KONSEP, konstruk, definisi operasional, dan definisi konseptual dalam penelitian

Tatang M. Amirin; Edisi 30 Mei 2009; 6 Juli 2009; 13 September 2009; 4 Juni 2010

[Amirin, Tatang M. 2010. "Konsep, konstruk, definisi operasional, dan definisi konseptual dalam penelitian." tatangmanguny.wordpress.com.]

Katakanlah Anda akan meneliti tentang profesionalisme guru. Pertama-tama yang harus terpikirkan oleh Anda adalah apa yang dimaksudkan dengan profesionalisme itu, sebab bisa jadi yang Anda maui (pahami) dengan menyebut istilah itu, tidak sama dengan yang dipahami orang lain. Perbedaan itu akan membuat kesulitan komunikasi dalam penelitian, termasuk mengkomunikasikan hasil penelitian Anda, nantinya. Beda pemahaman tentang sesuatu, akan menyebabkan salah pengertian (bahasa kerennya misunderstanding) dan gagal komunikasi, seperti dalam anekdot sangat populer berikut.

***

“Budak Sunda” ketemu “Bocah Jowo.” Kebetulan bersaudara sih, anak kakak-adik, tetapi yang satu tinggal di Jogja, yang lainnya tinggal di Majalengka, sebelah barat Gunung Ciremay, bukan Cicalengka, Bandung,  gitu. [Maja lengka itu artinya maja pahit; lengka (leng dalam lengkap) bahasa Jawa kuno, halusnya lengkit. Kerajaan Majapahit dalam babad suka disebut juga Majalengka].

“Bocah Jogma” (wong Jogja asli Majalengka) itu mudik, ceriteranya, dan ketemulah mereka di Majalengka, di desanya yang di gunung sih, bukan di Majalengka yang dataran rendah. Eh, lupa, Cah Jogja itu “teu bisaeun” (gak bisa) basa Sunda. Bahasa Indonesia saja gak lancar, wong sehari-hari pakai boso Jowo, je, tur masih SD kelas I. Kerabatnya, barudak Sunda, gak juga padabisa bahasa Indonesia, masih SD dan TK, apalagi boso Jowo. Blas.
Bocah Jogja tuh rada gede dibanding “barudak” Majalengka. Cah Jogja pingin menikmati suasana desa, jadi ngajak duduluran Sundanya jalan-jalan ke sawah, ke sawah Embah (Aki) mereka. Di Jogja gak punya sawah, sih. Mereka berjalan melewati pematang dan parit-parit, selokan irigasi.

Saat melewati selokan itu ada sesuatu yang berkecipak masuk ke dalam lubang yang rimbun terhalangi rerumputan. Cah Jogja melihat ada ikan, ikan lele, masuk ke lubang itu.

Lele, lele! Kae lho ono lele mlebu leng,” kata si Bocah Jogja, sambil menunjuk-tunjuk ke arah lubang tempat ikan lele masuk.

“Sok kodok, atuh!,” timpal Budak Sunda, menyuruh Cah Jogja yang lebih gede itu “ngodok” (merogoh) lubang, menangkap ikannya. Kalau anak gede kan mestinya lebih berani, gitu pikir anak Majalengka.  Barudak (anak-anak) Sunda takut, kalau-kalau ada ular.
Mendengar kata kodok-kodok begitu (kata-kata lainnya gak mudeng alias gak ngerti), Cah Jogja bingung, masak lele dibilangin kodok.

Kodok ngorek

Kae ki lele. Sing mlebu leng ki lele!” Sambutnya ngotot, menegaskan yang masuk lubang itu ikan lele, bukan kodok, sambil nunjuk-nunjuk lubang

Barudak Sunda bingung dengan ucapan Cah Jogja. Tapi pokoknya ada kata lele, gitu, jadi langsung padajawab, “Nya enya sok atuh kodok!” (Ya iya, makanya cepetan rogoh lubangnya) timpal Budak Sunda, paham kalau yang disebut-sebut itu memang lele, ikan lele, jadi bagus kalau “dikodok” (dirogoh).

Cah Jogja tambah bingung. Kok kodok lagi kodok lagi. Padahal itu lele.

“Ye. . . piye tho, kok kodok maneh, kodok, maneh. Kandani lele, kodok, kodok wae. Embuh, ah!” (Gimana sih, dibilangin lele, kodok lagi, kodok lagi. Udah, ah, tahu!), jawab Cah Jogja sambil ngeloyor pergi jalan terus menuju sawah.

Barudak Sunda “molohok ngembang kadu” (melongo terlongong-longong). Lalu, sambil bingung, nuturkeun (ngikut) berjalan di belakang Cah Jogja.

***

Konsep

Lele dan kodok itu keduanya konsep. Konsep (kata) lele dipahami sama, baik oleh Urang Sunda, maupun Wong Jogja. Tetapi konsep (kata) kodok menjadi tidak sama pahamnya. Wong Jogja pahamnya kodok itu katak, Urang Sunda mengertinya rogoh (memasukkan tangan ke dalam lubang). Itulah ceritera mengapa sesuatu konsep (kata, istilah) dalam penelitian harus dipertegas maknanya (dibatasi atau didefinisikan pengertiannya).

Nah, mari kita lanjut dengan bahasan kita tentang profesionalisme.

Kata “profesionalisme” dalam bahasa metodologi penelitian lazim disebut sebagai sebuah konsep (concept). Hati-hati, istilah concept jangan dikisruhkan pula dengan draft. Kenapa? Karena dalam keseharian istilah konsep kerap dipakai dalam kalimat seperti, “Konsep suratnya sudah dibuat?” Atau, “Wah, maaf, saya belum sempat mengonsep naskah sambutannya.”

Konsep dalam dua kalimat contoh di atas bahasa Inggrisnya draft, bukan concept. Bahasa Indonesianya buram. Bahasa gaulnya “oret-oretan.” Membuat konsep sama makna dengan membuat buram atau oret-oretan. Dulu, sebelum masa komputer, sebelum mengetik dengan mesin tik dengan kertas HVS, konsep biasa dibuat pada kertas buram, karena kertas buram fungsinya memang untuk oret-oretan (membuat draft), bukan untuk menulis yang sebenarnya. Konsep (concept) dalam bahasa metodologi penelitian sebenarnya kata atau kata-kata (frasa) yang dapat disebut juga sebagai istilah.

