OBSERVASI dalam PTK: Apa Maknanya dan Bagaimana Melakukannya?

Tatang M. Amirin; 28 Maret 2010; 7 April 2010; 24 September 2010; Agustus 2012

[Amirin, Tatang M. 2010. “Observasi dalam PTK: Bagaimana Melakukannya.” tatangmanguny.wordpress.com.]

Sekali lagi–dalam tulisan lain sudah disinggung–observasi (observation) dalam bahasa metodologi penelitian itu mengandung dua macam pengertian. Pertama, bermakna sebagai penelitian atau pengumpulan data. Kedua, sebagai teknik khusus mengumpulkan data menggunakan alat indera (mengamati dengan mata, khususnya). Yang sering kali terjadi, observation hanya dimaknai sebagai teknik mengumpulkan data, tidak dianggap sebagai penelitian.

Dalam PTK (penelitian tindakan kelas) populer dipakai model  Kemmis dan McTaggart. PTK menurut Kemmis dan McTaggart mencakup empat kegiatan, yaitu: (1) planning atau perencanaan, yaitu merencanakan tindakan untuk mengatasi masalah, atau untuk meningkatkan keadaan sekarang, (2) action atau pelaksanaan tindakan, yaitu melaksanakan tindakan yang sudah dirancang, (3) observation atau penelitian, yaitu meneliti apakah tindakan yang sedang dilakukan itu (proses dan hasilnya) telah baik, (4) reflection atau pengkajian, yaitu menelaah, mengkaji, merenungkan, atau mengevaluasi tindakan yang sudah/sedang dilakukan (proses dan hasilnya) itu sudah berhasil dengan baik ataukah belum.

Jadi, yang harus selalu diingat oleh peneliti PTK, langkah-langkah melakukan PTK itu, setelah mengkaji situasi dan kondisi di kelas untuk mengidentifikasi, (mengenali, mendata, atau mencari dan temukan) masalah, adalah merancang tindakan, melaksanakan tindakan, meneliti tindakan, mengkaji tindakan. Semuanya berkait dengan tindakan.

Sekali lagi diingatkan, awal penelitian tindakan tidak harus dari mengidentifikasi masalah, bisa dari keinginan untuk meningkatkan, memperbaiki, atau menyempurnakan keadaan sekarang. Jadi, mengikuti istilah Prof. Zuhdan Koen Prasetyo (dosen FMIPA UNY), tidak harus (jangan selalu, melainkan hindari) mencari-cari kambing hitam kesalahan (masalah). Misal, jika selama ini guru mengajar hanya dengan menggunakan metode ceramah saja, itu dianggap salah atau kurang baik, lalu akan dicoba ditingkatkan dengan menggunakan metode yang bervariasi (bermacam metode digunakan). Jika selama ini guru mengajar hanya di dalam kelas saja,  contoh lain, dicoba diubah ditingkatkan dengan melakukan pengamatan lingkungan sekitar sekolah (menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar). Sumber belajar maksudnya segala sesuatu yang daripadanya murid bisa mendapatkan “pelajaran.” Atau, mungkin lebih tepat dengan sebutan menjadikan lingkungan sebagai objek belajar (sesuatu yang dipelajari). Kebun sekolah dipelajari. Sawah sekitar sekolah dipelajari. Pasar dekat sekolah dipelajari. Warung dekat sekolah dipelajari. Kebun sekolah, sawa sekitar sekolah, pasar dekat seolah, dan warung dekat sekolah bukan sumber belajar, melainkan onbjek pelajaran, yang dipelajari.

Kembali ke proses PTK, khususnya langkah ketiga (observation).

MENELITI (MENGOBSERVASI) TINDAKAN itu artinya meneliti jalannya tindakan yang kita laksanakan (sedang dan sudah dilaksanakan). Dalam PTK, itu akan berarti mencakup meneliti hal-hal berikut.

