POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3: PENGAMBILAN SAMPEL DARI POPULASI TAK-TERHINGGA DAN TAK-JELAS

Tatang M. Amirin; Edisi 1 Juli 2009; 9 Juli 2009; 13 Juli 2009; 28 Juli 2009; 3 Februari 2011

Populasi tak terhingga; populasi tak jelas/pasti; quota sampling; purposive sampling; convenience/consecutive/opportunistic/incidental/accidental sampling; snowball sampling

Mengingat tulisan tentang sampel, samping, dan populasi penelitian ini dipotong-potong menjadi beberapa bagian, maka sebelum masuk ke pembahasan bagian ini, perlu dirujuk ulang secara singkat apa yang penting dipahami terlebih dahulu.

Pertama, dalam penelitian ada subjek penelitian, yaitu seseorang atau sesuatu, apa saja, yang tentangnya (sifatnya, keadaannya, “attribute”-nya) penelitian akan dilakukan. Sifat atau keadaan (“attribute”) subjek yang akan diteliti itu disebut sebagai objek penelitian. Jika subjek penelitian banyak, maka keseluruhan subjek penelitian itu disebut populasi subjek penelitian. Setiap subjek penelitian merupakan anggota populasi subjek penelitian. Pembedaan objek dari subjek penelitian tidak di semua buku ada. Di dalam tulisan ini sengaja dimunculkan, agar para pemula bisa memahami istilah subjek penelitian lebih tepat, tidak terkisruhkan dengan pelaku penelitian.

 

piece_of_mejpg

Kedua, ada kalanya penelitian, dalam arti pengumpulan data, dilakukan kepada/terhadap subjek itu sendiri, ada kalanya kepada/lewat orang lain. Siapapun yang “ditanyai” (dalam arti luas) mengenai sifat keadaan subjek penelitian itu, disebut responden penelitian. Jadi subjek penelitian bisa sekaligus menjadi responden penelitian, bisa juga tidak.

Orang lain yang ditanyai mengenai sifat keadaan subjek merupakan responden murni (maksudnya yang bukan subjek penelitian). “Responden murni” yang jumlahnya banyak disebut populasi responden penelitian. Populasi responden penelitian jadinya merupakan keseluruhan responden penelitian. Setiap responden disebut anggota populasi responden penelitian. Istilah populkasi responden penelitian juga tidak banyak dikenal. Tapi itu perlu dimunculkan agar juga para pemula tidak bingung.

1. Populasi tak terhingga dan tak jelas (tak pasti)

gambino-can-countPopulasi penelitian, apakah itu populasi subjek penelitian, ataukah populasi responden penelitian, ada yang jumlah anggotanya bisa dan mudah dihitung, ada yang tidak bisa atau tidak mudah dihitung. Oleh karenanya populasi penelitian dibedakan (oleh Penulis) menjadi tiga kategori. Pertama populasi terhingga, kedua populasi tidak terhingga, dan ketiga populasi tidak jelas atau tidak pasti. Ini pun murni “kreasi” penulis, agar memudahkan para peneliti.

Populasi terhingga adalah populasi yang anggota-anggotanya sangat mungkin dan bisa dihitung. Terhingga artinya ada hitungan tertentu, bisa dihitung jumlah atau banyaknya. Sebaliknya, tak terhingga artinya tidak bisa dihitung jumlah atau banyaknya. Ini seperti kalau orang mengucapkan, “Hutang budi kami kepadanya sungguh tiada terhingga.” Jadi, populasi tak terhingga adalah populasi penelitian yang jumlah anggotanya tidak bisa atau tidak mudah dihitung.

Pengambilan sampel dari populasi terhingga telah dibicarakan di tulisan lain sebelum ini. Teknik-teknik sampling yang telah dibicarakan, yaitu teknik simple random sampling, systematic sampling (teknik ordinal), stratified random sampling, cluster random sampling, dan area random sampling, semuanya berkaitan dengan populasi terhingga.

Oleh karena itu yang akan dibicarakan berikut adalah teknik pengambilan sampel (teknik sampling) dari populasi tak terhingga dan tak jelas atau tak pasti.

Seperti telah disebutkan pada uraiana terdahulu, populasi tak jelas atau tak pasti adalah populasi yang keberadaan dan jumlah anggotanya tidak diketahui secara pasti, tidak jelas keberadaan dan jumlahnya. WTS, sebagai contoh, dapat diketahui umum keberadaannya–karena ada tempat-tempat tertentu yang biasa mereka ada di situ, akan tetapi tidak pasti banyaknya (tak bisa “dihingga”–karena sebagian tidak diketahui juga keberadaannya).

Di sisi lain, orang yang kawin siri, yang, walaupun “diketahui adanya” karena ada banyak ceritera dan kabar berita tentangnya, akan tetapi keberadaannya saja pun tidak diketahui secara pasti di mana, apalagi jumlahnya. Itu contoh populasi tak jelas atau tidak pasti. Contoh lain adalah keluarga yang sejahtera (sakinah, mawaddah, dan rohmah). Pasti ada yang demikian, tetapi di mana (keluarga yang mana saja) dan berapa jumlahnya, tak jelas, tak bisa dipastikan.
Berikut akan dibahas berbagai hal yang berkaitan dengan populasi tak terhingga dan tak jelas serta sampel dan teknik pengambilan sampelnya.

Sebagai catatan, teknik-teknik yang akan dipaparkan ini bisa atau mungkin juga digunakan untuk mengambil sampel dari populasi terhingga, akan tetapi tentu akan menjadi “jelek” sekali representativitasnya, sehingga hasilnya (untuk generalisasi) menjadi tidak bisa dijamin keakuratannya.

2. Teknik-teknik nonprobability sampling

Seperti telah disebutkan, populasi (populasi subjek dan atau responden penelitian) tak terhingga adalah populasi yang jumlah anggotanya tidak bisa atau tidak mungkin dihitung, sehingga tidak diketahui secara pasti berapa jumlah anggota populasi tersebut, sedangkan populasi tak jelas atau tidak pasti adalah populasi yang keberadaan dan jumlah anggotanya tidak jelas atau tidak bisa dipastikan jumlahnya.

Oleh karena anggota populasinya tidak diketahui secara pasti siapa saja dan berapa banyak, maka tidak mungkin mengambil sampel dari populasi tersebut secara adil, memberi peluang yang sama kepada setiap anggota untuk terambil menjadi sampel (probability sampling), atau mengambil sampelnya secara acak (random sampling). Oleh karena tidak memberi peluang yang adil, yang sama, kepada setiap anggota populasi untuk menjadi sampel, maka teknik-teknik pengambilan sampel dari populasi tak terhingga dan tidak jelas ini dikelompokkan ke dalam rumpun nonprobability sampling, yaitu cara pengambilan sampel yang tidak memberi peluang yang sama kepada setiap anggota untuk terambil sebagai sampel, atau nonrandom sampling (cara pengambilan sampel yang tidak acak).

Apa saja teknik-teknik sampling (pengambilan sampel) yang nonprobability (nonrandom) itu, dan kapan atau terhadap populasi yang seperti apa cocok digunakan, akan dibahas satu per satu, disertai contoh penggunaan agar mempermudah yang akan menerapkannya dalam praktik.

3. Quota sampling

 

Teknik quota sampling adalah teknik pengambilan sampel dengan cara menetapkan jumlah tertentu sebagai target yang harus dipenuhi dalam pengambilan sampel dari populasi (khususnya yang tidak terhingga atau tidak jelas), kemudian dengan patokan jumlah tersebut peneliti mengambil sampel secara sembarang asal memenuhi persyaratan sebagai sampel dari populasi tersebut.

Pada uraian terdahulu telah disebutkan bahwa penetapan banyaknya sampel yang akan diambil dengan quota sampling berbeda makna dan teknis dari penetapan jumlah sampel pada populasi terhingga. Pada populasi terhingga penetapan jumlah sampel yang akan diambil itu lazimnya bersifat “proporsional,” setidak-tidaknya memperhatikan “besaran atau banyaknya anggota populasi), sehingga sebanding atau mendekati sebanding jumlah anggota dalam populasi (bahkan selalu seiring dengan heteroginitas populasi), karena jumlah anggota populasi jelas hitungannya. Oleh karena jelas hitungan anggota populasinya, maka untuk representativitas, pengambilan sampel biasanya menggunakan persentase.

Pada quota sampling banyaknya sampel yang ditetapkan itu hanya sekedar perkiraan akan relatif memadai untuk mendapatkan data yang diperlukan yang diperkirakan dapat mencerminkan populasinya, tidak bisa diperhitungkan secara tegas proporsinya dari populasi, karena jumlah anggota populasi tidak diketahui secara pasti tadi. Quota sampling pasti, karenanya, nonrandom sampling.

Contoh:

Peneliti ingin mengetahui apa yang menjadi latar belakang (motivasi, niat) yang sesungguhnya dari para orang tua ingin menyekolahkan anaknya pada sekolah tertentu. Para orang tua di sini dimaksudkan mereka yang memiliki anak usia sekolah tertentu dan belum masuk ke sekolah tersebut (bukan orang tua murid, melainkan orang tua anak usia sekolah).

Keinginan para orang tua itu tentu bisa benar-benar dilaksanakan, bisa pula tidak. Kenapa? Jika sekolah itu sekolah yang termasuk elit, mungkin saja ada orang tua yang dalam hatinya ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut, tetapi tidak bisa karena tak mampu dan alasan lainnya. Jadi, keinginan (motivasi, niat) itu sebenarnya ada, tapi tidak hendak (karena tidak bisa atau tidak mungkin) diaktualisasikan (diwujudkan).

Dengan “status” seperti itu maka jumlah populasi orang tua tersebut menjadi tak terhingga, karena orang tua anak usia sekolah yang “berkeinginan” itu bisa tak diketahui secara pasti. Ini berbeda dengan jumlah orang tua yang benar-benar mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut, yang bisa dipastikan jumlahnya akan terhingga, bisa dihitung, karena tercatat sebagai pendaftar (lebih-lebih yang benar-benar anaknya diterima).

Oleh karena berkeadaan seperti itu, maka peneliti dapat menetapkan besaran “kuota” sampel yang akan diambil dengan memperhitungkan yang mendaftar dan perkiraan banyaknya yang sebenarnya berkeinginan tadi. Jelasnya: Jika yang medaftar ada 200 orang–yang diterima mungkin hanya 90 orang–berapa kira-kira yang tidak mendaftar tetapi berkeinginan?

Catatan:

Jika penelitian ini melibatkan orang tua anak usia sekolah yang benar-benar mendaftarkan anaknya dan yang tidak mendaftarkan anaknya (tetapi berkeinginan tadi), maka ada dua subpopulasi dari populasi orang tua anak usia sekolah yang berminat mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut, yaitu (1) yang benar-benar mendaftar, dan (2) yang potensial (ada keinginan) mendaftar tapi tidak mendaftarkan anaknya.

Dari yang mendaftar (karena tercatat, jumlahnya pasti, jadi merupakan subpopulasi terhingga) tentu dapat diambil sampel dengan teknik-teknik probability sampling. Sampel yang akan diambil dengan quota sampling adalah sampel dari para orang tua yang berkeinginan tetapi tidak mendaftar.

Apabila penelitian dilakukan jauh hari sebelum masa pendaftaran dilakukan, maka populasinya secara sekeluruhan bersifat tak terhingga (hanya ada “satu” populasi, tidak terdiri atas “dua subpopulasi”), karena yang mendaftar belum ada. Oleh karenanya maka sampelnya dapat diambil dengan teknik quota sampling.

4. Purposive sampling

Istilah purposive sering diterjemahkan bertujuan, karena purpose artinya maksud atau tujuan; jadi purposive sampling diartikan sebagai pengambilan sampel secara bertujuan. Ini benar, tapi tidak betul. Beberapa definisi sering menyebutnya sebagai pengambilan sampel “with purpose in mind” (dengan tujuan atau maksud tertentu di hati). Tetapi tujuan tersebut tidak jelas (tujuan apa?). Itu makanya disebut benar tapi tidak betul, karena tak jelas.

Kalau membuka kamus (buka kamus yang “besar” semisal Oxford Advances Learner’s Dictionary), akan tertemukan bahwa memang salah satu arti purpose adalah tujuan. Tapi tentu dalam hal ini bukan itu yang dimaksud, karena tidak ada pengambilan sampel yang tidak punya tujuan, apalagi menelitinya. Jika dibaca lebih cermat kamus tersebut, maka akan ditemukan arti lain dari purpose, antara lain kesengajaan (“intention”), tidak sekedar secara kebetulan (“accidental“); juga berarti alasan (“reason“) tertentu; dan juga tuntutan keadaan tertentu (the requirements of a particular situation) atau, jelasnya, menurut persyaratan tertentu.

Jadi, dapatlah dikatakan bahwa purposive sampling adalah pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan. Dalam bahasa sederhana purposive sampling itu dapat dikatakan sebagai secara sengaja mengambil sampel tertentu (jika orang maka berarti orang-orang tertentu) sesuai persyaratan (sifat-sifat, karakteristik, ciri, kriteria) sampel (jangan lupa yang mencerminkan populasinya).

