SIKLUS Penelitian Tindakan Kelas

Tatang M. Amirin

Edisi 16 Agustus 2009

Siklus (putaran); rancangan tindakan; rancangan penelitian tindakan; rancangan kegiatan; pelaksanaan tindakan; observasi; refleksi; inkuari/diskoveri

Tulisan ini memperjelas mempertegas saja apa itu siklus dalam penelitian tindakan yang telah penulis paparkan dalam “Classroom Action Reserach” dalam blog ini. Soalnya mengenai ini kerap kali membingungkan sebagian besar orang yang akan melakukan penelitian tindakan kelas, khususnya dalam menyusun proposalnya.

Siklus (cycle) itu artinya putaran. Bayangkan kita sedang menghadap arah utara dengan memegang bendera merah, lalu kita hadap kanan mengarah ke timur dan melangkah lima langkah, lalu hadap kanan lagi arah selatan dan berjalan lima langkah, lalu hadap kanan lagi mengarah ke barat dan berjalan lima langkah, lalu hadap kanan lagi ke arah utara dan berjalan lima langkah. Kita akan berada di posisi semula, dan kita telah melakukan putaran satu kali putaran. Bendera merah kita letakkan.

Selanjutnya kita bawa bendera oranye (merah kekuningan)  di tangan. Lalu kita lakukan berjalan berputar lagi  seperti yang dilakukan pada putaran pertama, tapi kali ini dengan membawa bendera oranye. Kita sudah melakukan putaran kedua. Bendera oranye kita letakkan. Selanjutnya kita pegang bendera kuning. Lalu kita berjalan lagi memutar seperti tadi. Kita lakukan putaran ketiga. Bendera kuning kita letakkan. Kegiatan berjalan memutar selesai. Kita pegang bendera putih.

Dalam penelitian tindakan, dengan contoh berjalan memutar itu tadi, kita sedang berposisi menghadap utara, posisi I, sedang membawa bendera merah, tanda kita sedang BERMASALAH, atau menghadapi masalah. Lalu kita berjalan ke arah timur, MENCARI ALTERNATIF TINDAKAN yang akan kita gunakan untuk mengatasi masalah itu tadi.
Kita berhenti sejenak, menghadap ke timur, posisi II, MERENCANAKAN KEGIATAN MELAKUKAN TINDAKAN. Selanjutnya kita berjalan ke arah selatan, “menuju kelas” untuk melaksanakan (mengimplementasikan) rancangan tindakan tadi.

Kita berhenti sejenak menghadap selatan (posisi III), MELAKSANAKAN TINDAKAN DAN MENELITINYA (MENGUMPULKAN DATA TENTANG TINDAKAN). Selanjutnya kita berjalan membelok ke arah barat.

Kita berhenti sejenak mengarah barat (posisi IV). Kita lakukan olah dan analisis data, melakukan EVALUASI DAN REFLEKSI hasil pelaksanaan tindakan. Lalu kita berjalan lagi membelok ke arah utara.

Kita berhenti mengarah utara (posisi I lagi). Kita kaji cermati hasil evaluasi dan refleksi itu untuk menemukan MASALAH (kekurangan kelemahan pelaksanaan tindakan I). Tentu sudah ada hasil, tapi mungkin ada yang perlu diperbaiki (bendera belum putih, tapi tidak juga masih merah, berubah oranye, merah kekuningan). Dan seterusnya, sampai kita dapat BENDERA PUTIH, tanda masalah sudah teselesaikan.

Perhatikan bahwa bisa jadi pada putaran II pun kita masih memegang bendera merah, tanda kita benar-benar belum berhasil mengatasi masalah. Selain itu perhatikan benar bahwa PUTARAN II dilakukan setelah jelas ada “masukan” hasil refleksi dari PUTARAN I. Jadi PUTARAN II tak bisa dirancang direncanakan jika belum dilakukan putaran I. Bagaimana jika dengan satu kali putaran masalah sudah teratasi dan kita sudah bisa memegang bendera putih? Ya sudah, tak ada putaran II dan seterusnya.

