POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 1: PENGERTIAN

Tatang M. Amirin; Edisi 25 Juni 2009; 26 Juni 2009; 12 Juli 2009; 17 Juni 2010; 24 September 2010; 3 Februari 2011

Objek penelitian (“attributes” subjek penelitian); subjek penelitian; responden penelitian; sampling; studi populasi; studi sampling; populasi objek penelitian; sampel objek penelitian; populasi subjek penelitian; sampel subjek penelitian; populasi responden penelitian; sampel responden penelitian; generasilasi hasil penelitian sampling; informan penelitian; informan kunci; populasi homogen; populasi heterogen: ber-strata, ber-cluster, ber-area; sampel representatif; populasi terhingga; populasi takterhingga; populasi tak jelas/tak pasti

1. Populasi dan sampel penelitian

a. Populasi dan sampel objek penelitian

Sifat atau keadaan (attributes) dari sesuatu (orang, benda, atau lembaga) yang menjadi sasaran penelitian disebut sebagai objek penelitian (lihat uraian tentang ini dalam blog ini juga). Sifat atau keadaan orang, benda, atau lembaga yang akan diteliti itu umumnya sangat banyak (sangat luas, sangat dalam dan sebutan lain semacam itu–kecuali penelitiannya sangat amat terbatas). Keseluruhan sifat atau keadaan orang, benda, atau lembaga yang akan diteliti itu disebutlah sebagai populasi objek penelitian.

Icip-icip

Jika seseorang guru melakukan penelitian tindakan kelas di Kelas IV pada mata pelajaran IPA, selama satu semester, dengan menggunakan pendekatan PAKEM, misalnya, maka keseluruhan hasil belajar IPA selama satu semester itu disebutlah sebagai populasi hasil belajar IPA satu semester.

Untuk mengetahui keberhasilan peningkatan hasil belajar IPA dengan pendekatan PAKEM itu, guru mengetes murid. Soal tes yang diberikan guru pasti tidak akan mencakup seluruh materi pelajaran IPA selama satu semester, melainkan hanya “sebagian kecil” saja daripadanya, karena tidak mungkin mengetes seluruhnya dengan soal yang sangat amat banyak sekali.

Dalam penelitian tindakan kelas tersebut, pengetahuan (penguasaan materi) IPA murid yang telah dipelajari selama satu semester itu jadilah sebagai objek (sasaran) yang akan diteliti (objek penelitian). Dalam rumusan objek penelitian di muka, pengetahuan IPA murid yang dipelajari selama satu semester itu disebut dengan “sifat atau keadaan” (keadaan tahu atau tidak tahu, keadaan paham atau tidak paham) murid. Keseluruhan “ke-tahu-an” atau kepahaman IPA murid yang telah dipelajari satu semester itu disebutlah sebagai populasi objek penelitian. Soal yang dibuat guru hanya mengetes sebagian kecil saja dari keseluruhan pengetahuan IPA murid. Sebagian kecil pengetahuan IPA murid yang dites itu disebutlah sebagai sampel dari keseluruhan (populasi) objek penelitian, yang dapat disebut sebagai sampel objek penelitian. Sampel objek penelitian inilah yang secara langsung diteliti, sedangkan populasinya tidak diteliti secara langsung, melainkan “diwakili” oleh sampelnya.

Jadi, populasi objek penelitian adalah keseluruhan sifat atau keadaan seseorang, sesuatu benda, atau sesuatu lembaga yang menjadi sasaran penelitian. Sampel objek penelitian adalah sebagian dari keseluruhan sifat atau keadaan orang, benda, atau lembaga yang menjadi sasaran langsung penelitian.

b. Populasi dan sampel subjek penelitian

Sesuatu (orang, benda, lembaga) yang sifat atau keadaannya akan diteliti disebut subjek penelitian. Jadi, dengan kata lain, subjek penelitian adalah sesuatu (orang, benda, atau lembaga) yang sifat atau keadaannya akan diteliti. Jika subjek penelitian tersebut banyak, disebutlah keseluruhan subjek penelitian tersebut sebagai populasi subjek penelitian).

Catatan:

(1) Istilah subjek (dalam penelitian) hendaknya tidak dikacaukan dengan “subjek” dalam “tatakalimat,” yaitu kalimat yang mengandung unsur subjek – predikat – objek/keterangan (SPO/K). Dalam tatakalimat tersebut istilah subjek sebenarnya merujuk pada (dan suka diindonesiakan sebagai)  pokok kalimat. Pokok kalimat itu arti sebenarnya sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan dalam kalimat. Hanya saja kerap dikacaukan dengan pelaku (pelengkap pelaku), seperti kata Ibu dalam kalimat “Nasi kucingku dimakan Ibu.” Ibu dalam kalimat itu berfungsi sebagai “pelengkap pelaku,” yaitu keterangan yang menunjukkan sesuatu atau seseorang yang melakukan pekerjaan yang disebut dalam kalimat.

(2) Istilah subject (bahasa Inggeris) dalam penelitian maknanya seperti dalam kalimat berikut:

All train times are subject to change in bad weather conditions.

(Semua jadwal keberangkatan kereta api merupakan sesuatu [subjek] yang bisa diubah sewaktu-waktu ketika kondisi cuaca buruk).

Subject di situ mengandung makna sebagai sesuatu yang ” likely to experience something or to be affected by something” (bisa mengalami/terkena sesuatu atau dipengaruhi oleh sesuatu).

“Orang Indonesia” biasanya menyebut “subjek” seperti dicontohkan di atas sebagai “objek,” yaitu sesuatu yang dikenai/mengalami perlakuan. Jadi, tidak peduli kalimatnya seperti apa, sesuatu yang teerkena akibat perbuatan disebutlah sebagai objek. Oleh karena, misal, murid-murid akan diteliti prestasi belajarnya, maka murid-murid itu dipandang sebagai objek penelitian, bukan sebagai subjek penelitian. Oleh karena itulah maka saya “harus” membedakan subjek penelitian dengan objek penelitian agar istilah subjek penelitian dapat dipergunakan secaa tepat makna. Di buku-buku manapun (sejauh yang saya ketahui) tidak ada pembedaan serupa itu.

Lanjut!

Kerap kali, dalam penelitian, populasi subjek penelitian inilah yang suka disebut dengan populasi penelitian. Jarang atau tidak pernah orang menyebut populasi penelitian yang lain, yaitu populasi objek penelitian dan populasi responden penelitian.

Jadi, populasi subjek penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian, apakah berupa orang, benda, atau lembaga. Setiap subjek penelitian (apakah seseorang, sesuatu benda, atau sesuatu lembaga) merupakan anggota populasi subjek penelitian.

Seluruh murid Kelas IV yang dikenai penelitian tindakan kelas seperti dicontohkan di muka, merupakan populasi penelitian. Setiap muirid Kelas IV tersebut merupakan anggota populasi subjek penelitian. Karena seluruh anggota populasi subjek penelitian diteliti (dites), maka penelitian yang dilakukan disebutlah dengan studi populasi.

Tunggu!

Contoh saya tadi kurang bagus, kurang tepat. Dalam penelitian tindakan kelas (PTK), murid tadi tidak disebut sebagai subjek penelitian. Oleh karenanya seluruh murid tidak disebut sebagai populasi penelitian. Murid itu disebut sebagai partisipan penelitian, yang ikut serta terlibat aktif dalam pelaksanaan penelitian.

Tapi, biarlah, sekedar untuk memberi gambaran, kita lanjutkan.

Jika guru melakukan wawancara kepada beberapa murid mengenai apakah senang dengan pendekatan PAKEM yang digunakan guru, maka beberapa (sebagian) murid tersebut disebutlah sebagai sampel penelitian (sampel subjek penelitian), dan studi atau penelitiannya disebutlah sebagai studi sampling atau penelitian sampling (penelitian terhadap sampel).

Nah, agar tidak kisruh dengan partisipan penelitian, mari kita buat contoh lain.

Seorang mahasiswa ingin meneliti motivasi kerja pegawai kantor Dinas Pendidikan di Kabupaten Anyarada. Ada 123 karyawan yang bekerja di situ. Setiap karyawan itu disebut sebagai subjek penelitian si mahasiswa. Keseluruhan karyawan yang 123 orang itu disebut sebagai populasi (subjek) penelitian. Oleh karena ia akan menelitinya tidak dengan menggunakan tes (psikotes), melainkan dengan pengamatan (observasi), maka tidak seluruh anggota populasi diteliti. Ia mengambil sampel dari populasi tersebut.

Objek yang diteliti adalah motivasi (dorongan, kemauan) kerja para karyawan. Karena motivasi kerja (populasi objek penelitian)  itu unsur pembentuknya amat sangat banyak sekali, maka si mahasiswa (tanpa harus mengatakan mengambil sampel) sebenarnya hanya memgambil sampel dari motivasi (kemauan) kerja tersebut. Tentu ia sudah membuat definisi operasional mengenai motivasi kerja yang ia ramu dari berbagai teori motivasi kerja, sehingga ia mudah membuat “alat ukur” untuk mengukur derajat (taraf) tinggi rendah motivasi kerja karyawan tersebut.

Nah, itu contoh lain subjek penelitian, populasinya, dan sampelnya, serta contoh objek penelitian, populasinya, dan sampelnya.

c. Populasi dan sampel responden penelitian

Ada kalanya seseorang peneliti ingin mengetahui (meneliti) sifat atau keadaan subjek penelitian, akan tetapi tidak secara langsung bertanya kepada atau mengamati subjek penelitian itu sendiri.

Sebagai misal, peneliti ingin mengetahui semangat belajar murid-murid yang berasal dari kalangan anak-anak jalanan. Peneliti tidak mengamati perilaku murid dimaksud untuk mengetahui mereka bersemangat belajar atau tidak, melainkan bertanyakan hal tersebut kepada para gurunya. Jadi, para guru diminta memberikan “respon” terhadap pertanyaan yang diajukan peneliti.

Para guru yang diminta memberikan respon terhadap pertanyaan peneliti disebutlah sebagai responden. Jadi, responden penelitian adalah seseorang yang diminta memberikan respon (jawaban) terhadap pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Dengan demikian, dapat terjadi, subjek penelitian sekaligus menjadi responden penelitian, yaitu jika pertanyaan diajukan langsung kepada subjek penelitian.

Jika, dalam contoh kasus di atas, peneliti ingin meneliti murid-murid anak jalanan itu sekabupaten tertentu, tetapi kemudian yang dijadikan responden hanya sekian guru dari sekian sekolah, maka para guru yang menjadi responden tersebut disebut sebagai sampel responden penelitian.

Jadi, responden penelitian adalah seseorang yang diminta atau akan diminta memberikan respon (jawaban) terhadap pertanyaan penelitian mengenai sifat atau keadaan yang menjadi objek penelitian. Responden dapat berupa subjek penelitian, bisa pula orang lain yang memberikan “komentar” (pendapat, penilaian dsb) mengenai sifat atau keadaan subjek penelitian.

Keseluruhan responden penelitian disebut populasi responden penelitian, sementara sebagian dari populasi responden penelitian yang ditanyai secara langsung disebut sebagai sampel responden penelitian.

d. Generalisasi hasil meneliti sampel kepada populasinya

Hasil penelitian terhadap sampel penelitian (subjek ataupun responden penelitian) tidak hanya diberlakukan bagi sampel itu saja, melainkan diberlakukan secara umum kepada populasinya. Pemberlakuaan secara umum tersebut disebut dengan generalisasi. Jadi, dengan kata lain, generalisasi adalah pemberlakuan hasil penelitian terhadap sampel kepada populasinya. Ini termasuk generalisasi hasil penelitian dari sampel objek penelitian (misalnya hasil UAN) ke populasi objek penelitian (penguasaan seluruh materi pelajaran oleh murid–yang telah dipelajari selama bertahun-tahun).

Contoh, ketika seorang ibu memasak sayur, biasa ibu mencicipi sayur tersebut (sebagian kecil saja, sesendok, dari seluruh sayur sebelanga atau sepanci, jadi sampel dari seluruh sayur). Hasil cicipan itu tidak hanya berlaku bagi sampelnya (sesendok sayur), melainkan bagi seluruh populasi sayur (sebelanga atau sepanci sayur). Lalu dikatakanlah sayur itu (seluruhnya, sebelanga atau sepanci) sudah enak rasanya ataukah belum.

Contoh lain, untuk mengetahui golongan darah, setetes darah dari tubuh seseorang (dari ujung jari, biasanya) dicek. Hasilnya berlaku untuk seluruh darah yang ada di dalam tubuh orang tersebut. Jadi orang tersebut akan dikatakan bergolongan darah A, B, AB ataukah O, dan itu berlaku bagi seluruh darah yang ada di tubuhnya, bukan yang ada di ujung jari tangannya saja.

e. Informan penelitian

Informan penelitian adalah seseorang yang mempunyai pengetahuan (informasi) tentang objek (sasaran) penelitian, yang lazimnya berkaitan dengan sifat dan atau keadaan kelembagaan, termasuk pranata kemasyarakatan.

Informasi yang akan diperoleh dari informan penelitian bukan bersifat pribadi (karakteristik pribadi, pendapat atau pandangan pribadi, penilaian pribadi dsb), melainkan (lazimnya), seperti telah disebutkan di atas, merupakan informasi kelembagaan (organisasi atau pranata sosial).

Contoh pranata sosial adalah pendidikan, perkawinan, kekeluargaan, dsb. Termasuk di dalamnya berbagai upacara semisal (di Jawa) mitoni, midodareni, kumbokarnan, tedak siti, saparan, nyadran, tahlilan, yakowiyu, grebeg mulud, dan juga lebaran kupat. Jika seseorang ingin menelitinya, maka orang yang paling memahami tatacara dan (mungkin) sejarah dan makna di balik tatacara “pranata sosial” tersebut dijadikanlah sebagai informan (narasumber) penelitian.

Karena informan “mewakili” kelembagaan, maka keseluruhan informan (jika lebih dari satu) bukanlah sebagai populasi (seperti gabungan subjek atau responden penelitian), melainkan sebagai satu kesatuan pemberi informasi. Jadi,  hanya ada “satu” informan walaupun rielnya beberapa orang informan. Tegasnya tidak ada populasi informan. Oleh karena tidak ada populasi informan, maka tidak ada pula sampel informan.

Dalam melakukan penelitian (pengumpulan data) peneliti dapat “bergerak” dari satu informan ke informan lain sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu ada yang dikenal sebagai informan kunci, yaitu: (1) yang paling tahu banyak informasi mengenai objek yang sedang diteliti, atau (2) yang mempunyai informasi umum menyeluruh, sementara detail atau rincian yang lebih khusus pada aspek atau bidang tertentu ada pada orang (informan) lain.

Oleh karena tidak ada populasi informan dan sampel informan, maka tidak ada kegiatan menentukan jumlah informan penelitian. Peneliti cukup langsung menuju lokasi penelitian, bertanyakan mengenai kepada siapa harus bertanya jika ingin mengetahui tentang ini itu, atau, jika sudah punya gambaran, langsung menuju informan (misalnya tentang acara atau tatacara nyadran kepada kaum atau modin).

Jika di sesuatu lembaga atau daerah ada “yang dituakan” (di sekolah misalnya kepala sekolah, di perpustakaan kepala perpustakaan, di dusun kepala dusun), untuk menemukan informan sesuai dengan data yang ingin dihimpun, dapatlah pertama-tama menghubungi orang yang dituakan tersebut. Ingat, yang bersangkutan bukan informan, hanya sebagai tempat awal bertanya tentang informan yang dicari. Informan, dengan demikian, bukan semua orang yang memberikan informasi apapun, melainkan yang mampu atau bisa memberikan informasi penelitian (memberikan data-data yang menjadi sasaran penelitian, atau tentang objek penelitian).

Informasi yang diperoleh dari keseluruhan informan (kunci dan bukan kunci) merupakan satu kesatuan informasi yang saling melengkapi (komplementer), bahkan dapat menjadi sarana “saling koreksi informasi” (semacam “trianggulasi”), tidak berdiri sendiri-sendiri.

Informasi dari responden (subjek penelitian atau murni responden penelitian), di sisi lain, bersifat individual atau pribadi (pendapat pribadi, penilaian pribadi, keadaan pribadi), sehingga bisa banyak pendapat (informsi) atau penilaian pribadi yang berbeda-beda dari sekian banyak responden. Itu bedanya.