Misalnya yang diperlukan sebagai sampel adalah “perempuan pengguna sepeda motor tipe laki-laki (bukan bebek dan sejenisnya)”–karena yang sedang dicari (jadi, populasinya) adalah perempuan-perempuan pengguna sepeda motor tipe laki-laki. Hati-hati, populasinya bukan semua pengguna sepeda motor, sepeda motor jenis atau tipe apapun. Hati-hati pula, bukan “pengguna motor: kasus perempuan pengguna motor laki-laki.” Juga hati-hati: bukan pengguna sepeda motor laki-laki: kasus perempuan. Populasinya semua perempuan pengguna sepeda motor laki-laki (artinya, atau definisi operasionlanya: perempuan yangselalu atau sering kali jika bepergian menggunakan sepeda motor jenis itu, apapun yang menjadi latar belakangnya).

purposive

Dalam kasus tertentu, Penulis lebih suka menyebut purposive sampling dalam istilah bahasa Jawa sebagai teknik pengambilan sampel secara “njujug“, “menuju langsung ke “tempat” (area, wilayah, lokasi) tertentu yang banyak anggota populasi dimaksud berada.

Jadi, KE…….JAR terus di mana pun sampel berada!

Contoh:

Jika ingin meneliti anak-anak jalanan, datangilah (untuk mengambil sampel) perempatan-perempatan jalan raya. Kenapa? Karena di situ anak-anak jalanan sering melakukan aktivitas ngamen dan meminta-minta. Jadi, jelas tidak perlu dengan teknik area sampling (area geografis dan atau administratif). Maksudnya, memilih-pilih (menyampel) area, lalu dari area-area tersampel itu dicari anak-anak jalanannya. Muspro, mubazir, gitu kira-kira. Sebab, bisa jadi dari area tertentu malah tak tertemukan anak jalanan itu.

Jika ingin meneliti “ayam-ayam kampus” (maaf lho, karena ini sudah “populer” alias diketahui “populi” atau orang banyak) contoh lainnya, datangilah tempat-tempat yang biasa dipakai “praktek lapangan” mereka, bukan di kampus [Dimarahi Rektor, nanti, hehe. Tentu juga, jangan tanya saya di mana mereka ngetem, tentu saja, hehe! Mana tahu?! Eh, belum tahu, belum berkepentingan, sih. Hus, untuk penelitian, maksudnya, bukan kepentingan lain!Heheh . . . Tanya "informan"-nya saja, lah! Informannya siapa, gak tahu juga aku!]. Nah, jadi, lalu, ambillah sampel mereka di atau dari tempat mangkalnya itu.

Dengan cara seperti itu, maka:

(1) Tuntutan mendapatkan sampel yang sesuai atau pas (yang termasuk anggota “anak jalanan” atau “ayam kampus”) pasti tecapai.

(2) “Secara sengaja” (baca: terencana; purposive) mencari anggota populasi “njujug langsung ke tempat tertentu” punya alasan logis, karena jelas lebih efektif dan efisien, daripada mencari-cari ke mana-mana yang belum tentu menemukan apa yang dicari.

Ambil contoh Anda akan meneliti kasus tawuran pelajar. Sudah diketahui umum bahwa yang suka tawuran itu hanya dari beberapa sekolah tertentu saja (antar sekolah tertentu). Jadi, secara sengaja (purposive) Anda lakukan perburuan (hunting) sampel murid yang suka tawuran ke sekolah-sekolah tertentu itu saja, tak perlu semua sekolah dimasuki, atau disampel. Di sekolah itu saja pun mungkin Anda harus cukup lama berakrab-akrab dulu dengan murid-murid sebelum mendapatkan sampel para petawur itu. Jangan begitu datang langsung “to the point” (togmol, kata orang Sunda) mencari dan mewawancarai petawur. Bisa terjebak, salah “tangkap,” dan mendapatkan informasi yang bias. [Hehehe . . ., maaf, jangan suka main "tangkap dulu urusan belakang" kayak oknum polisi-polisi yang tidak profesional--ditangkap, dianggap teroris, lalu dilepas, tak terbukti! Bikin trauma dan stres orang saja!].

Ada pula yang memberi makna purposive sampling itu sebagai pengambilan sampel secara sembarang asal memenuhi persyaratan. Jadi ini akan sama dengan opportunistic (incidental, acidental) sampling. Misal dalam polling (jajag pendapat) seseorang peneliti (observer) mencegat orang-orang yang lewat untuk ditanyai. Barangsiapa sesuai ketentuan (kriteria sampel) maka langsung diambil sebagai sampel, yang tidak memenuhi kriteria dibiarkan lewat. Sekali lagi, cara seperti itu lebih lazim disebut dengan opportunistic (accidental, incidental) sampling (mengambil sampel siapa saja yang kebetulan pas untuk menjadi sampel).

Dalam penelitian kualitatif sampel lazim diambil secara purposive. Ini juga maknanya sama, yakni “njujug,” hanya saja yang dijadikan “jujugan” (tujuan) bukan tempat, melainkan orang (subjek/reponden penelitian). Jelasnya, yang “dituju” adalah orang-orang tertentu yang (dengan alasan atau latar belakang logis) memenuhi persyaratan (tuntutan persyaratan) sebagai “responden” (yang dapat memberikan jawaban atas pertanyaan penelitian). Ini hampir mirip dengan informan (narasumber) penelitian. Jangan lupa, bedanya, informan tidak memberikan informasi pribadi, melainkan informasi kelembagaan. Sampel penelitian kualitatif yang purposive tadi, tetap memiliki ciri individual, pribadi. Artinya, keindividuannya itu yang diteliti. Ia tidak mewakili kelembagaan (apapun lembaga, organisasi dsb).

Purposive sampling suka juga disebut judgmental sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan “penilaian” (judgment) peneliti mengenai siapa-siapa saja yang pantas (memenuhi persyaratan) untuk dijadikan sampel. Oleh karenanya agar tidak sangat subjektif, peneliti harus punya latar belakang pengetahuan tertentu mengenai sampel dimaksud (tentu juga populasinya) agar benar-benar bisa mendapatkan sampel yang sesuai dengan persyaratan atau tujuan penelitian (memperoleh data yang akurat).

Berapa banyak sampel purposif diambil? Rumusnya sederhana: sebanyak yang dianggap cukup memadai untuk memperoleh data penelitian yang mencerminkan (representatif) keadaan populasi. Maksudnya, data dari sampel purposif tersebut dianggap sudah bisa menggambarkan (menjawab) apa yang menjadi tujuan dan permasalahan penelitian. Tentu tidak bagus kalu cuma satu dua orang. Sebanyak mungkin jauh lebih baik. Angka pasti? Tidak ada. Perhatikan perkiraan “anggota populasi” yang ada di “area” (contoh: tempat mangkal anak jalanan dan ayam kampus tadi) ada berapa banyak, lalu ambillah sebanyak mungkin).

Hati-hati dengan kasus “ayam kampus.” Bisa jadi ini termasuk jenis populasi tidak jelas atau tidak pasti (tidak jelas keberadaannya dan tidak pasti jumlahnya). Dalam kasus ini gunakan teknik sampling untuk populasi tak jelas/tak pasti (uraian berikut).

5. Convenience, consecutive dan incidental (accidental, opportunistic) sampling

Istilah convenience sampling sering disamamaknakan dengan incidental sampling dan accidental sampling. Convenience artinya mudah atau kemudahan atau kenyamanan (dalam arti tidak memberikan kesulitan atau kesusahan). Incidental artinya tidak secara sengaja, secara kebetulan, atau sampingan (bukan yang pokok atau utama). Accidental artinya (salah satu yang cocok dengan pengambilan sampel) adalah tidak secara sengaja, atau secara kebetulan. Opportunistic artinya juga secara kebetulan. Jadi, incidental, accidental, dan opportunistic mempunyai makna yang sama. Consecutive juga mempunyai makna yang sama.

Convenience sampling maksudnya mengambil sampel yang sesuai dengan ketentuan atau persyaratan sampel dari populasi tertentu yang paling mudah dijangkau atau didapatkan. Misalnya yang terdekat dengan tempat peneliti berdomisili. Consecutive sampling juga artinya sama, hanya lebih tinggi derajatnya sedikit daripada convenience, yaitu semua yang bisa terjangkau diambil sebagai sampel. Dengan convenience hanya sekedar dapat yang mudah didapat.

Incidental (accidental, opportunistic sampling) maksudnya mengambil sampel secara sembarang (kapanpun dan dimanapun menemukan) asal memenuhi syarat sebagai sampel dari populasi tertentu.

Jadi, sebenarnya antara convenience/consecutive sampling dan incidental (accidental, opportunistic) sampling ada perbedaan, yaitu pada convenience sampling pengambilan sampel secara sengaja (sengaja yang mudah), sementara pada incidental (accidental, opportunistic) faktor kesengajaan tidak menjadi pokok, faktor kebetulan justru yang paling menonjol (mencari-cari sampai secara “kebetulan” mendapatkan sampel yang dikehendaki). Akan tetapi semuanya mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama menempuh cara yang relatif paling mudah, yang tidak menyulitkan. Hanya saja pada incedental (accidental, opportunistic) sampling kemudahan itu dilihat dari sudut “asal menemukan yang memenuhi ketentuan atau persyaratan,” sementara pada convennience sampling faktor kemudahan itu dilihat dari keterjangkauan (tempat dan hubungan).

Jadi, ketemu pegang! Maksudnya, jika menemukan yang sesuai kriteria, pegang (ambil) sebagai sampel.

kena deh lu!

Contoh:

Seorang peneliti ingin mengetahui partisipasi orang tua murid dalam meningkatkan prestasi belajar anak-anaknya. Peneliti mengambil sebagai sampel tetangganya, temannya, kerabatnya, sejawatnya, dan kenalannya yang semuanya termasuk kategori “anggota populasi penelitian” (dalam hal ini orang tua murid). Ini termasuk convenience sampling, pengambilan sampel dengan cara yang paling mudah, paling tidak sulit, paling nyaman.

Peneliti lain ingin mengetahui bagaimana komentar mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (FIP UNY) mengenai tampilan dan isi Tatangmanguny’s Blog. Tentu yang jadi populasi adalah mahasiswa yang pernah membuka blog tersebut, tidak semua mahasiswa FIP UNY. Mencarinya tentu tidak mudah. Populasinya tak terhingga. Harus ditanya satu per satu. Jika ada yang kebetulan pernah membukanya, jadilah pertanyaan dilanjutkan, dan para mahasiswa tersebut terambillah jadinya sebagai sampel (opportunistic, incidental, accidental samples).

ken adeh jadi sampelku

Berapa banyak sampel yang akan diambil? Sama dengan contoh purposive sampling di atas, yaitu sampai merasa dari sampel yang terjaring tersebut cukup mendapatkan gambaran (kejelasan) jawaban permasalahan penelitian. Angka pasti? Juga tidak ada.

6. Snowball sampling

Orang-orang, terutama anak-anak, di daerah bersalju, suka bermain-main dengan bola salju (snowball). Bukan lempar-lemparan, melainkan menggelindingkan bola salju itu dari bukit ke lembah, ke bawah. Bola yang digelindingkan hanya sekepalan tangan. Pada ketika menggelinding itu, ada salju yang ikut menempel ke bola sekepal tadi. Makin ke bawah jadinya makin banyak salju yang menempel, dan makin membesarlah bola salju tersebut.

gulung bolasalju

Pengambilan sampel dengan teknik snowball sampling gambarannya seperti menggelindingkan bola salju sekepalan tangan anak tadi. Di ketika populasi penelitian tidak jelas keberadaannya, dan tidak pasti jumlahnya, temuan satu sampel saja sudah sangat amat berarti. Dari sampel pertama itu dicarilah (diminta informasinya) mengenai “teman-teman” sampel lainnya.

Nah, sebentar, perlu didefinisikan dulu apa itu snowball sampling, karena definisi itu diperlukan untuk dikutip mahasiswa (siapapun yang akan meneliti, tentunya).

Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel dari populasi yang tidak jelas keberadaaan anggotanya dan tidak pasti jumlahnya dengan cara menemukan satu sampel, untuk kemudian dari sampel tersebut dicari (digali) keterangan mengenai keberadaan sampel (sampel-sampel) lain, terus demikian secara berantai.

gulung salju 1

gulung salju 2

Ambil contoh akan meneliti para pengguna narkoba. Jika sudah tertemukan satu orang pengguna, dari orang tersebut digali infomrasi siapa saja teman atau teman-temannya yang

sama-sama suka mengkonsumsi narkoba. Dari temannya tadi dicari lagi informasi siapa teman atau teman-teman lainnya. Begitu seterusnya, sampai sampel dirasa cukup untuk memperoleh data yang diperlukan, atau sampai “mentog” sudah tidak terkorek lagi keterangan sampel lainnya siapa dan di mana, atau sampai data yang diperoleh dipandang sudah cukup memadai untuk menjawab permasalahan penelitian.

