TEKNIK pengumpulan data (Bagian I: Data kuantitatif & kualitatif, pengukuran & observasi, dan definisi operasional)

Tatang M. Amirin; Edisi 9 Juli 2009; 20 Juli 2009; 15 Agustus 2009

Salah tanya, salah jawab; data, tujuan, masalah, dan permasalahan penelitian; fungsi ilmu/penelitian; sifat pendekatan penelitian; mengukur atau mengamati; definisi opersional; data kualitatif dan kuantitatif

1. Salah bertanya, salah jawabnya

nyaringumpulinKeberhasilan suatu penelitian sebagian besar tergantung pada ketepatan pengumpulan data penelitian. Ketepatan pengumpulan data penelitian sebagain besar tergantung pada ketepatan “cara bertanya.” Banyak kasus penelitian yang sangat amat lemah isi “instrumen” penelitiannya, sehingga hasilnya menjadi bukan saja tidak karu-karuan, melainkan sungguh-sungguh menyimpang dari makna hakiki “konsep” (variabel) yang menjadi objek penelitian yang sebenarnya.

Ini contoh (sekedar ilustrasi atau rekaan) yang ada dalam buku “Asking Questions” mengenai “lain cara tanya, lain jawab yang didapat.” Karena ilustrasi tersebut dalam konteks bahasa dan budaya “Inggris,” maka saya coba menerjemahkannya ke dalam bahasa dan konteks budaya Indonesia. Tentu saja jalan ceriteranya saya karang sendiri, hanya inti persoalannya yang sama. Begini kisahnya.

Dua orang santri remaja, Wahid dan Isnen, dari dua pondok pesantren, bertemu ketika pulang kampung. Pesantren mereka dekat-dekat saja. Yang satu di Santi Asrama, yang satu di Kalapa Dua, hanya empat lima kilometer dari rumah mereka. Tentu saja tidak tiap hari mereka pulang. Kan mondok.

Suatu ketika, saat ada di kampung itu, mereka asyik berdiskusi tentang kebolehan dan ketidakbolehan makan sambil berdoa, berdoa sambil makan. Tak kunjung ketemu jawaban yang mereka sepakati. Yang satu bilang boleh, yang satu bilang tidak boleh, dengan dalil-dalil logika mereka sendiri. Akhirnya mereka putuskan untuk menanyakannya pada kiyainya masing-masing.

Ketika pulang kampung berikutnya, mereka bertemu lagi. Satu sama lain salingtanyakan apa jawaban dari kiyai masing-masing. Santri Wahid menceriterakan bahwa kata kiyainya tidak boleh. Santri Isnen menceriterakan sebaliknya, katanya kiyainya menyatakan boleh. Mereka jadi pusing kepala. Kenapa dua kiyai yang ilmu fikihnya tinggi kok bisa beda menghukumi kasus tersebut.

“Sebentar-sebentar,” akhirnya Isnen mencoba mencari duduk perkara. “Kamu bertanya bagaimana kepada kiyaimu, hingga kiyaimu bilang tidak boleh?”

“Oh, itu. Aku tanya, apakah boleh ketika berdoa kita makan,” jelas Wahid. “Kalau kamu, bertanyanya bagaimana?”

“Aku sih bertanyanya apakah boleh ketika makan kita berdoa?” sahut Isnen. “Kata kiyai, boleh.”

“Ya, ya, ya . . ., tahu aku!” Tiba-tiba Isnen mengangguk-angguk. ” Jadi kita bertanyanya berbeda, ya! Boleh tidak ketika berdoa kita makan, itu pertanyaanmu. Jawab kiyaimu, tidak boleh. Aku bertanya, apakah boleh ketika makan kita berdoa. Jawab kiyaiku, boleh.”

“Lalu, memangnya kenapa?” Tanya Wahid penasaran.

“Boleh tidak ketika berdoa, makan. Boleh tidak ketika makan, berdoa. Gitu, lho! Kan beda. Berdoa sambil makan, dan makan sambil berdoa.” Jelas Isnen.

“Yang beda, apanya? Kan sama-sama berdoa dan makan?!” Sambut Wahid bingung tak mengerti.