Contoh:

Kepala Sekolah SMP Karanglaut ditanyai mengenai apa saja program yang dibuat sekolah untuk lima tahun ke depan dalama rangka mencapai status sekolah berstandar internasional (SBI). Ia menjawab sambil menunjukkan renstra dan renop yang sudah disusun sekolah. Mengenai pelaksanaannya, Kepala Sekolah meminta Wakasek Bidang Kurikulum dan Sarana Prasarana membantu menjelaskan, dibantu Kepala TU yang menyimpan data-data tahun lalu dan tahun sekarang, termasuk unsur pendanaannya. Semua informan tersebut di atas (Kasek, Wakasek, Kepala TU) itu berada dalam satu kesatuan, tidak berdiri sendir-sendiri. Tidak ada “pendapat pribadi,” yang ada kesatuan informasi.

Hati-hati! Misalkan si mahasiswa ingin meneliti hal yang sama pada beberapa SMP. Jadi ditelitilah SMP Karanggunung, SMP Karangdarat, SMP Karangbukit, SMP Karanglembah, SMP Karangjurang, dan SMP Karangngarai, semuanya berada di Kabupaten Karangbatu. Tiap-tiap SMP itu merupakan subjek penelitian. Semua SMP itu merupakan populasi penelitian. Dari tiap-tiap SMP ada “satu kesatuan informan.” Tiap-tiap SMP punya “data” sendiri-sendiri, seolah-olah satu jawaban (respon) dari satu orang responden.

Di atas disebut-sebut “trianggulasi” [dari tri = tiga + angel (baca: aengg) = sudut, bukan aenjel =malaikat/bidadari]; jadi “trianggel”  berarti tiga sudut alias segi tiga. Sebutan segi tiga atau, tepatnya, tiga sudut itu sekedar untuk menyebut banyak (jama’ atau plural). Maksudnya dari banyak sudut (sudut pendekatan, sudut pandang). Tegasnya trianggulasi itu memperbanyak sudut pendekatan (penghampiran, peninjauan).Sudut-sudutnya itu bisa berupa informannya (diperbanyak), cara mengumpulkan datanya (dengan beragam cara atau teknik: wawancara, observasi, dokumenter), atau gabungan daripadanya.

“Tri” dalam arti banyak itu  sama seperti orang Jawa menyebut “sewu” (seribu), misalnya pada Grojogan Sewu (air terjun di Tawangmangu), Candi Sewu (Prambanan), dan Lawang (pintu) Sewu (Semarang) yang sebenarnya tidak sampai berbilang seribu, tapi dimaksudkan banyak sekali (air terjunnya banyak sekali, candinya banyak sekali, pintunya banyak sekali). Juga nyuwun sewu (aslinya, atau lengkapnya, nyuwun sewu apunten = mohon banyak maaf) yang suka dilanjutkan dengan nderek langkung (numpang lewat). Urang Sunda memendekkannya menjadi “punten” (asli atau lengkapnya “nuhunkeun/nyuhunkeun dihapunten/pangapunten“). Sunda kuno ucapannya “sampurasun” (kira-kira: sampura, Sun = hampura, Ingsun; ingsun = saya; hampura dihaluskan jadi hapunten).

Dalam mengumpulkan data pada penelitian kualitatif, diseyogyakan  menggunakan trianggulasi atau banyak pendekatan (multimethods dan multirespondents/informen). Jelasnya tidak cuma mengumpulkan data atau informasi dari satu macam responden (misalnya para guru saja) atau satu informan (hanya kaum atau modin saja), dan tidak hanya menggunakan satu teknik pengumpulan data saja (misalnya hanya angket), melainkan beberapa macam responden (guru, murid, orang tua murid, tokoh masyarakat), beberapa informan (modin, kepala dusun, kiyai), dan beberapa teknik pengumpulan data (wawancara, observasi, dokumenter).

2. Persyaratan pengambilan sampel (sampling)

Cara mengambil (pengambilan) sampel dari populasinya disebut dengan sampling. Cara pengambilan sampel akan menentukan ketepatan penggeneralisasian hasil penelitian dari sampel kepada populasinya. Penggeneralisasian hasil penelitian dari sampel dikatakan tepat apabila “sifat atau keadaan” yang ditunjukkan atau digambarkan dari hasil penelitian terhadap sampel itu benar-benar cocok dengan sifat atau keadaan populasi tersebut.

Sayur (dari penelitian terhadap sampel, cicipan) dikatakan kurang garam, misalnya, jika seluruh sayur (sebelanga atau sepanci) itu memang benar-benar kurang asin. Dikatakan tidak tepat jika berdasar hasil penelitian (pencicipan) terhadap sampel sayur simpulannya sayur itu kurang garam, padahal dalam kenyataan secara keseluruhan sayur itu justru terlampau asin. Dikatakan tidak tepat, contoh lain, jika dari penelitian terhadap sampel dikatakan bahwa “semuanya senang menonton sinetron berbau misteri”, tetapi dalam kenyataan para penonton sebagian besar tidak suka sinetron misteri.

Agar hasil penelitian dari sampel benar-benar dapat mencerminkan sifat atau keadaan populasinya, maka sampel itu harus benar-benar representafif, yaitu mencerminkan ciri-ciri kondisi populasinya. Dalam bahasa lain, sampel harus benar-benar mewakili populasinya. Jadi, jika populasinya beragam (dalam aspek tertentunya), maka sampelnya pun harus beragam pula seperti populasinya.

Oleh karena itu, sebelum mengambil sampel, hendaknya diketahui terlebih dahulu ciri-ciri kondisi populasinya. Berikut dipaparkan penggolongan ciri-ciri kondisi populasi (dalam hal ini populasi subjek dan atau responden penelitian) yang perlu diperhatikan dalam (untuk) pengambilan sampel.

3. Ciri-ciri kondisi populasi

a. Populasi seragam (homogen) dan beragam (heterogen)

Populasi penelitian disebut homogen apabila antar anggotanya relatif memiliki kesamaan ciri-ciri atau kondisi umum. Darah, misalnya, termasuk yang memiliki kesamaan sifat atau kondisi (berkaitan dengan golongan darah) di seluruh tubuh. Demikian pula dengan sayur (sayur asem, sayur lodeh dsb.) pada saat dimasak (sedang mendidih). Maksudnya di bagian manapun dari belanga atau panci memasak, “rasa” sayur memiliki kesamaan. Orang Islam, di manapun, contoh lain, memiliki kesamaan, yakni kesamaan dalam hal pemelukan agama (soal ketataatan beragama tentu beragam).

Populasi penelitian dikatakan heterogen apabila memiliki ciri-ciri atau kondisi umum yang tidak sama di antara anggota-anggotanya. Ketidaksamaan itu dapat terjadi antara lain karena di antara anggota-anggotanya ada perbedaan dari aspek sebagai berikut.

(1) Strata atau lapisan. Misalnya:

(a) status ekonomi (perbedaan pemilikan harta benda): ada milyarder, jutawan, menengah, miskin, dan di bawah garis kemiskinan;

(b) tingkat pendidikan (tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh): ada yang berpendidikan PT, SMTA, SMTP, dan SD;

(c) lapisan kemasyarakatan atau sosial: ada kelompok elite, menengah, dan bawah atau “wong cilik”;

(d) tingkatan “keilmuan keagamaan” (Islam) : ada kiyai, santri, dan “abangan” alias Islam KTP;

(e) tingkatan usia: ada bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, dan lansia;

(f) tingkatan kelas di sekolah: ada Kelas XII, XI, X SMA; Kelas IX, VIII, VII SMP; dan Kelas VI, V, IV, III, II, I SD.

(2) Cluster [klaster] atau golongan, dan juga gugus atau kelompok. Misalnya:

(a) golongan berdasarkan pemelukan agama: ada yang beragama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu;

(b) jenis kelamin: ada laki-laki dan perempuan;

(c) pekerjaan: ada petani, PNS, pedagang, buruh bangunan, pegawai swasta, wirausahawan dllsb.

(d) kelompok atau gugus: guru di satu sekolah, murid di satu kelas, sekolah di satu gugus sekolah.

Ada orang yang menyamakan cluster dengan strata, maksudnya sebutan strata sama dengan cluster (di dalamnya tercakup baik lapisan, maupun golongan).

(3) Area (wilayah), geografis dan atau administratif (juga ada yang menyebutnya strata). Misalnya:

(a) geografis: ada desa, pinggiran kota, kota, dan metropolitan;

(b) administratif: ada desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, propinsi.

Heteroginitas (keragaman) tersebut perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel manakala diduga atau diperkirakan akan membawa perbedaan terhadap hasil penelitian (sesuai objek yang diteliti).

Misalnya, jika dianggap jenis kelamin tidak berkaitan dengan prestasi belajar, maka unsur jenis kelamin itu tidak perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel penelitian yang akan meneliti tentang prestasi belajar. Maksudnya, tidak harus unsur jenis kelamin laki-laki terwakili, perempuan juga terwakili. Jika yang diteliti mengenai selera menonton sinetron (jenis tayangan), mungkin jenis kelamin itu akan membuat perbedaan, jadi perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel. Jika perbedaan tingkat (kelas I, II, III di sekolah) diperkirakan akan mempengaruhi penilaian mengenai ketersediaan koleksi perpustakaan sekolah, contoh lain, maka dari tiap tingkat (kelas) itu harus ada sampel yang terambil.

b. Populasi terhingga, tak terhingga, dan tak jelas/tak pasti

Banyaknya anggota populasi ada yang terhingga (bisa dan mudah dihitung), ada pula yang tak terhingga (tak bisa atau tidak mudah dihitung). Murid di sesuatu sekolah, atau mahasiswa di sesuatu fakultas, dan karyawan serta guru/dosen yang ada di situ, jelas merupakan sesuatu yang bisa dan mudah dihitung. Bahkan di sesuatu kecamatan, kabupaten, propinsi, bahkan nasional pun masih bisa dan mudah dihitung (walau mungkin tidak tepat benar).

Jumlah “santri mukim” (yang mondok dan belajar di sesuatu pesantren) bisa dan mudah dihitung, tetapi jumlah “santri kalong” (yang hanya datang sore/malam hari untuk belajar agama di pesantren, kemudian pulang ke rumah masing-masing, mungkin tak terhingga (karena bisa kadang hadir kadang tidak, walau masih bisa dikira-kira). Bahkan, jumlah orang yang suka (sukarela) mengikuti pengajian di sesuatu pondok pesantren besar (lebih-lebih di sekian banyak pesantren) mungkin menjadi tak terhingga, karena kehadirannya tidak ajeg. Apalagi (walau sekedar ilustrasi) banyaknya bintang di langit, atau pasir di pantai.

Bahkan, lebih dari sekedar tak terhingga, di antara populasi itu ada yang benar-benar tidak jelas jumlahnya. Andaikata seseorang akan meneliti pelaku kawin siri, misalnya, tentu tidak mudah mendapatkan data berapa banyak (karena siri sama dengan diam-diam). Begitu pula dengan banyaknya WTS, pengguna merek pasta gigi tertentu, pengguna narkoba, pencuri, pencopet dan pengutil, serta koruptor di sesuatu kabupaten. Tentu populasinya (banyaknya anggota populasi) tidak jelas.

Sekedar untuk merangkum, populasi terhingga adalah populasi penelitian (subjek dan atau responden) yang jumlah anggotanya bisa dan mudah dihitung; populasi tak terhingga adalah populasi penelitian (subjek dan atau responden) yang jumlah anggotanya sulit dan tidak mungkin dihitung; populasi tak jelas adalah populasi penelitian (subjek dan atau responden) yang jumlah anggotanya tidak bisa diketahui secara pasti jumlahnya, bahkan keberadaannya.

Berdasarkan kondisi atau ciri-ciri populasi seperti disebutkan di atas, maka ada teknik-teknik pengambilan sampel (teknik sampling) yang, paling tidak, disepakati para ahli metodologi penelitian, sebagai cara atau teknik yang dianggap akan mendapatkan sampel yang representatif atau mendekati representatif.

Teknik pengambilan sampel (sampling) ini akan dibicarakan dalam bagian (tulisan) yang lain, agar bagian ini tak terlampau panjang.

3. Total sampling (?)

Oh, ya, sebelum lanjut, perlu diinformasikan bahwa ada yang mengemukakan konsep dasar pengambilan sampel dengan menegaskan bahwa mengambil sampel seluruh anggota populasi jauh lebih baik dari mengambil sampel sebagian anggota populasi. Ini dinamakan sampel total (pengambilan sampel secara keseluruhan disebut  “total sampling”).

Konsep tersebut tentu menjadi kacau. Sampel suka diindonesiakan menjadi cuplikan; jadi sampling indonesianya mencuplik. Arti mencuplik adalah mengambil sebagian dari keseluruhan. Jadi, jika keseluruhan itu diambil, maka tidak ada cuplikannya. Bayangkan dengan kias “mencicipi” masakan, yang berarti mengambil sebagian kecil untuk dirasakan, tidak mengambil seluruhnya. Masak, nyicipi sayur sepanci dimakan semua? Jadi, total sampling dan sampel total itu istilah yang kacau balau. Meneliti seluruh anggota populasi kita sebut dengan studi populasi atau sensus. Sampel, ya sampel, sebagian saja dari populasi. Populasi ya populasi, tidak ada sampel sama dengan populasi.

Namun demikian, istilah studi populasi itu sebenarnya tidak sangat dikenal. Tapi, karena itu diperlukan untuk menegaskan perbedaan dari studi sampling, maka digunakan juga. Jelasnya, inti dari penelitian itu studi populasi. Hanya jika sangat terpaksa, maka studi sampling dilakukan. Jadi, jika sejak awal tidak akan studi sampling, sebenarnya tak perlu menyebut-sebut studi populasi.

haveapieceofcakeFULL

Lho, katanya nyicipi . . . kok dimakan semua?!! Total sampling, ni ye…!

Catatan:

(1) Populasi didefinisikan sebagai “sifat-sifat yang diteliti” (yang oleh penulis diberi nama populasi objek penelitian) antara lain dapat ditemukan dalam buku statistik karangan Sudjana.

(2) Pengungkapan “informan” dalam penelitian itu antara lain terdapat dalam buku penelitian karangan Koentjaraningrat.

Mau ngutip? Tulis (dalam Daftar Kepustakaan): Amirin, Tatang M. (2011). “Populasi dan sampel penelitian.” tatangmanguny.wordpress.com

About these ads

203 thoughts on “POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 1: PENGERTIAN

  1. DENGAN HORMAT, SAYA HARUS TERGESA GESA MENULIS MAAF, PULSA HABIS.
    SAYA AKAN MENGAJUKAN JUDUL TESIS : KINERJA GURU (Hubungan ANtara MOTIVASI,KREATIVITAS DAN KINERJA GURU SLB-A TAN MIYAT BEKASI). TAPI DI SLB-A TAN MIYAT ITU GURU HANYA ADA 23 Orang APAKAH BISA PENELITIAN DILAKUKAN TERUS. SAYA MAU SEKALI MENELTI DISINI DI SEKOLAH TEMPAT SAYA MENGAJAR INI. TOLONG PAK BERIKAN REPLY UNTUK PENGUATAN SAYA APAKAH BISA MENELITI DENGAN POPULASI HANYA 23 ORANG?
    SALAM

    WADUH TERBURU BURU

    DARI

    BASUKIBASUKI@GMAIL.COM

    • Penelitian PLB bahkan bisa dilakukan hanya pada satu orang siswa sebagai subjek penelitian (single subject research). Apalagi ada 23 orang guru. Mengapa tidak? Hanya saja, karena dari satu sekolah, mungkin ada keterbatasan generalisasi, tidak bisa digeneralisasikan terhadap guru dari sekian banyak sekolah. Memang kenapa harus di SLB kalau bisa melakukan penelitian terhadap populasi guru yang banyak sehingga hasilnya akan sangat meyakinkan (signifikan) mengenai bahwa jika guru (guru apa saja di mana saja) punya motivasi kerja dan kreativitas yang tinggi maka kinerja profesionalnya akan tinggi juga? Lain jika sekedar (maksudnya deskriptif, tidak korelasional) akan mengukur apakah guru SLB Tan Miyat motivasi kerjanya (karena harus menghadapi anak-anak yang “luar biasa”) dan kreativitasnya (memang dituntut kreativitas macam apa ya jika berhadapan dengan anak LB?) tinggi atau rendah. Maaf, bukan menggurui, hanya yang seperti itu perlu jadi pertimbangan logis (sebagai rasional atau alasan latar belakang penelitian).