Begitu sederhanakah? Sebenarnya tidak. Karena penelitian tindakan bukan sekedar pemecahan masalah. Bisa terjadi dengan SATU KEGIATAN masalah itu sudah terpecahkan. Tetapi kita masih perlukan keyakinan bahwa masalah itu benar-benar sudah tuntas, tas, tas, tas, tas, dan CARA MENGATASI MASALAH itu benar-benar dapat disebut RESEP yang kurang lebih terbaik setelah beberapa kali dicobakan. Kita lalu bisa mengatakan INILAH CARA TERBAIK MENGATASI MASALAH YANG ITU (di kelas itu, tentunya). Yang lain mau coba? Silakan, coba saja, siapa tahu manjur juga di kelasnya.

Jadi, jika kita menghadapi masalah di kelas, kita akan lakukan tindakan berulang-ulang agar yakin. Yakin terhadap proses (kegiatan, cara), dan yakin terhadap hasil (pemecahan masalah).

Bagaimana itu dirancang? Rancangan penelitian tindakan, bukan rancangan pelaksanaan tindakan. Mari kita perjelas.

Kita ingin meningkatkan prestasi belajar siswa (minimal rata-rata nilai 8 alias 80% dari soal tes bisa dikerjakan dengan benar). Ini lepas dari ada masalah atau tidak (sebenarnya ada kan, yaitu belum sampai nilai 8?!).

Kita ubah pernyataannya. Kita ingin siswa-siswa kita berprestasi tinggi (minimal rata-rata bernilai 8). Ini tidak merujuk akan adanya masalah, tapi pada keinginan akan keberhasilan belajar siswa. Bagaimana caranya? Kita pilih cara dengan memperbaiki metode mengajar atau proses belajar-mengajar. Ambil misal kita gunakan metode inkuari/diskoveri. Anak-anak akan melakukan penelitian sederhana (taraf anak SD) untuk dari berhubungan (kontak) dengan alam sekitar “menemukan” sendiri konsep-konsep tertentu dalam pelajaran IPA (biologi).

Agar tampak benar sebagai penelitian tindakan, maka kita pilih beberapa pokok bahasan dalam satu semester untuk dilakukan penelitian tindakan terhadapnya. Misalnya (saya terpaksa ngarang saja), pokok bahasan I tentang bagian-bagian tumbuhan, pokok bahasan II bagian-bagian bunga, pokok bahasan III bagian-bagian buah, pokok bahasan IV macam tanaman dilihat dari bijinya, pokok bahasan V bagian tanaman yang bisa dimakan.

Nah, ada lima pokok bahasan, dan semuanya akan diajarkan (anak dijadikan tahu) melalui kegiatan penelitian sederhana. Bagaimana merancang tindakannya? Kita susun dalam kegiatan-kegiatan PBM (bukan/belum berupa RPP!)

Kegiatan I, hari/tanggal . . . (bisa dalam beberapa pertemuan), pokok bahasan bagian-bagian tumbuhan. Aktivitas: anak ke “lapangan” (halaman sekolah, kebun sekolah, sawah atau ladang dekat sekolah). Anak dengan bimbingan guru mengamati tumbuhan. Anak dibagi dalam kelompok. Kelompok A mengamati pepohonan. Kelompok II mengamati palawija. Kelompok III mengamati tanaman hias. Kelompok IV mengamati rerumputan. Kelompok V mengamati tanaman yang menempel di pepohonan. Tiap kelompok ada anak yang pintar menggambar dan yang pintar menulis laporan (membuat kalimat). Anak mengamati tetumbuhan tesebut, tapi tidak boleh merusaknya, kecuali mengambil rumput liar. anak diminta menggambarkan (dan menggambar) bentuk tetumbuhan itu. Hari berikutnya anak-anak menceriterakan apa yang diamatinya di depan kelas 9dengan menunjukkan gambar yang telah dibuat. Dengam bimbingan guru anak menyebut (memberi nama) bagian-bagian tumbuhan. Rancang pula bagaimana hasil belajar mereka akan dicek (dites). Misalnya guru membuat gambar pohon yang bagian-bagiannya sudah diberi nomor, dan anak nantinya harus menyebutkan (menuliskan) nama bagian-bagian pohon sesuai dengan nomor itu (dengan bahasa Indonesia dan Jawa — kalau dikehendaki dwibahasa). Begitu pula gambar rumput, kadaka atau anggrek (tumbuhan yang menempel di pohon), palawija, juga rumput dan tanaman hias.