“Ketika sedang berdoa, kita berhenti dulu, makan atau minum. Gitu lho. Itu pertanyaanmu, kan? Begini. Misalnya ketika kiyai sedang memimpin santri-santrinya berdoa membaca Alluhmmaghfir lil-mu’minina wal-mu’minat . . . kiyai berhenti, minum, lalu melanjutkan . . . wal-muslimina wal-muslimat . . . berhenti lagi, makan pisang goreng . . . selesai makan pisang goreng kiyai melanjutkan lagi . . .”

“Wah . . . ya jelas tidak boleh! Masak komunikasi dengan Allah sambil makan dan minum! Lagian santrinya ngamininya gimana? Sedang amin, amin, amin, lalu ikut berhenti, makan minum juga, gitu? Ya tidak khusyuk dong, doanya!” Timpal Wahid.

praying“Ya justru itu. Karena kamu bertanyanya boleh apa tidak ketika berdoa kita makan, ya jawabnya jelas, tidak boleh!” Jelas Isnen.

“Lha, lalu pertanyaanmu?” Tanya Wahid.

“Aku kan tanya, apakah boleh ketika makan kita berdoa.”

“Iya. Lalu, bedanya apa, kok kata kiyaimu, boleh?”

“Begini. Misalnya aku kamu beri nasi kuning untuk sarapan pagi, gratis. Lalu kita sama-sama makan nasi kuning. Nah, nasi kuningnya ternyata enak, ladzdzaaaaat (Santri tea, sudah tahu bahasa Indonesianya lezat, dikembalikan lagi ke asli Arabnya). Lalu, setelah mengunyah dan menelan sesuap, aku mengucapkan Alhamdulillah . . ., nasinya enak beneran. Alhamdulillah . . ., ada yang memberi sarapan gratis. Mudah-mudahan Allah memberinya pahala berlimpah.”

“Amin,” timpal Wahid, terbawa arus ceritera. Perasaannya ia benar-benar memberi sarapan nasi kuning kepada Isnen.

“Lalu,” lanjut Isnen, ” aku melanjutkan makan. Nah. . ., kan aku berdoa tuh sambil makan. Boleh, kan?”

(Setelah memikir sejenak) “Ya iya lah, boleh,” jawab Wahid.

“Apalagi kalau doanya aku lanjutkan Mudah-mudahan Allah membukakan pintu hati kebaikan orang yang memberi sarapan pagi ini, agar esok dan lusa, dan hari-hari berikutnya, mau memberi aku sarapan gratis lagi. Kan lebih boleh, toh?!”

Yeh . . . dasar, sia mah, pinginnya gratisan melulu!”

“Ha, ha, ha, ha . . . .”

Nah, begitulah ilustrasinya. Lain tanyanya, tentu lain jawabannya. Jadi, kesalahan mengajukan pertanyaan ketika mengumpulkan data (boleh saja berarti kata yang digunakan mempunyai makna ganda), akan memunculkan data yang salah juga.

Misal, jika Anda bertanya kepada mahasiswa UNY, “Apakah Saudara pernah meminjam buku di perpustakaan UNY?” Mungkin Anda dapatkan jawaban pernah, atau bahkan sering kali. Apakah itu berarti yang bersangkutan punya minat baca tinggi seperti yang Anda harapkan atau bayangkan (Karena topik skripsi Anda tentang minat baca mahasiswa UNY)? Bisa ya, bisa tidak. Bagaimana kalau pinjamnya karena meminjamkan pacarnya atau temannya yang mahasiswa PT lain untuk menyusun skripsi juga? Yang punya minat baca tinggi, jadinya siapa?

Coba jika Anda bertanyanya “Berapa banyak buku yang Saudara pinjam dari perpustakaan UNY untuk mengembangkan pengetahuan Saudara, bukan karena ditugasi dosen, dalam dua minggu terakhir?” Atau, “Berapa banyak buku ilmiah (yang bukan pegangan kuliah) untuk keperluan Saudara sendiri yang Saudara pinjam dari perpustakaan UNY dalam bulan ini?” Pasti jawaban yang akan didapat akan berkaitan dengan minat baca responden yang Anda tanyai, bukan minat baca orang lain.

Catatan: Kita anggap dalam hal ini Anda telah mendefinisikan secara operasional bahwa minat baca mahasiswa itu ditunjukkan oleh berapa banyak buku yang tidak berkaitan langsung dengan perkuliahan (yang bukan literatur perkuliahan) dibaca mahasiswa per minggu.