(1) Cara-cara yang digunakan untuk meningkatkan atau memperbaiki keadaan (masalah) sudahkah berjalan dengan semestinya. Misalnya, jika cara meningkatkan proses belajar dan hasil belajar murid itu dengan menggunakan alat peraga, maka diteliti apakah cara menggunakan alat peraga (bagaimana alat peraga itu digunakan untuk meragakan materi pelajaran) sudah berjalan dengan baik. Jika yang digunakan itu berupa belajar berkelompok (cooperative learning), diteliti apakah cara kerja murid dalam kelompok sudah baik, lancar, kooperatif dsb (nantinya akan direfleksi atau dievaluasi apakah cara mengelompokkan murid sudah  baik atau tidak). Jangan-jangan kerja murid-murid bekerja sendiri-sendiri di dalam kelompok, padahal kerja kelompok artinya bekerja bersama-sama, sama-sama bekerja sebagai satu tim.

(2) Alat bantu pengajaran yang digunakan apakah sudah tepat atau belum. Jika  menggunakan alat bantu pengajaran (alat pelajaran, alat praktikum, alat peraga, dan atau media) apakah alat-alat itu sudah tepat. Jelasnya, jika menggunakan alat peraga yang berupa peta, gambar, bagan, skema, benda tiruan, misalnya, diteliti apakah alat-alat itu sungguh-sungguh memudahkan murid “mengenalinya” atau memahami materi yang disajikan lewat alat peraga tersebut. Contoh konkritnya, diteliti apakah alat peraga itu dapat terlihat oleh semua murid, termasuk yang duduk di belakang (apakah terlampau kecil atau cukup besar). Jika menggunakan media (tayangan video, tayangan cd di komputer, memperdengarkan suara dari tape-recorder), diteliti apakah video/cd itu tayangannya bagus, suara pada tape jelas, dan tentu saja apakah isinya yang berupa pelajaran itu komunikatif (mudah “ditangkap” murid).

(3) Jika dalam PTK itu “dicecar” (akan ditingkatkan juga) aspek motivasi belajar, gairah belajar, minat belajar, kesenangan belajar murid dsb., maka diamati (langsung oleh guru, dengan mata kepala sendiri) perilaku murid-murid tersebut. Adakah di antara murid-murid itu yang pasif, yang terlongong-longong (ndlopong–Jawa) saja, yang asyik dengan dirinya sendiri, yang jenuh, dan sebagainya. Ataukah sudah semua murid tampak berseri-seri, semua bekerja-belajar dengan penuh semangat dan “senyum”? INGAT: DIAMATI LANGSUNG OLEH GURU, BUKAN OLEH ORANG LAIN!

Diamati sendiri oleh guru itu penting ditegaskan, sebab kerap kali ada kesalahan guru melakukan PTK meminta bantuan orang lain (teman guru) untuk mengamati (mengobservasi) cara dia mengajar. Ingat: yang diamati bukan cara guru mengajar, melainkan tindakan yang dilakukan guru (diobservasi = diteliti).Dengan kata lain guru mengamati proses murid-muridnya belajar, bukan cara guru mengajar!

Suka ada pertanyaan: Apakah perlu murid-murid diangketi? Untuk apa? Angket bisa menipu (dan bisa juga angket yang dibuat guru tidak valid/pas/tepat dan tidak komunikatif). Mengamati langsung, sambil sekali-sekali mengajukan pertanyaan tak kelihatan, bisa mengungkap apakah murid senang, suka, menaruh perhatian, dan sebagainya.

(4) Keberhasilan belajar murid. Aspek ini  sudah barang tentu DIOBSERVASI (diteliti) dengan menggunakan tes, entah tes tulis, entah tes lisan, entah tes perbuatan.

Tes itu ada yang disebut dengan tes formatif, yaitu tes yang dilakukan pada saat satu kesatuan kegiatan belajar-mengajar sedang berjalan. Jelasnya, dilakukan pada setiap “sesi” (pertemuan) penyampaian materi atau pokok bahasan atau subpokok bahasan tertentu, yang belum tentu per pertemuan sudah selesai dibahas satu subpokokbahasan.

Tes bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan lisan secara “purposive” (sengaja memilih beberapa siswa). Tentu, jika pelajarannya Matematika, tes itu akan berupa mengerjakan soal Matematika.  Tes dilakukan untuk mengecek apakah mereka sudah paham atau menguasai pelajaran. Jika pelajaran berupa keterampilan, dites apakah mereka bisa melakukan sesuatu perbuatan.

