SUBJEK penelitian, responden penelitian, dan informan (narasumber) penelitian

Tatang M. Amirin

Suntingan 23 April 2009; 24 Juni 2009; 22 Juli 2009; 2 Februari 2011

Mau ngutip? Tulis dalam referensi: Amirin, Tatang M. (2009). “Subjek penelitian, responden penelitian, dan informan (narasumber) penelitian.” tatangmanguny.wordpress.com.

Objek penelitian; subjek penelitian; responden penelitian; informan (narasumber) penelitian; populasi objek penelitian; populasi subjek penelitian; populasi responden penelitian; anggota populasi subjek penelitian; anggota populasi responden penelitian; generalisasi; unit analisis;

Objek, subjek, dan populasi penelitian

Hampir tidak dijumpai dalam buku-buku penelitian pembedaan subjek penelitian dari responden penelitian dan informan (narasumber) penelitian. Yang lazim ada hanya mengenai subjek penelitian, itu pun kadang tidak lengkap sepenuhnya terbicarakan, termasuk dalam buku penulis “Menyusun Rencana Penelitian” yang terbit pertama kali sekitar tahun 1986-an oleh penerbit (ketika itu) CV Rajawali (kemudian menjadi RajaGrafindo Persada).

Mari kita buat contoh penelitian untuk memperjelas perbedaan ketiganya. Topiknya mengenai “Kepemimpinan kepala sekolah Sekolah Dasar di Kabupaten Situsini.”

Hal (objek) yang akan diteliti (= objek penelitian) adalah “kepemimpinan kepala sekolah” (yang konkrit atau “operasionalnya” adalah apakah kepemimpinan kepala sekolah atau kasek tersebut efektif/baik ataukah tidak efektif/tidak baik).

“Kepemimpinan kepala sekolah” itu merupakan sesuatu karakteristik atau sifat keadaan dari kepala sekolah. Dengan kata lain, objek penelitian yang berupa “kepemimpinan kepala sekolah” itu melakat pada diri kepala sekolah. Sesuatu yang padanya melekat “objek yang akan diteliti” disebutlah sebagai subjek penelitian. Jadi, dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian (yang mempunyai sifat-karakteristik/keadaan yang akan diteliti itu, atau si empunya objek penelitian, yang dalam hal ini berupa efektivitas kepemimpinan) adalah kepala sekolah. “Subject” dalam bahasa Inggris bisa mengandung arti sebagai “sesuatu yang di-..” (diperbincangkan, didiskusikan, dikaji, dan juga diteliti), bukan “sesuatu yang me-.. (memperbincangkan, mendiskusikan, mengkaji, meneliti).

Subjek Penelitian dan Populasi Subjek Penelitian

Mari kita buat ilustrasi lebih lanjut. Di Kabupaten Situsini ada sebanyak 222 SD. Jadi, ada 222 kepala sekolah, karena per SD ada satu kepala sekolah. Karena penelitian kita tentang kepemimpinan kepala sekolah (objeknya), dan kepala sekolah sebagai subjeknya, maka keseluruhan kepala sekolah (para kepala sekolah SD sebanyak 222 orang) tersebut disebutlah populasi penelitian (tepatnya populasi subjek penelitian). Jadi, seluruh subjek penelitian kita sebut sebagai populasi penelitian (tepatnya populasi subjek penelitian).

“Apanya siapa” yang diukur (diteliti)?

Dalam gambar di atas tampak seekor kura-kura sedang diukur lebar tubuhnya. Yang sedang diukur itu kura-kura. Jadi, kura-kura itu merupakan subjek pengukuran. Apanya kura-kura yang diukur? Lebar tubuhnya. Jadi, lebar tubuh (kura-kura) itu merupakan objek penelitian.

Siapa meneliti (menimbang) “apanya siapa”?

Dalam gambar di atas tampak seorang suster sedang menimbang berat badan seorang pasien. Yang ditimbang berat badannya itu pasien. Jadi, pasien itu merupakan subjek penimbangan. Yang sedang ditimbang itu berat badan si pasien. Jadi, berat badan pasien merupakan objek penimbangan. Siapa yang melakukan penimbangan? Suster. Jadi, suster merupakan penimbang.