  2. saya mau nanya…
    untuk jumlah informan dalam penelitian kualitatif boleh tidak ya kalo hanya satu tetapi dia cukup representatif.
    mohon dijawab,,
    terimakasih

    • Kalau kita akan mengatakan MENURUT DIA, maka apapun yang dikatakan dia (dan kita laporkan) — SALAH SEKALIPUN — tetap laporan hasil penelitian YANG BENAR–KARENA MENURUT DIA–BUKAN MENURUT YANG LAIN, TERMASUK PENELITI. [AWAS LHO: YANG BENAR LAPORANNYA, BUKAN YANG DILAPORKANNYA. Kata Simbah Rajanggoten Naga Percona itu dimakamkan dekat makam embahnya Simbah Rajanggoten--Itu laporan penelitian saya, menceriterakan pendapat Simbah Rajanggoten. Laporan saya benar]
      Kalau kita akan melaporkan KEBENARAN mengenai sesuatu, jika informasi hanya dari satu orang rasanya kurang meyakinkan. Orang itu pada umumnya: (1) daya pengamatan terbatas – tidak mampu mengamati segala macam dan semua macam peristiwa, (2) daya ingat terbatas — tidak mampu mengingat segala macam dan semua macam peristiwa dan benda.
      Jadi, kalau yang tahu di mana kuburan Naga Percona hanya Simbah Rajanggoten, ya sudah, wong kalau mau cari yang lebih tahu lagi tidak ada.

  3. saya mahasiswa FKM UNHAS, saat ini saya tengah menyusun skripsi saya. Saya mempunyai permasalahan dengan teknik pengambilan sampling. Dimana jumlah populasi dari objek penelitian saya adalah 130 orang. Kemudian saya putuskan untuk mengambil sample dengan cara systematic random sampling mengggunakan rumus Bahar

    n : N.Z.Z.p.q/ d.d (N-1)+Z.Z.p.q

    Keterangan
    n = Besar Sampel
    N = Besar Populasi
    α = Tingkat kepercayaan 95% (0,05)
    Z = Nilai standar normal (α = 0,05) = 1,96
    p = Perkiraan proporsi sampel = 0,5
    q = 1 – p = 0,5
    d = derajat ketepatan yang diinginkan = 0,05

    dan hasilnya adalah 96 responden. Namun setelah diseminarkan dinilai tidak tepat oleh dosen penguji dan disuruh mengambil total sampling yakni 130 responden dengan alasan bahwa jumlah populasi hanya sedikit yakni 130 orang.

    Bagaimna pendapat anda???

      • Sore pak, saya juga sedang bwat skripsi ni pak, tadinya untuk jumlah sampel, saya pakai rumus di atas.. setahu saya study cross sectional, rumusnya y yang di atas.. nah kalo total sampling jdny??g perlu ngitung besar sampel bukan pak?kan seisi populasi jd sampel. tp diproposal kating saya, kok tetap di isi besar sampelnya y pak…mohon pencerahannya. trimakasih (laili)

      • Kalau pembimbingnya punya paham ada total sampling, ya sebut saja begitu (ada kok buku L.N. yang bilang begitu, tapi buku apa, lupa). Kalau total sampling tak perlu pakai rumus apapaun untuk mengambil sampelnya, karena sudah semua disampel. Lucu juga ya : “semua disampel” (semua dicicipi), hehehe

  4. Saya mw tanya..
    Pada proposal penelitian saya,saya mengambil tingkat kepercayaannya 90 %,Apabila ditanya dosen kenapa mengambil 90% apa yang harus saya jawab sedangkan ada tingkat kepercayaan yang lebih tinggi yaitu 95 %

    • Iya, kenapa kok jadi merendahkan tingkat kepercayaan? Yakin bahwa apa yang dihasilkan dari penelitian akan 95% benar kan lebih baik daripada hanya yakinnya 90% saja, apalagi kalau cuma 50%. Seperti kalau menajwab soal ujian bisa 95% benar kan tampak lebih “berhasil belajar” daripada hanya 90%. Sebenarnya yang paling penting, karena menggunakan sampel (yang diteliti sampeld ari populasi), bukan populasi (seluruh anggota populasi diteliti), maka kita tidak bisa terlampau percaya diri (yakin, ainul yakin) bahwa 100% hasil penelitian dari sampling itu akan benar jika diberlakuumumkan (digeneralisasikan) kepada populasinya. Jika 100% anggota populasi diteliti, kita yakin hasilnya akan 100% benar (karena jawaban diperoleh dari seluruh anggota populasi–jika hal-hal lainnya sudah benar dan tepat, tentunya). Jelasnya, kita bisa mengatakan bahwa 100% subjek (responden) yang diteliti mengatakan demikian, atau berkeadaan demikian dan sebagainya. Dalam penelitian kealaman peneliti akan ainul yakin bahwa hasil penelitian dari sampel akan 99 persen benar (taraf signifikansi 0,01), jika diberlakukan (digeneralisasikan) kepada seluruh anggota populasi, karena gejala alam relatif “seragam” (para anggota populasi atau subjek penelitian relatif seragam). Dalam penelitian sosial lazimnya dipergunakan tingkat kepercayaan 95% (taraf signifikansi 0,05). Artinya, jika hasil penelitian dari sampel diberlakukan kepada populasinya, diyakini akan 95% benar atau tepat. Apa tidak boleh yakinnya 90% saja? Ya boleh saja, kalau keberagaman anggota populasinya tinggi, atau pengambilan sampel yang “seragam” tidak mudah.

  5. iya pak,saya mengambil 90% karena jumlah populasinya 913 orang,karena kl di ambil 95 % jumlah sampel akan lebih banyak

    • Lho, kan yang dipertanyakan pembimbing kenapa taraf kepercayaan yang ditetapkan HANYA 90%. Maksudnya/jelasnya, kenapa tidak 95% seperti lazimnya penelitian sosial [dalam literatur para ahli menyepakati untuk IPS 95% atau t.s. 0,05, sementara IPA 99% atau t.s. 0,01).
      Kalau berkait dengan jumlah sampel, ya memang akan terjadi dalil (hukum, rumus) : semakin sedikit sampel, semakin kecil taraf kepercayaan akan kebenaran hasil penelitian (bahwa hasil penelitian dari sampel tersebut akan sesuai, mencerminkan, mewakili, populasinya). Coba pakai taraf kepercayaan 60%, pasti jumlah sampel akan semakin sedikit. Jika dibalik, semakin besar sampel, semakin lebih meyakinkan (bisa dipercaya) kebenaran hasil penelitian dari sampel akan pas, cocok, sesuai, dengan populasi.
      Jadi, dosen Anda sebenarnya minta tolong Anda bisa memberi alasan ilmiah kenapa menetapkan taraf kepercayaan 90%, bukannya 95% seperti lazimnya.
      Pada komen yang lalu saya SALAH bilang “jika populasinya amat beragam” maka taraf kepercayaan bisa diturunkan. Tapi itu kan akan berkait dengan jumlah sampel. Semakin beragam anggota populasi, harusnya semakin banyak sampel diambil, dan teknik pengambilan tidak bisa pakai simple random. Akan tetapi, komen itu benar dari sisi bahwa peneliti tidak berani yakin seyakin-yakinnya (misal 95%, hanya 90% saja) bahwa hasil penelitiannya (dari sampel) akan cocok dengan keadaan nyata populasinya.
      Nah, “taraf” itu terutama berkaitan dengan populasi yang relatif “seragam” (homogen), sehingga sampel bisa diambil secara acak (simple random sampling). Tambah bingung, ya? Jadi, baca juga teknik-teknik sampling lebih banyak dan berulang-ulang sampai paham.

  6. ass.
    saya mau tanya,saya melakukan penelitian d SLB-B dengan jumlah total populasi 51 siswa. setelah dieksklusi menjadi 43 siswa. apakah ada referensi atau teori yang menguatkan pengambilan sampel seluruh populasi SLB-B? mohon bantuan nya… :)

    • Siswa SLB-B, karena akan diteliti, kita sebut sebagai subjek penelitian. Jumlah seluruh siswa 51 orang (setelah dieksklusi menjadi 43 orang). Sebanyak (seluruh) 43 orang siswa SLB-B itu kita sebut POPULASI penelitian. Tiap-tiap siswa disebut ANGGOTA populasi penelitian. STOP: Jadi tidak ada istilah TOTAL POPULASI, yang ada sebutan POPULASI, atau TOTAL ANGGOTA POPULASI.
      Jika kita tidak akan meneliti (mengumpulkan data dari) seluruh siswa yang 43 orang itu, hanya dari sebagian saja, yang sebagian itu kita sebut sampel (cuplikan, contoh), seperti kalau kita diambil darah setetes untuk dicek golongannya, yang setetes itu disebut sampel. Penelitian yang dilakukan terhadap sampel dari populasi namanya studi sampling atau studi sampel. Jika seluruh anggota populasi kita teliti (kita ambil data dari semua anggota populasi), penelitian tersebut disebut studi populasi atau sensus. Jadi, tidak ada pengambilan sampel (contoh), tapi yang diambil seluruhnya. Sampel itu hanya sedikit dari seluruh. Jika akan beli rambutan, yang namanya nyicipi (nyampel) itu kan paling satu dua, tidak nyicipi semua. Bangkrut dong pedagangnya kalau calon pembeli boleh nyicipi semuanya, gratis.

  7. saya mau tanya..
    saya pnya data jumlah petani sebesar 2.392 petani jagung hibrida nah.. berapa jumlah sampel yg harus saya ambil, jika saya menggunakan propotional random sampling.
    saya baca buku kl populasi diatas 1000 maka sampel yang diambil hrs 10 atau 15% dr populasi seandainya memang begitu jumlah sampel terlalu banyak. metode penelitian saya menggunaka analisis SWOT apakah itu mempengaruhi dalam pengambilan jumlah sampel? tolong beri alasannya… terima kasih.

    • Maaf, saya baru datang habis jalan-jalan ke negeri jiran, tak sempat ada waktu untuk buka internet, waktunya jalaaaaaaan terus, jadi baru jawab sekarang. Pertama, proporsional sampling diambil dari berbagai subpopulasi secara proporsional, sebanding dengan banyaknya anggota (subjek penelitian) di setiap subpopulasi. Jika petani itu ada petani penggarap saja (buruhnya, pemeliharanya, lahannya punya orang, bagi hsil, misalnya), petani pemilik sekaligus penggarap, dan petani pemilik lahannya saja, tidak menggarap, maka agar proposrsional ambil misal dari tiap kelompok itu 10%-nya (10% petani penggarap, 10% petani pemilik-penggarap, dan 10% petani pemilik lahan).
      Kedua, 10%-15% dari 1000 itu salah satu rumus saja. Rumus lain ada juga, tapi kerap justru lebih besar tuntutannya. Baca juga jawaban saya pada penanya lain yang berkait dengan taraf keyakinan akan kebenaran hasil penelitian (95%, apa 99%, apa 90%).
      Ketiga, banyak sedikit itu relatif; memang datanya mau dihimpun pakai “instrumen” apa? Dengan angket 240 orang (10% dari 2.392) itu relatif sedikit. Mengolahd ata dengan komputer juga kan bisa lebih cepat.
      Keempat, kok analisisnya SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats), kaya mau menyusun rencana kerja jangka panjang (strategis) saja? Apa data yang digali berkaitan dengan SWOT-nya para petani itu (kekuatan/potensi yang dimilikinya seberapa besar, atau apa saja; kelemahan/kekurangannya apa saja, peluang/faktor pendukungnya apa saja, dan tantangan/ancaman (pesaingnya) apa atau siapa saja? Begitu? Itu kan jadi beda sekali dengan teknik analisis datanya! Analisis datanya PASTI deh kuantitatif, sebab sampelnya banyak. Data statistik itu yang mungkin digunakan untuk lebih lanjut melakukan analisis SWOT. Coba deh cermati lagi. Analisis SWOT bukan teknik analisis data, melainkan analisis situasi dan kondisi nyata saat ini untuk perencanaan program jangka panjang.

  8. selamat sore pak, pak saya mau penelitian kelapangan dengan menyebar kuisioner, penelitiannya kwantitatif & korelasi, dengan 2 variabel X dan 1 variabel Y, (variabel nya adalah Pengetahuan kespro, sikap hidup sehat terhadap perilaku seksual remaja ), yg ingin saya tanyakan:

    1. populasinya remaja siswa SMUN di bukittinggi, disana ada 5 SMUN, kalau saya ingin kelas IX, kira 2 bagaimana tehnik pengambilan sampelnya, apakah bisa satu SMUN saja atau harus ke lima SMUN disana dan berapa sampel yg diambil (rumusnya)

    2. Untuk uji coba instrumen kalau di SMU swasta bisa tidak? kira2 berapa jumlah responden untuk uji coba instrumen.

    terima kasih atas penjelasannya, sukses selalu buat bapak

    sjanti.

    • Tentang populasi dan sampel, tegantung pada judul penelitian Anda yang (sebenarnya) bisa berupa:
      1. Korelasi . . . siswa SMUN Bukittinggi (seluruh siswa dari seluruh kelas dari seluruh jenjang–X, XI, dan XII–dari seluruh SMUN)
      2. Korelasi . . . siswa SMUN Bukittingi Jenjang XI (bukan IX, kan?!)–hanya siswa seluruh kelas dari Jenjang XI saja, tapi dari seluruh SMUN.
      3. Korelasi . . . siswa SMUN PQR (satu sekolah saja–semua kelas dari semua jenjang dari satu sekolah)
      4. Korelasi . . . siswa SMUN PQR Jenjang XI (seluruh kelas tapi dari jenjang XI satu SMUN saja).
      Meneliti sekabupaten jauh lebih berharga daripada meneliti hanya dari satu sekolah, apalagi hanya dari satu jenjang saja. Kecuali ada alasan yang sangat amat spesifik. Jadi, telitilah model 1 (seluruh siswa dari seluruh SMUN Bukittinggi). Sampel diambil secara proporsional, mencerminkan setiap sekolah, jenjangnya, dan kelasnya (dan juga jenis kelamin siswa, nantinya). Jadi dari SMUN I diambil dulu secara proporsional–dengan diundi–wakil kelas dari setiap jenjang (misal Kelas XA, XE, dan X G, Kelas XI-IPA-C dan kelas XI-IPS-A, dan kelas XII-IPA-B dan kelas XII-IPS-D). Dari tiap kelas tersebut diambil sampel, misal 10%-nya sebanyak 4 orang). Begitu terus dari setiap sekolah. Ingat: PROPORSIONAL jenjang dan kelas (murid per kelas mungkin relatif sama berkisar 40-an). Rumus? Gunakan yang sederhana: makin banyak makin baik, tapi, perhitungkan juga dari sisi penyebaran dan kemungkinan kembali, serta waktu untuk mengolah dan menganalisis (semakin banyak semakin menyita waktu). Jadi, yang pantas sajalah dengan memperhitungkan jumlah anggota populasinya (seluruh siswa ada berapa).
      Kedua, uji coba angket. Angket hendaknya diujicobakan pada populasinya. Jadi, jika populasinya siswa SMU NEGERI, ya diujicobakan kepada siswa SMU NEGERI, tidak swasta. Jika kelas XI ya ke kelas XI, tidak ke kelas XII. Tidak cocok, gitu. Wong akan membeli apel kok yang dicicipi pir.
      Sampel uji coba sekitar 5 orang sudah cukup, tapi tunggui ya, ajak dialog juga apakah angketnya “TERPAHAMI DENGAN TEPAT, APA TIDAK”. Mereka boleh bertanya dan ditanya, jangan-jangan yang ditulis (menurut mau pikiran Anda) salah terjawab karena salah tangkap, salah persepi, salah paham.