Cobalah Anda gambarkan apa yang terbayang di kepala Anda jika saya menyebutkan kata (istilah, sebutan) “orang,” lalu “orang utan, ” lalu “orang hutan.” Ada sesuatu sosok yang terbayang di kepala Anda berkenaan dengan ketiga istilah, sebutan, atau kata itu, kecuali mungkin kata kedua dan ketiga. Orang, tentu Anda sudah bisa membayangkan sosoknya seperti apa, termasuk sosok Anda sendiri. Orang utan, rasanya pasti dalam kepala Anda ada “bayangan” (kesan) tentang sejenis kera. Orang hutan, nah ini baru masalah. Mungkin Anda membayangkan sama dengan orang utan, mungkin terbayang sosok seperti kita (orang juga) yang tinggal di hutan (seperti sebutan untuk orang desa atau orang kota). Orang, orang utan, dan orang hutan itu ketiganya disebut sebagai konsep (concept), sesuatu sebutan yang “mewakili” keberadaan sosok yang nyata ada dalam kehidupan, tetapi tidak terkait dengan sesuatu sosok tertentu.

Berkanaan dengan ini lalu concept biasa didefinisikan sebagai sesuatu istilah (term) yang merupakan abstraksi dari sesuatu kenyataan (realita). “Abstraksi” itu bahasa Indonesianya pengabstrakan, yaitu pengabstrakan (menjadikannya  abstrak) sesuatu (realita) yang nyata “terlihat.” Yang diabstrakkan itu tentu berupa benda-benda konkrit, yang “terlihat” (termasuk terasa, teraba, terdengar, terbayang, terkesan, terpikir dsb).

Jadi, tidak semua kata merupakan konsep. Konsep berkaitan dengan benda-benda, baik benda konkrit, benda abstrak, maupun “benda konseptul”. Benda konkrit misalnya orang, kambing, jambu, dan air. Benda abstrak (gaib) misalnya jin, setan, malaikat, dewa. Benda abstrak-konseptual misalnya ketaatan, kekecewaan, frustrasi, agresif, motivasi, dan efisiensi.

Konsep bersifat umum dan abstrak. Universitas adalah konsep yang sangat abstrak. Universitas negeri, konsep lain yang agak konkrit, tetapi tetap masih abstrak, belum menunjuk universitas negeri yang manapun. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) konkrit (ada barangnya, ada bendanya). UNY pun masih konsep juga, kendati konsep yang nuansanya konkrit, tertentu. UNY memang nama sesuatu yang nyata, yang ril. Akan tetapi, seperti apa UNY itu, tak konkrit. Yang tampak cuma bangunan dan lokasi kampus UNY serta orang-orang yang sibuk dan serius bertridharma PT di dalamnya. Nah, ketika kita bicara kampus UNY barulah muncul sesuatu yang konkrit, seperti kalau Anda bertemu saya di UNY. Saya, yang bernama Tatang M. Amirin, benda konkrit, bukan konsep abstrak.

Di kepala kita ada “konsep” (idea–awas, bukan buah pikiran, tentang) ikan, sehingga tidak seorang pun dari kita yang tidak akan menyebut gambar berikut paling atas  dan tengah bukan sebagai ikan (pasti menyebutnya sebagai ikan), padahal cuma garis lengkung-lengkung (gambar kiri atas) , padahal cuma “ceprik-ceprik duri-duri tajam” (gambar kanan  atas), hatta yang agak rumit berupa vignet sekalipun (gambar tengah). Padahal itu berbeda sama sekali dengan yang benar-benar ikan seperti  “ikan pacaran” pada gambar (foto) paling bawah.

imej ikan fish_skeleton FishBW

ikan pacaran

Kucing goyang

Perhatikan pula anak kecil. Ia punya konsep tentang kucing di kepalanya. Maka, ketika ia bertemu dengan seekor binatang yang lewat di depannya, ia akan menyebut binatang itu dengan kucing, karena yang lewat itu sama benar dengan konsep kucing yang ada di kepalanya. Bisa jadi, ketika ia ke kebun binatang dan melihat harimau (macan), ia pun akan menyebut binatang itu dengan kucing, karena “konsep” harimau belum ada di kepalanya, baru ada “konsep” kucing.

Orang-orang menyebut semua pisau “silet,” apapun mereknya (Goal, Tatra, Tiger) dengan silet (gilette), karena pisau ciptaan Pak Gilette yang sosoknya seperti itulah yang pertama kali muncul. Sama dengan “orang Jawa” yang suka menyebut semua orang “Barat” dengan “Londo,” sehingga ada Londo Inggris, ada Londo Australia, ada Londo Amerika, walaupun londo itu asalnya sebutan untuk orang Belanda. Yang asli Belanda disebut “Londo Belanda” (?). Belanda saja dari Holland.

Jika dalam contoh di atas ada anak kecil menyebut harimau dengan kucing, tidak mustahil ketika dosen metodologi penelitian menyebut konsep “subjek penelitian”, dalam kepala mahasiswa terbayang seperti “subjek kalimat” dalam kalimat “Dosen mengajari mahasiswa melakukan penelitian” (dosen subjek, mengajari predikat, dst). Jadi, subjek penelitian adalah orang yang melakukan penelitian. Tentu saja itu salah, seperti kesalahan anak kecil menyebut harimau dengan kucing. [Sila baca makna subjek penelitian dalam tulisan Penulis di dalam blog ini juga].

Biar agak nyambung sedikit, subjek penelitian adalah sesuatu, bisa orang, benda, atau lembaga, yang sifat dan atau keadaannya alias “attributes”-nya akan diteliti. Misalnya: (1) benda: kuantitasnya, kualitasnya, teksturnya, daya tariknya; (2) orang: sikapnya, perilakunya, pendapat atau wawasannya, kemampuannya, loyalitasnya, kedisiplinannya; (3) lembaga: (a) organisasi: sistem pengelolaannya, iklim organisasinya, efektivitas layanan publiknya, ketercukupan fasilitasnya, dinamikanya; (b) pranata sosial: prosesnya, makna-makna simbolisnya, sejarah asal usulnya.