Kegiatan II, hari/tanggal …, pokok bahasan bagian-bagian bunga. Anak ke lapangan mencari bermacam-macam bunga. Kelompok sama. Bunga yang dicari juga sesuai dengan kegiatan I. Anak juga akan berceritera di depan kelas. Dan seterusnya.

Begitu seterusnya dirancang dengan pokok bahasan lainnya. Catatan: Kegiatan I, II, III dan seterusnya itu bisa disusun menurut pertemuan. Jadi bisa terjadi pokok bahasan I akan diselesaikan dalam tiga kegiatan (tiga pertemuan atau sesi). Sesi I (kegiatan I) di lapangan, kegiatan II mengerjakan laporan di kelas, kegitan III menyampaikan laporan di muka kelas, kegiatan IV juga masih menyampaikan laporan di kelas (karena kelompoknya banyak).

Nah, itu tidak mengatakan ada siklus. Tapi rangkaian kegiatan. Padahal dalam pelaksanaannya nanti, satu pokok bahasan itu akan berupa satu siklus. Dalam proposal kita belum lagi menyebutkan ada siklus. Kita sebut kegiatan. Penyebutan siklusnya nanti setelah pelaksanaan, karena harus ada refleksi dan perencanaan ulang. Artinya apa? Apa yang kita rancang sebagai kegiatan II nantinya dalam praktek akan kita sempurnakan cara pelaksanaannya.

Contoh: Saat anak-anak “bekerja di lapangan” (mengamati tetumbuhan, menginkuari, mendiskoveri) pada Kegiatan I,  guru melakukan observasi (pengumpulan data, penelitian, pengamatan) bagaimana anak melakukan kegiatan “penelitiannya.” Ada kesulitan apa yang mereka hadapi, ada kekisruhan apa yang mereka hadapi, bisa kerja sama dengan baik apa tidak, dan sebagainya. Begitu pula saat membuat laporan amatan dan penyajian laporan di muka kelas. Semua “data” itu direkam dicatat guru. Dan terakhir hasil tes, seberapa tepat atau benar mereka menyebutkan bagian-bagian tumbuhan. Sudah seberapa tinggi proporsi (persentase) menjawab benar, dan pada seberapa persen (banyak) anak yang bisa menjawab benar itu?

Dari hasil amatan guru  tentang proses “penelitian anak-anak” itu, maka pada Kegiatan II (dalam pelaksanaan akan jadi siklus II) dilakukanlah perbaikan-perbaikan. Misalnya perbaikan pembagian kelompok (penetapan anggota kelompok), cara melakukan amatan di lapangan, cara melaporkan hasil amatan, dan sebagainya.

Nah, itulah makna siklus versi saya. Ada siklus (dalam pelaksanaan tindakan), dan ada kegiatan (penggantian penyebutan siklus dalam proposal penelitian tindakan). Jadi, jangan memilih masalah yang sekali selesai untuk penelitian tindakan.

Mau ngutip? Tulis: Amirin, Tatang M. (2009). Siklus penelitian tindakan. tatangmanguny.wordpress.com.

About these ads

2 thoughts on “SIKLUS Penelitian Tindakan Kelas

  1. bahasa nya terlalu panjang dan bertele-tele, mungkin bisa lebih singkat, padat dan jelas. maaf cuma saran aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s