  9. Pak, saya mau tanya

    Saya menyebarkan kuesioner untuk mengetahui tingkat awareness karyawan.
    Kuesioner dibagikan saat diadakan Workshop Awareness.
    Jumlah pegawai 2000orang, yang menghadiri workshop 50 orang, yang mengisi kuesioner hanya 19 orang.
    Apakah data kuesioner ini dapat di olah pak?
    Karena tidak memenuhi kuota minimal sampling yg menurut Slovin sebesar 100 responden.
    Mohon pencerahannya.
    Terima kasih.

    • Populasinya ya hanya 50 orang, peserta workshop saja, bukan 2000 karyawan (yang harus ada sampel minimal 100 orang menurut Slovin itu). Hasilnya jangan digeneralisasikan kepada seluruh karyawan yang 2000 orang, hanya pada yang 50 orang saja. Olah saja, tapi tentu hasilnya katakan belum maksimal. Dalam penelitian bisa terjadi hal seperti itu, angket kembali tak banyak. Dengan populasi 50 orang peserta workshop, walau bagaimanapun, 19 dari 50 orang kan sudah seekitar 40%.

  10. Pak, saya mau tanya..
    saya ingin menggunakan sampling random..kalau keadaan saya dalam mengambil sampel adalah dengan menawari kuesioner kepada setiap anak yang sedang perwalian dosen, apakah ini bisa disebut sebagai sampling random? (dalam pengertian saya, setiap orang memiliki peluang untuk hadir dalam perwalian tersebut, sehingga bisa dikatakan bahwa tiap anak berpeluang untuk dipilih–> random sampling)
    tapi, dalam hal ini, saya juga menentukan umur remaja (17 – 20) yang digunakan untuk sampling..kalau ada penentuan umur seperti ini, masih bisakah teknik pengambilan sampel saya disebut sebagai random sampling?
    terimakasih untuk penjelasannya..

  11. Mang Tatang Nuwun sewu,saya ngajar di sekolah tinggi ilmu kesehatan muhammadiyah untuk mata kuliah al Islam/kemuhammadiyahan.Sebagai mahasiswa Magister Studi Islam /Pendidikan Islam,kira kira apa yang bisa saya angkat sebagai judul thesis saya pak?trims sebelumnya

    • (1) Temukan masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan umum/agama/agama dan kesehatan–upayakan bukan satu lembaga. Masalah itu mudahnya ya yang dinilai kurang baik, lemah dsb. Kemudian ajukan pertanyaan mengenainya, bisa (a) Kurang baiknya itu seperti apa, sebesar apa; (b) Mengapa kurang baik atau lemah: atau (c) apa akibat yang terjadi dengan kekurangbaikan atau kelemahan tersebut. Jika sudah ada dugaan “kuat” mengenai penyebab atau akibat, ya jujug to the point pada hal tersebut (jika yang lemah diduga motivasi belajar–kejar–> seberapa tinggi motivasi belajar …?)
      (2) Jika ingin mengevaluasi “efektivitas perkuliahan al-Islam/kemuhammadiyahan di berbagai sekolah dan PT,” ya gunakan penelitian evaluasi.
      (3) Boleh juga “survai” adakah dosen-dosen al-Islam mengisi pelajaran/perkuliahan al-Islam itu kontekstual dengan program studinya (dikaitkan dengan bidang studi mahasiswa apakah kesehatan, pendidikan, ekonomi, biologi, teknologi dsb), ataukah normatif ngajarkan ilmu-ilmu “ISLAM FIQHIYAH” SYAR’IYAH,” di manapun sama, pokoknya ngajarkan tauhid, fiqh, akhlaq . . . Dan, seberapa mampu dosen-dosen itu kontekstual.
      (4) Bisa juga berusaha memperbaiki cara memberi kuliah al-Islam/kemuhammadiyahan di PT Anda. Ini dilakukan dengan penelitian tindakan kelas (PTK)—silakan baca di blog ini.
      Nah, itu antara lain.

  12. pak tatang,saya mau tanya mengenai pengambilan sample..
    jumlah popolasi untuk penelitian saya 156,jadi saya memakai total sampling..
    sebenarnya untuk keadaan seperti apa kita boleh menggunakan teknik tersebut..
    total sampling itu termasuk pengambilan jenis apa?
    dan buku apa yang ada bahasan tentang teknik tersebut..
    saya menjadi bingung setelah membaca artikel bapak mengenai total sampling yang di atas.
    terima kasih..

    • (1) Ada satu dua buku yang menyebutkan total sampling. Saya bilang itu sebutan yang salah. Sampel itu sama dengan cuplikan. Cuplikan itu artinya secuplik dari seluruhnya. Nyuplik roti artinya mengambil secuil roti dari sebuah roti. Jadi, tidak ada orang nyuplik seluruhnya. Sama dengan “cicipan.” Nyicipi (sayur sepanci) itu ya tidak semuanya sepanci sayur dihabiskan. Hanya sesendok kecil saja. Meneliti seluruh anggota populasi (156 subjek) itu namanya studi populasi, yang tegasnya meneliti seluruh anggota populasi. Istilah lainnya adalah sensus. Sensus lawannya sampling. Ya sebut saja STUDI (PENELITIAN) POPULASI, gitu! Itu yang lazim ada di bubuk-buku metodologi penelitian.
      (2) Dalam penelitian sosial, jika seluruh anggota populasi bisa diteliti (ditanyai, dihimpun data daripadanya) jauh akan lebih baik daripada menggunakan sampling (mengambil sampel atau cuplikan dari seluruh anggota populasi itu). Kenapa? Bayangkan jika misalnya seorang pemuka masyarakat peduli “wong cilik” bertanya kepada 5 orang dari 22 orang buruh angkat tentang setuju atau tidak setuju jika mereka ditarik iuran bulanan Rp 10.000,00 per orang untuk kesejahteraan sosial mereka. Kelima orang itu semuanya setuju. Lalu, pemuka tadi menarik iuran bulanan kepada semua buruh angkat (22 orang). Yakin semua mau membayar? Tidak ada yang protes? Tentu bisa ada yang protes, tidak mau membayar, karena merasa tidak diajak bermusyawarah. Lain halnya jika ditanyai semuanya, dan sepakat yang dijadikan keputusan berdasarkan suara terbanyak jika tak bisa musyawarah mufakat. Hasil keputusan itu sebagian besar setuju. Penarikan tentu akan jalan, karena “semua sudah sepakat.” Seperti itulah hasil data dari sampel, pasti ada kemungkinan berbeda (ada sedikit atau banyak perbedaan) dengan data dari populasi. Data yang diambil dari sampel disebut statistik. Data yang diambil dari populasi (seluruh anggota populasi) disebut parameter. Coba saja (hanya dengan membayangkan) tanyai beberapa orang anggota Muhammadiyah, setuju rokok itu haram atau tidak. Lalu bandingkan (juga dengan mambayangkan) dengan menanyai seluruh anggota Muhammadiyah. Bisa dijamin kira-kira jawabannya akan sama persis?

  13. Met siang pak, maaf saya menggaggu. perkenalkan nama saya gerda. saya mau nanya, tp ini masalahnya agak beda dari temen2 sebelumnya, cm msh ada hubungannya dengan populasi dan sampel. Gini pak, Saya meneliti tentang pengaruh variabel x1,x2 dan x3 terhadap y (kinerja guru matematika SMA, di kabupaten A). Jumlah populasinya 29 orang. saya menggunakan regresi berganda untuk melihat pengaruh dari variabel x1,x2 dan x3 secara bersama2 terhadap y, sedangkan untuk melihat pengaruh secara parsial saya gunakan analsis korelasi parsial. Dibuku2 yang saya baca, kebanyakan penjelasannya untuk perhitungan yang dilakukan terhadap sampel. setelah diperoleh nilai r untuk masing2 variabel bebas, perlu dilakukan uji signifikansi, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi ke populasi. Artinya tujuan dilakukannya uji signifikansi adalah agar dapat diketahui korelasinya berarti atau tidak, sehingga jika berarti/signifikan, maka dapat digeneralisasikan kepada populasi. Pertanyaan saya, apakah uji signifikansi (uji t) dalam penelitian saya perlu dilakukan, sementara saya kan melakukan penelitian terhadap populasi. Sebab menurut saya hasil penelitian tdk perlu digeneralisasikan lagi, kan udah langsung neliti populasinya…. Gimana ya pak… mohon penjelasanya… sebelumnya terima kasih banyak… salam

  14. assalamualaikum pak,
    saya mau minta contoh perhitungan sampel berstrata disproporsional? saya bingung kalo ga ada contohnya, ini penting untuk skripsi saya, terimakasih ya pak :)

    • Salah satunya adalah dengan pukul rata banyaknya sampel dari setiap strata. Misal “kelas elite” ada 100 orang, “menengah” 850 orang, “bawah” 250 orang. Total anggota populasi 1200 orang. Sampel akan diambil 10% daripadanya (120 orang). Tiap strata diambil sama, jadi 120:3 = 40 orang (“strata” elite, menengah, dan bawah sama-sama diambil 40 orang).
      Salah duanya adalah dengan menggunakan “simple random sampling.” “Strata” tidak diperhitungkan (semua dicampur-baur, tidak mengelompok). Sampelnhya diambil dengan diundi (bisa juga dengan teknik ordinal atau systematic sampling) untuk mengambil sebanyak 120 tadi. Jadi, karena campur baur, bisa jadi akan terambil dari elite 47 orang, menengah 51 orang, dan bawah 22 orang. Bisa juga elite 0 orang, menengah 100 orang, bawah 20 orang. Bisa juga elite 77 orang, menengah 35 orang, dan bawah 8 orang. Pokoknya tidak proporsional, tidak sebanding dengan perbedaan jumlah anggota yang ada dalam setiap subpopulasi (strata).
      Mestinya (jika proporsional) akan menjadi 10% x 100 orang = 10 orang (elite), 10% x 850 orang = 85 orang (menengah), dan 10% x 250 orang = 25 orang (bawah).

  15. Bang tatang..maaf ni saya mu tanya..saya kan lagi nyusun skripsi tentang Evaluasi Pelaksanaan Pelayanan Publik..terus sampelnya disuruh pembimbing pake teknik insidental sampling..aku udah nyari bukunya kemana-mana..taunya baca blog’nya bang tatang..makanya dapat pencerahan..
    aku mau tanya ni..bang tatangnya bukunya ngutip dimana ya?buku apa?

    • Banyak buku dan tulisan di internet yang saya baca. Boleh juga baca buku saya “Menyusun Rencana Penelitian” walau sudah gak diterbitkan penerbitnya (RajawaliGrafindo Persada, Jakarta) lagi karena sudah dibajak orang.

  16. Ass wr wb
    Salam kenal Pak.
    Mohon masukan dari bapak saya kesulitan untuk membuat indikator2 pada penelitian saya tentang pembelajaran berbasis TIK dan pemanfaatan e-learning dalam kaitannya dengan prestasi belajar siswa. terima kasih Asswr wb

    • Wa’alykum salam. Semoga Allah merahmati kita semua. Yah, ini jadi agak susah. Pertama, pahami darili teratur apa yang dimaksud “pembelajaran berbasis TIK” dan apa pula “e-learning” itu. Kedua, coba deskripsikan kegiatan-kegiatan apa saja dalam pembelajaran yang disebut “berbasis TIK dan e-learning” (dan yang bukan). Ketiga, ini yang rumit tapi harus jelas dulu. Bisakah dikorelasikan? Korelasi itu jika pembelajaran berbasis TIK dan e-learningn itu variabel, dan prestasi belajar juga vartiabel. Jika salah satu bukan variabel, tak bisa dikorelasikan. Lanjutnya: ada pengaruh atau tidak ada pengaruh, harus dicobakan dengan eksperimen (sekelompok murid berbasis TIK dan e-learning berbanding sekelompok yang bukan/tidak berbasis itu). Jika tidak ada pembanding, kita tak akan tahu apakah TIK dan e-learning itu berpengaruh.

    • Baca tuntas landasan teorinya, Mas, tidak bisa hanya sekedar saran pendek! Baca tentang konsep (makna dalam arti luas) prestssi belajar. Baca tentang TIK dalam pendidikan, baca tentang e-learning dalam pendidikan (keduanya temukan “pemnafaatan” atau “penggunaannya”) dan teori yang menyatakan keduanya berperanan/tidak berperanan terhadap prestasi belajar (hipotesis teoritik, nantinya)!

  17. Pak Tatang,

    saya mau tanya mengenai populasi. saya sedang menyelesaikan skripsi pendidikan saya, penelitian saya di SMP “X” .Saya menjelaskan di skripsi saya kalau populasinya adalah SMP “X” dan samplenya 60 students dari kelas dua. tapi dosen pembimbing saya bersikeras kalo populasi harusnya lebih luas jadi menurut dia populasi seharusnya jumlah murid smp di kecamatan tersebut. jadi menurut dia populasi itu dibagi dua : target population(murid smp dikecamatan tersebut) dan reach population (murid smp”X”).
    saya kurang setuju dengan beliau, karena jelas2 target population adalah populasi yg menjadi target. Saya sudah searching cari bahan tentang target population dan reach population tapi saya tidak menemukan reach population. Mohon bantuannya pak kalau bapak bisa membantu saya menjelaskan tentang populasi atau ada buku atau sumber yang bisa saya cari.

    terima kasih

    RGDS,

    Ary

    • Istilah lain dari “reach” (“reached”? = yang bisa terjangkau) population adalah “accessible” (=yang “tersedia, mudah diperoleh, mudah diakses/dihubungi”) population. Penjelasannya seperti yang ternukilkan berikut.

      TWO TYPES OF POPULATION IN RESEARCH
      TARGET POPULATION
      Target population refers to the ENTIRE group of individuals or objects to which researchers are interested in generalizing the conclusions. The target population usually has varying characteristics and it is also known as the theoretical population. [Populasi sasaran ("target population") adalah SELURUH individu atau benda yang terhadapnya para peneliti ingin menggeneralisasikan simpulan hasil penelitiannya. Populasi sasaran tersebut biasanya memiliki sifat-sifat yang sangat beragam dan dikenal pula dengan sebutan populasi teoritik].

      ACCESSIBLE POPULATION
      The accessible population is the population in research to which the researchers can apply their conclusions. This population is a subset of the target population and is also known as the study population. It is from the accessible population that researchers draw their samples. [Populasi terjangkau (accessible population) adalah populasi dalam penelitian yang terhadapnya para peneliti DAPAT/BISA/MUNGKIN menerapkan simpulan hasil penelitiannya. Populasi ini merupakan bagian dari populasi sasaran (target population) dan dikenal pula dengan sebutan “populasi penelitian” (study population = populasi yang terteliti). Dari populasi terjangkau itulah para peneliti mengambil sampel.
      by Joan Joseph Castillo (2009). Experiment-resources.com

      Jadi, boleh saja populasi penelitian (target population) kita seluruh murid SMP se-Indonesia, tapi itu kan terlampau amat sangat luas, sehingga tak mungkin terjangkau untuk diteliti satu per satu seluruhnya. Maka ditetapkanlah yang disebut “populasi yang mudah terjangkau” (accessible population), misalnya murid SMP sekecamatan. Dari murid SMP sekecamatan itulah kemudian diambil sampelnya.
      Oleh karena itu jika populasi (target) seluruh murid satu SMP, itu bukan populasi target lagi, itu sudah populasi penelitian (study population), karena sangat sedikit. Jika hanya murid Kelas II SMP X saja, wah itu jadi sampel tidak merepresentasikan seluruh murid se-SMP X itu (ingat ada Kelas I dan III yang mungkin tidak terwakili oleh murid Kelas II). Ingat pula (mudah-mudahan tulisan ananda salah): populasinya bukan SMP X, karena SMP X hanya satu. Tidak ada populasi kok cuma satu. lagipula kan yang jadi sampel murid, jadi populasinya tentu murid.
      Kenapa sih kok cuma meneliti satu SMP? Memang jadi kurang bagus untuk generalisasi hasil penelitiannya!