Konstruk (Construct)

Istilah konsep kadang kala disebut juga konstruk (construct). Keduanya sebenarnya sama saja. Hanya kadang-kadang suka dibedakan, yaitu sebutan kontruk dikhususkan pada sesuatu yang bisa diukur-ukur (ditimbang, dihitung dsb). Dalam bahasan tentang penyusunan instrumen penelitian (baca: instrumen pengumpulan data dengan “teknik tes dan pengukuran”) suka ditemukan istilah validitas konstruk [construct validity, kesahihan (kebenaran) berlandas makna hakiki konstruk atau konsep]. Itu maksudnyayang “digambarkan” –dalam bentuk “definisi operasional” tentang konsep/konstruk itu benar atau tepat.  “Construct validity refers to the degree to which inferences can legitimately be made from the operationalizations in your study to the theoretical constructs on which those operationalizations were based.” (Research Method Knowledge Base–online).

Ambil contoh konsep/konstruk “partisipasi masyarakat.” Apa makna hakliki partisipasi itu? Partisipasi masyarakat itu yang “take part” atau yang “involve.”  Take part (asmbil bagian) artinya benar-benar melakukan peran tertentu (lihat definisi peran di bawah). Involve (terlibat) artinya terlibat, tetapi tidak pegang peranan. Jika orang tua murid ikut membicarakan bagaimana sekolah akan dikembangkan, ikut merencanakan program pengembangan sekolah, ikut melaksanakan program, ikut memonitor dan mengevaluasi program, itu namanya berperan serta (berpartisipasi). Jika orang tua membantu menyumbang uang untuk mengembangkan sekolah, itu artinya orang tua terlibat dalam pengembangan sekolah, tapi tidak ikut berpartisipasi (take part).

Ambil contoh ekstrim Mr.  Saddish dan Mr.  Qjamm membunuh Ms. Devique Boongama Lamkhary.  Pembunuhan dengan menggunakan golok Mr. Goobanc. Yang membunuh Mr. Saddish. Mr. Qjamm “mengamankan” mayat Devique. Yang beperan serta dalam pembunuhan itu Mr Saddish dan Mr. Qjamm. Akan tetapi, menurut versi “the policeman,” Biasanya Mr. Goobanc dianggap terlibat (involved), karena meminjamkan goloknya (sengaja atau tidak).

Nah, dengan makna hakiki partisipasi seperti itu, maka jika yang tergali dalam (oleh) penelitian hanya keterlibatan (involvement) saja, itu artinya datanya tidak valid sesuai hakekat konstruknya. Jadi, dapat dikatakan pula bahwa “instrumen” untuk menggali data itu tidak memenuhi syarat validitas konstruk. Jadi, akhirnya, datanya “bias” (menyimpang dari yang sebenar-benarnya, alias salah, alias tidak sahih–shahih, bahasa Arab, artinya benar atau betul).

Pendefinisian Konsep

Analog (berkias) pada kemungkinan akan terjadi kesalahtangkapan makna (misunderstanding) serupa itu dalam penelitian, maka seseorang yang akan melakukan penelitian dituntut untuk memperjelas mempertegas konsep-konsep penting (tidak setiap kata atau konsep) yang ada di dalam “topik penelitiannya” (lazim tercermin dalam judul–kalimat judul penelitian). Kenapa? Karena penelitian yang dilakukan seseorang akan memunculkan “komunikasi” dengan banyak pihak. Dalam komunikasi itu haruslah kedua belah pihak sama makna dalam memahami konsep-konsep yang muncul ke permukaan penelitian.

Contoh:

Di Yogyakarta dan sekitarnya dikenal ada tradisi “nyadran.” Kayaknya istilah ini berasal dari istilah hadharahan (tulisan lama hadlarahan; baca: hadorohan) atau  hadhran (hadlran; baca: hadran), yaitu kenduren yang lazimnya didahului doa “kaum” yang diawali ucapan “ila hadharati” (baca: ila hadoroti) atau “ila hadhrati” (baca: ila hadroti) . . . al-Fatihah. Karena ada kata “ila hadharati” (atau “ila hadhrati”) itu maka sebutan terhadap pembacaan keseluruhan bacaan tersebut bisa (suka-suka) disingkat menjadi hadoroh atau hadroh. Misalnya menjadi kalimat ajakan (di desa saya waktu kecil lazim ada istilah dimaskud), “Mari kita hadoroh dulu!” Itu artinya mengajak semua melakukan acara “mengirim al-Fatihah ke hadhoroh  atau “hadroh” ( seseorang yang dimuliakan). Dari sebutan “hadoroh” atau “hadroh” itu, kegiatan melakukan seluruh rangkaian acara “berhadoroh/berhadroh” itu disebutlah dengan “hadorohan” atau “hadrohan” yang luluh menjadi “hadran,” dan kemudian menjadi “nyadran.”

Kenduren ini dilakukan pada bulan Rewah, sehingga suka juga disebut jadi “rewahan” alias “ngarwahi,” yaitu mengirim dua kepada para arwah, leluhur, utamanya yang dianggap mulia  atau “al-hadhrat” [= “al-hadrah”; dalam tulisan lain ditulis “al-hazrat atau al-hazhrat) sebelum puasa.

Menurut Zoetmulder, nyadran merupakan peringatan meinggalnya seorang raja Majapahit, ketika itu Tri Buwana Tungga Dewi, disebut sradha (dari kata sradha muncul istilah  sradhaan yang lalu jadi nyadran). Oleh wali tradisi “ziarah” kubur raja itu diisi nilai-nilai Islami. Wallahu a’lam mana yang benar (Kenapa bulan Rewah?).

Istilah nyadran ini jika dibawa ke daerah tertentu di Banjarnegara, Jawa Tengah utara-barat, bukan Banjar Ciamis (menurut mahasiswa saya pada Prodi PGSD FIP UNY) akan dipahami lain, karena nyadran di Banjarnegara itu merupakan kenduri sebelum pernikahan dan setelah pernikahan seseorang diselenggarakan.

Itu contoh soal jika, misalnya, ada yang akan meneliti asal-usul tradisi nyadran di Indonesia. Nyadran versi yang mana? Jogja-Solo atau Banjarnegara?