Nah, ubahlah istilah mengukur dan menimbang itu menjadi meneliti. Maka, kura-kura merupakan subjek penelitian yang lebar tubuhnya sedang dijadikan objek penelitian. Pasien merupakan subjek penelitian yang berat badannya sedang dijadikan objek penelitian oleh suster sebagai peneliti.

Responden dan Populasi Responden Penelitian

Jika para kepala sekolah itu sendiri yang diteliti (ditanya–dan akan merespon atau menanggapi pertanyaan) disebutlah kepala sekolah itu sebagai responden (perespon, pejawab = orang yang memberikan jawaban atas pertanyaan). Jadi, dalam kasus ini, kasek merupakan subjek sekaligus responden penelitian).

Tetapi, jika yang ditanya mengenai apakah kepala sekolah mampu memimpin dengan efektif atau tidak itu langsung si kepala sekolah, maka jawabannya bisa sangat subjektif (cenderung menilai diri baik). Oleh karena itu, dengan anggapan (asumsi) yang dianggap paling tahu (bisa menilai, karena mengalami sendiri) mengenai kepemimpinan kasek itu baik atau tidak tentulah yang dipimpin oleh kasek tsb, yaitu guru, maka yang sebaiknya akan ditanya (dan merespon, menjawab pertanyaan-penilaian) adalah guru itu. Guru itu disebutlah sebagai responden penelitian (responden yang bukan subjek penelitian, karena subjeknya–si pemilik “sesuatu” yang akan diteliti, dalam hal ini kepemimpinan– tetap kepala sekolah, bukan guru).

Karena guru dari 222 sekolah itu banyak sekali (paling tidak per SD ada 6-7 orang), maka seluruh guru itu disebutlah sebagai populasi penelitian juga, tetapi mereka dalam hal ini merupakan populasi responden penelitian, bukan populasi subjek penelitian.

Bicara dengan siapa, membicarakan tentang siapa?

Jadi, jika berbicara dengan seseorang membicarakan orang lain, maka orang tersebut disebut sebagai responden penelitian, bukan subjek penelitian. Yang menjadi subjek penelitiannya justru orang lain yang dibicarakan. Jika berbicara kepada (dengan) seseorang tentang orang itu sendiri, ia disebut subjek penelitian (sekaligus responden penelitian).

Kembali ke contoh para kepala sekolah.

Setiap kasek, yang kepemimpinannya diteliti, dari 222 kasek itu disebut pula sebagai anggota populasi subjek penelitian (anggota populasi penelitian), dan setiap guru, yang ditanyai mengenai kepemimpinan kepala sekolahnya, dari 222 SD itu disebut sebagai anggota populasi responden penelitian.

Sampel (Subjek dan Responden) Penelitian

Kalau anggota populasi banyak sekali, biasanya yang akan ditanyai (diteliti secara langsung) tentulah tidak semuanya, karena terlampau memakan waktu, energi dan biaya. Jadi, yang akan diteliti hanyalah sebagian dari mereka. Sebagian anggota populasi yang diteliti dari seluruh anggota populasi itu disebut sebagai sampel penelitian.

Dalam contoh para kepala sekolah tersebut di atas, langkah pengambilan sampel atau sampling-nya sebagai berikut:

Pertama-tama diambil terlebih dahulu sampel subjek penelitian (kepala sekolah). Katakanlah diambil 25%-nya (dari 222 kasek). Jadi akan terambil sebagai sampel sekitar 54 (dibulatkan agar hitungannya “bulat” menjadi 50) orang kasek. Tentu dari 50 SD.

Telah diketahui bahwa di setiap SD ada 6-7 guru kelas dan bidang studi (Agama/Penjas). Dari setiap SD tempat sampel kepala sekolah tadi diambil, diambillah sampel gurunya, misalnya 3 orang (dari 6-7 orang guru tadi). Tiga orang guru tersebut disebut sebagai sampel responden. Sampel responden inilah yang ditanyai (diminta penilaiannya mengenai kepemimpinan kepala sekolahnya).

Unit Analisis dan Generalisasi

Yang dinilai oleh para guru itu kepala sekolah. Jadi kepala sekolah sebagai subjek penelitian menjadi unit analisis penelitian (Silakan baca lebih jauh dalam tulisan mengenai unit analisis dalam blog ini juga). Maksudnya “hitung-hitungan” nilai efektivitas kepemimpinan itu per kepala sekolah, bukan per guru.