      Read more: http://www.experiment-resources.com/research-population.html#ixzz0orqfRbxK

  18. Yth Pak Tatang,

    iya maaf pak,saya memang salah tulis maksud saya populasinya murid smp X bukan smp X…

    jadi dosen saya benar ya kalau populasi sasaran itu jangkauannya lebih luas (jumlah murid dikecamatan tsb) dan populasi terjangkaunya jumlah murid di SMP X.

    tapi saya tidak salah kan pak mengambil sample hanya 60 murid dari seluruh jumlah muri d SMP X?

    saya hanya meneliti satu smp karena saya mencari datanya yg populasinya homogen, sekolah yg murid2nya terbiasa dengan bahasa inggris dan yg tidak pasti hasill penenlitiannya bisa bebeda. beda tingkatan pasti berbeda pula kemampuan bahasa inggris mereka, oleh karena itu saya hanya mengambil 60 siswa itu juga dari kelas dua saja.

    terima kasih banyak pak Tatang, informasi, referensi dan tulisan bapak banyak membantu saya.

    RGDS,

    Ary

    • Wah, kalau begitu akan lebih harus dipertegas saja bahwa populasinya murid SMP yang terbiasa berbahasa Inggris (“sekolah internasional” SMP X?). Kalau hanya murid Kelas II saja, maka populasinya hanya murid Kelas II saja. Jadi penelitiannya mengenai “titik-titik murid Kelas II SMP Internasional X”). Gitu. Kalau satu SMP (SMP X) ya seluruh murid harus diperhitungkan dalam pengambilan sampel–pakai stratified (tiap jenjang diambil sampel). Ini tergantung masalah dan permasalahan yang akan diteliti, tentu saja.

  19. Assw. Wr. Wb.
    Salam kenal ya Pak.
    Pak saya sedang melakukan penelitian mengenai determinan struktur modal,dengan populasi seluruh perusahaan go public di BEI tahun 2005-2009,yang terdiri dari 9 sektor dan sekitar 300 perusahaan, dimana masing-masing sektor memiliki jumlah perusahaan yg berbeda-beda,ada yang 45, 73, dan ada yang hanya 9 perusahaan.
    Saya ingin mengambil sampel dari masing-masing sektor dengan menggunakan teknik pengambilan sampel Proporsional, yaitu 10% dari jumlah perusahaan untuk tiap sektornya. Apakah itu sah dan bisa diterima untuk penelitian saya Pak? atau saya harus menggunakan teknik sampel yg lain?
    dan apa yg harus saya jawab bila ditanya dosen mengapa saya memilih teknik perhitungan sampel ini,Pak?
    Terima Kasih sebelumnya ya,Pak.

    • Sektor bisa disebut strata atau cluster, tergantung literatur mana yang dirujuk. Strata atau cluster diperhatikan dalam pengambilan sampel, jika secara teoritik dianggap ada pengaruh terhadap variabel yang sedang diteliti (determinan struktur modal). Jika strata atau cluster tak dianggap berpengaruh, ya tak usah pakai strata atau cluster. Kalau yang dianggap berpengaruh pada “modal” tadi itu besar kecil perusahaan, ya stratanya itu “kebesaran” (size) perusahaan, bukan clusternya. Jika tak ada apapun yang berpengaruh ya dianggap populasinya homogen, jadi pakai simple random sampling aja.

  20. selamat siang,,
    pak saya mau tanya tentang sampling,,penelitian saya menggunakan purposive sampling,apakah perlu dicantumkan rumus besar sampel?padahal kan saya sudah memasukkan kriteria eklusi/inklusi,,
    terimskasih

    • Waduh, agak bingung saya. Apa itu rumus besar sampel? Besaran = size = ukuran sampel, ya, kali?! Rumus Slovin, jika itu yang dirujuk atau dimaksudkan, berlaku untuk populasi yang jumlah anggotanya (disimbulkan dengan N) jelas diketahui. Purposive sampling itu mengambil sampel dari populasi yang tak terhingga atau tak jelas jumlah anggota(N)-nya. Saya suka gunakan istilah Jawa “njujug” langsung ke sasaran. Bahasa metodologi penelitiannya mengambil sampel subjek-subjek tertentu yang dengan alasan (purpose — jangan diterjemahkan tujuan) yang logis dianggap paling tepat atau representatif untuk “ditanyai.”

  21. pak, kalau saya akan menggunakan judgment karena jumlah populasinya tidak diketahui, apakah ada syarat khusus penentuan sampelnya pak?
    minimalnya berapa?pakai kaidah apa?
    biar sampel yang saya ambil mewakili populasinya dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
    terima kasih pak.

    • Waduh, ini penelitian tentang apa, subjeknya siapa, populasinya siapa, tak jelas. Jadi jawabnya tak bisa ditanggung pas. Kalau populasi tak jelas jumlahnya, tapai merata ada di tiap dusun di tiap kelurahan (desa), ya akan baik jika sampel diambil berdasarkan areanya (ada yang menyebut cluster, ada yang strata). Jadi area sampling. Area itu ya gampangnya kecamatan kan terdiri atas beberapa kelurahan. Kelurahan terdiri atas beberapa dusun. Dusun terdiri atas beberapa RW dan RT. Gitu.
      Nah, ambil sampel kelurahan dari kecamatan. Dari kelurahan sampel, ambil dusun-dusun sampel. Dari dusun sampel ambil RTW sampel. Dari RW sampel ambil RT sampel. Baru dari RT sampel ambil subjeknya. Tapi ini jika populasinya terhingga (diketahui jumlahnya).
      Jika tak diketahui, tekniknya kan ada yang opportunistic atau accidental atau incidental (jika menemukan subjek seusai kriteria, diambil dijadikan sampel). Ada yang purposive (ditetapkan “dengan judgment” atau alasan logis subjek yang dianggap mewakili). Ada yang dengan cara quota sampling (tetapkan jumlahyang dianggap layak, baru cari sampel secara opportunistic).
      Nah, itulah maka tak bisa dijawab, wong tak disebutkan populasinya siapa dan tujuan penelitiannya apa. Makasih. Lewat blog ini saja agar terbaca oleh yang lain, ya, untuk berbagi pengetahuan.

  22. begini pak.
    saya akan melakukan penelitian tentang preferensi konsumen handphone dalam lingkup sebuah kecamatan.
    saya tahu jumlah semua masyarakat sekecamatan itu, tetapi saya tidak mengetahui jumlah populasi konsumen atau masyarakat yang menggunakan handphone. karena belum tentu setiap orangnya mempunyai handphone.
    oleh karena itu, saya memutuskan untuk memakai judgment.
    tetapi saya bingung, kalau memang keputusan saya memakai judgment tepat, apakah ada proporsi khusus per kelurahan’nya?
    atau saya tidak perlu memikirkan hal itu, yang penting saya mewawancarai resoponden yang saya temui dan memakai atau mempunyai hp?
    kalau nantinya ada 1 kelurahan yang tidak ada sampelnya bagaimana?
    begitu sekiranya pak.terima kasih.

    • Nah, itu tentu populasi tak terhingga (tidak bisa ditentukan sebelumnya berapa banyak). Ya gunakan accidental samping atau quota sampling. Accidental/incidental/opportunistic artinya cari orang yang punya/pakai hp, lalu tanyai preferensinya hp apa. Sebanyak-banyaknya, tak perlu pikirkan asal-usul kelurahannya. Tak ada proporsi, wong tak jelas anggota populasi dan sub-populasinya.
      Kalau ada pasar kecamatan yang biasa orang dari berbagai desa datang, kenapa tidak nongkrong saja di pasar, ada yang lewat tanya pakai hp tidak, pakai hp apa, kenapa, dan asalnya dari desa/dusun mana (siapa tahu di daerahya ada “popularitas” merek hp tertentu kayak konon dulu orang Klaten lebih suka Suzuki, orang Jogja suka Honda, atau orang gunung suka minibus Daihatsu karena kuat di tanjakan, orang pesisir suka Suzuki karena “smooth.”)

  23. begini pak.
    saya akan melakukan penelitian tentang preferensi konsumen handphone dalam lingkup sebuah kecamatan.
    saya tahu jumlah semua masyarakat sekecamatan itu, tetapi saya tidak mengetahui jumlah populasi konsumen atau masyarakat yang menggunakan handphone. karena belum tentu setiap orangnya mempunyai handphone.
    oleh karena itu, saya memutuskan untuk memakai judgment.
    tetapi saya bingung, kalau memang keputusan saya memakai judgment tepat, apakah ada proporsi khusus per kelurahan’nya?
    atau saya tidak perlu memikirkan hal itu, yang penting saya mewawancarai resoponden yang saya temui dan memakai atau mempunyai hp?
    kalau nantinya ada 1 kelurahan yang tidak ada sampelnya bagaimana?
    begitu sekiranya pak.terima kasih…

  24. pak…
    saya mahasiswa S1 mo tanya, sy ngambil judul skripsi tentang efektivitas penggunaan media pembelajaran dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa. menggunakan metode pretes posttes control group design saya sudah mengambil data saya membagi 2 kelas (kls kontrl dan kls eksperimen) kebetulan populasinya hanya 2 kelas berarti saya mengunakan total sample, nha saya bingung tentang analisis datanya apakah saya perlu menggunakan uji t? atau cukup menampilkan perbedaan antara kelas yang di eksperimen dan tidak? atau bagaimana?
    mohon pencerahannya… matur sembah nuwun….

    • Eksperimen seperti yang Ananda lakukan itu tak kenal sampel-sampelan. Ya sebut saja ada dua kelas yang diteliti (karena itu sebagai syarat erksperimen tipe ini), yang satu kelas tereksperimen (yang diberi treament), satunya kelas pembanding (kontrol). Dua kelas itu harus sudah disetarakan dulu dalam berbagai faktor yang diduga akan mempengaruhi prestasi belajar. Di kelas tereksperimen digunakan media, di kelas lain tidak digunakan. Bandingkan saja hasilnya. Coba buka buku statistik, kalau membandingkan “mean” (rerata) prestasi belajar dari dua kelompok itu menggunakan teknik t-test atau teknik apa?

  25. terima kasih pak atas pencerhannya…..

    akhirnya ketemu juga setelah saya utak atik smaleman…..

    matur nuwun pak…. :)

  26. misalkan aja gini pak, kalau ada 1 kelurahan yg tidak dapat respondennya tidak apa2??
    atau tetep harus ada walau cuma 1 orang?
    kemudian minimal sampel yang saya ambil berapa pak?
    pakai dasar apa?
    terima kasih.

    • Gak usah dipikirin. Kan tak perlu ceritera per kelurahan. Namanya juga opportunistic/accidental/incidental sampling, ya yang kira-kira pantas sajalah, misalnya 100 orang dah bagus. Usahakan tidak sampel kecil (di bawah 30), gak bagus.

  27. pak saya mau tanya,saya meneliti tentang analisis fenomena pembuatan akta kelahiran terlambat,tp saya bingung menentukan sampelnya.jmlah populasi 1 bulan 750 orang,saya akan meneliti selama 3 hari jadi populasi menjadi 75 orang,saya bgung penentuan samplenya,ada yg blg kalo kurang lebih populasinya 100 orang maka samplenya 50% nya,gmana tu pak? tlg bantu saya ya pak dan tlg di jawab secepatnya,terima kasih..

    • Saya jadi ikut bingung. Populasi sebulan 750. Jika tiga hari 75. Kan sebulan teh 30 hari. Sehari jadi 750 : 30 = 25. Tiga hari 3 x 25 = 75. Jadi, populasinya yang mana? Yang sebulan, apa yang tiga hari, apa yang sekian bulan? Hehe, jika populasinya yang sekian bulan, kan akan jadi sekian ratus atau ribu orang. Populasinya ya semua yang melakukan pekerjaan itu.
      Nah, sampelnya ya diambil sampel yang mengurus dalam bulan tertentu saja, itu pun bisa hanya tiga hari tak urut. Dalam tiga hari itu ditunggui semua, ditanyai semua. Ada 100 ya 100, ada 63 ya 63. Gitu. Ya semuanya saja ditanyain. Udah! Jadi ngambil sampelnya ngambil sampel hari aja, random. Jika susah juga sehari nanyai ratusan orang, ya disampel juga per harinya! Gampang, kan? Sampai sampel dirasa cukup memberikan jawaban memuaskan akan masalah yang dijadikan pertanyaan penelitian (rumusan masalah).

  28. Pak saya mau tanya, populasi penelitian saya 60 orang, saya ambil sampel 30 orang (50%). Tetapi populasinya heterogen, apakah boleh pak ambil sampel 50%? Sebaiknya bagaimana pak? Terimakasih.

    • Kalau tidak akan sangat mendalam sekali, yaitu perlu satu per satu diamati dalam waktu lama, hanya akan disebari angket saja, studi populasi (seluruhnya yang 60 itu diteliti) jauh akan lebih baik. Toh tak banyak (hanya di bawah 100). Meneliti semuanya, apalagi heterogin, akan jauh lebih akurat hasilnya, walau tergantung bagaimana mengumpulkan data daripadanya juga, sih. Salah tanya, salah jawaban yang didapat, kan?!!!

  29. saya mau tanya, saya mengambil sampel 60 responden dalam penelitian saya.. menurut pembimbing saya > 30 responden lebih bagus,, tetapi saya takut penguji saya menanyakan,, karena kebanyakan di buku itu hanya 30 responden.. apakah ada referensi bukunya?? terima kasih

    • Bingung saya. 60 apa 30? Yang 60 apa, yang 30 apa. Kok responden semua? Sudah ambil 60 kok jadi >30 lebih bagus? Sampel itu ada sampel kecil (30). Itu berkaitan dengan teknik analisis statistiknya yang beda. Coba pelajari buku statistik tentang sampel besar dan sampel kecil.

  30. pak penentuan 100 org itu drimna??biar pnya pegangan saat ditanyai dosen..

    oia pak, kalau misalkan saya memakai proporsi dengan asumsi stiap 1 rumah punya HP mnmal 1 bsa atau tidak pak?
    klau data per kepala klrga di tiap kelurahan mgkin bsa dapat…
    jdi nanti diketahui jmlhnya.kmudian saya pkai proporsi yg rumusnya = (jlm KK kelurahan A/jml KK se-kecamatan)/jml sampel yg mau diambil.
    jadi stiap klurahan jelas ada brapa org yg diambil.
    klau bgtu bsa atau tdak pak?

    • Itu kalau pakai “quota sampling”, ditetapkan dulu sebagai ancar-ancar jumlah yang dianggap memadai sebagai sampel. Asumsi itu harus sangat amat logis. Memang satu rumah hanya satu HP? Kalau telepon mungkin iya. Tapi di mana? Di pedesaan apa ya tiap rumah punya telepon? Kenapa ngotot harus punya data populasi, sih? Wong populasi itu ada yang terhingga dan yang tidak.

  31. iya pak..tpi kalaupun 1 rumah semuanya punya HP.apa boleh 1 rumah di ambil lebih dari 1 orang responden?
    karena alasan itulah makanya saya mengasumsikan per KK.soalnya penelitian saya di kecamatan yang sudah maju pak.
    bukan di pedesaan.

    maksud saya kalau pakai probalility sampling kn lebih enak penentuan jumlah responden’nya pak?
    kalau menurut saran bapak.saya mending pakai apa?

    • Ya didata saja jumlah anggota populasinya (semua orang yang punya HP). Kenapa orang satu rumah punya HP disisihkan karena ada yang lain punya HP juga? Kan preferensinya bisa tak sama. Saya Nokia, anak saya Samsung, istri saya Motorolla, kan bisa toh. Pakai probability sampling itu artinya semua orang yang punya HP, tanpa kecuali, tanpa pilih kasih, tanpa disisih-sisihkan karena berserumah dengan orang lain yang punya HP, berhak jadi sampel. Kalau anggota populasi tak diketahui, bagaimana akan probability (berlaku adil)? Wong yang akan “diberi keadilan” pun tak diketahui.

  32. iya jg sih pak.hehe…
    brrti mending pakai non probability yach??
    soalnya kmrin dosen saia blg klau msalkan saya cuman nongkrong dtmpat umum, kalau ada org yg tdak ksna bgaimana??saya ditanyain gtu pak.saia kn jd bngung lgi…
    mksih pak.

    • Hihi. Nongkrong di tempat umum itu kalau orang-orang (anggota populasi) dipastikan akan hadir ke tempat itu untuk “ditangkap” sebagai sampel. Karena di rumah-rumah, ya datangi rumah.