2. Mencari data apa [tentang apa]?

Sebelum memulai langkah mengumpulkan data, pertanyaan yang harus muncul di kepala kita adalah: Kita ini mau mencari data apa? Lebih tegas dan jelasnya lagi: Kita ini akan mengumpulkan data tentang apa?

Untuk itu pertama-tama sekali kita harus cek ulang tujuan penelitian kita itu apa? Mengecek tujuan penelitian artinya harus pula merujuk permasalahan penelitian: yang dipermasalahkan dalam penelitian kita apa? Sekedar pengingat (di bagian lain blog ini sudah disinggung–silakan baca “masalah dan permasalahan penelitian”). Namun demikian, siapa tahu Anda hanya baru membaca tulisan ini, kita coba sedikit mengulanginya.

2.a. Identifikasi masalah, permasalahan (rumusan masalah; pertanyaan penelitian), dan tujuan penelitian

Misal:

Masalah yang akan diteliti (“dibatasi” alias dipilih dari sekian banyak masalah yang sudah diidentifikasi) mengenai prestasi belajar (diukur dari hasil UAN) murid sekolah-sekolah yang berstandar internasional (SBI) yang rendah. (Masalah yang teridentifikasi bukan hanya itu, tentu). Kenapa dipilih? Karena prestasi belajar paling disorot oleh masyarakat, dan merupakan tujuan utama pendidikan di sekolah. Alasan seperti ini harus dimunculkan dalam pembatasan masalah. Dalam proposal mahasiswa jarang tertampakkan yang “ilmiah” seperti itu. Lazimnya yang muncul alasan klise, tradisional, konvensional, dengan menyebut “karena keterbatasan waktu, biaya dan sejenis itu.” Padahal, diminta membatasi masalah–oleh “ilmu metode” atau metodologi penelitian– itu memang karena ada faktor seperti itu. Yang dituntut sebenarnya alasan logis ilmiah, karena yang akan dilakukan penelitian ilmiah, seperti contoh tadi.

Apa yang dipermasalahkan mengenai masalah (prestasi UAN murid-murid SBI yang rendah) itu?  Pasti [Ini juga menuntut penalaran yang logis, yang ilmiah], akan terkait banyak sekali dengan proses atau kegiatan belajar mengajar. [Saya tidak menggunakan istilah "pembelajaran," karena repot memaknainya secara "deskriptif"; istilah tersebut bersifat "preskriptif" --apa pula "deskriptif vs preskriptif ini? Silakan dipikir sendiri, dah! Buka ensiklopedi, jangan cuma kamus tanpa penjelasan!].

Jadi, dipertanyakanlah mengenai PBM/KBM-nya. Mempertanyakan  itu disebut dengan pertanyaan penelitian. Pertanyaan penelitian (permasalahan penelitian) ini dalam penelitian survai dan sejenisnya disebut dengan rumusan masalah. Jadi, rumusan permasalahan atau rumusan masalahnya berbunyi, misal, antara lain (banyak kemungkinan, sih! Nanti ada contoh lain!) : Seperti apakah kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah SBI diselenggarakan?

Kata-kata “seperti apa” sengaja dimunculkan untuk mengganti kata “bagaimana” (“Bagaimana kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah SBI diselenggarakan?”) yang terlampau umum, sehingga lebih tampak ada penekanan (aksentuasi) tertentu pada aspek yang dipermasalahkan (sosoknya, penampakannya, polanya, modelnya, dsb).gotoschooleuy!

Dengan demikian, maka tujuan penelitiannya akan dirumuskan, misalnya, menjadi: “Mendeskripsikan penyelenggaraan proses/kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah SBI.” Istilah “mendeskripsikan” sengaja dimunculkan dalam rumusan tujuan penelitian untuk menggantikan istilah   “mengetahui” (“Mengetahui bagaimana proses belajar-mengajar diselenggarakan di sekolah-sekolah SBI”) yang konvensional. “Mengetahui” lebih pada perolehan langsung hasil penelitian untuk pribadi peneliti, sementara “mendeskripsikan” lebih bernuansakan pelaporan hasil penelitian untuk konsumsi umum (publik).