[ Tulis di Kepustakaan: Amirin, Tatang M. (2011). "Populasi dan sampel penelitian 3 : Pengambilan sampel dari populasi tak-terhingga dan tak-jelas." tatangmanguny.wordpress.com]

About these ads

222 thoughts on “POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3: PENGAMBILAN SAMPEL DARI POPULASI TAK-TERHINGGA DAN TAK-JELAS

  1. wah…cakep gan…gue jg post tentang metodologi penelitian…
    gw uda ngelink kesini mas…dilink balik y mas…
    numpang promo hehehe…(metodologiBK.blogspot.com

    hormat saya sama yg empunya..
    metodologiBK.blogspot.com

  2. assalamu’alaikum,,,
    pak artikel yang ini, lanjutannya artikel yang pengumpulan data bag1 ya???trimakash…

  3. pak, saya ayu mahasiswa undip.
    mohon bantuannya pak, saya mau penelitian skripsi di sebuah kecamatan. saya agak bingung bagaimana pengambilan sampel’nya.
    saya mau pakai judgment( karena saya tidak mendapatkan jumlah populasi’nya).
    yang ingin saya tanyakan, d kecmatan itu kan ada beberapa kelurahan, apa ada peraturan khususnya?
    dalam arti, walaupun memakai judgment, apakah pembagian jumlah sampel tiap kelurahannya harus imbang?
    atau saya tidak usah memikirkan jumlah sampel per kelurahan?
    terima kasih pak.
    mohon balas ke email saya pak.

  4. mohon bantuan pak,,
    untuk survey mahasiswa di 2 universitas,,metode sampling yang tepat apa ya pak?
    trima kasih sebelumnya

    • Hehe, pertanyaan mas apri ini kelewatan baca. Itu berarti ada dua cluster. Di tiap cluster (PT) ada fakultas (subculster). Di tiap fakultas ada jurusan/prodi (subsubcluster). Di tiap prodi ada angkatan (strata). Nah, tujuan penelitiannya mau apa, mau mendapatkan data apa. Berdasarkan itu maka sampel diambil. Ada cluster, ada strata.

  5. Pak, saya bener2 dapat info tentang populasi tak hingga dari tulisan Bapak.
    tapi saya jadi agak ragu2, jangan2 saya salah mengerti..

    saya melakukan penelitian dengan responden auditor..
    1. beberapa kantor saya tanya jumlah auditornya saja tidak mau menjawab oleh karena itu saya tidak tahu jumlah populasinya –> saya anggap jumlah populasi tak hingga, apakah sudah benar?
    2. saya batasi auditor non partner dan sudah bekerja minimal 1 tahun –> saya menggolongkan ke purposive, apakah sudah benar?

    mohon pencerahan… (tolong dijawab di email ya Pak)
    terima kasih

    • Dijawab di sini saja, biar terbaca juga oleh umum. Banyak manfaat dari pertanyaan yang dijawab, yang lain jadi bisa belajar juga. Mudah-mudahan saya bisa menjawab benar. Jika jumlah auditor seluruhnya tak bisa diketahui, ya populasi tak terhingga namanya. Itu benar. Jika dibatasi hanya mereka yang nonpartner dan sudah bekerja minimal 1 tahun, ya populasinya mereka itu (auditor nonpartner yang telah bekerja setahun lebih), auditor lainnya tak masuk populasi. Cari, temukan auditor yang berkarakteristik seperti itu (nonpartner sudah kerja setahun lebih), lalu “tangkap” (pegang untuk ditanyai) Nah, itu namanya opportunistic/accidental/incidental sample. Tidak ada populasi purposif, Mbak Titin. Sekali lagi, yang Mbak Titin batasi itu itulah populasinya.

  6. Pak mohon bantuannya.. Saya sedang mengerjakan skripsi.. Tetapi saya masi tdk mengerti tentang populasi tdk d ketahui.. Saya harus menulisnya gmn pak.. Saya sudah menentukan populasi 300 sampel menjadi 75 responden.. Judul skripsi saya opini pelanggan tentang pelayanan customer service.. Tp it smua msi salah.. Saya bingung pak.. Mohon bantuannya dengan sangat pak.. Dan bls pertanyaan saya.. Trimakasih

    • Populasi terhingga (terhitung, countable) itu yang jumlahnya diketahui secara pasti (walau mungkin hanya sekedar agak mendekati). Misalnya jumlah penduduk sekabupaten (ini sulit tepatnya, tapi jelas aada hitungannya). Lebih-lebih jumlah murid di satu sekolah.
      Populasi tak terhingga itu populasi yang sulit menghitungnya, tetapi jelas keberadaannya. Misalnya pengguna (pemakai) sabun Gift di Indonesia (jelas ada yang pakai, tetapi yang pakai itu berapa orang, tak mudah diketahui atau sulit menghitungnya).
      Populasi tak jelas itu populasi yang sebenarnya ada, tetapi keberadaannya di mana, dan jumlahnya berapa, tak diketahui, atau tak mudah mengetahuinya. Misalnya (ekstrim) tukang jagal manusia dan suka memutilasinya. Itu kan jelas ada. Tapi siapa saja dan di mana saja, tak tahu, kita.
      Nah, pelanggan produk (layanan) tertentu itu masih jelas ada sosoknya dan keberadaannya, tetapi tidak jelas jumlahnya. Jadilah kita sebut sebagai populasi tak terhingga (Kalau sudah jelas ada 300 itu namanya populasi terhingga–tapi, apa ya betul pelanggannya hanya ada 300, tak tambah tak kurang?). Jadi, karena tak terhingga, ya tidak diketahui anggota populasinya itu berapa banyak. Pengambilan sampelnya menggunakan teknik-teknik nonrandom (nonprobabilistik): accidental/incidental/oopportunistic, snowball, quota dsb.

  7. Pak Tatang, terima kasih sekali atas jawaban pertanyaan saya yang lalu.

    maaf ya Pak, nanya lagi… kalo diminta untuk menentukan di awal berapa jumlah auditor (non partner dan minimal kerja 1 tahun) yang akan menjadi responden, saya harus menentukan berdasarkan apa ya?

    • Weh, lah, saya kan sudah lupa pertanyaan yang dulu tepatnya apa. Mungkin, nebak saja, deh, cari data tentang banyaknya auditor nonpartner sudah kerja setahun lebih itu ada berapa. Jika jumlahnya sudah (bisa) diketahui, gunakan pengambilan sampel dengan rumus Slovin. Pilih (teapkan) sampel itu sebagai responden. Bisa juga bagi dalam kategori lama (masa) kerja (lihat terendah dan tertinggi, lalu kelompokkan (dengan pembulatan), misalnya 1;0-1;11 tahun, 2;0-2;11 tahun dst., lalu ambil sampel secara proporsional (dengan persentase yang sama) dari tiap kelompok masa kerja tersebut.

  8. Pak maaf, bikin pusing… :D
    pertanyaan saya sebelum ini : kalo diminta untuk menentukan di awal berapa jumlah auditor (non partner dan minimal kerja 1 tahun) yang akan menjadi responden dengan jumlah POPULASI TIDAK DIKETAHUI, saya harus menentukan berdasarkan apa ya?
    matur nuwun sanget

    • Perasaan saya sudah nulis jawaban, tapi kok ndak kelihatan?!! Ya udah, nulis aja lagi.
      (1) Memang itu para auditor nonpartner itu tidak kelihatan batang hidungnya nangkring di mana, sehingga tidak diketahui jumlahnya (= populasi tidak diketahui”). Apa iya orang mau mengaudit kok tidak “ngantor” dan “beriklan” buat pengumumman saya auditor, lho!!
      (2) Kalau benar-benar populasi tak diketahui jumlahnya, ya gunakan teknik sampling nonrandom/nonprobabilistik. Misalnya quota sampling (jumlahnya ditetapkan berdasar perkiraan saja bahwa itu akan memadai untuk mendapatkan “hasil penelitian” yang “bagus” (informasi yang bisa dilaporkan ke publik relatif memadai).

  9. pak, saya ingin meneliti tentang preferensi konsumen di sebuah kecamatan X. jumlah sluruh masyarakat kecamatan tersebut saya punya dari kantor kecamtan. tpi itu bukan populasi jml konsumen yang akan saya teliti. karena tidak semua masyarakat di kecamatan X menjadi konsumen barang Y.
    menurut bapak, lebih baik saya menggunakan teknik sampling apa? brapa jml responden yg mesti saya ambil?
    kemudian referensi buku apa yg lengkap tentang teknik sampling?buat referensi dan pegangan saya ketika ditanya dosen.
    ini semua penting untuk skripsi saya pak.
    karena teknik sampling merupakan awal dri pengerjaan penelitian saya.
    kalau tekniknya salah, saya takut hasilnya tidak valid. atau lebih parahnya saya mesti ngulang penelitian saya dari awal.
    mohon bantuannya pak.terima kasih banyak.
    oia pak, saya menggunakan analisis konjoin untuk penelitian ini.

    • Banyak buku penelitian dan statistik yang membahas teknik-teknik sampling. Hanya sebagian kecil yang bicara populasi terhingga (countable) dan tak terhingga (uncountable). Umumnya langsung bicara tekniknya saja. Sebagian agak menjelaskan kenapa menggunakan teknik itu. Saya, baru dalam blog ini, mencoba menjelaskan kait berkait populasi terhingga, tak terhingga, bahkan saya tambahkan populasi tak jelas pula, sebagai dasar penetapan teknik sampling tertentu. Saya nulis buku Menyusun Rencana Penelitian (terbitan Rajawali Press) tahun 1986, belum sempat revisi, sudah banyak dibajak, jadi tak terbit lagi. Dalam buku itu ada beberapa teknik sampling, tapi, ya itu, masih pikiran saya jaman dahulu (jadul). Datangi perpustakaan, cari buku penelitian dan statistik edisi di atas tahun 2000. Itu lebih baik. Pati, insyaallah, ketemu tuh macam-macam teknik sampling. Gabung sana gabung situ, gitu.

  10. tapi kalau untuk permasalahan saya diatas.lebih baik saya pakai teknik sampling apa pak?
    kemudian berapa responden yang harus saya ambil?
    mohon sarannya.terima kasih.

  11. pak maaf sblumnya, saya lg agk blank gra2 bnyak pkiran+kgiatan.
    jd ga nyambung.
    jdi saya pkai tknik apa pak??maaf lho..

    • Perkirakan tiap rumah ada yang punya hp. Ada berapa rumah (keluarga)? Ambil sampel quota (tetapkan jumlah dulu yang diperkirakan memadai dan representatif) dari rumah-rumah itu. Lalu datangi responden di rumahnya. Tanyain, suka hp apa?! Satu rumah satu orang saja, salahs atu, agak silang: di rumah ini ayah, di rumah itu ibu, di rumah sana anak, di rumah sono pembantu (hehehehe).

  12. Assalamu’alaikum wr. wb

    pak tatang… maaf belum sempat bimbingan lagi, karena judulnya kemarin bergeser dari intensitas pembelajaran jadi pelaksanaan tutorial, berarti di bab II juga berubah ya pak?

    Terus untuk mengganti kutipan tulisan, saya nyari buku pak Tatang di perpust FIP maupun pusat cuma ada “pokok-pokok teori sistem” aja untuk judul yang biasa dipakai dalam penelitian “menyusun Rencana Penelitian” kok nggak nemu ya pak?

    Bahasan di atas tentang purposive sampling saya kutip dari sini saja ya pak…

    maturnuwun…

    NB. Blognya keren banget pak Tatang, lucu juga hehehehe

    Wassalam…

    • Maaf, kelewatan baca. Coba cek di internet dengan judul “Menyusun Rencana…” mungkin ada perpustakaan terdekat yang punya. Soalnya sudah banyak dibajak, jadi belum diterbitkan lagi. Blognya memang lucu. Hehehe. kayak orangnya.

  13. berarti boleh pakai asumsi “1 rumah dianggap punya hp minimal 1″ pak??
    kalau misalkan boleh, mslah jumlah KK nanti kan bisa ditanyakan ke kecamatan.