  33. Saya mau tanya saya akan meneliti masalah kepuasan kerja di instansi tertentu dengan jumlah populasi 200 kalau menggunakan rumus slovin jika tingkat kesalahannya 5 % berapa sampel yang dibutuhkan

  34. ass…!!!pak saya mau tanya!!!
    saya meneliti dengan judul gambaran nyeri, dan saya diminta bagikan 100 kuisioner, dan saya cuman dapat 7 orang sampel!!jadi baiknya saya pake jenis penelitian apa dan metode pangambilan samel yang mana yang sesuai????karna saya sudah mencoba dengan deskriptif tp tidak diACCkan!!!!

    • Topik lengkapnya tentang apa? Apa yang akan diteliti, apa yang ingin diketahui, dari siapa? Itu yang utama. Baru metodenya (eksploratif, deskriptif, atau eksplanatif), dan samplingnya. Saya belum bisa menangkap gambaran keseluruhan yang akan ananda teliti. Trims, dan maaf.

  35. pak, saya mau nanya. kira-kira populasi dan sampel yang bisa dipakai untuk judul skripsi “pengaruh kenyamanan objek wisata (nama objek wisatanya) terhadap kunjungan wisatawan”, apa ya pak?
    Trimakasih

    • (1) Tanya pengunjung apa yang menyebabkan mereka kunjung OW
      (2) Tanya juga apakah OW nyaman
      (3) Tanya apakah niat kunjung lagi at beritahu teman utk kunjung karena OW nyaman at karena sebab lain (non-nyaman)
      (4) Populasinya pengunjung (tak terhingga), sampelnya “yang datang” diambil sampel dari beberapa hari (sepi dan rame). Opportunistic sampling.

  36. aslm. pak mau tanya…..
    duuuhhh agak grogi nih mau tanya, tkut salah, heee. mana rame bner obrolan di atas.

    pak, saya penelitian di RS swasta yg baru 3 thn berdiri, krn masih tergolong baru, dalam sebulan cuma dapt 26 responden (RAWAT INAP).26 itu sy gunakan sbg populasi. gmana cara menentukan sampel sedangkan dalam sebulan hnya dapt 26 pasien. apakah perlu di ambil sampel atau tidak (di ambil semua populasi).
    kl pake uji kcukupan data gmana?(perlu/tidak). penelitian saya cuma sebulan lo pak (30 hr). oya sya pake signifikan 95%. tlong beri ALASAN yang LENGKAP.

    • Kalau tiap bulan 25 orang saja rata-rata, maka dalam setahun akan ada 12 x 25 = 300 orang. Itu berarti dalam 3 tahun ada 900 orang pasien. Tetapkan dahulu populasinya yang mana!
      (1) Akan diteliti sejak berdiri? Populasinya seluruh pasien rawat inap 3 tahun = 900 orang.
      (2) Akan diteliti 2 tahun terakhir = Populasi 600 orang.
      (3) Akan diteliti 1 tahun terakhir = Populasi 300 orang.
      (4) Akan diteliti terakhir = Populasi 25 atau 26 atau 27 atau 24 orang.
      Kalau yang terakhir, sebutkan populasinya pasien rawat inap sebulan terakhir. Seluruh pasien (karena sedikit) diteliti. Tapi, apa tak terlampau sedikit? Sulitnya jika harus “meneliti” pasien yang sudah keluar dan rumahnya jauh. Jadi, ambil pasien bulan terakhir sejak hari dan tanggal ini (saat meneliti). Selama sebulan tanyai “kepuasan” pasien: awal-awal datang; tengah-tengah, dan akhir (akan pulang). Bagaimana komentarnya tentang kepuasan layanan. Jangan hanya pas baru datang, belum tahu persis layanan sampai tuntas!

  37. lanjutan:

    yang saya teliti adlh KEPUASAN PASIEN. selama 30 hari, sya setiap hari survey k pasien baru.

  38. aslm, pak mau tanya lg, hee.
    sblmnya mkasih dah balas pesan saya dan itu sangat membantu saya.

    Dalam penelitian saya (TINGKAT KEPUASAN PASIEN), kuisioner saya pake skala likert (ordinal), trus dosen tanya, knapa cuma terdiri dari 5 bobot (1.sangat tidak setuju, 2 tidak setuju, 3. netral, 4.setuju, 5.sangat setuju) knapa gk pake 9 atw 10? dan apa alasan anda pake skala likert ko’ gk yang lain…? jawabanya gmana pak? tlg bales scepatnya pak, karena perbaikan hari senen besok. trimakasih. wasalam.

    • Boleh saja tidak sebut skala siapa, kita bisa kok buat skala sendiri. Masalahnya, yang disetujui dan tidak disetujui itu apa? Kepuasan pasien itu apa sih? Kan inti ekstrim “kutubnya” puas dan tidak puas. Nah, karena merupakan “variabel berjenjang,” bukan “variabel diskrit,” ya tentu tidak hanya ada dua pilihan puas dan tidak puas. Pasti ada agak puas dan agak tidak puas. Kalau pasien diminta menilai layanan yang diterima baik atau jelek, dengan memberi skor 1 (benar-benar sangat amat jelek sekali) dan 10 (benar-benar sangat amat bagus sekali), kenapa tidak?!!!! Kenapa harus setuju dan tidak setuju?!!!! Itu kan sama artinya jika layanan jelek pasien tidak puas, layanan baik pasien puas. Jadi, kualitas layanan itu biarlah pasien yang menilai, maka nilainya bisa skala 1-5, bisa skala 1-10. Nilai rapor biasanya 1-10, ya!!!! Misalnya layanan dokter sangat bagus (memuaskan pasien) skor 10. Layanan makanan jelek, tapi tidak jelek banget (skor 6). Layanan perawat jeleks ekali (skor 4). Layanan makanan bagus (skor 8). Lebih enak, kan, tak usah mengubah setuju jadi skor 4, tidak setuju skor 2. Toh akhirnya sama, memberi skor nilai.

  39. Pak, saya bingung dengan hasil pengolahan data saya
    * Hipotesis saya adalah : TONE yang tinggi akan memperkuat hubungan antara SIKAP dan PERILAKU
    * Model saya adalah : PERILAKU = SIKAP + TONE + SIKAPxTONE
    * Hasil spss saya adalah : t dan beta untuk SIKAPxTONE hasilnya negatif signifikan
    Yang saya tanyakan : Apakah hasil t dan beta tersebut masih dapat menjelaskan (dukungan) untuk hipotesis saya?
    Terima kasih atas jawabannya

    • Cek dulu logikanya. Sikap itu pro kontra terhadap sesuatu. Orang yang punya sikap tertentu cendrung akan membuat perilaku tertentu sesuai sikapnya, TAPI TIDAK SELALU PASTI. Jadi PERILAKU itu merupakan AKTUALISASI SIKAP, bukan dipengaruhi sikap, tapi lazim dianggap demikian (SIKAP variabel independen PERILAKU variabel dependen). ORANG ANTI BABI (sikap). ORANG TIDAK MAKAN BABI (perilaku), TIDAK MENJUAL BABI (perilaku) TIDAK MEMELIHARA BABI (perilaku).
      Nah, yang saya bingung “hubungan sikap dengan perilaku” itu apa, dan bagaimana ceriteranya dipengaruhi oleh TONE? Ini variabel apa? Rumusnya juga saya, maaf, tidak kenal, yang saya kenal cuma rumus Sutermesiter Performance = Ability (times) Motivation atau P =(fA.M). Performance (Kinerja) itu ya mirip lah dengan perilaku. Jadi teori bahwa variabel “hubungan-sikap-dan-perilaku” bisa dipengaruhi oleh variabel TONE, saya tidak paham, karena hubungan S dan P bisa dianggap sebagai sebuah variabel pun saya tidak paham kejelasannya, bagaimana “mengukurnya.” Maaf, Mbak Titin.

      • Pak, Sikap yang dimaksud adalah sikap skeptis, saya mengukur dengan kues punya HEP (2003)
        Perilaku yang dimaksud adalah perilaku skeptis, ukurannya dengan kues F&D (2005)
        Tone itu menggambarkan penekanan dari atasan, ukurannya dengan kues yang dikembangkan dari manipulasi eksperimen C&R (2009)

      • Wah, saya tertinggal dengan ilmu baru. Saya tak kenal HEP, F&D, dan C&R. Coba cermati “teori” mengenainya. apakah “logika hubungan antar variabel” (paradigmanya) itu sudah ditulis benar. Maksudnya apakah tone atasan (TA) itu mempengaruhi sikap skeptis (SS), lalu SS mempengaruhi perilaku skeptis (PS) : TA —> SS —>PS. Ataukah TA mempengaruhi SS+PS (SS dan PS sebagai satu variabel) : TA —> SSPS. Atau TA mempengaruhi SS sendiri PS juga sendiri : TA —> SS; TA —> PS. Kalau SSPS menjadi satu variabel bagaimana ceriteranya menjadi satu variabel? Logika teoritiknya bagaimana, gitu. Apalagi kalau rumusnya menjadi bahwa perilaku skeptis (PS) itu merupakan hasil SS + TA + [SS x TA]. Itu teorinya berbunyi bagaimana? Logis tidak?
        Korelasi negatif itu artinya berkebalikan: Jika X tinggi maka Y rendah, jika X rendah Y tinggi. Jika TA tinggi (kuat) maka SS akan rendah, dan sebaliknya. Tapi paradigamnya kok SS x TA korelasinya negatif? Logikanya bagaimana kok dikalikan, tapi terus dikorelasikan?
        Itu saja dulu. Terus terang saya belum paham benar “jalan pikiran” (paradigma) penelitian Mbak Titin.

  40. asalamualaikum pak saya sedang kebingungan menyusun skripsi saya mau mengadakan penelitian te3tapi populasi saya 21 saya mau tanya buku dr siapa ya yang membahas tentang total sampel/sensus?

    • Semua buku penelitian yang membahas survai tentu akan bicara terlebih dahulu mengenai penelitian populasi, baru penelitian sampling. Di buku saya “Menyusun Rencana Penelitian” pun ada. Silakan baca di perpustakaan. Di toko buku mungkin stok sudah habis. Hanya saja ini populasinya kecil (di bawah 30). Perhatikan teknik analisis untuk populasi (sampel) kecil di buku-buku statistik! Terima kasih. Wassalam.

  41. assalamualaikum….pak nama saya aris, saya mahasiswa bapak ketika kuliah metode penelitian…saya mau tanya kalau saya mengmbil tema judul skripsi “efektifitas E-learning” itu sebaiknya kualitatif atau kuantitaif y pak?….kemudaian ini jenisnya penelitian evaluasi apa bagaimana pak?…kemaren sempet tanya dosen bilangnya ini pnelitian evaluasi nantinya, nah kalau menurut bapak bagaimana sebaiknya pak?…maaf banyak tanya pak soalnya saya bener2 bingung….oh y boleh minta alamat e-mailnya pak tatang, sapa tahu nanti saya bingung lagi kan bapak dikampus sibuk terus..
    terima kasih….

    • Jika bunyinya “efektivitas” maka pasti akan evaluatif. Nah, yang harus dikuasai betul bagaimana “mengukur” efektivitas itu. Ada ukuran efektivitas administratif/proses (pelaksanaan: mahasisswa intensif buka dan komunikasi), ada efektivitas produk (hasil belajar mahasiswa): Email tatangma@uny.ac.id

  42. terima kasih pak…nyambung mslh kecil niy pak sebenarnya yang bener itu tulisanya “efektifitas”atau”efektivitas” y pak?..saya ragu..
    ooohh berarti kalau itu efektifitas “e-learning” saya harus tahu dulu standar elearning yang efektif itu seperti apa gtu y pak!!!…kalau saya mau meneliti elearning berarti lebih condong pada proses dong pak….bagaimana mahasiswa berinteraksi dengan dosen melalui e-learning..bukan pada hubungannya dengan hasil yang ingin dicapai yaitu tingkat prestasi mahasiwa setelah menggunakan e-learning!!!atau malah bisa mengkaitkan k 2 nya pak!!!
    mohon pencerahannya pak

    • Jika di tengah gunakan “v” –> efektivitas, kreativitas, aktivitas. Jika di akhjir, gunakan “f” –>efektif, kreatif, aktif. Dari sudut proses e-learning dikatakan efektif kalau benar-benar digunakan oleh dosen dan mahasiswa, ada kontak antara dosen dan mahasiswa. Dari hasil (dalam proses) bisa juga dievaluasi apakah materi e-learning itu dipahami mahasiswa (materi e-learning komunikatif apa tidak?).

  43. pak,,saya mau tanya,
    saya sedang menyusun proposal tugas akhir dgn judul : “tanggapan konsumen terhadap makanan restoran X”
    yang mau saya tanyakan dalam metodologi penelitiannya saya harus memakai apa saja??maksudnya pendekatan ilmiahnya pakai apa, tehnik sampling atau penentuan informan dan analisis datanya bagaimana pak…
    maaf karena saya baru dlam pengerjaan tugas akhir/skripsi ini..
    kalau saya menggunakan pendekatan kualitatif apakah bisa???mohon sangat diberi penjelasan pak…terimakasih sebelumnya

    • Ya itu survai atau jajak pendapat. Karena konsumen tak tentu jumlahnya, ya ambil saja sampelnya dari dua kategori, pelanggan dan yang datang kadang kala (seketika). Artinya tanya, biasa langganan di situ (sering ke situ) dan yang baru pertama kali. Lalu tanya komentarnya.

  44. selamat malam pak, saya ayu..
    saya mau tny, apakah dalam ciri2 sample itu harus selalu ada di dalam variable kontrol??
    kalau tidak ada v.kontrol apakah bisa memakai ciri2 tsbt??
    dan sebaiknya saya menggunakan metode pengumpulan data yg seperti apa kalau populasi saya 1065 orang, sedangkan dosen pembingbing saya todak memperbolehkan saya memakai purposive sampling..???

    terima kasih atas bantuannya…

    • Mbak Ayu, (1) Kan saya jadi bingung. Ciri-ciri sampel kok ada atau tak ada dalam variabel kontrol? Ciri sampel itu berkaitnya dengan populasinya, bukan dengan variabel (objek) yang diteliti. Sampel harus mempunyai ciri yang serupa (representatif) dengan populasinya. (2) Soal sampel bukan soal pengambilan data, ya soal pengambilan sampel. Purposive itu soal pengambilan sampel, bukan pengambilan data. Purposive hanya cocok (cocoknya) digunakan untuk populasi tak terhingga, jika populasinya jelas-jelas ada 1065, ya gunakan teknik random (probability) sampling. Coba baca dan pahami tentang ini.

    • Nah, udah dijawab, kan. Tegaskan dulu kalau variabel, mana variabel independen, mana variabel dependen (boleh diperluas dengan variabel interferens, variabel moderator, variabel kontrol—hehe, memang ini mau penelitian jenis apa? Kok ruwet banget variabelnya, ya!). Kalau “sampling” tegaskan dulu populasinya itu homogin apa heterogin, terhingga apa tak terhingga, atau bahkan tak jelas (kategori populasi 3 macam itu menurut ketegorisasi Tatang M. Amirin).

  45. selamat malam, Pak,,
    saya sania, kuliah di FKM USU.
    saya mau tanya:
    1. kapan kita harus gunakan total sampling??
    2. Penelitian saya bejudul Faktor-Faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR di RS, manggunakan data sekunder RS. Penelitian saya analitik, dengan desain cross sectional, Populasi saya ada 416 ibu yg bersalin, dan yg mengalami BBLR ada 73 ibu. penentuan saya, lebih tepat saya menggunakan rumus besar sampel atau toyal sampling saja pak?? dan mengapa??

    terima kasih

    • Subjeknya yang BBLR (tak tahu saya ini apa, tapi ngikut saja). Populasinya semua yang mengalamai BBLR. Ada 73 ibu yang BBLR dari 416 ibu. Yang bersalin lainnya yang tidak BBLR tak masuk hitungan anggota populasi (subjek). Ingat judulnya “yang berhgubungan dengan kejadian BBLR),” jadi ya subjeknya hanya yang BBLR. 73 itu teliti saja semua (studi populasi). Istilah total sampling, walau ada yang suka menyebut begitu, tak logis (masak nyicipi = nyampel sayur sebelanga dicicipi semua–total sayur–kan ya hanya sesendok saja). Pedagang obat saja ke dokter memberi sampel itu kan tidak memberikan seluruh obatnya gratis. Rugi, donk!