Secara operasional, jelasnya, penilaian dari tiga guru bawahan seseorang kepala sekolah (sampel guru per sekolah tadi) dihitung dirata-ratakan. Misal guru A menilai kepemimpinan kepala sekolahnya 8, guru B menilai 7, dan guru C menilai 7,5. Total nilai 22,5. Reratanya 22,5 : 3 = 7, 5.

Rerata penilaian guru terhadap kepala sekolah atasannya (nilai 7,5 tadi)  jadilah sebagai nilai efektivitas kepemimpinan si kepala sekolah (dari satu sekolah). Dengan demikian, nantinya, akan ada sebanyak 50 nilai efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, karena sampel subjek penelitiannya (kasek) ada 50 orang. Kelima puluh nilai itu dihitung direratakan, sehingga terhasilkanlah nilai efektivitas kepemimpinan kepala sekolah dari seluruh sampel kepala sekolah.

Nilai akhir ini (dari sampel yang 50 orang itu) diberlaku-umumkan (digeneralisasikan) kepada seluruh anggota populasi kepala sekolah, sehingga simpulannya menjadi “tingkat efektivitas kepemimpinan kepala sekolah SD di Kabupaten Situsini termasuk …… (tinggi, sedang, atau rendah). Jadi, bukan berlaku untuk kepala sekolah yang disampel saja, melainkan untuk seluruh kasek anggota populasi penelitian.

Jika kategorisasi nilai itu dibuat: 1,0 – 2,0 =  rendah, 2,1 – 4,0 agak rendah, 4,1-6,0 = sedang, 6,1 – 8,0 agak tinggi, dan 8,1 – 10,0 = tinggi, maka nilai 7,5 itu termasuk agak tinggi. Tegasnya, efektivitas kepemimpinan para kepala sekolah SD di Situsini termasuk kategori agak tinggi. Dengan kata lain, kepemimpinan kepala sekolah SD di Situsini tergolong agak efektif.

Jika yang dilihat persentase terbanyak (“mode“) kepala sekolah dalam rentang nilai efektivitas kepemimpinan, misalnya 1,0-2,0 = 10%; 2,1-4,0 = 15%; 4,1 – 6,0 = 10%; 6,1 – 8,0 = 65%; dan 8,1-10,0 = 0%; maka simpulannya menjadi terbanyak kepala sekolah (65%) efektivitas kepemimpinannya berada pada kategori agak tinggi. Dengan kata lain, terbanyak kepala sekolah SD di Situsini kepemimpinannya termasuk agak efektif.

Hati-hati! Jika menggunakan persentase yang dipersentasekan itu banyaknya (frekuensi) kepala sekolah yang berada pada posisi rentang nilai tertentu, bukan nilainya. Nilai tidak bisa dipersentasekan.

Informan (Narasumber) Penelitian dan Populasi Responden

Peneliti lain, sebagai contoh, ingin meneliti apakah sekolah-sekolah (SD) di Kabupaten Situsini itu mempunyai program (rencana) kerja yang jelas. Yang menjadi objek penelitiannya jadinya “pembuatan/ketersediaan program (rencana) kerja sekolah”. Operasionalnya, apakah sekolah punya rencana strategis (renstra) dan rencana operasional (renop) yang baik dan benar atau tidak. Renstra dan renop sekolah tentu punya sekolah (bukan punya kasek atau guru). Jadi subjek penelitiannya (yang memiliki objek penelitian) adalah sekolah (SD).

Dari mana data (informasi) diperoleh? Tentulah dari kepala sekolah atau para guru yang ikut menyusun (setidaknya mengetahui adanya) renstra dan renop tersebut. Karena mengenai hal ihwal renstra dan renop itu sumber informasi yang akan ditanyai adalah kasek, maka jadilah kasek tersebut sebagai informan (narasumber) penelitian (nara = orang; sumber = dalam hal ini sumber data/informasi penelitian; narasumber = orang yang menjadi sumber data/informasi penelitian).