Nah, antara masalah, permasalahan (pertanyaan penelitian; rumusan masalah), dan tujuan penelitian sudah klop, “konform,” sejalan, selaras. Tegasnya: Masalahnya tentang prestasi belajar yang rendah. Permasalahan yang dipertanyakan aslinya mengenai kenapa rendah dan apa penyebabnya, tetapi kemudian dirumuskan (dengan menduga ada kaitan dengan PBM/KBM) rumusan masalahnya dengan bertanyakan mengenai penyelenggaraan PBM/KBM-nya seperti apa. Tujuannya dirumuskan sebagai nantinya akan mendeskripsikan penyelenggaraan PBM/KBM di sekolah-sekolah SBI itu wujudnya atau sosoknya seperti apa.

Nah, karena suka ada yang masih bingung tentang pertanyaan penelitian (PP) atau permasalahan penelitian atau rumusan masalah (RM) dalam kaitan dengan tujuan penelitian (TP), kita coba dengan contoh-contoh berikut:

1. RM : Seberapa rendah tingkat motivasi belajar siswa? TP : Mengetahui (mendeskripsikan) taraf motivasi belajar siswa.

2. RM : Apakah ada korelasi antara gaya mengajar guru dan motivasi belajar siswa? TP: Mengetahui (mendeskkripsikan, menguji) ada tidaknya korelasi antara gaya mengajar guru dan motivasi belajar siswa.

3. RM: Seperti apakah gaya mengajar guru-guru SD di Kabupaten Dimanatehteuing? TP: Mendeskripsikan gaya mengajar guru-guru SD di Kabupaten Dimanatehteuing.

4. RM (Pertanyaan Penelitian): Apakah jika menggunakan teknik STAD prestasi belajar siswa akan tinggi? TP: Mengetahui apakah penggunaan teknik STAD membuat prestsi belajar siswa tinggi. Atau, mendeskripsikan efektivitas penggunaan teknik STAD dalam pencapaian prestasi belajar siswa yang tinggi. — Ini contoh dalam penelitian tindakan kelas (PTK)

Apa jenis penelitian topik penyelenggaraan PBM/KBM di atas? Pasti “eksploratori” atau eksploratif. Kenapa? Tanya tulisan lain dalam blog ini! Bukan jenis penelitian deskriptif, kan tujuannya akan mendeskripsikan? Penyajian hasil penelitiannya yang deskriptif, pendekatan penelitiannya eksploratif. Lucu juga, ya? Membingungkan!

Oke. Kita singgung sebentar. Jadi, tentang data apa itu kita sisihkan dulu, kita masuk sebentar ke konsep awal dan dasar penelitian.

3. Fungsi penelitian/ilmu

Tujuan melakukan penelitian atau tujuan penelitian itu  sama dengan tujuan ilmu atau fungsi ilmu, karena fungsi (tugas) ilmu itu ditopang oleh hasil penelitian.  Jelasnya, yang “disajikan” ilmu itu hasil-hasil penelitian. Dengan kata lain fungsi penelitian adalah mengisi (memberi isi pada) fungsi ilmu.

Fungsi ilmu itu ada empat, yakni fungsi: (1) deskriptif, yaitu mendeskripsikan atau memaparkan atau mencandra fenomena alam dan sosial, (2) eksplanatif, yaitu menjelaskan hubungan sebab akibat antara X (sesuatu, faktor–faktor penyebab) dan Y (sesuatu yang lain, akibat, yang “diakibatkan” oleh faktor), (3) prediktif, yaitu memprediksikan atau meramalkan kemungkinan terjadinya atau munculnya Y jika faktor X diketahui dalam keadaan atau kondisi tertentu, dan (4) kontrol, mengontrol atau mengendalikan, yaitu mengendalikan terjadinya Y dengan melakukan treatment (intervensi) atau “manipulasi” (utak-atik dalam arti netral, tidak bernuansa negatif seperti menipu) terhadap X sebagai “penyebabnya.”

Prestasi belajar murid-murid dari golongan ekonomi lemah ternyata cukup tinggi juga, dan tidak berbeda dari murid-murid yang berasal dari kalangan ekonomi kuat. Itu contoh deskripsi (paparan keadaan) yang dilakukan ilmu. Kupu-kupu bermetamorfosa dalam empat tahap, yaitu kupu-kupu, telur, ulat, dan kepompong. Ini juga deskripsi fenomena. Proses manajemen-administratif terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staf, pengarahan, koordinasi, dan pengendalian (pengawasan). Ini juga deskripsi fenomena.