  46. terima kasih penjelasannya pak..

    pak, mau tanya lg.. hehehe
    saya kan mau mencari Ratio Prevalence dr penelitian saya tersebut, kalau saya gunakan rumus besar sampel, hasilnya 204 sampel. selanjutnya data dipilah menjadi 2 yaitu (+) dan (-). Penarikannya lbh tepat dgn simple random sampling atau systematic random sampling..?
    kalau secara Simple R. Sampling kan kemungkinan ada sel yg nilainya 10. apakah nilai tsb bs diuji dgn Chi- Square selanjutnya?? kan nilai 10 tidak memenuhi syarat tuh…??

    terima kasih ^_^

    • Weh, lha, kok jadi bingung saya. Yang BBLR kan cuma 73, kok jadi sampling besar lagi? Yang lainnya kan tidak BBLR, jadi tak masuk hitungan. Contoh: Saya mau meneliti penyakit antrax pada sapi-sapi lokal. Di peternakan sapi itu ada sapi lokal 105 ekor, dan sapi impor 345 ekor, jadi total seluruhnya 450 ekor. Subjek dan populasi penelitian saya sapi lokal, sapi impor tak masuk hitungan. Jadi subjeknya hanya 105 ekor, bukan 450 ekor. Nah, analisisnya tak bisa jawab, wong tidak tahu mau menemukan (hasil penelitian) apa. Simple atau systematic itu dua-duanya random sampling, sama saja, hanya beda cara mengambil. Yang satu kelipatan urutan (systematic), yang satu lagi bisa berurutan dekat bisa jauh yang terambil sebagai sampel.

  47. Selamat Malam Pak Tatang..
    Saya mahasiswa Ilmu Komunikasi sedang skripsi, saya mengambil judul Hubungan antara Kepuasan Komunikasi dengan Motivasi Kerja sebuah divisi di manufaktur.. Namun karena teori bridging yang saya gunakan adalah teori pengaruh, akhirnya saya harus mengganti judul saya menjadi Pengaruh Kepuasan Komunikasi terhadap Motivasi Kerja.. Yang saya ingin tanyakan, apakah untuk penelitian pengaruh, syarat populasi harus minimal 30? Karena total populasi di divisi yang akan saya teliti jumlahnya 11 orang.. Saya menggunakan teknik penarikan sample dgn sampling jenuh.. Atau penelitian saya masih bisa saya jalankan dengan populasi 11 orang tersebut? terima kasih.. =)

    • (1) Yang saya tak paham benar apa itu kepuasan komunikasi. Siapa berkomunikasi dengan siapa. Logika teoritisnya: jika seseorang merasa puas dengan “jaringan komunikasi” maka akan punya motivasi kerja yang tinggi, dan sebaliknya.
      (2) Kalau menggunakan istilah pengaruh, lazimnya disain penelitiannya eksperimen. Yang lazim korelasi (hubungan): korelasi kepuasan komunikasi dengan motivasi kerja. Ini lebih umum, hanya mendata apakah responden puas dengan komunikasi dan mendata apakah motivasi kerjanya tinggi. Jika benar-benar ingin mengecek ada pengaruh apa tidak, bandingkan dalam eksperimen ada yang dipuaskan komunikasinya, ada yang tidak dipuaskan (subjek didisain setara dulu).
      (3) Populasi 11 tak apa, walau mungkin tak banyak bisa diharapkan generalisasinya. Kenapa tidak diperluas ke unit lain?

  48. Kepuasan Komunikasi adalah semua tingkat kepuasan karyawan mempersepsi lingkungan komunikasi secara keseluruhan.. Hal ini bisa diukur dengan 8 dimensi kepuasan komunikasi..
    Sebenarnya saya tidak ingin melihat pengaruh, hanya ingin melihat hubungan, tapi saya tidak menemukan teori bridging yang mengatakan bahwa kepuasan komunikasi memiliki hubungan dengan motivasi kerja..
    Saya menemukan masalah dan keunikan dalam divisi ini, selain itu ini merupakan divisi terbaru dimana divisi ini membutuhkan lebih banyak perbaikan dibandingkan dengan divisi lainnya.. Maka dari itu saya hanya meneliti di dalam divisi ini saja..

    • Ya, eksplor aja, nanti lihat berbagai variabel terkait dengan motivasi kerja. Siapa tahu menemukan banyak hal, termasuk jangan-jangan ada lebihd ari 8 kepuasan komunikasi (menurut fakta lapangan persepsi karyawan). Lha, kalau tak ada paradigma teoritik pengaruh kepuasan komunikasi dengan motivasi kerja, apalagi hubungan (yang lebih rendah derajatnya). Jadi, eksplor itu mungkin terbaik. Gali saja segala macam variabel (hal, faktor), siapa tahu menemukan ada hubungan dengan motivasi kerja. Atau deskripsikan saja: seberapa tinggi kepuasan komunikasi mereka, seberapa tinggi pula motivasi kerja mereka, seberapa tinggi pula prestasi kerja mereka. Hehehe…. itu kan jadinya korelasi berkelanjutan!

  49. met siang pak. saya punya judul penelitian perbedaan tingkat kepuasan antara pasien umum dengan pasien jamkesmas terhadap mutu pelayanan rumah sakit. metode penelitian yang deskriptif komparatif. pertanyaan 1. bagaimana teknik samplingnya?2. bolehkah saya melakukan uji hipotesis uji t independen untuk membandingkan kedua sampel pada penelitian deskriptif? terima kasih.mohon dibalas secepatnya.

    • Temukan dulu berapa banyak pasien umum dan jamkesmas, baru tentukan sampelnya. Untuk menganalisis ya cermati berapa banyak sampel dan cermati teknik yang sesuai. Penelitian deskriptif tidak sejalur dengan statistik deskriptif atau inferensial.

  50. selamat malam bapak…
    saya desi..
    saat ini saya sedang mengalami kebingungan mengenai total sampling dan purposive sampling..
    penelitian saya berjudul pengaruh pemberian terapi tertawa terhadap tingkat kecemasan lanjut usia.
    populasi saya adalah lanjut usia yang bertempat tinggal di panti dan mengalami kecemasan yang berjumlah 34 orang dan setelah dieklusi maka berjumlah 31 orang…
    saya masih bingung sebenarnya mana yang seharusnya disebut populasi?
    apakah tepat jika saya memakai teknik total sampling?
    apakah dengan menggunakan teknik total sampling maka kita harus mengambil keseluruhan populasi tanpa menggunakan lagi kriteria inklusi dan eksklusi sebagai pertimbanganya?
    terimakasi saran dan masukannya pak…

    • Populasinya ya yang 31 orang itu–setelah yang lain dieliminir. Total sampling itu sebenarnya tak ada, karena sampel itu cuplikan sebagian dari keseluruhan, padahal seluruhnya akan diteliti, tidak dicuplik. Kenapa ada yang dieksklusikan? Itu pertimbangan meneliti 34 apa 31?

  51. pak saya mau tanya….
    saya lagi skripsi..saya itu mengambil data resep dari 10 apotek selama bulan juni..masing2 apotek itu jumlah resepnya berbeda-beda….jika saya ambil semua dan dijadikan data..kata dosen saya terlalu banyak,,saya disarankan untuk menggunakan proporsional sampling..saya boleh mnta rumus/caranya seperti apa g pak?pustakanya apa?
    klo saya ditanya nntinya kenapa memilih proporsional sampling,,kira2 alasan yg tepat apa ya pak””??
    terima kasih/

    akuaja@rocketmail.com

  52. ass,,
    pak saya mau tanya, kan saya pakai rumus slovin, kemarin pas sidang KTI ditanya kenapa pake rumus 90% kok gak pake yang 95%?? populasi saya 74 orang trs sampel saya bila pake yang 90% adalah 42 orang. ada syarat gak pak untuk penentuan sampel menggunakan taraf signifikansi??

  53. saya mahasiswi Psikologi UNM . saya sangat berterima jasih kepada admin karena membantu saya menyelesaikan tugas statistk dari Ibu Wis hehehe

  54. selamat malam pak. skrng sya bnyak msalah dlm mnghdapi penyusunan kti kesehantan.bgmn caranya mnghdpi msalah ini ketika kita tidak mempunyai kemampuan untuk menyusun terus judul yang diberikan kepada dosen tidak sesuai dengan harapan.

  55. assalamualaikum wr.wb
    pak saya mau tanya, saya mengangkat judul skripsi pengaruh faktor predisposing,enabling dan reinforcing ibu balita terhadap angka kejadian pneumonia balita. setelah saya cari data ditemukan, dalam 1 kabupaten terdapat 1513 kasus dan yang tertinggi ada di puskesmas ngempit yaitu 358kasus. dari puskesmas ngempit yang tertinggi itu berada di desa ngempit dengan jumlah kasus 31. sedang yang saya wawancarai nanti adalah ibu balita tersebut.
    pertanyaannya : 1) yang harus saya gunakan itu yang 358 kasus dari 13 desa di puskesmas ngempit atau 31 kasus dari ngempit saja?
    2)lalu apabila yang digunakan adalah yang 31 kasus,apakah saya harus menggunakan total sampling?
    Mohon di jawab, terima kasih

    • Lha, maunya meneliti SIAPA? KALAU SEPUSKESMAS NGEMPIT YA SEMUA SENGEMPIT, KALAU ASAL DESA NGEMPIT, YA POPULASINYA YANG ASAL DESA NGEMPIT. Kenapa gunakan sampel dan bukan sampel, tergantung mau meneliti apa? Kalau cuma tanya APA, ya harus banyak yang ditanyai, wong tanyanya cuma tanya APA (apa karena pre-,en- atau re-?). Kalau mau tanya KENAPA DAN BAGAIMANA BISA….. panjang kan wawancaranya (belum lagi soal pendidikan ibu, ekonomi ibu, pendidikan bapak, pekerjaan bapak, sering ada di rumah apa tidak, yang ngasuh baalita siapa, makanannya gimana …, pakaiannya gimana, rumahnya gimana, kontrol medisnya ………., balitanya hiperaktif enggak, rewelan enggak, pendiam apa atraktif….. wah…. seabreg! Pikir aja! Hehehehe

  56. mf pak ikut tanya
    penelitian sy di SMPLB dengan seluruh jumlah siswa 23 orang mulai kls 1 sampai 3 apakah bisa dilakukan penelitian kwantitatif mengingat jumlah yg sangat sedikit.tks

  57. selamat siang pak, saya yonatan mhs penjaskesrek fkip untan pontianak. populasi yang saya ambil yaitu SMP N # Pontianak, sampelnya kelas XIII G. kalau saya ambil keseluruhan dalam 1 kelas itu, caranya dengan teknik sampling apa ya? saya kurang referensinya untuk hal ini pak. tolong dibantu ya. terima kasih….

  58. Assalamualaikum wr wb.
    Pak, saya mahasiswa fakultas komunikasi yang sedang menyusun skripsi kuantitatif dengan pisau analisis korelasional. Saya ingin menanyakan tentang sampling.
    Populasi yang saya ambil adalah anggota Organisasi Jurnalistik Dreams yang ada di Bandung dengan total anggota keseluruhan 85 orang, terdiri dari 4 angkatan. Yang menjadi masalah, anggota yang masih aktif sampai saat ini (dalam hal ini masih berstatus siswa-siswi di masing-masing sekolahnya) hanya anggota dari angkatan ke-4 yang berjumlah 38 orang.
    Saya konsultasi dengan pembimbing 2, beliau menyatakan bahwa saya ambil populasi keseluruhan kemudian mencari sampel dengan rumus acak sederhana yang nantinya jumlah sampel dari hasil rumus tersebut di ambil dari anggota yang aktif. Setelah saya konsultasi dengan pembimbing 1, beliau justru menyatakan bahwa saya seharusnya mengambil total sampling dengan populasi angkatan ke-4 tersebut, yang hanya berisi 38 orang. Apakah bapak bisa membantu menentukan yang mana yang harus saya ikuti dari saran kedua pembimbing saya tersebut? Terima kasih, Pak.

  59. selamat malam pak..saya mau tanya..
    kalau populasi saya adalah wanita usia subur yang mengalami keputihan yang berjumlah 43 orang, dan sampel saya ingin menggunakan semua wanita tersebut.maka saya pakai apa ya? apa benar saya menggunakan “total sampling”?
    terimaksih pak..mohon bantuannya
    selamat malam

  60. assalamualaikum wr.wb
    Yang saya hormati pak tatang m.amirin..
    saya mahasiswi FKM UNSRI…saat ini saya sedang menyusun proposal skripsi pak…jdul pnelitian sya yaitu mengenai Perbandingan biaya pelayanan kesehatan tindakan medis operatif terhadap tarif INA-DRG pada program JAmkesmas di RS X Palembang…jadi yang menjadi populasi penelitian saya adalah pasien jamkesmas yang mendapatkan pelayanan medis operatif pada bulan januari, februari, dan maret 2012…setelah saya data..jumlah anggota populasi pada bulan jan = 11 org, feb= 9 orang dan maret= 10 org…jd jumlah anggota populasi =30 org…mnrt penelitian sebelumnya..ini termasuk case study…
    yang jadi prtnyaan saya..apakah penelititan ini bs d lakukan dan apakah bnar ini merupakan pnelitian case study???
    mhon pnjelasan nya pak..
    terima kasih..dn mf mnganggu..

    • Case study itu penelitian terhadap sesuatu “kasus” secara mendalam. Contoh: Pemuda pemakan daging mayat. Diteliti mendalam latar belakang perkembangan dan pertumbuhan dirinya, pergaulan (asuhan) keluarganya, lingkungannya, dsb. Tentu dengan cara menjejak lacak (tracering). Kalau hanya analisis data seperti di atas itu penelitian survai biasa. Apalagi yang dilihat hanya perbandingan biaya riel dengan tarif yang ditentukan. Memang dibanding-banding mau mencari-menemukan apa? Kalau cuma data dokumen, ya sebanyak-banyaknya. Hehehe… Tapi ya karena basru sampai Maret ya gak apa-apa disebut tahun 2012 (sampai Maret).

  61. Asslm,,
    Pak saya yang tadi sms ke no bapak..Begini pak saya kan ingin meneliti pengetahuan ibu hamil tentang teknik mengurangi nyeri persalinan d sebuah BPS, metodenya diskriftif
    Yang ingin saya tanyakan kan jumlah ibu hamil yang berkunjung ke bps tiap bulan berbeda atau tidak tetep, jadi bagaimana saya mengambil sampelnya? Menggunakan teknik apa? Dan jumlah populasinya bagaimana jika tidak tetap seperti itu??
    Mohon jawabannya pak

  62. menelitinya bulan mei,,
    Kalau begitu berarti bgaimana dengn jumlah populasinya??trus mnggunakan teknik apa pengambilan sampelnya??
    Apakah benar jika menggunakan accidental sampling?
    Klo menggunakan teknik itu,,apakah populasinya saya tulis semua ibu hamil yang berkunjung ke bps pada bulan mei sedang sampelnya pengunjung yang bersedia menjadi responden,,sedang pembimbing saya minta angka yang pasti,,bagaimana cara saya menentukannya

    • Kejar saja semua pasien bulan Mei. Lho, kenapa Mei? Kalau bisa dilacak, ya lacak saja januari s.d Maret. Pasti angkanya jelas, bisa menjawab pertanyaan dosbing. Kalau sedikit, teliti saja semuanya. Kejar ke rumahnya!