Jika ada pula guru yang ikut terlibat banyak dalam penyusunan renstra dan renop, dan bisa memberi informasi (data) kepada peneliti, maka guru itu pun jadi informan penelitian pula. Informan yang paling banyak tahu sesuatu informasi (data) mengenai hal yang diteliti, disebutlah sebagai narasumber kunci atau utama (key informan). Informan (narasumber) lainnya lazim disebut informan saja. Jika toh ingin dibedakan dapat disebut informan pelengkap. Jangan salah: yang menjadi informan kunci di sekolah bisa justru bukan kepala sekolah, melainkan guru. Misalnya dalam pelaksanaan secara detail atau rinci (mendalam) program ekstrakurikuler. Program ekstrakurikuler (ekstra = di luar; kurikuler = yang berkenaan dengan kurikulum utama yang tertulis dalam “buku kurikulum sekolah”) adalah kegiatan pendidikan/pengajaran di luar mata pelajaran yang ada dalam kurikulum pokok pendidikan sekolah.

Jadi, jika seluruh 222 SD yang ada di Situsini akan diteliti mengenai renstra dan renopnya, maka seluruh SD tersebut merupakan subjek penelitian. Jadi, subjek penelitiannya merupakan suatu lembaga–yang punya “sifat-keadaan” membuat atau mempunyai/tidak mempunyai renstra dan renop). Populasi penelitiannya (populasi subjek) jadinya ya 222 SD tersebut. Ini yang kadang kala tidak banyak dipahami orang, lalu suka diminta mengubah subjeknya itu staf sekolah, bukan sekolah.

Dalam penelitian seperti ini, tidak ada populasi informan atau narasumber. Yang ada populasi subjeknya. Informan bukan subjek penelitian, bukan pula responden penelitian (walau seperti responden, informan juga menjawab pertanyaan). Informan bersifat kolektif (satu kesatuan), tidak individual. Jadi, kalau toh ada yang disebut “sampel informan” itu karena subjeknya (dalam hal ini sekolah) disampel. Tetapi informan yang ada di sekolah tidak disampel, melainkan dipilih mana yang jadi informan kunci dan mana informan pelengkap (dari seluruh “orang” yang ada di sekolah).

Narasumber (informan) makam keramat

Bayangkan Anda meneliti (ingin tahu) riwayat sesuatu tempat keramat. Di situ ada “juru kunci” penjaga makam. Ia paling banyak tahu “sejarah” orang yang dimakamkan di situ. Siapa yang jadi “subjek” penelitian  Anda? Orang yang dimakamkan di situ. Siapa yang paling tahu “sejarah” orang yang dimakamkan, yang bisa “digali” ceriteranya tentang orang yang dimakamkan itu? Kuncen atau juru kunci makam. Juru kunci makam (kuncen) itu jadilah sebagai narasumber atau informan penelitian Anda.

Bayangkan pula Anda ingin tahu bagaimana ceritera sekelompok warga masyarakat yang membabak-babak sebuah perkampungan jaman baheula. Perkampungan itu sekarang sudah berkembang, banyak penduduknya. Sebagian warga yang dulu membabak-babak itu masih ada, sebagian sudah meninggal.  Siapa yang ingin Anda tanyai? Warga pembabak yang masih hidup, karena yang sudah mati tidak bisa ditanyai, tentu. Sebagai apa mereka ditanyai? Sebagai narasumber atau informan. Siapa saja yang ditanyai? Siapa saja yang paling banyak tahu,  bahkan bisa jadi beberapa orang ditanyai silang agar saling melengkapi apa yang sebagian sudah terlupakan oleh seseorang.

Rangkuman (Definisi)

Nah, agar para mahasiswa mudah mengutip untuk menulis skripsinya apa yang dimaksud objek penelitian, subjek penelitian, responden penelitian, dan informan (narasumber) penelitian, berikut dituliskan rumusan pengertian atau definisinya (definisi = batasan pengertian).

(1) Objek penelitian adalah sifat keadaan ( “attributes”) dari sesuatu benda, orang, atau keadaan, yang menjadi pusat perhatian atau sasaran penelitian. Sifat keadaan dimaksud bisa berupa sifat, kuantitas, dan kualitas (benda, orang, dan lembaga), bisa berupa perilaku, kegiatan, pendapat, pandangan penilaian, sikap pro-kontra atau simpati-antipati, keadaan batin, dsb. (orang), bisa pula berupa proses dan hasil proses (lembaga).