  14. Pak Tatang, saya sudah coba cari-cari di berbagai buku untuk menentukan teknik pengambilan sampel, tapi nggak nemu tentang metode-metode untuk jumlah populasi tidak diketahui. Kalau boleh, saya minta judul buku referensi yang dipakai Pak Tatang untuk menulis ini (kalau bisa yang di atas tahun 2005 ya pak :p)
    Sama saya juga mau tanya lagi, kalau jumlah sampel tidak diketahui, menentukan jumlah sampelnya gimana ya? Sama buku referensinya sekalian

    • (1) Dalam buku Prof. Suharsimi Arikunto ada disebutkan populasi terhingga dan tak terhingga. Saya dalam blog ini baru “menemukan” jenis populasi lain, yang disebut “tak jelas” (bukan “tidak diketahui), karena jangankan dihitung (dihingga), di mana populasinya saja berada pun tak jelas (misalnya “teoris”–ngikut yang lagi ngetop sekarang). Tentu tak ada dalam referensi lain, termasuk dalam buku saya “Menyusun Rencana Penelitian” (RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1986). Itu mutlak pendapat (klasifikasi) saya. Ini berdasarkan logika ada teknik-teknik sampling tertentu yang ternyata memang cocok digunakan jika populasinya “tak jelas” itu tadi. Dengan kata lain, memang ada jenis populasi yang seperti itu.
      (2) Jangan terbalik-balik, yang tidak diketahui itu populasinya, bukan sampelnya. Salah satu teknik yang bisa digunakan adalah “snowball sampling.” “Tertemukan” satu teroris (sampel pertama), dilacak di mana teroris-teoris lainnya (sampel kedua, ketiga dst). Dari yang “tertangkap tahap kedua” itu dilacak lagi di mana teroris-teoris lainnya. Terus-menerus begitu. Silakan baca dalam teknik-teknik sampling yang sudah saya tulis dalam blog ini. Kalau tentang “snowball” sampling banyak buku yang bisa dibaca. Lacak saja di perpustakaan. Saya banyak baca buku, dan sudah relatif lama mengajar metodologi penelitian. Jadi, tidak selalu merujuk buku tertentu, wong relatif sudah saya kuasai, tinggal membahasakan (menuliskan) begitu saja, mengalir…… gitu. Plus, tentu ada pendapat saya sendiri, tak selalu mengikut begitu saja kata orang.
      (3) Tulisan di blog ini, tulisan ilmiah, lho. Boleh dinukil, dan sah sebagai rujukan. Soal beda pendapat dengan pembimbing Anda, ya wajar saja. Tinggal yang lebih logis yang mana. Hehehe… Kalau tulisan (pendapat) saya lebih logis, mestinya ya …

  15. pak…maw nnya dong…
    kan saya ngelakuin penelitian populasinya itukan seluruh anggota karyawan yang krja di suatu perusahaan berjumlah 45
    dan yang balik ke saya dan pantas buat di jadikan sampelnya hanya 32
    kalau bgini teknik penelitiannya apakah ber menggunakan teknik sensus???
    trims….

  16. knapa disebut sebagai sensus pak??
    knapa ga simple ramdom sampling..mhn pencerahannya pak..
    msh agak bngung nih..
    trimssss….

    • Kan populasinya hanya sedikit (hanya 45) yang diangketi semua, tapi tidak semua kembali. Sampel artinya ngambil sebagian daripadanya, dan itu tak layak, karena populasinya hanya sedikit sekali. Ananada tidak sejak semula menetapkan sampel 32, tapi semua diteliti. Jumlah 32 dari 45 tidak punya dasar apa-apa, kan?!

  17. bner ga pak klau pemahaman saya spt ini
    awalnya saya hendak memilih seluruh populasi sbg sampel (ini merupakan teknik sesnsus) tetapi karena cm yg kmbli dan bsa diteliti 32..mknya sampel akhrnya ditetapkan sbnyk 32????

    • Tidak ada dasar apapun untuk mengambil sampelnya, kan? Karena tidak sejak semula akan menggunakan sampel. Ulangi saja lagi. Jika tetap tidak bisa kembali, tetapkan populasinya 32, yaitu karyawan yang bersedia diteliti, lainnya tidak termasuk populasi, walaupun karyawannya 45. Hasilnya hanya akan berlaku pada 32 (karyawan mau diteliti).

  18. Pak saya mau penelitian mengenai masyarakat pemelihara burung di suatu kecamatan. Nah apa ini termasuk populasi tidak jelas ???
    Apa benar klo sy menggunakan kuesioner, jumlah respondennya minimal 30.
    trims…..

    • Kalau pemelihara burung itu didata dulu, ya kan jadi jumlahnya jelas. Untuk perhitungan statistik normal (parametrik) sampel minimal 30, di bawah itu namanya sampel kecil, harus analisisnya dengan teknik statistik nonparametrik.

  19. Pak, saya masih pusing cara penentuan teknik sampling.

    Obyek penelitian saya adalah pekerja di perusahaan industri Batam yang sudah menerapkan enterprise resources planning (ERP). Saya tidak dapat mengetahui jumlah populasinya namun saya diharuskan mendapat jumlahnya (dosen saya mencadangkan untuk mencari populasi di salah satu kawasan industri di batam).
    Dan jika saya telah mengetahui jumlah perusahaan yang menggunakan ERP di salah satu kawasan industri di batam tetapi tidak dapat mengetahui pekerja yang menggunakan ERP seberapa banyak. Apakah jumlah perusahaan tersebut termasuk populasi atau hanya kerangka sample??? Jika termasuk populasi, apakah populasinya termasuk yang tak terhingga???
    Saya telah membagikan 200 kuesioner ke 8 perusahaan (dibagikan kepada teman2). Apakah ini termasuk convenience sampling atau snowball sampling???

    Mohon bantuannya dalam penyelesaian skripsi saya….
    Thanks….

    • We, lha! Kan saya bingung. Wong populasinya belum diketahui, sampel (angketnya) sudah diedarkan. Saya juga bingung, yang menggunakan ERP itu perusahaannya, apa setiap individu karyawannya. Itu akan membedakan yang jadi populasi siapa, yang jadi sampel siapa. Kalau perusahaan, ya subjeknya perusahaan. Jadi, populasinya seluruh perusahaan (yang sudah menerapkan ERP), bukan karyawan. Kalau karyawan harus menggunakan ERP, ya subjeknya karyawan, jadi populasinya juga karyawan. Oleh karenanya, agar populasi diketahui, ya adakan survai pendahuluan, perusahaan mana saja yang sudah menerapkan ERP, atau karyawan-karyawan siapa saja dan di perusahaan mana saja yang sudah menerapkan ERP. Baru jelas populasinya dan nantinya cara mengambil sampelnya.

  20. Makasih atas penjelasannya pak…
    Masalahnya kuesioner sudah keburu dibagikan dan waktunya tinggal dikit lagi… Pak, apakah untuk populasi tak terhingga memang perlu diketahui jumlah populasinya??? Subjek saya adalah karyawan yg menggunakan ERP. Jika saya mengetahui jumlah karyawan dari perusahaan di salah satu kawasan industri batam yang menggunakan ERP yang telah saya ketahui, apakah itu termasuk populasi (reached population) atau kerangka sampel???

  21. terima kasih pak, saya telah mendpatkan info2 yang sangat membantu diwebsite ini…
    ada satu lg yang msh dibenak saya pak.
    Sama dengan Rabqing, apakh populasi yg tak terhingga harus diketahui jumlah populasinya ??

  22. bagus bgt artikel2 bapak… da cth2nya lg…
    tp kok ga da cth yg hampir sama dg kasus g???
    mohon bantuanny ni,,,
    krn populasi penelitian g termsk yg tak terhingga, untuk mempermudah dlm penelitian, g melakukan survey pada satu area dari populasi penelitian utk mengetahui pt mana yg termsk dlm penelitian g, dr survey tsb g lgsg menanyakan kesediannya dlm mengisi kuisioner penelitian g, apakah itu termsk convenience sampling???
    Dan artikel diatas ditulis tdk da angka pasti jumlah sample yg diambe, bgaimana kita mengetahui apakah jumlah sample yg diambe cukup???

    • (1) Kalau area itu termasuk diketahui tempat “mangkal” kenbanyakan subjek penelitian, itu samplingnya “purposive,” dengan sengaja (intentionally, purposive). Tapi kalau tidak, populasinya terbatas yang ada di area itu saja.
      (2) Cukup dan tidak cukup memadai sampel dari populasi tak terhingga dilihat dari tujuan penelitian. Sudahkah bisa mendeskripsikan, memaparkan, atau apapun, tentang populasi itu. Jika masih ada aspek-aspek “bolong,” ya dicari terus subjek (sampelnya). Selain itu, populasi tak terhingga itu sebenarnya dapat diperkirakan sangat banyak, atau justru amat sedikit sekali. Jika banyak ya sampelnya cari yang banyak. Kan ada banyak teknik sampling yang bisa dipilih tergantung sifat keadaan populasi tak terhingga itu sendiri.

  23. Makasih pak…
    seblmny g pkr, sample yg g ambe berdsrkan kemudahan mkny mgkn termsk convenience. Tp setelah mendpt blsan dr bpk n setelah bc kembali, rsnya mmg bnr yg purposive sampling lbh sesuai dg kasus g.
    Dan apakah ada rumus utk mengetahui jumlah sample yg diambe dgn teknik purposive???

  24. Pingback: 2010 in review | tatangmanguny's blog

  25. pak saya ayu, mau tanya tentang sampel nehh..
    apakah ciri-ciri di dalam sampel itu juga harus ada di dalam variabel kontrol???
    jika tidak ada variabel kontrolnya saya harus memakai teknik pengambilan data apa, padahal jumlah populasi saya 1065 orang, dan penelitiannya tentang perbedaan kompetensi sosial ditinjau dari penggunaan frekuensi SMS pada remaja..
    terima kasih sebelumnya…

    • Mbak Ayu, coba deh ditelaah lebih mendalam dulu itu variabel yang akan diteliti. (1) Kompetensi sosial itu apa? (2) Kenapa kompeten, kurang kompeten, dan tidak kompeten (variabel kontinum) itu bisa dipengaruhi oleh frekuensi sms-an? Jadi, jika sering sms-an berarti kompetensi sosialnya tinggi? Teori apa/siapa yang menjelaskan hubungan seperti itu? (3) Kenapa yang dimunculkan perbedaan, bukan korelasi? Frekuensi sms-an itu kan variabel kontinum juga, bukan nominal?

  26. pak tatang,
    klo kita mau neliti tentang gay di suatu wilayah kan populasinya tidk jelas.. Lalu kalo kita pake non random, misal quota sampling itu cara netapin gimana ya pak? apa ada aturan tertentu harus sekian N?
    lalu untuk meminimalisir bias dan faktor perancu bagaimana pak (untk penelitian itu)? apa terkait jenis penelitiannya? karena mungkin saya pake eksplorasi
    mohon dijawab pak, hatur nuhun

    • Pakai purposive jika sudah bisa “masuk” ke komunitas gay. Pakai snowball jika belum tahu pati. Temukan “semua” jika ingin dapat injfo banyak. Temukan secukupnya (convenience) yang bisa terhubungi sampai kira-kira “hasil penelitian” dianggap memadai untuk mendeskripsikan mereka sesuai tujuan penelitian. Tidak ada jumlah pasti samnpel berapa sebagai patokan.

  27. Pak, mohon pencerahannya. Saya sedang susun tesis, saya mau meneliti tentang faktor suskes implementasi sistem CRM. Batasan nya sudah ditentukan yaitu perusahaan yang berada di jakarta saja. Tapi saya tidak tahu jumlah pengguna sistem CRM tersebut. Yang menjadi pertanyaan saya:
    – Apakah bisa sampel (pengguna sistem CRM) tersebut diambil perusahaan makanan saja, tapi permasalahannya tidak semua perusahaan makanan menggunakan sistem CRM.
    – Metode sampling apa yang harus digunakan ?
    – Metode statistik yang akan saya gunakan adalah analisi regresi berganda, apakah bisa?
    Terima kasih. Mohon masukkannya.
    Salam.

    • (1) Cari, temukan, tangkap pengguna CRM, tanyai. Jadi, di mana saja ada, tangkap.
      (2) Jika sudah dirasa cukup memadai data diperoleh. Selesai.
      (3) Analisis kan tergantung variabel yang akan dikorelasikan. Jadi saya tak bisa jawab. Itu Anda sendiri yang tetapkan.

  28. Terima kasih Pak, mau tanya lagi,
    Saya mau ambil populasinya perusahaan makanan anggota asosiasi X, karena tidak semua perusahaan makanan anggota asosiasi X itu menerapkan CRM maka untuk mengambil sampelnya akan digunakan judgemental sampling, apakah bisa Pak?
    Mohon masukkannya.
    Salam.

    • Ya o. Tapi, tak ada istilah judmental sampling. Kalau diketahui perusahaan mana saja (jadi populasi terhingga), ya semuanya diambil. Jadi, studi populasi. Populasinya perusahaan makanan anggota asosiasi x yang menggunakan CRM, tidak semua anggota asosiasi.

  29. asslmualaikum bpk,saya suka sekali baca tulisan bpk karna mudah skali dimengerti.ada yg saya ingin tnyakan dgn bpk, saya sdang meneliti dgn objek penelitiannya masyarakat bandung yg sudah pernah menonton suatu tayangan A di televisi, bagaimana cara mengambil sampelnya jika kasusnya seperti ini pak?
    sbaiknya apa saya ambil jumlah remaja(target audience tayangan A tsb) di bndung, atau jumlah org yg punya kebiasaan menonton di bandung, atau bgmn pak?sdangkan saya ingin respondennya sesuai dgn kriteria saya yaitu yang sudah pernah menonton tayangan A
    terima kasih..
    wassalammualaikum..

  30. Pagi pak Tatang,, terimakasih buat informasi dan penjelaasannya nya.
    saya mau bertanya pak, jika kita ingin meneliti dengan sampel adalah pasien (kita ketahui bahwa kita tidak dapat memastikan berapa jumlah kunjungan pasien dalam 1 hari / 1 bulan untuk dijadikan sebagai populasi )bolehkah kita membuat populasi pasien dari data rekam medis rata-rata kunjungan pasien perhari/perbulan?? dan jika kita ingin menggunakan dengan metode consecutive sampling, bagaimana rumus untuk mendapatkan sampel tersebut?Mohon penjelasannya pak, dan terimakasih banyak..

    salam,

    • Sebut saja pasien bulan apa sampai apa. Itu populasinya. Hehehe…… Lha, maunya menggali data apa dulu, baru tetapkan populasinya. Misalnya pasien DB, ya semua yang terkena DB (dan jadi pasien RS) itu populasinya. Yang kena DB di rumah aja tak masuk hitungan.