Hasil tes (ulangan) IPS murid-murid ternyata tinggi, rata-rata mendekati nilai 9, ketika guru mengajar menggunakan teknik “tebak tokoh” (ini rekaan saya), bukan ceramah. Itu contoh eksplanasi (penjelasan sebab akibat) yang dilakukan ilmu (faktor penyebabnya penggunaan teknik tebak tokoh, akibatnya hasil tes atau ulangan). Tingkat produktivitas karyawan menghasilkan hasil karya tergantung pada kemampuan (ilmu, pengetahuan, dan kecakapan keterampilan yang dimiliki) yang sesuai dengan karya yang harus dihasilkan dan motivasi kerjanya. Ini juga contoh eksplanasi fenomena (faktor penebabnya kemampuan yang tinggi, akibatnya produktivitas atau hasil karya).

Hasil tes kemampuan penalaran mahasiswa baru ternyata rendah. Jika dalam setiap ujian akhir semester para dosen menggunakan tes uraian yang menuntut jawaban berdasarkan pemikiran logis, dapat diperkirakan banyak mahasiswa yang tidak lulus. Ini contoh prediksi (peramalan, perkiraan) yang dilakukan ilmu. Pemimpin utama yang selalu mendominasi keputusan, menentukan kegiatan yang akan dilakukan menurut seleranya sendiri,  akan menyebabkan pemimpin-pemimpin tingkat menengah akan bersikap pasif dan tidak punya motivasi berkreasi. Ini juga prediksi.

Perkuliahan pada siang hari yang diberikan oleh dosen yang tidak humoris dan atau bersuara kurang dinamis lazimnya membuat mahasiswa ngantuk. Agar perkuliahan berjalan baik, dosen-dosen yang humoris dipasang memberi kuliah pada jam siang hari. Ini contoh kontrol (mengendalikan terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan, dalam hal ini mahasiswa mengantuk) yang dilakukan ilmu (dioperasionalkan oleh orang yang “berilmu”). AC hanya membuat udara di ruangan menjadi dingin, tidak memberikan ventilasi (pergantian udara), sehingga orang yang berada di dalamnya bisa kekurangan oksigen. Agar oksigen selalu cukup dalam ruangan, sekali-sekali jendela dan pintu ruangan dibiarkan terbuka. Ini juga contoh mengontrol fenomena.

4. Sifat/pendekatan penelitian terkait teori

Sifat atau pendekatan penelitian yang berkaitan dengan “teori” ada empat macam, yaitu akan menggali teori, sekedar memberikan gambaran situasi sekarang dari teori yang ada, menguji kebenaran teori, atau mengembangkan teori. Jadi,  berdasar ini, penelitian itu dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu penelitian yang bersifat: (1) eksploratori atau eksploratif, yaitu yang berusaha menggali sesuatu yang “sosoknya” belum diketahui benar-benar, bahkan sedapat-dapat menemukan “teori” atau “unsur teori” baru (konsep atau konstruk, misalnya); (2) deskriptif, yaitu meneliti sesuatu yang “sosoknya” sudah diketahui, tetapi sifat keadaannya (saat ini) belum diketahui (3) verifikatif, yaitu meneliti (menguji) kebenaran “teori” mengenai sesuatu atau beberapa “sosok” fenomena, dan (4) developmental, yaitu mengembangkan lebih lanjut teori-teori yang sudah ada.

Misal (berandai saja): Setelah flu burung dan flu babi, kini muncul flu anjing. Para ahli belum tahu benar apa penyebabnya dan bagaimana mencegah dan atau menanggulanginya. Maka dilakukanlah penelitian mengenainya. Ini penelitian eksploratori (eksploratif). Mahasiswa mengeluh, dosennya kalau mengajar hanya sekitar lima belas menit, setelah itu diberi tugas, dan dosennya tidak pernah kembali ke kelas. Pimpinan melakukan “penelitian” seberapa banyak dosen yang berperilaku seperti itu, pada program studi apa saja, apa penyebabnya, dan bagaimana dampaknya terhadap prestasi belajar mahasiswa. Ini contoh penelitian eksploratif juga (sosoknya belum diketahui).