(2) Subjek penelitian adalah sesuatu, baik orang, benda ataupun lembaga (organisasi), yang sifat-keadaannya (“attribut”-nya) akan diteliti. Dengan kata lain subjek penelitian adalah sesuatu yang di dalam dirinya melekat atau terkandung objek penelitian.

(3) Responden penelitian adalah seseorang (karena lazimnya berupa orang) yang diminta untuk memberikan respon (jawaban) terhadap pertanyaan-pertanyaan (langsung atau tidak langsung, lisan atau tertulis ataupun berupa perbuatan) yang diajukan oleh peneliti. Dalam hal penelitian dilakukan dengan menggunakan tes, maka “responden” penelitian ini menjadi “testee” (yang dites). Responden penelitian bisa subjek penelitian, bisa orang lain.

(4) Informan (narasumber) penelitian adalah seseorang yang, karena memiliki informasi (data) banyak mengenai objek yang sedang diteliti, dimintai informasi mengenai objek penelitian tersebut. Lazimnya informan atau narasumber penelitian ini ada dalam penelitian yang subjek penelitiannya berupa “kasus” (satu kesatuan unit), antara lain yang berupa lembaga atau organisasi atau institusi (pranata) sosial. Di antara sekian banyak informan tersebut, ada yang disebut narasumber kunci (key informan)–seorang ataupun beberapa orang, yaitu orang atau orang-orang yang paling banyak menguasai informasi (paling banyak tahu) mengenai objek yang sedang diteliti tersebut.

(5) Populasi penelitian. Istilah ini mengandung ragam makna. Oleh karena itu perlu ditegaskan dengan istilah khusus: (1) Populasi subjek penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian dalam/dari sesuatu penelitian. Setiap subjek penelitian otomatis menjadi anggota populasi subjek penelitian. (2) Populasi responden penelitian (dalam hal responden bukan subjek penelitian) adalah keseluruhan responden penelitian dalam/dari sesuatu penelitian. Setiap responden penelitian otomatis menjadi anggota populasi responden penelitian. (3) Populasi objek penelitian adalah keseluruhan sifat-sifat keadaan yang menjadi sasaran penelitian. Setiap “aspek” sifat keadaan objek penelitian disebut populasi objek penelitian.

(6) Sampel penelitian.Sampel penelitian adalah sebagian dari “anggota” populasi penelitian yang terhadapnya pengumpulan data dilakukan. Hasil pengumpulan data dari sampel tersebut kemudian diberlaku-umumkan (digeneralisasikan) kepada seluruh anggota populasi.

Tambahan: Sampel Objek Penelitian

Contoh peristiwa pengambilan sampel dari populasi objek penelitian (hanya untuk memudahkan) adalah mengetes hasil belajar siswa sejak kelas pertama sampai kelas akhir sesuatu jenjang pendidikan (SD, SMTP, SMTA) lewat UNAS atau UAN. Pertama, dari seluruh mata pelajaran (yang harus dikuasai murid) hanya beberapa mata pelajaran yang diteskan (sampel mata pelajaran). Kemudian dari beberapa mata pelajaran tersebut hanya beberapa butir materinya saja dari sekian banyak butir pengetahuan atau ilmu yang dipelajari semasa bersekolah.

Catatan Lain (Pengingat)

Untuk diperhatikan dan dipahami: Berkait dengan informan (narasumber) penelitian pada atau di SATU “subjek” penelitian (berupa satu lembaga tertentu, bukan beberapa “unit subjek” atau lembaga), tidak ada populasi dan sampelnya.

About these ads

57 thoughts on “SUBJEK penelitian, responden penelitian, dan informan (narasumber) penelitian

  1. terima kasih,, tp boleh tau ga referensi dari buku apa, saya butuh buku mengenai jenis informan,, mohon informasinya

  2. Akhirnya ketemu juga yang saya cari: subyek, responden & informan. Hatur nuhun ya, Bapak! Mudah-mudahan besok saya tidak bingung lagi. Kalau saya masih bingung, itu mah “gawan bayi” berarti, hehee….

  3. menarik sekali uraian bapak, materi & contoh yang diberikan sangat mudah dipahami, thank’s pak tatang.