Kembali ke awal. Jadi, istilah (konsep) profesionalisme yang akan diteliti itu haruslah jelas dan tegas benar maksud maknanya apa. Harus dibatasi pengertiannya. Dibatasi, maksudnya dipertegas maknanya, seperti jika orang mempertegas batas-batas tanah miliknya, sehingga jika ia mengatakan “tanah saya,” jelas yang dimaksud tanah yang itu, bukan yang lainnya (yang lainnya punya orang lain).

Itulah sebabnya penegasan makna atau pengertian tersebut diistilahkan dengan batasan pengertian (bahasa Inggrisnya definition). To define salah satu maknanya adalah “to state exactly the meaning of a word or phrase” (menyatakan secara tegas makna sesuatu kata atau frasa). Makna lainnya adalah “to show a line, a shape, a feature, an outline etc. clearly” (menunjukkan secara jelas tegas sesuatu garis batas, suatu bentuk, suatu sosok, suatu kerangka garis besar, dsb).

Ambil contoh yang paling mudah, agar tidak perlu merunut menelusur ke literatur. Yang akan diteliti mengenai prestasi belajar. Apa arti (makna) prestasi belajar itu? Arti secara umum adalah keberhasilan belajar atau hasil belajar. Masih ada pertanyaan. Apa arti (makna) belajar? Belajar apa, belajar di mana?

Mari kita contohkan begini:

Budi, murid SD kelas IV, pintar sekali menganyam bambu. Belajar di mana ia? Di rumah, diajari (sekaligus membantu) ayahnya yang sehari-hari pekerjaannya menganyam bambu. Apakah hasil belajar Budi akan termasuk yang diteliti? Tidak? Hanya yang diajarkan dan dipelajari di sekolah saja? Nah, tampak benar kan perlunya ada batasan pengertian prestasi belajar itu? [Ingat contoh di muka: Itu "tanah saya", yang itu "bukan tanah saya". Ini lho batas-batasnya! Sama-sama "tanah" tapi ada "tanah saya" dan ada "tanah orang lain". Jadi,  sama-sama prestasi atau hasil belajar, tetapi ada "di/dari sekolah" dan "di/dari luar sekolah."]

Masih ada pertanyaan lanjut. Setelah diajari guru agama (ustad), Budi “pintar” sembahyang. Pada saat ujian, Budi ditanya macam-macam “hapalan” pelajaran agama. Budi tidak bisa menjawab dengan baik. Nilai (prestasi belajar) Budi jadinya rendah. Padahal Budi “pintar” solat, puasa, wiridan, doa, azan, qomat dll. Prestasi belajar yang mana yang hendak diteliti?

Definisi Operasional Konsep

Nah, batasan pengertian (definisi) konsep belajar (prestasi belajar) itu jadinya harus “dioperasionalkan” lebih tegas. Operasional artinya jika akan diukur, aspek-aspek, sisi-sisi apa saja yang harus tercakup ke dalam konsep belajar (prestasi belajar) itu agar mudah diteliti (diukur). Dengan kata lain, apa saja yang menjadi “tanda-tanda” (indikator) pengukur konsep itu. Ingat, ini berkaitan dengan penelitian yang dalam menghimpun datanya menggunakan ukuran-ukuran. Dalam bahasa metodologi penelitian sering dikaitkan dengan penelitian kuantiatif-positivistik (yang suka memandang segala sesutu bisa diukur atau harus bisa diukur).

Sebentar! Diukur itu maksudnya apa? Tinggi tubuh diukur dengan meteran. Berat badan diukur dengan timbangan. Isi tangki bensin diukur dengan literan. “Daya terang” bola lampu “diukur” dengan “watt.” Kecepatan laju kapal “diukur” dengan “knot.” Itu sehari-hari yang kita tahu. “Kepahaman” murid akan materi pelajaran yang sudah diajarkan dan dipelajari “diukur” dengan tes (ujian, ulangan). Lalu, bagaimana “mengukur” yang lainnya?

Disusun oranglah berbagai alat ukur. Kecerdasan diukur dengan “alat tes”, antara lain yang dibuat oleh Binet dan Simon. Ada pula alat ukur yang disebut dengan Tes Potensi Akademik (TPA). Sikap, yaitu pro-kontra, setuju-tidak setuju, simpati-antipati terhadap sesuatu yang melibatkan unsur emosi subjetif seseorang; misalnya sikap “orang tua” Amerika Serikat terhadap pengiriman “anak-anaknya” ke negara-negara yang dianggap tidak demokratis menurut kaca mata “pemimpin” Amerika, “diukur” dengan skala sikap, misalnya dengan model Likert.

Kembali ke definisi operasional.Kita bicarakan bagaimana merumuskan definisi operasional.

Coba kita beri contoh dengan memikirkan apa tanda-tanda seseorang mahasiswa dikatakan “rajin belajar.” Apa saja yang menjadi “ukuran” rajin belajar itu? Pertama, deskripsikan dulu apa saja kegiatan yang termasuk belajar itu (mengikuti kuliah, membaca bahan kuliah, mengerjakan tugas, berdiskusi dengan teman, atau apalagi?). Setelah itu cari tanda (ukuran, indikator) kerajinan (belajar) dari setiap deskriptor tadi. Jadi, ada rajin mengikuti kuliah (tanda atau indikatornya?), ada rajin membaca bahan kuliah (tanda atau indikatornya?) dan seterusnya. Jangan lupa, dalam setiap deskriptor itu tentu ada subdeskriptornya. Mengikuti kuliah (salah satu deskriptor belajar) mengandung sub kegiatan, misalnya, mengikuti presentasi dosen, mengikuti diskusi kelas (jika ada), mengerjakan tugas kelas (jika ada), menyusun makalah untuk diskusi kelas dan mepresentasikannya (jika ada).

Jadi, kerajinan belajar mahasiswa adalah kekerapan seseorang mahasiswa hadir di kelas mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas-tugas kelas, kekerapan membaca literatur yang terkait dengan perkuliahan, kekerapan dan kesungguhan mengerjakan tugas-tugas kuliah . . . (dst.).