Dari hasil ujian akhir semester (dengan tes objektif) diketahui sebagian besar mahasiswa mendapatkan nilai rendah (hanya berkisar sekitar C). Dosen (yang baik dan reflektif) mencoba “meneliti” pada soal mengenai apa saja umumnya mahasiswa salah menjawab. Dicek apakah soalnya terlampau sulit dipahami, sulit dijawab, ada kesalahan redaksi dan sebagainya. Jangan-jangan semua mahasiswa, yang bodoh ataupun yang pandai, sama-sama tidak bisa menjawab sesuatu soal yang sama (ini menunjukkan butir soal jelek, sebab tidak bisa membedakan yang pandai dari yang tidak pandai). Ini contoh penelitian deskriptif (sosoknya sudah diketahui, yaitu sebagian besar mahasiswa mendapatkan nilai rendah–alias tidak bisa menjawab benar). Yang diteliti (dan akan dideskripsikan) adalah ketidakbisaan menjawab benar itu pada soal yang mana, sekaligus dicek perkiraan ketidaktahuannya.

Secara teoritik (menurut teori) kepemimpinan yang otoriter akan menjadikan bawahan apatis atau agresif (suka memberontak, walau diam-diam). Peneliti melakukan eksperimen sekelompok karyawan dipimpin secara otoriter, sekelompok secara demokratis, sekelompok lagi laissez faire. Dicek apakah benar karyawan dari kelompok diotoriteri pimpinan menjadi apatis atau agresif.  Ini contoh penelitian verifikatif, menguji kebenaran teori yang sudah ada.

Dari hasil penelitian terdahulu diketahui bahwa tanaman yang mengandung zat tertentu dapat mengobati asam urat, kolesterol, diabetes, dan darah tinggi.  Tanaman itu tergolong “mahal” karena harus ditanam secara khusus. Peneliti mencoba mengecek tanaman-tanaman yang banyak tumbuh liar apa saja yang mempunyai zat serupa. Ini contoh penelitian developmental, mengembangkan teori (teori terapan atau “applied theory”) yang sudah ada.

Nah, jadi, ketika kita ingin tahu secara lebih mendalam seperti apa penyelenggaraan KBM/PBM di sekolah-sekolah SBI sehingga prestasi UAN-nya merosot (sekedar untuk contoh, berandai-andai), itu artinya:

(1) Pendekatan penelitiannya eksploratif, menggali “sosok PBM/KBM” yang tidak diketahui umum; bukan deskriptif atau memaparkan sifat keadaan sosok yagn sudah diketahui. Dengan deskriptif yang cocok dipaparkan adalah seberapa rendah (di bawah 5, di bawah4, atau bahkan di bawah 3) taraf merosotnya prestasi UAN tersebut, bukan PBM/KBM-nya yang sosoknya belum diketahui. Tentu juga tidak akan verifikatif, menguji teori. Verifikatif (dengan eksperimen) cocoknya untuk menguji kebenaran teori mengenai hubungan tinggi rendah prestasi belajar dengan faktor penyebabnya (contoh di atas proses PBM/KBMnya).

(2) Paparan hasil penelitiannya akan bersifat deskriptif (memaparkan seperti apa “sosok” KBM/PBM), tidak eksplanatif (menjelaskan hubungan sebab akibat KBM/PBM dengan yang lainnya). Karena hanya tentang PBM/KBM itu saja, tidak dikaitkan dengan faktor lain,  maka disebut deskriptif.

5. Definisi operasional, pengukuran & pengamatan, dan data kuantitatif & kualitatif

Kita buat judul baru (nomor 5) untuk mengulang nomor 2 di muka, karena terselingi oleh penjelasan ulangan tentang fungsi ilmu dan sifat pendekatan penelitian.

Kembali ke menghimpun data. Yang sedang dibahas mengenai ini adalah soal yang akan digali dihimpun itu data apa, atau data tentang apa. Dengan contoh masalah di muka, maka data yang akan digali adalah data tentang dalam wujud seperti apa KBM/PBM di sekolah-sekolah SBI itu diselenggarakan.

Sebelum lanjut, perlu dikemukakan bahwa ada “konsep/ide” yang menarik ihwal pengumpulan data. Ketika kita akan mengumpulkan data itu, kita akan melakukan pengukuran (measurement), ataukah kita akan melakukan pengamatan (observation). Apa itu maksudnya?