  4. Mas tatang, sangat membantu nih tulisannya dalam menggali informasi lebih jauh bagi saya yang skripsinya gak kelar-kelar….Mohon doanya ya..hehe

  5. what a nice share!
    pertanyaan:
    1.Tulisan bpk mengenai objek dan subjek bersumber dati referensi atau buku mana pak?
    2. ada ya referensi dari bhs inggris yg menjelaskan perbedaaan antara “research object” dan “research object”

    Makasih ya pak

    • Gak ada. Itu murni dari saya setelah menelaah bertahun-tahun berbagai literatur penelitian dan statistik yang bicara populasi dan sampel. Itu maka saya katakan agar mempermudah peneliti pemula memahami istilah subjek penelitian yang suka dkisruhi dengan pelaku penelitian.

  6. what a nice share!
    pertanyaan:
    1.Tulisan bpk mengenai objek dan subjek bersumber dati referensi atau buku mana pak?
    2. ada ya referensi dari bhs inggris yg menjelaskan perbedaaan antara “research object” dan “research subject”

    Makasih ya pak

  7. berguna……terima kasih, berkat anda saya jadi lebih memahami karena bahasa yang anda gunakan mudah dicerna dan tidak bertele2, tidak sperti dibuku2, maklum untuk orang selemot saya,,masih susah mengintepretasikan makna2 dibuku yang kebanyakan menggunakan bahasa tingkat tinggi hehehe

  8. mas sekarang aku lagi bingung menentukan subjek dan objek penelitian tugas akhir saya. judulnya begini “Aplikasi cara cepat belajar pengucapan bahasa inggris untuk anak SD menggunakan microsoft visual foxpro ”
    mas, dari judul tersebut aku bingung mana subjek dan objek penelitian saya.
    saya mohon pencerahan dari kasus judul saya ini.

    • Ah itu kan bukan penelitian, itu kegiatan melaksanakan (apllikasi) sessuatu. Memang yang mau diteliti apanya? Kan “barangnya” cara cepat pengucapan bahasa Inggris dengan microsoft visual foxpro (CCUI-MVF). Yang diajari murid SD (sasaran aplikasi). Yang akan diteliti itu apanya CCUI-MVF?

  9. mas,pengertian diatas termasuk metode penelitian kuantitatif y,
    pengertian diatas bisa untuk metode penelitian kualitatif ga?

    • Itu kan konsep dasar, jadi akan berlaku untuk kuantitatif dan kualitatif. O.k.i. dalam penelitian kualitatif suka disebut subjek penelitiannya diambil dengan teknik “purposive”

  10. terima kasih mas, keterangannya dapat dimengerti. cuma ada yang ingin saya tanyakan apakah ada perbedaan antara responden penelitian dan responden survey ? trus klo kita melakukan desain penelitian mengenai evaluasi pelaksanaan pemilukada, siapa sebaiknya yg menjadi responden tsb dan bagaimana menentukan memilih responden itu, bagaimana mengukur indikatornya dan indikator yang dipakai untuk menentukan pelaksanaan pemilu itu berjalan dengan baik ? maaf mas pertanyaan terlalu panjang. sebelumnya terima kasih

    • Indikator pemilu baik, kalau dulu, “luber” (dalam hal memilih); dalam hal penyelenggaraan ya tentu jika tidak ada ekses-ekses (eksesnya apa, ya cari yang banyak muncul di koran). Kalau mau mengevaluasi ya gunakan penelitian evaluasi (kriteria/satandar evaluasinya ya indikator baik tadi). Jadi, baca disain penelitian evaluasi, banyak kok di internet. Survey itu salah satu metode (jenis) PENELITIAN noneksperimental.

  11. assalamualaikum,
    siang bapak, mau tanya
    kalau pada penelitian populasi tanpa sample, sedangkan jumlah respondennya banyak apakah bisa cukup dengan menggunakan informan saja yang dengan jumlah beberapa saja?
    kemudian bagaimana cara perolehan dan alasannya kenapa menggunakan informan pak?
    haturnuwun..

    • Kan ya beda “nuansa” yang ditelitinya. Beda sekali antara responden (subjek penelitian) dengan informan. Baca dan cermati lagi, jangan ubah subjek penelitian jadi informan, nanti kacau.

  12. maaf pak, tanya lagi,
    kalau saya cuma butuh informasi (data) banyak mengenai objek yang sedang saya diteliti, berarti tidak usah memakai responden ya pak??