  31. Assalamualaikum pak….
    saya mohon bantuannya untuk penelitian saya pak, judulnya pengaruh kualitas website terhadap kepuasan pengguna ditinjau dari dimensi IRSQ. populasi saya disini kan pengguna website yang tidak diketahui jumlah pasti dan keberadaannya pak. saat saya uji proposal saya terkendala di teknik sampling.jenis penelitian saya kuantitatif inferensial, dan teknik sampling saya non probability (purposive sampling). ada teori yang mengatakan bahwa penelitian kuantitatif, khususnya inferensial harus menggunakan probability, tetapi kalau ditinjau dari jenis populasi saya yang tak jelas dan tak terhingga (karena saya batasi di kabupaten setempat saya melakukan penelitian sehingga angka jumlah pengunjung diwebsite tidak dapat menjadi angka jumlah populasi saya) saya harus menggunakan non probability. menurut bapak bagaimana ? karena ada 2 teori yang bertentangan. dan saya mohon usulan bapak, apakah saya bisa memilih satu teori dan mengacuhkan teori yang lainnya padahal saya tau itu bisa menentang teori yg saya pilih, atau saya ganti menjadi jenis penelitian kualitatif, atau tetap kuantitatif tetapi saya ganti metode analisa datanya dari yang semula statistik inferensial menjadi statistik deskriptif yang tidak melakukan uji hipotesa. demikian pak, saya mohon jawaban bapak (kalau bisa lewat email saya) karena hari kamis ini saya harus ujian ulang proposal untuk memberikan kepastian langkah yang saya ambil. terima kasih….
    Wassalam….

    • (1) Data dari sampel itu disebut data deskriptif. Data dari sampel yang digeneralisasikan ke paramater (populasinyanya) disebut inferensial. Ini dari Research Method Knowledge Base: With inferential statistics, you are trying to reach conclusions that extend beyond the immediate data alone. For instance, we use inferential statistics to try to infer from the sample data what the population might think.
      (2) Penelitian ananda apa memang benar-benar penelitian antar variabel (korelasi alias “pengaruh”) variabel kualitas website dan kepuasan pelanggan? Lalu ditinjau lagi dari sudut IRSQ (maaf, ini apaan? Variabel lain lagi?). Jadi variabel yang dikorelasikan apa saja?
      (3) Teori yang benar, kayaknya, kalau tidak bisa random (probabilstik) ya gunakan teknik nonparametrik analisisnya, sebab teknik-teknik analisis statistik parametrik lazimnya mempersyaratkan sampel diambil secara random dan berdistribusi normal, dan itu baru bisa dilakukan jika populasinya jelas dan terhingga.
      (4) Hipotesis tidak berkaitan dengan metode kuantitatif atau kualitatif; bukan yang berhipotesis mesti kuantitatif, yang kualitatif tidak berhipotesis, lebih-lebih dengan data kuantitatif atau kualitatif (sifat keadaan).
      (5) Nah, coba deh logika hubungan (asosiasi, korelasi, “pengaruh”) antar variabel penelitian ananda itu dicermati lagi!

  32. Assalamualaikum wr. wb
    mohon bantuannya pak, saya mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir dan mendapat kendala saat uji proposal kemaren pada teknik sampling. penelitian saya kuantitatif dengan metode analisa statistik inferensia dan populasi saya pengguna website http://www.purworejokab.go.id. masalah saya, kalau berdasarkan jenis penelitian, kuantitatif harus menggunakan teknik probability sampling, tapi jika berdasarkan populasi saya yang tak jelas dan tak terhingga, teknik sampling saya harus non probability sampling. saya harus milih yang mana antara dua teori yang bertentangan tersebut pak? mohon jawabannya, karena kamis ini saya akan ujian ulang proposal lagi pak dan mohon jawabannya via email (jika tidak keberatan). terima kasih sebelumnya pak.
    Wassalam

  33. terima kasih atas jawabannya pak
    (1) independent variabel saya : kualitas website yang ditinjau dari dimensi Internet Retail Service Quality (IRSQ) yang terdiri dari : performance (kinerja), Accessibility (akses), Security (keamanan), Sensation (sensasi) dan Information (informasi) pak. jadi variabel yang dikorelasikan adalah 5 independent variable terhadap 1 dependent variabel (kepuasan pengguna) dan hipotesanya apakah ada pengaruhnya secara simultan maupun parsial pak.
    (2) jumlah sampel saya berdasarkan perhitungan rumus emory yang disederhanakan pada tabel jumlah sample untuk populasi tak terhingga dengan level of confidence 95% dan sampling error 10% sehingga dapet 100 responden.apakah saya boleh mengambil non parametrik jika sampel saya sampel besar pak?
    (3) apakah benar penelitian kuantitatif kurang kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan seperti yang dikatakan penguji saya pak? karena kuantitatif tidak bisa berkembang dan dimanfaatkan untuk penelitian selanjutnya.
    (4) saya lihat banyak contoh penelitian kuantitatif yang menggunakan non probability dengan populasi tak terhingga dan metode analisanya analisa regresi linier berganda, iju T dan uji F. apakah penelitian saya untuk metode analisanya bisa berpedoman pada contoh penelitian orang tersebut pak?
    mohon bantuannya lagi pak. terima kasih….

    • (1) Kenapa jadi lima variabel? Satu aja, namanya “mutu layanan sewajasa internet” yang kebermutuannya itu diindikatori (ditandai) oleh lima sifat: kinerja, kemudahan, keamanan, sensasi dan informasi. Website tidak bermutu jika tidak memberikan informasi, kan?! Juga tidak bermutu jika tak mudah diakses, jelek kinerjanya (lambat dsb).
      (2) Cek saja dulu dalam buku statistik teknikteknik itu mempersyaratkan pengambilan sampel probability (random) atau tidak. Gunakan teknik untuk yang tidak mempersyaratkan random. Soal banyak sedikit sampel, itu kan salah satu syarat saja juga.
      (3) Level of confidence 95%, sampling errornya 5%, bukan 10%.

  34. pak saya mau meneliti kepuasan pelanggan pada pasien rumah sakit.
    nah yg saya bngungkan sy tdk tau brapa populasi pasien rmh skit yg rawat jalan.apakah bs sy pakai teknik accidental sampling?

  35. Permisi Pak Numpang tanya Kalau Saya memiliki skripsi dengan judul

    PERANCANGAN, PEMBUATAN DAN PENERAPAN PORTAL INFORMASI FASILITAS PUBLIK DI KOTA-KOTA PARIWISATA PULAU JAWA MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN JAVA

    populasi = pengunjung kota-kota pariwisata di pulau jawa

    Brarti kan jenis Populasi nya populasi tidak terhingga?

    Berarti tidak bisa menggunakan rumus slovin ya?
    terus rumus apa yang bisa dibuat menentukan sample jika saya ingin menggunakan Quota Sampling???

  36. nunsewu bapak mbahas nilai kritis donk, hehehe sudah mengikuti banyak tulisan bapak dari signifikan yang yahuddd, sampai populasi dan sampel tapi nyari nilai kritis belum pak, sebenernya bisa dicari lewat om google cuman enakkan dari bapak penjelasannya. Pak jangan putus semangant ya pak menulisnya kami pembaca mendukuuuunnnggg utk terus membuuuka blog ini dan mengharapkan ada tulisan2 bapak selanjutnya.

  37. pak, maaf saya mahasiswa UNJ judul skripsi saya “Penilaian Pengusaha terhadap Hiasan Sulaman Sisir Pada Busana Anak” yang ingin saya ttanyakan, saya tidak mendapatkan jumlah populasi pengusaha busana anak di Jakarta, jadi saya memakai tehnik sampel purposive, tetapi dosen pembimbing saya bilang sampel yang diambil tidak cuma purposive, dapatkah saya memakai sampel purposive dan quota sebagai tehnik pengambilan sampelnya… bolehkah kita menggunakan 2 tehnik sampel sekaligus??terima kasih. mohon maaf sebelumnya, jika ada salah perkataan..

  38. pak saya meneliti siswa kelas 2 SMA mereka itu sudah ada jurusannya seperti IPA dan IPs jadi sampling apa yang cocok untuk itu pak terimasih pak

  39. pak tatang, nepangkeun sim kuring ayi ti bandung. blog bapak sae pisan. ngiringan maos, sakantenan diajar perkawis sampling. masih keneh poekeun. hatur nuhun.

    pa tatang. perkenalkan saya ayi dari bandung. blog bapak bagus sekali. ikutan baca, sekalian belajar tentang teknik sampling, masih kurang mengerti. terima kasih,

    • sami-sami, Neng, mugia barokah keur sadayana (sama-sama Nduk, semoga membawa berkah bagi kita semua), hehehe, tuturut munding: sunda diindonesiakeun (kan biar yang lain paham, nya?!)

  40. Pak tatang,mohon bantuannya pak..
    populasi penelitian saya adalah perusahaan yang terdaftar di bursa efek pak,dan sample saya adalah perusahaan yang terlambat menyampaikan laporan keuangannya saja dg beberapa persyaratan..
    kmren itu saya memakai purposive sampling,tapi pembimbing bilang itu salah..
    jadi saya seharusnya memakai tekni sampling yang mana pak?
    terima kasih sebelumnya

  41. saya mau tanya. bila saya ingin melakukan penelitian pada suatu perusahaan yang mempunyai karyawan 35 orang. menggunakan apa ya pak? terimakasih

  42. mohon bantuan Pak Tatang..
    saya sedang meneliti manajer perusahaan manufaktur di diy dan jateng..setahu saya,tidak ada jumlah pasti dari manajer2 tersebut..apakah ini termasuk dalam populasi tidak terhingga?
    terima kasih sebelumnya atas bantuan Bapak..

  43. Saat ini saya sedang penelitian tentang pengembangan komoditas rumput laut di suatu kabupaten dengan keluaran akhir berupa strategi pengembangan dengan analisis SWOT. Saya memakai metode dasar survey secara purposive. Salah satu aspek yang saya amati adalah aspek kelayakan finansial dimana pada masing-masing dusun saya ingin melihat tingkat kelayakan unit usaha yang sudah maju tetapi sekaligus juga ingin melihat tingkat kelayakan rata-rata pada setiap dusun. Objek penelitian terletak di dua kecamatan sebut saja A dan B. Di kecamatan A terdapat dua desa sebut saja A1 dan A2 sedang di Kecamatan B hanya satu Desa dan satu dusun yang dijadikan objek. Pada Desa A1 terdapat dua dusun desa A2 terdapat 4 dusun. Sehingga total dusun adalah 7. Karakteristrik responden boleh dikatakan sama hanya berbeda dari sisi produksi. Perlu saya tambahkan bahwa jumlah pembudidaya pada masing-masing dusun selalu berubah-ubah karena adanya pembudidaya musiman atau pembudidaya yang menghentikan sementara kegiatan usahanya.
    Pertanyaan saya adalah :
    1. Apakah dengan memakai teknik quota sampling pada analisis aspek finansial bisa menjawab tujuan antara (kelayakan usaha) dan tujuan akhir (strategi pengembangan) yang ingin saya capai ? Kalau tidak mohon bantuannya bagaimana seharusnya ?
    2. Apakah benar bahwa teknik quota sampling tidak bias dijadikan sebagai alat generalisasi mengingat bahwa gambaran kondisi finansial di masing-masing dusun akan saya masukkan sebgai komponen dalam analisis SWOT ?
    3. Apa beda antara purposive dan quota sampling ?
    Terima kasih mohon maaf kalau pertanyaan saya terlalu panjang…sekiranya terlalu panjang untuk dijawab mohon di e_mail saja…Sekali lagi terima kasih dan salam sukses selalu…

    • Lah, ini kan jadinya penelitian tidak jelas. Ya sebut saja akan membuat strategi pengembangan. Jadi, lakukan penelitian kualitatif (bukan kuantiatatif) untuk dapatkan data guna analisis SWOT, lalu buat disain strategi pengembangan. Yang diuji “konsep” strateginya itu, bisa jadi harus gunakan penelitian R & D (research and development).

  44. Mohon bantuannya Pak Tatang,

    Saya Christian sedang menyelesaikan thesis saya, meneliti tentang TAM,e-wom, perceive risk terhadap Purchase Intention pada website http://www.klikgaleri.com. Boleh kah saya ijin copy dan mengkutip artikel ini? .Berikut kesulitan saya :
    1. menentukan ukuran populasi untuk pengunjung klikgaleri.com, sebaiknya saya menggunakan yang jelas atau yang tidak terhingga ataukah yang tidak jelas. Mengingat yang diteliti adalah purchase intention (keinginan) dan jumlah populasi yang terus berubah tidak diketaui secara pasti (kecuali menggunakan data lampau dengan periode tertentu)
    2. Teknik sampling apa yang harus saya gunakan dan bagaimana cara menghitungnya?