Contoh di atas merupakan contoh definisi operasional. Definisi operasional konsep adalah definisi (batasan pengertian) sesuatu konsep yang mengandung kejelasan dan ketegasan mengenai deskriptor (aspek-aspek yang terkandung atau tercakup) dan indikator (tanda-tanda keberagaman atau variabilitas) konsep yang akan diteliti itu, yang terukur (bisa dan mudah diukur).

Penelitian yang tidak akan mengukur-ukur tentu tidak memerlukan adanya definisi operasional. Penelitian eksploratori (eksploratif), misalnya, karena tidak mulai dari konsep yang harus diukur-ukur, tidak memerlukannya. Justru dapat terjadi dari penelitian eksploratif (penggalian) tersebut akan tergali dan termunculkan sesuatu konsep baru yang sama sekali sebelumnya belum diketahui, disertai (berdasarkan) deskriptor atau indikatornya yang juga muncul dari penelitian lapangan, bukan dari “kepala” peneliti sebelum melakukan penelitian eksploratif tersebut.

Contoh:

Seperti apakah bunga Raflesia Arnoldi sebelum ditemukan oleh Arnold dan Rafles? Tak ada yang tahu. Nama itu saja pun untuk menyebut bunga bangkai itu tak ada. Setelah itu barulah orang bisa “menemukan” bunga-bunga raflesia arnoldi di beberapa tempat dan menyebutnya sebagai bunga raflesia arnoldi berdasarkan sifat-sifatnya yang sesuai dengan sifat-sifat bunga raflesia arnoldi (paling awal ditemukan).

Berikut ini contoh definisi operasional yang sangat sederhana (singkat) karena tidak memerlukan deskriptor yang banyak):

Kontak orang tua dengan anak-anaknya adalah kekerapan pertemuan tatap muka orang tua dengan anak-anaknya yang diukur dengan hitungan menit pertemuan. [Sila baca tulisan "Penelitian Kualitatif Penggalian-Hipotesis . . ." dalam blog ini!]

Nah, kita coba dengan konsep profesionalisme. Oh, ya, sebelum lanjut, definisi operasional tidak (jangan) mengutip definisi yang ada di buku-buku pelajaran (textbook), karena yang ada di sana lazimnya berupa definisi konseptual (seperti akan dibicarakan di bawah), melainkan–kalu perlu rujukan–dari penelitian-penelitian yang sudah ada.

Profesionalisme atau keprofesionalan adalah tinggi-rendahnya pemilikan pengetahuan, kecakapan, dan etika untuk dan dalam melaksanakan tugas dan fungsi jabatan yang harus dilakukan seseorang dalam profesi tertentu.

Profesionalisme guru adalah tinggi-rendahnya pemilikan pengetahuan, kecakapan, dan etika untuk dan dalam melaksanakan tugas dan fungsi jabatan keguruan, yang mencakup nilai-nilai kepribadian yang luhur, bidang ilmu yang akan diajarkan, metodologi pengajaran/pendidikan (pedagogi), manajemen pengajaran/pendidikan, dan etika profesi keguruan.

Nah, ketahuan sekarang, alangkah susahnya untuk “mengukur” profesionalisme seorang guru. Harus pakai tes (pengetahuan) dan observasi (kinerja cerminan kecakapan).

Definisi Konseptual Konsep

Dalam beberapa jenis penelitian, definisi yang diperlukan cukup berupa definisi konseptual, yaitu penegasan penjelasan sesuatu konsep dengan mempergunakan konsep-konsep (kata-kata) lagi, yang tidak harus menunjukkan sisi-sisi (dimensi) pengukuran (tanpa menunjukkan deskriptor dan indikatornya dan bagaimana mengukurnya ).

“Prestasi belajar merupakan segala bentuk keberhasilan dari mengikuti atau melakukan kegiatan belajar,” merupakan contoh definisi konseptual. Ada konsep “keberhasilan belajar” dan “mengikuti/melakukan kegiatan belajar” yang dipakai untuk menjelaskan dan menegaskan makna prestasi belajar. Belum (tidak ada) deskriptor dan indikator bagi kedua konsep tersebut, sehingga, jika akan diukur tidak jelas apanya yang akan diukur. Seperti telah dijelaskan, yang diukur tentu “ukuran”, misalnya ketinggian: tinggi – rendah; kebesaran: besar – kecil: “kebanyakan”: banyak – sedikit; kekerapan: sering – tidak pernah; “kesetujuan”: sangat setuju – sama sekali tidak setuju. Namun demikian, pendefinisian secara konseptual tersebut sudah memberi makna mengenai apa yang dimaksud dengan prestasi belajar.

Definisi konseptual diperlukan dalam penelitian karena definisi itu akan mempertegas apa yang akan diteliti. Sekali lagi, terkecuali pada penelitian yang benar-benar besifat eksploratif, yang konsepnya saja pun belum terketahui, sehingga tidak mungkin mendefinisikannya terlebih dahulu, karena konsepnya saja pun belum tergali. Penelitian model ini (murni eksploratif) mungkin amat sangat jarang terjadi (Karena amat jarang yang melakukan seperti itu? Bisa jadi! Termasuk saya, hehe . . . )

Kapan Konseptual, Kapan Operasional

Judul penelitian yang berbunyi “Efektivitas pelaksanaan manajemen berbasis sekolah (MBS) di Kabupaten Majalengka,” misalnya, mengandung konsep (istilah) yang bersifat “variabel” (mengandung keragaman “nilai” tinggi – rendah), yaitu efektivitas (sangat efektif vs tidak efektif sama sekali). Menelitinya tentu harus dengan mengukurnya (seberapa tinggi tingkat efektivitasnya). Oleh karenanya harus didefinisikan secara operasional konsep (yang berupa frasa) “efektivitas pelaksanaan MBS” itu maknanya apa. Sekali lagi, mulailah dari deskriptornya: deskriptor pelaksanaan MBS itu apa saja (misalnya keleluasaan sekolah untuk mengatur sendiri, keterlibatan masyarakat, dsb.), dan indikator (indikator efektivitas) dari tiap deskriptor itu apa.