    • maaf ketinggalan lagi pertanyaannya pak,masih ling-lung nih pak…
      dalam penentuan jumlah/pemilihan informan ada syarat/ cara2 tertentu tidak pak?
      kalau penelitian exploratif pake informan sudah cukup menggali belum ya pak?
      terimakasih banyak.

  13. meneliti tentang kegiatan guru dalam mengikuti MGMP mata pelajaran matematika dalam konteks kabupaten

  14. pak, terima kasih tulisannya…
    tapi sya masih kurang mengerti cara membedakan sampel penelitian dengan subjek penelitian…
    kalau seandainya kita mengambil populasi adalah seluruh anak fakultas ekonomi, tetapi yg saya ambil adalah angkatan 2009,2010,2011…
    nah, itu disebut apa pak? sampel atau subjek?
    terima kasih pak

    • Subjek itu sesuatu yang tentangnya kita teliti, misalnya murid SD yang prestasi belajaranya akan diteliti. Jika murid SD itu se kota Yogyakarta, ya subjeknya seluruh murid SD kota Yogyakarta, yang kemudian disebut populasi penelitian. tiap-tiap murid itu disebut anggota populasi penelitian. Ribuan, ya?! Karenanya sebagiannya saja yang kita ambil untuk benar-benar diteliti. Jadilah dia sampel (cuplikan) dari seluruh anggota populasi itu. Kalau yang akan diteliti hanya yang ada di Kecamatan Gondokusuman (GK) saja, ya populasinya murid SD yang ada di situ. Jika yang akan diteliti dari GK itu pun murid kelas 6 saja (prestasi UN-nya), ya populasinya murid kelas 6 SD se Kec. GK. Gitu! Nah, pikir sendiri dengan yang ditanyakan tentang mhs ekonomi. Kalau semua dijelaskan, ya saya bukan dosen, tapi tukang membodohkan mahasiswa. Hehehehe

  15. Pak Tatang terima kasih tulisannya saya mengutip rentang prosentasi efektivitas untuk tesis saya, terimakasih karena boleh mengutip untuk dijadikan sumber rujukan. tentang pertanyaan dari mahasiswa ekonomi buka aja bukunya Sugiyono yang berjudul metodologi penelitian pendidikan pasti terjawab dehhhhh Pak Tatang.

  16. Ass….!mhon bntuanx…
    saya meneliti ttg evaluasi ketersedian & keterpakaian koleksi berdasarkan garis-garis besar program pembelajaran (GBPP), dlm pnlitian saya mencari data selain dr dokumentasi GBPP, juga dari observasi dan wawancara, kira2 subjek penelitian saya apa?terima kasih sebelumnya….

  17. malam mas,,
    mohon bantuannya,
    judul saya pengaruh tata ruang kantor terhadapa efektivitas kerja
    rumusan masalah saya :
    1. bagaimana tata ruang kantor pada perusahaan X
    2. Bagaimana pengaruh tata ruang kantor terhadap efektifitas kerja karyawan pada perusahaan X

    untuk rumusan masalah pertama yang saya teliti adalah ruangan, makah untuk mengetahui ruangan kantor tersebut, saya memerlukan informan.
    maka karyawan bertindak sebagai informan, maka sy melakukan wawancara

    kemudian untuk rumusan masalh kedua
    yang ingin saya ketahui yaitu pengaruh dari tata ruang kantor terhadap efektivitas kerja,
    maka untuk mengetahui apakah tata ruang kantor berpengaruh terhadap efektivitas kerja, sy mengambil seluruh kryawan sebagai sampel jenuh.
    maka dari itu sy menggunakan responden.

    pertanyaan saya.
    apakah sy dapat menggunakan keduanya sekaligus dalam suatu penelitian?
    karena saya bingung untuk pemilihan sampel apa yang saya harus tulis?
    apakah ruangan kantor(informan)
    karyawan (responden)

    mohon petunjuk.. terima kasih bayak :)

    • Sebaiknya dipelajari dulu dengan cermat dan mendalam “teori” penelitian korelasi, biar tahu makna hubungan antar variabel! Sebelum itu pahami makna informan dan responden juga!

  18. - Fresh extract of root the plant is good in cough.
    At their best they produce moments which make life worth
    living. It can be better to use a bootable disc that will
    diagnose drive and memory problems and still provide the Windows
    recovery environment to bring back your backup for the same or even a new hard drive.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s