 0-4???
Terima kasih
(1) Perilaku di iran bisa jadi tidak sama dengan perilaku di Indonesia. Jadi, tergantung universalitas perilaku itu. Karenanya perlu dikaji cermati apakah cocok dengan Indonesia atau tidak. Itu mungkin alasan pembimbing kenapa diminta try out dulu.
(2) Skor itu hanya simbolisasi dari “kandungan item.” Jadi cermati item demi item, dan kenapa kandungan isi item opsi pilihannya tidak pernah – sering sekali.
(3) Tahukah Ananda, bahwa “sering” (kekerapan melakukan) untuk Ananda itu tidak sama dan sebangun dengan “sering” teman Anda dalam melakukan sesuatu? Maksudnya, bagi Ananda mungkin jarang minum kopi itu dimaksudkan hanya seminggu sekali saja tidak, tapi teman Ananda yang peminum kopi, jarang itu jika sehari hanya minum satu cangkir, wong biasanya tiga cangkir.
karena item pada kuesioner berisikan perilaku-perilaku tertentu pak. Kuesioner yang saya pakai digunakan untuk mengukur kecenderungan seseorang dalam berperilaku, masing-masing nomor item mewakili 5 tipe perilaku pak. Misalnya tipe A adalah item nomor 1, 4,6,14,19,23. Yang saya masih bingung, apabila saya mencari skor opsi jawaban pada tiap item dengan mengikuti konsep favorable/unfavorable, maka jika ada subjek yang menjawab “tidak pernah” pada item yang masuk dalam tipe perilaku A atau C yang notabenenya perilaku negatif dan tentunya kalimat item mengarah pada unfavorable, dia yang memang tidak pernah melakukan perilaku tersebut maka akan termasuk dalam tipe perilaku negatif itu pak, karena skor pada item yang dijawab tersebut “4″ (misalnya). Mohon pencerahannya lagi ya pak?
“Anda pernah galau?” (perilaku negatif): 0-tidak pernah, 1-jarang, 3-sering, 4-sangat sering. Jika 0 berarti tak pernah galau, kan?! Berarti dia tidak termasuk tipe orang suka galau?!!! Semakin sering seseorang berperilaku tertentu, berarti ia termasuk kategori perilaku itu. Cuma menebak. Apa sih yang dimaksudkan ananda dengan favorable/unfavorable (favorit tidak favorit–maksudnya preferensi pilihan kesukaan, atau intensitas melakukan—kenapa ada positif negatif dalam hal berperilaku). Lalu, pilihan jawabannya apa, cara penskorannya gimana, kenapa pula harus diskor?
Perilaku negatif ( – ), perbuatan negatif (- ). Min kali min kan berarti plus, kenapa jadi negatif???? Jadi orang tidak pernah mencuri (perilaku negatif) kan bukan pencuri (positif). Sekali lagi, saya tak paham perilaku yang diteliti (positif negatif itu seperti apa) dan bagaimana ananda mengukur perilaku itu. Jadi, ya tak bisa komentar pasti!!!
iya pak, kurang lebih seperti itu, semakin sering subjek memilih pernyataan perilaku tertentu dengan jawaban sering/sering sekali, maka ia termasuk dalam kategori tersebut. Perilaku positif dan negatif yang saya tulis saat itu hanya perumpamaan saja pak, sebenarnya ada lima kategori perilaku yang diukur dalam instrumen yang saya gunakan.
terima kasih banyak pak Tatang.
Terima kasih kembali
aslm, saya mau bertanya bapak.
dalam kuesioner saya, saya menggunakan skala likert 1-5.
sebenarnya saya tidak mengerti kenpa menggunkan skla 1-5.
menurut mas, apa alasan seseorang menngunakan skala likert 1-5?
apa kelebihan dan kekurangan jika dibandingkan dgn skala 1-3, 1-4, pun 1-7?
jika dalam sidang saya ditanya, mengapa menggunakan likert skla 1-5, kira-kira apa jawabn yang tepat bapak?
terimakasih banyaaaak
Lihat asal-usulskala “gradasinya.” Jika tinggi – rendah, skalanya cuma 2. Jika tinggi – sedang – rendah ada 3. Jika sangat tinggi – tinggi – sedang – rendah – sangat rendah, skalanya 5. Jika tambah ada teramat sangat tinggi – teramat sangat rendah jadi ada 7. jangan angka dulu, tapi “sakalanya” dulu. Nah, yang mana yang digunakan. Ingat jangan dibalik dari angka!
pak mau tanya bedanya skala likert dan rating scale apa yah?