Penelitian yang berjudul “Pendapat masyarakat mengenai peran masyarakat dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah” tidak memerlukan definisi operasional, karena “pendapat” tidak bisa dan tidak untuk diukur. Cukup dirumuskan definisi konseptual mengenai konsep (istilah) pelaksanaan MBS saja. Kata (kosep) “pendapat masyarakat” tidak perlu didefinisikan. Yang perlu dipertegas (bukan didefinisikan) hanya mengenai yang dimaksud dengan masyarakat itu siapa (semua orang–termasuk bayi-bayi yang baru lahir, orang dewasa, kepala rumah tangga, tokoh-tokoh formal dan informal?). tetapi, karena suka salah memaknai, pengertian peran (role) yang sering dimaknai sebagai andil atau sumbangan, perlu diperjelas (secara konseptual).

Iya deh, karena ada yang mengakses apa itu role, kita bahas sedikit. Gak apa kan, jadi panjang tulisan ini?!

Role itu artinya peran (sesuatu yang dilakonkan). Contoh: Tatang berperan sebagai (melakonkan sosok) Si Kabayan dalam “ketoprak nusantara multikultural UNY.” Jadi, Tatang memerankan tokoh (berakting sebagai) Si Kabayan. Role itu berati pula peranan (sesuatu “state” yang dilakukan untuk/dalam memberikan andil terhadap sesuatu). Perhatikan: ada andil atau sumbangan juga, sih! Misal: Tatang berperan sebagai penyandang dana pagelaran wayang golek dengan dalang Asep Sunarya untuk merehab bangunan SD Haurbuni (kayak iya-iyao punya duit, hehe . . .). Terlihat beda kan dengan ini: Tatang memberikan dana untuk merehab bangunan SD Haurbuni.

Definisi Operasional Variabel

Hampir sebagian besar penelitian kualitatif (studi kasus, grounded research, penelitian tindakan) tidak memerlukan definisi operasional, cukup definisi konseptual saja (itu pun bersifat tentatif, jika diperlukan).

Konsep yang perlu disusun definisi operasionalnya lazimnya konsep yang bersifat variabel, konsep yang mengandung sifat “kebervariasian” (keragaman) berjenjang (kontinum). Prestasi belajar, misalnya, merupakan variabel yang mengandung keragaman jenjang tinggi, sedang, rendah (Prestasi belajar tinggi, prestasi belajar sedang, prestasi belajar rendah). Motivasi belajar juga merupakan variabel yang mengandung sifat keragaman berjenjang (motivasi tinggi, sedang, rendah). Hati-hati: mengenai motivasi belajar ya jangan mengutip teori motivasi Maslow, Herzberg, Teori X dan Y! Cari di buku-buku Psikologi Pendidikan (jangan yang salah juga memaknainya! Hehe . . . Banyak yang suka salah, sih! Mari tanya Manguni Si Cendekia, haha!)

Mengenai kupasan tentang variabel sudah diutarakan dalam tulisan tersendiri. Sila baca, Lur!

About these ads

60 thoughts on “KONSEP, konstruk, definisi operasional, dan definisi konseptual dalam penelitian

  1. ASSALAMMUALAIKUM WR.WB ,SAYA LAGI BIKIN KTI ,MENELITI TTG PROGRAM KEMITRAAN BIDAN – DUKUN .YANG SAYA TANYAKAN MENGENAI DEFINISI OPERASIONAL :

    1.”SOSIALISASI” PROGRAM TSB KPD MASYARAKAT
    2.”PERTEMUAN” DUKUN DENGAN BIDAN
    3.”MAGANG”DUKUN UNTUK PELATIHAN
    4.”DANA BERGULIR”

    TERIMA KASIH ,ASSALAMMUALAIKUM WR.WB.

    • Wa’alaykum salam wr. wb.
      Definisi operasional diperlukan (wajib ada) jika “objek” yang akan diteliti itu akan diukur-ukur. Misalnya sosialisasi akan diukur berapa kerap (kali dilakukan), begitu juga pertemuan, dan magan. Jika tidak akan diukur-ukur cukup definisi konseptual. Jelasnya yaitu apa yang dimaksud dengan “konsep” sosialisasi, pertemuan (ketemu langsung tatap muka, atau pertemuan pembelajaran/pelatihan, apa semua macam bentuk bertemunya bidan dan dukun, termasuk ngobrol di jalan. Magang itu yang dimaksud apa, dan dana bergulir itu apa.

  2. Alhamdulillah…setelah lama ngubek2 google akhirnya saya mendapat gambaran yang jelas di blog ini mengenai definisi konsep,,,
    pak saya ingin tanya? klo penelitian saya itu judulnya perbandingan penggunaan metoda a vs metode b ditinjau dari motivasi belajar…analisisnya menggunakan anava 2 jalur…gambaran menyusun definisi konsepnya bagaimana apakah dengan menyimpulkan definisi2 dari berbagai sumber yang ada atau bagaimana? selanjutnya setelah itu menyusunya menjadi definisi operasional dan dilanjutkan membuat construct variable…atau bagaimana?
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya…

    • (1) Aduh judulnya kok sukanya pakai kata “ditinjau.” Yang lazim akan berbunyi “Perbandingan efektivitas Metode A dan B dalam meningkatkan motivasi belajar.”
      (2) Metode A dan B tidak perlu didefinisikan, melainkan dijelaskan (dalam kajian teori), seperti apa operasionalisasi (implementasi atau penerapannya). Jadi, tak ada definisi operasionalnya.
      (3) Motivasi belajar perlu didefinisikan secara konseptual, yaitu menurut para ahli dalam berbagai literatur, apa yang dimaksudkan dengan motivasi belajar itu. Sama tidak dengan semangat belajar, dengan minat belajar, dengan gairah belajar, dengan keseriusan belajar—misalnya. Itu harus jelas tegas. Lalu “dioperasionalkan” dengan menampakkan “tanda-tanda” (indikator) ber-(memiliki)-motivasi belajar itu seperti apa (yang tampak, yang observabel, yang bisa diukur berupa perilaku lahiriah). Perhatikan: (Misal definisinya) “Motivasi belajar adalah keseriusan dalam belajar.” Ini tidak operasional, karena keseriusan belajar sendiri harus dipertegas lagi, seperti apa penampakan orang yang serius belajar itu. Contoh: “Serius belajar = tak berkedip menatap buku.” Nah, ini baru bisa diukur (diamati, dilihat); dilihat menatap buku apa tidak, berkedip apa tidak. Hehehehe………tentu ini hanya definisi guyonan aja.
      (4) Yang diukur (dengan tes/angket) adalah motivasi belajar. Ingat: penelitiannya harus EKSPERIMEN, jadi ada kelompok tercoba (experiment group) dan ada kelompok pembanding (control group) yang sudah “disetarakan” dalam berbagai faktor/aspek yang diduga bisa mempengaruhi motivasi belajar (sama-sama ada yang pintar dan yang bodoh, ada lelaki dan perempuan, ada anak orang kaya dan miskin dsb.) Kelompok yang satu pakai metode A, yang satu lagi pakai metode B. Angka (skor penilaian mengenai derajat/tingkat) motivasi dari kedua kelompok itu lalu diperbandingkan. Jadi “rangkumannya” X1 metode A, X2 metode B dan motivasinya Y. Lihat skornya tinggi di kelompok yang mana (dalam taraf signifikansi tertentu).
      (5) Sesuatu konsep yang sudah teroperasionalkan lazim disebut “construct.”