    Terimakasih sebelumnya.

    • (1) mengutip dengan menyebut sumber selalu diperbolehkan; (2) lebih aman data lamapu (keadaan pada tahun/tahun-tahun lalu). (3) gunakan tekniik sampling yang sesuai (pelajari karakteristik populasinya dulu) dan tujuan penelitiannya apa.

  45. pak saya mau tanya kalau populasi rata-rata nya diketahui misalnya sebesar 2.700.000 penumpang pertahun. penentuan sampel nya sebaiknya menggunakan rumus apa?
    mohon bantuannya

  46. Malem Pa Tatang, saya mau mengukur kinerja karyawan di instansi jumlahnya ada 166 orang..mereka tersebar di 3 bagian: kepegawaian, keuangan, dan perencanaan umum. Metodologi yang dipakai apa ya pak…intinya pengin tau kinerja ditempat kami seperti apa…Makasih Pa Tatang..

    • Pertama, tegaskan standar kinerja karyawan itu apa. Buat instrumen pengukuran. Itu saja. Cari dari berbagai penelitian rumusan “kinerja” dimaksud sebagai bahan pertimbangan.

  47. Siang Pak Tatang,
    Setelah saya baca tulisan bapak, jadi penasaran sama tulisan2 yang lain (saya jadikan referensi skripsi), hanya saja daftar isi tulisan lengkapnya kok tidak ada pak. Kalau ada lebih mudah ngikutinya.

    • Kalau ngekor saja tulisan orang, kan saya bukan DOSEN (Doyan Omong Sinting Edan–beda dari yang lain, tapi Nalar), hehehehe. Ya kritis dan kreatif, gitu. Itu sebagian memang ide kreatif-kritis saya. Cocok, mangga, tak cocok ya coba kritisi, biar “ilmu” berkembang. Hehehe. Suwun, hatur nuhun!

    • Weh, saya dah jawab ini apa belum ya? Besok kalau dah jadi buku, ada daftar isi lengkap, insyaallah. Heheheh. Baca yang perlu-perlu aja dulu, atauh, gak usah urut.

  48. ass…pak saya mau tanya gpp kn?hehehe
    salam kenal saya ainun.saya mau tanya pak.apakan teknik mendapatkan informan itu harus 3 tahap dari purposive sampling,snowball sampling dan triangulasi apa cukup pilih salah 1 saja.?
    makisi pak saya tunggu jawabanya.

    • Wah….. kacau! Heheheh. Ngambil sampel kok bermacam-macam, pakai trianggulasi segala. Trianggulasi tu pada penelitian kualitatif untuk mendapatkan data yang “valid dan reliabel” (kalau bahasa kunatiatif)! Cari informan ya cari informan, jangan gunakan teknik sampling!

  49. pak, saya mau nanya, penelitian saya ini saya menetapkan tempatnya di suatu ruangan rawat inap yaitu post op fraktur. nah populasi saya kan seluruh pasien yang ada disitu. saya menetapkan teknik pengambilan data saya adalah accidental sampling, tapi teman2 saya mengatakan kalu saya lebih tepatnya menggunakan purposive sampling, jd saya bingung mana yang benar nya, mohon penjelasannya pak, makasihhh

    • Populasi = pasien yang ada saat itu ngingap rawat, apa semua yang pernah? Itu beda, kan! Coba baca apa bedanya accidental dengan purposive (untuk populasi seperti apa!). Jika populasi yang ada di situ aja, ya kenapa tidak diteliti semuanya saja. Jika yang pernah, tahun ebrapa sampai berapa? Di mana alamtnya jika mau dilacak? Mudah apa enggak melacaknya? Baru tetapkan teknik samplingya!

  50. ass… pak tatang sy mau nanya, sy meneliti mengenai wanita bekerja yang telah menikah dgn usia pernikahan 1-4 tahun…. menurut sy itu termasuk populasi tak terhingga, jd sy menggunakan teknik purposive sampling, ap itu sdh benar pak??? trus gimana cara menentukan jumlah samplenya pak???? mohon bantuan dan penjelasannya pak…

  51. assalamualaikum..
    saya menyukai penjelasan tentang teknik sampling yang bapak terangkan diatas.
    begini pak, saya mahasiswa yang sedang melakukan tugas akhir. jadi penelitian saya tentang bagaimana sikap konsumen di kota PKU terhadap minuman isotonik merek M. menurut pembimbing saya penelitian ini tidak diketahui jumlah populasinya. saya bisa menentukan jumlah sampelnya, namun saya kurang mengerti bagaimana cara mengambil sampelnya agar representatif?
    apakah saya harus meng-cluster sampel tersebut per-kecamatan?
    mohon jawabannya pak..
    terima kasih sebelumnya.

  52. saya sudah membacanya pak..
    oh ya, saya mohon tanggapannya.
    saya meneliti tentang sikap konsumen di kota PKU terhadap minuman isotonik merek M . dari artikel yang saya baca, bahwasannya segmen/target minuman isotonik merek M tersebut ialah pelajar/mahasiswa, pekerja muda, pedagang, ibu rumah tangga dll. kemudian saya memilih beberapa pusat perbelanjaan sebagai lokasi penelitian. Dengan anggapan bahwa lokasi itu mencerminkan target minuman M tersebut.
    kemudian saya menggunakan metode purposive sampel untuk menentukan kriterianya dan menggunakan metode Quota sampel untuk menentukan berapa banyak jumlah sampel untuk setiap pusat perbelanjaan.
    pertanyaannya :
    1. sudah representatifkah lokasi penelitian ini pak?
    2. bolehkah menggunakan 2 metode pengambilan sampel sekaligus?
    mohon penjelasannya dengan sangat pak..

    • 1. Purposive sampling (pengambilan sampel secara “sengaja” ke/di tempat atau lokasi tertentu) untuk menentukan kriteria? Itu tak jelas, kriteria apa?
      2. Quota sampling digunakan jika populasi tak terhingga, kita tetapkan jumlah sampel yang dianggap representatif (memeadai) untuk menemukan jawaban yang tepat, setel;ah itu ya tinggal temukan sampel sesuai kriteria (yang memiliki sifat seperti populasinya)
      3. Jadi, pahami dulu dua teknik itu dengan baik!

  53. Assalamu’alaikum..

    pak tatang, saya punya sdkt mslh dengan penelitian saya pak.. saya meneliti tentang pengolahan limbah di sebuah RS, saya menggunakan metode pengambilan sampel purposive sampling.. informannya sekitar 3-4 orang tp informasi yang saya terima sudah cukup menurut saya.. yang mau saya tanyakan pak, apa sudah cukup informannya? atau kah ada rumusan untuk menentukan jumlah informan atau sampel saya itu pak? dan apakah informan dan sampel itu sama pak ataukah berbeda? saya menanyakan ini krna pembimbing saya menanyakan tentang rumusannya pak..jujur saya agak bingung..
    mohon bantuannya pak..
    makasih sebelumnya..

    • Itu penelitian kualitatif. Yang penting informasi tercapai memadai (informasi jenuh, tak ada tambahan info lain). Tidak ada sampel informan, informan kunci dan lainnya yang diperlukan. Selesai.

      • Jd dlm penelitian saya nda perlu pake sampel pak? Dgn informan sj sdh cukup? Klo bgtu dlm bab metode penelitian nda prlu lg dicantumkn populadi dan sampel ya pak? Atau bagaimana?
        Maaf pak saya byk brtanya krna saya br belajar membuat penelitian jd msh bingung2..

  54. assalaamu’alikum
    bapa saya punya masalah di teknik pengambilan sempel pada skripsi saya. judul skripsi saya peran STA dalam meningkatkan pendapatan petani. populasi yang saya ambil tidak diketahui dan saya mengambil salah satu kelompok tani penggunaa STA tersebut. kira-kira teknik pengambilan sempelnya ap ya pak?
    terima kasih sebelumnya pak

      • Jadi gini pak banyak petani yang memasarkan hasilnya melalui sub terminal agribisnis atau STA tapi tidak diketahui jumlahnya. karena populasinya kemungkinan banyak. saya melakukan penelitian di satu kelompok tani saja untuk mengetahui pendapatan petani sebelum dan sesudah memasarkan ke STA di dalam kelompok tani tersebut . di dalam kelompok tani jumlahnya ada 40-an, tapi saya mengambil 30 petani berdasarkan pendapat menurut Garsperz (1991).
        Kalau begitu teknik pengambilan sempelnya ap ya pak?

      • Kenapa tidak ditunggu aja di STA. Siapa datang ditanya, sebelu, lalu sesudah. Cari pas hari sibuk (padat) di STA (kayak kalau pasar kan ada hari pasaran daerah)

      • terimakasih pak atas infonya.

        kalo saya mengambil sampel petani seperti saran bapak itu berarti teknik pengambilan sempelnya convenience sampling bukan, pak?

  55. Pak Tatang, salam kenal dr saya di Surabaya.

    Pagi ini, ada senyum cerah di bibir saya wkt nemuin blog bapak..
    Ada secercah harapan & semangat lagi buat nyelesaiin segera skipsi saya. hehe..
    Apalagi bpk selalu dgn sabar jwb ptanyaan dr tmn2 hingga detik ini.
    salut buat pak tatang yg baikkk bgt….

    Pak, saya ada tugas dr dosen pembimbing cari apa itu available sampling.
    Jujur agak susah. Maaf klo saya nya aja yg blm beruntung menemukan. hehe..
    Tapi saya baca2 kok mirip convencience sampling. Klo menurut bapak bgmn?

    jd saya mau meneliti dengan kriteria responden:
    pengguna hp tertentu dgn kelompok usia tertentu dan latar belakang budaya tertentu, juga pekerjaan tertentu.
    saya melihat ada gejala di suatu wilayah yaitu di perumahan saya.
    saya bermaksud menjadikan perumahan saya sbg wilayah responden yg saya pilih.

    tapi saya tidak tahu benar berapa jumlahnya yg sesuai kriteria responden saya.
    Saya hanya tau bahwa org itu usia sekian, bekerja ini, latbel budaya ini, dan menggunakan hp ini. jd bisa menjadi responden saya.
    kira-kira bgtu pak..
    mohon pencerahannya ya pak.. trimakasih bnyk. sukses selalu utk pak Tatang.. ^^

    • avilable itu kan artinya yang ada yang tersedia, ya memang sama dengan convenience = memadai, mencukupi, memenuhi (keperluan). Ya udah, cari aja semua pengguna hp merek apapun, cari latar belakanngya, hubung-hubungkan. Lha, memang yang mau diteliti apanya? Tujuan penelitian menentukan subjek dan sampel penelitian, atuh!

      • mksii pak penjelasannya.. ^^

        saya lagi neliti penggunaan blackberry (hp yang paling banyak digunakan di indonesia), remaja usia 15-19 tahun (usia pengguna HP terbanyak di Indonesia), yang ortunya enterprenuer. dengan etnis jawa satunya lagi tionghoa.

        smartphone tidak sekedar hp biasa. diluar negeri digunakan untuk kepentingan corporate. tapi di Indonesia sangat digemari, bahkan indonesia dijuluki Blackberry Nation. namun ternyata berbanding terbalik dgn d luar negeri. di indonesia justru banyak digunakan untuk kepentingan individu pak..

        jd apakah ada perbedaan penggunaan sarana komunikasi (BB) dengan latar belakang budaya yg beda.
        asumsinya enterprenuer tidak hanya komsutif tetapi juga produktif. jiwa enterprenuer ortu mengalir ke anak. dan perilaku komunikasi dipengaruhi oleh budaya.

        hipotesisnya, remaja dgn latbel budaya tionghoa menggunakan sarana komunikasi BB lebih produktif dibanding latbel budaya jawa.

        maaf pak klo saya sangat acak adut ini menjelaskannya. krn saya juga lagi bingung. hehehe.. oia pak, latbel studi saya komunikasi.
        trmksh bnyk pak, sy tggu pencerahannya..

        smga kita semua selalu dlm lindungan Allah S.W.T. amin allahumma amin..

      • Teori yang menyatakan tionghoa apa-apa untuk bisnis, memang ada? Coba juga telusur yang non-BB, jangan-jangan HP biasa juga digunakan untuk bisnis. Anak “Jawa” apapun hp lebih banyak untuk cetingan (FB-an), ya kan? Kalau gitu, teliti saja semua pengguna BB, terus lacak digunakan untuk apa saja terutama, dan kaitkan dengan latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, keluarga, dan tentu “bisnis” keluarganya. jangan berasumsi jiwa entrepreneur “mengalir” melalui darah. Itu tergantung pada banyak faktor, terutama “didikan” dari banyak pihak. Nanti “teorinya” jika anak dosen BB-nya digunakan untuk memberi kuliah pada teman-temannya, hehehe…, sementara yang anak anggota DPR digunakan untuk kampanye pemilu bapaknya, hihih.

