EVALUASI PROGRAM MENGGUNAKAN MODEL “DISCREPANCY” PROVUS

Tatang M. Amirin. Edisi 15 Januari 2013

Dalam dunia pendidikan evaluasi itu setidaknya ada dua macam. Pertama evaluasi pendidikan yang biasanya lebih mengkhusus pada evaluasi hasil belajar murid/mahasiswa. Kedua, evaluasi program, program lembaga pendidikan (kadang orang menuliskan evaluasi program pendidikan–tentu bisa berbeda konotasinya). Kedua macam evaluasi itu berbeda jauh. Evaluasi pendidikan itu mengevaluasi (assess) program pendidikan (program belajar-mengajar). Tegasnya mengevaluasi apakah program (proses) pendidikan telah berjalan dengan baik. Yang dijadikan tolok ukur (standar) utamanya lazimnya “kepahaman” murid atau mahasiswa terhadap materi pelajaran yang telah dipelajari. Tentu bisa juga yang dievaluasi itu proses pendidikannya (pelaksanaan PBM/KBM–sudah berjalan baik atau tidak). Evaluasi program (lembaga pendidikan) berbeda objek atau sasarannya; yang dievaluasi adalah program (rencana kerja) lembaga pendidikan.

Masih ada lagi evaluasi yang bukan evaluasi pendidikan dan program lembaga pendidikan, yaitu evaluasi lembaga pendidikan itu sendiri, lazimnya bersifat administratif. Akreditasi sekolah dan perguruan tinggi yang dievaluasi itu kelembagaannya (organisasi atau tatapamongnya, perencanaan program, personilnya, sarana prasarananya, administrasi pelaksanaan kegiatan akademik, dan sebagainya). Evaluasinya menggunakan standar tertentu. Jadi, yang menajdi tujuan evaluasi adalah sudahkah lembaga itu memenuhi standar yang ditentukan. Continue reading

MELACAK FILSAFAT MANUSIA DAN PENDIDIKAN INDONESIA BERBASIS RUMUSAN PANCASILA LEGAL-FORMAL (RENUNGAN AWAL)

– Makalah Penyerta Seminar Ilmu Pendidikan Prodi S3 Ilmu Pendidikan Program Pasca Sarjana UNY, 18 Oktober 2011 –

Tatang M. Amirin

 Mahasiswa Prodi S3 Ilmu Pendidikan Program Pascasarjana UNY

Pendahuluan

Sangat sulit melacak sebenarnya sistem dan proses pendidikan di Indonesia itu berlandaskan filsafat pendidikan, ilmu pendidikan, “ilmu mengajar,” dan juga psikologi pendidikan  yang mana. Di suatu ketika dicoba dihilangkan tradisi “guru mengajar murid belajar” dengan menggunakan label proses belajar-mengajar (PBM), belajar disebut duluan (dari aslinya teaching-learning process). Konotasinya karena ada yang belajar, baru kemudian guru mengajar. Maksud filosofis operasionalnya guru hendaknya mengikuti gaya dan minat belajar murid. Istilah kerennya student centered. Akan tetapi sebutan itu hanya sekedar sebutan, guru di lapangan tidak tahu makna di balik label, dan lebih tidak tahu lagi bagaimana menerapkannya di lapangan.

Sejalan dengan itu, muncul ide baru dengan label student active learning yang salah (kurang pas) diindonesiakan menjadi cara belajar siswa aktif (CBSA) sehingga dipahami sebagai metode mengajar (karena ada istilah “cara”), bukan sebagai model atau pendekatan mengajar. Pendekatan ini pun tidak dipahami maknanya, dan tidak lebih dipahami lagi pelaksanaannya. Akibatnya yang terjadi adalah menjadi diplesetkan “cah bodo soyo akeh (anak yang bodoh bertambah banyak), karena tidak meningkatkan prestasi belajar apapun. Continue reading

MEROMBAK PARADIGMA PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS PANCASILA DENGAN PENDEKATAN “HIKMAH, MAUIZHAH HASANAH DAN MUJADALAH HASANAH”

(Makalah Temu Ilmiah Jurusan Ilmu Pendidikan – Fakultas Ilmu Pendidikan (JIP – FIP), UPI Bandung 25-26 Oktober 2011)

 TATANG M. AMIRIN

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

 “Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan ajaran yang benar (hikmah), dengan menggunakan cara-cara yang bajik dan bijak, dan dialog yang bajik dan bijak pula.”(Q.S. 16/An-Nahl:125)

We must remember that intelligence is not enough. Intelligence plus character—that is the goal of true education.—Martin Luther King Jr.,Speech at Morehouse College, 1948

Abstract

Character is the aggregate of features and traits that form the individual nature of some person or thing. Character education for the Indonesian people (citizen) means to educate him/her to have in his/her-self the characteristics representing the values, beliefs, norms, morals, customs, and conducts of the Indonesian people as a whole, based on Pancasila as the Indonesian national philosophy. To do this, first of all, it is demanded to have a true and sound historical-philosophical idea about Pancasila to transfer to the people. Secondly, the means through which the characters will be educated, should be normatively sound, viewed from scientific and moral point of views. Pancasila should not be treated as an irrational doctrine that no reasoning may take place, and should not be transferred through indoctrination ways which had been done during and since the Orde Baru period. The Dewantara’s principle of “ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” may be taken to be the best approach in Indonesian character education.