Mengukur (mencakup menghitung atau menjumlah) artinya menetapkan angka-angka ukuran (tinggi-rendah, luas-sempit, besar-kecil, banyak-sedikit, jauh-dekat, dangkal-dalam, penuh-kosong dan sebagainya). Objek yang bisa diukur tentulah objek (benda, sesuatu) yang–dalam bahasa saya–berbilang (bisa diukur dihitung-hitung, dijumlah-dikurangkan), atau dalam bahasa umum penelitian disebut gejala yang kuantitatif, walaupun aslinya gejala itu tidak berujud “bilangan.”

Motivasi kerja, misalnya, aslinya tidak berujud bilangan, setelah “diukur” bisa dibubuhkan kepadanya bilangan. Dalam bahasa penelitian kuantitatif lazim disebut dikuantifikasikan, dijadikan berbilangan (misalnya motivasi tinggi diberi bilangan skor 5, sedang 3, rendah 1).

Gejala (motivasi kerja)  seperti ini disebut sebagai gejala yang bisa diukur. Jadi, data tentangnya bisa dihimpun dengan pengukuran. Pengukuran adalah cara menghimpun data yang dilakukan terhadap gejala yang berbilang, yang kuantitatif atau yang bisa dikuantifikasikan, yang bisa diukur. Dalam penelitian kuantitatif lazim disebut dengan variabel kontinum. Tentang variabel, silakan baca tulisan lain dalam blog ini.

Selain gejala berbilang, ada pula gejala tak berbilang, yaitu gejala yang tidak bisa diukur-ukur atau dihitung dijumlah-dikurangkan. Dalam penelitian lazim disebut gejala kualitatif (quality dalam arti sifat atau keadaan, bukan mutu). Guru di sekolah-sekolah SBI mengajarkan materi pelajaran dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris, misalnya, merupakan contoh “sifat keadaan” yang tidak berbilang, yang kualitatif, yang tidak bisa diukur-ukur dihitung dijumlah-dikurangkan. Gejala- gejala seperti itu datanya hanya bisa dihimpun dengan cara mengamati (mengobservasinya) saja. Amatan (observation–dalam arti khusus)–adalah cara menghimpun data dari gejala-gejala yang tidak bisa diukur, dihitung dijumlah-dikurangkan. Hati-hati, observation di sini bukan dalam arti mengamati dengan mata (saja!), melainkan dalam arti menghimpun data (dengan wawancara, observasi, dokumenter dsb.).

Jadi, ada gejala atau fenomena yang bisa diukur (measurable), dan ada yang tidak bisa diukur, hanya bisa diamati saja (observable), tak bisa diukur atau dihitung.

Nah, berkenaan dengan ini, maka ada sesuatu yang harus dipertegas dan diperjelas. Ketika akan melakukan pengumpulan data, secara konvensional, umumnya mahasiwa S1, oleh dosen pembimbingnya, karena tradisi positivistik kuantitatif yang sebagian dosen–bukan pengajar metodologi penelitian–pernah “membuat skripsi” dengan tradisi tersebut, dan sampai sekarang pun masih menganggap itulah yang benar, suka diminta membuat definisi operasional.

Kita ulang lagi (Di tulisan lain dalam blog ini sudah ada lho. Silakan baca juga!). Definisi operasional dari sesuatu konsep/konstruk itu (dalam topik di atas konsep/konstruknya adalah “penyelenggaraan KBM/PBM”) diperlukan kalau pengumpulan datanya bersifat mengukur. Jelasnya, sesuatu objek penelitian (lagi, dalam topik di atas “penyelenggaraan PBM/KBM”) kalau akan diukur harus didefinisikan (ditegaskan) secara operasional. Definisi operasional artinya definisi (batasan pengertian, penegasan pengertian) sesuatu konsep/konstruk yang diutarakan dalam bentuk yang bisa diukur, yang bisa ditetapkan “nilainya” (tinggi atau rendah). Nah, kita ulang lagi, yang bisa diukur-ukur hanya variabel kontinum (variasinya berjenjang), yang hanya bisa dihitung-hitung variabel diskrit (variasinya pilah). Yang bukan variabel (tidak memiliki sifat bervariasi) tidak bisa diukur dan atau dihitung.