      • hehehe.. Ok Pak. Siap.

        nanti sy tanya2 lg y pak.
        jgn bosen y pak.. mksii pak tatang ^^

  56. Pak tatang saya mau tanya, convenience sampling itu apa hanya untuk penelitian kualitatif? apa bisa diterapkan pada kuantitatif?

    jika bisa diterapkan pada kuantitatif, bagaimana teknik pengukuran data, uji validitas & reabilitas, jika menurut peneliti sampel sdh cukup menjawab penelitian kurang dr 30 sampel? misalnya 15 sampel saja.

    terimakasih pak..

    • Dalam penelitian kualitatif sebenarnya tak ada sampel, adanya informan, kecuali dalam hal-hal khusus (biasa disebut purposive sample). Lha soal pengukuran ya tergantung apa yang akan diukur, termasuk uji validitas dan reliabilitas alat ukur (ingat, bukan angket ungkap fakta, tapi alat pengukur: tinggi – rendah). Jika sampel lebih sedikit dri 30, gunakan teknik analisis nonparamaterik. Apa itu?Baca buku statistik!

      • aslm..
        Pak tatang yg terhormat,
        sy mw meneliti tentang URGENSI KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA..
        Kira2 sampel yg digunakan apa?mhon kterangan y..
        Trimakasih.

      • Maaf, gak bisa membantu, karena yang akan diteliti apa dan siapa tidak operasional. Judul itu bukan judul penelitian, tapi judul makalah. Yang dimaui dengan sampel juga tak jelas. Jadi, ya pahami dulu yang dasar-dasar dari penelitian.

  57. Pingback: Paradigma Penelitian Sosial « dianascyber

  58. Pak.. sy membaca sebuah jurnal, tapi bingung menentukan teknik pengambilan sampling yang digunakan dalam jurnal ini..
    ceritanya kurang lebih gini pak, :
    Analisis retrospektif dilakukan dari rekam gigi 88 pasien dengan 120 gigi permanen avulsi dengan usia antara 7 dan 75 tahun yang datang ke Emergency Department of Beijing Stomatological Hospital di China selama periode 1 Juli 2008 hingga 30 juni 2009.
    Mohon bantuannya pak,, teknik pengambilan samplingnya ini apa ya??
    Makasi banyak sebelumx..

  59. Pak saya mau penelitian ttg kebiasaan makan udang rebon
    dan titik samplingbya berdasarkan kebiasaan nelayan mengambil udang rebon, karena udah pasti menurut nelayan dititik2 tersebut banyak skali udangnya
    berarti itu masuk teknik PURPOSIVE SAMPLING ya Pak?
    trimakasih Pak

  60. pak mw nyak sya kan mw meneliti tentang efektifitas personal selling dan advertising dalam meningkatkn penjualn pada sebuah Unit dagang toko Baju, nah metode alat analisa yang cocok referensi bukunya pa yg kita pakae, terus sampel na kita pakai berapa ya jumlahnya kan kita tidak tahu berapa jumlah konsumen yag datang,,mohon bantuanya pak,,makasiii ( Bae Virtous)

    • Wadduh, tanyanya kok pabaliut. Bingung atuh njawabnya! Coba dipahami benar dasar-dasar metodologi penelitian, biar jelas kalau bertanya: subjek dan populasi penelitian, pengumpulan data, analisis data, telaah literatur….. jadi gak kacau ada metode alat analisis lalu referensi, kan bingung…….. Perjelas dulu atuh mengumpulkan datanya data apa, dengan cara apa, ukurannya berupa apa (interval, ordinal, nominal). Kalau boleh, tulislah dengan bahasa Indonesia yang baku, biar enak, gitu!

  61. Terima kasih untuk pencerahannya pak,
    Alhamdulillah jadi tahu teknik sampling yang mana yang mestinya saya gunakan untuk penelitian saya nanti,
    ^_^

  62. yth. bpk tatang m.amirin, punten saya mau tanya dimana bpk sebagai sesepuh desa karangsari / lentuk kec. maja, barangkali mengenal rekan saya alumnus SMAN 1 MAJA tahun 1991, namanya : ELA HERAWATI, DEDEH, DAN AZIZ (punten anu kasuhun bilih kenal) atau barangkali sebagai murid / saudara bapak, terimakasih

    • Wah maaf sekali, pertama saya bukan orang karangsari-lentuk, kedua saya tidak pernah gaul dengan sman 1 maja, jadi tak kenal dengan murid dan lulusan sman 1 maja, kan saya orang jojga

  63. Assalamu’alaikum …
    pak, maaf ,,,
    saya mila dari SMKN 1 CIKAMPEK, Karawang ingin bertanya ,,,

    saya kan mau nyari metode pengambilan sampel padat, apa bapak bisa membantu saya untuk mengetahui bagaimana cara nya ?

    sebelumnya saya ucapkan terimakasih,,,
    mohon bantuan nya ya, Pak …
    :)

    Wassalam …

  64. Ass. Pak, numpang nanya saya sedang meneliti tentang analisis pendapatan petani jagung. diketahui jumlah kelompok taninya 106 kelompok. saya bingung menentukan jumlah sampel apakah perkelompok atau per petaninya saja? dan teknik samplingnya pak? terimakasih jawabannya pak?

    • Yang mau diteliti petani individual apa kelompok? Kenapa, apa alasannya? Tetapkan dulu secara logis, baru populasinya jelas (subjeknya/unit analisisnya petani apa kelompok petani), baru gunakan teknik sampel yang tepat. Silakan baca teknik-teknik sampling!

  65. Assalamualaikum Wr Wb. Pak..
    Saya mau tanya pak
    1) berapa jumlah sampel yang dibutuhkan untuk penelitian saya tentang tingkat kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan RS?
    2) metode sampling apa yang cocok pak?
    3) apakah perlu dilakukan uji validitas dan reabilitasnya pak?
    4) uji statistik apa saja yang bisa dilakukan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap layanan RS pak? apa pake diagram kartesius, uji t, uji f atau chi square pak?
    terima kasih ya pak atas jawabannya…

    • Whe, lha. Ya anggota populasinya seberapa banyak harus diketahui dulu, baru gunakan teknik pengambilan sampel yang tepat. Uji validitas dan reliabilitas itu terkait alat ukur (instrumen pengukuran), bukan soal populasi dan sampel! Analisis statistik tergantung mau menemukan apa! Memang mau meneliti apaan, sih?!!! Jelas dulu detail pertyanyaan penelitiannya!!!

  66. ini pak mau klarifikasi pertanyaan sebelumnya, jadi penelitian ini tentang analisis tingkat kepuasan pasien rawat jalan terhadap kualitas pelayananan RS. yang mau ditanyakan :
    1) gimana cara menentukan jumlah sampel untuk pasien rawat jalan karena jumlahnya fluktuatif setiap bulan dan tahunnya? apa ini bisa digolongkan pada populasi sampel yang tidak diketahui jumlahnya pak?
    2) rencananya saya mau pake teknik sampling accidental apa bisa pak?
    terimakasih atas jawabannya pak…

  67. ok pak, apa tidak ada batasan jumlah sampel rawat jalan yang harus saya cari? apa bisa diambil jumlah sampelnya 100 orang aja y pak?
    sekali lagi terimakasih banyak atas jawabannya pak…

  68. pak saya mau tanya ne … sy punya tugas makalah yang judulnya snow ball sampling, tapi sy gk ngerti gmana cara nyusunnya wong snow ball sampling itu cm sedikit pemaparannya. gmana pak? apa di situs wab site bpk dak ada? muhon di blz

  69. Ass Wr Wb. pak saya mau tanya tentang pengambilan sampel pendapat masyarakat tentang promosi sebuah produk
    1. berapa sampel yg saya butuhkan ?, karena jumlahnya tidak diketahui dalam artian penjualan produk diketahui angkanya namun tidak tetap atau bisa berubah2 dan pembelinya pun bisa siapa saja, mulai dari konsumen tetap atau baru, jadi saya artikan itu kedalam populasi tidak diketahui, apakah itu sudah benar ?
    2. dalam tugas akhir yg sedang saya buat, saya memakai teknik convenience dalam menentukan target responden dan judgment dalam menentukan jumlah kuesioner yg akan saya sebarkan, apakah itu sudah betul ? menurut dosen pembimbing saya, judgment pun harus berdasarkan estimasi yang jelas, tidak sebatas perkiraan penulis saja, oleh karna itu saya mengestimasi dari jumlah penjualan produk, apakah itu sudah betul juga pak ?
    3. saya menulis artikel ini sebagai rujukan namun ditolak oleh dosen pembimbing karena menurutnya informasi yang didapat dari internet belum tentu benar adanya, cara saya membuktikan bahwa teori ini benar dan logis bagaimana pak ?, menurut saya artikel ini sangat logis, dan juga ada bukunya namun dosen pembimbing saya tdk percaya juga nih pak hehe

    mohon dibales ya pak, saya sedang mengerjakan tugas akhir untuk diploma 3 dan skrg sedang mendapat kendala di bab 3 khususnya dalam menentukan metode sampling

    • Hehehe. Memang blog tidak seluruhnya bisa digunakan sebagai rujukan. Jadi, gunakan sumber yang saya jaikan rujukan. Jika itu masih pendapat saya, kopikan saja sampel blognya, bahwa itu benar-benar blog ilmiah (kan ada label uny-nya). Mudah-mudahan nyambung!
      Kalau saya, jika mahasiswa saya ngutip dari internet, dari mana aja pun, oke-oke aja, kok, asal logis. Yang di buku teks pun jangan dikira benar, banyak yang salah, tuh!
      Ya, kayaknya yang dilakukan sudah benar, tuh!
      Lanjut! Semangat!

  70. bang mau tanya nih, bisa nggak pada rancangan penelitian dengan desain quasi experimental pakai consecutive sampling??

    • Coba dicek lagi disain eksperimennya, yang dijadikan subjek eksperimen siapa, berapa orang?! Pelajari dengan benar disain itu!! Bukan survai, lho, pasti subjeknya tak banyak!

  71. pak, mau tanya. saya lg bikin penelitian yang populasinya anak autis usia 6-12 tahun dan saya sudah bisa ‘masuk’ ke komunitas autis-nya. saya menggunakan teknik purposive sampling.

    di satu komunitas itu hanya ada sekitar 5-10 anak saja, apa saya boleh mengambil data dari beberapa komunitas autis sekaligus, atau hanya boleh dari satu komunitas saja? terimakasih banyak pak

  72. Salam kenal pak Tatang. Sebelumnya terimakasih untuk tulisan2 bapak yang sangat berguna dan mudah dimengerti.
    Begini pak, saya sedang membuat skripsi tentang persepsi pasien mengenai mutu pelayanan dokter gigi pria dan wanita. Saya melakukan penelitian di klinik gigi rumah sakit X pada bulan maret 2013 dan kriteria populasinya adalah pasien yang pernah dirawat oleh dokter gigi pria DAN wanita, serta bukan pasien pengguna askes atau jamkesmas.

    Awalnya, untuk perhitungan sampel, saya mengambil jumlah seluruh pasien yang datang ke klinik tsb selama tahun 2012, lalu saya ambil rata-rata perbulannya kemudian saya menggunakan rumus slovin untuk mendapatkan jumlah sampel minimal. Namun setelah sebulan dilakukan penelitian, sampel yg didapat masih kurang krn jumlah pasien yang memenuhi kriteria populasi (spt yg saya sebutkan diatas) kenyataannya tdk mencapai jmlh sampel minimal.

    pertanyaan saya, apakah sebenarnya populasi penelitian saya merupakan populasi tak terhingga/ tak pasti? dan apakah sebaiknya saya menggunakan metoda accidental sampling?

    Terimakasih sebelumnya, Pak :)

    • Ya, karena ada fluktuasi (naik turun) pasien kan? Kalau sedang musim es pasti banyak yang sakit gigi, kalau sedang musim wedang uwuh, sedikit pasien. Hehehehe… Tentukan saja “sampel purposive” yang datang bulan Maret, seadanya. Atau “kasus bulan Maret 2013.”

  73. salam kenal pak tatang, saya mau tanya pak
    alasan mengambil sampel 30 orang knp pak? dan ada sumber yang menguatkan gak pak, misalnya buku. karna saya mau ujian skripsi ini pak, saya cari buku penelitian gak ada pak. trims.

  74. siang pak, saya mau tanya skripsi saya populasinya seluruh konsumen iphone 5 di suatu ritel (ib*x) jakarta dan menggunakan rumus slovin utk cari sampel. Populasi diasumsikan 1unit=1org. Yg hrs saya cari berarti data penjualan iphone 5 di kuartal 1 2013 ya pak?
    Terima kasih

  75. Malam pak tatang… ada yg ingin saya tanyakan terkait sampel size dan teknik sampling. inti dari penelitian saya adalah menilai aspek kemanfaatan revitalisasi pasar tradisional bagi pedagang dan pengunjung di Kota X. Populasinya adalah seluruh pedagang pasar yang telah direvitalisasi di Kota X, yang terbagi ke dalam 5 pasar…(tiap pasar masih dibagi lagi: ada pedagang kios dan los)..
    1) mana yang lebih tepat pak, teknik samplingnya antara simple random sampling / quota sampling?
    2) teknik pengambilan sampel untuk pengunjung, termasuk accidental ya pak??jika rata2 jumlah pengunjung di pasar tidak ada data pastinya, berapa jumlah sampel minimal u/ pengunjung? adakah teorinya??
    3) jika populasi saya 2216, berapa jumlah sampel minimalnya? saya bingung pak, pake rumus slovin dpt angka 96, tp pake rumus lain bisa dapet 66…yg benar yg mana ini pak??