  63. Selamat sore Pak Tatang..
    Mohon maaf sebelumnya jika saya mengganggu.
    Saya mahasiswa jurusan ekonomi manajemen yg sedang menyusun skripsi dengan metode regresi dgn obyek penelitian perusahaan iklan (judulnya: Pengaruh Adatasi Lingkungan & Orientasi Kewirausahaan terhadap Kualitas Strategi Bersaing). Begini pak, populasi perusahaan iklan di kota saya sejumlah 30, dan saya sudah menggunakan metode sampling jenuh(studi populasi) dimana 1 perusahaan diwakili 1 pemilik/manajer untuk menjawab kuesioner (dengan skala likert, 5 interval).
    Pertanyaan saya adalah:
    1. Adakah batasan minimal jumlah populasi/sampel yang digunakan untuk metode regresi linear berganda? kalaupun ada, apakah jumlah 30 layak untuk metode regresi?
    2. Dosen saya menyuruh untuk mencoba memepelajari statistik non parametrik, dan mencobanya kpd data yg sudah ada, kemudian dibandingkan antara hasil regresi dan non parametrik. Apakah jlh sampel 30 hrs menggunakan non parametrik? Namun di jurnal acuan saya/penelitian terdahulu model tersebut diuji dengan regresi linear berganda (walaupun obyeknya industri berbeda, 114 sampel).
    3. Adakah buku yang ‘menguatkan’ bahwa diperbolehkan regresi dengan 30 sampel/populasi? Saya sudah mengajukan teori dari buku Bapak Sugiyono (Statistik Untuk Penelitian, 1999), namun dosen saya suruh mencari lagi yang lebih kuat.
    4. Sebaiknya saya memakai metode regresi(parametrik) atau non parametrik. Seandainya saya harus menggunakan non parametrik , metode mana yang sebaiknya saya pakai? Oh iya Pak, bisa sekilas dijelaskan mengenai data ordinal dan interval? Jika saya menggunakan kuesioner dgn skala likert 5 interval (sangat tidak setuju s/d sangat setuju), berarti data saya interval ya Pak? Berarti data saya tidak bisa dianalisis dgn statistik non parametrik? Mohon saya diberi pencerahan ya Pak. Terima kasih sebelumnya

    • (1) Jika populasi atau sampel lebih dari 30-an memang pakai statistik parametrik. Karena jumlahnya mepet, hanya 30, ya lebih aman pakai nonparametrik. Tidak ada masalah kok dengan teknik analisis. Tak usah takut menggunakan nonparametrik. Jadi, coba gunakan nonparametrik aja. Itu akan lebih kuat hasilnya.
      (2) Hasil skala likert (serupa skala likert–yang digunakan) kan tergantung sekali pada maknanya. Apa 1, 2, 3, 4, 5 itu skor, apa sekedar simbul! Memang orientasi kewirausahaan itu, sebagai misal, bisa diskor tinggi rendah? Yang tinggi jika orientasinya apa? Apakah butir-butir skala sudah valid mencerminkan (mwengukur) tinggi rendah? apakah strategi bersaing itu, walau disebut kualitas, ada standardnya? Apa bisa dilacak dengan angket? Apa indikator kualaitas? Adaptasi lingkungan juga ada standarnya tidak sehingga bnisa “dinilai/diukru” tinggi rendah (5 atau 1)? Baru bisa ditetapkan apakah itu interval, apa ordinal, apa nominal, untuk menggunakan teknik yang tepat.

      • Baik Pak trimakasih penjelasan mtentang data ordinal dan intervalnya sangat membantu kekhilafan saya selama ini. :) Kalau memakai non parametrik, lebih tepat pakai metode yang mana ya Pak? Dari buku2 yg saya baca ada banyak jenis tes non parametrik(kendal, tau, chi square, dll), tapi saya gagal paham menggunakan uji yang mana. Mohon pencerahannya sekali lagi Pak. :)

      • Tergantung jenis datanya, atuh, “skala” pada tiap variabel apa? Ordinal apa nominal?! Cek masing-masing teknik digunakan untuk korelasi antar variabel yang mana (nominal-nominal, nominal – ordinal, nominal – interval, ordinal – interval dsb).

      • skala setiap variabel semuanya ordinal Pak (ordinal-ordinal-ordinal) , tetap pakai likert 5 point. Berarti untuk teknik analisisnya saya pakai korelasi Spearman ya Pak? (dri hasil baca- baca teori). Mohon dibetulkan Pak jika pilihan saya salah. Oh iya Pak, uji validitas & reliabilitas untuk parametrik dan non parametrik, metodenya sama saja kan Pak? Maaf Pak klo saya kebanyakan nanya.. :)

      • Kenapa jadi ordinal kalau itu persentase? Kan nominal. Ada kelompok yang SS, ada yang S, ada yang STS. Uji validtias dan reliabilitas kan berkaitan dengan instrumennya, bukan dengan analisisnya.

  64. selamat sore pak, saya mau tanya.
    dalam skripsi saya tentang sapi perah dalam suatu kecamatan. tetapi populasi yang akan saya ambil sample itu hanya 3 desa dari 6 desa yang ada, yang memiliki populasi ternak tertinggi, sedang dan terendah. apakah bisa?, manakah yang sebenarnya disebut populasi?, semua dari 1 kecamatan tersebut atau jumlah dari ke 3 desa tersebut?
    yang kedua, dari jumlah ternak yang ada saya menentukan sampel sebanyak 100 dari metode slovin. sampelnya kan ternak, otomatis responden adalah peternak. dari 100 ternak tersebut saya telah mewawancarai peternak sebanyak 23 orang. apakah sudah baik itu dikatakan suatu penelitian?
    terus yang disebut obyek penelitian mana?, dan subyek penelitian yang mana?
    terimakasih pak..

    • Lha yang mau diteliti itu apanya sapi? Jadi, respondennya sapi apa peternak? Bagaimana kalau peternak punya 10 sapi? Jadi, tergantung pada siapa atau apa yang diteliti, itu populasinya. Jika populasi sudah jelas, baru teknik samping langkah berikut.

      • yang mau diteliti itu kinerja reproduksi sapi.
        kalau respondennya itu peternaknya, karena yang tahu tentang kinerja reproduksi sapi tersebut ya peternaknya.
        kalau peternak punya 10 sapi ya sampel yang diambil itu 10 sapi tersebut. bagaimana pak? apakah bisa seperti itu?!

      • Subyeknya (yang akan diteliti) sapi. Informannya peternak. Nah, coba deh pikir, yang akan disampel itu sapinya apa peternaknya? Lagian kenapa tidak “ditanyai” saja tuh si sapi seberapa produktif? Hehehehe…. Kan kalau jenis kelaminnnya sapi, sapi bisa ditanya (lihat aja anunya!). Berat tubuh sapi, sapi bisa ditanya (suruh naik aja ke timbangan sapi). kalau beranak, tanyai saja ankanya ada berapa? Hehehe…..

      • wah, malah jadi bingung ini pak…,ya sampelnya tetap sapi dong pak.
        jadi intinya penelitian saya ini bisa apa tidak pak dengan informan hanya 23 orang tersebut?
        kalau sapinya ditanya berapa hari kamu “sapi” birahi, berapa hari jarah antara melahirkan sapai kawin kembali?!, terus sapinya harus jawab seperti apa?!,hehee..

  65. selamat pagi pak, pak saya mau tanya, saya melakukan penelitian tentang salak, dan salak yang saya teliti tu salak yang busuk, pecah-pecah, dan yang rusak, berarti sampel saya heterogen kan pak ? mohon penjelasannya terima kasih sebelumnya

    • Yang heterogin atau homogin itu populasinya. Ya tergantung yang akan diteliti tentang apanya. Kalau tentang busukhya, ya karena sama-sama busuk, ya homogin. Tapi kalau yang diteliti ukuran besar kecilnya, ya heterogin (beragam). Sukur lu bingung, kan? Hehehehe….. Makanya, jelas dulu objek yang ditelitinya, baru bisa menetapkan karakteristik populasinya (subjeknya).

  66. Slmat siang Pak,,
    Saya mau tanya Pak, apa maksudnya dengan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif ?
    Kemudian apakah bisa dibuat kriteria inklusi dan eksklusi pada tehnik pengambilan sampel dng accidental sampling ?

  67. mf pak. sya mau tnya…
    sampel saya dlm 1 kelas kurang dari 30 (26 siswa). kemudian saya bagi menjadi 2 kelas secara random yaitu kelas eksperimen dan kontrol. apkah itu bsa pak?
    kalau bsa mohon beritahu saya alasannya pa? dan kalau tidak bisa, alasannya pa kemudian solusinya bagaimana?
    sebelunnya terima kasih banyak.

    • Yang ada kelas kontrol (control group) dan kelas perlakuan (treatment group) itu eksperimen. Coba pelajari benar-benar persyaratan melakukan eksperimen, termasuk jumlah partisipan (subjeknya).

  68. apakah hasil belajar dapat dijadikan sampel dalam penelitian? jika iya apakah ada dasar teorinya?

  69. Rumus ap yeah yg paling cocok untuk penelitian analitik observasi tetapi dengan pendekatan waktu crossectional ?? populasinya sudah diketahui… Saya bingung ada banyak rumus yang di pake…

  70. mau tanya dung boleh ga sih uji coba di lakukan di tempat peneliatian?????kalo boleh teorinya apa???

  71. pak,, mau tanya,,, populasi penelitian saya jumlahnya 33 org dan ingin menggunakan total sampling/sampling jenuh,,, apakah tetap harus menyertakan rumus besar sampel? trims

  72. Assalamulaikum .. perkenalkan Pak saya Devi .. mau tanya ..
    jumlah penderita kusta di Kab X adalah 301, dikelompokan dalam puskesmas-puskesmas ..
    saya ingin meneliti partisipasi penderita kusta dalam kelompok perawatan diri Pak, Nah kata dosen saya pakai teknik total sampling, ambil beberapa puskesmas dg jumlah penderita tertinggi, pdhl jumlah penderita tertingginya 23 penderita, apakah saya harus mengambil 2-4 puskesmas Pak? baiknya berapa puskesmas ya Pak? terus itu bener memakai total sampling?
    terima kasih Pak :)

    • Maksud Pak Dosen, ambil dulu sampel puskesmas dari seluruh puskesmas yang ada, namanya cluster sample. Dari puskesmas tersampel itu diambil seluruh pasiennya (total sample–dalam pemahaman Pak Dosen). Jdi, kalau ada yagn tertinggi satu puskesmas, ya udah itu saja diambil, lalu teliti semua pasiennya. Dah, ngikuti Pak Dosen aja.

  73. pak saya maw tanya penelitian saya menggunakan total sampling berarti populasi =sampel dengan adanya kriteri inklusi dan eklusi apa ada pengaruh dengan sampel ?? trus bagaimana?

  74. ass pak,,
    saya mahasiswi yang sedang mnyusun skripsi
    rencananya penelitian kuantitatif, cross sectional dg tema pengaruh nikah muda terhadap KDRT pada istri.
    rencnnya mggunkan 2 populasi, menikah usia ideal dan tidak ideal.
    rumus besar sampel dan cra pengambilan sampel scra cluster di kcmtan bgaimna ya pak?
    krna klo hrus mggunakan angka di penelitian terdahulu KDRT kebnyakn penelitinya kualitatif.
    jdi angka d penelitian terdahulunya ga ada.
    mksi

    • Memang mudah mencari RT yang ada KDRT-nya? Ada berapa populasinya? Bisa menghitungnya? Coba lacak usia saat menikah, dan saat KDRT terjadi. Cek dari psangan NM (nikah muda) atau NC(cukup umur)!

      • jdi ceritanya sya mau meneliti berdasarkan paparannya, yakni nikah muda dan nikah ideal,
        desain kohort retrospektive dengan kriteria inklusi telah menikah selama min 1 tahun.
        sya mau membandingkan khidupan pernikahan psgn usia muda dengn psgn usia ideal di awal perkawinan.
        mnurut teori yg ada nikah muda tingkat kematangan nya blum mnckupi shgga rentan terjdi KDRT.
        populasi ambil dri data perkawinan KUA,
        dalam 1 kecamatan ada 21 desa/kelurahan.
        total psgan yg mnikah muda 61 psngan
        total yg menikah ideal 510 psangan
        sya bingung pke rumus besar sampel yg mana pak klo dua populasi.
        dan pengambilan sampel scra cluster bgaimna caranya.
        mohon pencerahanya. mksi

      • Sebelum lanjut, coba tanyai mereka pada tahun pertama pernikahan ada KDRT tidak? Apakah mereka mau jawab?! Kedua, jangan terjebak dengan “suuzhan”, pasangan muda usia pasti mengalami KDRT. Cek dengan variabel lain yang mungkin mengganggu (moderator), misalnya ekonomi–perkejaan dan penghasilan saat itu (psg muda ataupun tua), keterpaksaan menikah–bisa nikah hansip, bisa nikah ortu–atau nikah wajar berdasarkan cinta (juga tua muda), intervensi ortu, dan watak (emosional apa kalem dsb.). KDRT bisa terjadi pada pasangan manapun dengan variabel tersebut! Hati-hati membuat hipotesis dari teori tak akurat!

  75. Selamat malam pak. Sy skarang juga lagi menyusun tugas akhir. Saya bingung dgn ukuran sampel yang akan sya gunakan untuk penelitian sy. Saya meneliti tentang korelasi. Sy sdh menetukan sampelnya (kelasnya), ternyata yg mngerjakan kuisioner sy hanya 25 orang, sdngkan ada referensi yg menyebutkan bahwa penelitian korelasi jumlah sampel minimumnya 30 org. Dengan jumlah 25 org sy lanjtkan dgn analisis data diperoleh hubngan yg signifikan (tetapi dgn n < 30), stelah sy tambah ukuran sampel (menjadi 2 kelas) = 52, sy lanjutkan dgn anlisis korelsi, hasilnya tdk ada hbungan. Mohon solusinya pak…
    terima kasih

  76. Pak, saya mahasiswi tingkat akhir yang sedang mengerjakan tugas akhir. Saya berencana akan melakukan penelitian dengan metodologi survey di salah satu sekolah SMP dengan populasi kelas IX yang berjumlah 400 orang. Kirakira boleh atau tidak pak melakukan penelitian survey hanya di satu sekolah? Saya bingung pak, karena banyak pendapat yang bilang untuk penelitian survey untuk populasi harus banyak seperti satu kecamatan atau kabupaten? Mohon pencerahannya pak, terimakasih.

  77. Pak, bisakah study kasus kontrol menggunakan study populasi jika kasusnya hanya 39 atau perlu menghitung sampel minimal?

  78. salam, saya eka marysa seorang mahasiswi yang sedang mengerjakan TA dengan judul KAJIAN PEMERIKSAAN BARANG BERBAHAYA YANG DIBAWA OLEH PENUMPANG DAN KRU DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESELAMATAN PENERBANGAN DI BANDARA X, yang ingin saya tanyakan:
    1. saya akan menyebarkan kuesioner pada penumpang yang sebelumnya berpengalaman pernah membawa barang berbahaya. (populasinya tak hingga/ tak bisa dihitung) , berdasarkan artikel yang saya baca minimal sampel pada penelitian adalah 30 org, bisakah saya menerapkannya? lalu adakah referensi/ acuan mengenai ketentuan pengambilan sampel tsb?
    2. dari artikel yang saya baca, bahwwa dalam penelitian multivariate korelasi/ regresi ganda), jumlah sampel minimal adalah 10x variabel. apakah judul TA saya bisa dikatakan korelasi/ regresi ganda?
    3. metode yg saya gunakan apa bisa disebut kuantitatif, kualitatif atau gabungan dari keduanya? karena data yang saya peroleh berasal dari data2 yang kongkrit namun ada juga yang berdasarkan pengamatan saya.
    4. apakah dalam kuesioner dibutuhkan uji validitas dsb untu pembuatan tugas akhir jenjang d3?
    mohon bantuannya kang, terimakasih…

  79. Pak,mau tanya pak. Kalau misalnya penelitiannya penelitian sensus atau studi populasi, semua anggota populasi dijadikan subjek masih bisa diberikan kriteria inklusi eksklusi tidak pak, soalnya ada beberapa anggota populasi yang menolak mengisi kuesioner dan yang tidak dapat ditemui. Mohon penjelasannya ya Pak.

  80. pak saya ingin meneliti mengenai faktor ibu yang berhubungan dengan mioma uteri, saya mengambil data 5 tahun terakhir, dengan jumlah populasi kasus 156 wanita terdiagnosa mioma uteri, dari hasil rumus didapatkan sampel sebanyak 49 orang, untuk kontrol nya saya ambil 49 wanita dengan karakteristik yang sama yang tidak terdiagnosa mioma uteri, faktor resikonya yaitu usia, paritas dan kehamilan. yang saya ingin tanyakan, saya ingin menggunakan metoda case control tanpa matching, lalu karakteristik seperti apa agar mewakili kasus nya? terimakasih.

  81. maaf pak mau nanya saya sedang mengambil penelitian dgn judul analisis faktor faktor yang mempengaruhi ketidak patuhan minumnobat paru….ygb jadi masalah populasi pasien tersebut hanya 9 org…mohon pencerahannya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s