  3. Assalamu’alikum, wr.wb…salam kenal pak..saya bersyukur sekali bisa bersilaturahmi dalam forum ini sekaligus juga mohon penejalsan bapak tentang konsep PTK yang sebenarnya, karena saya masih bingung apakah keberhasilan PTk itu sepenuhnya dilihat dari perubahan nilai yang kurang menjadi baik contoh dari nilai 6 menjadi 8.

    • Kelas itu satu sistem. Ada banyak faktor/unsur/komponen di dalamnya. Dalam PTK mestinya kita melihatnya secara sistemik juga. Jadi, perubahan angka hanya salah satu saja. Perhatikan baik-baik prosesnya. Itu sebabnya maka ada observasi dan refleksi dan replanning. Belum lagi ada kemungkinan terjadi perubahan prestasi tetapi bukan karena PTK itu sendiri, karena ada faktor lain. Siapa tahu di rumah ada “tamu” famili yang membantu murid belajar jauh lebih baik daripada biasanya.

  4. Subhanallah, kalau saja dosen-dosen metodelogi penelitian begini cara penjelasannya, maka mahasiswa gak bingung dan akan melahirkan peneliti-peneliti handal yang tidak miskin materiil dan miskin metodologi

  5. Pak, makasih banyak buat penjelasan yang sangat berguna bagi penulisan ilmiah saya. Penjelasan bapak lebih bisa dimengerti dibandingkan dosen di kelas, hehehehe. Bagai malaikat pembawa pencerahan. Btw, kalo boleh tau, bapak ngajar di mana? sekali lagi terima kasih.

  6. Ass. alaikum wr. wb.
    Saya mohon penjelasan ttg pengertian operasional dalam kaitan dengan manajemen proyek ? terima kasih.

  7. Pingback: 2010 in review | tatangmanguny's blog

  8. assalamu’alaikum pak, judul penelitian ” sertifikasi guru dan pengaruhnya terhadap peningkatan prestasi belajar siswa”nah konsep operasionalnya gmna pak, maturnuwun…

    • (1) semua guru tersertifikasi dapat sertifikat—karena sama, sama-sama bersertifikat, maka ia bukan variabel—karenanya tidak bisa dikorelasikan. karena itu pula tak bisa dioperasionalkan
      (2) peningkatan prestasi belajar dikur dari adanya skor (nilai) hasil ujian (tes) yang lebih tinggid aripada “semula”—nah, semulanya yan mana?.

  9. Assalamu’alaikum…. Pak kulo mau membuat judul skripsi “Kepedulian Masyarakat terhadap Pagelaran Wayang Kulit Purwa (Studi Kasus…………………..)”.
    Yang saya mau tanyakan kpd sampean.
    1. judul itu sudah pas atau belum, kalau belum mhn pencerahanya..
    2. dan bagaimana cara konsep operasional?
    matursuwun seng katah…

  10. Terimakasih, nuhun, maturnuwon atas tulisan-tulisanya Pak Tatang, tulisan-tulisan anda tentang penelitian banyak membantu saya dalam menyelesaikan sekripsi saya…Semoga masih terus berkarya…:)

    • Indikator itu penanda. Tandanya orang hapal pengetahuan yang telah diajarkan adalah jika tahu (tahu 10 dari 10 soal hapalan yang disediakan). Tandaanya orang rajin ke perpustakaan jika kerap ke perpustakaan (tandanya kerap? Tiap hari, apa tiap minggu?)

  11. assalamu’alaikum pak boleh ikut nanya ya? tentang definisi operasional dari sosial budaya? mkasih sblmnya.

  12. hatur nuhun ilmunya pak, bermanfaat sekali..
    saya lg nyari indikator audio visual, tp blm ketemu. mhn bantuannya u menjelaskan ya pak…

    • Indikaotr itu tanda. Tanda apa, tergantung apa sifat audio visual yang akan diteliti (diukur). Harganya, misalnya, indikatornya tinggi rendah. Ketersampaian pesan, lain lagi, tentu mudah sampai (komunikatif) atau susah dipahami (tak komunikatif).

  13. Informasi yang sangat bermanfaat. Saya ingin bertanya, saya sedang melakukan penelitian mengenai pengembangan karier Pegawai Negeri Sipil, tlg dibantu dalam menentukan operasionalisasi konsepnya
    Terima kasih :)

  14. Bagus! Tadinya pusing, ngapain sih sudah pakai operasional harus juga pakai konsep atau sebaliknya atau tidak usah pakai operasional! pokoknya sudah jelas sekarang! Trimk/Alhamdulillah!

  15. Yan I. G.
    sore Pak Tatang, Saya mau menanyakan definisi konseptual dan operasional kebijakan perusahaan konstruksi?
    terima kasih sebelumnya.