      • saya anggap kebijakan revitalisasi pasar di tiap2 pasar dalam kota X tersebut sama untuk @pasar,….karakteristik pedagang tidak begitu mempengaruhi hasil penilaiannya pak

      • Kebijakan yang sama belum tentu sama dampaknya bagi setiap orang. Jadi jangan dirandom, nanti bisa-bisa hanya salah satu atau dua pengguna pasar yang tersampel. Gunakan cluster tiap pasar, ambil sampel dari situ. Lihat proporsi pedagang dari ragam kios. Lakukan studi pendahuluan, ada pedagang yang kesepian karena salah letak atau semua sama-sama ramai pembeli. Begitu pula pembeli/pengunjung, ada yang merasa kesulitan atau nyaman-nyaman saja karena tataletak, misalnya.

  76. Malam Pak,
    ada beberapa hal yang mau saya tanyakan, saya sedang membuat skripsi tentang pengaruh keterikatan pekerja terhadap komitmen dan turnover. populasi dari penelitian ini tidak saya batasi pak,
    1. bila saya memilih responden berupa keluarga, teman-teman, maupun kenalan dari keluarga dan teman saya berarti termasuk convenience sampling ya pak?
    2. saya berniat untuk mengujinya melalui korelasi dan regresi, kemudian, bagaimana cara menentukan jumlah sampelnya pak? apakah bisa memakai formula lemeshow untuk populasi tak hingga ataukah bisa memakai rumus Tabachnick and Fidell n> 50 +8m, ataukah ada cara lain?
    Terima kasih sebelumnya Pak

  77. maaf Pak, bukan hanya yang kenal-kenal dan keluarga maksudnya. saya berniat menggunakan jumlah sampel sebanyak 100-200, untuk memenuhi jumlah tersebut saya akan meminta tolong kepada kakak dan teman saya untuk menyebar kuisioner kepada teman kerjanya. jadi responden bukan hanya keluarga dan teman saya pak
    populasi yang akan saya teliti merupakan pekerja yang bekerja di daerah jadebotabek pak, sehingga siapa saja yang bekerja di daerah tersebut dapat menjadi responden saya. bila saya menggunakan cara seperti itu berarti saya menggunakan teknik convenience atau consecutive ya pak?dan untuk menentukan jumlah sampel sekitar 100-200 bagaimana caranya pak?
    terima kasih banyak Pak, maaf merepotkan

    • Entar dulu, ah. Variabelnya kan komitment kerja dan turnover (Saya agak bingung dengan kalimat judul karena pengaruh … dan …, bukan pengaruh … terhadap…). Persoalannya pada turnover itu. Bagaimana variabel turnover itu diukur (didata)? Dari siapa turnover itu diukur (didta, diketahui)? Ini penting untuk menentukan populasi.

  78. siang pak, saya ada beberapa pertanyaan pak,
    saya melakukan penelitian dimana populasi yang akan di ambil adalah jumlaH pengguna angkutan kota di suatu kawasan dalam satu hari, jumlah ini berubah setiap harinya, sehingga saya menyimpulkan bahwa jenis populasi saya adalah populasi tak jelas, yang ingin saya tanyakan teknik sampling apa yang paling cocok untuk populasi seperti ini pak, dan bagaimana cara penentuan jumlah sampelnya, terima kasih sebelumnya pak

  79. ass…pak, judul penelitian saya “hubungan pengetahuan dan sikap akseptor terhadap pemasangan IUD post plasenta di RSUD Kota Bdg”. kata pembimbing, populasinya tak jelas krn setiap bulan, jumlah akseptor KB tak pasti (berubah-rubah). cara pengambilan sampelnya bgmn?

  80. assalamualaikum pak,. penelitian saya tentang kepuasan konsumen terhadap pelayanan dan tarif parkir di kota balikpapan. setiap harinya jumlah konsumen yang berkunjung tidak konstan berjumlah sampai 2000 kendaraan roda dua. kalau tidak konstan setiap harinya bgaimna saya menentukan jumlah respondennya?? terimakasin pak :)

  81. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ maaf pak saya ♏àΰ meneliti ttg kesiapan guru dlm mnjlnkn kurikulum 2013 ϑi SMP N X, Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif dengan model analisis interaktif (Interactive of analysis) mohon penjelasannya pak mengenai model analisis interaktif (Interactive of analysis) .

  82. kang mas tatang…mantap sekali tulisannya…kalo dadi dosenku pasti sipppp yo….aku boleh takon kang mas? Kalo mau ambil populasi ikan tangkapan dari laut yang didaratkan dari kapal ikan tentu populasinya buanyakkkkk sekali (Tak terhingga)…kira-kira berapa jumlah sampel yang paling baik saya ambil buat bahan penelitian saya. Matur suwun kang mas tatang…

  83. pak kalo misal saya mau pake t.s 10% gimana saya harus menjelaskan ke dosen yah sementara di buku menurut peneliti 1%-5%,, karna jumlah populasi saya 600 maka kalau di hitung jumlah sampelnya 150 lebih dgn t.s 5% dan buat saya itu terlalu banyak

  84. Maaf pak mhon bntuannya. Sya kan skrang lg thab prpsal skripsi. Sya mngambil jdul pnelitian “efektivitas pengendalian kecelakaan kerja oleh dinas tenaga kerja dan yranmigrasi”.
    Yg ingn sya tnyakan bgaimana cra mnentukan ppulasi dan pnarikaan smpelnya, sdangkan prushaan di bwhnya ratusan (tdk trhtung lg)….
    Dan sya mnggunakan data kualitatif.
    Mksh pak sblum dan ssdahnya…

  85. Selamat pagi pak tatang. Saya cukup tertarik dengan isi tulisan bapak karena memang sedang menunjang metodologi skripsi saya

    Yang saya ingin tanyakan adalah bila penelitian skripsi saya Kualitatif mengenai pemahaman wajib pajak atas peraturan perpajakan dengan Populasi sebesar 30.409 orang. Bagaimana penentuan sampel nya
    Karena pengambilan data nya bersifat wawancara sehingga bila memakai sampel besar sangat tidak mungkin dari segi waktu dan biaya untuk skripsi saya. Jadi apakah pemilihan sampel penelitian saya sebanyak 40 orang cukup mewakili. Adakah dasar yang menguatkan pemilihan jumlah sampel saya yg kualitatif ini ataukah saya telah salah ?
    Terimakasih pak

    • Dalam penelitian kualitatif sebenarnya tidak dikenal sampel (kadang disebut juga sampel by purpose, purposive sample). Dalam penelitian lebih dikenal (dicari) informasi sampai jenuh, bulak-balik ketemu wajib pajak jawabannya relatif sama seperti yang sudah-sudah. Itu saja.

      • Trimakasih pak. Bolehkah saya bertanya kembali.

        1. Maksudnya jenuh itu apa pak. Apa terus mencari informasi dari para informan mendekati angka jumlah informan sebanyak 30.409 orang itu ya. Berarti anggap saja sampel besar dong ?

        2. Jadi bagaimana dengan mekanisme penulisan di Metodologi nya pak. Kata-kata sampel harus dibuang ya. Trus bila dibuang diganti dengan apa pak yg menganalogikan objek penelitian saya ?

        Trimakasih lagi

      • tulis aja responden atau informan. Jenuh itu artinya jawabannya kurang lebih sama terus. Beberapa orang di Jogja ditanyai padabilang capek ngresiki debu Kelud, ya udah. Kecuali ada yang bilang senang sekali dapat kiriman debu bisa untuk bikin rumah, kejar lagi cari responden siapa tahu yang lainnya ada yang senang juga. Jika ketemu bilang capek juga, selesai.

  86. Pak saya ingin bertanya:
    1. Saya meneliti di Kantor Pajak X, menggunakan data sekunder time series.
    Misal saya mengambil sampel wajib pajak yang aktif selama tahun 2008-2012, termasuk teknik sampling apa pak?

    2. Apakah benar purposive sampling hanya tepat digunakan untuk penelitian kualitatif? Bisakah digunakan dalam penelitian kuantitatif?

  87. bapak mau tanya. Saya rencana akan meneliti hubungan tingkat kepatuhan dengan kinerja pada kelengkapan pengisian rekam medis oleh dokter dan perawat. Jika saya mengambil sampel dengan cara terlebih dahulu mengambil sampel rekam medis secara acak yang akan dinilai angka kelengkapan pengisiannya. Bru kemudian dari sampel rekam medis itu saya identifikasi siapa saja dokter dan perawat yang mengisinya, hasil identifikasi nama-nama tersebut saya jadikan sampel penelitian untuk melihat tingkat kepatuhannya. Cara seperti itu masuk dalam kategori teknik pengambilan sampel yang bagaimana ya pak? terima kasih sebelumnya.

  88. siang pak
    saya sedang skripsi,, saya meneliti tentang penilaian konsumen mengenai 2 produk.
    pada penelitian saya tersebut mengharuskan responden pernah menggunakan 2 produk tersebut, jadi saya harus memilih-milih responden yang cocok. seperti pada kasus purposive sampling.
    bagaimana saya menentukan jumlah sampelnya pak?

  89. Saya punya pertanyaan pak. Saya melakukan penelitian tentang keputusan pengambilan kredit bank. Saya mengetahui jumlah populasi atau yang melakukan kredit di bank tersebut, tetapi saya tidak memiliki data secara lengkap nama dan alamat dari nasabah tersebut sehingga saya tidak bisa melakukan pengundian. Menurut bapak teknik sampling apa yang harus saya gunakan untuk melakukan penelitian?
    Mohon bantuannya dan terimakasih

    • Carilah obyek penelitian yang bisa “dijangkau” (tidak yang bersifat rahasia, misalnya konsumen bank–itu rahasia bank). Ayo pikirkan peminjam uang tanpa harus cari data dari bank!

  90. ass pak tatang, trimaksih artiket ini sangat membantu saya dalam penyusunan skripsi, sya mau tanya pak…sya memakai teknik confenience sampling dan perhitunganya menggunakan PHstat, yg sya ingin tanyakan estimate of true population dan convidence level itu maksudnya apa ya pak? trimaksih

  91. assalamualaikum pak, sy sedang melakukan penelitian yang populasinya adalah pengguna facebook dan twitter salah satu tempat wisata ternama di JKT. populasinya sudah sy batasi sampai april ini mencapai 3ribu sekian. untuk teknik sampling yang tepat itu apa ya pak? jika berkenan bisa memberikan alasannya jg. terima kasih pak

  92. assalmualaikum pak,, saya sedang menegrjakan TA dengan judul pemeriksaan barang berbahaya yang di bawa oleh penumpang dan kru dalam upaya meningkatkan keselamatan penerbangan di bandara X.
    ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan.
    1. apakah saya bisa mengambil jmlh sampel 30 org? karena
    penumpang yang sebelumnya pernah membawa barang berbahaya kan tidak diketahui jumlahnya? dan jumlah sampel 30 orang itu berdasarkan referensi apa ya pak?
    2. apakah jenis penelitin saya ini kuntitatif? atau bisa keeduanya penelitian kunatitatif dan kualitatif?
    mohon penjelasannya pak,,
    terimakasih…

  93. Pak untuk menentukan sampel dari populasi yang tidak diketahui,, memakai rumus apa?
    makasih

  94. Sugeng siang Pak Tatang. Badhe tanglet niki Pak, penelitian saya kualitatif studi kasus. Kasus yg saya angkat adalah pemutaran musik d perpustakaan umum kota. Yg ingin saya kaji adalah persepsi dr pemustaka berkaitan dengan pemutaran musik. Populasinya semua pemustaka. Kriteria informannya adalah pemustaka pelajar, mahasiswa, dan pegawai yg Saya rasa kriteria itu sudah mewakili populasi. Misalkan jumlah pmustaka mahasiswa merupakan yg terbanyak, lalu pmustaka pelajar dan pmustaka pegawai dengan jumlah paling sedikit. Bila saya menggunakan accidental sampling, apakah informan yg saya wawancarai jumlahnya mewakili jumlah sebenarnya Pak? Misalkan informan saya 10. Saya bagi menjadi 5 mahsiswa, 3 pelajar dan 2 pegawai. Matur sembah nuwun sakderengipun.

  95. Asslamu ‘alaykum Pak / Mas
    Mohon bantuannya. Populasi saya adalah seluruh pasien yang berkunjung ke Rumah Sakit tanpa memilah apakah dia pasien rawat inap, jalan, atau poli. Saya putuskan untuk mengambil semuanya. Artinya populasi saya adalah infinite. Yang membingungkan adalah cara menarik sampel yang representatif dengan penelitian saya. Apakah saya harus stratified dulu menurut tujuannya (Rawat Inap berapa, rawat jalan berapa, poli gigi berapa, poli umum berapa, etc) atau kah tidak perlu seperti itu dan ada cara yang lebih tepat? Sekian. Terima kasih sebelumnya. Tulisannya sangat bermanfaat ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s