Keywords: Character education, Indonesian pancasilais person, ing ngarsa sung tulada, truly knowledge (wisdom) and sound means of educating

Pendahuluan

Pendidikan karakter bagi anak bangsa Indonesia yang diharapkan berbasis Pancasila itu hendaklah pertama-tama materi didikannya sendiri merupakan ajaran (materi, substansi) yang benar mengenai historisitas-filosofi Pancasila. Pancasila tidak boleh lagi dijadikan sebagai doktrin yang harus diterima tanpa reserve, mengekor “tercocok hidung” tafsiran dan pemahaman pemegang kekuasaan Negara, kendati salah dan tidak masuk akal sekalipun. Continue reading

ILMU PENDIDIKAN 6: FAKTOR-FAKTOR PENDIDIKAN VERSUS KOMPONEN SISTEM PENDIDIKAN

Tatang M. Amirin; 4 Mei 2011

Komponen: faktor dan unsur  sistem

Dalam teori sistem sistem itu dikenal sebagai suatu kesatuan kebulatan keseluruhan yang terdiri atas berbagai komponen yang satu sama lain saling berhubungan secara fungsional (Tatang M. Amirin, Pokok-pokok Teori Sistem).

Komponen suatu sistem itu dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu faktor dan unsur. Faktor adalah komponen sistem yang menentukan keberadaaan (eksistensi) sistem tersebut. Manusia, misal, secara sederhana, dikatakan sebagai manusia jika ada faktor jiwa dan raga. “Manusia” yang tinggal raganya saja, tanpa jiwa (roh) tidak lagi disebut manusia, melainkan mayat. Roh manusia, tanpa jasad, bukan lagi manusia, melainkan (jika sudah mati) hantu (bagi yang percaya akan adanya hantu).

Unsur merupakan komponen sistem yang keberadaannya tidak menentukan keberadaan sistem itu. Pakaian manusia bukan faktor manusia, sebab tanpa pakaian pun manusia tetap manusia. Akan tetapi unsur pakaian itu penting bagi manusia, baik untuk keindahan dan penutup aurat, maupun untuk melindungi dari cuaca. Tangan, bagian dari jasad, juga hanya unsur jasad, bukan faktor jasad. Manusia yang tanpa tangan (tanpa daksa, tuna daksa, alias tidak lengkap anggota tubuhnya) masih tetap disebut manusia. Continue reading

ILMU PENDIDIKAN 5: PENDIDIKAN DAN FILOSOFI ANDONG

Tatang M. Amirin; 20 April 2011; 26 April 2011; 1 Mei 2011

Lembaga pendidikan berhakekat andong

Andong itu dokar (delman,  kahar, dokar) khas Jogja. Ada andong (kereta kuda) dan kudanya, ada sais sang “sopir”, dan tentu akan ada penumpangnya. Andong itu ada andong bebas jalur, ke mana saja bisa, dan ada pula andong berjalur (trayek), misalnya dari Pasar Beringharjo Jogjakarta ke Kota Gede pergi pulang (p.p.). Andong bebas trayek bergerak ke mana-mana sesuai dengan permintaan penumpang, sementara andong trayek ya bergerak sesuai dengan trayeknya.

Andong itu dapatlah dijadikan simbul analogi pendidikan, alias pendidikan dapat difilosofiskan dari andong.  Andong itu ibarat “lembaga pendidikan,” terutama unsur khasnya yang berupa kurikulum (baca: segala macam materi dan kegiatan pendidikan, yaitu apa yang diajarkan guru dan yang dipelajari murid). Kusir andong itu ibarat guru atau pendidik (dan tentu staf lembaga pendidikan lainnya). Penumpang andong itu sama dengan murid (pelajar, pedidik). Continue reading

ILMU PENDIDIKAN 4: MENGAJAR YANG MENDIDIK ITU SEPERTI APA?

Tatang M. Amirin; 18 April 2011

Undang-undang tentang profesi guru dan dosen di dalamnya antara lain menyebutkan bahwa salah satu kompetensi (kemampuan-keahlian) guru dan dosen itu adalah kompetensi pedagogik yang isinya antara lain berupa kemampuan mengajar yang mendidik. Lepas dari apa yang tertera dalam penjelasan undang-undang itu, pada page ini akan dicoba mencari berbagai makna tentang mengajar yang mendidik itu.

Pertama-tama harus dikemukakan dulu bahwa pada umumnya orang berpendapat bahwa mengajar dan mendidik itu dua hal yang berbeda. Itulah sebabnya ada “keharusan” guru (pendidik) itu selain mengajar harus pula mendidik. Artinya dalam mengajar itu hendaknya guru pun mendidik. Jadilah sebagai kegiatan mengajar (pengajaran) yang mendidik.

Dewasa ini dosen dan guru lazim dianggap hanya sekedar melakukan kegiatan mengajar, belum mendidik. Dengan kata lain, sebagai pendidik dosen dan guru belum seluruhnya mampu menjalankan tugasnya sebagai PENDIDIK.

Catatan: Dalam undang-undang tersebut guru disebut pendidik, dan personil tertentu lainnya yang berkecimpung dalam dunia pendidikan (a.l. laboran, pustakawan, pengembang media, administrator) disebut tenaga kependidikan, yaitu orang-orang yang berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan, tidak langsung terjun melakukan kegiatan pelaksanaan pendidikan (KBM atau PBM; dalam istilah saya KDM, kegiatan  didik-mendidik,  atau PDM, proses didik-mendidik).

Lalu, apa perbedaan mengajar dan mendidik? Continue reading