Kan di tulisan sudah ada.
assalamualaikum, pak. salam kenal. Bagaimana jika saya menggunakan 6 skala likert untuk pada skala sikap. bagaimana rentang penilaiannya apakaah bisa dengan TH: 1, STS; 2, TS: 3, R: 4, S: 5, SS: 6 atau pilih STS, TS, KS, AS, S, dan SS (1-6). apakah dasarnya kita sebagai peneliti membuat skala likert tsb bisa 4, 5, 6, 7 dsb? apakah cukup dengan mengatakan untuk menghindari bias sosial dengan kecenderungan responden menjwb skala tengah, kmdn kita menghlgkan nilai tengah atau ada alasan lainnya? terima kasih
Mulai dari jenjang kategori umum (sangat baik- baik- sedang – jelek – sangat jelek), jangan dari angka dulu! Skala sikap tidak ada tidak tahu dan ragu-ragu!
Pak, saya ingin tanya. Apa artinya setiap item jawaban itu. Misalnya, lebih banyak yang “sangat setuju” atau yang memilih “tidak setuju” sebanyak 10 persen saja, bagaimana menafsirkannya. Salam
Dari 100 orang yang setuju makan rujak cingur ada 10. Jadi, simpulannya?!
Pak Tatang, maaf saya mau mohon bantuannya untuk tugas penelitian. Misalnya kita ingin menguji 3 produk untuk dinilai oleh 50 responden terkait kriteria: kemasan, rasa dan bau menggunakan skala likert (1-5, 1:sangat buruk, 5: sangat baik), uji apa yang bisa dipakai guna menentukan produk mana yang terbaik ditinjau dari (1) kemasan, (2) rasa, (3) bau dan (4) ditinjau secara keseluruhan? kalau misalnya ingin mengetahui kriteria mana yang menentukan, pakai uji apa ya?
Terimakasih atas bantuannya.
Hitung saja skornya, gunakan mean (rerata skor), lalu bandingkan, per item ataupun total.
mohon bntuan nya pak ,
saya mau bertanya kalau skala likert apakah perlu di uji lg validitasnya ?
validitas dilakukan untuk menguji isi yang akan diteliti, jika akan mengukur sesuatu, jadi tergantung yang diukur
mohon bantuannya pak..
saat ini saya sedang dihadapakan dengan pertanyaan dosen saya tentang skala yang saya gunakan dalam penelitian skripsi sya pak, karna saya menggunakan angket yang jawabannya
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang-kadang
4. Sering
5. Sangat sering
pertanyaannya apakah yang harus saya jawab atas pertanyaan dosen tersebut
terima kasih sebelumnya pak.
Lha, ananda menggunakan skala apa? Hehehe…. Kenapa harus disebut skala?! Sebut saja angket dengan opsi (pilihan) jawaban TP – J – KD dst. untuk mengukur ekkerapan (intensitas) melakukan sesuatu.
Pak….
saya mau bertanya….
Apakah perlu lagi di uji validitasnya, yang mau saya uji tentang persepsi, sikap dan partisipasi masyarakat terhadap program raskin?
Klo boleh tau pake uji apa ya???
THxB4
Konstruknya sudah benar belum? Definisi operasional untuk pengukuran sudah logis belum?
boleh gak pak untuk menguji persepsi sama partisipasi terhadap program raskin, pake pilihan sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju…?
Agak bingung pak membuat kuisionernya
mohon bantuannya pak…:)
Yang disetujui dan tidak disetujui itu apa? Ngapain memang selalu gunakan skala model likert, gunakan angket biasa, pilihan jawabannya ke bawah, isinya tergantung yang ditanyakan. Tanya aja dengan opsi jawaban lain, misalnya beras raskin termasuk baik atau tidak baik, penetapan orang-orang miskinnya adil apa pilih kasih…….