Contoh:

Minat membaca, seperti telah dicontohkan di muka,  bisa didefinisikan secara operasional, misalnya, sebagai kekerapan dalam kurun waktu tertentu membaca bacaan-bacaan yang bukan bacaan hiburan. Minat itu variabel kontinum (berjenjang: tinggi-rendah)

Yang dibatasi secara operasional ada dua. Pertama, yang diminati untuk dibaca “ukurannya” bukan bacaan hiburan. Jadi yang ilmiah atau ilmiah populer (buku pengetahuan). Dalam contoh di muka bahkan dibatasi lagi bukan buku wajib perkuliahan (yang ditugaskan dosen membacanya). Kedua, tinggi rendahnya minat baca ukurannya membaca buku dimaksud kerap atau tidak kerap (sekian “banyak” buku dalam sekian “waktu” tertentu, misalnya dalam hitungan minggu atau bulan).

Minat baca dikatakan tinggi jika ada sekian banyak buku yang dibaca dalam waktu tertentu, dan rendah jika sedikit buku yang dibaca. Karena bicara tinggi rendah yang bisa diukur dari “banyak” buku (satu, dua, tiga dst), maka datanya bersifat kuantitatif (saya suka mengatakan data berbilang, yang bisa diukur atau dihitung dijumlah-dikurangkan).

Nah, penyelenggaraan KBM/PBM tentu tidak bisa diukur, karena tidak ada nuansa tinggi rendah. KBM/PBM hanya bisa diceriterakan sifat, ciri, keadaan, atau ujudnya seperti apa. “Seperti apa” itu kan akan berupa “begini begitu” bukan satu, dua, tiga dst. Datanya dengan demikian lazim disebut data kualitatif (data sifat keadaan, bukan mutu; mutu bersifat kuantitatif  atau bisa diukur). Menghimpun data tentangnya tidak bisa menggunakan pengukuran (measurement), hanya bisa dengan pengamatan (observation).

Jadi, tidak ada (tidak perlu, tidak harus, bahkan tidak bisa, dibuat) definisi operasional bagi objek penelitian yang tidak akan (tidak bisa) diukur-ukur.

Lain halnya jika yang diteliti bukan sosok seperti apa, melainkan baik atau tidak baiknya penyelenggaraan PBM/KBM (dengan merujuk pada standar atau patokan tertentu). Baik-tidak baik sudah dengan sendirinya di dalamnya terkandung ada variasi (paling tidak baik – tidak baik; aslinya sangat baik — baik — tengah-tengah antara baik dan tidk baik — jelek — jelek sekali).

Contoh lain:

Setiap kali ada persoalan, warga masyarakat Kampung Adat selalu menyerahkan pemecahannya kepada Pupuhu, dan segala keputusan Pupuhu selalu diterima secara bulat, “tanpa reserve.” Apakah “data” tersebut bisa diukur (tinggi, apa rendah)?. Tidak bisa, ini bukan gejala berbilang, gejala “kuantitatif.” Ini, dalam bahasa umum penelitian, disebut data kualitatif. Ada juga yang menyebutnya data verbal, karena dalam kata-kata. Tapi kata-kata kan bisa menunjuk yang kuantitatif, misalnya “seribuan” lebih, “lebih banyak,” dsb.

Mau ngutip? Tulis: Amirin, Tatang M. (2009). “Teknik pengumpulan data (Bagian I: Data kuantitatif  & kualitatif, pengukuran & observasi, dan definisi operasional).” tatangmanguny.wordpress.com

About these ads

5 thoughts on “TEKNIK pengumpulan data (Bagian I: Data kuantitatif & kualitatif, pengukuran & observasi, dan definisi operasional)

  1. terma kasih banyak atas informasi nya, sanga bermanfaat bagi para pmeula seperti saya dalam menulis laporan penelitian.. mohon bantuannya juga.

  2. Alhamdulillahirabbil ‘alamin…….Terima kasih banyak pak Tatang, you are my new inspiration and best teacher, semoga blog ini terus berjaya dan memberikan manfaat yang seluas-luasnya pak, sehingga HABIS GELAP TERBITLAH TERANG DITEMUKAN DALAM BLOG INI…… salam kenal dari saya…..
    Muhammad Ahyar.

  3. bermanfaat sekali ini..numpang bookmark ya

    mau tanya dong,cara nentuin identifkasi masalah caranya gmana ya?apa identifikasi masalah sama rumusan masalah itu sama?
    makasih ya mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s