  16. aslm pak, mau tanya, kalo kita menganalisis sebuah media pembelajaran (software simulasi interaktif) yang sudah ada, dan outputnya sy mau menghasilkan apa saja indikator-indikator yang dapat dicapai oleh siswa jika belajar fisika menggunakan media tersebut. itu masuk dalam penelitian eksplanation atau eksploration pak? bingung

      • oh saya kira mask kegori survei analisis dokumen.
        tp saya ga jd ambil judul itu pak, jadinya ini ” Hubungan antara kereampilan proses sains dan minat siswa terhadap ekskul KIR dengan hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA SMA NEGERI di Jakarta Pusat dalam kurikulum 2013″
        kira-kira judul saya itu bertele-tele ga pak?
        oia, kalo sy ga dapet fakta hasil penelitian orang lain tentang ekskul kir ini, sy harus gimana pak?
        kalo fakta yang saya lampiran berasal dari artikel saja tidak representatif ya pak?
        terima kasih pak

      • Coba buat skema hubungan (korelasi) X dan Y (independent dan dependent vsriabelnya). Mana X dan mana Y. Lalu cari hubungan logisnya (teoritik) bahwa X memang berkorelasi dengan Y. Dicermati pula apakah X itu tidak merupakan bagian dari Y, benar-benar variabel tersendiri!

  17. kalo hubungannya seperti ini pak:
    X1= minat siswa terhadap ekskul KIR
    X2= keterampilan proses sains
    Y= hasil belajar fisika
    X1 –> X2 –> Y

    1. minat siswa terhadap ekskul KIR: artinya ketertarikan siswa pada ekskul KIR disertai keaktifan dalam kegiatan KIR
    jadi siswanya itu yang memang sudah menjadi anggota KIR
    2. keterampilan proses sains dapat dikembangkan di kegiatan KIR
    3. Hasil belajar Fisika di kurikulum 2013 tidak hanya menekankan aspek kognitif, namun menyeimbangkan 3 aspek, yaitu: kognitif, keterampilan, sikap

    jadinya minat terhadap ekskul KIR memiliki hubungan linear dengan hasil belajar fisika dengan variabel penghubungnya adalah keterampilan proses sains.

    kalau seperti ini bagaimana pak, benar tidak?

    • Dalam eskul diajari KPS (keterampilan proses sains), dalam pelajaran kelas juga diajari KPS. Tapi terkait eskul bukan KPS tapi minat (ukuran tinggi rendah minat apa?). KPS juga ukuran tinggi rendahnya apa sehingga disebut variabel? Bingung, ya. Jadi, yang paling pas ya jika murid minat tinggi belajar F ya (hipotetis) prestasi F juga akan tinggi, dan sebaliknya. Tidak melalui eskul dan KPS, karena KPS bagian dari pelajaran F entah eskul entah inkul.

  18. 1. Jadi logika seperti itu kurang tepat ya pak, karena KPS termasuk ke dalam hasil belajar?
    2. ukuran tinggi-rendahnya minat siswa terhadap KIR, diukur dari frekuensi siswa yang mengikuti dan aktif dalam ekskul KIR.
    3. kalo KPS kan ada indikatornya pak, saya menggunakan dari indikator para Ahli yang sudah valid. jadi nanti dilihat seberapa besar KPS siswa yang ikut KIR dengan siswa yang tidak ikut KIR Pak.
    4. atau ekskul memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan point keterampilan proses sains yang dituntut dalam kurikulum 2013?

    • Kalau saya yang menguji penguasaan materi belajar ya KPS itu akan termsuk yang diujikan, karena itu bagian integral dari pelajaran. Rasionya jika seseorang sering berlatih KPS kan akan mahir KPS, apakah di eskul apa di inkul. Jadi, bukan soal minat mengikuti eskul, tapi minat dan intensitas melakukan KPS.

  19. 1. iya jg sih Pak, (bener KPS termasuk dalam hasil belajar).
    tp yang lebih intens, siswa berlatih meningkatkan KPS nya ya di ekskul KIR pak, kalo dikegiatan inkul jarang.
    jadi kalo seperti ini ( X1 –> X2 –> Y) logika teoritisnya ga pas ya pak.
    dengan X1= minat ekskul
    X2= KPS
    Y= hasil belajar
    2. jadi judulnya harus diganti ya Pak?
    3. Kalo sudah memasukkan KPS sebagai variabel berarti tidak usah memasukkan hasil belajar sebagai variabel ya pak?
    jadi kalo seperti ini ya pak:
    X1 = intensitas melatih KPS dalam ekskul KIR
    X2 = tingkat intelegensi
    Y = Tingkat KPS siswa
    logis ga Pak?
    hubungannya jadi seperti ini:
    X1 & X2 –> Y
    (tingkat KPS siswa memiliki hubungan positif dengan intensitas melatih KPS dalam ekskul KIR dan IQ)
    4. Pak, sebenernya, harapan sy, penelitian yg sy lakukan itu memberikan informasi kepada pengembang kurikulum, supaya KIR diaktifkan di sekolah-sekolah. soalnya sy survei beberapa sekolah di jakata pusat, dari 13 sekolah hanya 7 sekolah yg ekskul KIR nya aktif, yang lainnya ada tp tidak jalan dan tidak ada sm sekali.
    Terima kasih Pak :-)

    • Bandingkan saja prestasi belajar siswa yang ikut eskul dengan yang tidak. Kalau yang eskul lebih baik, kan jadi saran! Daripada ribet main korelasi malah musingkan logikanya.

  20. oh gituuu Pak, berarti , boleh rumusannya seperti ini Pak:
    “Perbandingan antara keterampilan proses sains siswa yang aktif ekskul KIR dengan siswa yang tidak aktif ekskul KIR”
    Nah siswa yang tidak aktif ekskul KIR = siswa yang tidak aktif ekskul dan yang aktif ekskul selain KIR
    benar tidak Pak?
    jadinya itu penelitian survei atau penelitian kausal komparatif?
    terima kasih Pak.

  21. tp termasuk kausal komparatif bukan pak?
    untuk jenjang S1, penelitian seperti itu terlalu mudah tidak pak?
    maksudnya variabelnya hanya keterampilan proses sains saja..
    useless tidak Pak?
    saya agak ragu nih, peneltiian saya diterima atau tidak jika seperti itu judulnya (Perbandingan antara keterampilan proses sains siswa yang aktif ekskul KIR dengan siswa yang tidak aktif ekskul KIR)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s