Jika tidak berupa perbnuatan mengerjakan tugas, untuk mengetes itu bisa dipilih secara “purposive” (tapi jangan mencolok) murid yang termasuk “bodoh” jika ingin tahu “murid sekelas” kira-kira sudah paham atau terampil tidak. Lewat “mengamati” anak yang bodoh, diasumsikan jika yang bodoh saja bisa, yang pintar” tentu lebih dari bisa. Bisa juga dari kelompok yang bodoh, yang rata-rata, dan yang pintar ada yang ditanyai. Dengan begitu akan tercerminkan apakah semua anak kira-kira sudah paham.

Ada pula tes sumatif, yang dilakukan nanti di akhir satu kesatuan materi (jika ada satu kesatuan materi). Misalnya satu pokok bahasan utuh. Jika tidak ada pokok bahasan tertentu, maka setiap satu kegiatan diakhiri dengan tes sumatif (ingat, dengan sampel purposive tadi, sudah cukup). Tes sumatif dilakukan pula  menjelang akhir PTK yang disesuaikan dengan  rancangan kegiatan pelaksanaan tindakan yang berupa beberapa kali pertemuan dengan tema atau topik yang sudah dirancang.

Perlukah dalam “observasi” itu ada orang (guru) lain yang diminta mengamati? Jika PTK itu merupakan individual classroom action research (penelitian seseorang guru secara mandiri), jawabannya TIDAK!

Ingat, yang diamati bukan cara guru mengajar, melainkan bagaimana tindakan guru (meningkatkan proses dan hasil belajar) berjalan. Guru menilai diri sendiri apakah sudah mengajar dengan baik ataukah belum dengan “merefleksi”  dari konsekuensi atau dampak guru mengajar [baca: melakukan tindakan] itu. Ini dilakukan melalui pengamatan (“observation,” penelitian) terhadap aktivitas murid, hasil kerja murid, kepahaman murid dsb. Jadi, jika murid-murid lesu belajar, itu tandanya tindakan yang diselenggarakan guru buruk. Jika murid-murid salah kerja, itu tandanya bahwa cara guru memberi tugas atau mencontohkan tidak bagus. Jika murid-murid masih tak paham juga (dicek lewat tes formatif), itu tandanya cara guru mengajar (melakukan tindakan) jelek.

Apakah dalam PTK perlu ada INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA? Pada prinsipnya PTK itu termasuk penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif  “instrumen pengumpulan datanya” itu si peneliti itu sendiri. Jadi, guru merupakan instrumen pengumpulan data. Perhatikan contoh-contoh bagaimanaa guru melakukan penelitian (observasi) di atas (mengamati, mengetes dsb). Satu-satunya instrumen penelitian yang digunakan, selain guru peneliti, adalah tes sumatif (butir-butir tes) hasil belajar yang dilakukan kepada semua siswa.

Guru peneliti PTK seyogyanya mempunyai buku catatan khusus (anecdotal record) untuk mencatat kejadian-kejadian “luar biasa (anecdotes) yang mungkin berupa murid yang lesu darah, murid yang “cuek,” kelompok yang tidak kompak dsb. Buatlah catatan kegiatan harian (jurnal PTK) untuk memudahkan membuat laporan (dan tentu saja untuk memudahkan membuat “refleksi”).

About these ads

2 thoughts on “OBSERVASI dalam PTK: Apa Maknanya dan Bagaimana Melakukannya?

  1. mf, sy mohon konsultasi. saya sedang buat tugas akhir tentang
    preferensi pasien rawat inap di 2 dua rumah sakit. Dalam setahun
    rata-rata pasien di rumah sakit A=2000, rumah sakit B = 3000. Lama
    waktu tinggal rata-rata tiap pasien = 5 hari. bagaimana penetuan
    besar sampel? pagaimana teknik pengambilan sampelnya?terima kasih penejelasanya

  2. mf, sy mohon konsultasi. saya sedang buat tugas akhir tentang
    preferensi pasien rawat inap di 2 dua rumah sakit. Dalam setahun
    rata-rata pasien di rumah sakit A=2000, rumah sakit B = 3000. Lama
    waktu tinggal rata-rata tiap pasien = 5 hari. bagaimana penetuan
    besar sampel? pagaimana teknik pengambilan sampelnya?terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s